Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

2 May 2026

MENDENGARKAN SUARA DAN MENGIKUTI SANG GEMBALA YANG BAIK

MENDENGARKAN SUARA DAN MENGIKUTI SANG GEMBALA YANG BAIK

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta kelurga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah ke-4 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 10:1-10) berbicara tentang Yesus yang mengumpamakan Diri sebagai pintu sekaligus sebagai gembala bagi kawanan domba.

Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk memperhatikan ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, dalam teks Injil Yohanes dipakai kata Yunani “thura” untuk mengungkapkan pintu sebagai jalan masuk dan keluar kebun, rumah, dan kandang. Ada juga kata Yunani lain, yakni “pulee” untuk menjelaskan gerbang kota tempat orang berkumpul guna membicarakan urusan penting (Ul 21:19 25:7; Ams 31:23), untuk membawa perkara kepada penguasa setempat guna memperoleh keadilan (Mzm 69:13 127:5; Ayub 31:21; Amos 5:10). Dalam petikan Injil ini kedua gagasan itu sengaja ditumpang-tindihkan agar tampil gambaran mengenai gembala yang memperlakukan kawanan dengan baik.

Kedua, pintu dipakai untuk menutup jalan atau membiarkan orang melewatinya. Yang ditutup adalah jalan masuk bagi orang yang tidak berwenang (=pencuri; perampok), yang ingin mengambil begitu saja hak milik orang lain (ay. 1b). Hanya gembala yang bakal dibukakan pintu karena kawanan itu adalah miliknya (ay. 2-3).

Ketiga, pintu juga dipakai untuk membuka jalan. Yang dibuka adalah jalan keluar, ke padang rumput tempat kawanan ternak dipimpin oleh sang empunya (=gembala), bukan oleh orang sewaan.  Gembala ini membawa kawanan ternak itu ke tempat mereka bisa menikmati kesejahteraan (ay. 3b).

Keempat, Yesus menggambarkan Diri-Nya sebagai pintu yang tadinya belum ada (ay. 7b dan 9). Dengan cara itu, Yesus hendak mengajarkan bahwa kini telah mulai zaman baru. Zaman ancaman yang tidak dapat ditanggulangi sudah selesai. Kini ada pembatas jelas, yakni diri-Nya, sang pintu itu, sehingga pencuri tidak dapat masuk dan binatang buas tidak dapat memangsa domba-domba itu. Ia juga bakal membawa domba-domba ke padang rumput hijau, ke tempat sejahtera.

Kelima, memang masih akan ada ancaman dari mereka yang datang tanpa lewat pintu itu (ay. 1). Tetapi kawanan sudah tahu bahwa mereka itu tidak bermaksud baik (ay. 8). Mereka itu tidak mengenal kawanan satu persatu. Mereka hanya akan merampas dan membawa mereka ke pembantaian (ay. 10a), bukan ke padang rumput, sehingga kawanan akan melarikan diri dari orang itu (ay. 5).

Keenam, dikatakan bahwa gembala memanggil kawanan satu persatu menurut namanya (ay. 3b). Maksudnya, masing-masing domba dikenal oleh gembala yang empunya kawanan itu. Kawanan itu tidak diperlakukan secara anonim. Mereka tidak dianggap sebagai barang, melainkan sebagai pribadi. Hubungan antara pemilik/gembala dan kawanan adalah hubungan pribadi; hubungan saling mengenal yang memberi rasa aman, dan rasa percaya.

Ketujuh, juga dikatakan bahwa domba-domba itu mengikuti sang gembala (ay. 4b). Mengikuti bukan berarti meniru, melainkan meniti jalan yang dibuka oleh gembala, yang berjalan di muka mereka menuju ke padang rumput, ke kehidupan yang penuh kesejahteraan (ay. 10b).

Kedelapan, bagi orang zaman dulu, tiap pemimpin, entah itu raja atau Tuhan sendiri, digambarkan sebagai gembala yang baik. Dalam kitab nabi Yehezkiel Tuhan digambarkan sebagai gembala yang baik (Yeh 34:10-16), yang melawan gembala-gembala jahat, yakni pemimpin yang bertindak tidak adil dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri (Yeh 34:2b-8).

Kesembilan, dalam petikan dari Yoh 10:1-10 ini juga dimunculkan gambaran seorang pemimpin baik yang datang membawakan yang adil kepada umat yang berkumpul menantikan dan mengharap-harapkannya. Ini semua dimungkinkan dengan ibarat “pintu” dan “gembala” yang datang lewat pintu itu, yakni Yesus sendiri.

Merenungkan petikan Injil ini kita diundang untuk menjadi pemimpin yang baik; bukan dengan mengambil alih kedudukan Tuhan sebagai pemilik kawanan, melainkan dengan mengikuti Dia yang menyapa kawanan satu persatu dengan namanya (= membangun relasi yang menimbulkan rasa aman dan kepercayaan).

Sebagai seorang pemimpin dalam jemaat Kristiani, kita memiliki tanggungjawab untuk membantu agar jemaat dapat lebih melihat dan mengenal siapa yang berjalan di muka mereka dan mengikuti-Nya (ay. 4); yakni Yesus yang datang untuk memberi kehidupan yang berlimpah-limpah (ay. 10b).

 

Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

11 April 2026

MEMPERCAYAI KEBANGKITAN YESUS DAN MEWARTAKANNYA

MEMPERCAYAI KEBANGKITAN YESUS DAN MEWARTAKANNYA

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Paska II tahun A dalam kalender liturgi sekaligus Hari Minggu Kerahiman Illahi. Bacaan Injil (Yoh 20:19-31) yang akan kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi berkisah tentang Tomas yang mengalami kehadiran Allah dalam diri Yesus yang sudah dibangkitkan dari kematian oleh Allah.

