Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

26 October 2025

AGAR DOA KITA TIDAK MANDUL

AGAR DOA KITA TIDAK MANDUL

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita merayakan hari Minggu Biasa ke-30 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 18:9-14) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang datang ke Bait Allah untuk berdoa.

Apa makna perumpamaan ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, baik orang Farisi maupun pemungut cukai itu “pergi ke Bait Allah untuk berdoa” (ay. 10a). Mereka menghadap Yang Mahakuasa dan membuka diri kepada-Nya, bercerita kepada-Nya, dan menyampaikan beban batin kepada-Nya.

Kedua, dari ungkapan tadi (ay. 10a) dapat kita mengerti bahwa Allah yang Mahakusa, Allah yang diam di tempat tinggi itu, ternyata dapat didatangi, dapat didekati. Allah ada di sana (Bait Allah) dan siap mendengarkan. Yang menjadi tanggungjawab orang yang datang kepada-Nya adalah “bagaimana membuat” apa yang dibawa kepada-Nya itu sepadan dengan perhatian-Nya?

Ketiga, dari gerak-geriknya orang Farisi itu memasuki Bait Allah dengan kepercayaan diri yang tebal dan penuh perhitungan. Ia “bediri dan berdoa dalam hatinya” (ay. 11a); maksudnya, ia berhenti di jalan masuk ke Bait Allah sambil merencanakan apa yang akan dikatakannya dalam doanya nanti. “Doa” yang tertulis dalam ay. 11b-12 itu belum diucapkan, baru direncanakan (baru merupakan “sketsa’).

Keempat, meskipun baru merupakan sebuah “sketsa” namun sudah jelas arahnya. Orang Farisi itu bermaksud mengucapkan terima kasih kepada Yang Mahakuasa karena ia tidak bernasib sama dengan kaum pendosa. Ia merasa mendapat perlakuan istimewa dari-Nya sehingga tidak menjadi perampok, penjahat, pezina, dan orang yang tidak punya loyalitas, apalagi—boleh jadi sambil mengingat seorang pemungut cukai yang tadi dilihatnya—tidak seperti pemungut cukai yang mengkhianati bangsa sendiri dengan memeras bagi penguasa asing (ay. 11b).

Kelima, dalam doanya nanti ia juga bermaksud mengingatkan Tuhan bahwa ia berpuasa dua kali seminggu dan mengamalkan bagi-Nya sepersepuluh dari semua penghasilannya (ay. 12). Ia merasa telah memenuhi semua kewajibannya. Semua beres. Dan doa yang akan disampaikan nanti, begitu pikirnya, pasti akan menjadi doa yang meyakinkan Tuhan pula!

Keenam, sementara itu si pemungut cukai tadi “berdiri jauh-jauh” (ay. 13 a); artinya, ia juga berhenti di pintu bait Allah, namun berjauhan dari tempat orang Farisi tadi berdiri. Ia merasa tidak pantas berada dekat dengan orang saleh itu; apalagi mendekat kepada Tuhan sendiri. Ia “bahkan tidak berani menengadah ke langit” (memandang ke atas) [ay. 13b]. Gagasan menghadap Yang Mahakuasa membuat dirinya merasa gentar.

Ketujuh, meskipun merasa butuh menghadap Allah di Bait Allah, pemungut cukai itu tidak menemukan apa yang bisa disampaikannya nanti di sana. Ia tidak punya apa-apa kecuali perasaan sebagai pendosa. Karenanya, ia  berulang kali memukul-mukul dadanya dan minta dikasihani (ay. 13c).

Kedelapan, menurut Yesus sang Guru, pemungut cukai tadi pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah (ay. 14a). Mengapa? Karena, dalam seruannya si pemungut cukai itu menyediakan diri sebagai penerima belas kasih-Nya. Pokok doanya adalah Allah sendiri. [Kita boleh mengingat doa yang diajarkan Yesus sendiri, Doa Bapa Kami (Luk 11:2b-4; Mat 6:9b-13). Dalam doa itu yang menjadi pokok/pusat adalah Allah Bapa, bukan orang yang mengucapkan doa itu].

Kesembilan, sebaliknya, orang Farisi tadi pulang ke rumah “tidak dibenarkan oleh Allah” (ay. 14b). Kemasan doa yang disiapkannya sarat dengan “aku..., aku..., aku....” (ay. 11b-12). Dirinya sendirilah yang menjadi pokok/pusat doanya (dalam Alkitab terbitan 2023, ay. 11a tetulis: “berdoa tentang dirinya”). Tuhan semakin tidak mendapat tempat. Doanya mandul karena terlalu penuh dengan dirinya sendiri.

Kesepuluh, penginjil Lukas memberi catatan ringkas yang sangat besar artinya pada awal petikan ini. Dikatakannya bahwa Yesus menyampaikan perumpamaan ini “kepada beberapa orang yang menganggap diri benar dan merendahkan semua orang lain” (ay. 9). Kiranya di kalangan umat pengarang Injil (Lukas) waktu itu ada sekelompok orang yang yakin bahwa dengan menjalani serangkaian tindakan kesalehan, mereka boleh merasa aman dan dekat kepada Tuhan.

Kesebelas, lambat laut timbul anggapan di antara mereka bahwa orang-orang lain jauh dari perkenan Tuhan. Orang-orang itu dianggap patut dijauhi. Mereka semakin tidak diterima sebagai sesama. Pendapat ini menjadi cara mengadili orang lain, menjadi cara memojokkan orang yang tidak disukai; menjadi cara menjatuhkan hukuman sosial. Repotnya, kerap kali orang yang dicap demikian juga sudah pasrah menerimanya. Mereka merasa diri patut disingkiri.

Kedua belas, syukurlah di dalam umat itu masih ada orang-orang yang mampu dan berani memikirkan apakah praktik seperti ini boleh dibiarkan terus. Apa kehidupan itu harus seperti itu? Apa Yang Mahakuasa juga memperlakukan orang demikian? Mereka mencoba menerapkan bagaimana sikap Yesus Guru mereka dulu dalam menghadapi keadaan ini. Di situ terlihat ingatan akan Yesus dan ajaran-Nya menjadi Roh yang hidup dan mendewasakan suara hati mereka.

Ketiga belas, pada akhir perumpamaan itu Lukas masih menyertakan perkataan Yesus: “...siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri akan ditinggikan” (ay. 14). Ungkapan ini sudah pernah muncul dalam Luk 14:11. Di sana diterapkan kepada keinginan orang untuk mendapatkan kehormatan di mata orang (Luk 14:7). Dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai ini, kata-kata tadi diterapkan kepada orang yang mau meninggikan diri di hadapan Tuhan.

Keempat belas, orang yang mencari kebesaran diri di mata orang banyak dan di hadirat Tuhan akan mengalami kekecewaan. Tuhan tidak terkesan oleh omongan mengenai persembahan persepuluhan, mengenai puasa dua kali seminggu, dan mengenai semua kesalehan, apalagi oleh kecongkakan batin yang merendahkan orang lain.

Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk berani meninjau kembali gambaran tentang diri sendiri dan tentang sesama, yang mewarnai hubungan kita dengan Tuhan dan, khususnya, menentukan cara kita berdoa.

Tuhan tidak terkesan dengan omongan kita tentang semua kesalehan yang telah kita lakukan, apalagi kalau hal itu membuat kita merendahkan orang lain.

Selain itu kita juga masih perlu terus belajar berdoa dengan tepat, dan membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama, agar doa kita tidak mandul. Menyesali segala kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan, memang penting. Namun tidak kalah pentingnya adalah berusaha memperbaikinya, berusaha tidak mengulanginya lagi. Usaha ini akan berhasil bila kita membiarkan diri dituntun oleh belas kasih Allah.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

26 October 2025

BERDOA DENGAN IMAN

BERDOA DENGAN IMAN

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-29 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 18:1-8) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berisi perumpamaan tentang hakim yang tidak adil untuk menjelaskan arti perlunya “selalu” berdoa dan “tanpa jemu-jemu” (ay. 1b).

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, perumpamaan ini berbicara mengenai seorang hakim yang “tidak takut akan Allah” dan “tidak menghormati siapapun” (ay. 2), tetapi yang akhirnya bersedia memenuhi permohonan seorang janda agar perkara janda itu dibela olehnya (ay. 5b). Hal itu dilakukannya agar ia tidak lagi terganggu (ay. 5b) oleh permintaan yang terus-menerus dari pihak janda tadi (ay. 3).

Kedua, Yesus meminta para murid untuk memikirkan (ay. 6 – “Perhatikanlah...!”) hal yang dikatakan hakim yang tidak adil tadi (ay. 5). Kemudian ditegaskan bahwa bila hakim seperti itu saja akhirnya mau mendengarkan permohonan yang terus-menerus disampaikan kepadanya, apalagi Allah (ay. 7).

Ketiga, kemudian Yesus menandaskan bahwa Allah yang mahamurah itu tentu akan membela orang-orang yang mendekat kepada-Nya (dalam bahasa Kitab Suci, “orang-orang pilihan-Nya” – ay. 7a). Allah juga tidak akan membiarkan orang menunggu-nunggu, melainkan akan segera bertindak (ay. 7b-8a). Perumpamaan ini juga dimaksudkan untuk  menggambarkan kemurahan hati Allah.

Keempat, pada akhir petikan ini Yesus menambahkan: “Tetapi, ketika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (ay.  8b). Pertanyaan Yesus itu erat kaitannya dengan peristiwa kedatangan Kerajaan Allah yang dibicarakan dalam Luk 17:20-37, yang mendahului petikan ini. Ditandaskan di situ bahwa Kerajaan Allah datang “tanpa tanda-tanda lahiriah”, maksudnya tanpa tanda-tanda yang menggetarkan dan menakutkan.

