25 February 2020
Allah ikut terlibat dalam kehidupan kita
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan dapat menikmati hari Minggu bersama keluarga, sahabat, teman, atau sendirian bersama dengan Tuhan.
Hari ini (19 Januari) Gereja Katolik di Filipina merayakan pesta Santo Nino (Kanak-kanak Yesus yang Kudus) sebagai pelindung mereka. Ini khas Filipina. Tidak terdapat di tempat lain. Santo Nino tidak hanya dijadikan pelindung bagi seluruh bangsa Filipina (yang mayoritas beragama Katolik), tapi juga dijadikan pelindung bagi setiap kelompok (kategorial); sehingga ada Santo Nino Petani, Santo Nino Nelayan, Santo Nino Pedagang, Santo Nino Polisi, Santo Nino Tentara, Santo Nino Dokter, Santo Nino Guru/Dosen, Santo Nino Pilot...bahkan ada Santo Nino Bapa Suci, dan Santo Nino Dormido (Pelindung Orang yang suka Tidur), dst. Masing-masing dengan patung sesuai dengan kelompok tersebut.
Injil yang dipakai utk merayakan pesta Santo Nino hari ini adalah Mateus 18:1-5.
Pesta Santo Nino dan Injil ini dapat memberikan inspirasi bagi perjalanan hidup kita sebagai orang Katolik.
Pertama, "Siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga" (ay. 1). Untuk menjawab pertanyaan ini Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah para murid (ay. 2), dan meminta para murid utk mimiliki sikap seperti yang dimiliki oleh seorang anak kecil (ay. 3). Dalam masyarakat Yahudi zaman Yesus, seorang anak kecil berarti: tidak berdaya, mudah dilukai dan dihancurkan, diremehkan, tidak diperitungkan, dan (karenanya) membutuhkan perlindungan dari orang yang lebih kuat. Sikap-sikap seperti inilah yang dimaksud dengan "kerendahan hati" yang perlu kita miliki ketika kita berhadapan dengan Allah (ay. 4).
Kedua, Santo Nino adalah wujud Allah yang mendatangi umat-Nya dan bergulat dalam kehidupan bersama dengan umat-Nya. Allah mendatangi umat-Nya bukan dengan kuasa yang menakutkan melainkan dengan "kekecilan" sehingga mudah didekati dan sekaligus siap dimintai bantuan, karena Ia sangat peduli terhadap segala kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh umat-Nya.
Ketiga, beriman kepada Allah seperti (yang mewujud dalam Santo Nino, Kanak-kanak Yesus yang Kudus) itu, memiliki implikasi bagi kehidupan kita, yakni "menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku" (ay. 5). Artinya, kita diundang utk mengenali kehadiran Allah di dalam diri orang-orang yang karena kondisi hidup mereka menjadi tidak berdaya, mudah terluka, mudah dihancurkan, tidak masuk hitungan, dan dipinggirkan, serta mengulurkan tangan bagi mereka agar kualitas hidup mereka menjadi lebih bermartabat. Bertindak seperti itu bagi "orang kecil" berarti melakukannya bagi Allah sendiri (bdk. Mat 25:31-46). Mampu mengenali Allah dalam diri "orang kecil"--"wong cilik"--dan berupaya membantu meningkatkan kualitas hidup mereka, oleh Bapa Suci Fransiskus, disebut sebagai "puncak kesucian" untuk zaman ini.
Saling mendoakan agar Roh Kudus memampukan kita utk "menjadi yang terbesar dlm Kerajaan Sorga" dan "mencapai puncak kesucian" seperti diajarkan oleh Tuhan Yesus dan Bapa Suci Fransiskus.
Salam dari Manila,
Rm. Madya, S.J.
25 February 2020
Dibaptis untuk diutus oleh Tuhan
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua bisa menikmati hari ini bersama keluarga, teman, sahabat, atau sendirian bersama dengan Tuhan.
Pada perayaan pembaptisan Tuhan Yesus hari ini, kita dapat memetik beberapa inspirasi utk perjalanan hidup kita.
Pertama, Yesus datang ke sungai Yordan utk ambil bagian dalam gerak orang banyak yang menanggapi seruan Yohanes utk bertobat (mengarahkan hidup kepada Allah) agar semakin dekat dengan Allah.
Kedua, kedatangan Yesus ke sungai Yordan juga merupakan sikap keterbukaan-Nya utk ambil bagian dalam pergulatan hidup (kegelisahan, ketakutan, kegagalan, kehausan akan kerahiman Tuhan) orang-orang yang ada di tempat itu.
Ketiga, kedua sikap di atas memungkinkan Allah utk hadir baik dalam diri Yesus maupun dalam diri orang-orang yang ada di sekitar-Nya.
Keempat, kehadiran Allah membuat Yesus dan orang-orang di sekitar-Nya, serta semua orang yang mendengarkan dan membaca Injil ini (Mat 3: 13-17), menjadi orang-orang yang sangat dekat dengan Allah (= "Inilah anak-Ku yang Kukasihi, ay. 17). Dan karena sangat dekat dengan Allah, maka Allah memberi kepercayaan kepada Yesus dan kita semua utk melakukan "urusan-urusan Allah" (= "kepada-Nyalah Aku berkenan", ay. 17); sehingga lewat kepedulian kita, orang-orang yang kita jumpai akan mengalami kehadiran Allah yang mempedulikan pergulatan hidup mereka.
Kelima, apa yang dikatakan dlm Injil Matius diulangi lagi oleh Konsili Vatikan II, yang mengatakan bahwa melalui pembaptisan dan sakramen Krisma kita disatukan dengan Kristus sebagai Kepala (Gereja), dan oleh Tuhan sendiri ditugaskan utk merasul (LG 33; AA 3). Tujuannya, agar Kerajaan Allah (antara lain terwujud dalam hidup yang sejahtera, adil, dan bermartabat) hadir di tengah masyarakat dan kesejahteraan bagi semua orang dapat diwujudkan (GS 45). Atau meminjam istilah dari Paus Fransiskus, agar dunia kita menjadi lebih baik, di mana setiap orang mengalami kesejahteraan hidup dalam segala aspeknya.
Semoga kita dimampukan oleh Roh Kudus utk memaknai pembaptisan kita seperti Yesus sendiri memaknainya, seperti diwartakan oleh Kitab Suci maupun ajaran Gereja yang sehat.
Salam, Rm. Madya, S.J.
5 January 2020
Mencari dan Menemukan Kehadiran Allah
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Selamat menikmati hari Minggu pertama dalam tahun 2020 bersama keluarga, teman, sahabat, atau mungkin sendirian dalam keheningan bersama Tuhan.
Hari ini Gereja mengajak kita merayakan Penampakan Tuhan. Dalam perayaan ini, Allah rela memperkenalkan diri agar dapat dipandangi dan ditemui oleh manusia.
Ada empat hal yang bisa kita petik bagi kehidupan kita dari bacaan-bacaan yang dipakai dalam Missa pada hari ini.
Pertama, Allah mewahyukan (memperkenalkan) diri-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci, tetapi juga menggunakan cara-cara serta "sarana-sarana" lain sesuai dengan "situasi" masing-masing orang. Kepada para gembala, Allah memperkenalkan diri melalui "sarana" yang mereka kenal, yaitu "malaikat dan balatentara sorga" (Luk 2: 9; 13). Kepada para cerdik pandai (Majus), yang menguasai ilmu pengetahuan, Allah memperkenalkan diri melaui tanda-tanda alam (bintang) dan kebijaksanaan yang mereka miliki (Mat 2: 2; 9). Bahkan Allah dapat mereka kenali melalui orang yang berniat jahat seperti Herodes (Mat 2: 7-8).
Kedua, kehadiran dan karya keselamatan Allah tidak hanya diperuntukkan bagi "bangsa terpilih" (umat Israel; Gereja; dan orang-orang yang beragama lain), tetapi bagi semua orang yang benar-benar mencari-Nya (Yes 60: 4-6; Ef 3:6).
Ketiga, Allah hadir dalam kehidupan manusia dan perlu kita cari serta temukan dalam pergulatan hidup manusia konkret yang kita temukan dalam perjalanan hidup kita (Mat 2: 11; bdk. Mat 25: 31-46).
Keempat, ketika kita benar-benar mencari kehadiran Allah dalam kehidupan manusia di sekitar kita, upaya kita itu pasti akan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita (Mat 2: 3-4; Luk 2: 18-19).
Semoga Roh Kudus memampukan kita untuk mengenali kehadiran Allah dalam diri sesama, khususnya mereka yang dengan susah payah berjuang untuk dapat hidup, dan kita mau mengulurkan tangan kepada mereka, karena di dalam diri merekalah Allah hadir utk kita temukan, pandangi, dan sembah (Mat 2: 11).
Salam,
Rm. Madya Utama, S.J.
29 December 2019
Membangun Keluarga Kudus
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat menikmati hari Minggu terakhir dalam tahun 2019. Selamat merayakan Pesta Keluarga Kudus.
Dari bacaan-bacaan yang digunakan dalam Missa hari ini, beberapa "wawasan" dapat kita petik utk menjalani hidup kita sebagai para murid Yesus, khususnya dalam membangun hidup berkeluarga.
Pertama, Injil (Mat 2: 13-15; 29-23) berkisah bahwa keluarga Nasaret sejak awal sdh mengalami banyak kesulitan bahkan ancaman bagi kelangsungan hidup mereka. Namun dalam semua situasi itu, Tuhan selalu melindungi mereka dengan cara-cara yang sangat manusiawi.
Kedua, peran orang tua sungguh sangat penting bagi pertumbuhan hidup anak-anak. Dari bapak Josef, Yesus belajar mengenal dunia, belajar mengenal Allah, Bapa (selalu melindungi, memberikan yang terbaik, setia, dekat, pengampun, penuh kasih, dan dapat diandalkan), serta belajar berbuat baik kpd sesamanya, khususnya orang-orang "kecil."
Dari bunda Maria, Yesus belajar "menyimpan segala sesuatu dalam hati," artinya, menimbang segala sesuatu dengan pikiran yang jernih sebelum mengambil keputusan. Dari Bunda Maria, Yesus juga belajar melihat kebutuhan mendesak yang dialami orang lain dan berbuat sesuatu utk menolongnya, spt Ia lakukan dalam pesta perkawinan di Kana.
Ketiga, peran orangtua yang sangat penting bagi pendidikan anaknya adalah mengajari mereka utk dapat menangkap kehendak Allah melalui tanda-tanda (mimpi -- Mat 2: 13; 19; dan kekuatan jahat yang mengancam kemanusiaan -- Mat 2: 22), sehingga dapat mengikuti kehendak dan bimbingan Allah.
Keempat, semua anggota keluarga perlu belajar "taat kepada Tuhan" (Putra Sirakh 3: 6). Artinya, dalam membangun keluarga, tak seorang pun boleh memaksakan kehendaknya sendiri, melainkan perlu mendengarkan, memahami, dan mentaati kehendak Tuhan; membiarkan Tuhan campur tangan dalam kehidupan keluarga.
Kelima, "aturan" dalam hidup berkeluarga dituturkan dalam bacaan kedua (Kol 3: 18 - 4: 1), dengan menyesuaikannya dengan pola pikir zaman modern; yakni, (1) saling mendengarkan, (2) saling mengasihi, (3) tidak bertindak kasar, (4) tidak menyakiti hati, (5) melakukan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab, (6) melibatkan semua anggota dalam mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan keluarga, dan (7) memperlakukan karyawan dengan adil dan jujur (dengan rasa hormat dan memberi upah yang layak).
Saling mendoakan dan semoga Keluarga Kudus selalu menyertai pergulatan hidup keluarga kita, agar keluarga kita masing-masing menjadi kudus karena kita membiarkan Allah hadir di tengah keluarga kita dan membimbing setiap keputusan dan langkah yang kita ambil.
Salam,
Rm. Madya, S.J.
29 December 2019
Merayakan Natal
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat merayakan Natal, merayakan kelahiran Yesus, Tuhan Sang Penyelamat.
Merayakan Natal berarti merayakan sebuah perjumpaan. Dalam diri (bayi) Yesus yang lahir di Betlehem, Allah yang dulu sangat jauh sekarang menjumpai kita, sehingga Ia menjadi begitu dekat dan mudah utk kita dekati. Dalam perjumpaan itu hidup kita yang rusak dipulihkan, yang luka disembuhkan, yang tersesat dikembalikan ke jalan yang benar, yang baik dan berhasil diteguhkan. Hal itu dilakukan-Nya dengan memberikan hidup-Nya sendiri sebagai "makanan" dan bekal perjalanan hidup kita (Luk 2: 7..."dibungkus dengan kain lampin dan dibaringkan dalam palungan"... palungan = tempat utk menaruh makanan bagi ternak).
Merayakan Natal juga merupakan sebuah panggilan bagi kita. Kita dipanggil oleh Allah utk mengajak semua orang "mencari" kehadiran Sang Penyelamat di "Betlehem" (= tempat yang mudah utk kita temukan) (ay. 15); yakni, peristiwa hidup sehari-hari, orang yang hidup dekat dengan kita, teman seperjuangan dalam memperjuangkan hak-hak orang kecil, tempat kerja kita, orang-orang yang memerlukan uluran tangan kita, bahkan diri kita sendiri.
Semoga dengan merayakan Natal ini, kita sendiri juga dijadikan oleh Allah sebagai "perpanjangan" kehadiran-Nya, agar orang-orang yang hidup dalam kegelapan dapat melihat terang, orang-orang yang kehilangan harapan mendapatkan gairah utk membangun hidup mereka kembali, dan orang-orang yang lemah serta tidak berdaya mendapatkan perlindungan (Yes 9: 1-6).
Teriring salam,
Rm. Madya, S.J.
15 December 2019
Membangun dunia menjadi lebih baik
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat petang. Semoga kita semua merasakan kehadiran Allah yang menopang kehidupan kita hari ini. Ijinkan saya masih menyapa Anda semua pada awal petang ini.
Hanya enam bulan setelah dikukuhkan menjadi Paus, Paus Fransiskus mengeluarkan dokumen yang "dahsyat" utk arah kehidupan Gereja pada abad ke-21 ini: Surat Imbauan Apostolis Evangelii Gaudium (EG), Sukacita Injil.
Dalam EG 183 dikatakan bahwa "Semua Umat Kristiani, termasuk para pastornya, dipanggil utk menunjukkan kepedulian terhadap pembangunan sebuah dunia menjadi lebih baik." Alasannya, "Iman yang otentik selalu melibatkan keinginan yang dalam utk mengubah dunia, meneruskan nilai-nilai, dan meninggalkan bumi ini menjadi lebih baik daripada ketika kita menemukannya."
Iman seperti ini berlandaskan pada janji Allah yang disampaikan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan pertama dalam Misa hari Minggu ketiga Masa Adven ini (Yes. 35:1-7). Janji Allah tersebut diwujudkan oleh Yesus seperti dituturkan dalam bacaan Injil hari ini (Mat 11: 5).
Sebagai anak-anak Allah dan murid-murid Yesus kita diundang utk bekerjasama dengan Allah guna mewujudkan janji-Nya seperti telah dilakukan oleh Yesus sendiri.
Terima kasih kepada Anda semua yang telah setia menjadi Anggota Gerakan Solidaritas utk Pendidikan Anak-Anak Miskin (GerakSoPAn Miskin). Yang Anda lakukan merupakan perwujudan dari panggilan Allah yang ditegaskan kembali oleh Paus Fransiskus.
Marilah kita mohon rahmat-Nya agar kita dianugerahi kesetiaan utk meneruskan apa yang sudah kita mulai.
Salam,
Rm. Madya, S.J.