Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

3 February 2026

MENGHIDUPI SABDA BAHAGIA

MENGHIDUPI SABDA BAHAGIA

 

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-4 tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 5:12a) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang Sabda Bahagia.

Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, Sabda Bahagia (Mat 5:1-12a), berperan sebagai pengantar pelbagai pengajaran Yesus yang tercantum dalam Mat 5-7.

Kedua, dalam Injil Matius terdapat lima kumpulan pengajaran; yakni (1) Mat 5-7 (Khotbah di Bukit); (2) Mat 10 (pedoman hidup bagi pewarta Kerajaan Surga); (3) Mat 13 (penjelasan mengenai Kerajaan Surga); (4) Mat 18 (pengajaran bagi para murid dalam hidup bersama); dan (5) Mat 23-25 (uraian di Bukit Zaitun tentang kedatangan Kerajaan Surga pada akhir zaman).

Ketiga, di antara kumpulan yang satu dengan yang berikutnya ditemukan kisah-kisah mengenai tindakan serta mukjizat Yesus dan pelbagai peristiwa dalam kehidupan para murid.

Keempat, kumpulan pengajaran yang pertama (Mat 5-7), sebaiknya dilihat dalam hubungannya dengan warta pokok, yakni Kerajaan Surga (Mat 13) dan kenyataannya yang penuh nanti pada akhir zaman (Mat 23-25). Dengan demikian, para murid, kita semua, akan siap menghayati pedoman hidup secara orang-perorangan (Mat 10) maupun dalam kebersamaan (Mat 18).

Kelima, dalam Mat 4:23-25 dikisahkan bahwa: (1) Yesus berkeliling di seluruh Galilea untuk mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit dan kelemahan (ay. 23); (2) berita itu tersebar ke seluruh Siria, sehingga dibawalah semua orang yang buruk keadaannya (menderita berbagai macam penyakit, sengsara, kerasukan setan, sakit ayan dan lumpuh) kepada Yesus dan disembuhkan oleh-Nya (ay. 24). Akibatnya, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia (ay. 25). Mereka inilah yang dimaksudkan dengan “orang banyak” dalam Mat 5:1a.

Keenam, dalam Injil yang kita renungkan (Mat 5:1-12a) terdapat delapan Sabda Bahagia yang ditujukan kepada semua orang (ay. 3-10), serta satu Sabda Bahagia yang khusus diucapkan bagi para murid (ay. 11) dan dilanjutkan dengan seruan agar mereka (=para murid) tetap bersuka cita dalam menanggung segala macam kesulitan (ay. 12a).

Ketujuh, tiga Sabda Bahagia (ay. 3-5) menegaskan bahwa orang dapat disebut berbahagia karena tumpuan harapan dalam hidupnya adalah Tuhan sendiri. Mereka itu adalah (1) orang yang “miskin di hadapan Allah” (ay. 3); maksudnya, memiliki kebersahajaan batin; (2) orang yang “berdukacita” (ay. 4); maksudnya, orang yang hanya akan dapat terhibur oleh kesadaran bahwa Tuhan tetap berada di dekatnya kendati orang mengalami kesulitan; dan (3) orang yang “lemah lembut” (ay. 5); maksudnya, tidak berpihak pada kekerasan.

Kedelapan, dua Sabda Bahagia (ay. 6 dan 8) menyebutkan bahwa keinginan untuk menjalankan kehendak Tuhan sebagai hal yang membahagiakan. Hal itu berupa menginginkan dan menjalankan hal-hal yang lurus (“haus dan lapar akan kebenaran” – ay. 6), serta mampu berpikir secara jernih sehingga tidak mudah dipengaruhi keinginan-keinginan yang menjauhkannya dari Tuhan (“suci hatinya” – ay. 8).

Kesembilan, dua Sabda Bahagia yang lain (ay. 7 dan 9) menegaskan bahwa upaya menghadirkan (kebaikan) Tuhan kepada sesama merupakan kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan. Hal itu diwujudkan dengan “berbelaskasihan” (ay. 7) dan “membawa damai” (ay. 9).

Kesepuluh, perlu disadari bahwa orang yang menghidupi semangat di atas (catatan ketujuh s/d kesembilan) akan mengalami banyak kesulitan; misalnya, dikucilkan, dibenci, dan bahkan disingkirkan (“dianiaya karena kebenaran” – ay. 10).

Kesebelas, secara khusus kepada murid-murid-Nya Yesus menambahkan Sabda Bahagia yang ke sembilan; yakni, dimusuhi oleh banyak orang karena menjadi murid-Nya (ay. 11). Sekaligus Yesus menguatkan pengharapan mereka (“bersuka cita dan bergembiralah karena upahmu besar di surga” – ay. 12a).

Kedua belas, Sabda Bahagia ini diucapkan oleh Yesus di “atas bukit” (ay. 1b). Injil Matius ditulis bagi orang-orang yang mengenal akrab alam pikiran Perjanjian Lama; yakni diturunkannya Taurat kepada Musa di gunung Sinai. Bagi umat Perjanjian Lama, Taurat berisi ajaran kehidupan dalam bentuk pedoman, petunjuk, tatacara ibadat, dan hukum, yang bila dijalani dengan jujur dan ikhlas akan membuat mereka menjadi dekat pada Tuhan dan menjadi umat yang dilindungi-Nya.

Ketiga belas, dengan latar inilah (catatan kedua belas) Matius mengisyaratkan kepada pembacanya bahwa Yesus kini menjalankan peran Musa. Yesus membawakan petunjuk, ajaran, dan kebijaksanaan, yang bila dihayati akan membuat orang menjadi bagian dari umat baru pewaris Kerajaan Surga.

Keempat belas, memang ada beberapa perbedaan mencolok di antara penampilan Musa dan Yesus. Dulu di gunung Sinai, Musa sedemikian jauh. Awan meliputi pucuk gunung tempat Musa memperoleh Firman ilahi. Tidak ada yang berani mendekat karena kebesaran ilahi sedemikian menggentarkan. Sekarang di “atas bukit” (ay. 1b), Yesus tampil sebagai tokoh yang dekat dengan orang banyak; mudah didekati oleh banyak orang. Matius memang sengaja menampilkan Yesus sebagai kenyataan dari “Tuhan menyertai kita” – Imanuel (Mat 1:23).

Kelima belas, Sabda Bahagia (Mat 5:1-12a) sebaiknya juga dibaca dengan menghubungkannya dengan pengajaran Yesus mengenai Penghakiman Terakhir dalam Mat 25:31-46. Kedua bahan ini membingkai seluruh pengajaran Yesus. Kedua-duanya diberikan di atas sebuah bukit. Kedua-duanya membicarakan siapa-siapa yang bakal memiliki Kerajaan Surga, siapa-siapa yang dapat memasuki kebahagiaan kekal.

Keenam belas, dalam Mat 25:35-36 ditegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama (khususnya yang hidupnya jauh dari sejahtera) berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri. Yesus memanusiakan gambaran Penghakiman Terakhir. Diajarkan bagaimana orang bisa mengerti bahwa yang dikerjakan bagi sesama nanti dijadikan batu uji masuk surga.

Ketujuh belas, Sabda Bahagia (Mat 5:1-12a) menggambarkan keadaan batin dan sikap hidup mereka yang nanti pada akhir zaman akan dapat mengatakan bahwa telah berbuat banyak bagi sesama. Dan Tuhan akan mengatakan kepada mereka bahwa itu semua dikerjakan bagi-Nya. Mereka yang berbuat demikian akan betul-betul dapat disebut “Berbahagia”!

