24 October 2026
MEMAHAMI DAN MENGHAYATI INTI HIDUP BERAGAMA
MEMAHAMI
DAN MENGHAYATI INTI HIDUP BERAGAMA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Selamat berjumpa kembali. Semoga Anda beserta dengan keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat sambil mencecap kembali kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-30 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 22:34-40) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang Yesus yang menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang bermaksud menjajaki pengetahuan keagamaan-Nya. Ditanyakan kepada Yesus, manakah perintah yang paling utama dalam Taurat (ay. 36).
Apa makna kisah ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberti catatan].
Pertama, pertanyaan ahli Taurat tersebut dijawab oleh Yesus dengan mengatakan bahwa perintah yang terutama dan yang pertama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu!” (ay. 37-38; lihat Ul 6:5). Dan perintah yang kedua adalah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (ay. 39; lihat Im 19:18b).
Kedua, Yesus masih menambahkan: “Pada kedua perintah itu bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para Nabi” (ay. 40). Kitab para Nabi, menurut orang Yahudi, meliputi kitab-kitab sejarah dari Hakim sampai Raja dan nabi-nabi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan ke-12 nabi lain. Kitab Daniel tidak termasuk di dalamnya.
Ketiga, rumusan asli dari pertanyaan ahli Taurat tadi sebenarnya berbunyi: “Guru, perintah macam apa bisa disebut besar di dalam Taurat?” Yang ditanyakan bukanlah [perintah] “yang mana”, melainkan macamnya, jenisnya, kategorinya. Pertanyaan ini mengarah pada ciri-ciri yang membuat perintah tertentu dapat dikatakan perintah besar/utama.
Keempat, memang diandaikan perintah-perintah dalam Taurat tidak sama bobotnya. Ahli Taurat itu mau tahu apa Yesus memiliki kemampuan menimbang-nimbang bobot aturan Taurat (613 jumlahnya) dan bukan hanya asal kutip sana sini.
Kelima, kaum terpelajar Yahudi menyadari bahwa tidak semua aturan tadi sama bobotnya. Mana prinsip untuk memahami perintah yang satu lebih pokok dari yang lain? Soal ini dijawab Yesus dengan mengutarakan dua perintah yang disebutkan-Nya (ay. 37-39) sebagai tempat bergantung semua hukum Taurat dan kitab para Nabi (ay. 40).
Keenam, perintah untuk mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh-penuhnya yang dikutip-Nya dari Kitab Ulangan (Ul 6:5) itu termasuk ayat-ayat suci yang wajib didoakan dua kali sehari (pagi dan petang) oleh orang Yahudi yang saleh. Perintah dari Kitab Imamat (Im 19:8b) mengenai mengasihi sesama itu disertakan-Nya sebagai perintah utama yang kedua.
Ketujuh, mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh (= segenap “hati” /”akalbudi”; bagi orang Yahudi “hati” adalah tempat bernalar, bukan tempat perasaan), yang keluar dari keyakinan (= segenap “jiwa”), dan tekad utuh (= segenap “kekuatan”) [ay. 37]. Jadi bukan hanya setengah-setengah, mendua, atau ikut-ikutan, tetapi dengan pengertian penuh.
Kedelapan, dengan ungkapan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay. 39), kita diingatkan bahwa kita ini pada dasarnya mengalami pahit getirnya kehidupan seperti orang lain. Maka kita perlu ingat kalau sudah merasa lebih beruntung, jangan melupakan orang yang sedang ada dalam kesusahan.
Kesembilan, ada tambahan dari Yesus bahwa tidak ada perintah yang lebih utama dari kedua perintah tadi. Hal ini dipertajam oleh penginjil Matius dengan menggunakan ungkapan: “Pada kedua perintah inilah bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para Nabi” (ay. 40). Dengan cara itu Matius bermaksud menonjolkan pandangan Yesus bahwa kedua perintah tadi memang menjadi dasar dan menjiwai semua hukum Taurat dan kitab para Nabi.
Kesepuluh, Yesus dapat melihat sedalam itu dan menyampaikan pemahaman-Nya kepada orang banyak, karena Yesus telah memenuhi/menghidupi kedua perintah utama tadi. Seluruh hidup-Nya diserahkan untuk mengasihi Yang Mahakuasa dengan kesadaran penuh dan dengan keyakinan serta tekad yang matang. Dan semuanya ini terungkap dalam kesediaan-Nya ikut merasakan yang dialami orang lain. Ia percaya bahwa orang lain itu juga seperti Dia sendiri: dikasihi Allah dan oleh karenanya dapat mengasihi-Nya.
Petikan Injil yang kita renungkan ini mengingatkan kita akan dasar dan inti hidup beragama. Inti hidup beragama sebetulnya menomorsatukan Allah dan sesama, bukan aturan-aturan agama belaka yang malah dapat menjauhkan orang dari sesama dan dari Allah sendiri.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
10 October 2026
MASUK KE DALAM KERAJAAN SURGA DENGAN BERPAKAIAN PESTA
MASUK KE
DALAM KERAJAAN SURGA DENGAN BERPAKAIAN PESTA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat sambil merasakan kembali semua kebaikan Allah yang kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu ke-28 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 22:1-14) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi merupakan sebuah perumpamaan tentang siapa yang akhirnya masuk ke dalam Kerajaan Surga dan bagaimana mereka bisa sampai ke sana.
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, selain dalam Mat 22:1-14, perumpamaan tentang undangan yang menolak datang itu juga didapati dalam Luk 14:15-24. Namun ada tiga hal yang khas pada versi Matius yang tidak dijumpai dalam versi Lukas:
1) Dalam Injil Matius, undangannya
adalah ke perjamuan makan siang (Yunani “ariston”, Latin “prandium”) bagi pesta
nikah seorang anak raja (Mat 22:2). Injil Lukas menyebutnya perjamuan makan
malam (Yunani “deipnon”, Latin “coena”) yang lebih rileks, untuk membangun
keakraban (Luk 14:16). Perjamuan dalam pesta nikah lebih resmi daripada
perjamuan untuk membangun keakraban. Hadirin diajak ikut menjadi saksi
peristiwa itu. Apalagi pesta nikah anak raja. Inilah yang lebih ditonjolkan
Matius.
2) Dalam perumpamaan Matius, sang
raja sampai dua kali mengundang (Mat 22:3-4). Yang kedua kalinya bahkan ada
nada memohon (ay. 4). Tetapi orang-orang yang diundang tetap tidak bersedia
datang (ay. 5a). Ada yang tidak peduli, ada yang meremehkan undangan (ay. 5b),
malah ada yang menyiksa bahkan membunuh suruhan raja (ay. 6). Ini sama dengan
memutuskan hubungan. Lukas lain. Ia lebih menekankan dalih para undangan yang
sudah bersedia datang ketika diundang tetapi kini ingkar (Luk 14:18-20).
3) Matius dan Lukas sama-sama
mengatakan bahwa akhirnya orang-orang lain yang tadinya tidak diundang kini
didatangkan ke perjamuan (Mat 22:9; Luk 14:21b; 23). Tetapi Matius masih
menceritakan bahwa sang raja mendapati orang yang datang tanpa pakaian pesta
(Mat 22:11b). Orang itu kemudian tidak diizinkan mengikuti pesta dan
dikeluarkan (Mat 22:13). Lukas tidak menyinggung adanya orang yang dianggap tidak
pantas ikut perjamuan malam, tetapi Ia meneruskan perumpamaan itu dengan
menyampaikan pengajaran Yesus mengenai perlunya komitmen utuh dalam mengikuti-Nya (Luk 14:25-35).
Kedua, Matius berbicara kepada umat yang berasal dari lingkungan Yahudi. Bagi mereka “perjamuan nikah” dan datang dengan “pakaian pesta” memiliki arti yang khusus, yang tidak segera ditangkap oleh orang dari kalangan lebih luas seperti halnya umat Lukas.
Ketiga, Matius menyebutkan bahwa “Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya”. Bagi pembaca Matius, “perjamuan nikah” membangkitkan gagasan yang lebih dari pada sekedar menghadiri resepsi, melainkan mengikuti upacara dan berbagi hikmatnya.
Keempat, dalam kesempatan seperti itu dulu kerap didendangkan lagu-lagu kasih antara mempelai lelaki dan mempelai perempuan. Lagu-lagu itu sering bernada kasih mesra, tetapi sekaligus juga amat religius. Salah satu bentuk yang paling dikenal dan sudah menjadi bagian Kitab Suci adalah Kidung Agung. Di dalam kidung-kidung itu kasih antara kedua mempelai tampil sebagai tempat kehadiran Alah tanpa perlu mengatakannya.
Kelima, bagi orang Yahudi, ikut serta dalam upacara dan perjamuan nikah dalam arti ini (catatan keempat) dapat mendekatkan orang pada kemanusiaan dan keilahian sekaligus. Karena itu, penolakan ikut serta dalam perjamuan nikah lebih daripada sekedar tidak datang ikut hadir dalam pesta.
Keenam, menolak ajakan untuk hadir dalam pesta nikah juga membuat pesta menjadi sepi dan hambar. Panggilan pertama tidak dipenuhi (Mat 22: 3). Raja yang sebetulnya penuh wibawa kemudian bersikap menghimbau. Ia merendah. Satu kali tidak digubris, ia berusaha lagi. Malah seakan-akan memohon belas kasihan para undangan: jangan biarkan pesta jadi rusak, hidangan sudah siap, lembu dan ternak piaraan sendiri telah dipotong (Mat 22:4).
Ketujuh, tetapi yang diundang semakin meninggikan diri, dan menjadi takabur, dan akhirnya malah membunuh pesuruh sang raja (Mat 22:5-6). Mereka tidak mau diganggu lagi. Mereka memutus hubungan. Terlihat betapa kerasnya penolakan terhadap ajakan untuk ikut serta dalam kesempatan yang sebenarnya bakal membuat siapa saja yang ikut semakin utuh hidupnya, semakin memasuki Kerajaan Surga!
Kedelapan, mereka yang menolak kehilangan dua hal. Pertama, rusaklah hubungan dengan raja yang bisa melindungi mereka. Kedua, mereka kehilangan kesempatan ikut pesta nikah yang meriah yang memiliki arti khusus tadi. Jadi mereka semakin menjauhkan diri dari kesempatan yang bakal membuat hidup mereka berarti. Mereka menjauh dari Kerajaan Surga.
Kesembilan, karena perjamuan nikah telah tersedia tetapi yang diundang tidak layak datang, maka sang raja menyuruh hamba-hambanya pergi ke “persimpangan jalan” dan membawa siapa saja yang mereka temui di sana ke perjamuan nikah tadi (Mat 22:8-9). Tak pilih bulu, siapa saja didatangkan. Dan pesta itu diselamatkan oleh kehadiran mereka-mereka ini (Mat 22:10).
Kesepuluh, yang dimaksud dengan “persimpangan jalan” (Mat 22:9a) adalah lapangan tempat orang biasanya berkumpul dengan macam-macam maksud: istirahat, menunggu kesempatan kerja, melewatkan waktu, berjualan, membeli – kegiatan sehari-hari yang bermacam-ragam. Kepada orang-orang yang berada di persimpangan jalan hidup itulah disampaikan ajakannya.
Kesebelas, pesta nikah itu terlaksana justru karena hadirnya orang-orang jalanan tadi. Kerajaan Surga semakin menjadi kenyataan karena dimasuki, dihuni, dikembangkan. Kepada pembaca diberikan ajakan yang amat kuat untuk ikut membuat kehidupan yang nyata ini semakin menjadi ujud dari Kerajaan Surga.
Kedua belas, dalam alam pikiran serta adat orang di Tanah Suci, “pakaian” memberi bentuk kepada orang yang memakainya sehingga dapat dikenali. Tidak mengenakan pakaian pesta (Mat 22:11b) berarti datang tanpa sungguh mau mengikuti pesta. Datang tanpa pakaian yang cocok berarti tidak membiarkan diri dikenal sebagai yang datang untuk tujuan itu. Komitmen setengah-setengah ini kurang dapat menjadikan hidup orang menjadi bagian dari hidup dalam Kerajaan Surga.
Ketiga belas, datang dengan mengenakan pakaian pesta berarti datang tanpa maksud atau tujuan lain. Yang bersangkutan akan dikenali sebagai orang yang hidupnya sedang berubah dari yang ada di persimpangan jalan menjadi dia yang hidup dalam perjamuan yang makin memanusiakan dan makin mendekatkan ke keilahian.
Dengan menggunakan ungkapan “Kerajaan Surga seumpama…” untuk membuka perumpaan ini, Yesus bermaksud membantu kita semua agar menyadari bagaimana cara Allah Yang Mahakuasa mengajak siapa saja ikut masuk ke dalam kehidupan-Nya, ke dalam keakraban dengan-Nya.
Dengan
menggunakan perumpamaan pesta nikah anaknya, dan raja mengajak orang ikut serta
dalam kegembiraan pesta tersebut, Yesus ingin menyampaikan pesan bahwa Allah
ingin berbagi kegembiraan dengan semua orang. Bahkan boleh dikatakan,
kegembiraan-Nya itu baru menjadi nyata bila ikut dirasakan oleh semua orang.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
Catatan: Berhubung Staf Seminari akan berlibur di luar kota dari 16 s/d 18 Oktober, 2026, maka pada 17 Oktober saya tidak akan menulis dan mengirim renungan.
3 October 2026
JANGAN MEREBUT YANG BUKAN MILIK KITA
JANGAN MEREBUT
YANG BUKAN MILIK KITA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat pagi. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-27 tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 21:33-43) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi menyampaikan sebuah perumpamaan mengenai pemilik kebun anggur yang menyewakannya kepada para petani. Ia mengharapkan akan menerima bagiannya pada waktu panen. Tetapi yang terjadi justru para petani itu ingin merebut kebun anggur tersebut setelah mereka membunuh para hamba dan bahkan anaknya sendiri yang diutus untuk memperoleh bagiannya.
Apakah makna perumpamaan ini bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil mebuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, bagian pertama perumpamaan ini (ay. 33b-39) mengingatkan kita akan kisah tentang kebun anggur yang tidak menghasilkan buah dalam kitab Nabi Yesus (Yes 5:1-7 – bacaan I). Dalam kisah itu sang nabi mengutarakan keluh kesah seorang pemilik kebun anggur yang merasa tidak berhasil membuat kebunnya menghasilkan buah yang baik meskipun tanahnya subur dan segala upaya telah dilakukannya (ay. 1b-2a). Ia juga telah mendirikan tempat pengelolaan hasil kebun yang tak kunjung datang itu (ay. 2b).
Kedua, dalam kisah tersebut di atas pohon anggur yang tidak memberi hasil memuaskan itu melambangkan umat Israel yang hidupnya tidak mengusahakan yang adil dan benar, mereka malah menjalankan kelaliman dan keonaran (ay. 7).
Ketiga, dalam perumpamaan yang diceritakan Yesus, diutarakan bahwa para penggarap yang jahat itulah yang membuat sang pemilik tidak mendapatkan hasil dari tanah miliknya (Mat 21:34-36). Mereka malah berusaha merebut hak milik sang empunya setelah membunuh anaknya (ay. 38-39).
Keempat, perkaranya berkembang dari “tidak ada hasil yang memuaskan” (Yes 5:2b) menjadi “hak milik yang direbut dengan kekerasan” (Mat 21:38-39).
Kelima, menurut alam pikiran [dalam Kitab Suci] Perjanjian Lama, hak atas tanah yang sah tidak boleh diganggu gugat. Bagi orang seperti Nabot, kebun anggur miliknya itu pusaka turun temurun yang tidak boleh diganggu gugat. Milik ini diberikan kepadanya secara sah; tidak dapat dijualbelikan dengan imbalan apa saja, apalagi direbut. (1 Raj 21:1-4b).
Keenam, masalah utama dalam kisah kebun anggur Nabot adalah kekerasan atau tindakan rudapaksa yang dilakukan raja untuk merebut hak milik Nabot (1 Raj 21:7-16). Kekerasan terhadap hak milik ditampilkan sebagai kejahatan yang melebihi batas apa pun.
Ketujuh, demikian pula dalam perumpamaan yang disampaikan Yesus ini, hak sang empunya lahan dirudapaksa oleh para penggarap. Para penggarap itu akhirnya membunuh ahliwarisnya untuk mendapatkan kebun anggur itu (Mat 21:38-39). Ini pelanggaran yang paling keras terhadap hak milik.
Kedelapan, sudah sejak awal, perumpamaan ini dibaca sebagai “alegori” atau kisah yang diterapkan pada orang atau keadaan tertentu. Dalam tafsiran alegori, kebun anggur akan dipandang mewakili umat. Hanya Tuhan Allah-lah yang memiliki umat-Nya. Ia memang mempercayakan pemeliharaannya kepada para pemimpin umat (Perjanjian Lama), yang dalam kisah ini tampil sebagai para penggarap yang ingin menguasai milik tuan tadi.
Kesembilan, para hamba adalah para nabi yang mendapat perlakuan buruk dari para pemimpin. Kemudian anak si empunya kebun tadi adalah Yesus sendiri. Para penggarap tadi merencanakan akan membunuhnya. Dan memang dalam perumpamaan tadi rencana itu dijalankan.
Kesepuluh, rupa-rupanya para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi langsung memahami perumpamaan tadi sebagai alegori seperti di atas. Dalam Mat 21:45 disebutkan bahwa mereka (bersama orang-orang Farisi) mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus dan mengerti bahwa merekalah yang dimaksud oleh Yesus. Mereka merasa diancam bakal mendapat hukuman dari Allah sendiri. Oleh karena itu mereka semakin bersikap memusuhi Yesus (ay. 46a).
Kesebelas, apakah Yesus sendiri bermaksud menggambarkan sikap para pemimpin bangsa Yahudi tadi sebagai para penggarap yang jahat dan bakal ditindak sang pemilik? Rasa-rasanya memang demikian. Para pemimpin itu baru saja mempertanyakan sah tidaknya kuasa Yesus yang dilihat banyak orang dan diakui orang sebagai berasal dari Allah (Mat 21:23 dst.).
Kedua belas, namun ada hal yang tidak dimengerti oleh para pemimpin tadi; yakni bahwa semuanya ini belum terjadi seperti diutarakan dalam perumpamaan. Mereka belum diadili oleh pemilik kebun anggur. Bahkan mereka belum sungguh-sungguh menyingkirkan anak pemilik tadi. Jadi sebenarnya masih ada waktu bagi mereka untuk berubah.
Ketiga belas, sangat disayangkan bahwa kesempatan [untuk berubah] itu tidak mereka lihat. Mereka sudah terbawa oleh rencana-rencana mereka sendiri dan tidak lagi memiliki kemerdekaan. Mereka tidak dapat memikirkan perumpamaan tadi sebagai perumpamaan yang juga memuat ajakan untuk berubah. Mereka hanya mengira ada rencana dari pihak Yesus untuk balas menyingkirkan mereka.
Keempat belas, kita pun tidak selalu perlu membaca perumpamaan Yesus kali ini sebagai alegori belaka demi tujuan mengkritik para pemimpin dalam masyarakat sekarang atau dalam Gereja! Kisah itu perlu juga didalami sebagai perumpamaan, sebagai pembicaraan yang mengajak kita semua untuk mengamati diri dan bertanya, apa yang dapat kita lakukan dalam keadaan yang kita alami.
Perumpamaan dalam Injil yang kita renungkan ini dapat amat berguna untuk memahami hidup rohani atau hidup batin kita. Seperti dalam kehidupan pada umumnya, dalam hidup batin/rohani ada unsur “rencana-rencana” dan ada pula unsur “kebetulan”. Kerap terjadi bahwa rencana tidak terlaksana, sering yang terjadi adalah yang kebetulan yang bisa lebih baik daripada yang diperhitungkan.
Hidup batin/rohani diberikan kepada kita sebagai peluang agar kita semakin menyadari sisi-sisi ilahi dalam hidup ini. Peluang agar kita membiarkan Tuhan memasuki kehidupan kita. Bisa ditelateni dan dikembangkan, tetapi tidak dapat diatur secara ketat menurut agenda sendiri. Hidup batin/rohani itu dipercayakan kepada kita untuk digarap, bukan untuk dimiliki, atau diklaim sebagai milik, sebab pemilik utamanya adalah Allah sendiri.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
26 September 2026
PENYESALAN YANG MEMBERIKAN “REZEKI HARI INI”
PENYESALAN
YANG MEMBERIKAN “REZEKI HARI INI”
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat pagi. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-26 Tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 21:28-32) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seorang ayah yang bergilir meminta dua orang anaknya berangkat bekerja di kebun anggur. Yang pertama mula-mula tidak bersedia, tetapi kemudian menyesal dan akhirnya menjalankannya. Yang kedua sebaliknya berkata “ya” tetapi tidak melakukannya.
Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, latar belakang dari perumpamaan ini adalah Yesus biasa mengajar di Bait Allah, seperti para tokoh agama lainnya. Di situ banyak orang mendengarkan-Nya. Dalam kesempatan itu datang juga imam-imam kepala serta tetua-tetua Yahudi. Suatu ketika mereka mempertanyakan, dengan kuasa mana Yesus melakukan “hal-hal itu” (Mat 21:23).
Kedua, para tokoh agama tersebut mau tahu apa dan siapa di belakang tindakan Yesus menyembuhkan, menerima murid, mengajar tentang Kerajaan Surga, mengusir roh jahat dari diri orang, dan menghibur orang yang kesusahaan. Maklum, orang banyak makin melihat karya Ilahi dalam diri Yesus.
Ketiga, para pemimpin agama sekaligus masyarakat Yahudi tadi menjadi waswas karena Yesus semakin populer. Mereka khawatir jangan-jangan Yesus mengadakan gerakan politik dengan warna gerakan agama. Mereka curiga bahwa yang dilakukan-Nya itu gerakan politik mengumpulkan massa dengan dalih keagamaan.
Keempat, memang para pemimpin Yahudi itu diserahi tanggung jawab moral oleh pemerintah Romawi untuk menjaga ketenangan di dalam masyarakat. Jangan sampai ada gejolak. Apalagi jangan sampai ada gerakan politik dengan warna agama. Bila terjadi, maka pemerintah Romawi akan bertindak dan akan makin membatasi kebebasan orang Yahudi.
Kelima, inilah yang dikhawatirkan para pemimpin Yahudi. Jika nanti Yesus dan pengikut-Nya dianggap mengadakan gerakan politik yang dibiarkan begitu saja oleh instansi agama, maka pemerintah Romawi tidak akan tinggal diam.
Keenam, dalam pembicaraan itu Yesus berkata, Ia bersedia menjelaskan dari mana kuasa-Nya asalkan mereka juga dapat menjawab satu pertanyaan dari-Nya (Mat 21:24). Ia balik bertanya apakah pada hemat mereka Yohanes tokoh yang membaptis banyak orang itu mendapat perkenan dari Allah (= “datang dari surga”) atau tindakan mencari pengikut belaka (= “dari manusia) [Mat 21:25).
Ketujuh, begitulah Yesus membuat para pemimpin itu menyadari sikap mendua dalam diri mereka sendiri mengenai Yohanes Pembaptis. Mereka tidak mau memberi jawaban jelas dan hanya berkata, “Kami tidak tahu!” (Mat 21:27a). Yesus pun menutup pembicaraan tadi dengan mengatakan karena mereka tidak dapat memberi jawaban, maka Ia pun tidak akan menjawab pertanyaan mereka, yaitu mengenai asal kekuasaan Yesus (Mat 21:27b).
Kedelapan, dengan cara itu Yesus ingin mengatakan kepada para pemimpin agama Yahudi itu: “Kalian tahu Yohanes menyuarakan seruan dari atas sana, tetapi kalian tidak berani mengakuinya terang-terangan. Begitulah sikap kalian kepada-Ku!”
Kesembilan, berlainan dengan para pemimpin Yahudi tadi, Yesus tidak menyembunyikan pendapat-Nya mengenai Yohanes Pembaptis. Ia berkata bahwa Yohanes “datang untuk menunjukkan jalan kebenaran” (Mat 21:32). Diakuinya penugasan Yohanes datangnya dari Allah sendiri.
Kesepuluh, perumpamaan ini dipakai untuk menunjukkan sikap yang kurang serius dari pimpinan masyarakat Yahudi dalam perkara-perkara kerohanian. Oleh karenanya, para “pemungut cukai” dan “pelacur”—yang mereka pandang rendah karena dianggap paling tidak taat pada ajaran agama—malah bakal lebih beruntung daripada mereka (Mat 21:31b) karena orang-orang ini berani berubah sikap. Mereka yang dianggap buruk itu percaya kepada warta pertobatan Yohanes Pembaptis (Mat 21:32b) sedangkan para pemimpin tidak percaya (Mat 21:32a). Para “pemungut cukai” dan “para pelacur” itu seperti “anak pertama”, sementara para pemimpin Yahudi itu seperti “anak kedua.”
Kesebelas, gagasan dasar dalam perumpamaan ini terungkap dalam kata “menyesal” (Mat 21:29). “Menyesal” berarti berani meninjau kembali niatnya dan memikirkan apakah tidak lebih baik menjalankan yang diminta dari pada bersikeras. “Menyesal” berarti “memikirkan kembali”, “meninjau kembali keputusan yang telah dibuat” dan “urung menjalankan yang sudah diniatkan”. Ada usaha untuk tidak membiarkan diri terpancang pada satu pandangan mati. Itulah yang terjadi pada anak yang pertama.
Kedua belas, makna “menyesal” tadi (catatan kesebelas) menjadi lebih jelas bila dibandingkan dengan anak yang kedua. Sebetulnya dia tidak pernah berniat berangkat bekerja di kebun anggur ayahnya. Ia hanya berbasa-basi mengatakan “Baik pak!” tetapi sebetulnya hanya ingin agar tidak diganggu lebih lanjut. Ia lebih berminat meneruskan yang sedang dikerjakannya. Ia juga tidak berminat mencari tahu mengapa ayahnya memintanya pergi bekerja di kebun anggurnya. Ia cuma mau membungkam ayahnya dengan sebuah janji. Ia tidak berpikir panjang mengenai tindakannya atau alasan permintaan ayahnya.
Ketiga belas, mari kita ikut menimbang-nimbang bagaimana sang ayah mengungkapkan keinginannya. Ia berkata, “Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur!” (Mat 21:28b). Kata-kata ini tidak berisi sebuah perintah keras, melainkan tawaran yang diungkapkan dengan halus. Terasa juga sapaan yang penuh kasih sayang. Sang ayah meminta anaknya bekerja di sana justru karena ia mau menawarkan sebuah kesempatan. Dan lebih khusus lagi, ia menawarkan kesempatan bekerja “hari ini”.
Keempat belas, tawaran bekerja di kebun anggur “hari ini” mengingatkan kita pada permintaan kepada Bapa dalam doa yang diajarkan Yesus: “Berilah kami rezeki pada hari ini” (Mat 6:11). Dalam perumpamaan ini ditunjukkan betapa sang ayah ingin memberi “rezeki” kepada anaknya pada “hari ini”.
Kelima belas, perumpamaan ini juga menggemakan tema kemurahan hati Allah yang ditawarkan kepada siapa saja tetapi yang tidak selalu diterima dengan serta merta. Dalam perumpamaan hari Minggu lalu (Mat 20:1-16) kemurahan hati ini dipersoalkan oleh mereka yang kurang memikirkan keadaan orang lain yang kurang seberuntung mereka.
Perumpamaan tentang dua anak, memperlihatkan bahwa “rezeki hari ini” ditawarkan kepada dua orang yang sebetulnya tahu apa itu kemurahan hati dan kebaikan ilahi. Tetapi hanya satu saja yang akhirnya mau menerimanya. Yang lain merasa tidak membutuhkannya.
Perumpamaan ini juga mengajak kita berpikir di mana kedudukan kita sekarang ini. Sekaligus ada imbauan untuk “menyesal”, untuk berubah bagi yang bersikap sebagai anak yang kedua, agar dapat memperoleh “rezeki hari ini.”
Teriring
salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
12 September 2026
PENGAMPUNAN DAN BELAS KASIH MEMBUAT KEHADIRAN KERAJAAN SURGA SEMAKIN NYATA
PENGAMPUNAN DAN BELAS KASIH MEMBUAT KEHADIRAN KERAJAAN SURGA
SEMAKIN NYATA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah, yang telah kita terima selama sepekan di tengah-tengah berbagai macam bencana yang mengancam kehidupan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-24 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 18:21-35) berkisah tentang berapa kali seorang murid Yesus harus mengampuni sesama yang bersalah kepadanya. Injil juga berbicara tentang hubungan antara pengampunan dan belaskasih dengan Kerajaan Surga.
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama
dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk
menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, ungkapan “7 kali” dan “70 kali 7 kali” dalam pembicaraan antara Petrus dan Yesus merupakan cara bertutur orang Yahudi dahulu untuk mengungkapkan cara pandang dan cara hidup mereka. Hal ini dilatari oleh Kitab Kejadian (Kej 4: 24) yang mengatakan bahwa membunuh nyawa Kain akan mendatangkan balasan “tujuh kali lipat”, tetapi kejahatan terhadap nyawa Lamekh, keturunan Kain, bakal dibalas bahkan sampai “tujuh puluh tujuh kali lipat.”
Kedua, “tujuh kali lipat” berarti “sampai penuh” dan “tujuh puluh tujuh kali lipat” berarti “tanpa batas.” Dengan ungkapan ini orang Perjanjian Lama menyadari bahwa kebiasaan balas dendam tidak boleh dilanjut-lanjutkan. Bila kebiasaan balas dendam dilakukan malah akan memperburuk keadaan.
Ketiga, pertanyaan Petrus kepada Yesus menggemakan upaya membatasi sikap balas dendam tadi. Petrus berpikir bahwa kalau seorang saudara melakukan kesalahan sampai “tujuh kali” (ay. 21b) masih bisa dimaafkan dan diampuni, tetapi lebih dari tujuh kali dianggap kelewat batas dan tidak perlu diampuni lagi!
Keempat, melalui jawaban yang diberikan kepada Petrus, Yesus mengajarkan bahwa semua itu tidak cukup. Orang mesti berani mengampuni sampai “tujuh puluh kali tujuh kali” (ay. 22); artinya, tidak berbatas. Malah tak usah memikirkan sampai mana. Sikap pengampun menjadi sikap hidup. Inilah yang mesti dimiliki oleh para murid Yesus.
Kelima, namun pusat perhatian Injil yang kita renungkan ini lebih dalam daripada mengampuni tanpa batas. Yang ingin diajarkan oleh Yesus adalah sikap pengampun dan belas kasih memungkinkan Kerajaan Surga menjadi nyata di muka bumi ini. Hal ini sebenarnya sudah jelas Ketika Yesus mengajarkan “Doa Bapa Kami” (Mat 6:9-13) kepada para murid-Nya.
Keenam, “Doa Bapa Kami” berawal dengan seruan pujian bagi
nama Allah Yang Mahakuasa sebagai Bapa (Mat 6:9b) dan diteruskan dengan
permohonan agar Kerajaan-Nya datang dan kehendak-Nya terlaksana (Mat 6:10), dan
permintaan agar diberi kekuatan cukup untuk hidup dari hari ke hari (Mat 6:11).
Dan baru setelah itu, dalam Mat 6:12, disampaikan permohonan agar “kesalahan kami
diampuni”, “seperti kami pun mengampuni
yang bersalah kepada kami.” Tampak jelas bahwa ukuran bagi dikabulkan tidaknya
permintaan ampun tadi adalah kesediaan mengampuni saudara yang kita rasa
bersalah terhadap kita.
Ketujuh, Injil yang kita renungkan ini juga memuat sebuah perumpamaan (ay. 23-35). Pada bagian pertama (ay. 23-27) digambarkan kebesaran seorang raja yang pengampun terhadap hambanya yang tidak dapat membayar hutangnya yang amat besar, yakni 10.000 talenta (ay. 24-25a). Satu talenta nilainya antara 6.000 hingga 10.000 dinar. Dan satu dinar adalah upah buruh harian sehari. Maka sepuluh ribu talenta itu jumlah yang amat besar, karena merupakan upah kerja buruh harian selama antara 60.000.000 sampai 100.000.000 hari; atau antara 164.383 sampai 273.972 tahun.
Kedelapan, dalam keadaan biasa hamba itu mesti dijual untuk menebus hutangnya, begitu juga anak dan istrinya serta seluruh harta miliknya (ay. 25b). Tetapi ia meminta kelonggaran dan mohon agar raja bersabar (ay. 26). Dan sang raja tergerak hatinya dan malah menghapus hutang yang besar itu (ay. 27). Raja itu sanggup merugi karena mau sungguh-sungguh menunjukkan belas kasih terhadap hamba yang berada dalam kesempitan itu.
Kesembilan, siapakah raja itu? Pada awal perumpamaan itu, disebutkan “Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja” (ay. 23). Dalam teks Injil Matius dipakai ungkapan “anthropos basileus” (Yunani: harfiahnya, “manusia yang berkedudukan sebagai raja” dan juga “raja yang tetap manusiawi”). Ungkapan itu mencerminkan gaya bahasa Semit, dan “manusia” di situ berarti “seorang”, tidak penting siapa. Bagaimanapun juga, hendak ditonjolkan bahwa tokoh yang bersangkutan itu adalah orang, manusia, seperti kita-kita ini, sesama yang bersedia menjadi saudara bagi orang lain, walau beda kedudukannya.
Kesepuluh, gagasan “raja” di atas (catatan ketujuh s/d kesembilan) bisa diterapkan kepada siapa saja yang mempunyai kuasa atas orang lain. Yang hendak ditampilkan adalah kebesaran orang yang berkedudukan. Makin tinggi kedudukannya makin patutlah ia menunjukkan kemurahan hati terhadap yang dibawahinya, karena pada dasarnya sama-sama manusia. Makin beruntung seseorang makin diharapkan dapat menyelami keadaan orang lain yang sedang bernasib malang. Makin seseorang beruntung makin boleh diharapkan sanggup merugi, sanggup kehilangan sebagian miliknya, sebesar apa pun, agar membuat orang lain (yang kurang beruntung) bisa ikut merasakan keberuntungannya. Itulah kebesarannya.
Kesebelas, cara berpikir demikian (catatan kesepuluh) ditonjolkan untuk menunjukkan adanya kesadaran bahwa setinggi apa pun, sekaya apa pun, orang tetap sesama bagi orang lain. Tetapi juga semalang apa pun, seterpuruk apa pun keadaan sosialnya, orang tetap bisa mengharapkan bantuan dari mereka yang lebih beruntung. Inilah yang bakal membuat Kerajaan Surga menjadi kenyataan di dunia ini juga.
Kedua belas, secara singkat, bagian pertama perumpamaan itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Kerajaan Surga dibangun atas dasar kesediaan mereka yang berkelebihan dalam berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Dimensi horisontal Kerajaan Surga digarisbawahi dengan jelas.
Ketiga belas, pada bagian kedua perumpamaan itu (ay. 28-30) muncul gambaran yang berkontras. Hamba yang dihapus hutangnya itu tidak mau meneruskan berbelaskasihan yang dialaminya kepada rekannya yang berhutang kepadanya hanya seratus dinar saja (ay. 28). Permintaan rekannya tidak digubris (ay. 29-30). Menarik bahwa tindakan bersujud dan permintaan kelonggaran rekannya ini (ay. 29) sama dengan yang dilakukannya sendiri di hadapan raja, majikannya tadi (ay. 26). Tetapi hal itu tidak menggerakkan hatinya. Ia tetap tidak mau berbagi keberuntungan (ay. 29). Rekannya malah dijebloskan ke dalam penjara sampai hutangnya dilunasi (ay. 30).
Keempat belas, dalam ay. 31 ada hal yang menarik. Rekan-rekan sekerja lain yang menyaksikan perlakuan kejam tadi menjadi sedih dan melaporkan kejadian itu kepada raja sang majikan hamba yang hutangnya dihapus tadi. Mereka berperan sebagai suara hati yang peka akan ke(tidak)adilan, peka akan kewajiban moral. Dan kepekaan ini menjadi keberanian bersuara mengungkapkan ketidakberesan.
Kelima belas, perumpaan berakhir dengan derita yang dialami oleh hamba yang kejam tadi. Ia tersiksa sampai melunasi hutangnya yang amat besar itu (ay. 34). Hal ini terjadi karena ia tidak mau bertindak seperti tuannya (ay. 33). Ia menolak menjadi saudara bagi rekan sekerjanya. Dan lebih dari itu, ia juga menolak menjadi saudara bagi tuannya sendiri.
Keenam belas, perumpamaan itu berakhir dengan perkataan: “Demikianlah juga yang akan diperbuat oleh Bapaku yang ada di surga terhadap kamu bila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (ay. 35). Terasa gema permintaan ampun dalam Doa Bapa Kami. Keikhlasan mengampuni kiranya menjadi tolok ukur integritas murid-murid Yesus. Ini menjadi cara hidup para pengikut-Nya.
Merenungkan Injil ini mengajak kita untuk berani membuka hati agar kita dapat mengalami pengalaman pengampunan dan belas kasih Alllah, agar pengalaman ini juga menjadi pola hidup kita. Sikap pengampun dan berbelas kasih memungkinkan kehadiran Kerajaan Surga dapat semakin dirasakan di muka bumi ini. Kerajaan Surga memang sudah datang, tetapi baru bertumbuh dan betul-betul bisa disebut membahagiakan bila yang mempercayainya juga ikut mengusahakannya, yakni dengan bersedia mengampuni dan berbagi keuntungan dengan mereka yang hidupnya kurang beruntung.
Selain itu, kita juga diundang untuk “menjadi suara hati”
yang peka terhadap ke(tidak)adilan dan berani menyuarakan ketidakberesan.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
5 September 2026
SALING MEMBERIKAN PERHATIAN AGAR BERTUMBUH DALAM IMAN
SALING
MEMBERIKAN PERHATIAN AGAR BERTUMBUH DALAM IMAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat sekaligus merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-23 tahun A dalam kalender liturgi, yang sekaligus merupakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Bacaan Injil (Mat 18:15-20) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekatisti bertutur tentang salah satu cara untuk membangun hidup bersama dalam komunitas beriman, yakni mengampuni saudara yang melakukan kesalahan.
Apa
maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang
dikomentari].
Pertama, Injil yang kita renungkan ini termasuk salah satu imbauan membangun umat yang didapati dalam Mat 18:1-35. Pertama-tama ditonjolkan pentingnya sikap tidak mementingkan diri sendiri (= bersikap sebagai “anak kecil” – Mat 18:1-5). Kedua, hukuman besar akan dialami orang yang kurang menghargai sikap ini (Mat 18:6-11). Ketiga, yang kehilangan arah hendaknya sungguh ditolong agar bisa berada bersama kembali bersama umat ( “domba yang hilang” perlu dicari sampai ditemukan – Mat 18:12-14). Keempat, oleh karena itu, perlu diusahakan agar yang salah ditegur dengan penuh perhatian (petikan hari ini – Mat 18:15-20). Akhirnya, kelima, juga perlu dipupuk sikap pengampun yang seikhlas-ikhlasnya (Mat 18:21-35).
Kedua, bahan petikan Injil yang kita renungkan ini diambil oleh penginjil Matius dari himpunan kata-kata Yesus yang beredar waktu itu dan diperluas dengan kenyataan yang ada di kalangan para murid yang berasal dari kalangan Yahudi tradisional. Tiga tahap memperingatkan kesalahan serta menegur saudara itu kiranya khas terjadi dalam umat Matius yang memang berlatarkan tradisi Yahudi.
Ketiga, upaya dalam umat untuk menyadarkan saudara yang melakukan kesalahan dilandasi oleh sikap peduli terhadap saudara seumat itu. Dengan demikian terbangun sikap saling percaya dan saling menopang secara moral. Inilah keutamaan yang dianggap lebih butuh dikembangkan di kalangan umat Matius.
Keempat, dalam bacaan Injil yang kita renungkan ini dipakai kata “saudara” (ay. 15) dan bukan “sesama”. Ungkapan “saudara” lebih berbicara mengenai lingkungan sendiri. Selain itu, juga lebih diutamakan sikap saling bertanggung jawab, saling mengurus kebaikan, saling memperhatikan kebutuhan seperti layaknya di antara anggota keluarga.
Kelima, sementara itu, ungkapan “sesama” berhubungan dengan kehidupan masyarakat yang mengutamakan solidaritas, kepentingan bersama, dan perlakuan terhadap orang lain sebagaimana diinginkan terjadi pada diri sendiri (bdk. Mat 22:39). Tetapi gagasan ini lebih diterapkan pada orang yang berada di luar kalangan sendiri.
Keenam, cara-cara menegur yang diikuti umat di sekitar Matius menunjukkan adanya keterbukaan satu sama lain. Karena itu, langkah pertama adalah mengajak bicara di bawah empat mata (ay. 15). Bila urusan selesai di situ, maka sudah cukup. Rasa saling percaya sudah terbangun. Tidak perlu melibatkan pihak-pihak lain sejak awal.
Ketujuh, tetapi bila yang bersalah tidak menggubris, perlu diambil langkah kedua, yakni perlu didatangkan seorang atau dua orang saksi atau lebih (ay. 16). Maksudnya agar yang bersalah menyadari bahwa perbuatannya memang tidak bisa dibenarkan bukan hanya berdasarkan pendapat satu orang saja. Ada kesempatan melihat kedudukan diri sendiri dengan lebih kritis.
Kedelapan, tetapi bila ia tetap tidak bersedia mendengarkan, maka persoalannya patut dibawa ke kalangan yang dapat memutuskan apakah cara hidupnya sebetulnya sudah tidak lagi cocok dengan cara hidup umat (ay. 17a). Ia boleh memeriksa diri apakah sepadan bila tetap bersikeras mempertahankan sikapnya sendiri dengan akibat malah memisahkan diri dari umat.
Kesembilan, orang yang tidak mau memperbaiki diri akhirnya dikatakan berlaku sebagai orang yang “tidak mengenal Allah” (ay. 17b). Dalam umat yang berlatar tradisi Yahudi, orang yang dianggap demikian sebenarnya sudah tidak termasuk umat lagi. Juga disebut “pemungut cukai” (ay. 17b), gambaran mengenai orang yang tega bekerja bagi kepentingan penindas umat. Itulah gambaran paling buruk yang dapat dibayangkan.
Kesepuluh, dalam langkah-langkah tadi (catatan keenam s/d kesembilan) jelas bahwa orang yang bersangkutan tetap diperlakukan sebagai orang dewasa. Meskipun demikian, ia juga diharapkan berani bertanggung jawab atas kelakuannya sendiri. Dengan cara ini bisa terbangun rasa saling percaya. Para anggota umat juga dapat saling menunjang. Itulah dinamika dalam umat yang dilayani Matius. Terlihat betapa Matius sedemikian mementingkan terbangunnya umat yang saling menunjang.
Kesebelas, dalam Mat 18:18 Yesus berkata: “Apa pun (jamak) yang kamu ikat di dunia akan terikat di surga dan apa pun yang kamu lepaskan di dunia akan terlepas di surga.” Kata “kamu” dalam ayat ini merujuk kepada mereka yang hidupnya sesuai dengan tujuan umat, yakni mengikuti Yesus dan oleh karenanya dapat memberi tuntunan kepada orang lain. Mereka juga diminta memperhatikan keadaan umat.
Kedua belas, kata “apa pun” (jamak) menunjukkan bahwa yang diikat atau dilepaskan bukanlah orang, melainkan perkara, tindakan atau sikapnya. Mengenai orang, nanti akan diajarkan bahwa pengampunan baginya tidak terbatas (Mat 18:21-22; lihat juga Luk 17:4).
Ketiga belas, pada akhir kutipan Injil yang kita renungkan ini masih ditambahkan, bila dua orang atau lebih memohon kepada Bapa, maka permintaan itu pasti akan dikabulkan (ay. 19-20). Gagasan yang mendasarinya adalah bila pendapat satu orang mengenai apa yang baik bagi kehidupan umat diterima oleh orang lain sebagai pendapat yang jujur dan bisa dipertanggungjawabkan, maka pendapat tadi dijamin sejalan dengan yang dikehendaki oleh Yesus sendiri. Dan permohonan yang diungkapkan dengan dasar ini pasti dikabulkan Bapa.
Keempat belas, permohonan bersama yang dikatakan pasti dikabulkan seperti di atas (catatan ketiga belas) tidak dapat dipisahkan dari sikap saling percaya. Digarisbawahi dimensi horizontal iman kepercayaan. Digarisbawahi betapa besar artinya hubungan antara “umat dan diriku”. Dimensi vertikal dari iman, hubungan antara “Tuhan dan diriku”, saja belum mencukupi.
Petikan Injil yang kita renungkan ini lebih luas dari pada sekadar mengajarkan cara-cara kongkret menegur kesalahan atau berprihatin tentang orang lain. Tujuan utama dari petikan ini adalah membangun komunitas pengikut Yesus yang saling menopang. Diketengahkan bagaimana umat dapat semakin dewasa berkat adanya perhatian terhadap satu sama lain, juga dalam menunjukkan kekurangan saudara.
Pelajaran lain yang dapat kita petik dari merenungkan Injil ini adalah bahwa iman bukanlah kesediaan meng-“iya”-kan begitu saja pernyataan-pernyataan doktrin/ajaran, bukan pula sekadar melaksanakan aturan-aturan secara ketat. Iman Kristiani itu memang sepenuhnya pemberian dari atas, seutuhnya anugerah ilahi, tetapi pertumbuhan yang utuh bergantung pada kesediaan manusia mengembangkannya bersama-sama dalam komunitas, dalam umat. Inilah kreativitas iman yang hidup.
Teriring
salam dan doa, Rm. Madya, S.J.