Kelima, Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah manusia (Luk 17:21) dan terjadi dalam kehadiran Yesus yang membawakan warta datangnya Kerajaan Allah tersebut di tengah-tengah umat manusia.

Keenam, menerima warta ini (catatan kelima) berarti percaya dan mengimani bahwa Kerajaan Allah menjadi ruang hidup yang baru. Ruang hidup inilah yang membuat orang-orang yang berlindung kepada Allah boleh merasa aman. Mereka itu menjadi orang-orang pilihan-Nya. Allah tidak mengulur-ulur waktu bila mereka berseru minta pertolongan. Mustahil Allah mendiamkan mereka yang siang-malam berseru kepada-Nya.

Ketujuh, perumpamaan tentang hakim yang tidak adil ini sebaiknya juga didalami dengan cara yang mirip dengan yang dipakai dalam memahami kata-kata Yesus dalam Luk 17:6 yang menanggapi permintaan para murid agar iman mereka ditambah. Dengan jawaban itu, Yesus sebenarnya bermaksud mengajak para murid menyadari bahwa iman bukan semata-mata kekuatan batin yang menakjubkan melainkan kesediaan menjalankan kehendak Bapa dengan penuh pengabdian seperti dilakukan-Nya sendiri. Gagasan ini jelas dari pengajaran mengenai sikap seorang hamba dalam Luk 17:7-10. [Lihat renungan pada hari Minggu Biasa ke-27 tahun C, pada 5 Oktober 2025].

Kedelapan, begitu pula perumpamaan dalam Luk 18:1-8 sebaiknya dilihat bukan sebagai ajaran mengenai perlunya berdoa tanpa jemu-jemunya melainkan sebagai ajakan bagi para murid agar melandaskan doa mereka pada iman yang sesungguhnya, yakni kesiagaan serta pengabdian kepada kehendak Bapa.

Kesembilan, hakim yang tidak adil ini ditampilkan sebagai orang yang wataknya tidak lurus tetapi dalam keadaan tertentu dapat menjalankan hal yang pada dirinya sendiri patut dipuji; yakni, membela si janda untuk memperoleh keadilan. Perumpamaan tentang hakim yang tidak adil ini dapat menjadi batu loncatan untuk mengerti kemurahan Allah.

Kesepuluh, Yesus sang Guru itu berani memakai bahan dari kehidupan yang penuh liku-liku dan yang sering kelabu itu untuk menarik garis yang lurus dan terang. Tokoh-tokoh kompleks itu ada dalam kehidupan nyata. Kebijaksanaan seorang Guru seperti Yesus itu terletak dalam kemampuannya melihat sisi yang membawa orang dapat maju ke depan, bukan yang membuat orang menyerah dan putus harapan.

Perumpamaan yang kita renungkan ini—juga perumpamaan-perumpaan lain yang diberikan oleh Yesus—mengajak kita untuk berdoa dengan iman; artinya, belajar menarik hikmat dari kenyataan hidup sehari-hari. Sekaligus diajarkan agar kita tidak membiasakan diri berpikir dalam arah-arah yang sudah mapan belaka.

Selain itu, iman yang diharapkan ada di muka bumi ketika Anak Manusia (=Yesus) datang (ay. 8b) adalah iman yang proaktif. Artinya, iman yang dalam menghadapi permasalahan konkret, dapat membuat orang tidak menyerah kalah melainkan secara kreatif dan penuh harapan mencari jalan keluar yang mengarah kepada perbaikan nyata.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

11 October 2025

BERIMAN: MENEROBOS BATAS-BATAS YANG MENGUNGKUNG KEHIDUPAN

BERIMAN: MENEROBOS BATAS-BATAS YANG MENGUNGKUNG KEHIDUPAN

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmat akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu ke-28 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 17:11-19) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang penyembuhan sepuluh orang kusta yang dilakukan oleh Yesus dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem.

Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, sebelum kedatangan Yesus hukum adat dan agama di Israel menggariskan bahwa orang kusta yang sembuh baru akan diterima kembali ke dalam masyarakat setelah dinyatakan sembuh dalam upacara yang hanya boleh dilakukan para imam. Hukum ini masih dapat dilihat dalam Kitab Imamat (Im 14:1-32).

Kedua, dalam kitab Imamat tersebut diberikan pegangan untuk memeriksa apakah orang sungguh berpenyakit kusta atau tidak, apakah orang itu telah sembuh dari kusta atau belum. Hanya imam-lah yang berhak menyatakan bahwa seorang “najis” (kotor karena kusta) atau “tahir” (bersih, sembuh dari kusta) [Im 14:2-3].

Ketiga, tujuan utamanya adalah menjamin agar kurban dan upacara kurban hanya dilakukan dan diikuti oleh mereka yang tidak najis, yang bersih. Akibatnya, mereka yang tidak bersih, termasuk mereka yang menderita kusta, tersingkir dari kehidupan, karena ketika itu kehidupan di Israel memang berporos pada praktik dan upacara agama. Tentunya semua ini pada awalnya berkaitan dengan upaya pencegahan penularan penyakit tersebut.

Keempat, menjelang zaman Yesus, penegasan sudah tahir atau masih kotor hanya dilakukan imam di Bait Allah di Yerusalem walaupun tidak ada  larangan melakukannya di tempat lain. Akan tetapi, dalam praktiknya para imam tidak lagi menjalankannya di luar Bait Allah karena semua upacara makin dipusatkan di situ.

Kelima, tetapi untuk memasuki Bait Allah orang harus bersih. Padahal bersih tidaknya mereka itu perlu ditegaskan terlebih dahulu oleh imam-imam, yang kini melakukan upacara yang diterakan dalam Im 14 tadi hanya di dalam Bait Allah. Akibatnya, orang kusta atau yang disangka menderita kusta benar-benar terkucil dan tidak memiliki tempat mengadu lagi (ay. 12b). Dengan latar belakang seperti ini Yesus memang menjadi harapan satu-satunya bagi sepuluh penderita kusta tadi (ay. 13).

Keenam, Yesus tidak segera menyembuhkan kesepuluh orang yang kena kusta tadi, melainkan menyuruh mereka memperlihatkan diri kepada imam-imam (ay. 14a). Dengan menyuruh kesepuluh orang kusta tadi menghadap imam, Yesus menghormati hukum agama yang dikeramatkan dalam kitab Imamat bab 14 tadi.

Ketujuh, Yesus tentu saja menyadari praktik pada zaman itu, sehingga tidak mudah—bahkan mustahil—bagi orang kusta tadi untuk menghadap imam-imam di Bait Allah. Perintah Yesus kepada sepuluh penderita kusta untuk menghadap imam (ay. 14a), sekaligus merupakan imbauan kepada para imam agar mereka mau keluar dari rambu-rambu tambahan yang menyesakkan (yaitu hanya melakukan ritual Im 14 di Bait Allah) agar tujuan hukum yang sebenarnya dapat tercapai (Im 14:3).

Kedelapan, para penderita kusta itu tahu bahwa sulit atau bahkan tidak ada kemungkinan menghadap imam. Justru karena itulah mereka berseru kepada Yesus (ay. 13), tokoh yang menjadi harapan banyak orang ini! Namun Yesus juga hanya menyuruh mereka mencari jalan yang sudah tertutup (ay. 14a). Maka mereka pergi dengan perasaan hampa.

Kesembilan, justru ketika mereka menjauh dari Yesus dalam keadaan hampa tadi mereka mendapati diri mereka dibersihkan. Mereka sembuh dari penyakit kusta. Penginjil Lukas tidak menceritakan apakah mereka berusaha mendapatkan pengakuan resmi dari imam-imam bahwa mereka telah sembuh. Lukas hanya mengisahkan bahwa salah satu dari kesepuluh orang yang sembuh tadi kembali menghadap Yesus “sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya” (ay. 15-16).

Kesepuluh, Lukas menambahkan bahwa “Orang itu orang Samaria” (ay. 16b), yang oleh Yesus disebut “orang asing” (ay. 18), bukan orang Yahudi, bukan dari kaum-Nya sendiri.  Itulah satu-satunya dari kesepuluh orang yang telah sembuh, yang tidak kehilangan harapan yang sesungguhnya. Ia juga satu-satunya orang yang berhasil menembus keputusasaan dan mampu  memuliakan Allah.

Kesebelas, bagaimana dengan sembilan (orang Yahudi) penderita kusta yang lain? Mereka sembuh dan bersih, namun tidak berupaya mendapatkan pengakuan dari imam-imam bahwa betul bersih. Di mata orang, mereka masih “kotor” dan tak bisa mendapatkan pentahiran resmi. Mereka tetap pahit. Sudah terima nasib saja.

Kedua belas, bagi orang Samaria, yang tidak mungkin menemui para imam karena ia kena kusta dan bukan orang Yahudi, sehingga diharamkan mendekat ke Bait Allah, Yesus menjadi pengganti dari para imam dan Bait Allah. Baginya Yesus adalah pribadi yang menghadirkan belas kasih Allah. Karenanya, ia kembali dan mengucap terimakasih kepada-Nya dengan bersujud di hadapan-Nya sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring (ay. 15-16).

Ketiga belas, penyembuhan sepuluh orang kusta ini terjadi ketika Yesus sedang dalam perjalanan menuju ke Yerusalem (ay. 11); ke tempat Ia nanti menderita, ditolak, wafat disalibkan, dan bangkit dari kematian-Nya. Bagi orang Samaria yang disembuhkan dari penyakitnya tadi, Yesus adalah Bait Allah yang baru (Yoh 2:21), tempat Allah dapat dijumpai dan kerahiman-Nya dapat dialami.

Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk berani menjumpai Yesus, agar kita dimampukan untuk menerobos batas-batas yang mengungkung kehidupan—batas-batas yang sering dibuat oleh kepicikan praktik-praktik agama—agar kita dapat mengalami belaskasihan Tuhan kepada manusia yang menderita dan mewartakannya kepada banyak orang melalui cara hidup dan tanggungjawab yang kita emban. Inilah cara beriman yang menyelamatkan (ay. 19).

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.



Lihat selengkapnya

9 October 2025

BELAJAR BERIMAN AGAR DAPAT MENJADI PELAYAN IMAN

BELAJAR BERIMAN AGAR DAPAT MENJADI PELAYAN IMAN

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat minikmati akhir pekan untuk beristirahat sejenak dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-27 tahun C dalam kalender ligurgi. Injil (Luk 17:5-10) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (ay. 5-6) menyebutkan permintaan para murid agar iman mereka ditambah serta reaksi Yesus terhadap permintaan tersebut. Bagian kedua (ay. 7-10) berisi ajaran Yesus agar murid-murid bersikap sebagai hamba yang tidak mengenal istirahat dalam melaksanakan tanggungjawab mereka dan tidak memikirkan jasa sendiri.

Apa hubungan antarkeduanya dan apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, untuk mengerti hubungan di antara kedua bagian tadi serta maksud seluruh petikan yang kita renungkan, perlulah kita melihat konteksnya, yaitu beberapa nasihat dalam Luk 17:1-4 yang mendahului petikan ini.

Kedua, dalam ayat 1a ditampilkan perkataan Yesus bahwa mustahil tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa. Namun, Yesus bersikap tegas dan sangat keras terhadap orang yang menyebabkan sesama, terutama yang lemah, jatuh ke dalam dosa (ay. 1b-2).

Ketiga, selanjutnya dalam ayat 3-4 Yesus memberikan nasihat agar para murid menegur orang yang bersalah dan berbuat dosa. Bila orang itu menyesal, sekalipun ia melakukannya berkali-kali, hendaknya ia dimaafkan sepenuhnya.

Keempat, untuk dapat menerima semua ajaran ini dan melaksanakannya, para murid merasa butuh memiliki pegangan yang kuat, paling tidak untuk menaklukkan diri. Untuk itu mereka meminta tambahan iman seperti terungkap dalam ayat 5 yang menjadi awal petikan yang kita renungkan ini.

Kelima, jawaban Yesus dalam ayat 6 terasa tidak langsung menanggapi permintaan itu. Ia malah memberi perbandingan. Dikatakannya, jika iman mereka besarnya hanya seperti biji sesawi saja—jadi amat kecil—niscaya mereka sudah akan mampu mengerjakan hal-hal yang luar biasa seperti menyuruh pohon ara tercabut dan pindah ke dasar lautan.

Keenam, pembicaraan antara para murid dengan Yesus sebaiknya dimengerti dalam rangka pembicaraan antara guru dan murid pada zaman itu. Dalam menanggapi masalah yang diajukan murid, seorang guru akan memberi pencerahan tentang masalahnya terlebih dahulu sebelum memberi jawaban.

Ketujuh, dengan jawaban yang diberikan-Nya (ay. 6) Yesus mengajak murid-murid makin menyadari bahwa iman terutama bukan kesaktian yang bisa dipakai menjalankan hal-hal yang spektakuler. Iman juga jangan dilihat semata-mata sebagai kekuatan batin untuk menundukkan diri sendiri, sehingga mudah mengampuni orang lain dan tidak membuat orang lain berbuat dosa. Lalu apa yang dimaksudkan dengan iman oleh Yesus?

Kedelapan, beriman bagi Yesus hanya dapat kita mengerti bila kita melihat seluruh perjalanan hidup-Nya, dari awal sampai akhir. Seperti dituturkan dalam Injil Lukas, Yesus sendiri menemukan iman-Nya dengan tetap berada pada perjalanan hidup-Nya hingga sampai ke tujuan perjalanan itu.

Kesembilan, ada dua peristiwa kunci untuk memahami makna perjalanan hidup-Nya. Pertama, penampakan di gunung (Luk 9:28-36). Di situ Musa dan Elia berbicara dengan Yesus mengenai “tujuan perjalanan”-Nya (Yunani: “exodos”; Luk 9:31) yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Kedua, ketika Ia bergulat dengan diri-Nya sendiri di Getsemani (Luk 22:39-46) Ia meminta agar Ia tak usah terus hingga ke akhir perjalanan dan melewati penderitaan ditolak orang-orang yang didatangi-Nya, dihukum, dan mati disalib (ay. 42a). Namun terlebih dahulu Ia mengatakan, asalkan semua itu merupakan kehendak Bapa-Nya, bukan kehendak-Nya sendiri (ay. 42b).

Kesepuluh, kedua peristiwa itu membantu kita memahami makna iman dalam kehidupan Yesus. Bagi Yesus beriman berarti menuruti kehendak Bapa-Nya sampai akhir, dan menaruh kehendak Bapa di atas segala sesuatu. Dengan cara itu Ia memperoleh kekuatan untuk berjalan terus sampai akhir. Pada saat Ia menghembuskan nafas terakhir, Ia berseru menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya (Luk 23:46). Inilah kenyataan orang beriman yang sejati.

Kesebelas, dalam bagian kedua petikan Injil ini (Luk 17:7-10) Yesus memberi petunjuk kepada murid-murid-Nya agar hidup sebagai hamba yang selalu siap menjalankan tugas yang diberikan tuannya (ay. 7-9). Ia tidak perlu mengharapkan ucapan terima kasih; sebaliknya ia harus merasa dirinya tak pantas. Semua yang dilakukannya hanya demi tugas yang diberikan kepadanya (ay.10).

Kedua belas, nasihat ini (catatan kesebelas) telah Yesus lakukan sendiri dengan menjalani hidup yang sepenuhnya meng-iya-kan yang dikehendaki Bapa-Nya. Ia seperti seorang hamba yang siap menjalankan perintah tuan-Nya, dan tidak mengharapkan ucapan terima kasih karena telah menjalankan tugas-Nya.

Ketiga belas, dengan jawaban yang diberikan kepada pada murid (ay. 6 – catatan ketujuh) dan nasihat di atas (catatan kesebelas), Yesus mengajak para murid-Nya berpikir mengenai apa itu pelayanan iman dan pelayanan pastoral. Yesus mengajak para murid-Nya untuk menyadari bahwa yang penting bukanlah berusaha memperoleh sukses dengan kekuatan yang ada pada diri mereka, melainkan menjadi pelayan yang membaktikan diri sepenuhnya kepada tugas mereka. Ajakan Yesus ini merupakan ajakan untuk tetap hidup dalam dunia nyata dan bukan dunia idam-idaman yang spektakuler.

Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk memahami bahwa pelayanan iman dan pelayanan pastoral adalah pelayanan yang memperhatikan kenyataan-kenyataan yang dialami umat dan warga masyarakat setempat. Menjalankan tugas pelayanan juga berarti menemukan secara kreatif jalan-jalan baru yang makin dapat membuat pelayanan makin hidup dan makin peka menanggapi tanda-tanda yang datang dari Allah. Kepekaan inilah kekuatan iman yang sebenarnya. Kekuatan iman seperti ini jugalah yang membuat orang tetap berada pada jalan yang sama dengan jalan yang telah ditempuh oleh Yesus, yang berujung pada kematian dan kebangkitan-Nya.

 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

28 September 2025

MENGASAH KEPEKAAN HATI TERHADAP SESAMA YANG MENDERITA

MENGASAH KEPEKAAN HATI TERHADAP SESAMA YANG MENDERITA

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang sudah dicurahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-26 dalam kalender liturgi. Injil (Luk 16:19-31) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berisi tentang perumpamaan mengenai orang kaya dan Lazarus.

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, perumpamaan ini perlu dipahami dalam konteks kehidupan Gereja Awal. Para anggota Gereja Awal adalah para pengikut Yesus generasi kedua. Kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan menengah; seperti para pengusaha, pedagang, sarjana, tabib, guru, seniman yang bekerja pada keluarga-keluarga bangsawan atau penguasa militer di kota-kota di wilayah kekuasaan Romawi. Perkembangan umat memang pertama-tama meluas ke lapis atas dalam masyarakat.

Kedua, di kalangan mereka itu tumbuh kesadaran bahwa warta mengenai Kerajaan Allah tidak hanya menjawab keinginan untuk selamat kelak di akhirat, tetapi juga menjadi dorongan untuk memperhatikan orang-orang yang tidak seberuntung mereka, yakni kaum miskin yang hidup di luar kalangan mereka. Karena itu, komunitas Kristiani awal juga mulai meluas ke lapis bawah.

Ketiga, keadaan tersebut (catatan pertama dan kedua) tercermin dalam gambar ideal mengenai Jemaat Pertama dalam Kis 2:44-45 dan 4:34-35. Disebutkan bahwa ada anggota jemaat yang menjual kepunyaan mereka lalu mengumpulkan uangnya dan menyerahkan kepada para rasul untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin menurut kebutuhan mereka. Hal ini mereka lakukan untuk memungkinkan para anggota yang kurang beruntung untuk ikut menikmati keberuntungan.

Keempat, kehidupan komunitas Kristiani awal semakin didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak lagi mengikuti batas-batas kelompok sosial (termasuk batas-batas keluarga), bahkan mengatasi perasaan permusuhan turun-temurun.

Kelima, dalam perumpamaan dari Injil yang kita renungkan kali ini, orang kaya ditampilkan sebagai orang yang hidup tanpa kekurangan suatu apapun (ay. 19). Di mata orang banyak ia dilimpahi berkat Allah. Lazarus adalah kebalikannya (ay. 20-21). Ia duduk meminta-minta di gerbang rumah orang kaya itu. Lazarus seolah-olah sudah kehilangan martabat sebagai manusia. Ia akan merasa beruntung bila mendapat sisa-sisa makanan. Ia tidak termasuk kelompok orang yang beruntung menikmati kebahagiaan seperti orang kaya dan rekan-rekannya.

Keenam, diceritakan dalam perumpamaan itu, baik Lazarus maupun orang kaya itu kemudian meninggal dunia, dan keadaan mereka berbeda. Lazarus terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan bersama dengan nenek moyangnya. Orang kaya itu sebaliknya mendapati diri tersiksa di dunia orang mati (ay. 22-23).

Ketujuh, dalam penderitaannya orang kaya itu berseru meminta Abraham agar menyuruh Lazarus memberinya setetes air saja yang dari ujung jarinya untuk mengurangi dahaganya (ay. 24). Semasa hidupnya si kaya itu tidak punya perhatian samasekali kepada Lazarus. Kini ia meminta Abraham agar menyuruh Lazarus menolong dia. Baginya, Lazarus hanya pantas menjadi pesuruh.

Kedelapan, ketika masih hidup dan berkedudukan tinggi, orang kaya itu tidak butuh apa-apa. Ia tidak peduli ada orang yang kelaparan dan sakit di dekat pintu gerbang rumahnya. Sebetulnya ia dapat berbuat baik kepada Lazarus. Sedikit kebaikan saja takkan mengurangi miliknya. Malah ia akan beruntung karena kebaikannya akan mendapat ganjaran nanti. Boleh jadi, ia juga tidak percaya bahwa ada kelanjutan hidup di akhirat.

Kesembilan, ia juga masih berani sekali lagi meminta kepada Abraham agar menyuruh Lazarus untuk memperingatkan kelima saudaranya supaya mereka tidak bernasib sama dengannya (ay. 27-28). Permintaannya ini bukan menunjukkan bahwa ia masih memiliki rasa kemanusiaan, paling tidak bagi saudara-saudaranya, melainkan hanya mau memperbudak Lazarus lewat Abraham. Kelima saudaranya hanya dipakai sebagai alasan agar Lazarus masih menjalankan apa yang diinginkannya.

Kesepuluh, Abraham mengatakan bahwa kelima saudara itu mestinya dapat menemukan bimbingan dari Musa dan para nabi, maksudnya dari wahyu ilahi dalam Kitab Suci (ay. 29). Tetapi orang kaya tadi bersikeras. Saudara-saudaranya, katanya, takkan diyakinkan dengan cara ini. Mereka baru akan percaya bila didatangi dan diperingatkan oleh orang yang kembali dari dunia orang mati (ay. 30). Jelas ia mau memaksakan agendanya sendiri kepada Abraham dan kepada Lazarus. Ia tidak percaya pada Kitab Suci dan wahyu ilahi.

Kesebelas, lebih buruk lagi, ia beranggapan bahwa saudara-saudaranya juga tidak percaya seperti dia. Ia tidak memberi peluang bagi perubahan yang bisa terjadi pada orang-orang seperti dia. Sampai mati pun si orang kaya itu tidak peka akan keadaannya sendiri.

Kedua belas, apa yang tidak beres dalam kehidupan orang kaya tadi? Ia tidak mampu lagi berkomunikasi dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Ia tidak membiarkan dirinya sendiri atau orang lain seperti dia belajar mendengarkan Tuhan. Ketumpulan batin orang kaya tadi telah mengikis nurani kemanusiaannya sendiri. Ia tidak bisa merasakan belas kasihan terhadap Lazarus yang tiap hari duduk kelaparan di dekat pintu gerbang rumahnya. Ketumpulan batin itu akhirnya mengurungnya di neraka.

Merenungkan perumpamaan ini mengundang kita untuk mengingat kembali hal yang pernah dikatakan oleh mendiang Paus Fransiskus hanya 8 bulan setelah beliau diangkat menjadi Paus. Dalam Seruan Apostolik Evangellii Gaudium (EG), beliau menulis: “Setiap orang Kristiani dan setiap komunitas [keluarga] dipanggil sebagai sarana Allah untuk membebaskan dan memajukan kaum miskin, dan untuk memampukan mereka menjadi bagian masyarakat sepenuhnya. Hal ini menuntut agar kita siap dan penuh perhatian mendengarkan jeritan kaum miskin dan membantu mereka” (EG 187).

Semoga undangan Injil dan seruan mendiang Paus Fransiskus bergema dalam hati kita dan menggerakkan kita untuk mencari cara yang paling cocok sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

20 September 2025

BELAJAR BERSAHABAT DENGAN MAMON

BELAJAR BERSAHABAT DENGAN MAMON

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat sekaligus mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-25 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 16:1-13) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari empat bagian: (1) perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (ay. 1-8a); (2) amatan bahwa kepintaran anak-anak dunia ini melebihi anak-anak terang (ay. 8b-9); (3) pepatah mengenai barangsiapa setia dalam perkara kecil bisa dipercaya pula dalam perkara besar (ay. 10-12); dan (4) penegasan bahwa tidak mungkin mengabdi dua tuan (ay. 13).

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, “tidak dapat mengabdi kepada dua tuan” (ay. 13) merupakan sebuah peringatan agar para murid Yesus tidak berhati mendua, sebab tidak mungkin menyembah Allah dan pada saat yang sama mengabdi Mamon (= uang, harta, kedudukan, semua yang serba duniawi). Maksudnya memang sangat jelas, namun dalam kenyataannya tidaklah semudah seperti yang diidealkan. Bagaimana peringatan ini dapat dilaksanakan?

Kedua, perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (ay. 1-8a) kiranya dapat menjawab pertanyaan di atas. Bendahara tersebut tidak melakukan transaksi dengan para pelanggan, melainkan dengan pedagang lain. Yang sebetulnya hanya 50 tempayan dicatatnya sebagai 100 tempayan, dan yang 80 pikul didaftarnya sebagai 100 pikul (ay, 6-7). Ia tentu berpikir akan dapat mengantongi keuntungan pembayaran nanti.

Ketiga, malang baginya. Perbuatannya yang tak terpuji itu terendus dan rupa-rupanya ada keluhan yang sampai ke telinga pemilik perusahaan. Karena itu, pemilik meminta pertanggungjawaban. Ia tidak langsung dipecat, melainkan diminta untuk memberi pertanggungjawaban (ay. 1b-2).

Keempat, permintaan untuk melakukan pertanggungjawaban itu merupakan titik balik dalam perumpamaan tadi. Bendahara tadi mencari upaya bagaimana melepaskan diri dari krisis ini. Caranya lihai. Ia membersihkan pembukuan palsu, yang tadinya diperhitungkan akan menguntungkan dirinya. Inilah sebetulnya yang terjadi dalam pemotongan utang yang diceritakan dalam ayat 6 dan 7.

Kelima, transaksi yang diceritakan dalam ayat 6-7, yakni mengurangi jumlah hutang itu, perlu dimengerti sebagai usaha si bendahara membenahi tindakan korupsi yang dilakukannya sebelumnya. Tindakan tersebut merupakan kemauan serta kecekatan bendahara tersebut untuk berubah dalam situasi krisis. Karena itulah ia dipuji (ay. 8).

Keenam, “tuan itu” (Yunani: ho kyrios – ay. 8a), bisa merujuk pada tuannya sang bendahara, yakni pemilik perusahaan, tetapi juga bisa merujuk pada Tuhan Yesus. Bila yang dimaksud adalah tuannya sang bendahara, maka ayat 8 termasuk perumpamaan sendiri. Bila yang dimaksud adalah Yesus, maka ayat 8b, yakni “Sebab anak-anak dunia ini...” dapat membantu untuk memahami mengapa ayat 9 memuat nasihat Yesus agar orang tahu mengikat persahabatan juga dengan Mamon (= uang) yang diperoleh dengan tidak jujur.

Ketujuh, apa maksud nasihat Yesus agar orang “membuat persahabatan dengan Mamon yang tidak jujur” agar dapat “diterima dalam kemah abadi”? Maksudnya, harta kekayaan (hasil korupsi maupun keuntungan karena pengelolaan buruk yang disengaja – ay. 1) untuk sementara memang dapat menjadi sandaran hidup (= “mengikat persahabatan”). Namun, suatu ketika pasti akan terbongkar (tuduhan pada ayat 2). Oleh karena itu, orang perlu berusaha memegang yang bisa memberi rasa aman sejati (= “diterima dalam kemah abadi”)!

Kedelapan, bagaimana caranya agar orang dapat memperoleh rasa aman yang sejati (= “diterima dalam kemah abadi”)? Para pembaca Injil saat itu langsung akan teringat pada Mazmur 15, yang memberi rincian lebih jauh mengenai siapa yang akan diterima tinggal bersama Tuhan di kemah-Nya; yakni, orang yang kelakuannya tidak bercela, yang bertindak adil, yang hidup sesuai dengan kebenaran, tidak memfitnah, tidak berbuat jahat, tidak mendatangkan aib bagi sesama, tidak mengecilkan kaum terpojok, menghormati orang yang bertakwa, yang memiliki integritas, yang tidak memeras, dan tidak mau disuap untuk melawan orang yang tidak bersalah.

Injil yang kita renungkan ini mengajarkan sikap mau dan berani berubah demi mencari jalan yang bakal menyelamatkan. Kita juga diajak untuk memiliki kejelian dalam melihat mana yang sungguh menjamin bagi terjadinya keselamatan tersebut. Dengan menggemakan inti ajaran Mazmur 15, Injil menghubungkan urusan duniawi dengan tanggung jawab dan kesadaran moral yang bakal menuntun orang ke kebahagiaan kekal bersama Allah. Semoga Roh Allah membantu kita untuk dapat memahaminya serta memampukan kita untuk melaksanakannya.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya