13 June 2026
KITA DIUTUS OLEH TUHAN SENDIRI UNTUK MERASUL
KITA
DIUTUS OLEH TUHAN SENDIRI UNTUK MERASUL
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dari semakin beratnya beban kehidupan, dan merasakan kembali rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-11 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 9:36-10:8) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi mengandung tiga lapis pewartaan; yakni (1) berlimpahnya tuaian namun jumlah penuai sangat sedikit (Mat 9:36-38), (2) pemilihan para rasul lengkap dengan nama mereka (Mat 10:1-4), dan (3) pengutusan para rasul untuk melayani mereka yang membutuhkan pertolongan (Mat 10:5-8).
Apa
maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan
memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk mencermati
ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, dalam Injil, musim menuai (Mat 5:37) kerap dipakai sebagai ibarat sudah tibanya saat memetik hasil usaha yang telah lama dijalankan dan dinanti-nantikan buahnya. Bila tidak ada cukup penuai, batang gandum dan bijinya akan kering membusuk dan tidak berguna lagi. Penuai jelas menentukan berhasil tidaknya musim tuaian.
Kedua, ajakan Yesus agar para murid meminta supaya yang empunya tuaian, yakni Allah sendiri, mengirim lebih banyak pekerja-pekerja (Mat 9:38) memiliki dua makna. Pertama, dengan jumlah penuai yang cukup, tuaian makin utuh dan melimpah. Kedua, Yesus ingin mengajarkan kepada para murid agar mereka dapat melepaskan klaim bahwa keberhasilan kerasulan mereka bergantung pada kemampuan dan ketrampilan mereka sendiri. Yesus ingin mengajarkan bahwa kegiatan rasuli yang sejati adalah kegiatan yang membawa orang makin mendekat kepada Allah, yang mau menolong orang-orang yang butuh bimbingan dari-Nya sendiri. Keberhasilannya sangat bergantung pada Allah.
Ketiga,
dalam Injil Matius kata “rasul” hanyalah muncul satu kali, yakni dalam Mat
10:2. Kata “rasul” artinya utusan. “Rasul” adalah orang yang diberi kuasa
menyampaikan berita dan mengerjakan urusan atas nama yang mengutus. Utusan
hanya dapat mengerjakan tugasnya bila memang tepercaya, baik di mata yang
mengutus maupun di hadapan mereka yang didatangi.
Keempat, “duabelas rasul” melambangkan gagasan “duabelas suku Israel”. Gagasan “duabelas suku” ini berkembang sejak lama dan menjadi cara umat Perjanjian Lama memahami diri sendiri. Oleh karena itu, gagasan ini dapat menjadi lambang yang menyatukan umat yang mau membangun diri sebagai “umat baru” (=para pengikut Kristus; Gereja) yang dihidupi oleh kekuatan Tuhan sendiri.
Kelima, “umat baru” ini amat berbeda dengan umat dalam Perjanjian Lama, yang terpancang pada pegangan yang sudah-sudah dan yang makin membatu, pada kebiasaan-kebiasaan yang sudah tanpa arti lagi, pada hukum yang menyesakkan, dan pada rasa takut melulu. Sebaliknya, “umat baru” berpegang pada ajaran dan cara hidup Yesus, yang menyegarkan, melegakan, dan yang memampukan kita untuk benar-benar mencitai Allah dengan mencintai sesama (Mat 22:37-40; Mrk 12:29-30; Luk 10:27-28); dan merawat bumi sebagi “rumah kita bersama” (Ensiklik Laudato Si’ 1, 53) dan tempat Allah hadir untuk menjumpai umat-Nya (Ensiklik Laudato Si’ 88).
Keenam, dalam Injil Matius, sejak awal Yesus ditampilkan sebagai raja yang mendatangi umat-Nya, yakni Israel. Itulah inti kisah kelahiran Yesus menurut Matius. Dia itu Imanuel yang jauh-jauh hari sebelumnya telah dinubuatkan Yesaya (Yes 7:14). Dia diperkenalkan sebagai raja baru di Yudea, ditakuti Herodes, tetapi didatangi dengan penuh hormat oleh orang-orang bijak dari Timur (Mat 2:1-12).
Ketujuh, Yesus diutus oleh Allah kepada orang-orang yang tidak tahu lagi kepada siapa harus mencari pegangan. Mereka seperti “domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat 9:36b): kehilangan arah, panik, tubruk sana tabrak sini. Yesus mendatangi umat yang mengharapkan pemimpin yang tepercaya. Para rasul diberi kuasa oleh Yesus sang Gembala untuk ikut melayani domba-domba tadi. Para rasul dipercaya untuk ikut mengusahakan agar umat tidak gampang terseret arus atau diombang-ambingkan keadaan yang tidak menentu.
Kedelapan, menurut penginjil Matius para rasul diikutsertakan dalam tugas yang sudah dijalankan oleh Yesus sendiri, yakni memberitakan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat” dan membawakan kesembuhan (Mat 10:7-8a). Dalam melakukan hal itu mereka diminta untuk memberikan dengan cuma-cuma apa saja yang telah mereka terima dengan cuma-cuma pula (Mat 10:8b). Artinya, mereka dihimbau agar berani berbagi keteguhan iman yang telah ditumbuhkan Allah dalam diri mereka sendiri. Hanya orang yang berjiwa merdeka seperti ini akan dapat mewartakan datangnya Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang lain dalam macam-macam arti dan wujudnya.
Kesembilan, selain mewartakan datangnya Kerajaan Allah dan menyembuhkan banyak orang, masih ada satu hal lagi yang dilakukan oleh Yesus yakni mengajar tentang siapa diri-Nya dan siapa Allah yang diperkenalkan-Nya itu. Tetapi baru setelah Yesus bangkit, murid-murid akan betul-betul diikutsertakan dalam kegiatan mengajarkan dua hal ini, tidak hanya kepada umat Israel, melainkan kepada seluruh bangsa (Mat 28:19-20a). Dengan kata lain, baru setelah kebenaran yang diajarkan ditegaskan oleh kuasa ilahi sendiri, yakni melalui kebangkitan-Nya dari kematian.
Kesepuluh, dengan kata lain, untuk sementara kini para murid masih belajar memahami kebenaran yang dibawakan Yesus dalam pewartaan tentang datangnya Kerajaan Allah serta penyembuhan terhadap semua orang sakit, dan “menyampaikan” pemahaman mereka tentang dua hal itu hanya kepada umat Israel (Mat 10:5b-6). Baru setelah kebangkitan-Nya, pengajaran Yesus tentang diri-Nya dan Allah yang diwartakan-Nya, terbuka bagi semua orang. Dan murid-murid akan ditugasi membawakannya ke semua penjuru dunia (Mat 28:19-20). Mereka akan menemukan cara-cara menyampaikannya kepada orang-orang yang tadinya tidak diperhitungkan.
Injil yang kita renungkan hari ini mengajarkan bahwa “kuasa rasuli” adalah kuasa untuk melayani. Kuasa ini memang berasal dari Yesus sang utusan Allah sendiri dan diabdikan bagi umat-Nya. Kuasa ini sakral, baik bagi pengemban maupun bagi umat. Yang mendapatkannya akan merasakan tanggung jawab yang besar dalam pelaksanaannya.
Konsili
Vatikan II mengajarkan bahwa setiap orang yang menerima sakramen baptis dan
krisma (penguatan) menerima “kuasa rasuli” ini dan oleh Tuhan sendiri diutus
untuk mewujudkannya (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium,
art. 33, dan Dekrit tentang Kerasulan Kaum Awam, Apostolicam Actuositatem,
art. 3).
Semoga
Roh Allah memampukan kita untuk menyadari tanggung jawab luhur ini dan
melaksakannya dengan penuh rasa syukur.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
13 June 2026
MERAYAKAN TUBUH DAN DARAH KRISTUS: MEMPERSATUKAN DIRI DENGAN KORBAN KRISTUS YANG MENYELAMATKAN DUNIA
MERAYAKAN
TUBUH DAN DARAH KRISTUS: MEMPERSATUKAN DIRI DENGAN KORBAN KRISTUS YANG
MENYELAMATKAN DUNIA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sabahat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua berkat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (tahun A dalam kalender liturgi). Bacaan Injil (Yoh 6:51-58) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang Yesus sebagai “makanan” dan “minuman” yang memberikan kehidupan kekal.
Apa
maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang
diberi catatan].
Pertama, petikan Injil yang kita renungkan hari ini perlu dilihat dalam seluruh konteksnya, yakni Yoh 6:25-58, yang merupakan pengajaran Yesus kepada orang banyak yang mencari Dia setelah mereka mendapatkan makanan dari mukjijat yang diadakan oleh Yesus (Yoh 6:1-14). Dalam pengajaran-Nya Yesus memperkenalkan Diri-Nya sebagai “roti kehidupan”, yakni makanan yang memberi hidup.
Kedua, dalam bagian pertama pengajaran-Nya (Yoh 6:25-50), Yesus membuat orang-orang itu menengok kepada pengalaman mereka sendiri, yakni mukjijat penggandaan roti (Yoh 6:1-13) dan nenek moyang mereka yang mendapatkan manna (Yoh 6:31). Sekaligus, Yesus mendorong mereka agar maju lebih jauh dan mengerti siapa Dia yang sudah datang di tengah-tengah mereka (Yoh 6:27; 32-33; 35-40; 44-50). Tetapi mereka tidak memahami dan malah berputar-putar pada gagasan mereka sendiri mengenai siapa Yesus itu (Yoh 6:41-42).
Ketiga, dalam bagian kedua pengajaran-Nya (Yoh 6:51-58),
Yesus mengajarkan bukan saja bagaimana mengenali Dia, melainkan bagaimana
menerima Dia.
Keempat, dalam Injil Yohanes, kata “daging” dipakai untuk membicarakan manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, tetapi tanpa mengikutsertakan sisi-sisi jahat. Sementara dalam tulisan-tulisan Paulus, kata “daging” memiliki konotasi buruk, yakni manusia rapuh sejauh dikuasai dosa; untuk gagasan ini penginjil Yohanes memakai kata “dunia”.
Kelima, kata “daging” dalam petikan Injil yang sedang kita renungkan ini, perlu kita kaitkan dengan Pembukaan Injil Yohanes, yang mengatakan bahwa Sang Sabda telah menjadi “daging” (= manusia; Yoh 1:14); artinya Yang Ilahi itu mendatangi dunia dalam ujud manusia biasa. Hanya dengan demikian Ia dapat sungguh merasakan kuatnya kuasa yang jahat walaupun Ia sendiri tidak kalah. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak seluruhnya dapat dikuasai oleh yang jahat. Dengan demikian Ia dapat menjadi tumpuan harapan orang banyak. Siapa saja yang kemudian mengikuti-Nya dan bersatu dengan Dia akan selamat dan mencapai hidup kekal.
Keenam, kata “darah” dipakai oleh penginjil Yohanes dalam
cara bicara orang waktu itu, yang memahami “darah” sebagai tempat nyawa
(=kehidupan). Di dalam “darah” terletak kehidupan. Dengan menyerahkan nyawa-Nya
(“darah”-Nya) bagi orang banyak, Yesus berbagi kehidupan dengan orang banyak
(bdk. Yoh 15:13).
Ketujuh, hidup Yesus berakhir pada kayu salib. Wafatnya menjadi kurban bagi penebusan orang banyak. “Daging” (sebagai manusia) dan “darah” (=kehidupan) yang menjadi kenampakan Sabda Ilahi itu kini menjadi jalan penyelamatan. Bergabung dengan-Nya berarti menempuh jalan itu. Inilah yang oleh penginjil Yohanes dibahasakan dengan siapa saja yang “makan daging-Nya” dan “minum darah-Nya” akan mengambil bagian dalam hidup kekal (Yoh 6:50-51; 53-58).
Kedelapan, tetapi orang-orang tidak menangkap dan saling mempertengkarkan bagaimana Yesus bisa memberikan daging-Nya untuk dimakan (ay. 52). Orang-orang itu sulit menerima pemberian Yesus yang sesungguhnya. Mereka ingin pemberian yang mereka maui, seperti roti atau makanan biasa yang diberikan Yesus kepada orang banyak (Yoh 6:1-14) dan manna yang diberikan oleh Musa kepada leluhur mereka (Yoh 6:31). Orang-orang itu tidak memahami bahwa pemberian roti kepada orang banyak itu adalah tanda bagi pemberian yang datang dari dalam diri Yesus sendiri, yakni pengorbanan diri bagi mereka (di kayu salib).
Kesembilan, yang hendak disampaikan Yesus bukan hanya roti yang mengenyangkan secara badaniah dan membuat orang melihat Yesus sebagai “nabi” (Yoh 6:14) yang patut diangkat menjadi pemimpin, bahkan raja (6:15). Yesus mengajak orang agar melihat bahwa yang memberi makanan dari langit itu adalah Bapa-Nya sendiri (Yoh 6:32b-33). Lebih lanjut lagi, sekarang ini Dirinyalah roti yang turun dari surga itu. Menerima Dia, mempercayai-Nya, akan membuat mereka mendapatkan roti yang memberi hidup (Yoh 6:35-40;48;50-51).
Kesepuluh, orang-orang malah semakin tidak bisa melihat siapa Yesus itu. Mereka hanya bisa melihat Dia sebagai anak Yusuf yang mereka kenal dari dulu (Yoh 6:42). Kepekaan batin mereka tidak berkembang. Mereka hanya mau memandangi-Nya dengan ukuran-ukuran yang membuat mereka merasa aman: sebagai nabi, pemimpin tipe Musa, zaman kebesaran dulu. Dan ketika Yesus mengajak mereka menengok ke arah yang lebih dalam, mereka malah berkata: “Lho, ini kan anak Pak Yusuf itu, mana bisa menjadi pimpinan seperti yang kita gambarkan tadi?”
Kesebelas, penginjil Yohanes memakai pengertian “daging” untuk lebih membuat kita mengerti kesamaan antara Yesus yang sedang berbicara dengan orang-orasng Yahudi itu dengan yang diwartakan pada awal Injilnya: “Dan sang Sabda itu telah menjadi manusia, harfiahnya “daging”, dan tinggal di antara kita...” (Yoh 1:14). Gereja sebagai komunitas orang beriman percaya bahwa Yesus itu ada di tengah-tengah mereka dan menghayatinya dalam bentuk Ekaristi.
Merenungkan petikan Injil ini mengajak kita untuk menyadari kembali bahwa Yesus adalah pemberian dari surga yang membawakan hidup ke dunia. Dan pemberian ini lebih luas daripada kehidupan biasa yang beriramakan lapar, kenyang, dan lapar lagi, melainkan yang membawa ke kehidupan yang tidak lagi dibawahkan pada perputaran itu. Hal ini hanya dapat dipahami dengan menghayatinya.
Mereka yang mengikuti Yesus dihimbau agar terus berusaha memberi isi nyata pada apa itu berbagi kehidupan surgawi, apa itu mengarah ke hidup kekal, apa itu menemukan roti kehidupan yang sesungguhnya di dalam hidup sehari-hari. Ada ajakan untuk mengusahakan agar kenyataan rohani itu berdampak pada kenyataan sehari-hari juga. Dengan menyadari sisi-sisi yang manusiawi keseharian itu orang beriman semakin dapat berharap dapat bersatu dengan kurban persembahan Yesus sendiri (di kayu salib). Itulah makna pernyataan “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia” (Yoh 6:56). Persatuan kita dengan kurban persembahan Kristus inilah yang menyelematkan dunia.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
4 June 2026
MENGIMANI ALLAH TRITUNGGAL: MEMBANGUN DUNIA BARU
MENGIMANI
ALLAH TRITUNGGAL: MEMBANGUN DUNIA BARU
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Allah Tritunggal Mahakudus. Bacaan Injil (Yoh 3:16-18) yang akan kita dengarkana dalam Perayaan Ekaristi bersaksi tentang Allah yang sedemikian mengasihi dunia sehingga mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkannya.
Apa
maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama [sambil membuka
Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, kesaksian yang terhimpun dalam petikan Injil yang kita renungkan ini, dapat membantu kaum beriman menyelami iman akan Tritunggal Maha Kudus. Pada zaman Yesus orang memandang dunia ini sebagai drama yang dilakonkan oleh Allah sendiri. Di dalam drama ini ada tiga pemeran. Allah Bapa berperan sebagai “pengasal” tindakan penyelamatan, Allah Putra sebagai “pelaksana” tindakan penyelamatan tesebut, dan Allah Roh Kudus “melanjutkan”-nya.
Kedua, ketiga pelaku “tindakan penyelamatan” ini menjalankan peran yang berbeda-beda tetapi dengan maksud dan tujuan yang sama, yakni penyelamatan dunia beserta isinya.
Ketiga, pelaku dalam lakon disebut “prosoopon” (Yunani) atau “persona” (Latin), yang diindonesiakan sebagai “pribadi”. Arti harfiah kata Yunani dan Latin ialah gambar wajah atau topeng yang dikenakan oleh pelaku sehingga para hadirin langsung menangkap peran mana sedang dijalankan.
Keempat, cara berungkap dengan bahasa lakon seperti ini dulu mudah mengimbau perhatian orang banyak dan oleh karenanya dipakai untuk menjelaskan karya penyelamatan. Jalan pemikirannya demikian: karya penyelamatan itu berasal dari Bapa dan terlaksana dalam diri Putra yang diutus ke dunia, dan keberlangsungannya dijaga oleh Roh Kudus. Dengan demikian, iman mengenai Allah Tritunggal disadari dalam hubungan dengan karya penyelamatan.
Kelima, ketiga ayat yang yang kita renungkan ini adalah kelanjutan dari pembicaraan Nikodemus, seorang ulama Yahudi, dengan Yesus (Yoh 3:1-15). Nikodemus percaya bahwa Yesus itu utusan Allah sendiri (ay. 2b) dan ia ingin mengenal-Nya lebih dalam. Yesus membantunya. Perhatian Nikodemus diarahkan oleh Yesus pada warta yang sejak awal disampaikan-Nya kepada orang banyak, yakni Kerajaan Allah sudah datang di dunia dan orang diajak bersiap ikut serta di dalamnya (ay. 3 dan 5).
Keenam, kepada Nikodemus diterangkan bahwa syarat untuk ikut serta di dalam Kerajaan Allah adalah dilahirkan kembali dalam air dan Roh (ay. 5). Maksudnya, dibaptis menjadi pengikut Yesus dan membiarkan diri dibawa oleh kekuatan-kekuatan ilahi sendiri, yakni Roh. Roh itulah yang bakal menuntunnya ke Kerajaan Allah.
Ketujuh, karena Nikodemus tidak segera menangkap, Yesus menjelaskan hal ini dengan cara yang lebih mudah dipahami, dengan merujuk pada keinginan mencapai hidup kekal. Siapa saja yang memandangi yang datang dari atas sana, yakni Anak Manusia, dan percaya kepada-Nya akan mendapat hidup kekal (ay. 15).
Kedelapan, tentu saja Nikodemus mengerti bahwa Anak Manusia ini adalah Yesus sendiri yang sudah dipercayainya sebagai utusan yang datang dari Allah sendiri (ay. 2). Namun masih satu langkah penting lagi, yang perlu dijalani: memulai hidup baru di dalam Kerajaan Allah. Itulah pokok pembicaraan dengan Nikodemus yang mendahului petikan yang kita renungkan ini, yakni ay. 16-18.
Kesembilan, apakah “Kerajaan Allah” yang diutarakan pada awal pembicaraan dengan Nikodemus tadi (ay. 3 dan 5), sama dengan “kehidupan kekal” yang disebut dalam ay. 15 dan 16? Penginjil Yohanes memang bermaksud mengajak pembaca memikirkan pertanyaan itu. Bagi banyak orang “kehidupan kekal” itu adalah gagasan yang langsung memberi isi pada paham tentang keselamatan. Setiap orang mendambakannya. Tetapi “Kerajaan Allah” hanya dikenal di antara para pengikut Yesus! Di luar itu boleh jadi hanya kalangan murid Yohanes Pembaptis sajalah yang pernah mendengarnya.
Kesepuluh, Yesus mengajak orang bersiap-siap menyongsong Kerajaan Allah yang telah datang. Bagi pengikut-pengikut-Nya, keinginan yang terdalam tidak berhenti pada gagasan “keselamatan = hidup kekal”, melainkan lebih jauh dan terarah pada “keselamatan = ikutserta dalam Kerajaan Allah” bersama dengan Dia (Yesus) yang mengajarkan mengenai Kerajaan Allah ini.
Kesebelas, “hidup kekal” dapat diperoleh dengan hidup beragama dan menjalankan ajaran agama dengan baik. Tetapi untuk mencapai “kesempurnaan” dalam arti “masuk kedalam Kerajaan Allah”, perlu ada bimbingan Roh. Untuk mendapatkan hidup kekal, Nikodemus sendiri sudah tahu jalannya seperti yang sudah diajarkan Musa. Namun, untuk memasuki Kerajaan Allah, dibutuhkan penyerahan diri dan bimbingan Roh.
Kedua belas, agama menunjukkan jalan mencapai “keselamatan” (=hidup kekal) sehingga orang menemukan arti hidup dalam macam-macam keadaan, baik yang menyenangkan atau menyedihkan. Agama dan iman membuat orang menemukan diri sebagai makhluk di hadapan Yang Ilahi.
Ketiga belas, dalam pewartaan Yesus, masih ada kelanjutannya, yakni “memasuki Kerajaan Allah”. Di situ orang belajar mengenali Allah Pencipta sebagai “Bapa”, sebagai yang dekat, sebagai yang menghendaki yang terbaik. Yesus menawarkan citra yang baru dari Allah, seperti yang sudah diwartakan dalam kitab Perjanjian Lama (mis. Kel 34:6). Yang Mahakuasa bisa didekati. Berada di dekat-Nya berarti ikutserta dalam Kerajaan-Nya.
Keempat belas, bagi orang Yahudi pada waktu itu, ajaran ini mengejutkan. Mana bisa manusia membayangkan diri diperanakkan Allah! Karenanya, Ia disingkirkan oleh pemuka-pemuka agama Yahudi karena mengajarkan Allah itu Bapa, dan mengakui diri-Nya sebagai yang mengenali-Nya dari dekat. Bagi orang-orang Yahudi saleh waktu itu semua ini terdengar sebagai hujatan dan pelecehan.; padahal Allah sebagai Bapa sudah diimani oleh para leluhur mereka seperti terungkap dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (Ul 32:6; Mzm 68:6; 89:27; Yes 63:16; 64:8).
Kelima belas, Yesus berani mengorbankan diri demi warta ini. Dalam arti inilah Yesus memperkenalkan kerahiman Allah dengan cara yang paling meyakinkan. Bapa-Nya, dengan membangkitkan Yesus dari kematian, menerima pengorbanan Yesus dan menunjukkan Diri kepada orang banyak bahwa Ia memang seperti yang diajarkan dan diwartakan oleh Yesus; Allah yang penuh belas kasih, kerahiman, perhatian dan kasih-setia (Yoh 3:16-18; Kel 34:6).
Kenam belas, perhatian dan kerahiman Allah memberi wajah baru kepada dunia; dunia tidak dihukum melainkan diselamatkan (ay. 17). Yang bersedia menerima kerahiman ini akan berjalan menuju ke terang, ke ciptaan baru.
Ketujuh belas, para pengikut Yesus dipanggil ke arah hidup kekal dan lebih jauh lagi, untuk menjadi orang-orang merdeka dari kekuatan yang mengekang, dari rasa waswas dan terancam. Kekuatan yang mengekang itu bukan saja dari alam gaib, melainkan hadir amat nyata dalam masyarakat kita: ketakadilan, kebodohan, kemiskinan, perkosaan hak-hak azasi, kekerasan, dan pengrusakan lingkungan hidup secara membabibuta.
Mengimani Allah Tritunggal bukan hanya mengucapkan “aku percaya akan satu Allah….”, tetapi juga ikut serta dalam karya Allah yang masih terus berlangsung, yakni membangun dunia yang baru, dunia yang makin layak dihuni, dunia yang bisa dikatakan “semakin diselamatkan” Allah, dunia yang bebas dari segala kekangan (catatan ketujuh belas), serta menjaganya agar tidak merosot. Semoga Roh Allah memampukan kita untuk melakukan ini semua.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
25 May 2026
MEMPERSAKSIKAN IMAN DENGAN BIMBINGAN ROH KUDUS
MEMPERSAKSIKAN IMAN DENGAN BIMBINGAN ROH
KUDUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sabahat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan menyadari kembali semua kebaikan yang telah kita terima dari Allah selama sepekan di tengah situasi bangsa dan negara yang sedang tidak baik-baik saja.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Pentakosta. Bacaan Injil (Yoh 20:19-23) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memadatkan tiga peristiwa, yakni Kebangkitan Yesus, Kenaikan-Nya ke surga, dan Pentakosta di dalam peristiwa penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid yang sedang berkumpul di suatu tempat yang tertutup.
Apa maknanya bagi kehidupan kita
sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, pengalaman yang diungkapkan secara padat oleh Yohanes dalam injilnya (Yoh 20:19-23) tadi oleh Lukas ditampilkan dengan tiga puncak dalam Kisah Para Rasul, yakni Kebangkitan Yesus dari kematian, Kenaikan-Nya ke surga, dan Pentakosta.
Kedua, dari Kebangkitan hingga Kenaikan-Nya ke surga disebutkan ada selang waktu 40 hari (Kis 1:1-3). Selama itu para murid mengalami pelbagai penampakan Yesus hingga mereka percaya benar bahwa Yesus benar-benar hidup. Tenggang waktu 40 hari itu mematangkan pengalaman dengan Yesus yang telah bangkit.
Ketiga, murid-murid Yesus kini menyadari bahwa Yesus, seperti terungkap dalam Injil Matius (Mat 28:18), telah menerima kuasa di surga dan di bumi. Kesadaran ini mereka alami sebagai Kenaikan Tuhan ke surga.
Keempat, pada saat yang sama para murid merasa mendapat penugasan untuk mengisahkan pengalaman ini kepada siapa saja. Dalam kata-kata Lukas, hal ini disebut sebagai tugas menjadi saksi-saksi-Nya (Kis 1:8b), atau menurut Matius, menjadikan semua bangsa murid-Nya dan menerima mereka sepenuhnya dalam komunitas mereka lewat pembaptisan (Mat 28:19).
Kelima, meskipun sudah ada kesadaran baru ini, mereka belum merasa cukup mampu menjalankan tugas itu dengan merdeka, tanpa merasa waswas atau rasa tertekan. Kekuatan yang memerdekakan baru mereka peroleh pada hari Pentakosta ketika mereka menerima Roh Kudus (Kis 1:8a). Pada hari itulah mereka mendapatkan semangat untuk menceritakan pengalaman mereka kepada orang banyak.
Keenam, di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50”) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Dalam perkembangan selanjutnya, “hari ke-50” ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi. Pada “hari ke-50” ini kemudian diperingati pula turunnya Taurat kepada Musa.
Ketujuh, di kalangan para pengikut Kristus, “hari ke-50” itu dirayakan 7 minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid. Jadi, perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan oleh dunia Perjanjian Baru kepada panenan rohani yang kini mulai melimpah.
Kedelapan, bacaan pertama (Kis 2:1-11) berisi kisah mengenai hari Pentakosta. Suatu saat terdengar suara dari langit, menderu seperti taufan, memasuki ruangan tempat para murid berkumpul, dan muncullah lidah-lidah api menghinggapi mereka (Kis 2:1-3).
Kesembilan, dengan ungkapan itu Lukas sebenarnya ingin menggambarkan pengalaman batin para murid Yesus. Saat itu mereka secara bersama-sama merasakan adanya kekuatan yang membuat hati mereka bernyala berkobar-kobar, seperti yang pernah dialami oleh dua orang murid Yesus yang berjalan ke Emaus (Luk 24:32). Sejak saat itu hati mereka selalu menyala-nyala, tidak pernah memudar.
Kesepuluh, juga dikatakan bahwa para murid mulai berbicara dalam pelbagai bahasa dan para pendengar merasa mendengar dalam bahasa mereka sendiri (Kis 2:4-12). Yang dimaksudkan oleh Lukas dengan kisah ini adalah Roh Kudus itu adalah kekuatan untuk mempersaksikan yang diimani degan cara yang dapat dimengerti oleh orang lain. Roh Kudus membuat apa yang dikatakan oleh para murid dapat dimengerti oleh siapa saja, baik yang sama latar belakang kepercayaannya, maupun yang berbeda.
Kesebelas, orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam nama-Nya hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah kehadiran Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi jernih, dan menuntun orang di jalan yang benar. Orang tidak lagi perlu merasa terancam daya-daya gelap yang pergi datang begitu saja. Ada arah baru dan alam baru dalam hidup yang tak terpikirkan sebelumnya. Dan ini akan terus berkembang sampai Yesus, yang telah naik ke surga, datang kembali.
Kedua belas, para murid generasi pertama itu kemudian menjadi makin peduli akan keadaan orang-orang di sekitar mereka; semakin mengerti penderitaan orang lain dari kalangan sederhana. Mereka sudah merasa bebas dan bisa berbuat banyak. Mereka itu orang-orang yang peduli akan keadaan di dalam masyarakat luas (Kis 2:42-47; 4:32-37). Inilah buah pertama dari hadirnya Roh Kudus.
Ketiga belas, dalam Injil Yohanes juga dikatakan bahwa setelah berkata “Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22), Yesus menambahkan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23). Yang dimaksud dengan “mengampuni dosa” adalah mengampuni penolakan mendasar terhadap kehadiran Yang Ilahi; tidak menggubris Yang Ilahi dan menganggap-Nya sepi.
Keempat belas, mendapat kuasa untuk “mengampuni dosa” atau “menyatakannya tetap ada” berarti memikul tanggung jawab untuk menentukan apakah penolakan terhadap Tuhan masih bertahan atau sudah mulai lepas. Tanggung jawab ini besar dan berat. Besar karena kini para murid Yesus ikut dalam penyelenggaraan ilahi untuk mengubah jagat ini menjadi terang, menjadi ciptaan yang baru. Berat karena murid-murid Yesus diserahi urusan yang sebetulnya hanya dapat dilakukan Tuhan sendiri, yakni mengampuni dosa.
Merenungkan Injil dan Kisah para Rasul yang dibacakan dalam perayaan Pentakosta, mengingatkan kita bahwa menjadi murid-murid Yesus, kita perlu mempersaksikan iman kepercayaan kita kepada orang zaman sekarang dengan cara yang dapat mereka mengerti. Hal itu kita lakukan tidak hanya dengan perkataan, melainkan juga, dan terutama, dengan sikap hidup dan tindakan, yang dapat mengubah situasi kehidupan yang “sedang tidak baik-baik saja” menjadi baru, sehingga mereka yang dirundung putus asa dapat hidup dengan harapan baru. Hal itu dapat terjadi karena kita dibimbing oleh Roh Kudus.
Teriring salam dan doa,
Rm. Madya, S.J.
10 May 2026
MEMBANTU “DUNIA” KELUAR DARI KEGELAPAN
MEMBANTU “DUNIA” KELUAR DARI KEGELAPAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Paskah ke-6 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 14:15-21), yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi, merupakan bagian kedua dari wejangan-wejangan Yesus. Gagasan pokok dari wejangan tersebut berkisar pada “mengasihi”.
Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah
kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil
membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, Injil Yohanes bab 14 memuat “pesan-pesan terakhir” Yesus kepada para murid-Nya, yang terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama (Yoh 14:1-14), yang dibacakan pada hari Minggu yang lalu, berbicara tentang Yesus yang membesarkan hati para murid-Nya. Mereka diajak tetap berteguh pada jalan yang benar, yang memberi hidup. Keteguhan inilah yang menumbuhkan iman.
Kedua, bagian kedua (Yoh 14:15-21), yang akan kita renungkan bersama, memberi pendalaman tentang “kasih” dalam hubungan dengan keteguhan mempercayai Yesus tadi. Keteguhan iman memang baru utuh bila ada kasih. Bagian ketiga (Yoh 14:22-29), akan dibacakan pada hari Minggu Paskah VI tahun C (dua tahun lagi).
Ketiga, “pesan-pesan terakhir” merupakan jenis tulisan yang pada zaman itu sudah umum dikenal. Tulisan seperti itu memuat ajaran serta wejangan seorang tokoh spiritual bagi para murid yang sedang menghadapi saat-saat sulit. Injil Yohanes bab 14 termasuk teks yang dibuat dengan tujuan itu.
Keempat, dalam ayat 15 disebutkan: “Jikalau
kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.” Hal senada
diungkapkan kembali dalam ayat 21a. Kalimat itu tidak dimaksudkan bahwa
mencintai Yesus perlu dibuktikan dengan melakukan hal-hal yang diperintahkan
oleh-Nya.
Kelima, kalimat itu justru menggarisbawahi kebalikannya; mengasihi Yesus akan membuat orang dapat mengenal (=memahami) perintah-perintah-Nya dan menurutinya. Dengan kata lain, mengasihi Yesus menjadi jaminan agar para murid (kita) dapat memperhatikan perintah-perintah-Nya dan melaksanakannya.
Keenam, karenanya (lihat catatan kelima),
dalam ayat 21 terungkap bahwa siapa saja yang memegang dan menuruti
perintah-perintah-Nya, dia itulah yang juga nyata-nyata mengasihi-Nya. Oleh karena
itu, ia akan dikasihi Bapa dan Yesus sendiri.
Ketujuh, dari catatan-catatan (nomor empat
sampai dengan nomor 6) di atas, “mengasihi” Yesus dipakai dalam arti mengakui
kebesaran-Nya dan meluangkan tempat bagi Dia dalam kehidupan ini, setia
kepada-Nya. Pemahaman seperti ini dilihat dari sisi murid. Dari sisi sang Guru
(Yesus), dikasihi oleh Guru berarti menerima perlindungan dari-Nya.
Kedelapan, latar belakang ungkapan
“mengasihi” dalam petikan Injil ini adalah kehidupan umat Perjanjian Lama.
Mereka dipilih, dikasihi, dilindungi, dan dipedulikan Allah, tetapi sekaligus
mereka diharapkan tetap setia dan memberi tempat kepada-Nya. “Mengasihi” dalam
pengertian itulah menjadi dasar bagi “menuruti perintah-perintah” (ay. 15 dan
21).
Kesembilan, yang dimaksud dengan
“perintah-perintah” adalah kekuatan-kekuatan yang menggerakkan dari dalam dan
disadari datang dari hubungan batin dengan Sang Guru sendiri. Dengan demikian,
tindakan para murid tidak bersumber dari diri dan kemauan mereka sendiri.
Tindakan mereka dijiwai oleh kehadiran Yesus, Sang Guru mereka, dalam diri
mereka.
Kesepuluh, perilaku dan tindakan-tindakan
para murid Yesus menghadirkan kembali Yesus sendiri. Hidup mereka menyuratkan
perintah dari atas yang dapat dibaca orang banyak. Dalam hal ini, hidup mereka
menjadi kesaksian akan kehadiran Yesus.
Kesebelas, disebutkan bahwa Yesus akan minta
kepada Bapa agar memberi Penolong yang lain yang menyertai murid-murid
selamanya (ay. 16). Dalam bahasa Yunani yang digunakan dalam Injil Yohanes,
Penolong itu disebut “parakleetos”, yakni dia yang selalu siap dipanggil datang
untuk membantu, memberi uluran tangan di saat-saat gelap, menuntun di jalan
yang licin.
Kedua belas, Penolong itulah yang akan dikirim dari atas untuk menyertai murid-murid Yesus. Ia akan menunjukkan jalan ke pegangan yang sesungguhnya, yang bisa dipercaya, yang bukan tipuan dan tidak mencelakakan; sehingga para murid merasa aman. Karenanya, Penolong itu
disebut Roh Kebenaran (ay. 17a).
Ketiga belas, bagaimana kehadiran Roh Kebenaran
dapat dirasakan? Bagaimana Penolong itu bertindak? Roh Kebenaran (=Penolong)
itu hadir dan bertindak dalam diri murid-murid sendiri, dalam ketajaman batin
mereka masing-masing untuk membedakan yang benar dari yang salah, dalam
kepekaan hati nurani mereka dalam bertindak menurut kebenaran.
Keempat belas, dikatakan bahwa “dunia” tidak
dapat menerima Roh Kebenaran karena tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia
(ay. 17b). Bagi penginjil Yohanes, “dunia” sebagai tempat manusia hidup, telah
dikuasai kegelapan. Akibatnya, “dunia” tidak mengenal Sang Sabda yang telah
menciptakannya pada hari pertama penciptaan (bdk. Kej 1:1-3). “Dunia” seperti
itu tidak memiliki kepekaan akan kehadiran-Nya. Lebih buruk lagi, “dunia” tidak
mengenal asal usulnya sendiri; tidak tahu asal serta tujuannya, yakni Roh
Kebenaran. Itulah musibah yang paling besar.
Kelima belas, semua ini disodorkan kepada para
murid bukan untuk mengecam “dunia” dan menghukumnya, melainkan agar
mengasihaninya dan mencarikan jalan bagi yang ada dalam kegelapan. Sebab, Allah
sendiri begitu mencintai “dunia” agar “dunia” dapat diselamatkan (bdk. Yoh
3:16-17). Dalam upaya inilah murid-murid akan dikuatkan oleh dampingan Roh
Kebenaran dan bimbingan sang Penolong sendiri (Yoh 15:16-17a).
Keenam belas, dalam cara berpikir penginjil
Yohanes, para murid Yesus itu bahkan menjadi tempat tinggal Roh Kebenaran (ay.
17c), seperti kemah tempat berlindung di padang gurun yang penuh bahaya.
Gambaran ini membuat murid-murid Yesus menyediakan diri bagi orang-orang yang
terancam kekuatan-kekuatan gelap “dunia”, yang menolak kehadiran ilahi tadi.
“Pesan-pesan terakhir” Yesus yang disampaikan
dalam Injil Yohanes, yang kita renungkan ini, berisikan pengutusan dan
perutusan sebesar itu (catatan kelima belas dan keenam belas).
Pengutusan dan perutusan para murid Yesus
(kita semua), bukan sebagai panggilan agar menjauhi “dunia”, seburuk apa pun,
melainkan untuk mencarinya dan mengajaknya berbicara serta mengajaknya berjalan
kepada “terang” (=Yesus sendiri – Yoh 1:4-5). Dengan cara ini, lambat laun
“dunia” akan mulai samar-samar mendengar suara Penolong yang tinggal dalam diri
murid-murid Yesus dan juga mengalami keselamatan.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
2 May 2026
MELAKUKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN YANG LEBIH BESAR
MELAKUKAN
PEKERJAAN-PEKERJAAN YANG LEBIH BESAR
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah ke-5 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 14:1-12) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berisi hiburan yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya, yang sedang mengalami kegelisahan.
Apa
makna kisah ini bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan
memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak
ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, dalam kesadaran orang pada zaman itu, pengalaman paling menyeramkan dan menakutkan adalah merasa “tertinggal di luar”, tidak ada yang mengurus. Dalam keadaan seperti itu orang merasa seperti berada di luar pintu kota pada malam hari; sewaktu-waktu dapat dimangsa oleh penyamun dan serigala.
Kedua, dengan latar inilah Injil Yohanes berbicara mengenai tempat yang paling memberi rasa aman. Tempat itu adalah kediaman (rumah) Bapa sendiri (ay. 2a). Di situ Yang Maha Tinggi berkuasa. Tidak ada yang dapat mengganggu gugat mereka yang berdiam di dekat-Nya.
Ketiga, dikatakan oleh Yesus bahwa di rumah Bapa ada banyak “tempat tinggal” (ay. 2a). Ungkapan ini adalah cara untuk mengatakan bahwa siapa saja boleh dan bisa menemukan ketenteraman serta perlindungan di dekat Yang Mahakuasa. Tidak lagi akan ada yang bakal merasa ditinggalkan.
Keempat, orang tidak usah berebut dan waswas tidak bakal mendapat tempat, sebab Yesus sendiri yang menyiapkan tempat itu bagi para murid-Nya (ay. 2b), dan bila semua sudah siap Ia akan datang untuk menjemput para murid-Nya supaya dapat tinggal bersama-Nya di tempat yang aman tadi (ay. 3). Di tempat yang aman itu, mereka tidak akan berpisah lagi dari-Nya.
Kelima, dengan sabda-Nya itu (ay. 2-3) para murid dikuatkan agar mantap hatinya. Itulah arti ajakan Yesus kepada para murid-Nya untuk mempercayai Bapa dan mempercayai Diri-Nya (ay. 1).
Keenam, Yesus sungguh memperhatikan keadaan murid-murid-Nya. Ia dapat digambarkan sebagai “gembala yang baik”. Ia juga berlaku sebagai “pintu”. Itulah yang dibicarakan dalam Injil pada hari Minggu lalu (Yoh 10:1-10).
Ketujuh, dalam petikan Injil yang kita renungkan ini, ada kiasan lain untuk memperkenalkan siapa Yesus itu. Dipakai gagasan “jalan” (ay. 6a). Jalan adalah arah yang perlu dilalui dan ditempuh agar sampai ke tujuan. Ada tumpang-tindih dengan kiasan “pintu”. Kedua-duanya perlu dilalui agar sampai ke tujuan. Pintu adalah titik awal (perjalanan) dan di luar pintu itu ada jalan yang perlu ditempuh. Di luar pintu banyak bahaya. Pada jalan yang benar (yakni Yesus) ada jaminan akan sampai ke tujuan (yaitu rumah Bapa). Di rumah Bapa itulah ditemukan kehidupan.
Kedelapan, selain sebagai “jalan” (catatan ketujuh), Yesus juga disebut sebagai “kebenaran”; artinya, Ia berasal dari Allah (Bapa) dan melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah (Yoh. 8:31-47). Selain itu, Yesus juga menamakan diri-Nya sebagai “hidup”; artinya, Ia merupakan perwujud-an kasih Allah yang begitu besar kepada manusia agar mereka memperoleh kehidupan kekal (Yoh 3:15-21).
Kesembilan, tiga kiasan, yakni “jalan”, “kebenaran”, “hidup” (ay. 6a), diterapkan pada diri Yesus yang telah berjanji untuk menyiapkan tempat di rumah Bapa, dan akan datang kembali untuk membawa murid-murid ke tempat mereka nanti dapat sungguh-sungguh berbagi kehidupan dengan Yang Mahakuasa sendiri.
Kesepuluh, ketiga kiasan itu ditampilkan oleh penginjil untuk menjawab Tomas yang mengeluh bahwa murid-murid tidak tahu ke mana Yesus pergi (ay. 5). Murid-murid memang belum melihat dengan jelas arah yang sedang dijalani Yesus. Bagaimana murid-murid bisa terus mengikuti-Nya bila arah yang ditempuh Yesus tidak jelas bagi mereka?
Kesebelas, dalam ayat 9-14 penginjil memberikan penjelasan bagi Filipus yang mohon agar Yesus “menunjukkan Bapa” (ay. 8a). Seperti kebanyakan murid lain dan para pengikut Yesus sepanjang zaman, Filipus berharap bisa melihat dengan mata kepala sendiri tujuan yang mau dicapai tadi, yakni Bapa. Orang ingin mendapat pengalaman yang membuat dirinya tunduk dan mantap percaya. Inilah yang dimaksud Filipus ketika berkata, “itu sudah cukup bagi kami” (ay. 8b).
Kedua belas, agar dapat percaya memang dibutuhkan kemantapan dan “kepastian”. Namun “percaya” itu tidak dapat diperoleh semata-mata dengan mendapatkan “kepastian” berdasarkan “melihat dengan mata kepala sendiri”. “Percaya” itu hidup dengan sisi-sisi yang tidak pasti bagi yang bersangkutan. Menerima ketidakpastian itu dengan ikhlas, membuat orang menjadi “percaya”.
Ketiga belas, uraian kepada Filipus (ay. 9-14) itu bukan semata-mata ajaran di seputar kesatuan antara Yesus dan Bapa-Nya, melainkan jawaban bagi masalah kepercayaan yang paling dalam dan paling sulit. Bila mau percaya, hendaklah mulai dengan menjauhi kepercayaan yang dibuat sendiri, seperti halnya keinginan untuk melihat Tuhan dan menggapai-Nya! Mulailah dengan yang sudah ada di dekat tetapi yang bukan hasil buatan dan idam-idaman sendiri.
Keempat belas, “yang sudah ada di dekat tetapi yang bukan hasil buatan dan idam-idaman sendiri” adalah kehadiran Yesus dalam hidup murid-murid-Nya, dalam hidup kita. Kehadiran Yesus itu membukakan macam-macam dimensi dalam hidup ini. Dia itulah yang membuat tujuan yang rasanya mengawang tadi menjadi dekat, menjadi bagian dalam hidup sehari-hari.
Kelima belas, dalam ay. 12 disebutkan bahwa siapa yang percaya kepada Yesus akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya, bahkan yang lebih besar daripada itu. Yang dimaksud bukanlah mengerjakan mukjizat, penyembuhan, dan membuat tanda-tanda yang membuat orang takluk, melainkan hidup pribadi yang dapat mempersaksikan kepercayaan kepada Bapa yang hadir di dalam Yesus itu.
Keenam belas, secara konkret, hal itu (catatan kelima belas) dilakukan dengan hidup meng-Gereja, hidup sebagai kumpulan orang yang percaya, yang merasa terpanggil untuk meluangkan tempat bagi kenyataan ilahi di dalam hidup ini dan mengakuinya di hadapan orang banyak. Itulah Gereja sebagai komunitas orang-orang yang percaya.
Merenungkan petikan Injil ini menyadarkan kita bahwa sebagai komunitas orang-orang percaya, kita dapat melakukan hal-hal yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan sebelumnya; yakni, membawakan keilahian ke dunia ini. Keprihatinan utama bukan lagi untuk menggapai dan mencapai Yang Ilahi yang di “sana”, melainkan membawa-Nya ke “sini”.
Hal ini dapat diwujudkan—seperti dikisahkan dalam
bacaan I (Kis 6:1-7)—dengan “mewartakan dan menghadirkan Sang Sada” (ay. 4)
sekaligus “melakukan komitmen sosial (Kis 6:2b-3) guna meningkatkan martabat
hidup orang-orang yang hidupnya jauh dari sejahtera” (Kis 6:1b). Itulah yang
dimaksud dengan melakukan “pekerjaaan-pekerjaan yang lebih besar” (Yoh 14:12b).
Dan hingga hari ini, sebagai murid-murid Yesus, kita tetap dipanggil untuk
menjalankan pekerjaan-pekerjaan lebih besar ini.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.