29 August 2026
BERJALAN MENGIKUTI YESUS AGAR IMAN TIDAK MEMBEKU
BERJALAN MENGIKUTI YESUS AGAR IMAN TIDAK MEMBEKU
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan tetap berharap bahwa keadaan negara kita akan membaik.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-22 tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 16:21-27) terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berbicara mengenai pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus (ay. 21). Bagian kedua menampilkan reaksi Petrus dan tanggapan Yesus terhadapnya (ay. 22-23). Bagian ketiga menyampaikan syarat-syarat untuk mengikuti Dia (ay. 24-27).
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan]. Renungan ini cukup panjang, maka hendaknya Anda bersabar dalam melakukannya.
Pertama, dalam Injil yang kita renungkan pekan yang lalu (Mat 16:13-20) Petrus, yang mewakili para murid, menyatakan bahwa Yesus adalah “Mesias, anak Allah yang hidup” (ay. 16). Namun dalam perikopa yang sama juga disebutkan bahwa “bukanlah manusia melainkan Bapa-Ku yang di surga” yang menyatakan kepada Petrus bahwa Yesus itu adalah “Mesias, anak Allah yang hidup.” Dengan “catatan” ini, penginjil Matius ingin mengatakan bahwa Kemesiasan Yesus tidak pertama-tama berasal dari kesan hebat yang ada di mata orang, tetapi karena Allah sendiri berkenan kepada-Nya.
Kedua, perkenan Allah terhadap Yesus ini terungkap pada peristiwa pembaptisan Yesus (Mat 3:13-17; Mrk 1:9-11; Luk 3:21-22), dan ditegaskan kembali dalam penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Mat 17:1-8; Mrk 9:2-8; Luk 9:28-36). Dalam kedua peristiwa itu juga terdengar suara dari langit yang menghimbau orang agar “mendengarkan Dia” (Mat 3:17; Mrk 1:11; Luk 3:22 dan Mat 17:5; Mrk 9:7; Luk 9:35).
Ketiga, “mendengarkan Dia” berarti mulai mengenal siapa Allah Yang Mahakuasa yang mengutus Yesus; yakni Dia yang bisa dipanggil sebagai Bapa. Lebih lanjut, barangsiapa yang mau mendengarkan-Nya dengan sungguh akan memahami peristiwa yang nanti terjadi pada diri sang Mesias ini, yakni ditolak para pemimpin agama, dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. Semuanya itu terjadi sebagai akibat keteguhan-Nya pada perutusan-Nya tadi.
Keempat, pemberitahuan mengenai penolakan, kematian dan kebangkitan tadi disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya hingga tiga kali (pertama: Mrk 8:31-9:1 // Mat 16:21-27 // Luk 9:22-26; kedua: Mrk 9:30 // Mat 17:22-23 // Luk 9:33-45; ketiga: Mrk 10:32-34 // Mat 20:17-19 // Luk 18:31-34.). Dan tiap kali para murid mendengarnya, mereka tidak memahami pernyataan tadi.
Kelima, setelah pemberitaan yang pertama tentang kesengsaraan-Nya, ketiga Injil langsung memberitakan penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Mat 17:1-8; Mrk 9:2-8; Luk 9:28-36). Lebih menarik lagi, kedua peristiwa yang berurutan ini (pemberitaan pertama tentang kesengsaraan-Nya dan penampakan kemuliaan-Nya di gunung) disampaikan langsung setelah pengakuan Petrus mengenai kemesiasan Yesus.
Keenam, urutan ketiga peristiwa tadi (pengakuan Petrus – pemberitahuan pertama kesengsaraan-Nya – penampakan kemuliaan) termasuk warta Injil juga. Ringkasnya, kemesiasan Yesus itu tidak menyangkal penderitaan. Yesus justru menghayati penderitaan itu sebagai jalan ke arah kebesaran-Nya.
Ketujuh, inilah pokok yang paling dalam dan sekaligus paling sulit diterima para murid Yesus. Satu-satunya cara untuk mengerti hal itu adalah “mendengarkan”-nya dan menerima kenyataan tadi. Artinya, hal itu hanya bisa dipahami oleh orang yang mau mempercayainya dengan tulus. Dengan demikian orang akan belajar mengakui ketergantungannya pada Yang Mahakuasa.
Kedelapan, dengan penuh spontanitas Petrus bermaksud mencegah agar Yesus tidak berjalan ke arah penolakan dan kematian tadi. Ia menegur Yesus dengan keras (ay. 22). Reaksi Yesus juga keras, amat keras. Petrus malah didampratnya sebagai “Iblis” (ay. 23).
Kesembilan, peristiwa ini (catatan kedelapan) mengingatkan kita pada peristiwa Yesus menghadapi godaan di padang gurun (Mat. 4:1-11; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13). Satu saat penggoda memperlihatkan seluruh kerajaan dunia dengan seluruh kemegahannya dan menawarkannya kepada Yesus asal Ia mau bersujud kepadanya. Reaksi Yesus ketika itu sama dengan yang kini diarahkan kepada Petrus: menghardik penggoda yang disebutnya “Iblis” dan mengusirnya pergi. Ditambahkannya kutipan ayat suci yang tegas-tegas mewajibkan orang menyembah hanya pada Tuhan Allah dan kepada-Nya sajalah berbakti (Mat 4:10). Inilah yang dipegang Yesus di padang gurun.
Kesepuluh, selain menghardiknya Yesus juga mengatakan kepada Petrus bahwa ia menjadi “batu sandungan bagi-Nya” (ay. 23b). Maksud baiknya malah akan menjauhkan Yesus dari jalan kemesiasan-Nya. Hal yang tidak berhasil dilakukan penggoda di padang gurun, kini hendak diusahakan oleh Petrus.
Kesebelas, teks asli bentakan Yesus dalam Mat 16:23 maupun dalam 4:10 harfiahnya sebenarnya berbunyi: “Pergi sana ke belakang-Ku Iblis!” Dalam konteks pengusiran, ungkapan “ke belakangku” jelas berarti “mundur pergi dariku”; maksudnya, menjauh, tidak lagi menghalang-halangi.
Kedua belas, tetapi bila ungkapan “kebelakangku” tadi dibaca seolah-olah didahului dan diikuti “tanda koma”, akan tampil juga perintah agar pindah ke belakang. Jadi dalam hardikan menyuruh enyah tadi tersirat juga perintah agar Petrus tahu tempatnya yang sebenarnya, yakni di belakang Yesus, sebagai pengikut-Nya, dan bukan sebagai yang mau mengarah-arahkan Dia yang baru saja diakuinya sebagai Mesias, anak Allah yang hidup tadi.
Ketiga belas, uraian di atas dapat membantu menjelaskan mengapa setelah mendamprat Petrus dengan cara tadi Yesus menambahkan serangkaian tuntutan keras. Siapa yang mau mengikuti-Nya, yakni yang mau berjalan di belakang dan tidak menaruh diri di muka atau menghalangi derap langkah-Nya itu, harus berani juga “menyangkal diri” (ay. 24).
Keempat belas, yang dimaksud dengan “menyangkal diri” di sini adalah menanggalkan praanggapan-praanggapan yang dimiliki mengenai Yesus. Orang diminta oleh Yesus agar tidak lagi memegang pendapat dan keyakinan yang tidak cocok mengenai siapa Yesus itu. Dengan cara ini ia dapat dengan tulus mengakui Dia sebagaimana adanya.
Kelima belas, penyangkalan diri seperti ini (catatan keempat belas) adalah cara untuk “memikul salibnya” (ay. 24b); yakni, jalan berbagi salib dengan-Nya dan mengimani-Nya. “Menyangkal diri” dan “memikul salib” akan sangat sulit bagi orang yang sikap keagamaan dan imannya sudah membeku dan tidak berkembang, serta hanya bisa mempercayai pikiran-pikirannya sendiri.
Keenam belas, dalam konteks “sikap keagamaan dan iman yang sudah membeku” itulah dibicarakan tentang “kehilangan nyawa karena Aku akan memperolehnya” (ay. 25b). Artinya, orang berani menanggalkan pikirannya sendiri dan meluangkan diri bagi Dia yang hidup dalam iman kita.
Ketujuh belas, pertanyaan retorik “Apa gunanya memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya!” (ay. 26a) perlu dihubungkan dengan peristiwa godaan di padang gurun ketika Iblis menunjukkan dan menawarkan kebesaran dunia kepada Yesus asalkan Yesus mau menyembahnya (Mat 4:9), dan Yesus menolaknya dengan berpegang pada ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah (Mat 4:10b).
Kedelapan belas, berdasarkan pengalaman pribadi-Nya itu, Yesus kini menjelaskan kepada murid-murid-Nya mengapa seluruh dunia tidak sepadan dengan kehidupan sejati yang perlu dijaga sampai akhir zaman (ay. 26b & 27). Mereka yang menjalani pilihan (= kehidupan sejati) tadi akan mendapati diri berjalan bersama Yesus sendiri.
Injil yang kita renungkan ini mengajak kita untuk meninggalkan pikiran-pikiran pribadi mengenai Yesus, dan menerima Dia sebagai Mesias yang perlu menerima penderitaan-Nya untuk dapat sampai pada kemulian-Nya. Dengan kata lain, kita diundang untuk tidak menjadi beku dalam memegang keyakinan iman dan keagamaan kita; melainkan terus berkembang dengan memberikan ruang dalam hidup kita bagi karya Allah.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
22 August 2026
MENGIKUTI YESUS SIAP MENJADI BATU KARANG
MENGIKUTI
YESUS SIAP MENJADI BATU KARANG
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dari kepenatan menghadapi situasi negara kita yang semakin tidak baik-baik saja, dan mensyukuri rahmat Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-21 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 16:13-20) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Petrus yang menyuarakan kesadaran para murid bahwa Yesus adalah Mesias, anak Allah yang hidup.
Apa
maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan
memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil menyimak Alkitab untuk melihat
ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, hingga kini [sebelum perikopa yang kita renungkan ini] ketiga Injil Sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas) memperkenalkan Yesus terutama lewat ajaran-Nya, lewat penyembuhan yang dilakukan-Nya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya Dia itu dan bagaimana Ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa Dia ini lain dari pribadi-pribadi luar biasa lainnya. Siapakah Dia sesungguhnya?
Kedua, kala itu sudah mulai disadari bahwa Yesus yang mempesona dan diikuti banyak orang ini adalah Dia yang resmi ditugasi Allah mendatangi umat-Nya. Kedatangan-Nya dinanti-nantikan banyak orang. Dia-lah Mesias yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dia-lah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri.
Ketiga, dalam waktu bersamaan juga ada pelbagai perkiraan di dalam masyarakat mengenai siapa Yesus itu. Di Kaisarea Filipi para murid diajak menengarai pelbagai pandangan yang ada di dalam masyarakat mengenai diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (ay. 13).
Keempat, dengan memakai ungkapan “Anak Manusia”, Yesus hendak memperkenalkan diri-Nya yang sesungguhnya. Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajaran-Nya, atau mengenai tindakan-Nya, atau mengenai kelakuan-Nya. Ia ingin mendengar bagaimana orang menerapkan siapa tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu, siapa “Anak Manusia” tadi.
Kelima, ungkapan “Anak Manusia” dipakai Yesus untuk merujuk pada diri-Nya sendiri ketika orang memandang-Nya sebagai Mesias. Dalam kesadaran orang Yahudi pada zaman Yesus, ada kaitan antara tokoh yang dinanti-nantikan datangnya sebagai Mesias dengan penglihatan dalam kitab Daniel (Dan 7:13) yang menggambarkan tokoh yang mirip manusia itu terlihat datang mengarah kepada Yang Mahakuasa dan mendapat kuasa di bumi dan di langit.
Kenam, ternyata pandangan orang-orang dalam masyarakat tentang Yesus sangat beragam (ay. 14). Ia seperti Yohanes Pembaptis, tokoh spiritual yang masih segar dalam ingatan orang. Ia juga dibandingkan dengan Elia, seorang nabi besar yang diceritakan telah naik ke langit dan tentunya akan kembali diutus Allah mendatangi umat pada saat-saat mereka membutuhkan dampingan dan arahan. Bahkan ada yang menganggap-Nya sebagi nabi Yeremia, yang dikenal tak jemu-jemunya memperingatkan umat dan para pemimpin agar tetap setia kepada Allah di tengah penderitaan dan mengajarkan kerohanian yang sejati dan bukan praktik luar-luar saja.
Ketujuh, pendapat-pendapat orang banyak itu tidak bisa dikatakan meleset. Sekarang Yesus ingin mengetahui bagaimana para murid, yang sudah cukup lama mengikuti Dia, mendengarkan ajaran-Nya, dan menyaksikan cara hidup serta semua yang dilakukan-Nya, memahami siapa Diri-Nya itu. Karenanya, Ia tidak lagi menggunakan “Anak Manusia” melainkan “Aku” dalam pertanyaan yang ditujukan kepada mereka: “Menurut kamu, siapa Aku ini” (ay. 15).
Kedelapan, mewakili para murid lainnya, Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias [Mrk 8:29], Anak Alah yang hidup!” (ay. 16). Jawaban Petrus ini juga mencerminkan pemahaman para murid lainnya. Penginjil Matius mengulangi rumusan penginjil Markus, “Engkau adalah Mesias”, dan menambahkan ungkapan “Anak Allah yang hidup”. “Tambahan” ini dimaksudkan untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiran-Nya di dunia. Penginjil Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan orang Yahudi waktu itu, harapan akan Mesias politik ini amat kuat.
Kesembilan, setelah penegasan tadi, Matius menambahkan episode Yesus menyebut Petrus berbahagia karena pengetahuan tadi didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga (ay. 17). Kemudian Simon juga disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh alam maut (ay. 18). Ia juga disebut pemegang kunci surga (ay. 19). Tambahan ini tidak ada dalam tiga Injil lainnya.
Kesepuluh, batu karang (Yunani: petra) menjadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tidak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam.
Kesebelas, dikatakan juga bahwa “alam maut” (Yunani: hades; Ibrani: syeol) tidak akan bisa menguasainya; maksudnya, alam maut tidak akan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi. Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tidak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya adalah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tidak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai “batu karang” yang dapat menyumbat lubang ke alam maut tadi. Oleh Yesus ia dijadikan tempat mendirikan umat yang tidak akan terkuasai alam maut.
Kedua belas, gambaran di atas (catatan kesebelas) dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan [alam] maut tidak dapat masuk ke dalamnya! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut, akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tidak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut.
Merenungkan petikan Injil ini menyadarkan kita bahwa mengakui Yesus sebagai “Mesias, Anak Allah yang hidup” dan mengikuti-Nya, ternyata mengandung sebuah tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab itu adalah “membendung” agar kekuatan-kekuatan maut tidak menghancurkan sesama kita yang lemah.
Kekuatan-kekuatan
maut pada zaman ini berupa kebodohan dan pembodohan, kemiskinan dan pemiskinan,
korupsi dalam berbagai macam bentuknya, ketidak pedulian terhadap penderitaan sesama
dan teriakan bumi, pengrusakan bumi (ibu pertiwi) secara membabi buta, budaya
membuang, ketikdak-adilan, diskriminasi dan kekerasan khususnya terhadap kaum perempuan dan
difabel, sistem ekonomi yang tidak memihak kepada rakyat, pilitik sebagai perebutan
kekuasaan untuk memperkaya diri, pembungkaman suara-suara kritis masyarakat sipil
terhadap pemerintah, teknologi digital yang meremehkan martabat manusia, dan
klerikalisme.
Semoga
Yesus yang memanggil kita juga menguatkan kita untuk melaksanakan tanggung jawab
tersebut.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
15 August 2026
MERAYAKAN MASA DEPAN KEMANUSIAAN KITA
MERAYAKAN
MASA DEPAN KEMANUSIAAN KITA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, dan teman serta sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmakti akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga (yang biasanya dirayakan pada 15 Agustus). Bacaan Injil (Luk 1:39-56) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berkisah tentang Maria mengunjungi Elisabet (ay. 39-45). Bagian kedua mengumandangkan Kidung Pujian “Magnificat” dari Maria (ay. 46-55). Ay. 56 sebagai penutup kisah.
Apa makna perayaan ini serta Injil yang kita dengarkan dalam perayaan ini? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan]. Renungan ini cukup panjang, maka Anda saya ajak untuk bersabar dan bertekun dalam membaca dan merenungkannya.
Pertama, pengangkatan Maria ke surga jiwa dan badan baru ditegaskan secara resmi sebagai bagian ajaran kepercayaan iman Gereja (dogma) pada tahun 1950, meskipun “peristiwa ini” sudah dirayakan oleh umat beriman sejak abad ke-4. Mengapa demikian?
Kedua, sekitar awal abad ke-20 di beberapa kalangan para teolog berkembang aliran berpikir yang pada dasarnya menolak hal-hal yang tidak dapat diterangkan dengan akal budi dan pengetahuan pada waktu itu. Pendapat seperti ini meluas pengaruhnya dalam Gereja, juga di kalangan para rohaniwan.
Ketiga, salah satu akibat dari cara berpikir tadi (catatan kedua) adalah penolakan adanya sisi-sisi sakral dalam kehidupan, termasuk hal-hal yang biasa disebut mukjizat, dan tentu saja tradisi mengenai Maria diangkat ke surga langsung sesudah wafatnya.
Keempat, tetapi pengalaman pahit dalam dua Perang Dunia (Perang Duni I pada 1914 s/d 1918, dan Perang Dunia II pada 1939 s/d 1945) mengajarkan betapa orang sesungguhnya tidak berdaya menghadapi sisi-sisi gelap kemanusiaan sendiri. Berangsur-angsur ketergantungan pada kekuatan ilahi semakin disadari kembali. Dalam hubungan inilah penegasan kepercayaan Maria diangkat ke surga jiwa dan badan itu menjadi pernyataan resmi iman Gereja dalam menerima kenyataan mukjizat yang terjadi pada Maria.
Kelima, dalam Kitab Kejadian bab 3 diceritakan bahwa manusia dan istrinya diusir dari Firdaus (Kej 3:23) karena melanggar larangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk (Kej 3:6). Tindakan mereka itu adalah dosa.
Keenam, dosa membuat kemanusiaan merosot. Sebelumnya, mereka akrab dengan dunia ilahi, dapat bercakap-cakap dengan Tuhan. Manusia merasa aman di hadapan-Nya. Tetapi begitu mereka sadar telah melanggar larangan-Nya mereka takut bertemu dengan-Nya dan menyembunyikan diri (Kej 3:8 & 10). Rasa saling percaya rusak dan mereka tidak lagi dapat berdiam di Firdaus. Tuhan mengusir mereka (Kej 3:23) dan bahkan menempatkan malaikat penjaga berpedang api agar mereka tidak dapat mendekat ke pohon kehidupan (Kej 3:24).
Ketujuh, karena dosanya manusia kini harus berjerih payah mencari makan agar dapat hidup terus (Kej 3:17-19). Istrinya harus menderita tiap kali mau menjadi ibu (Kej 3:16). Dan penggoda mereka, ular, dikutuk jalan melata (Kej 3:14). Tetapi juga ditegaskan, seorang keturunan perempuan yang diperdayakannya itu nanti akan meremukkan kepalanya (Kej 3:15b).
Kedelapan, sekarang mari kita bayangkan kelanjutan kisah itu, yang tidak diceritakan dalam Alkitab, tetapi dapat kita rasa-rasakan. Setelah mengusir manusia dari Firdaus, Tuhan pun menghela nafas, dan semua penghuni surga pun tertunduk diam. Seluruh Firdaus seperti berkabung. Suasana ini membuat Tuhan merasa kesepian.
Kesembilan, suatu hari Tuhan mengambil keputusan untuk turun ke dunia mencari manusia yang telah diusir-Nya. Ia mengubah Diri menjadi suara batin yang ada dalam diri manusia. Dengan demikian, manusia diam-diam dituntun-Nya melangkah, mungkin dengan jatuh bangun, pada jalan kembali ke Firdaus, lewat jalan lain yang tidak dijaga malaikat berpedang api. Begitulah Tuhan berharap satu ketika nanti manusia akan bisa berada kembali di surga mengusir suasana murung untuk selama-lamanya.
Kesepuluh, dengan merayakan Maria diangkat ke surga, kita merayakan kembalinya satu dari keturunan yang telah terusir dari Firdaus tadi. Bukan itu saja. Dirayakan pula pulihnya suasana gembira di surga. Dirayakan kebesaran Tuhan yang dapat membawa kembali kemanusiaan ke sana. Dirayakan pula kemampuan manusia untuk bekerja sama dengan Tuhan. Dirayakan seorang (=Maria) yang hidup tulus mengikuti suara batin, yang membiarkan diri dituntun suara batin.
Kesebelas, lebih dari itu semua (catatan kesepuluh), kandungan suara batin Maria itu menjadi darah daging juga; menjadi manusia Yesus, yang merupakan manusia pertama yang bangkit dari kematian dan naik ke surga (Firdaus). Yesus kini mengisi surga dengan kegembiraan. Dia itulah yang menuntun manusia kembali ke surga. Sebagai Guru. Sebagai Gembala yang baik. Sebagai Penyelamat. Tidak mengherankan bahwa yang pernah membawa-Nya masuk ke dunia ini dengan sendirinya juga ikut terbawa kembali ke surga. Dia itu adalah Maria, ibu Yesus.
Kedua belas, bagian pertama dari Injil (ay. 39-45) mengisahkan dua orang perempuan yang mendapati diri beruntung. Elisabet yang termasuk kaum yang kena aib karena tidak mengandung sampai usia senja, kini akan melahirkan Yohanes Pembaptis. Dan Yohanes Pembaptis yang masih ada dalam rahim itu melonjak kegirangan mendengar salam yang diucapkan Maria yang datang berkunjung.
Ketiga belas, Maria sendiri harus melewati hari-hari tidak enak memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan dirinya yang sudah mengandung kepada Yusuf, tunangannya. Ia bertanya kepada malaikat yang datang kepadanya, bagaimana mungkin semuanya terjadi (Luk 1:34). Jawab malaikat menunjuk pada peran Roh Kudus (Luk 1:35a). Maria membiarkan Roh Kudus bekerja dalam dirinya. Roh Kudus itu adalah Tuhan yang mengubah diri menjadi suara hati manusia. Dan suara hatinya (yakni Roh Kudus yang tinggal dalam dirinya) itu jugalah yang membuat Maria berkata: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanmu!” (Luk 1:38a).
Keempat belas, Roh Kudus yang sama itu juga yang membuat Maria mampu mengungkapkan pujian yang terdapat dalam Injil yang kita renungkan ini (ay. 46-55). Kidung itu mulai dengan pujian bagi Tuhan yang turun untuk menyelamatkan (ay. 46-47). Ia membuat hidup ini berarti. Ia membuat penderitaan bermakna.
Kelima belas, dalam ay. 48 terungkap pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil sehingga mereka menjadi besar di mata orang. Ayat ini mewartakan kebesaran Tuhan yang tidak takut berdekatan dengan orang kecil, karena orang kecil itu dapat memberi-Nya naungan dan mengurangi kesepian-Nya! Orang sederhana biasanya mudah ingat akan Tuhan; dan itu cukup membuat-Nya menemukan kembali secercah kegembiraan yang telah hilang dari Firdaus dulu.
Keenam belas, ayat 49-55 berupa pembacaan kembali sejarah terjadinya umat Israel. Ditekankan tindakan-tindakan hebat Tuhan yang membela orang-orang yang dikasihi-Nya di hadapan pihak-pihak yang mau menindas mereka.
Ketujuh
belas, sering ada anggapan bahwa penderitaan, kemelaratan, ketidakberuntungan, dan
aib; semuanya ini dikenakan sebagai hukuman bagi kesalahan yang telah dilakukan
oleh seseorang. Juga dianggap bahwa hukuman bisa juga diturunkan kepada
keturunan orang yang bersalah. Dosa menurun, hukuman berkelanjutan. Dalam
Kidung Magnificat pendapat seperti ini tidak diikuti. Malah ditegaskan bahwa
Tuhan membela orang yang percaya kepada-Nya, yang meminta pertolongan dari-Nya
(bdk. ay. 54-55).
Kedelapan belas, bagaimana dengan orang yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa? Apakah mereka itu akan dikenai malapetaka? Tidak! Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Mereka dihimbau untuk tidak membiarkan kekayaan, kedudukan, dan kepintaran yang mereka terima dari Tuhan, membuat sesama yang kurang beruntung menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju. Inilah yang hendak disampaikan dalam ay. 52-53.
Dua hal dapat kita petik sebagai “hikmat” dari Perayaan Bunda Maria diangkat ke Surga. Pertama, perayaaan ini merupakan ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan sendiri. Satu ketika nanti kita akan pulih sebagai warga Firdaus dan berada di sana kembali. Dan kita boleh percaya bahwa hal ini dapat terjadi karena salah satu dari umat manusia, yakni Maria, sudah ada di sana dan kini ia melantarkan doa-doa permohonan kita, dari yang biasa hingga yang amat khusus kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Kedua, Kidung Magnificat mengajak
orang-orang—yang merasa beruntung diberkati oleh Tuhan dengan berbagai macam kelebihan—guna
memungkinkan sesama—yang masih jauh dari sejahtera—ikut beruntung.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
13 August 2026
BERSAMA YESUS TIDAK PERLU TAKUT
BERSAMA YESUS TIDAK PERLU TAKUT
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Selamat berjumpa kembali dalam renungan mingguan. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-19 Tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 14:22-33) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Yesus berjalan di atas air. Apa makna cerita ini bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, kisah ini mengolah kembali kisah Yesus berjalan di atas air dalam Injil Markus (Mrk 6:45-50; bdk. Yoh 6:16-20) dan menambahkan cerita mengenai Petrus (ayat 28-31) yang didapatnya dari sumber-sumber mengenai tokoh itu. Khas penginjil Matius, pada akhir kisah, disebutkan bahwa para murid mengakui Yesus sebagai Anak Allah (ayat 33).
Kedua, setelah memberi makan kepada 5000 orang, Yesus segera mendesak para murid agar menyeberangi danau (ay. 22a). Kata “mendesak” memang keras, begitu juga dalam teks aslinya. Ada yang perlu dilakukan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Apa itu? Menurut Injil Yohanes, orang banyak yang mengalami peristiwa roti itu kini mau mengangkat Yesus sebagai raja (Yoh 6:15a).
Ketiga, orang banyak itu mau memaksakan ukuran-ukuran serta cita-cita mereka sendiri kepadaYesus. Mereka tidak paham bahwa kebesaran-Nya yang sejati terletak dalam pengorbanan menebus kemanusiaan dengan penderitaan hingga mati di salib (lih. Yoh 19:30).
Keempat, oleh karenanya Yesus menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh 6:15b) untuk menghindari mereka dan untuk “berdoa” (Mat 14:23a; Mrk 6:46). Dalam doanya itu Yesus mencari pengarahan dari Allah yang mengutus-Nya.
Kelima, bagaimana dengan para murid? Boleh jadi mereka juga sudah mulai berpikir seperti orang banyak. Mereka juga tidak dapat menerima mengapa Yesus yang sedemikian terhormat itu bakal ditolak dan dibunuh oleh orang-orang di Yerusalem. Para murid belum paham akan kemesiasan rohani Yesus. Mereka malah mengira ini saat tepat bagi Yesus untuk menjadi pemimpin masyarakat yang dinanti-nantikan!
Keenam, dalam konteks seperti itu (catatan ketiga dan kelima) tidaklah sulit untuk mengerti mengapa Yesus “mendesak” mereka agar pergi ke seberang danau. Ia bermaksud menjauhkan mereka dari orang-orang yang memiliki anggapan yang kurang cocok mengenai diri-Nya. Para murid disendirikan agar nanti dapat melihat diri-Nya yang sebenarnya.
Ketujuh, para murid memang tidak paham mengapa Yesus menyingkiri massa yang baru saja dipuaskannya dengan makanan, dan menyuruh mereka menjauh dari orang-orang yang pasti bakal menjadi pengikut-Nya. Mereka juga tidak paham mengapa mereka harus menyeberang pada saat yang kurang baik untuk berperahu ke seberang.
Kedelapan, bagaimanapun juga mereka menurut dan berkayuh semalam penuh sampai dini hari. Dan ketika berada di tengah danau, gelombang dan angin semakin mengombang-ambingkan perahu mereka (ay. 24). Para murid merasa terancam.
Kesembilan, dalam suasana seperti itu Yesus mendatangi mereka dengan “berjalan di atas air” (ay. 25). Harfiahnya berarti “berjalan mondar mandir”, seperti sedang berjalan-jalan santai di taman. Juga ada makna “berinteraksi” dengan keadaan dengan tenang dan enak.
Kesepuluh, para murid melihat ada sosok yang menguasai gerakan-gerakan gelombang. Sosok itu leluasa berjalan di atas kekuatan-kekuatan itu. Kenyataan-kenyataan yang bisa mengacaukan tidak menggentarkan-Nya. Malah mereka dijinakkan. Ini semua dilihat para murid. Namun mereka tidak sertamerta mengenali siapa Dia itu yang bertindak demikian. Mereka malah mengira bahwa sosok itu adalah hantu (ay. 26a).
Kesebelas, mengapa Yesus dapat melakukan hal itu? Dalam kitab Ayub (Ayub 9:8) disebut bahwa Allah yang Mahakuasa “membentangkan langit”, dan “berjalan melangkah di atas gelombang-gelombang laut.” Artinya, Allah menguasai kekuatan-kekuatan yang tak terperikan dahsyatnya. Tidak dengan meniadakannya, melainkan dengan mengendalikannya. Ia mengatur alam yang dahsyat itu dengan kebijaksanaa-Nya.
Kedua belas, pembaca yang jeli akan menghubungkan ketenangan Yesus dengan tindakan-Nya sebelum datang kepada murid-murid-Nya: Ia pergi menyendiri dan berdoa (ay. 23). Dalam doa-Nya itu Yesus menyelaraskan diri dengan Yang Mahakuasa yang demikian itu (catatan kesebelas). Ia tetap mengarahkan diri kepada-Nya. Itulah sumber ketenangan dan kebijaksanaan-Nya.
Ketiga belas, mengapa Petrus mulai tenggelam? (ay. 30a). Tokoh ini bertindak dengan spontanitas dan maksud baik belaka. Sebelum bertindak Petrus tidak berdoa seperti yang dilakukan oleh Yesus. Tetapi dalam keadaaan mulai tenggelam, akhirnya ia berteriak minta tolong, “Tuhan, tolonglah aku!” (ay. 30b). Seruan ini diarahkan kepada Tuhan. Ini doa. Dan doanya didengarkan.
Keempat belas, siapa yang memegang tangan Petrus dan menahannya agar tidak tenggelam? Yesus! (ay. 31a). Kejadian itu membuat orang-orang yang ada di perahu mulai menyadari apa yang sedang terjadi. Ketika Yesus dan Petrus sudah naik ke perahu (ay. 32), orang-orang itu menyembah Dia—tentunya menyembah Yang Mahakuasa sendiri—dan mengenali kehadiran-Nya di dalam diri Yesus yang kini mereka akui sebagai Anak Allah (ay. 33).
Merenungkan Injil ini ada beberapa hal yang dapat kita petik sebagai pembelajaran. Pertama, kadang kala kehidupan kita juga terombang-ambing dan berputar-putar tanpa arah. Dalam situasi seperti itu kekacauan menjadi-jadi dan terasa lebih kuat daripada tuntunan Allah. Kedua, Injil juga mengajarkan bahwa dalam keadaan seperti itu Yesus, yang kita kenal dan ikuti, ternyata menjadi jalan bagi Allah untuk menolong ketika kita berada dalam saat-saat kritis. Karenanya, kita tidak perlu merasa takut, asalkan kita berani “berteriak minta tolong”. Ketiga, pentingnya menyisihkan waktu untuk berdoa agar hidup kita senantiasa selaras dengan kehendak Allah.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
27 June 2026
MENGIKUTI YESUS
MENGIKUTI
YESUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat pagi. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-13 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 10:37-42), yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi, terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (ay. 37-39) merupakan syarat bagi para rasul bila mereka ingin mengikuti Yesus. Syarat ini bernada keras. Bagian kedua (ay. 40-42) menegaskan bahwa barangsiapa menerima utusan Yesus, menerima Dia sendiri.
Apa
maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang
diberi catatan].
Pertama, beberapa tuntutan keras dalam Injil yang kita renungkan ini, akan dapat kita pahami dengan lebih mudah bila kita melihat Mat 10:34, yang mengatakan bahwa Yesus datang ke dunia bukan untuk membawa damai melainkan untuk “membawa pedang”. Pernyataan Yesus ini memiliki dua latar.
Pertama, dalam masyarakat Yahudi waktu
itu ada harapan akan datangnya seorang Mesias yang membawakan damai,
kemakmuran, kejayaan, dan kebesaran. Perkataan Yesus itu menyatakan bahwa
diri-Nya bukan Mesias seperti yang mereka pikirkan dan harapkan.
Kedua, pada zaman para nabi menjelang
keruntuhan Yerusalem, ada sekelompok orang yang menyebut diri nabi dan
menenteramkan orang banyak dengan mengatakan bahwa akan datang damai yang bakal
membuat keadaan politik yang kalang kabut masa itu akan berubah. Para nabi
“damai” ini meninabobokan hati nurani orang dengan gagasan-gagasan mereka
sendiri. Mereka ini nabi palsu.
Dalam
suasana seperti itu, nabi Yeremia menelanjangi para nabi palsu tersebut (Yer
23:9-40; lihat khususnya ay. 17). Akibatnya, Yeremia dimusuhi, justru karena
berusaha membuat pikiran orang melihat kenyataan bobrok dalam masyarakat
mereka. Yesus juga berlaku seperti nabi Yeremia. Karena itu, Yesus juga
dimusuhi, bahkan juga oleh orang-orang yang dekat dengan-Nya.
Kedua, “pedang” bisa memilah-milah; dan kehadiran Yesus memang memotong yang busuk dari yang masih bisa diselamatkan. Para murid diajak melihat kenyataan yang memang tidak mengenakkan ini. Keberanian melihat yang busuk dan berusaha melepaskan, termasuk sikap iman yang diminta dari para pengikut Yesus.
Ketiga, kehadiran Yesus [“yang membawa pedang”] juga bisa memisahkan orang dengan sanak keluarga terdekat (Mat 10:35-36). Itulah konteks petikan Injil yang kita renungkan ini.
Keempat, tiga ayat pertama dalam petikan Injil hari ini (ay. 37-39), jelas ditujukan kepada para rasul, yakni mereka yang dipilih Yesus untuk menjalankan perutusan-Nya. Tetapi, semangat serta isinya diperuntukkan bagi siapa saja yang hendak menjadi murid-Nya.
Kelima, nanti perihal memikul salib dan membiarkan diri kehilangan nyawa demi Yesus dalam Mat 16:24-26, diajarkan kepada para murid pada umumnya, bukan hanya kepada para rasul yang duabelas itu saja.
Keenam, begitu pula pembicaraan mengenai pertentangan dengan sanak keluarga, memikul salib, dan merelakan nyawa sendiri (Mrk 8:34-36; Luk 12:51-53 dan 14:26-27) juga jelas ditujukan kepada para murid pada umumnya.
Ketujuh, bukan tanpa maksud bila pembicaraan dalam Mat 16:24-26 (catatan kelima) dan Mrk 8:34-36 (catatan keenam) tadi disampaikan setelah pemberitahuan yang pertama tentang penderitaan Yesus; yakni bahwa Yesus akan ditentang para pemimpin Yahudi dan tokoh masyarakat, sampai dibunuh, tetapi Ia akan dibangkitkan pada hari ketiga (lihat Mat 16:21; Mrk 8:31).
Kedelapan, pemberitahuan tentang penderitaan Yesus ini (catatan ketujuh) diberikan sesudah pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias (Mat 16:13-16; Mrk 8:27-29). Ini semua dilakukan oleh penginjil untuk menekankan bahwa semakin dekat para murid mengenal siapa Yesus itu, semakin mereka diharapkan bersedia mengutamakan Dia (dengan segala risikonya) [ay. 37 dan 39].
Kesembilan, hidup Yesus adalah hidup yang dibaktikan kepada kehendak Bapa yang mengutus-Nya ke dunia. Yesus dapat menghadirkan keilahian (=Allah Bapa) karena Ia meluangkan diri untuk itu dengan menjalankan “kenosis” [=pengosongan diri; lih. surat kepada orang Filipi (Fil 2:6-8)].
Kesepuluh, pengosongan diri yang dilakukan oleh Yesus bukan asal membuat diri kosong, melainkan meluangkan diri agar dipenuhi keilahian. Oleh karena itulah Yesus Kristus dapat menunjukkan gambar dari Allah yang tidak terlihat.
Kesebelas, pengosongan diri seperti itu hanya dapat dilakukan oleh Yesus, karena hanya Dia sajalah yang dipilih oleh Allah untuk itu. Hanya Dialah satu-satunya yang ditunjuk oleh Yang Mahakuasa seperti terungkap pada saat Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mrk 1:9-11; Mat 3:13-17; Luk 3:21-22).
Kedua belas, pada saat Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, terdengar suara dari langit yang menegaskan bahwa Dia itu anak-Nya yang terkasih, kepada-Nyalah Allah berkenan (Mrk 1:11; Mat 3:17; Luk 3:22). Artinya, hidup Yesus menjadi kenampakan [dari] Allah sendiri.
Ketiga belas, penegasan yang sama bahwa Yesus adalah Anak-Nya juga dijumpai dalam penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Mrk 9:7; Mat 17:5; Luk 9:35). Dalam peristiwa ini suara dari langit menambahkan seruan agar orang “mendengarkan Dia” (Mrk 9:7; Mat 17:5; Luk 9:35). Maksudnya, yang diminta dari orang banyak adalah kesadaran mengenai apa yang terjadi pada Yesus dan apa yang dilakukan-Nya.
Keempat belas, dalam Mat 10:38 (lihat juga Mrk 8:34; 10:21; Mat 16:24; Luk 9:23; 14:27) Yesus mengatakan: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku (=mengikut Aku).” Dalam semua ayat itu, “memikul salib” tidak dapat dipisahkan dari “mengikut Aku”. Bila kedua hal itu dipisahkan, beban yang dipikul orang bisa-bisa bukan lagi salib yang membawa ke “keselamatan”, tetapi berhenti pada penderitaan yang tanpa ujung pangkal.
Kelima belas, ditandaskan pula bahwa mereka yang berusaha menyelamatkan diri (= “nyawanya”) malah tidak akan menemukan diri (= “kehilangan nyawanya”), tetapi sebaliknya mereka yang menemukan diri dalam Yesus (=“kehilangan nyawanya karena Aku”) akan menemukan keselamatan (= “menyelamatkan nyawanya”) [ay. 39]. Di sini terungkap salah satu pokok spiritualitas (=cara berpikir dan bertindak) Kristiani. Hidup sebagai orang kristen baru ada artinya bila membuat dirinya menjadi kenampakan Yesus, yang dengan salib-Nya telah menampakkan keilahian-Nya.
Keenam belas, dalam ay. 40-42 ditegaskan bahwa barangsiapa menerima utusan Yesus, menerima Dia sendiri. Sama halnya dengan orang yang menerima nabi akan mendapat imbalan seperti yang didapat sang nabi sendiri. Begitu juga, menerima orang benar membuat yang bersangkutan ikut menjadi orang benar. Kebaikan sekecil apapun kepada para murid Yesus, ibarat memberi air sejuk secangkir saja, akan mendatangkan imbalan.
Merenungkan petikan Injil ini menyadarkan kita bahwa menjadi murid Yesus berarti mendekati kehadiran Allah dalam diri Yesus dan membiarkan diri menjadi tempat bagi-Nya. Dengan demikian, kita akan dapat memperkenalkan Allah dengan cara yang amat transparan tanpa menghapus kepribadian kita.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
Catatan:
Mulai
tanggal 4 Juli s/d 6 Agustus 2026, saya akan berada di luar Seminari untuk
memberi lokakarya, melakukan retret tahunan, mengikuti acara Yesuit Provinsi
Indonesia, dan melakukan pemeriksaan kesehatan (medical checkup).
Karenanya, selama kepergian saya, saya tidak akan dapat menulis renungan
mingguan. Banyak terima kasih atas pengertiannya.
20 June 2026
JANGAN TAKUT
JANGAN TAKUT
Para Ibu dan Bapak, serta Saudari dan Saudara
yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta
teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk
sejenak beristirahat dari kepenatan hidup, dan merasakan kembali semua kebaikan
Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-12 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 10:26-33) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (ay. 26-31) memuat ungkapan “Jangan takut!” sampai empat kali (ay. 26, 28a, 28b, 31). Bagian kedua (ay. 32-33) berbicara mengenai keberanian bersaksi.
Apa
maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang
diberi catatan].
Pertama, petikan Injil yang kita renungkan ini merupakan bagian dari Injil Matius bab 10, yang memuat perkataan-perkataan Yesus yang kemudian menjadi bekal bagi para utusan-Nya. Bukan bekal fisik, melainkan bekal kebijaksanaan, yakni kepandaian menilai keadaan. Kebijaksanaan ini membuat mereka sanggup bertahan dalam menghadapi berbagai macam kesulitan.
Kedua, para
rasul dipilih Yesus untuk ikut serta dalam karya-Nya (ay. 5-14) dan, dalam
pandangan generasi selanjutnya, mereka menjadi para pemimpin dalam komunitas
para pengikut Yesus. Apa konsekuensi penugasan ini bagi kehidupan mereka?
Ketiga, dengan menerima perutusan mereka, para rasul menjadi senasib dengan Guru mereka (ay. 17-18; 21-22a; 24-25): ditolak, dimusuhi, diadili, dan menghadapi risiko dibunuh. Senasib dengan Guru mereka itu adalah pahala dan konsekuensi menjadi utusan-Nya. Tetapi mereka tidak ditinggalkan sendirian (ay. 19-20).
Keempat,
dalam ay. 16-25 disebutkan bahwa mereka diutus seperti domba ke tengah-tengah
serigala dan hendaknya mereka cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Murid-murid
Yesus akan dimusuhi, bahkan oleh orang-orang yang dekat, dengan alasan mereka
itu menjadi murid Yesus (ay. 17-18; 21-22a). Dalam situasi seperti itu, para
rasul diminta berani memakai sumber kemanusiaan mereka dalam menjalankan tugas
luhur mereka. Mereka diharapkan dapat menilai keadaan secara bijaksana (=
cerdik seperti ular), dan tetap tulus -
menjaga integritas diri mereka (= tulus seperti merpati).
Kelima, dengan kata lain, mereka diharapkan agar tidak gegabah asal mau bertahan. Bila dianiaya di satu kota hendaklah pergi ke kota lain; urusan yang tidak bisa mereka jalankan sendiri sebaiknya diserahkan saja kepada Anak Manusia yang sudah datang (ay. 23). Mereka juga perlu menyadari bahwa Roh Bapa akan menyertai dan membela mereka (ay. 20).
Keenam,
penginjil Matius menonjolkan unsur “jangan takut” (ay. 26, 28a, 28b, 31) agar
jelas bahwa tugas yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya terbingkai
oleh gagasan itu.
Ketujuh, tugas yang dimaksud adalah menjelaskan kepada orang banyak siapa Yesus itu. Tugas ini bisa menakutkan dan bikin waswas pada orang yang ditugasi. Jangan-jangan pengalaman amat pribadi percaya dan berguru pada Yesus itu diketahui orang banyak dan mereka dimintai pertanggungjawaban.
Kedelapan, “waswas” berasal dari kata Arab “waswasa” (bisikan). Artinya, bisikan dari setan yang menimbulkan keraguan, kebingungan, kecemasan, dan ketakutan tidak berdasar sehingga membuat orang kehilangan kepercayaan. Karenanya, “jangan takut” berarti jangan membiarkan diri dihanyutkan rasa seperti itu, yang hanya bikin waswas terus, yang mengendurkan semangat.
Kesembilan, para murid diminta untuk tidak takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak dapat membunuh jiwa (ay. 28a). Artinya, mereka diminta untuk tidak usah waswas akan mereka yang bisa mempersukar yang di luar, tetapi tidak bisa mengubah keyakinan.
Kesepuluh, para murid juga diminta “takwa” (Bahasa Arab: taqwa) kepada Tuhan (ay. 28b). Artinya, takut kepada kekuatan ilahi dengan sikap menghormat, dan mengharapkan kekuatan darinya.
Kesebelas, nasihat untuk “tidak takut” ini didasarkan pada keyakinan bahwa mereka itu jauh lebih bernilai daripada burung pipit yang walaupun harganya cuma sepeser toh tidak dibiarkan jatuh ke bumi tanpa kemauan Bapa di surga (ay. 29 dan 31). Mereka akan selalu dilingdungi oleh Bapa.
Kedua belas, dengan memahami nasihat “jangan takut”, kita juga akan memahami penegasan bahwa barangsiapa mengakui Yesus di depan manusia, maka Yesus pun akan mengakuinya di depan Bapa-Nya (ay. 32). “Mengakui Yesus” berarti menerima warta Yesus tanpa membiarkan diri diusik rasa waswas dan terpengaruh bisikan-bisikan jahat mengenai diri-Nya, melainkan menjalankan perutusan dengan sikap takwa kepada Dia yang mengutus Yesus sendiri, yakni Bapa-Nya.
Ketiga belas, ditegaskan juga bahwa siapa yang menyangkal Yesus di depan manusia, juga akan disangkal Yesus di depan Bapa-Nya (ay. 33). “Menyangkal Yesus” berarti membiarkan diri terus-menerus hidup dalam perasaan tidak menentu, waswas akan kebenaran warta Yesus, dan dengan demikian menyangkal juga yang mengutus-Nya, yaitu Bapa-Nya. Orang seperti ini sudah berkubu kepada pembisik rasa waswas tadi (yakni setan) dan tidak takwa kepada Bapa.
Dalam nasihat-nasihat agar “jangan takut” para murid Yesus (dan kita semua) diajar mengamati rasa takut: mana yang melemahkan (yakni waswas), mana yang menguatkan (yakni takwa kepada Bapa). Sekaligus kita juga diundang untuk bijaksana dan tulus (penuh integritas) dalam menjalani kehidupan.
Teriring
salam dan doa, Rm. Madya, S.J.