Sabda Bahagia yang kita renungkan ini menggambarkan apa yang nyata-nyata dialami dan terjadi di antara orang-orang yang hidup mengikuti Yesus. Sabda Bahagia menunjukkan apa yang terjadi bila orang menghidupi yang digambarkan di situ. Pendengar diajak memikirkan lebih lanjut dan mengambil sikap-sikap baru.  

Tiap pengalaman yang dilukiskan dalam Sabda Bahagia dapat dihayati oleh semua orang (tidak peduli apa agama mereka) yang memberi ruang bagi Allah dalam hidupnya. Hidup yang terarah kepada Allah, dengan menghayati Sabda Bahagia, itu membawa kebahagiaan. Semoga kita dimampukan oleh Roh Allah untuk melakukannya.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.




Lihat selengkapnya

24 January 2026

DIPANGGIL UNTUK MENJADI “PENJALA MANUSIA”

DIPANGGIL UNTUK MENJADI “PENJALA MANUSIA”

 

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ketiga tahun A dalam kalender liturgi, sekaligus sebagai Hari Minggu Sabda Allah. Bacaan Injil (Mat 4:12-23) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara mengenai hal-hal yang dilakukan oleh Yesus Yesus sebelum mulai melayani orang-orang sezaman-Nya: (1) pindah ke Kapernaum di tepi danau (ay. 12-14); (2) mulai mewartakan kedatangan Kerajaan Surga (ay. 15); dan (3) memilih murid-murid pertama, yakni Simon Petrus dan saudaranya, Andreas, dan kemudian juga Yakobus dan Yohanes, kedua anak Zebedeus (ay. 18-22). 

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, kala itu Yesus sudah mulai dikenal di Yudea, terutama di dekat Yerusalem. Orang-orang di Yerusalem haus akan kerohanian baru dan mendambakan ketenteraman batin. Kita ingat banyak orang pergi ke padang gurun menemui Yohanes Pembaptis dan minta dibaptis olehnya. Arus kebangunan rohani ini membuat Herodes waswas. Bisa-bisa penguasa Roma menganggap ada gerakan religius yang mau mengadakan pemberontakan. Maka Herodes pun memenjarakan Yohanes Pembaptis,  yang juga pernah mengkritik kelakuan moral Herodes secara terang-terangan (Lihat Mat 11:2-11 yang pernah diulas bagi Minggu Adven III A).

Kedua, melihat keadaan politik kurang menguntungkan itu, Yesus “menyingkir” ke wilayah Galilea di utara (ay. 12). Tinggal beberapa waktu di kota tempat ia dibesarkan, Nazaret, tetapi kemudian Ia pindah ke Kapernaum di tepi danau (ay. 12-14). Bila Ia tetap tinggal di Yerusalem, Ia akan mengalami kesulitann yang sama dengan yang dialami oleh Yohanes Pembaptis.

Ketiga, dalam Injil Matius, kata “menyingkir” memiliki arti menjauhi bahaya dengan bijaksana, seperti diceritakan tentang Yusuf (Mat 2:14 dan 22). Juga nanti Yesus disebut menyingkiri tempat-tempat yang menolak-Nya (Mat 12:15; 14:13; 15:21). Kadang-kadang memang lebih baik menghadapi kekuatan yang memusuhi dengan perhitungan bijaksana dan akal sehat daripada dengan keberanian belaka.

Keempat, wilayah utara (Galilea) sejak zaman dulu berbeda dengan Yudea di selatan, baik alamnya maupun budayanya. Tanah utara lebih subur. Perekonomian lebih maju. Orang-orangnya lebih berani berpikir merdeka. Sering mereka dicurigai sebagai kurang taat beragama oleh kaum elit di Yerusalem, yakni para ahli Taurat, imam-imam, dan kaum Farisi.

Kelima, di wilayah utara juga ada cukup banyak orang yang asalnya dari Yudea. Mereka pindah - bertransmigrasi - ke utara untuk menemukan nafkah yang lebih baik dan mencari peluang lebih luas. Keluarga Yesus kiranya juga dari Yudea. Karena itulah Yusuf dan Maria datang ke Betlehem di Yudea dari Nazaret di Galilea, untuk menepati sensus di tempat asal mereka seperti diceritakan penginjil Lukas (Luk 2:1-5).

Keenam, orang di utara sudah biasa berhubungan dengan budaya lain. Di wilayah yang memiliki tradisi berpikir lebih luas itulah Yesus mulai mewartakan hal baru. Ia didengarkan. Ia tidak dianggap sepi. Mereka membicarakan yang diajarkan-Nya (lih. (Mrk 1:21-22 dan Luk 4:31-32). Tentu tidak semua orang selalu setuju dengan-Nya; bahkan di Nazaret Ia pernah ditolak (Mrk 6:1-6a; Mat 13:53-58; Luk 4:16-30).

Ketujuh, di wilayah utara beberapa puluh tahun sebelum kedatangan Yesus sudah berkembang satu sektor perekonomian dan bisnis baru, yakni pengelolaan ikan dari danau Genesaret (juga disebut danau Tiberias). Pasar-pasar ikan bertumbuhan di tepian danau sampai menjadi wilayah hunian dan kota yang ramai. Kapernaum adalah salah satu dari kota-kota itu. Begitu juga Magdala, Betsaida, dan wilayah Genesaret di tepian danau Tiberias. Nanti Yesus mondar-mandir di antara kota-kota itu ikut perahu nelayan.

Kedelapan, dalam ukuran zaman itu, para nelayan adalah orang-orang yang maju dalam bisnis. Salah satu usahawan seperti itu adalah Zebedeus, ayah Yakobus dan Yohanes. Juga Simon Petrus dan Andreas adalah pebisnis ikan yang mapan. Semua –dari menjala, menyortir, sampai membawa ikan  ke pasar– dijalankan dengan bantuan sanak saudara dan kenalan. Orang-orang itu mahir berusaha.

Kesembilan, mereka inilah yang dijumpai Yesus dan diundang untuk mengikuti-Nya (ay. 18-19 dan 21). Yesus melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam diri mereka. Ia tidak menunggu mereka datang kepada-Nya. Ia mendatangi para nelayan itu, menyertai mereka. Begitulah Ia makin didengarkan. Mereka ini kemudian juga menjadi pengikut-Nya (ay. 20 dan 22).

Kesepuluh, mengapa Yesus meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali (ay. 13)? Hal itu dilakukan-Nya agar terpenuhi firman yang disampaikan melalui nabi Yesaya (Yes 8:23-9:1); yakni bangsa-bangsa yang diam di wilayah kegelapan kini telah melihat “Terang yang besar”. Negeri-negeri dan orang-orang yang dulu biasanya dianggap tidak masuk hitungan kini telah memperoleh Terang (Mat 4:15-16). Dan “Terang” itu adalah kedatangan Yesus di antara mereka.

Kesebelas, bagi orang Yahudi, yang menjadi pendengar utama Injil Matius, “terang” yang terbit dan dapat dialami itu mengingatkan pada perkara-perkara yang lebih dalam. Pertama-tama, tentu saja penciptaan terang yang membatasi ruang gerak kegelapan (Kej 1:3-5).