Apa makna kisah ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, dalam Injil Yohanes, kebangkitan Yesus diwartakan untuk menjelaskan mengapa Yesus yang baru saja dimakamkan itu tidak lagi ditemukan di makam dan juga untuk menggambarkan bagaimana para murid tidak lagi merasa kehilangan Dia. Bahkan, kini kehadiran Yesus lebih mereka rasakan.

Kedua, para murid kini semakin merasa menjadi bagian dari Yesus yang sudah bangkit. Pengalaman ini mengubah hidup mereka dari yang dirundung ketakutan menjadi yang disertai kedamaian, dan dari keterkung-kungan menjadi penuh daya hidup.

Ketiga, penampakan Yesus belum dialami banyak orang lain. Barulah kelompok kecil itulah yang mengalaminya serta melihat bekas luka paku dan tusukan tombak (ay. 20).

Keempat, pembicaraan mengenai bekas luka ini dimaksud untuk mene-gaskan bahwa yang kini menampakkan diri itu sama dengan Dia yang telah meninggal di salib. Yang kini datang di tengah-tengah mereka itu bukan sekedar ingatan belaka. Orang-orang lain yang tidak hadir dalam peristiwa itu hanya dapat mendengar kesaksian mereka. Dan hal ini memang bukan perkara yang mudah.

Kelima, cerita tentang penampakan Yesus kepada Tomas (ay. 24-29) mengolah kesulitan ini (catatan keempat) dengan cara yang khas. Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan memintanya untuk meraba bekas luka-lukanya bila hal itu bakal membuatnya percaya (ay. 27).

Keenam, Tomas diminta oleh Yesus untuk membuat penilaian sendiri apa Dia yang kini datang itu sama dengan yang dulu diikutinya. Kepercayaan yang sedemikian besar dari pihak Yesus yang bangkit itu membuat Tomas mengenali-Nya. Saat itulah mata batin Tomas terbuka. Dengan melihat Yesus itu, [berarti] Tomas melihat Allah Yang Maha Tinggi yang mengutus Yesus ke dunia ini. Itulah sebabnya Tomas berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ay. 28). Tomas ingat akan Yesus sendiri yang dulu pernah mengatakan bahwa barangsiapa mengenal-Nya akan mengenali Bapa-Nya pula (Yoh 8:19; 14:7.9-11). Dan Bapanya itu adalah Allah.

Ketujuh, pada akhir peristiwa itu, Yesus berkata kepada Tomas: “Karena engkau melihat Aku maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (ay. 29). Walaupun kata-kata itu ditujukan kepada Tomas, tetapi isinya diperdengarkan kepada siapa saja, baik yang ada di situ waktu itu maupun kepada pembaca kisah tadi sepanjang masa.

Kedelapan, kata “melihat” memang memiliki makna khusus. Ada hubungan erat antara “melihat” dan “percaya” (ay. 29). Penginjil Yohanes menggarap hubungan antara “melihat” dan “percaya” dalam kisah pengalaman orang buta sejak lahir yang disembuhkan Yesus (Yoh 9: 1-41) dengan cara yang khas.

Kesembilan, pada awalnya orang itu hanya mengenali Yesus sebagai orang yang menyembuhkannya (Yoh 9:11), kemudian menegaskannya sebagai nabi (Yoh 9:17b), dan akhirnya ia bersujud dan percaya kepada-Nya (Yoh 9:38) sebagai “Anak Manusia” (Yoh 9:35b). Kisah penampakan Yesus kepada para murid dan kepada Tomas menunjukkan proses yang amat mirip. “Melihat” bisa berkembang menjadi persepsi batin dan membuat orang mengenali kebenaran lalu “percaya.”

Kesepuluh, tetapi bila “melihat” tidak berkembang, bisa jadi orang malah tidak dapat mempercayai apapun. Orang Farisi dalam kisah penyembuhan orang buta itu melihat tetapi tidak percaya. Hal ini juga terjadi ketika Kaum Farisi, para Imam Kepala, para ahli Kitab, dan Penatua bangsa Yahudi  “melihat” mukjijat yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes atas nama Yesus yang telah bangkit (Kis 3:1-10; 4:10), mereka tidak mau percaya (Kis 4:13-18; 21-22) Mengapa? Karena mereka tidak terbuka untuk mengakuinya, apalagi mempercayainya.

Kesebelas, dikisahkan dalam penampakan Yesus itu, Ia mengembusi para murid dengan Roh Kudus (ay. 22). Seperti dalam penciptaan manusia dulu (Kej 2:7), kini para murid menerima nafas kehidupan dari Yesus yang telah bangkit. Roh yang dihembuskan kepada para murid itu menggambarkan bagaimana Yesus kini berbagi kehidupan dengan para murid; artinya, kini mereka sungguh dapat menjadi anak-anak Allah.

Kedua belas, apa artinya “menjadi anak-anak Allah”? Penginjil Yohanes sendiri memberi penjelasan dalam Yoh 1:13; “anak-anak Allah” adalah orang-orang “yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani ... melainkan dari Allah.” “Hembusan nafas” yang diberikan oleh Yesus pada saat penampakan-Nya berpadanan dengan hembusan nafas kehidupan yang dilakukan oleh Allah kepada manusia yang baru saja dibentuknya dari debu dalam Kitab Kejadian (Kej 2:7). Dengan kata lain, dalam peristiwa penampakan Yesus kepada para murid itulah lahirlah kemanusiaan baru.

Ketiga belas, setelah mendapat kekuatan Roh-Nya, murid-murid diutus untuk mengujudkan kepercayaan mereka kepada Bapa-Nya (ay. 21). Mereka diutus untuk menjadi makhluk yang bisa mengalami Yang Mahakuasa sebagai yang penuh kerahiman seorang Bapa dan berbagi pengalaman ini dengan sesama. Inilah makna dari ungkapan “mengampuni dosa orang” (ay. 23).

Merenungkan petikan Injil ini mengajak kita untuk menyadari bahwa Yesus yang telah bangkit itu sedemikian menghormati kemerdekaan Tomas dan semua orang. Dia yang bangkit itu mempercayakan Diri kepada manusia agar dikenali dalam hidup mereka, dan kemudian diwartakan dalam cara hidup mereka. Caranya, seperti diteladankan oleh cara hidup Jemaat Perdana (Kis 2:42-47). 

Cara hidup Jemaat Perdana menekankan dua pokok yang sama pentingnya. Pertama, kesaksian para rasul yang dituruntemurunkan dalam suasana ibadat (ay. 42. 46. 47a). Kedua, kepekaan dan kepedulian sosial terhadap sesama anggota jemaat dan masyarakat di sekitar (ay. 44-45), termasuk di dalamnya kemampuan untuk hidup damai bersama dengan orang-orang yang mempunyai kepercayaan serta cara hidup yang lain (ay. 47a).

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

3 April 2026

TUHAN TELAH BANGKIT

TUHAN TELAH BANGKIT

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda bersama keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda sudah bisa merayakan Minggu Palma, Kamis Putih, dan Jum’at Agung dengan penuh makna.

Besok malam dan hari Minggu kita akan merayakan Kebangkitan Tuhan Yesus. Apa makna perayaan ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan besama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, Injil yang dibacakan dalam perayaan Malam Paskah (Mat 28:1-10), dan hari Minggu Paskah (pagi: Yoh 20:1-9; sore: Luk 24: 13-35) memuat warta tentang kebangkitan Yesus. Namun, bagaimana kebangkitan itu terjadi, dengan cara apa, kapan persisnya, serta apa gelagat yang menyertainya, tidak ada yang melihatnya sendiri. Juga tidak ada laporan pandangan mata mengenai peristiwa kebangkitan itu sendiri.

Kedua, kisah-kisah Injil tentang kebangkitan Yesus memuat dua pokok yang mendasari munculnya kepercayaan bahwa Yesus telah bangkit, yakni (1) makam yang kosong, artinya, Yesus tidak ada di antara orang mati lagi; Ia telah bangkit,  dan (2) keyakinan serta kesaksian orang-orang yang terdekat dengan Yesus bahwa Ia tidak lagi berada di antara orang mati. Kesaksian mereka itu kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan kisah-kisah penampakan Yesus yang telah bangkit itu.

Ketiga, kisah-kisah penampakan Yesus seperti diceritakan dalam Perjanjian Baru memuat tiga unsur utama, yakni:

Pertama, yang mendapat penampakan tidak segera mengenali Tuhan yang sedang menampakkan diri. Kedua murid dalam perjalanan ke Emaus mengira sedang berbicara dengan musafir yang tidak tahu apa yang baru terjadi di Yerusalem (Luk 24:13-35, terutama ay. 18); Maria Magdalena mengira bertemu dengan penunggu taman (Yoh 20:11-18, terutama ay. 15); murid-murid yang menjala ikan di Tiberias tidak tahu siapa sosok yang menunggu mereka di pantai (Yoh 21:1-14, periksa ay. 4); bahkan dalam kesempatan lain murid-murid mengira Yesus itu hantu (Luk 24:36-37, terutama ay. 37). Dalam keadaan itu, Tuhan Yesus membantu mereka agar mengerti apa yang sedang mereka alami dengan melakukan dialog dengan mereka.

Kedua, dialog antara Tuhan dengan orang yang mendapat penampakan bisa terjadi sepanjang hari (dua murid dalam perjalanan ke Emaus), bisa juga hanya sekilas (Saulus dalam Kis 9:3-6), tetapi dapat juga terjadi berulang-ulang dalam masa 40 hari (Kis 1:3b). Bagaimanapun juga, hubungan yang terbangun dalam dialog ini mengarah pada perubahan yang besar dan mantap dalam diri orang yang bersangkutan.

Ketiga, penampakan membuat orang mulai memberikan kesaksian. Namun demikian, kesaksian ini bukan mengenai penampakan itu sendiri, melainkan mengenai sebuah pokok kepercayaan, yakni (1) Yesus bangkit (Mrk 16:9-20, terutama ay. 20; Yoh 20:18, perhatikan secara khusus bagian kedua ayat 18 ini); (2) Yesus yang bangkit itu sungguh ada di tengah-tengah para murid (Luk 24:34-35, terutama ay. 35, juga ay. 48); dan (3) penampakan menjadi titik balik kehidupan orang yang menerima penampakan (Saulus menjadi Paulus sang rasul).

Keempat, penginjil Matius menekankan bahwa Yesus kini sungguh-sungguh hidup dan murid-murid dipesan agar pergi ke Galilea dan di sana mereka akan melihat-Nya. Di sanalah para murid yang kini masih tercerai berai dan bersembunyi itu dapat berkumpul kembali dengan Yesus dan mengawali hidup sebagai murid dengan cara baru.

Kelima, sementara ini hanya murid-murid perempuan sajalah yang masih bisa menjadi penghubung di antara para murid. Lewat para perempuan inilah kelompok-kelompok yang terpisah-pisah tadi dikumpulkan kembali. Gagasan ini juga diungkapkan penginjil Markus (Mrk 16:7).

Keenam, penginjil Lukas agak berbeda walau maksudnya sama. Baginya tempat yang memberi hidup baru itu adalah Yerusalem. Tetapi setelah kebangkitan Yesus, Yerusalem berubah dari kota yang menolak-Nya menjadi kumpulan orang yang menerima kehadiran-Nya.


Ketujuh, penginjil Yohanes tidak jelas-jelas menyebut nama tempat itu. Ia hanya mencatat bahwa para murid berkumpul dalam rasa takut akan dikejar-kejar para penguasa Yahudi (Yoh 20:19). Tetapi pada saat-saat itulah Yesus menampakkan diri kepada mereka dan memberi kekuatan dengan meniupkan Roh (ayat 22-23).

 

Kedelapan, dari kisah yang dipaparkan oleh keempat penginjil kita dapat tahu bahwa tempat kegelisahan—entah itu Galilea atau Yerusalem atau tempat mana pun—dengan kebangkitan Kristus diubah menjadi tempat damai. Yang diwartakan Injil adalah suasana rohani yang memungkinkan orang berkumpul kembali dalam suasana damai dan memperoleh kekuatan dari Guru mereka, yang telah bangkit itu, untuk membangun hidup baru.

 

Merayakan Paskah dan merenungkan kisah kebangkitan Yesus mengundang kita untuk menyadari bahwa “kegagalan hidup” tidak perlu menjadi peristiwa yang menakutkan, karena Yesus yang telah bangkit akan menjumpai dan menemani kita untuk membangunnya kembali menjadi hidup baru, yang dipenuhi dengan rasa damai.

 

Selamat Paskah, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

1 April 2026

MENJADI PRIBADI DAN KOMUNITAS EKARISTIK

MENJADI PRIBADI DAN KOMUNITAS EKARISTIK

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik.

Besok malam kita akan merayakan Hari Raya Kamis Putih. Apa makna perayaan ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, Hari Raya Kamis Putih memperingati saat Tuhan Yesus mengadakan perjamuan terakhir bersama para murid-Nya sebelum Ia diserahkan kepada para pemuka bangsa Yahudi untuk diadili dan dihukum mati di kayu salib.

Kedua, pemberian diri Yesus kepada para murid-Nya dan seluruh dunia pada perjamuan tertakhir itu dan yang memuncak pada kematian-Nya di kayu salib demi keselamatan seluruh umat manusia, dikenangkan oleh Gereja Katolik dalam Perayaan Ekaristi.

Ketiga, pada kesempatan ini saya ingin mengupas bagian dari Perayaan Ekaristi yang sering dilupakan, yakni Pengutusan. Aspek “pengutusan” ini semakin terbenam lenyap ketika para imam yang memimpin Perayaan Ekaristi selalu mengakhiri perayaan tersebut dengan memilih “rumusan pertama”: Pergilah Misa Sudah selesai! Padahal dalam TPE 2021 halaman 248-249 ada empat rumusan.

Keempat, lima tahun (pada 2010) setelah “Tata Perayaan Ekaristi (TPE) Baru 2005” diberlakukan, begitu banyak paroki—khususnya di Keuskupan Agung Jakarta pada waktu itu—menghabiskan begitu banyak waktu, energi, dan biaya untuk melalukan “sosialisasi” TPE; sementara itu, makna Perayaan Ekaristi sendiri tidak pernah dibahas.

Kelima, pada 2010 saya sudah 27 tahun titahbiskan menjadi iman. Itu berarti saya sudah memimpin Perayaan Ekaristi paling sedikit 9.855 kali. Tetapi mengapa tidak ada perubahan signifikan, baik dalam hidup saya maupun umat beriman yang merayakan Ekaristi yang saya pimpin. Kenyataan ini sangat menggelisahkan saya.

Keenam, kegelisahan itu mendorong saya untuk mempelajari dokumen-dokumen Gereja yang ada kaitannya dengan Perayaan Ekaristi; yakni (1) Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium (SC –1963); (2) Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja, Lumen Gentium (LG –1964); (3) Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam Prebyterorum Ordinis (PO – 1965); (4) Ensiklik Ecclesia de Eucharistia (EE) dari Paus Yohanes Paulus II (2003); (5) Surat Apostolik Mane Nobiscum Domine (MD) untuk Tahun Ekaristi dari Paus Yohanes Paulus II (2004); (6) Anjuran Apostolik Pasca Sinode, Sacramentum Caritatis, dari Paus Benediktus XVI (2007); (7) Pesan Federasi Para Waligereja Asia dalam Sidang Paripurna ke-9 (2009) tentang Menghayati Ekarisi di Asia, dan (8) Surat Anjuran Apostolik Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium (EG – 2013).

Ketujuh, sumber-sumber di atas diperkaya dengan karya tulis beberapa teolog kenamaan, antara lain (1) Kenan B. Osborne, OFM; (2) Raymond Moloney, S.J.; (3) Mgr. I. Suharyo; (4) Gustavo Gutiérrez; dan (5) Dennis C. Smolarski, S.J.

Kedelapan, dari hasil studi tersebut saya temukan bahwa aspek “pengutusan” dari Perayaan Ekaristi sering dilupakan. Banyak orang mengira bahwa Perayaan Ekaristi sudah selesai ketika berkat diberikan oleh imam yang memimpin perayaan tersebut. Namun, dari sumber-sumber studi tersebut Perayaan Ekaristi tidak berhenti ketika berkat diterima, melainkan perlu dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari; yakni—meminjam istilah yang digunakan oleh Paus Yohanes Paulus II—menjadi pribadi dan komunitas Ekaristik (EE 20 & 39).

Kesembilan, menjadi pribadi dan komunitas Ekaristik dapat diwujudkan dengan empat cara secara bersamaan (MD 27 & 28); yaitu di mana pun dan dalam situasi apapun kita perlu (1) menjadi promotor diwujudkannya persaudaraan sejati (komunio); (2) menjadi promotor diwujudkannya perdamaian; (3) mencari jalan keluar untuk mengatasi salah satu bentuk kemiskinan yang ada di sekitar kita; dan (4) mewujudkan solidaritas.

Kesepuluh, solidaritas menurut Paus Fransiskus (EG 192) dapat diwujudkan melalui empat cara, yakni (1) memastikan bahwa setiap orang mendapatkan “makanan yang bermartabat” (penulis: sehat dan bergizi); (2) membantu agar setiap orang muda mendapat pendidikan yang bermutu; (3) mengupayakan agar setiap orang dapat memperoleh layanan kesehatan yang memadai; dan (4) mengusahakan serta membantu agar setiap orang dapat memperoleh pekerjaan dengan upah yang adil.

Kesebelas, yang dimaksudkan dengan upah yang adil adalah upah yang mencukupi untuk membiayai hidupnya sendiri, hidup keluarganya, dan masih ada sisa yang dapat disumbangkan bagi pembangunan masyarakat tempat orang tersebut merupakan bagiannya.

Kedua belas, hanya dengan melaksanan “pengutusan”, menjadi pribadi dan komunitas Ekaristik dengan sungguh-sungguh, perayaan Ekaristi kita sungguh otentik dan dunia dapat diubah sesuai dengan nilai-nilai Injil (MD 28) sehingga dunia menjadi lebih adil dan bersaudara (Paus Benediktus XVI), dan setiap orang sungguh memiliki hidup yang bermartabat.

Merayakan Kamis Putih mengajak kita untuk mengenang Yesus Kristus yang memberikan hidup-Nya agar seluruh dunia dapat diselamatkan, agar semua orang dapat memiliki hidup dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10b). Pemberian diri Yesus yang demikian ini dapat kita lanjutkan dengan merayakan Ekaristi yang mendorong kita untuk menjadi pribadi dan komunitas Ekaristik. Semoga kita dimampukan oleh Roh Allah untuk melaksakannya.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

29 March 2026

SETIA PADA JALAN YANG TELAH DIPILIH

SETIA PADA JALAN YANG TELAH DIPILIH

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan guna beristirahat sejenak dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan, sekaligus menyiapkan diri untuk memasuki hari pertama Pekan Suci.

Besok kita akan merayakan hari raya Minggu Palma, hari pertama Pekan Suci. Ada dua bacaan Injil yang akan kita dengarkan dalam perayaan tersebut. Yang pertama, Mat 21:1-11, mengingatkan peristiwa sambutan meriah bagi Yesus yang datang di Yerusalem sebagai seorang raja yang lemah lembut.  

Yang kedua, Mat 26:14-27:66, tentang kisah sengsara Yesus. Kisah ini diawali dengan pengkhianatan Yudas pada hari Rabu (Mat 26:14-16) dan berlanjut hingga Kamis petang (26:17-75: perjamuan malam, penangkapan Yesus dan persidangan di Sanhedrin, serta penyangkalan Petrus), diikuti dengan kejadian pada hari Jumat (27:1-61: penetapan hukuman bagi Yesus, penyaliban dan wafat-Nya, serta penguburan-Nya), dan Sabtu (27:62-66: penjagaan kubur).

Apa makna kedua kisah ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, menurut Mat 21:5, kedatangan Yesus di Yerusalem itu merupakan peristiwa yang telah dinubuatkan nabi Zakharia (Za 9:9): “Katakanlah kepada putri Sion (= Yerusalem beserta penghuninya): Lihat Rajamu datang kepadamu. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina dan seekor keledai beban yang muda.”

Kedua, diceritakan dalam ay. 5b dan 7 bahwa Yesus mengendarai dua ekor keledai sekaligus. Ungkapan ini digunakan oleh penginjil Matius untuk menjelaskan pandangan orang-orang zaman itu tentang Mesias yang mendatangi mereka. Ia adalah pribadi yang memiliki dua sifat sekaligus. Yang pertama, wibawa seorang raja. Dalam teks Zakharia (Za 9:9) digunakan istilah “adil dan jaya”. Ungkapan ini tidak dicantumkan oleh Matius dalam Injilnya, karena semua pendengarnya sudah memahaminya. Sifat yang kedua adalah “lemah lembut”; artinya, yang dapat memahami kerapuhan manusia.

Ketiga, lebih sukar mengendarai keledai daripada tunggangan lain—apalagi dua ekor keledai sekaligus yang belum pernah ditunggangi orang!—karena keledai biasanya bukan hewan penurut dan tidak berjalan cepat. Hanya orang yang “pintar” sajalah yang bisa mengendarainya tanpa ada yang menggiringnya di muka.

Keempat, kini Yesus memasuki Yerusalem mengendarai dua ekor keledai, sebagai orang yang tahu mengarahkan tunggangan yang sukar ini. Yang hendak dikatakan oleh penginjil Matius adalah Yesus itu orang yang penuh kearifan. Ia dapat menyatukan kejayaan dan kelemahlembutan.

Kelima, orang-orang menghamparkan pakaian di jalan ketika Yesus lewat (ay. 8a). Tindakan ini memiliki dua makna. Pertama, Yesus yang lewat itu pasti tidak akan menjejak tanah, yang kerap dipakai untuk menggambarkan kerapuhan serta kelemahan manusiawi. Yang mendatangi Yerusalem ini adalah raja yang mengatasi kelemahan dengan kebijaksanaan yang lembut tetapi berwibawa. Kedua, tindakan menghamparkan pakaian itu juga menggambarkan kesediaan orang-orang itu untuk tunduk kepada Dia yang sedang mendatangi mereka dengan kebijaksanaan-Nya itu.

Keenam, dengan menghamparkan pakaian di jalan, orang-orang itu menyatakan diri untuk tunduk kepada Yesus. Hal itu terjadi karena saat itu kekuatan kegelapan yang mengancam Yesus belum bertindak. Ketika kekuatan-kekuatan ini tampil, orang-orang yang menyambut kedatangan Yesus dan menyatakan diri tunduk kepada-Nya itu nanti juga akan ikut meneriakkan kematian bagi-Nya (Mat 27:22b & 23b).

Ketujuh, kekuatan kegelapan yang melawan Yesus ini terlihat begitu besar dan mengerikan. Sedemikian kuatnya sehingga dapat menembus sampai ke lingkungan yang paling dekat dengan Yesus sendiri, yakni Yudas (Mat 26:14-16; 47-49).

Kedelapan, kisah sengsara menurut Matius terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah Mat 26:14-27:10. Bagian ini berawal dan berakhir dengan episode Yudas, yakni Mat 26:14-16 (Yudas menjual Yesus kepada imam-imam kepala) dan 27:3-10 (Yudas mengembalikan 30 perak yang diterimanya dari mereka, lalu menggantung diri).

Kesembilan, bagian kedua Kisah Sengsara berawal dengan peran Pilatus (menahan Yesus dan melepaskan Barabas atas desakan imam-imam kepala, Mat 27:11-26) dan berakhir dengan tindakan Pilatus (juga atas permintaan imam-imam kepala) yang mengirim penjaga ke kubur agar jenazah Yesus tidak diambil murid-murid-Nya pada hari ketiga (Mat 27:65-66).

Kesepuluh, pada akhir hidup-Nya, kehidupan Yesus memang dijungkir-balikkan oleh Yudas dan Pilatus. Namun pemeran utama dalam peristiwa itu sebenarnya bukan mereka berdua, melainkan “para imam kepala, orang Farisi, dan tetua-tetua Yahudi.” Mereka ini membadankan (merupakan wujud dari) kekuatan-kekuatan kegelapan yang hendak membatasi gerak Yesus sebagai utusan Allah yang datang ke Yerusalem itu. Yudas dan Pilatus hanyalah sekadar menjadi tangan kotor para pemimpin bangsa Yahudi tersebut.

Kesebelas, di balik kisah tragis Yudas terdapat misteri tindakan Allah bila dilihat bagaimana Yesus menanggapinya. Ketika Yesus mengumumkan dalam perjamuan malam bahwa di antara yang hadir ada yang bakal menyerahkan-Nya, Yesus tidak menuduh siapapun. Bahkan ketika Yudas ikut bertanya apakah dia itu orangnya, jawab Yesus hanyalah “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:25). Kata-kata ini maksudnya sama dengan “Coba pikirkan apa sebenarnya yang sedang kaulakukan ini!” Yudas diajak untuk menyadari apakah yang sedang dilakukannya itu memang benar.

Kedua belas, Yudas sebenarnya orang yang terlalu naif. Ia ingin menda-patkan relasi dengan kaum berkuasa, bukan untuk mencelakakan Yesus, melainkan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Dalam hati kecil ia berangan-angan bahwa Yesus itu orang yang luar biasa sehingga akan dapat menghindari penangkapan dan konsekuensi lebih jauh.

Ketiga belas, Yudas mempunyai persepsi sendiri mengenai siapa Yesus itu. Inilah yang membuat Yudas celaka. Ia adalah salah satu orang yang terdekat dengan Yesus tetapi tidak mau melihat siapa Dia sesungguhnya, dan makin menutup hati dan pikiran sendiri.

Keempat belas, Yesus telah tiga kali mewartakan bahwa Ia akan mengalami sengsara dan mati serta bangkit. Itu jalannya. Murid-murid tidak memahami hal itu. Juga Yudas. Tetapi Yudas bukan hanya tidak memahami, melainkan bertindak gegabah menolak untuk memahami Dia. Ia mau mendapatkan keuntungan dengan perhitungan sendiri. Dengan demikian ia menyepelekan kebijaksanaan ilahi.

Kelima belas, Yesus berkata bahwa yang terjadi pada Anak Manusia (=Yesus),  sesuai dengan yang dituliskan tentang Dia, tetapi celakalah orang (= Yudas) yang olehnya Dia diserahkan. Lebih baik baginya sekiranya ia tidak dilahirkan (Mat 26:24). Artinya, tindakan Yudas itu sebetulnya tidak bakal mengubah jalan yang sedang ditempuh Yesus.

Keenam belas, Yudas mengklaim bagi dirinya sendiri perkara yang sedang ditindakkan (=dilaksanakan) oleh Yang Mahakuasa! Tragisnya, Yudas tidak menyadari hal ini. Ia baru terbangun ketika sudah terlambat. Dan sekali lagi ia masih mengira bahwa ia dapat mengurungkan yang terjadi dengan mengembalikan 30 perak yang diperolehnya (Mat 27:3-5a). Ia makin terkurung dalam dirinya sendiri dan mengakhiri hidupnya secara tragis (Mat 27:5b).

Ketujuh belas, orang bisa memungkiri Yesus seperti yang dilakukan Petrus (Mat 26:69-75) atau meninggalkannya seperti murid-murid lain (Mat 26:56b), tetapi mereka tidak mendahului tindakan Allah. Mereka itu bisa ditolong dan kembali. Tetapi Yudas [atau siapapun] yang mendahului tindakan Allah atau mau mengurungkannya tidak bakal tertolong.

Kedelapan belas, disebutkan dalam bagian kedua Kisah Sengsara bahwa istri Pilatus semalaman gelisah bermimpi dan keesokan harinya mengirim pesan kepada suaminya agar jangan mencampuri perkara “orang yang benar” itu (27:19). Ini isyarat dari penginjil Matius bagi pembaca Injilnya agar menengok kembali ke belakang, ke nasib tragis Yudas. Dengan menyerahkan Yesus sebetulnya Yudas “mencampuri perkara orang yang benar” dan mendapat celaka.

Kesembilan belas, sekaligus pembaca diajak memeriksa dari dekat apakah Pilatus betul-betul “mencampuri perkara orang benar” ini dan sejauh mana. Sekalipun ia ikut campur, namun semua yang terjadi pada Yesus sebetulnya terjadi bukan karena Pilatus. Malah dalam seluruh bagian kedua kisah sengsara itu (Mat 27:12-26 & 62-65) Matius memperlihatkan betapa konyolnya sang penguasa itu. Ia membiarkan diri dimanipulasi oleh pemuka-pemuka bangsa Yahudi.

Merenungkan dua buah kutipan Injil yang diwartakan dalam perayaan Minggu Palma ini, kita semakin memahami bahwa Yesus tetap setia pada jalan-Nya. Baginya tetap berlaku gambaran yang bertumpang-tindih antara “raja yang jaya” dan “kelembutan hati” yang membuat-Nya rapuh di hadapan kekuatan-kekuatan kegelapan yang sedang berusaha menjungkirbalikkan hidup-Nya dengan mempergunakan baik Yudas maupun Pilatus. Tetapi Yesus tetap berada di dalam garis kebijaksanaan Allah hingga akhir. Inilah kebesaran Yesus sebagai utusan Allah yang dirayakan selama Pekan Suci ini.

Semoga kita dianugerahi kesetiaan seperti Yesus.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


 

Lihat selengkapnya

23 March 2026

MENEMUKAN UNGKAPAN IMAN YANG TEPAT

MENEMUKAN UNGKAPAN IMAN YANG TEPAT

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat serta mensyukuri segala rahmat Allah bersama dengan saudari dan saudara Muslim dan Muslimat, yang hari ini merayakan Hari Raya Id’ul Fitri.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Prapaskah ke-5 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 11:1-45) yang akan kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi besok bercerita tentang Lazarus, saudara Marta dan Maria, yang telah empat hari berada di liang kubur dan dihidupkan kembali oleh Yesus.

Apa makna dari cerita ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, waktu itu Yesus sedang berada di seberang sungai Yordan, di luar wilayah Yudea, karena menyingkiri orang-orang yang mau merajam-Nya di wilayah Bait Allah (lihat Yoh 10:31. 39 dan 40).

Kedua, dari Betania dekat Yerusalem datanglah kabar mengenai Lazarus yang sedang sakit (ay. 1a & 3). Orang ini adalah saudara Maria dan Marta, kenalan baik dan murid Yesus dari kalangan yang lebih luas (ay. 1b & 2).

Ketiga, ketika mendengar berita mengenai sakitnya Lazarus, Yesus masih tinggal dua hari lagi di tempat Ia berada (ay. 6). Maksudnya, Ia menanti “saat yang tepat” untuk mengajak murid-murid ke Yudea (ay. 7). Yesus bertindak sesuai dengan saat Allah sendiri bertindak dan dengan demikian dapat menjadi tanda kehadiran-Nya di dunia ini (ay. 4 & 42).

Keempat, perlu kita ingat bahwa tujuan utama perjalanan Yesus ialah “ke Yudea” (ay. 7), yakni menyongsong hari-hari Ia ditolak, ditangkap, dan disalibkan, tetapi juga dibangkitkan oleh Bapa-Nya (Yoh 18:1 s/d 20:10). Dalam rangka itulah Yesus pergi mendapati Lazatus, sahabatnya, yang telah meninggal.

Kelima, Yesus pergi “ke Yudea” sebagai “terang dunia” yang dibutuhkan agar orang tetap lurus berjalan; tanpa Dia orang akan tersandung jatuh dalam kegelapan (ay. 9-10). Mengenai Yesus sebagai “terang”, silakan melihat kembali renungan minggu yang lalu (catatan kelima dan keenam).

Keenam, baik Marta maupun Maria berkata bahwa seandainya Yesus ada di situ pastilah saudara mereka tidak mati (ay. 21 dan 32). Ini adalah ungkapan kepercayaan yang tebal tanpa meremehkan perasaan menyesalkan kenapa Dia tidak ada di situ pada saat-saat mereka membutuhkannya.

Ketujuh, Lazarus adalah orang “yang dikasihi” Yesus (ay. 5 & 36). Artinya, yang rela menerima janji Yesus dan dengan demikian Yesus bertanggung jawab mengenai dia di hadapan Yang Mahakuasa, yakni Bapa-Nya. Karenanya, Yesus mengatakan kepada Marta bahwa Lazarus akan bangkit (ay. 23). Yesus sendiri akan membawa hal ini ke hadapan Bapa-Nya seperti dilakukan-Nya nanti (ay. 41-42).

Kedelapan, Marta tidak segera menangkap yang dikatakan oleh Yesus (ay. 24). Yesus kembali menegaskan bahwa Dia sendirilah kebangkitan (ay. 25-26). Setelah mendengar pernyataan Yesus itu, Marta berani memper-cayainya. Ia menegaskan bahwa Yesus itu “Mesias, Anak Allah, yang datang ke dalam dunia” (ay. 27). Maksudnya, Dia itu adalah orang yang diberi kuasa Ilahi dan amat dekat dengan Allah sendiri, dan akan selalu hadir di antara manusia dengan segala suka dukanya.

Kesembilan, tiga gelar (“Mesias”, “Anak Allah”, dan “datang ke dalam dunia”) yang dimiliki oleh Yesus—dan yang diungkapkan oleh Marta—itu mengungkapkan kesadaran akan siapa Yesus yang masih ada dalam ingatan orang beriman pada awal Kristianitas.

Kesepuluh, arti nyata dari kata-kata Marta itu ditunjukkan kepada kita oleh Maria, yang ketika bertemu Yesus langsung bersujud di depan kaki-Nya (ay. 32a). Tindakan ini membadankan pernyataan Marta. Tindakan Maria “bersujud” itu merupakan pengakuan bahwa Yesus adalah orang  yang diberi kuasa Ilahi untuk datang di tengah-tengah manusia di dunia ini dan menyertainya guna mendekat kepada Bapa-Nya seperti Yesus sendiri dekat kepada-Nya.

Kesebelas, ketika mendapati Maria menangis dan ratapan orang-orang yang ada di situ, Yesus jadi sedih hatinya dan sangat terharu (ay. 33), bahkan menangis (ay. 35) dan kesal (ay. 38a). Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan betapa amat manusiawi Yesus itu; juga menunjukkan rasa frustrasi, marah, karena merasa tidak bisa langsung berbuat sesuatu untuk orang yang dicintainya.

Kedua belas, di depan kubur Lazarus, orang yang telah menaruh kepercayaan kepada-Nya itu, Ia berseru kepada Bapa yang mengutus-Nya ke dunia. Ia memandang ke atas (ay. 41a) dan mengucap doa syukur kepada Bapa-Nya bahwa ada orang masih mau percaya bahwa Ia sungguh utusan-Nya (ay. 41b-42). Kemudian Ia berseru keras-keras memanggil keluar Lazarus (ay. 43). Yesus memanggil “Allah menolong” (arti harfiah nama Lazarus).

Ketiga belas, seruan itu memiliki dua arah. Pertama, seruan kepada Lazarus agar keluar dari tempat orang mati. Kedua, seruan kepada Allah sendiri yang menolong itu. Diseru oleh orang yang diberi-Nya sendiri kuasa, maka Allah tidak tinggal diam. Ia memberikan nafas kehidupan-Nya kepada Lazarus yang sudah empat hari berbaring di liang kubur.

Keempat belas, sudah empat hari Lazarus mati. Marta mengatakan bahwa ia sudah membusuk (ay. 39). Terlambat untuk kembali hidup! Tetapi Yesus membuat Marta dan kita ini ingat, bila kita percaya maka kita akan melihat kemuliaan Allah (ay. 40). Maksudnya, bila Marta atau siapa saja mau memasrahkan urusan yang toh tidak dapat kita tangani sendiri kepada Dia yang diberi kuasa Ilahi, kebesaran Ilahi akan bisa dialami, entah apa bentuknya.

Kelima belas, Lazarus, orang yang dikasihi Yesus itu (ay. 5 & 36), dipanggil keluar (ay. 43). Dan iapun melakukannya (ay. 44a). Bahkan orang yang sudah mati empat hari dan membusuk itu masih taat kepada Dia yang mendapat kuasa ilahi (Mesias) untuk membawanya ke dekat kehadiran Ilahi, yakni diri-Nya sendiri (Anak Allah), yang mendatangi dunia yang gelap di dalam kubur tadi.

Keenam belas, hal ini (catatan kelima belas) bisa terjadi karena Lazarus adalah orang “yang dikasihi” Yesus; artinya, orang yang telah berjanji mau pasrah kepada-Nya dan menerima janji akan dilindungi oleh-Nya. Orang seperti itu selalu dan tetap mendengarkan Dia yang bersabda. Ia tidak akan terhalang apapun, juga tidak oleh kematian.

Injil yang kita renungkan ini berbicara tentang besarnya iman orang-orang yang mempercayai Yesus dengan cara mereka sendiri. Marta mengungkapkan imannya kepada Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, yang datang ke dunia (ay. 27). Maria, menyatakannya dengan bersujud di depan kaki Yesus (ay. 32b). Lazarus pun mengungkapkan kepercayaan kepada Yesus dengan caranya sendiri. Ia berjalan keluar dari kubur, menembus tabir maut, mendekat kepada Dia yang memanggilnya, dan kembali berada di tengah-tengah orang hidup (ay. 44).

Semoga kita, sebagai orang yang dikasihi oleh Yesus, juga dimampukan untuk dapat menemukan cara yang paling cocok untuk mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada-Nya, agar kita tetap berada di tengah-tengah orang hidup.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya