14 December 2025
MENEMUKAN TANDA-TANDA KEDATANGAN YESUS
MENEMUKAN TANDA-TANDA KEDATANGAN YESUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat, dan menyadari kembali semua rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Adven ke-3
tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 11:2-11) yang akan kita dengarkan
dalam Perayaan Ekaristi bebicara tentang (1) Yohanes
Pembaptis yang mengutus murid-muridnya kepada Yesus untuk memastikan apakah Ia
itu betul Dia yang diwartakan bakal datang (ay. 2-3), (2) jawaban Yesus kepada
mereka (ay. 4-6), dan (3) Yesus berbicara kepada orang banyak tentang Yohanes
Pembaptis (ay. 7-11a).
Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka
Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, beberapa waktu sebelumnya, Yohanes Pembaptis ditangkap oleh Herodes Antipas (Mat 4:12) karena dua alasan. Pertama, alasan politik. Warta kenabian dan seruan pertobatan Yohanes Pembaptis membuat guncangan dalam masyarakat dan dikhawatirkan akan membahayakan kedudukan Herodes di hadapan penguasa Romawi. Kedua, Yohanes Pembaptis pernah mengecam keras perkawinan Herodes dengan Herodias, yang waktu itu masih bersuamikan saudara tiri Herodes sendiri (Mat 14:4). Tindakan Herodes ini terlarang seperti tertera dalam kitab Imamat (Im 18:6).
Kedua, di dalam penjara Yohanes Pembaptis masih bisa menerima kunjungan murid-muridnya. Dari merekalah Yohanes Pembaptis mendengar tentang Yesus yang mulai dikenal dalam masyarakat (Mat 11:2).
Ketiga, dalam Mat 3:11 dikisahkan bahwa Yohanes Pembaptis memaklumkan kedatangan Dia yang lebih berkuasa daripadanya dan yang akan membaptis dengan Roh dan api sehingga orang dapat memasuki Kerajaan Surga setelah menerima baptisan tobat yang diserukan-Nya. Tetapi belum jelas baginya siapa orangnya.
Keempat, ketika Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis minta ikut dibaptis (Mat 3:13), Yohanes Pembaptis tentunya menduga bahwa Dia inilah orangnya (Mat 3:14). Apalagi dalam pembaptisan Yesus itu, Yohanes Pembaptis memperoleh pengalaman rohani, yakni terdengarnya suara dari langit yang menyatakan bahwa Yesus itu anak Allah yang terkasih dan mendapat perkenan ilahi (Mat 3:17.). Tetapi sungguh Diakah orang yang dinanti-nantikan?
Kelima, pertanyaan Yohanes Pembaptis apakah Yesus itu betul-betul Dia yang bakal datang, atau masih akan ada orang lain (Mat 11:3b), menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis ingin mendengar berita yang tepercaya. Ia juga mau mengajar murid-muridnya agar berani mengenal siapa tokoh Yesus itu sesungguhnya dengan menemui-Nya sendiri (Mat 11:3a).
Keenam, keragu-raguan Yohanes Pembaptis tidak perlu ditafsirkan sebagai kekurangpercayaan. Dibutuhkan berita lebih lanjut yang bakal memastikan bahwa Dia itulah orangnya. Iman yang hidup tetap butuh informasi yang aktual.
Ketujuh, usaha mengerti mana tanda-tanda yang bisa membuat orang percaya termasuk tindakan beriman. Seperti semua tindakan manusia, percaya dan beriman itu bisa dan perlu dipertanggungjawabkan.
Kedelapan, kebutuhan mempertanggungjawabkan (kepercayaan dan iman) terasa mendesak, karena pada waktu itu warta yang dibawakan Yohanes Pembaptis dan pengajaran yang diberikan Yesus sering dipertanyakan dan bahkan ditolak.
Kesembilan, dalam Mat 11:16-19, yang menjadi konteks Injil yang kita renungkan ini, disebutkan ada orang-orang yang menganggap Yohanes Pembaptis kerasukan setan karena menjalankan laku tapa keras (ay. 18), bahkan ada yang tidak menggubris Yesus walaupun hidup-Nya tidak seperti pertapa. Bahkan, kebaikan-Nya kepada para pemungut pajak dan pendosa dijadikan bahan cibiran (ay. 19). Memang sepanjang Mat 11-12 digambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima warta Yohanes Pembaptis dan kehadiran Yesus sendiri.
Kesepuluh, Yesus meminta agar murid-murid Yohanes Pembaptis melaporkan kepada guru mereka apa yang mereka lihat dan dengar tentang diri-Nya (Mat 11:4), yakni orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin dibawakan berita gembira (Mat 11:5). Peristiwa-peristiwa ini memenuhi warta nabi Yesaya (Yes 35:5-6 dan Yes 61:1).
Kesebelas, dengan permintaan-Nya itu Yesus mengundang para murid Yohanes Pembaptis—dan kita semua—untuk menyimak kembali pewahyuan ilahi yang sudah sering didengar dan mencoba melihat kenyataannya sekarang. Penyembuhan dan kabar gembira kepada orang-orang yang sengsara tadi membuat kedatangan Yesus semakin dapat dipertanggungjawabkan, semakin “accountable”.
Kedua belas, pada akhir jawaban-Nya, Yesus menyebut berbahagia orang “yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Mat 11:6). Ungkapan aslinya adalah “yang tidak tersandung karena Aku”. Orang yang bisa menerima warta Yesus tanpa merasa tersinggung dan menyambutnya dengan merdeka boleh merasa bahagia. Kebahagiaan tercapai dengan mencari tahu bagaimana dan dengan cara apa kedatangan Yesus menjadi semakin bermakna dan semakin bisa dinikmati.
Ketiga belas, setelah murid-murid Yohanes Pembaptis pergi, Yesus mulai berbicara mengenai Yohanes Pembaptis. Dikatakannya bahwa orang-orang datang kepada tokoh itu karena ia tidak seperti “buluh digoyang angin” (Mat 11:7). Maksudnya, mereka datang untuk berguru kepada orang yang wataknya kuat, kepada orang yang berprinsip, berkepribadian.
Keempat belas, ditambahkan bahwa mereka tentunya datang ke tempat sepi tidak untuk menemui orang yang “berpakaian halus” (Mat 11:8), melainkan untuk mendengarkan seorang nabi yang menyampaikan sabda Tuhan dengan penuh integritas (Mat 11:9). Dan nabi itulah Yohanes Pembaptis.
Kelima belas, yang dimaksud dengan “yang terkecil dalam Kerajaan Surga” namun yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis Pembaptis (Mat 11:11b) adalah Yesus. Ungkapan “terkecil” dikenakan kepada orang yang ditugasi melayani orang lain. Dalam Mat 20:28 Yesus menerapkan gagasan melayani tadi kepada diri-Nya sendiri. Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani; maksudnya, untuk membuat Yang Ilahi mendekat kepada manusia. Itulah kebesaran-Nya.
Merenungkan Injil ini pada hari Minggu Adven ke-3, kita dapat memetik dua buah “pelajaran”. Pertama, kita diundang untuk menengarai dan menemukan tanda-tanda kehadiran Yesus di tengah-tengah kehidupan dan masyarakat kita; yakni orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin serta mederita dibawakan berita gembira.
Kedua,
apakah kita bisa mengharapkan diri kita juga akan dibicarakan oleh Yesus dengan
para penghuni surga, seperti dulu ketika Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis
kepada orang banyak?
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
6 December 2025
PERTOBATAN YANG BERBUAH
PERTOBATAN YANG BERBUAH
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga
Anda beserta keluarga, sanak-keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan
baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat sejenak dan mencecap
kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Adven II tahun A dalam kalender liturgi dalam suasana sedih dan prihatin karena puluhan ribu saudara kita terkena musibah bencana Allah, dan banyak dari antara mereka yang meninggal dunia.
Seraya mendoakan mereka dan mengupayakan bantuan
sekemampuan kita, kita akan merenungkan Injil (Mat
3:1-12) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi. Dalam Injil ini
ditampilkan Yohanes Pembaptis yang mewartakan datangnya Kerajaan Surga dan
menyerukan pertobatan yang harus menghasilkan buah.
Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah
kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil
membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, Yohanes Pembaptis ditampilkan oleh penginjil Matius sebagai suara yang berseru di padang gurun agar disiapkan jalan yang rata bagi Tuhan yang akan datang (ay. 3; lihat Yes 40:3). Tuhan, yang sedang dinanti-nantikan itu akan datang dan memimpin kembali orang-orang ke dalam Kerajaan Surga lewat jalan yang rata tadi.
Kedua, dengan pewartaan nabi Yesaya itu (Yes 40:3, yang dikutip dalam Mat 3:3) Yohanes Pembaptis adalah tokoh yang datang dengan wibawa “dari atas.” Karenanya, Yohanes akrab dengan kekuatan-kekuatan surgawi, sehingga banyak orang datang kepadanya minta dibaptis sebagai tanda pertobatan dan agar disertai oleh kekuatan-kekuatan surgawi tadi untuk menemukan kembali jalan yang lurus (Mat 3:5-6).
Ketiga, karena keakrabannya dengan kekuatan-kekuatan surgawi terebut, Yohanes Pembaptis dapat menggemakan seruan Yang Mahakuasa sendiri kepada kekuatan-kekuatan surgawi tadi agar menyiapkan jalan dan meluruskannya bagi kedatangan Tuhan (Mat 3:3b).
Keempat, Yohanes Pembaptis mewartakan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 3:2b). “Kerajaan Surga” mengacu pada wibawa Allah sebagai “Raja”, termasuk juga orang-orang yang mengakui kuasa-Nya. “Kerajaan Surga” ini datangnya bukan dari dunia kita ini, sehingga tidak masuk dalam sistem dunia ini. Kendati demikian, kedatangan-Nya akan berpengaruh pada cara orang yang percaya akan kedatangan-Nya menata dunia ini.
Kelima, orang yang menerima kedatangan Kerajaan Surga, akan menata dunia ini bukan berdasarkan status sosial para anggota masyarakat, melainkan dengan nilai-nilai Injil, yakni kasih, pengampunan, kerelaaan saling berbagi, saling tolong-menolong, keadilan, solidaritas, dan kesetaraan antarpara anggota keluarga, Gereja, dan masyarakat.
Keenam, hal itu (catatan kelima) dapat dilakukan setelah orang menerima “baptisan dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat 3:11c) yang diberikan oleh Yesus [= “Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku” (Mat 3:11b)], bukan hanya “baptisan dengan air” yang diberikan oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:11a).
Ketujuh, “baptisan dengan air” yang diberikan oleh Yohanes Pembaptis membersihkan yang menempel di luar dan melepaskan beban-beban rohani sebagai tanda pertobatan. “Baptisan dengan Roh Kudus dan dengan api” yang diberikan Yesus membuat orang dapat melangkah ringan, seperti dibawa Roh Kudus, dan membersihkannya sampai sedalam-dalamnya, seperti api memurnikan barang campuran.
Kedelapan, Yesus yang “membaptis dengan Roh dan dengan api” juga akan memisahkan orang yang berisi Roh dari orang yang kosong, seperti orang menampi gandum dan memisahkannya dari sekam; gandum akan disimpan dalam lumbung, sekam akan dibakar (Mat 3:12). Hal ini senada dengan seruan Yohanes Pembaptis bila pertobatan tidak menghasilkan buah, maka ibarat pohon yang tidak berbuah akan ditebang dan dimusnahkan dalam api (Mat 3:10 – lihat catatan kesepuluh di bawah).
Kesembilan, Yohanes Pembaptis memandang Yesus “lebih berkuasa” daripada dirinya, sehingga ia merasa tidak layak untuk “melepaskan kasut-Nya” (Mat 3:11b). Bagi orang Yahudi, ungkapan “melepaskan kasut” adalah sebuah kiasan yang berasal dari praktik hukum adat. Artinya, bertindak sebagai orang “yang diberi kuasa” bila orang yang berwenang terhalang. Dengan menggunakan ungkapan itu, Yohanes Pembaptis hendak mengatakan bahwa dirinya tidak layak menerima kuasa mewakili Yesus!
Kesepuluh, ucapan yang keras dari Yohanes Pembaptis dalam ayat 8 s/d 10, ingin mengatakan bahwa pertobatan saja belum cukup. Pertobatan yang sejati perlu menghasilkan buah-buah kebaikan. Ibaratnya, seperti sebatang pohon yang perlu bertumbuh, berbunga, mekar dan berbuah. Bila sebatang pohon tidak berbuah, pohon itu hanya akan dikapak sampai ke akar-akarnya dan dimusnahkan (ay. 10). Demikian pula hidup kita!
Kesebelas, Yohanes Pembaptis mengingatkan bahwa status sebagai keturunan Abraham bukan jaminan untuk memperoleh keselamatan. Yang perlu diusahakan, seperti ditegaskan oleh Yohanes Pembaptis, adalah “hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (ay. 8). Hal senada dikatakan oleh Gereja dalam Konsili Vatikan II: “Akan tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah [=bertumbuh, berkembang] dalam cinta kasih” (Lumen Gentium 14).
Merenungkan Injil ini mengajak kita untuk bertanya diri: langkah kongkret apa yang perlu kita lakukan sehingga pertobatan sejati (dalam level personal, komunal dalam keluarga atau komunitas, serta karya/lembaga) sungguh menghasilkan buah-buah nyata demi terwujudnya Kerajaan Surga (catatan kelima) dalam hidup dan masyarakat kita?
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
6 December 2025
MENEMUKAN DAN MEWUJUDKAN “KEMANUSIAAN BARU”
MENEMUKAN DAN MEWUJUDKAN “KEMANUSIAAN BARU”
Para Ibu dan Bapak serta Saudara dan Saudari yang
baik selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat
dan merasakan kembali semua anugerah Allah yang telah dicurahkan kepada kita
selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Adven pertama tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 24:37-44) yang akan kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi mengajak kita semua agar berjaga-jaga menunggu kedatangan “Anak Manusia” pada akhir zaman.
Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka
Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, dalam tahun liturgi A ini perhatian akan dipusatkan pada Injil Matius. Injil Matius menyoroti Yesus sebagai pribadi yang membawakan Kerajaan Surga lewat tindakan dan ajaran-Nya. Siapa saja yang menerima-Nya akan menjadi bagian dari “Israel baru”, yakni bangsa terpilih yang baru, kemanusiaan baru. Mereka inilah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Kedua, Kerajaan Surga yang diwartakan oleh Yesus sudah ada tetapi tidak diketahui kapan terwujud secara utuh. Tidak ada yang tahu kapan hal itu akan terjadi (Mat 24:36). Artinya, Kerajaan Surga tidak mengikuti mekanisme hukum alam dan kaidah-kaidah perkembangan masyarakat walaupun berinteraksi dengannya dalam cara-cara yang tidak bakal sepenuhnya dapat dijelaskan.
Ketiga, Matius menggambarkan Yesus sebagai “Anak Manusia” yang datang di atas awan-awan di langit dengan kuasa dan kemuliaan yang besar (Mat 24:30). Ungkapan “Anak Manusia” menggemakan Dan 7:13, yakni Anak Manusia yang datang menghadap Yang Mahakuasa untuk memperoleh anugerah atas seluruh alam semesta.
Keempat, “Anak Manusia” ini baru tampil setelah kekuatan-kekuatan jahat yang mengungkung alam semesta dihancurkan oleh kuasa Allah (Dan 7:11b-12). Dengan demikian, zaman yang dikuasai kekuatan edan itu digantikan dengan zaman Anak Manusia.
Kelima, sosok “Anak Manusia” dalam Kitab Daniel menggam-barkan “kemanusiaan baru” yang sepenuhnya ada di hadirat ilahi dan bebas dari pengaruh yang jahat. Dalam Injil Matius, “kemanusiaan baru” itu ditampilkan sebagai kenyataan Kerajaan Surga.
Keenam, “kemanusiaan baru” ini oleh Matius digambarkan dengan istilah “bahtera” yang dibangun oleh Nuh (Mat 24:38). “Bahtera” adalah kawasan khusus yang terlindung dari kekuatan-kekuatan penghancur yang akan segera datang.
Ketujuh, “kemanusian baru” juga dapat dimengerti dengan memperhatikan bacaan pertama (Yes 2:1-5), yang menyampaikan nubuat mengenai datangnya zaman damai. “Kemanusiaan baru” (= zaman damai) akan terjadi ketika orang menemui Tuhan untuk mendengarkan ajaran tentang jalan-Nya serta bersedia berjalan di atasnya (Yes 2:3).
Kedelapan, Tuhan yang mereka temui adalah “hakim” atas para bangsa (Yes 2:4). Dalam dunia Perjanjian Lama, “hakim” bukan sekadar pemimpin proses pengadilan, tetapi juga pemimpin masyarakat yang berwewenang mendamaikan pertikaian yang dibawakan ke hadapannya dengan wibawa dan kebijaksanaannya. Kiasan ini dikenakan kepada Tuhan yang berdiam di Bukit Sion.
Kesembilan, orang-orang yang sudah siap untuk berperang, ketika mengalami “pendamaian” dari Allah, mengubah perlengkapan yang tadinya bakal dipakai untuk saling menghancurkan (pedang dan tombak) menjadi peralatan untuk mengelola bahan yang menunjang kehidupan: bajak untuk menggarap tanah, dan pisau pemangkas untuk menuai buah! Mereka juga berhenti melakukan latihan perang (Yes 2:4). Ini semua mereka lakukan karena mereka memperoleh pengajaran dari Allah mengenai nilai kehidupan.
Kesepuluh, untuk sementara Kerajaan Surga memang belum kelihatan sepenuhnya, masih terselubung, walau jelas sudah mulai ada. Akan tiba saatnya kewibawaan ilahi menampakkan kuasa-Nya seutuhnya. Karenanya, orang diimbau agar peduli, hormat, dan berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan-Nya yang tak terduga-duga (Mat 24:42 & 44). Bagaimana hal ini dilakukan?
Kesebelas, untuk dapat melihat kehadiran Kerajaan Surga yang masih terselubung itu, kita perlu mengasah kepekaan dalam mengamati peristiwa hidup sehari-hari yang melangsungkan kehidupan manusia: makan dan minum, kawin dan mengawinkan (Mat 24:38a), bekerja di ladang (Mat 24:40a) dan memutar batu giling (Mat 24:41a).
Kedua belasa, dalam kegiatan sehari-hari yang nampak serba biasa itu, ada “sesuatu yang tidak biasa”, yakni (1) Nuh membangun Bahtera dan masuk ke dalamnya (Mat 24:38b), (2) “yang satu dibawa dan yang lain ditinggalkan” (Mat 24:40b dan 421b). Dalam “sesuatu yang tidak biasa” itulah Allah hadir dan menyapa kita untuk menawarkan keselamatan-Nya (=Kerajaan Surga).
Mengawali masa Adven ini kita diundang untuk berusaha menyadari bahwa Yang Mahakuasa itu sungguh hadir sebagai “Bapa” (Mat 24:36b); hadir dalam kerahiman dan belas kasih-Nya walau tidak selalu kelihatan jelas.
Masa
Adven juga merupakan masa untuk berupaya memahami “kemanusiaan baru” yang
diperkenalkan Yesus, serta mengupayakan agar hidup kita dan masyarakat kita
terarah ke sana.
Hal ini
dapat kita lakukan dengan jeli mengamati adanya “hal-hal yang tidak biasa”
dalam peristiwa hidup sehari-hari yang nampaknya serba biasa. [Mis.: Mengapa di
Sumatra Utara yang mestinya musim kemarau, justru terjadi hujan sangat lebat tanpa
henti selama dua hari sehingga terjadi banjir bandang yang memporakporandakan
hidup puluhan ribu orang di Sibolga, Medan, dan Aceh?]. “Hal-hal yang tidak biasa”
itu merupakan “tempat” Allah hadir
menyapa kita dan menawarkan kasih-keselamatan-Nya.
Semoga
kita dimampukan oleh Allah untuk melakukannya.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
22 November 2025
YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat
dan merasakan kembali semua rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita
selama sepekan.
Besok kita akan mengakhiri Tahun C kalender liturgi dengan merayakan Yesus Kristus Raja Semesta Allam. Injil (Luk 23:35-43) berkisah tentang Yesus yang bergantung di salib diolok-olok oleh tiga macam orang, yakni para pemimpin bangsa Yahudi (ay. 35b), para serdadu (ay. 36-37), dan bahkan oleh salah seorang penjahat yang ikut disalibkan bersama Dia (ay. 39).
Mengapa kisah penyaliban Yesus dipilih untuk merayakan
Dia sebagai Raja Semesta Alam? Raja macam apakah Dia itu? Apa maknanya bagi hidup
kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, inti dari olok-olok dan cemooh yang dilakukan oleh tiga macam orang ini adalah tantangan kepada Yesus untuk membuktikan klaim-Nya bahwa Dia itu adalah Mesias, Kristus, dan Raja, dengan cara turun dari salib dan menyalamatkan diri-Nya.
Kedua, inti olok-olok dari tiga jenis orang itu adalah mereka tidak mau percaya bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan, melepaskan manusia dari marabahaya sehingga bisa terus hidup sampai akhir perjalanan hidup mereka.
Ketiga, dengan kata lain, mereka menyangkal semua upaya penyelamatan yang dilakukan Yesus sepanjang hidup-Nya, yakni memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, mengajar tentang Allah sebagai Bapa-Nya dan Bapa kita, memberi makan kepada yang kelaparan, mengundang orang-orang yang dibuang dan disingkirkan oleh masyarakat menjadi pengikut-Nya, dan memilih murid-murid untuk meneruskan karya-Nya.
Keempat, Yesus tidak mau menanggapi tantangan (godaan) mereka itu. Ia tetap pada jalan yang telah diambilnya, seperti yang pernah Ia lakukan terhadap godaan Iblis di padang gurun setelah selesai berpuasa selama 40 hari (Luk 4:1-13).
Kelima, dari mana Yesus memperoleh kekuatan untuk bertahan? Menurut penginjil Lukas, karena Yesus sadar bahwa tujuan perjalanan hidup-Nya adalah mencarikan keselamatan bagi orang lain, bukan bagi diri-Nya sendiri. Yesus tahu bahwa begitu banyak orang yang telah mengikuti-Nya sehingga tidak fair bila ditinggalkan begitu saja. Bila Ia turun dari salib, siapa yang akan menanggung orang yang disalibkan di samping-Nya, yang sedemikian mempercayakan diri kepada-Nya itu?
Keenam, sebagai Gembala yang baik Ia tidak meninggalkan satu domba pun berada di jalan kehancuran; Ia tidak melupakan satu mata uang yang terselip pun; dan Ia tidak menolak anak yang kembali setidakpantas apapun anak itu (Luk 15:1-32). Sebagai Gembala yang baik Yesus menyerahkan hidup-Nya bagi keselamatan mereka (Yoh 10:11).
Ketujuh, harapan, kecemasan, dan penderitaan manusia, itulah yang membuat Yesus maju terus dan tidak menyerah. Jalan terus sampai akhir, itulah mahkota menjadi sesama bagi manusia. Yesus adalah Raja yang tidak membiarkan orang sendirian di tengah bahaya. Yesus adalah Raja yang mengerti kelemahan manusia, yang peduli akan keadaan manusia.
Kedelapan, ketika Yesus baru saja lahir orang-orang bijak tahu bahwa seorang raja Yahudi baru saja lahir dan mereka mau menyatakan hormat kepada-Nya (Mat 2:1-2 dan 11). Kehadiran bayi Yesus merupakan kebahagiaan bagi orang yang bijak. Namun kehadiran-Nya langsung menjadi ancaman bagi orang yang lalim, yakni Herodes (Mat 2:16). Kini di Golgota, di kayu salib, Yesus dikitari kelaliman yang sampai tiga kali menguaknya. Dan orang banyak melihat semua itu (Luk 23:35a), tetapi mereka belum siap mengambil sikap.
Kesembilan, satu-satunya tokoh yang berbicara, baik dengan pencemooh (Luk 23:40 & 41) maupun dengan Yesus (Luk 23:42), adalah penjahat yang telah sadar tadi. Orang itu sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Karena itu, ia juga bisa melihat dan mengakui siapa sebenarnya Yesus itu. Sementara para pencemooh lainnya belum dapat berdamai dengan diri mereka sendiri, maka mereka juga tidak dapat melihat siapa Yesus itu sebenarnya.
Kesepuluh, penjahat yang sudah sadar tadi meminta Yesus agar diingat ketika Yesus sudah masuk ke dalam kerajaan-Nya (Luk 23:42). Jawaban Yesus, pada hari itu juga ia akan berada bersama Dia di “dalam Firdaus” (Luk 23:43). Artinya, ia akan berada dalam situasi ketika manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Pencipta sendiri (Kej 1:26-27).
Kesebelas, di atas kepala Yesus ada tulisan “Inilah Raja Orang Yahudi” (Luk 23:39), yang oleh Pilatus disuruh dipasang di situ (Yoh 19:19). Tulisan itu menandai siapa yang disalib di situ, yakni Raja orang Yahudi; dan itulah alasannya Yesus disalibkan. Pilatus tetap berpegang pada putusannya itu (Yoh 19:22) ketika imam-imam kepala Yahudi mendesak agar rumusan tulisan itu diubah menjadi “Ia mengatakan: Akulah Raja orang Yahudi” (Yoh 19:21). Dengan ketegasannya itu Pilatus ingin mengatakan bahwa ia mempunyai wewenang untuk mensahkan hukuman mati bagi Raja orang Yahudi.
Merenungkan Injil ini, paling sedikit ada dua inspirasi yang dapat kita petik bagi kehidupan kita sebagai murid Yesus.
Pertama, penderitaan tidak hanya menyakitkan tetapi juga
dapat menebalkan integritas siapa saja yang berani menjadi sesama bagi orang
lain yang menderita (bdk. “Orang Samaria yang baik hati” dalam Luk 10:25-37).
Kedua, sejahat-jahatnya orang, kalau ia sudah bisa
berdamai dengan diri sendiri, ia akan menemukan kebenaran, yakni kasih Allah yang
menyelamatkan.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
15 November 2025
MEMILIKI IMAN YANG HIDUP
MEMILIKI IMAN YANG HIDUP
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak
beristirahat dan merasakan kembali semua berkat Allah yang telah dicurahkan
kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu ke-33 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 21:5-19) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang penegasan Yesus bahwa Bait Allah yang sangat indah dan dikagumi oleh banyak orang itu akan dihancurkan (ay. 5-6), meskipun Ia tidak mengatakan kapan hal itu akan terjadi. Sebaliknya, Ia justru meminta orang-orang tersebut agar waspada terhadap orang yang mengatakan saatnya sudah tiba dengan memakai nama Yesus (ayat 8-9). Juga diajarkan supaya mereka mencari pegangan yang kokoh, tidak cemas bila melihat terjadinya berbagai macam kekacauan (ay. 10-11), dan tidak perlu takut bila mereka dituduh bahkan dipenjarakan (ay. 12-14; 16-17) karena Ia sendiri yang akan memberi hikmat (ay. 15). Mereka yang dapat bertahan menghadapi itu semua akan selamat (ay. 18-19).
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan
bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab
untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, pesan Injil ini hanya dapat kita pahami kalau kita mengenal alam pikiran tentang akhir zaman yang hidup kala itu. Sejak lebih dari tiga abad sebelum zaman Yesus, keadaan di negeri orang Yahudi semakin kacau sebagai akibat ketegangan dalam masyarakat Yahudi sendiri. Situasi itu diperparah oleh datangnya kekuatan luar, mula-mula dari Yunani dan kemudian dari Roma.
Kedua, kehadiran “kekuatan luar” ini menimbulkan perlawanan keras dari beberapa golongan orang
Yahudi, yang mengakibatkan munculnya tekanan pada mereka yang tidak berniat
mengadakan perlawanan lewat kekerasan tetapi mencari jalan lain. Orang-orang
ini malah sering dimusuhi baik oleh sesama orang Yahudi yang mau melawan
pengaruh Yunani maupun penguasa asing yang menyama-ratakan semua orang Yahudi. Akibatnya,
permusuhan timbul di antara pihak-pihak yang tadinya hidup berdampingan dengan
damai. Masyarakat rasa-rasanya mengarah ke kehancurannya sendiri.
Ketiga, banyak di antara mereka mengungsi ke padang gurun dan tinggal di pelbagai “pertapaan”. Itulah asalmula pelbagai kelompok pertapa, seperti kaum Esseni, para rahib Qumran, dan tokoh-tokoh seperti Yohanes Pembaptis dan murid-murid mereka. Yesus dan murid-murid-Nya juga ada di dalam keadaan seperti itu tetapi mereka tetap berada di lapangan bersama orang-orang yang tetap mau bertahan, tidak mengungsi ke padang gurun.
Keempat, dalam keadaan seperti itu
berkembanglah anggapan bahwa Yang Mahakuasa telah menentukan akhir dari dunia
yang makin tak menentu itu. Kapan hal itu akan terjadi, menjadi pertanyaan
besar. Kekacauan yang dialami tadi juga mulai dipahami sebagai tanda-tanda
bakal segera datangnya akhir zaman tadi.
Kelima, bersamaan dengan itu, berkembang kepercayaan akan tibanya seorang tokoh besar yang bakal memimpin orang keluar melewati zaman edan tadi. Dia akan membangun kembali kehidupan yang morat-marit itu. Mereka yang bertahan dalam zaman susah itu akan diselamatkan dan akan memasuki hidup baru.
Keenam, ketegangan tadi berlangsung terus pada zaman Romawi. Penguasa Romawi menjalankan penumpasan keras terhadap tiap pergerakan yang mereka anggap mau melepaskan diri dari kuasa mereka. Pada tahun 63 seb. Masehi tentara Romawi, yang dipimpin Pompei, mengurung Yerusalem dan membawahkan negeri orang Yahudi pada pengaturan administrasi Romawi. Keadaan ini dirasakan orang sebagai tanda-tanda makin dekatnya akhir zaman.
Ketujuh, penghancuran kota Yerusalem bersama dengan Bait Allah pada tahun 70 oleh Titus membuat orang makin melihat bahwa akhir zaman itu sebuah kenyataan yang tak terelakkan. Bagi mereka yang memandang semua ini dengan alam pikiran mengenai datangnya akhir zaman tadi, kedua lembaga keagamaan (kota Yerusalem dan Bait Allah) tadi memang sudah lapuk dari dalam, tinggal tunggu runtuhnya. Penghancuran oleh pasukan Romawi itu memudahkan runtuhnya kedua lembaga tersebut, bukan menjadi penyebabnya.
Kedelapan, petikan Injil hari ini ditulis penginjil Lukas setelah Bait Allah betul-betul sudah diruntuhkan pada tahun 70. Murid-murid Yesus ingat bahwa Yesus dulu pernah mengatakan bahwa hal itu akan terjadi.
Kesembilan, bagi penguasa Roma, menghancurkan Bait Allah berarti menghilang-kan lambang yang menyatukan perasaan religius orang Yahudi yang menjadi ancaman bagi kuasa Romawi. Namun, bagi orang-orang seperti Yesus dan murid-murid-Nya, kehancuran Bait Allah ini tak terelakkan karena lembaga ini telah terlalu jauh menyalahi perannya sendiri.
Kesepuluh, pada zaman Yesus Bait Allah tampil bukan lagi sebagai tempat orang memperoleh kebaikan Allah, tetapi malah menghalang-halangi datangnya kebaikan Allah itu. Hal ini nampak, antara lain, dari kisah sepuluh orang kusta yang telah disembuhkan oleh Yesus (Luk 17:11-19). Mereka tidak mungkin dinyatakan sembuh oleh imam di Bait Allah. Dalam perumpamaan tentang orang yang hampir mati dirampok di perjalanan, ada imam dan seorang Lewi lewat dan melihat orang tadi tanpa memberi pertolongan (Luk 10:25-37). Mereka itu termasuk lembaga Bait Allah! Karena itu, keberadaan Bait Allah itu tidak lagi berarti. Akan hancur.
Kesebelas, namun, seperti disampaikan Injil Yohanes sehubungan dengan peristiwa pembersihan Bait Allah, Bait Allah yang hancur itu akan dibangun kembali oleh Yesus dalam tiga hari (Yoh 2:19). Bangunan yang baru itu (yakni Yesus yang sudah bangkit dari kematian-Nya) akan menjalankan peran dari Yang Terurapi (= Mesias) yang sesungguhnya; yang tidak menyekap Allah dan memagari ruang gerak-Nya, tetapi bisa menghadirkan-Nya di tengah-tengah manusia.
Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa Kemesiasan, yang dihidupi oleh Yesus, bukan soal kedudukan melainkan apa yang nyata-nyata dijalankan-Nya. Batu ujinya adalah apakah kehadiran-Nya membuat orang sungguh dapat mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya sehingga makin merasa lega dan merdeka. Semoga kita semakin berani merapat kepada-Nya.
Selain itu, Injil ini juga mengajak kita untuk
tabah dan bertahan dalam menghadapi berbagai macam kesulitan. Tabah bukan
berarti nekat atau asal berani menderita, malainkan betindak bijaksana, sebab
Yesus sendiri akan menyertai kita dan memberikan “kata-kata hikmat” kepada kita
(ay. 15).
Inilah iman yang hidup, yang akan memberikan
hidup kepada kita.
Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.
1 November 2025
HIDUP KEKAL DAN KEBANGKITAN PADA AKHIR ZAMAN
HIDUP KEKAL DAN KEBANGKITAN PADA AKHIR ZAMAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik (tidak
terkena “flue jenis baru” dan banjir). Selamat menikmati akhir pekan untuk
sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah
dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Setelah hari ini (1 November) kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus [semua orang yang sudah mulia di surga], besok (2 November) kita akan memperingati Arwah Semua Orang Beriman [semua orang yang sudah meninggal dan masih menantikan saat mereka disatukan dalam kemuliaan para Kudus]. Injil (Yoh 6:37-40) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi merupakan jawaban Yesus terhadap permintaan orang-orang Yahudi agar Ia memberi mereka roti yang memberi kehidupan kepada dunia (Yoh 6:34).
Apa maknanya bagi kita yang sedang memperingati
arwah semua orang beriman ini? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang
diberi catatan].
Pertama, Injil yang kita renungkan (Yoh 6:37-40) disampaikan sebagai kelanjutan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang (Yoh 6:1-14). Orang-orang itu sedemikian bergairah dan bermaksud menjadikan Yesus sebagai raja. Karenanya, Yesus menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh 6:15).
Kedua, pada malam harinya, dalam perjalanan di perahu ke Kapernaum, murid-murid mengalami prahara dan pada saat gawat ini mereka melihat Yesus berjalan di atas air. Mereka yang ketakutan karena prahara itu ditenangkan hatinya oleh Yesus. Selanjutnya Yesus menyertai perjalanan mereka dengan perahu sampai ke tujuan dengan selamat (Yoh 6:16-21).
Ketiga, keesokan harinya orang banyak menyusul Yesus ke Kapernaum (Yoh 6:22-24). Di situ Yesus mengajar mereka agar mengharapkan roti kehidupan yang dibawakan Anak Manusia (Yesus - Yoh 6:27). Mendengar ajaran itu, orang-orang minta agar mendapat roti yang memberi hidup kepada dunia ini (Yoh 6:34).
Keempat, jawaban Yesus terhadap permintaan mereka terdapat dalam petikan Yoh 6:37-40, yang kita renungkan ini. Intinya, mereka diajak untuk mengenal siapa Yesus itu sesungguhnya dan apa yang dibawakan-Nya.
Kelima, Yesus adalah utusan Allah yang paling dapat dipercaya dalam memperkenalkan Allah kepada semua orang dan mewartakan kehendak-Nya (ay. 37-39).
Keenam, yang dibawakan oleh Yesus adalah kehendak Allah, Bapa-Nya; yakni, agar semua orang yang mempercayai Allah, yang tampak dalam diri Yesus, nanti akan mendapat hidup kekal (ay. 40a), yakni, hidup bersama Allah. Selain itu, Allah sendiri menghendaki agar Yesus membangkitkan mereka nanti pada akhir zaman (ay. 40b).
Ketujuh, yang dimaksud dengan “yang percaya kepada-Nya” (ay. 40a) adalah menerima Yesus dan merasa mantap, tidak ragu-ragu lagi. Rasa mantap ini mestinya muncul dari pengalaman bahwa Yesus sendiri juga sudah menerima kita apa adanya. Ia tidak akan membuang orang yang datang kepada-Nya (ay. 37b).
Kedelapan, setiap orang pasti bertanya: Apakah nanti sesudah meninggal semuanya akan habis begitu saja? Apakah hidupku di dunia ini ada kelanjutannya? Bila ada, siapa yang mengurus? Bagaimana “masa depan” orang-orang yang kita cintai dan sudah meninggalkan kita, yang kita peringati ini?
Kesembilan, jawaban terhadap semua pertanyan (catatan kedelapan) tersebut terdapat pada ay. 40; yaitu Allah menghendaki dua hal: (1) supaya setiap orang yang melihat Yesus dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan (2) Yesus akan membangkitkannya pada akhir zaman.
Kesepuluh, tentang melihat Yesus, percaya kepada-Nya, dan memperoleh hidup kekal sudah dijelaskan pada catatan keenam dan ketujuh. Apa yang dimaksud dengan “Yesus akan membangkitkan orang pada akhir zaman”? Maksudnya, Allah Bapa mengutus Yesus agar mengajak orang ikut serta di dalam hidup kekal yang sudah diperoleh-Nya sendiri berkat kebangkitan-Nya. Orang-orang beriman yang kita peringati, niscaya berbagi kehidupan kekal dengan Yesus dan Allah sendiri. Itulah kehendak Allah.
Kesebelas, apakah jalan yang perlu kita tempuh agar kita sampai ke kehidupan kekal? Injil Matius tentang Penghakiman Terakhir (Mat 25:31-46, yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi untuk merayakan Perayaan Para Kudus hari ini) dapat memberi inspirasi kepada kita. Melalui kisah ini diajarkan bagaimana orang perlu tahu bahwa yang dikerjakan bagi sesama nanti dijadikan ukuran masuk surga atau masuk neraka. Ditegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri (ay. 35-36 dan 40). Tindakan ini akan mengantar mereka kepada keselamatan kekal (ay. 34b).
Kedua belas, warta petikan Matius mengenai Penghakiman Terakhir (Mat 25:31-46) sebaiknya dibaca bersama dengan warta tentang Tuhan yang mengajak orang ikut makmur dan ikut dalam kegembiraan pesta pernikahan (Mat 22:1-14; dan 25:1-13). Dengan demikian, Penghakiman Terakhir juga memiliki “wajah manusiawi.”
Memperingati orang-orang yang sudah mendahului kita, berarti merayakan kebesaran Allah yang bermaksud baik; Allah yang menghendaki agar semua orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal bersama-Nya.
Peringatan ini sekaligus mengimbau agar orang
menyadari bahwa pengalaman sehari-hari dapat membawa orang makin peka melihat
kapan, di mana, dan dalam wujud apa akhir zaman itu muncul; dan oleh karenanya,
dapat mengambil sikap yang cocok. “Sikap yang cocok” adalah melakukan kebaikan
kepada sesama—khususnya mereka yang paling dilupakan—sebagai wujud melakukan
kebaikan kepada Allah sendiri.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.