Kedua belas, ada pula gagasan lain yang amat kaya berkaitan dengan “terang”; yaitu yang tersirat dalam rumus berkat imam Harun seperti didapati dalam Bil 6:24-26. Dimohonkan agar kehidupan ini menjadi teberkati dan dijagai Tuhan (Bil 6:24), agar orang mengalami sinar wajah Tuhan dan merasa disayang oleh-Nya (Bil 6:25), dan merasa dipandangi serta mendapat kedamaian dan kesejahteraan dari-Nya (Bil 6:26).

Ketiga belas, wajah Tuhan yang bersinar itu membuat pengalaman kegelapan tersapu. Tuhan tidak pernah berwajah gelap. Ia memang dapat memalingkan wajah-Nya dari manusia. Bila hal itu terjadi, maka manusia akan menjadi mangsa kekuatan-kekuatan gelap, bahkan  akan dirundung maut. Dengan kata lain, dipandangi Tuhan dengan sinar wajah-Nya itulah kedamaian dan keselamatan.

Kempat belas, bagi penginjil Matius sinar wajah Tuhan yang menyayangi manusia, yang memandanginya terus dan memberi kedamaian itu adalah Yesus yang kini mulai bekerja. Ia juga seperti ciptaan pertama yang menerangi jagat mengusir kegelapan.

Kelima belas, menghadapi datangnya Yesus sebagai sang terang, orang diajak untuk bertobat sebab “Kerajaan Surga” sudah dekat (ay. 17). Orang diundang untuk meninjau kembali cara kerja dan pandangan hidup yang nyata-nyata dijalaninya. Kalau sudah “pas” silakan dilanjutkan, bila membuat hidup menjadi sesak silakan diubah.

Keenam belas, dengan kata lain, orang diajak melihat kehidupan ini dalam terang sinar wajah Tuhan yang telah dipalingkan kepada manusia dalam diri Yesus. Termasuk melihat kehidupan yang masih penuh luka. Karya Yesus menyembuhkan orang, mengusir roh jahat, menghibur orang yang kena susah, dan mengajarkan jalan kebenaran akan menunjukkan bahwa manusia tidak dibiarkan sendirian.

Ketujuh belas, Yesus memilih murid-murid sebagai rekan sekerja. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka tengah menangani pekerjaan mereka menjala ikan (ay. 18-19). Mereka segera meninggalkan jala mereka untuk mengikuti Yesus (ay. 20). Juga Yakobus dan Yohanes meninggalkan perahu serta ayah mereka –pemilik perusahaan ikan yang sukses tadi– setelah dipanggil oleh Yesus (ay. 21-22). Orang-orang ini melihat sinar wajah Tuhan (=Yesus) yang memandangi mereka dan mereka tidak ingin kehilangan sinar itu.

Kedelapan belas, mereka dipanggil untuk dijadikan “penjala manusia” (ay. 19). “Menjadi penjala manusia” bukan mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Penginjil Lukas (Luk 5:10) menjelaskan “penjala manusia” dalam bahasa Yunani sebagai “anthropous (ese) zogron”; artinya, memegang manusia untuk membawanya ke kehidupan. Tanggung jawab utusan Yesus  bukan menangkapi, tetapi mendukung, menuntun, memelihara, dan menguatkan agar orang bisa hidup terus, dan menemukan jalan mereka.

Kesembilan belas, murid-murid Yesus yang pertama itu berasal dari kalangan yang cukup terpandang dalam masyarakat. Mereka dapat membantu orang-orang yang berkekurangan sehingga hidup mereka menjadi bermartabat. Penginjil Lukas mengembangkan aspek ini dalam Kis 2:44-45 (orang saling berbagi milik mereka sehingga tidak ada seorang pun yang berkekurangan); dan Kis 5:34-35 (seorang pemimpin melindungi orang yang sedang dalam ancaman bahaya yang datang dari orang lain). Tindakan-tindakan itu dilakukan agar sebanyak mungkin orang dapat menikmati kesejahteraan yang memang dicurahkan “dari atas sana”. Inilah makna dari “menjala manusia”.

Merenungkan petikan Injil ini mengundang kita untuk berani menerima kedatangan Yesus sebagai “wajah Allah yang memandangi umat-Nya” untuk menganugerahkan kesejahteraan kepada mereka, agar kita dapat ikut menyalurkan kesejahteraan itu kepada orang lain melalui tindakan-tindakan kita.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.






Lihat selengkapnya

18 January 2026

YESUS SEBAGAI “ANAK DOMBA ALLAH” DAN “ANAK ALLAH”

YESUS SEBAGAI “ANAK DOMBA ALLAH” DAN “ANAK ALLAH”

 

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Saya juga berharap bahwa tidak ada di antara Anda—khususnya yang tinggal di Jakarta—yang terkena banjir. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat sejenak dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa kedua Tahun A dalam kalender liturgi. Sakaligus, Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani. Injil (Yoh 1:29-34) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi menyampaikan kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus sebagai “Anak Domba Allah” (ay. 29) dan “anak Allah” (ay. 34).

Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, bagian Injil yang kita renungkan ini mulai dengan menyebutkan bahwa “keesokan harinya” (Yoh 1:29) Yohanes Pembaptis melihat Yesus datang kepadanya. Ungkapan “keesokan harinya” sangat besar peranannya. Injil Yohanes menyebut hari-hari untuk menggemakan hari-hari penciptaan (bdk. Kej 1:1-37) agar orang memahami kedatangan Yesus sebagai karya penciptaan yang baru (Yoh 1:1-5.9).

Kedua, ungkapan “keesokan harinya” berarti hari kedua dalam kisah Penciptaan. Pada hari kedua itu, langit dijadikan (Kej 1:6-8). Langit berperan sebagai pemisah air-air yang di atas dan yang di bawah (Kej 1:7).

Ketiga, bersama dengan penciptaan terang (Kej 1:3; bdk. Yoh 1:4b-5.9) dan pembedaan siang dengan malam (Kej 1:4-5) pada hari pertama, Allah mulai menyiapkan wahana bagi daratan dan kehidupan yang akan diciptakan pada hari-hari selanjutnya.

Keempat, ada hal yang erat berhubungan dengan catatan kedua, yang patut didalami. Meski langit yang diciptakan pada hari kedua itu menahan air-air tadi, nanti pada awal Kisah Air Bah, disebutkan bahwa tingkap-tingkap langit terbuka lagi dan jagat dilanda banjir dahsyat (Kej 7:11). Dalam Kisah Air Bah, kejadian ini ditampilkan sebagai akibat dari keburukan hidup manusia seperti disebutkan dalam Kej 6:5. Tetapi bila disimak, di situ juga sekaligus ditekankan betapa besarnya kekuatan “langit” pembendung daya-daya tadi.

Kelima, dengan menggunakan ungkapan “keesokan harinya” penginjil Yohanes menjadikan pengalaman iman orang akan karya awal Allah Pencipta itu sebagai latar bagi tampilnya Yesus. Ingin ditekankan bahwa kini karya penciptaan masih berjalan terus, jagat mulai diterangi, ditata sehingga yang gelap dapat diatur dan tidak merajalela. Setelah itu air-air mulai dibendung dengan langit.

Keenam, gagasan yang ingin ditampilkan adalah semua yang ada di muka bumi, yang akan diciptakan nanti, akan memandangi langit sebagai tempat Yang Mahakuasa hadir dan yang membendung kekuatan-kekuatan (ke)gelap(an) dan penghancur, sehingga penciptaan selanjutnya dapat terus berjalan.

Ketujuh, dengan latar itu (catatan kedua s/d keenam) kedatangan Yesus menjadi semakin bermakna. Injil Yohanes membuat orang membayangkan peran Yesus sebagai “langit” yang membendung kekuatan-kekuatan yang tadinya tidak terkendali (“air-air” dalam Kej 1:6-7). Yesus, yang dilihat Yohanes Pembaptis datang pada “keesokan harinya” itu, berperan sebagai “kekuatan” yang membendung daya-daya penghancur yang masih terus mengancam kemanusiaan.

Kedelapan, “langit” yang diciptakan sebagai pembendung air-air dahsyat itu kini dipersaksikan oleh Yohanes Pembaptis sebagai “Anak Domba Allah”. Bukan yang jauh di cakrawala dan di atas sana, melainkan yang dekat, yang berasal dari kehidupan sehari-hari manusia; sebagai domba yang penurut dan menerima dijadikan persembahan kepada Tuhan. Ditekankan dalam pengertian “Anak Domba Allah” itu, persembahan dari pihak manusia yang mendapat perkenan dari Tuhan Yang Mahabesar.

Kesembilan, Injil Yohanes hendak menampikan sebuah paradigma baru dalam memahami penciptaan dan kelanjutannya. Di atas telah disinggung bahwa jauh setelah penciptaan langit selesai, tingkap-tingkap langit terbuka kembali (Kej 7:11) sebagai akibat keburukan manusia pada zaman Nuh dulu (catatan keempat). Kini Yesus dipersaksikan - ditegaskan dari pengalaman iman - sebagai kurban (“anak domba”) dari pihak manusia kepada Allah; dan kurban inilah yang membuat dosa dunia terhapus,  dibersihkan. Keburukannya disingkirkan. Inilah kiranya yang dimaksud dengan pernyataan iman atau kesaksian bahwa Yesus itu “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29b).

Kesepuluh, kejahatan memang mendatangkan hukuman. Namun, sisi lain kerap kurang dilihat; yakni sisi Tuhan yang masih mau menyelamatkan (orang-orang) yang bisa diselamatkan – sebagaimana Ia mengasihi Nuh dan menyelamatkannya. Kerapuhan manusia dan kerahiman Allah juga merupakan bagian kenyataan hidup, yang tak terpisahkan.

Kesebelas, Yohanes Pembaptis mengajak orang melihat dan mengakui kedua sisi tadi (catatan kesepuluh). Dalam kesaksian mengenai Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, ia mau menekankan bahwa kemanusiaan yang rapuh tetap disertai kerahiman ilahi. Semua ini dikatakannya dengan bahasa kurban “anak domba” (Yoh 1:29b). Kurban ini bakal membuat wajah buruk manusia, yang dalam Injil Yohanes disebut “dosa dunia” (Yoh 1:29b), terhapus, dibersihkan.

Kedua belas, Yohanes Pembaptis juga menyebut Yesus sebagai “Anak Allah” (Yoh 1:34). Dalam cara berungkap orang Ibrani, “Anak Allah” tidak menunjuk pada gagasan diperanakkan secara harfiah. Ungkapan “Anak Allah” berdasarkan pada pengertian hubungan mendalam antara “anak” dengan “bapak”; yakni kedekatan, keakraban, perhatian besar, serta saling mempedulikan, dan semuanya ini tumbuh dari kecil, dari saat mulai ada.

Ketiga belas, secara singkat, “Anak Allah” berarti manusia yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri. Kedekatan dan keakraban ini tumbuh dari kecil, dari semula. Oleh karena itu, Dia (Yesus) yang disebut “anak Allah” itu nanti mampu menunjukkan Yang Mahakuasa sebagai Tuhan yang juga dekat, Tuhan sebagai “Bapa” (Yoh 5:17, dll.).

Keempat belas, dari mana Yohanes Pembaptis mendapat keberanian mengatakan semua itu? Jawaban yang diberikan oleh penginjil Yohanes adalah karena ia melihat Roh yang turun ke atas Yesus dan tinggal di atasnya (Yoh 1:33). Roh itu “menetap” pada Yesus, tidak pergi. Yesus disertai Roh secara tetap. Inilah yang menjadikan-Nya sedemikian dekat dengan Yang Ilahi. Roh yang datang dari Yang Ilahi itulah yang mengumumkan Yesus sebagai “anak Allah”.

Ketiga Injil lain (Mat 3:13-17; Mrk 1:9-11; Luk 3:21-22) mengungkapkan hal yang sama dengan cara mereka sendiri, seperti telah dibicarakan dalam ulasan bagi Pesta Pembaptisan Tuhan pekan yang lalu (lihat catatan ketiga belas).

 

Merenungkan Injil ini mengingatkan kita akan dua hal. Pertama, Allah masih terus melaksakanan karya penciptaan-Nya guna menyembuhkan ciptaan yang rusak dan hancur akibat ulah manusia (kita termasuk di dalamnya) yang tidak bertanggungjawab.

Kedua, seperti halnya Yesus, kita dipanggil untuk menjalin relasi yang sangat dekat dengan Allah agar dapat menjadi “langit” guna “membendung” (melawan) kekuatan-kekuatan kejahatan dalam berbagai macam bentuknya, supaya semua ciptaan Allah dapat mengalami keutuhan dan keselamatan.

Semoga Roh Allah, yang telah memampukan Yesus, juga akan memampukan kita.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

 








Lihat selengkapnya

10 January 2026

PEMBAPTISAN TUHAN YESUS DAN PEMBAPTISAN KITA

PEMBAPTISAN TUHAN YESUS DAN PEMBAPTISAN KITA


Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan menikmati kembali semua kebaikan Allah yang telah dianugerahkannya kepada kita selama minggu pertama dalam tahun baru 2026.

Besok kita akan merayakan pesta Pembaptisan Tuhan Yesus. Apa makna peristiwa ini bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, laporan tentang pembaptisan Yesus yang paling awal kita temukan dalam Injil Markus (Mrk 1:9-11). Di situ terdapat tiga hal: (1) Yesus dibaptis oleh Yohanes di Yordan (ay. 9), (2) sewaktu keluar dari air Ia melihat langit terbuka (“terbelah”) dan Roh turun kepada-Nya seperti burung merpati (ay. 10); artinya, kekuatan surga yang dahsyat itu kini tampil dalam ujud yang lembut, dan (3) saat itu juga terdengar suara dari langit yang kini terbuka berkata, “Engkau anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan” (ay. 11). Dalam peristiwa ini diperkenalkan siapa Yesus itu kepada umat manusia; yakni Anak Allah yang terkasih.

Kedua, Injil Matius (Mat 3:13-17), Lukas (Luk 3:21-22), dan secara tak langsung juga Yohanes (Yoh 1:32-34), menyampaikan kembali bahan Markus ini dan menerapkannya bagi pendengar mereka masing-masing. Meskipun masing-masing Injil menyampaikannya dengan penekanan dan kekhususan masing-masing, namun ada unsur yang sama; yakni, seperti orang banyak, Yesus datang mengikuti seruan Yohanes Pembaptis untuk dibaptis sebagai tanda bertobat, artinya: menyatakan diri mau menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi kehadiran Yang Ilahi sendiri.

Ketiga, selain mengutarakan kembali ketiga hal yang dilaporkan Markus tadi (catatan pertama), Matius menambahkan percakapan antara Yohanes Pembaptis dan Yesus (ay. 14-15). Yohanes mengatakan bahwa dirinyalah yang semestinya dibaptis oleh Yesus (ay. 14). Namun Yesus menjawab semua ini terjadi untuk menggenapkan kehendak Allah (ay. 15). Percakapan ini ditampilkan Matius untuk menjernihkan pertanyaan apakah Yohanes lebih besar daripada Yesus.

Keempat, selain hal itu, kata-kata yang terdengar dari langit yang menurut Markus (Mark 1:11) dan Lukas (Luk 3:22b) diucapkan langsung kepada Yesus, dalam Matius tampil sebagai pernyataan tentang Yesus (ay. 17b). Hal ini akan diulas dalam catatan kesembilan sampai ketiga belas di bawah.

Kelima, konteks kisah Yesus dibaptis adalah ajakan Yohanes Pembaptis kepada orang banyak untuk bertobat, untuk berganti haluan hidup, sehingga mendapat penghapusan dosa. Penghapusan dosa di sini berarti memperoleh kembali kemerdekaan batin yang bakal membuat orang bisa berbesar hati dan berani membiarkan diri dituntun oleh Allah sendiri.

Keenam, seperti halnya banyak orang yang mengikuti seruan Yohanes itu, suatu saat datang pula Yesus dan ikut dibaptis. Dalam peristiwa itu langit terbuka, Roh Kudus turun (ay. 16), dan terdengar sabda ilahi mengatakan bahwa Yesus itu putra terkasih, Ia mendapat perkenan dari atas (ay. 17).

Ketujuh, bila dibaca dalam konteks peristiwa pembaptisan orang banyak, peristiwa pembaptisan Yesus ini memperlihatkan datangnya kekuatan ilahi bersama “anak yang terkasih” ini untuk menyertai perjalanan orang-orang yang telah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan tadi (catatan kelima). Inilah yang dimaksud dengan “agar kehendak Allah digenapkan” (Mat 3:15). Yesus adalah orang yang sedemikian dekat dengan kehadiran Allah sendiri sehingga, menurut kata-kata Markus, Ia dapat melihat langit terbuka (“terkoyak”), dan Roh Allah turun ke atas-Nya (Mrk 1:10).

Kedelapan, Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa ia membaptis dengan air, sedangkan yang akan datang nanti akan membaptis dengan Roh dan api (Mat 3:11; Mrk 1:8; dan Luk 3:16; bdk. Yoh 1:33). Air membersihkan,  tetapi hanya bagian luar. Api memurnikan luar dalam. Api dapat mengubah secara utuh. Ini bahasa kiasan. Cara penyampaian seperti itu menolong kita mengerti bahwa baptisan dengan Roh artinya diberi kemungkinan menempuh hidup baru dengan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan sendiri.

Kesembilan, Markus (Mrk 1:11) dan Lukas (Luk 3:22b) menyampaikan kembali kata-kata yang terdengar dari langit sebagai, “Engkaulah anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” Jadi yang disapa dengan kata-kata itu adalah Yesus sendiri. Dengan “rumusan” ini, kedua Injil ini hendak menekankan pengalaman batin Yesus ketika menerima baptisan itu. Pengalaman batin mendapati diri sebagai orang yang disapa sebagai “anak terkasih” oleh Dia yang ada di langit itu dimungkinkan oleh Roh Kudus yang turun ke atas Yesus. Ungkapan “anak terkasih” di situ berarti orang yang amat dekat, yang terpilih untuk menjalankan urusan-urusan Allah. Itulah maksud “kepadamu Aku berkenan”. Pengalaman batin ini kemudian menjadi kekuatan Yesus.

Kesepuluh, dalam Mat 3:17 “kata-kata yang terdengar dari langit” seperti dilaporkan oleh Markus dan Lukas (catatan kesembilan), diubah menjadi: “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Jadi bukan sapaan ilahi kepada Yesus sebagaimana tercatat dalam Markus dan Lukas, melainkan sebuah pernyataan tentang Dia. Matius memberikan pewartaan mengenai siapa Yesus itu kepada orang banyak. Yesus adalah orang yang amat dekat (“anak-Ku yang terkasih”) dengan Yang Ilahi dan mendapat perkenan dari Allah untuk melakukan tindakan-tindakan di antara manusia atas nama Allah.

Kesebelas, dengan melakukan perubahan ini, Matius bermaksud membuat hal yang dialami Yesus secara batin tadi akhirnya juga menjadi pengalaman semua orang yang hadir di situ, termasuk siapa saja yang menjadi pembaca Injilnya.

Kedua belas, dengan melakukan perubahan ini, Matius juga mendekatkan pengalaman batin Yesus kepada semua orang. Orang banyak dapat ikut serta di dalam pengalaman Yesus yang paling batin sekalipun. Bagaimana caranya? Tentu saja bila ikut memperoleh Roh seperti Yesus sendiri.

Ketiga belas, dikatakan dalam Mat 3:17 (juga dalam Mrk 1:10 Luk 3:22), “Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.” Roh yang bisa tampil sebagai api yang membakar itu kini tampil sebagai yang lemah lembut, tetapi daya-Nya tetap sama. Dan kekuatan yang turun ke atas Yesus dalam ujud yang lembut itu juga akan menjadi kekuatan bagi orang banyak yang menerima baptisan. Yohanes Pembaptis sendiri pernah mengatakan hal ini ketika menegaskan bahwa Dia (=Yesus) yang akan datang itu akan membaptis dengan Roh dan api (lihat Mat 3:11; Mrk 1:8; Luk 3:16; dan Yoh 1:33).

Keempat belas, Yesus datang seperti orang banyak untuk menerima baptisan tobat (ay. 13). Tetapi, dalam kesempatan itu Yesus bukan hanya berbagi kehidupan dengan orang banyak, melainkan juga memberi ruang gerak bagi Roh Allah yang menjadi nyata, bahkan memberi ruang kepada kehadiran kekuatan ilahi sendiri dalam hidup-Nya.


Merenungkan Injil ini, menyadarkan kita bahwa dengan menerima pembaptisan, Yesus menyatakan kesediaan untuk berbagi kehidupan dengan orang banyak dengan ikut merasakan kegelisahan, siap mengambil bagian dalam kerisauan orang banyak dalam menantikan kedatangan yang dijanjikan. Kesediaan semacam itulah yang membuat-Nya dipenuhi Roh, menjadikan-Nya orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri, dan diserahi tugas menghadirkan Allah kepada siapa saja.

Kesediaan Yesus berbagi keprihatinan dengan orang banyak itu menjadi jalan bagi Allah untuk hadir di tengah-tengah manusia. Yang Mahakuasa tidak meninggalkan kemanusiaan yang gelisah, yang menderita, yang mengalami kesusahan.

Sekarang ini juga Allah masih bisa hadir untuk menghibur, menguatkan, dan menolong orang-orang yang menderita lewat kesediaan orang-orang—kita semua—yang dengan menerima pembaptisan bersedia mempedulikan keadaan mereka.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

23 December 2025

MERAYAKAN KELAHIRAN SANG PENYELAMAT

MERAYAKAN KELAHIRAN SANG PENYELAMAT

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, teman dan sahabat, serta para anggota komunitas dalam keadaan baik. Selamat menyiapkan diri untuk merayakan kelahiran Sang Penyelamat. Marilah kita renungkan peristiwa ini agar bermakna bagi kehidupan kita dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Renungan ini cukup panjang karena menyangkut tiga bacaan Injil dalam tiga kali Misa Kudus: (1) Misa malam Natal 24 Desember malam, catatan ketiga s/d kesepuluh; (2) Misa Fajar Desember 2025 pagi, catatan kesebelas s/d ketiga belas; dan (3) Misa siang Desember 2025, catatan keempat belas s/d kesembilan belas.

Pertama, dalam tradisi Gereja Katolik ritus Latin, hari Natal dirayakan dengan tiga Misa Kudus, yakni Misa Malam Natal 24 Desember, kemudian Misa Fajar 25 Desember pagi, dan akhirnya Misa Siang 25 Desember.

Kedua, ketiga perayaan itu melambangkan tiga sisi kenyataan lahirnya Sang Penyelamat Dunia. Pertama, kelahiran-Nya sudah terjadi sejak awal, yakni dalam kehendak Bapa di surga untuk mengangkat martabat kemanusiaan supaya bisa dekat dengan-Nya (Misa siang 25 Desember). Kenyataan kedua terjadi ketika Yesus lahir dari kandungan Maria (Misa malam Natal 24 Desember). Kenyataan ketiga, kelahiran Kristus secara rohani di dalam kehidupan orang beriman (Misa Fajar 25 Desember pagi).

Ketiga, bacaan Injil dalam ketiga Misa Natal tersebut (catatan pertama) sejajar dengan tiga kenyataan tadi (catatan kedua). Dalam Misa malam hari dibacakan Luk 2:1-14 yang menceritakan Maria melahirkan di Betlehem. Dalam Misa fajar diperdengarkan Luk 2:15-20 yang mengabarkan lahirnya Kristus di dalam kehidupan orang beriman yang pertama, yakni para gembala. Akhirnya, dalam Injil Misa siang hari, Yoh 1:1-18, ditegaskan bahwa Yesus, sang Sabda, ini sudah ada sejak semula.

Keempat, Injil Misa Malam Natal (Luk 2:1-14) mengisahkan Yusuf dan Maria mematuhi maklumat umum Kaisar Augustus yang mewajibkan orang mencatatkan diri di kampung halaman leluhur (ay. 1-3). Penginjil Lukas menggunakan “sensus penduduk” yang diadakan oleh Kaisar Agustus sebagai konteks kisah kedatangan Yusuf dan Maria ke Betlehem. Ini cara penginjil Lukas untuk mengatakan bahwa Tuhan bahkan memakai pihak bukan-Yahudi untuk menjelaskan bagaimana Yesus tetap lahir di Yudea, tempat asal kaum Daud, dan bukan di Nazaret.

Kelima, seperti banyak orang asli Yudea yang lain, Yusuf dan Maria termasuk kaum yang “terpencar-pencar” hidup dalam diaspora di daerah bukan asal mereka. Ironisnya, yang betul-betul masih bisa memberi identitas “orang Yudea” kepada mereka kini bukan lagi ibadat tahunan di Yerusalem, melainkan cacah jiwa (sensus penduduk) yang digariskan penguasa Romawi.

Keenam, penginjil Lukas mengatakan bahwa Yusuf pergi dari Nazaret ke Yudea “agar didaftar bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung” (ay. 4-5). Dengan cara ini mereka nanti akan resmi tercatat sebagai suami-istri di Yudea. Oleh karena itu, Yesus juga secara resmi bakal tercatat sebagai keturunan Daud, baik bagi orang Yahudi maupun bagi administrasi Romawi. Dengan menyampaikan kisah seperti ini penginjil Lukas juga ingin mengatakan bahwa kedatangan Juru Selamat bukanlah melulu bagi orang Yahudi, melainkan bagi semua orang di wilayah kekaisaran Romawi, bahkan bagi semua orang di jagat ini.

Ketujuh, Maria melahirkan anak laki-laki, anaknya yang sulung (ay. 7a). Penyebutan “anak sulung” terutama dimaksud untuk menggarisbawahi makna yuridis, bukan biologis. Anak sulung memiliki hak yang khas yang tidak ada pada saudara-saudaranya. Dalam hal ini, hak sebagai keturunan Daud dengan semua keleluasaannya. Oleh karena itu, Ia juga dapat mengikutsertakan siapa saja untuk masuk dalam keluarga besarnya.

Kedelapan, bayi yang baru lahir itu dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan “karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (ay. 7b). Dengan catatan itu, penginjil Lukas tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa mereka tidak dimaui atau ditolak di mana-mana, melainkan karena semua tempat penginapan sudah penuh para pengunjung yang mau mendaftarkan diri menurut maklumat Kaisar Agustus.

Kesembilan, Yusuf dan Maria akhirnya menemukan tempat umum yang biasa dipakai tempat istirahat rombongan karavan bersama hewan angkutan mereka. Tempat-tempat seperti ini memiliki beberapa kelengkapan dasar, misalnya tempat untuk beristirahat, tempat untuk mandi, tempat untuk masak, dan palungan tempat menaruh makanan bagi kuda atau hewan tunggangan lainnya. Ini cara penginjil Lukas mengatakan bahwa kelahiran Yesus terjadi di tempat yang bisa terjangkau umum, tempat bertemu banyak orang, sehingga para gembala dapat dengan cepat mendapatinya.

Kesepuluh, kelahiran Yesus yang diceritakan sebagai kejadian sederhana seperti di atas itu nanti diungkapkan para malaikat kepada para gembala. Para gembala amat beruntung bisa menyaksikan perkara ilahi dan perkara duniawi dalam wujud yang sama. Dia yang Maha Tinggi kini menyatakan diri dalam wujud yang paling biasa bagi semua orang. Bala tentara surga, dan para malaikat menyuarakan pujian kepada Allah (ay. 8-14).

Kesebelas, dalam Misa Fajar, yang diberitakan malaikat Tuhan kepada para gembala; yakni bayi yang baru saja lahir ini adalah “Juruselamat, Mesias, Tuhan” (ay. 10-12) kini mereka teruskan kepada orang-orang yang ada di sekitar palungan (ay. 17). Boleh kita bayangkan, di tempat umum di sekitar palungan itu ada banyak orang lain yang juga menginap di situ. Mereka sedang menolong keluarga baru ini.

Kedua belas, mendengar kata-kata para gembala mengenai warta malaikat tadi, semua orang ini menjadi terheran-heran (ay. 18). Bagi mereka bayi yang dilahirkan ibu muda ini biasa saja, tetapi apa yang dikatakan oleh para gembala ini menjelaskan hal yang luar biasa yang sedang terjadi kini! Para gembala itulah orang-orang yang pertama-tama memberi arti rohani bagi peristiwa kelahiran tadi.

Ketiga belas, disebutkan dalam ay. 15 “... gembala-gembala itu berkata satu kepada yang lain, ‘Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat ....’” Kepada siapa kata-kata itu ditujukan? Yang pertama tentu kepada para gembala itu satu sama lain. Yang kedua kepada siapa saja yang membaca atau mendengarkannya, kita semua; mereka – kita semua diajak oleh gembala-gembala tadi bersama pergi dengan mereka ke Betlehem menyaksikan kebesaran ilahi dalam wujud bayi, yang membuat orang mulai bersimpati kepada Tuhan.

Keempat belas, dalam Misa siang dibacakan Pembukaan Injil Yohanes (Yoh 1:1-18) yang sarat dengan makna. Dikatakan bahwa “Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah. Ia pada awal mulanya ada bersama dengan Allah” (Yoh 1:1-2). Untuk memahami dua kalimat ini, kita perlu mengingat Kisah Penciptaan menurut tradisi dalam kitab Kejadian (Kej 1:1-2:4a).

Kelima belas, dalam Kisah Penciptaan tersebut dikisahkan bahwa pada awalnya Tuhan menjadikan terang dengan memfirmankannya. Firman-Nya (yakni “Jadilah terang!”) menjadi kenyataan, yakni terang (Kej 1:3). Dan begitu selanjutnya hingga ciptaan yang paling akhir, yakni umat manusia, yang diberkati dan diberi wewenang mengatur jagat ini sebagai wakil Tuhan Pencipta sendiri.

Keenam belas, dikatakan dalam Yoh 1:1: “Dan Firman itu adalah Allah.” Dengan ungkapan ini hendak dikatakan bahwa keilahian (Allah) yang kerap terasa jauh dan menggentarkan itu kini mulai dekat dan dapat didengarkan, membiarkan Diri dimengerti, dikaji, serta dipikir-pikirkan;  dan dengan demikian ikut di dalam kehidupan manusia. Itulah yang dimaksud oleh Yohanes. Oleh karena itu, juga tidak mengherankan bila dalam Yoh 1:3 ditegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di atas bumi ini dijadikan oleh Firman (Allah) tersebut. Tidak ada yang tidak berhubungan dengan-Nya.

Ketujuh belas, dalam Yoh 1:4 ditegaskan bahwa Dia (Sang Firman) itu adalah kehidupan dan kehidupan itu terang bagi manusia. Bandingkan dengan terang yang difirmankan Pencipta pada awal Penciptaan: terang itu ciptaan pertama yang mendasari semua yang ada (Kej 1:3). 

Kedelapan belas, dikatakan bahwa “terang” itu datang ke “dunia”, berada di “dunia” yang “dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya” (Yoh 1:9-10). Bagi penginjil Yohanes kata “dunia” mengacu pada tempat beradanya kekuatan-kekuatan gelap yang melawan kehadiran ilahi (Yoh 1:5). Ke tempat seperti inilah terang ilahi tadi bersinar dan terangnya tidak dapat dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan kegelapan.

 

Kesembilan belas, penginjil Yohanes menghubungkan peristiwa kelahiran Yesus sebagai kedatangan terang ilahi ke dunia ini. Dengan latar Kisah Penciptaan menjadi jelas bahwa kelahiran Yesus itu ditampilkan oleh penginjil Yohanes sebagai tindakan yang pertama dalam karya penciptaan Tuhan. Penciptaan ini dimaksud untuk menghadirkan Tuhan Pen­cipta. Bukan sebagai Tuhan yang kehadiran-Nya harus diterjemahkan terutama dalam wujud hukum-hukum agama, seperti hukum Taurat, melainkan sebagai Bapa yang menjadi asal-usul kehidupan manusia, yang menyapa manusia dengan Firman yang membawakan kehidupan.

 

Merayakan Natal mengajak kita untuk menyadari kembali bahwa iman akan kelahiran Yesus Kristus di dunia ini adalah mempercayai Allah yang masih meneruskan penciptaan jagat beserta isinya untuk menyempurnakan bagian-bagian yang dirusak oleh manusia. Firman-Nya kuat. Terangnya tak terkalahkan meskipun banyak yang menghalangi.

  

Merayakan Natal juga mengajak kita untuk bersama para gembala mencari bayi Yesus di “Betlehem”; di tempat yang kita semua tahu, tempat yang dapat dicapai dengan mudah, bukan di negeri antah-berantah.

  

“Betlehem” bisa bermacam-macam wujud dan macamnya; misalnya, orang yang kita cintai dan mencintai kita, kehidupan orang-orang yang kita layani, orang-orang yang membutuhkan kedamaian dan uluran tangan kita, atau juga diri kita sendiri yang diajak ikut menghadirkan-Nya, bahkan alam yang dirusak oleh manusia sehingga menimbulkan bencana. Di situlah Tuhan hadir menantikan orang, kita semua, datang menyatakan simpati kepada-Nya.

 

Selamat merayakan Natal 2025 dan menyongsong Tahun Baru 2026.

 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.



Catatan:

Berhubung saya akan berada di luar Seminari mulai 24 Desember 2025 s/d 9 Januari 2026 untuk membantu di paroki merayakan Natal dilanjutkan dengan berlibur, maka saya tidak akan dapat mengirimkan renungan untuk 28 Desember 2025 (Hari Raya Keluarga Kudus) dan 4 Januari 2026 (Pesta Penampakan Tuhan). Mohon dimaklumi.





 

 

Lihat selengkapnya

21 December 2025

ALLAH SUNGGUH HADIR DAN MENEMANI KITA

ALLAH SUNGGUH HADIR DAN MENEMANI KITA

 

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, teman dan sahabat, serta anggota komunitas dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dianugerahkan kepada kita selama sepekan.

Besok Minggu kita akan merayakan hari Minggu Adven ke-4 (terakhir) tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 1:18-24) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi menyampaikan tradisi mengenai kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf, yang di dalam silsilah sebelum bacaan ini, disebut sebagai “suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16).

Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, penginjil Matius mengatakan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus ketika “bertunangan dengan Yusuf” (=sebelum hidup sebagai suami-istri  -- ay. 18). Dalam adat-istiadat Yahudi, sejak usia remaja seorang gadis dipertunangkan dengan calon suaminya jauh-jauh sebelum pernikahan, yang baru akan dilaksanakan ketika kedua-duanya sudah siap membangun rumah tangga yang mandiri. Ikatan ini dapat dibatalkan karena berbagai macam alasan. Salah satunya adalah bila calon istri didapati mengandung sebelum pernikahan dilangsungkan.

Kedua, bila hal itu terjadi (seperti pada diri Maria), menurut hukum, bakal suami wajib membatalkan ikatan pertunangan tadi. Dengan pembatalan tersebut, pihak perempuan akan merdeka dan dapat diperistri orang lain secara sah. Kerap terjadi, perempuan yang bersangkutan tidak dimaui siapapun dan akan mendapat aib.

Ketiga, Yusuf tidak hendak menyusahkan Maria, tetapi tetap mau menaati hukum tadi. Maka ia bermaksud membatalkan pertunangannya dengan Maria secara “diam-diam” (ay. 19); artinya, pembatalan tersebut dilakukan di hadapan dua orang saksi tetapi tanpa mengumumkannya. Dengan demikian, pembatalan itu akan sah menurut hukum tetapi tidak mendatangkan aib bagi Maria.

Keempat, namun sebelum niatan ini terlaksana, terjadilah sesuatu yang luar biasa. Dalam sebuah mimpi malaikat Tuhan datang dan mengatakan kepada Yusuf agar jangan takut mengambil Maria sebagai istrinya karena anak yang dikandung Maria itu berasal dari Roh Kudus (ay. 20). Jadi, kandungan itu bukan dari manusia, sehingga Yusuf tidak usah merasa terikat pada kewajiban mengikuti hukum adat.

Kelima, selanjutnya diberitahukan bahwa anak tadi hendaknya diberi nama Yesus, artinya “Tuhan itu keselamatan” (ay. 21). Yusuf pun menjalankan yang diperintahkan kepadanya oleh sang malaikat (ay. 24).

Keenam, bagi umat Matius dan umat Kristiani awal, kelahiran Yesus itu jelas bukan kejadian lumrah. Yesus dikandung dari Roh Kudus tetapi dilahirkan secara manusiawi oleh Maria dan dibesarkan oleh Yusuf. Matius memberikan penjelasan kejadian yang tidak biasa ini lewat kata-kata malaikat dalam mimpi Yusuf tadi.

Ketujuh, dalam ay. 22 ditambahkan, semua yang dikatakan malaikat tadi menggenapkan nubuat nabi Yesaya (Yes 7:14), yang menyebutkan bahwa seorang anak dara akan melahirkan anak lelaki yang dikenal dengan nama Imanuel, yang artinya “Tuhan menyertai kita”.

Kedelapan, teks Ibrani dalam Yes 7:14 memakai kata “seorang anak dara/perempuan muda”; yang maknanya adalah anak perempuan yang sudah dewasa, tetapi belum menikah. Dalam teks Yunani yang dipakai Matius, kata itu diterjemahkan dengan sebuah kata yang artinya “perawan”. Hal ini dilakukan karena Matius menulis Injilnya bagi mereka yang percaya bahwa Maria itu perawan yang mengandung dari Roh Kudus.

Kesembilan, karenanya, kutipan dari Yes 7:14 dalam Mat 1:22-23 itu sebaiknya lebih dipahami bahwa yang ditekankan adalah kelahiran sang “Imanuel”, yang artinya “Allah menyertai kita.” Sejak kelahiran Yesus, Sang Imanuel, Allah tidak lagi membiarkan manusia sendirian. Sejak saat itu Allah menyertai manusia sepanjang zaman (lih. Mat 28:20).

Kesepuluh, kisah kelahiran Yesus, yang bukan kejadian biasa, ini diceritakan juga oleh Lukas (Luk 1:26-38), tetapi dengan penekanan yang berbeda. Bila Matius mencerminkan ingatan dari kalangan Yusuf mengenai kelahiran Yesus, Lukas menceritakan kelahiran Yesus dari sudut pandang Maria.

Kesebelas, namun intinya sama: anak itu dikandung dari Roh Kudus (Mat 1:20, Luk 1:35), Maria dan Yusuf bertunangan (Mat 1:18, Luk 1:27), perintah agar anak yang lahir nanti dinamai Yesus (Mat 1:21: kepada Yusuf; Luk 1:31: kepada Maria), kelahiran Yesus di Betlehem (Mat 2:5, Luk 2:4 & 6), dan Yesus besar di Nazaret (Mat 2:23, Luk 2:51-52).

Kedua belas, melalui kisah dalam injil ini Matius menampilkan perasaan Yusuf, pergulatan rohaninya, dan rasa hormatnya yang besar terhadap Yang Ilahi yang mendatanginya. Juga ditonjolkan perhatian Yusuf terhadap Maria dan Yesus. Ia betul-betul menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai bapa keluarga ini.

Ketiga belas, pembaca dari kalangan Yahudi yang menjadi pengikut Yesus dari generasi pertama menangkap maksud penekanan pada Yusuf tadi. Dalam adat keluarga Yahudi, pendidikan seorang anak sejak tidak lagi menyusu ibunya hingga akil balig pada usia 12-13 tahun menjadi tanggung jawab bapa keluarga. Begitulah kebesaran hati Yusuf, kepekaannya, kematangan imannya ikut membentuk pribadi Yesus.

Keempat belas, juga menjadi jelas bahwa karya “Tuhan menyelamatkan umat-Nya” (ay. 21b) itu menjadi tepercaya justru karena memakai jalan manusiawi. Karya Roh Kudus, daya luar alam itu, baru betul-betul bisa membawakan keselamatan bila tumbuh dan menjadi besar dalam lingkungan yang sungguh manusiawi. Inilah kiranya keyakinan iman orang-orang yang terungkap dalam kisah Matius dalam Injil ini.

Kelima belas, sebetulnya kisah kelahiran dan masa kecil Yesus tidaklah mutlak perlu untuk menjelaskan karya, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus nanti. Injil yang paling awal, yakni Injil Markus, tidak memuat kisah kelahiran seperti itu. Begitu pula dalam Injil Yohanes tidak didapati kisah yang mirip. Mengapa demikian?

Keenam belas, Injil Markus disiapkan sebagai pegangan ringkas bagi mereka yang baru mulai tertarik untuk mengenal siapa Yesus itu. Setelah tahap awal ini dilalui, apa yang terjadi? Orang tentu butuh pendalaman. Kepada mereka inilah Injil Matius dan Lukas ditulis. Orang yang sudah mulai kenal Yesus dan hidup menurut warta-Nya (“setelah mendengar injil Markus”), tentu ingin mengenal asal usul Yesus. Karena itulah Matius dan Lukas menuliskan tradisi mengenai kelahiran-Nya.

Ketujuh belas, orang-orang yang maju lebih jauh dalam kehidupan rohani mereka, tidak butuh bertanya-tanya mengenai asal-usul badaniah dan peristiwa-peristiwa di seputar kelahiran dan masa kecil Yesus. Kepada mereka itulah Injil Yohanes berbicara. Ditekankan hubungan dengan Bapa. Diungkapkan pula keinginan Yesus untuk berbagi “sangkan paran” (asal usul dan tujuan) hidup-Nya, serta berbagi kehidupan rohani yang sejati dengan orang-orang yang dikasihi-Nya dan setia kepada-Nya.

Kedelapan belas, baik penginjil Lukas maupun Matius menekankan hadirnya daya ilahi (“Maria mengandung dari Roh Kudus”) dan penerimaan utuh dari pihak Maria dan Yusuf. Yang dilakukan Yusuf diungkapkan Matius dalam Injil yang kita renungkan ini. Menerima karya ilahi dalam ujud yang amat mengguncang tadi menjadi ungkapan iman yang paling nyata. Yusuf adalah orang yang dapat menerima kehadiran ilahi yang tidak lumrah sekalipun dan tetap menghormati-Nya. Bahkan ia memelihara-Nya dengan penuh perhatian.

Kesembilan belas, Yusuf memikirkan kepentingan Maria, tidak hanya mau meninggalkannya begitu saja. Kemudian ia juga berani mendengarkan Yang Ilahi, yang mengubah rencananya sama sekali. Ia bersedia menjadi orang yang bertanggung jawab membesarkan Yesus. Dengan kata lain, Yusuf adalah pribadi yang dapat dipercaya, karena ia juga bisa mempercayai yang dikehendaki oleh Allah.

Mendalami peristiwa kelahiran Yesus dalam terang Injil Matius berarti merayakan kebesaran hati seorang manusia (Yusuf), yang bukan saja memungkinkan karya Allah dapat mulai terjadi, tetapi juga yang memelihara dan membesarkannya; sehingga Allah dapat hadir dan menemani perjalanan hidup kita. Semuanya ini ia lakukan dengan tidak banyak “omon-omon.”

Semoga kita dapat meneladani sikap hati dan tindakannya.

Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya