14 March 2026
MELIHAT SANG TERANG
MELIHAT SANG TERANG
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore`. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Salamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali segala kebaikan yang telah dilimpahkan oleh Allah selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Prapaskah ke-4 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 9:1-41) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok berbicara tentang penyembuhan orang buta pada hari Sabat.
Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita
sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, pada zaman itu masih ada anggapan bahwa dosa dan cacat badaniah erat berhubungan. Anggapan seperti ini merupakan “warisan” dari “tradisi” sebelum kedatangan Yesus; yakni dalam Kel 9:1-7 (penyakit sampar sebagai hukuman bagi orang Mesir); Mzm 38:2-6 (sakit akibat kebodohan pendosa); dan Yeh 18:20 (anggapan umum bahwa anak menderita akibat dosa orang tuanya).
Kedua, bahkan murid-murid Yesus pun masih percaya bahwa penderitaan atau cacat pasti merupakan akibat dosa, entah dosa orang itu sendiri atau orang yang mengandungnya (ay. 2).
Ketiga, Yesus dengan tegas menolak anggapan seperti itu. Ia mengatakan bukan orang itu atau orang tuanya berdosa (ay. 3 bagian pertama). Selanjutnya, Yesus mengalihkan pemikiran murid-murid-Nya dari keinginan melacak asal mula cacat bawaan itu menjadi kesadaran bahwa karya Allah bisa menjadi nyata dalam diri orang buta itu (ay. 3 bagian kedua).
Keempat, selanjutnya ditambahkan bahwa selama masih ada kesempatan, perlulah mengusahakan agar terlaksana yang hendak dikerjakan oleh Dia yang mengutus-Nya (ay. 4); maksudnya, karya penciptaan sendiri. Lalu ditandaskan-Nya: “Selama aku ada di dunia, Akulah terang bagi dunia” (ay. 5).
Kelima, dalam Injil Yohanes kata “terang” dimaksudkan untuk mengingatkan orang akan terang yang diciptakan pada awal karya penciptaan (Kej 1:3-5). Terang ini menjadi dasar bagi hari-hari penciptaan selanjutnya. Pada hari keenam manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Pencipta sendiri (Kej 1:27-31); artinya sempurna (Kej 1:31). Karenanya, pada hari ketujuh Allah, Sang Pencipta beristirahat (Kej 2:2).
Keenam, dengan menyebutkan kata-kata Yesus tentang diri-Nya sebagai “terang”, penginjil Yohanes bermaksud menampilkan Yesus sebagai awal karya penciptaan yang melandasi kejadian selanjutnya sampai ke penciptaan manusia yang utuh. Latar ini memperjelas makna ay. 3, “supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia”; maksudnya, agar karya penciptaan juga menjadi nyata dalam diri orang buta sejak lahir itu.
Ketujuh, setelah
disembuhkan oleh Yesus, orang itu memperoleh penglihatannya dan menjadi manusia
yang layak, bukan lagi si buta peminta-minta. Dalam diri orang itu terjadi
karya penciptaan juga: kegelapan, kebutaan sejak awal, digantikan dengan terang
penglihatan dalam perjumpaan dengan Sabda Ilahi sendiri. Orang itu juga menjadi
pribadi yang berpikir mandiri. Hal ini jelas dalam tanya jawab dengan
orang-orang yang menanyainya (ay. 10-12) dan khususnya dengan orang-orang Farisi
nanti (ay. 15-17; 24-33).
Kedelapan, ketika ditanyai bagaimana ia bisa melihat orang tadi menyebut “Orang yang bernama Yesus itu” mengobati matanya dengan lumpur dan menyuruhnya mandi di kolam Siloam (ay. 11). Ketika beberapa orang Farisi ikut menanyainya, jawabannya makin tegas, “Ia itu nabi!” (ay. 17b). Tetapi orang-orang Farisi itu berusaha mengintimidasi dengan mempersoalkan penyembuhan itu terjadi pada hari Sabat! (ay. 16).
Kesembilan, orang
itu kemudian bertemu Yesus lagi, tetapi kali ini ia dapat melihat-Nya. Ketika
Yesus menanyainya apa ia percaya kepada “Anak Manusia” (ay. 35b), orang itu
balik bertanya, mana orangnya supaya ia bisa menyatakan diri percaya (ay. 36).
Yesus mengatakan bukan saja ia melihat tetapi sedang berbicara dengan-Nya (ay.
37). Ini penjelasan dari Yesus sendiri bahwa yang dimaksud dengan “Anak
Manusia” adalah diri-Nya sendiri. Saat itu juga orang tadi bersujud dan berseru:
“Aku percaya, Tuhan!” (ay. 38).
Kesepuluh, peristiwa penyembuhan ini terjadi di dekat Bait Allah. Baru saja Yesus meninggalkan Bait Allah menghindar dari ancaman dirajam di situ (Yoh 8:59). Dalam berjalan menjauhi tempat itu Ia melihat orang buta tadi (Yoh 9:1). Saat yang tepat. Terang yang sesungguhnya dilempar keluar oleh mereka yang semestinya menyediakan tempat bagi-Nya. Maka kini Ia datang ke tempat yang tak terduga-duga, ke orang yang sudah tidak berpengharapan lagi.
Kesebelas, Yohanes menceritakan
bagaimana Yesus menyembuhkan orang itu. Ia melakukan serangkaian tindakan
seperti yang lazim dilakukan seorang penyembuh tradisional: meramu lumpur
dengan ludah dan memoleskan ke mata orang buta itu (ay. 6). Setelah mengoles mata orang tadi, Yesus
menyuruhnya berendam di sebuah kolam yang bernama Siloam (ay. 7a).
Kedua belas, berjalan kaki dari wilayah Bait Allah ke kolam Siloam di ujung selatan Yerusalem, yang jaraknya hampir 1 km, dalam perhitungan orang Farisi sudah melebihi batas yang diperbolehkan dilakukan pada hari Sabat. Jarak yang boleh ditempuh pada hari Sabat hanyalah 500 meter (lihat Kis 1:12). Jadi di mata kaum Farisi, Yesus bukan saja melanggar hukum Sabat dengan meramu pengobatan, tetapi malah menyuruh orang melanggar hukum Sabat pula dengan menyuruhnya berjalan ke kolam Siloam.
Ketiga belas, dengan kisah ini Injil Yohanes tidak menampilkan Yesus sebagai penyangkal lembaga Sabat atau lembaga kesalehan manapun. Penginjil Yohanes ingin mengatakan bahwa yang dilakukan Yesus sebetulnya memungkinkan Sabat bisa betul-betul terjadi. Sabat itu adalah keadaan di mana Pencipta bisa memandangi ciptaan-Nya utuh tak kurang apapun, tidak cacat, lebih-lebih manusia yang diciptakan-Nya sebagai karya puncaknya. Itulah hari Sabat yang sesungguhnya.
Kempat belas, Yesus mengatakan: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya
siapa saja yang tidak melihat dapat melihat, dan supaya siapa saja yang dapat
melihat, menjadi buta" (Yoh 9:39). Kedatangan Yesus, sebagai “Sang
Terang”, justru untuk menyingkirkan kegelapan yang merundung kemanusiaan. Persis seperti dalam penciptaan. Itulah makna
pemakaian kata “menghakimi.” Di situ
orang yang matanya terhalang akan mampu melihat terang yang sungguh, tetapi
mereka yang merasa mengukuhi terang malah bisa menjadi buta!
Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa karya penciptaan masih berlangsung sekarang ini juga; dalam hidup manusia dan dalam semua ciptaan lainnya! Dan yang kita lakukan juga dapat menjadi “sarana” terjadinya “penciptaan” itu.
Semoga semakin mendekatnya perayaan Paskah, kita berani mendekat kepada Yesus agar hidup kita pun dapat mewujudkan hari Sabat yang sesungguhnya.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
14 March 2026
MENERIMA AIR HIDUP
MENERIMA AIR HIDUP
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Salamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali segala kebaikan yang telah dilimpahkan oleh Allah selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Prapaskah ke-3 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 4:5-42) berkisah tentang perjumpaan seorang perempuan Samaria dengan Yesus, yang mengubah seluruh hidupnya.
Apa makna cerita ini bagi kita sekarang?
Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut
[dengan membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, wilayah Israel dulu terbagi menjadi tiga daerah, yakni Yudea (Yerusalem) di selatan, Galilea (Nazaret) di utara, dan di antara kedua wilayah ini terletak Samaria.
Kedua, orang Yudea dan orang Galilea merasa diri orang Yahudi tulen walau sikap keagamaan masing-masing agak berbeda. Orang Yudea, khususnya yang di Yerusalem, beranggapan bahwa diri mereka lebih patuh beragama daripada orang Galilea yang biasanya lebih bebas sikapnya.
Ketiga, baik orang Yudea maupun orang Galilea umumnya menganggap orang Samaria sesat karena mereka hanya mengakui Kelima Kitab Musa (Pentateukh) sebagai Kitab Suci mereka. Orang Samaria juga dianggap bukan Yahudi tulen karena tercampur dengan orang-orang dari wilayah jajahan Asiria dulu. Ada sikap saling tidak menyukai antara orang Yahudi (baik Yudea maupun Galilea) dan orang Samaria (ay. 9b).
Keempat, perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria itu ditampilkan Injil Yohanes dalam bagian yang menunjukkan bagaimana kehadiran Yesus membawakan kegembiraan (bdk. Yoh 2:1-11 tentang pesta di Kana yang diselamatkan). Kehadiran-Nya juga membuat orang berpikir mengenai ibadat yang kelihatannya beres, tetapi morat-marit di dalamnya (lihat Yoh 2:13-25 tentang pembersihan Bait Allah). Setelah itu ada percakapan dengan Nikodemus (Yoh 3:1-10) mengenai perlunya “lahir kembali” untuk memperoleh hidup abadi.
Kelima, percakapan Yesus dengan perempuan Samaria ini (Yoh 4:4-42) merangkum dua gagasan yang ditampilkan tadi, yakni bagaimana mencapai hidup abadi dan menyembah Allah dengan setulus-tulusnya.
Keenam, perempuan Samaria tadi datang ke sumur “kira-kira pada pukul dua belas” (ay. 6). Ini tak lazim. Biasanya orang tidak menimba air pada tengah hari. Boleh jadi perempuan tadi merasa kurang enak bertemu dengan para perempuan lain. Memang kehidupan pribadinya tidak dapat dibanggakan: kawin cerai lima kali dan sekarang hidup dengan orang yang bukan suaminya (ay. 18).
Ketujuh, percakapan mengenai kehidupan pribadi perempuan itu (ay. 16-18) merangkaikan pokok pembicaraan mengenai “air hidup” (ay. 7-15) dan “menyembah Bapa dalam Roh dan Kebenaran” (ay. 20-26).
Kedelapan, dalam bagian pertama percakapan tadi (ay. 7-15) Yesus menyebut-nyebut “air yang hidup” yang bisa diberikannya kepada perempuan Samaria tadi. Dalam bahasa sehari-hari di Israel zaman itu, “air hidup” adalah air yang mengalir, seperti air sungai atau air yang keluar dari sumber air, bukan air yang mandek seperti air yang tertampung dalam sumur.
Kesembilan, bagian kedua percakapan itu (ay. 19-26) berkisar pada tempat untuk menyembah Allah. Orang Yahudi menganggap orang Samaria sesat karena ada anggapan tempat ibadat yang benar ialah Yerusalem (ay. 20b), sementara orang Samaria menyembah Allah di “gunung ini” (gunung Gerizim – ay. 20a).
Kesepuluh, Yesus menegaskan bahwa saatnya sudah tiba orang menyembah Bapa dalam “roh dan kebenaran” (ay. 23-24). Maksudnya, tidak terikat pada tempat yang membuat kehadiran-Nya terkurung, dan membiarkan diri dituntun oleh daya yang datang dari atas sana, yang betul-betul dapat memberi kelegaan, yang dapat menuntun ke hidup abadi.
Kesebelas, perjumpaan dan percakapan dengan Yesus yang menyentuh kehidupan pribadinya, membuat perempuan tadi mengenal Yesus secara bertahap, mulai dari “orang asing” (“Engkau” – ay. 9a, dan “Tuan” – ay. 11a & 15a) ke “seorang nabi” (ay. 19), dan akhirnya “Mesias” (ay. 25).
Kedua belas, pengenalan akan Yesus sebagai Mesias inilah yang membuat perempuan tadi memahami bahwa “air hidup” yang dimaksudkan oleh Yesus bukanlah air yang ingin ia timba, melainkan Yesus sendiri sebagai Mesias.
Ketiga belas, dari pengenalan itu (catatan kesebelas dan kedua belas) ia “meninggalkan tempayannya” (ay. 28a); artinya, meninggalkan masa lampau hidupnya yang kelam, dan pergi kepada orang-orang di kotanya untuk mewartakan siapa Yesus yang telah ditemuinya (ay. 28b-29).
Keempat belas, perjumpaan dengan Yesus dapat mengubah sikap hati seseorang. Perempuan Samaria itu berubah dari curiga menjadi beperhatian dan melihat Yesus sebagai nabi (ay. 19) dan bahkan Mesias (ay. 25-26). Ia kemudian juga mengajak orang-orang sekota menemui-Nya (ay. 29). Setelah berjumpa dengan Yesus (ay. 30) orang-orang Samaria yang lain itupun berubah sikap dari hanya sekedar ingin tahu menjadi tulus dan ramah serta meminta Yesus—tentunya bersama murid-murid-Nya—tinggal di kota mereka (ay. 39-40). Akibatnya, mereka juga percaya kepada Yesus sebagai Mesias (ay. 41-42).
Dengan merenungkan Injil ini kita diundang untuk menyadari bahwa keadaan hidup pribadi yang tidak ideal (gelap) bukan halangan untuk bertemu dengan Yesus sebagai sumber air hidup yang menjadi bekal perjalanan ke hidup abadi. Juga tidak menjadi halangan untuk mengajak orang-orang lain berbagi kekayaan rohani yang baru saja kita terima dari-Nya. Yesus bukan tokoh yang mengadili. Ia datang untuk memperkaya kehidupan batin sehingga orang mengenal Allah sebagai Bapa.
Semoga dengan semakin
mendekatnya perayaan Paskah, kita dimampukan oleh Roh Allah untuk mendekatkan
diri kepada Yesus agar hidup kita diubah menjadi saluran “air hidup”.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
28 February 2026
MEMANTULKAN WAJAH KRISTUS AGAR TIDAK MENYILAUKAN
MEMANTULKAN WAJAH KRISTUS AGAR TIDAK
MENYILAUKAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Prapaskah ke-2 tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 17:1-9) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang Yesus yang berubah rupa di atas gunung yang tinggi, disaksikan oleh Petrus, dan Yakobus, dan Yohanes.
Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita?
Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut
[sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, kisah yang disampaikan oleh penginjil Matius ini mempunyai tujuan yang berbeda dengan yang disampaikan oleh penginjil Lukas (Luk 9:28-36). Melalui kisahnya, penginjil Lukas bermaksud menonjolkan siapakah Yesus yang sudah menjadi buah bibir orang banyak itu. Sedangkan penginjil Matius ingin menyoroti keadaan para murid Yesus.
Kedua, “enam hari kemudian” (ay. 1). Ungkapan ini menghubungkan peristiwa di gunung itu dengan yang dikisahkan sebelumnya, yakni pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikuti-Nya (Mat 16:21-28). Sekaligus, “enam hari” merupakan waktu yang cukup bagi para murid untuk memikirkan dua hal berikut, yaitu (1) pemberitahuan tentang sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus (Mat 16:21), dan (2) kata-kata Yesus mengenai pengorbanan di dalam mengikuti-Nya, yakni menyangkal diri, memikul salib, berani berkorban demi Dia, dst. (Mat 16:24-28).
Ketiga, tentu para murid selama “enam hari” itu juga bertanya-tanya dalam hati, sepadankah pengorbanan dalam mengikuti Guru yang toh sudah tahu bakal menderita dan meninggal seperti diungkapkan sendiri itu? Lagi pula, apa untungnya lebih besar daripada ruginya?
Keempat, dengan cara itu (catatan kedua dan ketiga) penginjil Matius ingin mengatakan bahwa iman itu bukanlah tindakan “melompat ke dalam kegelapan.” Iman tumbuh dari kesadaran serta pengertian mengenai siapa Dia yang diikuti dan patut menerima komitmen yang makin besar, dan demi maksud apa. Peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung itu bisa menolong para murid-Nya untuk memiliki iman seperti itu; iman yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kelima, wajah Yesus
berubah menjadi “bercahaya seperti matahari” (ay. 2b). Artinya, wajah Yesus
tidak bisa ditatap begitu saja, menyilaukan. Hal ini mengingatkan peristiwa di
kaki gunung Sinai dulu ketika umat Perjanjian Lama melihat kulit wajah Musa
bercahaya. Waktu itu Musa baru saja berbicara dengan Tuhan, turun membawa loh
perintah Tuhan (Kel 34:29 dst.). Perjumpaan dengan sabda Tuhan membuat wajah
Musa bercahaya.
Keenam, kali ini Yesus tampil sebagai Musa yang baru, yang membawakan sabda Tuhan bukan dalam loh batu melainkan di dalam diri-Nya, di dalam kehidupan-Nya. Yesus adalah pribadi yang amat dekat dengan Allah sendiri sehingga menjadi berpendar-pendar menyilaukan.
Ketujuh, namun demikian “peristiwa di gunung” itu tidak terjadi setiap hari. Yesus tidak setiap saat memantulkan cahaya Allah. Kalau hal itu dilakukan-Nya setiap saat, para murid—kita semua—tidak akan tahan. Yesus menghadirkan Allah (memantulkan keilahian) dengan cara yang bisa dimengerti dan tidak menakutkan; yakni, dengan melayani kebutuhan orang-orang yang datang kepada-Nya, mencerahkan budi mereka, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, bersimpati dengan orang lemah yang menanggung beban hidup, dll.
Kedelapan, ungkapan “kepadanya Aku berkenan” (ay. 5) tidak terdapat dalam Injil Markus dan Lukas. Ungkapan itu ditambahkan oleh Matius untuk mengingatkan pembaca tentang adanya kesamaan dengan peristiwa pembaptisan Yesus dan turunnya Roh ke atas diri Yesus, yang dimuat dalam ketiga Injil (Mat 3:17; Mrk 1:11; Luk 3:22). Rohlah yang membuat Yesus dapat bertindak atas nama Yang Ilahi; memantulkan wajah Allah lewat tindakan-tindakan-Nya.
Kesembilan, ketika berjalan turun, ketiga murid itu dipesan oleh Yesus agar tidak bercerita kepada siapa saja sebelum kebangkitan terjadi (ay. 9). Pesan ini dimaksudkan agar para murid sempat memperoleh pengalaman batin mengenai kebangkitan, mengenai keilahian Yesus yang mengatasi kematian. Bila pengalaman batin ini belum mereka miliki, maka cerita mereka yang hebat-hebat tentang Yesus nanti mudah gembos tanpa arti.
Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa jatidiri para murid Kristus—kita semua—adalah “menerangi” (Mat 5:14-16); tetapi tidak perlu bikin silau. Yesus yang kita ikuti memang “menyilaukan”, tetapi jangan kita “pantulkan” begitu saja. Justru tugas yang luhur bagi para murid Yesus adalah membawakan Yang Ilahi dalam ujud yang amat manusiawi dan sehari-hari, seperti dulu dilakukan oleh Yesus semasa hidup-Nya (lihat catatan ketujuh) sehingga kehadiran Allah tidak menakutkan melainkan membawa “kelegaan”.
Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.
20 February 2026
MEMBIARKAN DIRI DITUNTUN OLEH ROH ALLAH
MEMBIARKAN DIRI DITUNTUN OLEH ROH
ALLAH
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat serta mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Minggu Prapaskah pertama tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 4:1-11) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Yesus yang dicobai di padang gurun selama 40 hari.
Apa maknanya bagi kita sekarang?
Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut
[sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, Yesus dibawa oleh Roh [Allah] ke padang gurun untuk dicobai Iblis selama 40 hari. Maksudnya, Yesus dibawa oleh Roh sampai ke tempat itu dan tetap disertai oleh-Nya selama Ia berada di padang gurun dan dicobai oleh Iblis. Roh Allah tidak pernah meninggalkan Yesus. Roh itu adalah Roh yang turun ke atas-Nya pada waktu Yesus menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis (Mrk 1:10; Mat 3:16; Luk 3:22).
Kedua, penginjil Matius menyampaikan kisah ini bukan untuk menampilkan Yesus sebagai manusia sakti atau petapa digdaya, melainkan sebagai manusia yang disertai Roh, bukan agar dikagumi dan dicontoh, melainkan agar diikuti.
Ketiga, ada tiga macam godaan. Yang pertama, Yesus lapar (ay. 2a) dan digoda agar mengubah batu menjadi makanan (ay. 3). Yesus digoda untuk mau mengurus semuanya sendiri sehingga tidak ada kesempatan mendengarkan isyarat-isyarat ilahi. Akhirnya, Yang Ilahi [Allah] tidak masuk dalam pola bertingkahlaku.
Keempat, godaan pertama ini mengingatkan kita akan kisah umat pilihan (Umat Israel), yang kelaparan dan kehausan di padang gurun dulu dan mulai menyangsikan Tuhan serta mencobai-Nya; mereka datang kepada Musa minta mukjizat (Kel 17:1-7). Mukjizat memang terjadi, tetapi mukjizat yang diminta dengan paksa itu cuma menepis rasa haus, tetapi tidak memuaskan batin.
Kelima, Yesus tidak memaksa batu menjadi makanan, seperti dulu Musa yang terpaksa membuat padas kersang memancarkan air segar (Kel 17:6). Memang Yesus lapar, tetapi Ia tidak menukar penyertaan Roh dengan makanan. Ia tetap bertindak sebagai Anak Allah, yang bersedia hidup dari sabda ilahi (ay. 4b) yang menyebut-Nya “anak-Ku yang terkasih” yang diperdengarkan pada saat Ia dibaptis (Mat 3:17b).
Keenam, godaan kedua lebih berat. Yesus diminta oleh Iblis untuk menjatuhkan Diri dari puncak Bait Allah agar Allah sendiri mau tak mau menyelamatkan-Nya (ay. 6). Yesus digoda untuk memaksa Allah agar membuat mukjizat!
Ketujuh, Iblis juga mahir memakai Kitab Suci (ay. 6b) dan menafsirkannya bagi tujuannya sendiri. Tetapi Roh Allah menjernihkan budi Yesus sehingga Ia tetap melihat kedudukan diri-Nya sebagai Anak Allah sejati. Ia tidak mau mencobai Allah. Roh Allah juga mengarahkan ingatan pada ayat suci Ulangan (Ul 6:16) yang melarang orang membiarkan diri dikuasai perasaan ragu akan Yang Mahakuasa.
Kedelapan, godaan ketiga makin gencar dan mengerikan. Yesus ditawari kekuasaan atas seluruh dunia beserta kemegahannya (ay. 8-9a). Syaratnya, Ia bersedia sujud menyembah Iblis (ay. 9b). Iblis bisa menawarkan dunia dan kemegahannya. Berarti, semuanya bisa dialihmilikkan begitu saja oleh Iblis! Syukurlah Roh tetap menyertai-Nya sehingga Yesus tetap berpegang teguh pada pilihan-Nya. Karena itu, penggoda kehabisan akal dan tersingkir oleh daya Roh (ay. 11a).
Kesembilan, siapa “penggoda” itu? Pertama, ia tampil sebagai “peirazoon” (bahasa Yunani; artinya pembujuk, pencoba, ay. 3). “Pembujuk/pencoba” berusaha meyakin-yakinkan dengan niat menipu dan menjatuhkan. Orang dulu paling takut pada cobaan seperti ini. Pasti kalah. Godaan semacam itu adalah alam yang jahat, yang amat mengerikan. Manusia tidak dapat melawannya. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah minta Bapa melepaskan dirinya dari kuasa jahat itu. Itulah yang diajarkan oleh Yesus dalam Doa “Bapa Kami”: “bebaskanlah kami dari yang jahat” (Mat 6:13).
Kesepuluh,
“penggoda” juga tampil sebagai “Iblis” (Yunani: “diabolos” – ay. 1, 5, 8, 11).
Menurut arti kata itu, pekerjaan Iblis adalah memecah belah pikiran dan membuat
hati bercabang. Iblis tidak meminta Yesus meninggalkan Allah, Bapa-Nya. Iblis cuma
ingin agar dirinya juga ikut diakui oleh Yesus. Itu cukup. Inti godaannya
adalah menyisihkan sedikit tempat bagi Iblis (ay. 9b) dengan imbalan seluruh
isi dunia dan kebesarannya (ay. 9a).
Kesebelas, akhirnya “penggoda” tampil sebagai setan (Yunani: satana -- ay. 10a). Yang ketiga ini bahkan diucapkan oleh Yesus sendiri. Sayang dalam terjemahan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia), kata “setan” dalam ay. 10a diganti dengan “Iblis”. Setan pintar menabur benih perseteruan di dalam batin manusia sendiri. Ia menuduh-nuduh apa cara hidup kita ini benar, apa yang ini yang terbaik, mengapa tidak begini saja, dst. Ia membuat orang bimbang. Ia membuat orang menjadi ragu-ragu. Ia itu bisa terasa amat dekat, bahkan seperti [bisa menyusup ke dalam] orang kepercayaan (bdk. Petrus yang membujuk Yesus agar tidak menjalani penderitaan di Yerusalem – Mat 16:22). Ia punya wajah kalem tetapi diam-diam menjerumuskan ke jalan buntu. Dengan kekuatan sendiri kita tidak mampu menghadapinya. Hanya dengan bantuan Roh Allah kita akan mengenalinya dan mendapati jalan kebenaran.
Di padang gurun Yesus berjumpa dengan “diabolos”, Iblis pemecah belah. Ia bertemu dengan “peirazoon”, pembujuk yang menyebar benih permusuhan. Ia juga bertatap muka dengan “satana”, setan yang mau menyeret-Nya ke jalan sesat. Yesus berhasil keluar dari padang gurun dan selamat dari semua “penggoda” itu, karena Ia tetap disertai oleh Roh Allah.
Hidup kita merupakan medan pertempuran antara para “penggoda” (Iblis, pembujuk, dan setan) dengan Roh Allah. Semoga kita tetap berpaling kepada Roh Allah dan membiarkan diri dituntun oleh-Nya, supaya hidup kita tidak pernah terpisah dari Allah, sehingga dapat menghasilkan buah-buah kebaikan; yang antara lain kita wujudkan dalam “berpuasa yang benar”; yakni, berhenti berbuat kelaliman, meringankan beban kehidupan orang lain, berbagi dengan mereka yang berkekurangan, membina relasi yang personal dan mendalam, serta tetap kritis terhadap program-program pemerintah yang populis tetapi tidak pro-rakyat (bdk. Yes 58:1-9).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
15 February 2026
MENEMUKAN ALLAH DALAM PENGAJARAN DAN PERATURAN HIDUP BERAGAMA
MENEMUKAN ALLAH DALAM PENGAJARAN DAN PERATURAN
HIDUP BERAGAMA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan dan merayakan Valentine’s Day, serta menikmati kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-6 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Ijil yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok (Mat 5:17-37) mengungkapkan beberapa pokok pengajaran Yesus yang keras nadanya. Juga terasa adanya kecaman bagi pendengar yang paham ajaran Taurat.
Apa maknanya bagi kehidupan kita
sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, bagi orang Yahudi, Taurat adalah pengajaran, hukum-hukum, dan aturan yang terdapat dalam kelima kitab pertama dalam Alkitab (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan). Jumlahnya, ada 613 hukum: 365 bersifat larangan, sedangkan 248 sisanya berujud keharusan. Bagaimana menghayati semua itu dengan sebaik-baiknya?
Kedua, ada dua arah/cara penghayatan Taurat. Arah pertama, berusaha memenuhi yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang dengan seteliti-telitinya. Ini hidup saleh yang dijalankan oleh banyak orang beragama di zaman Yesus. Kehidupan beragama dalam arah ini diukur dengan ketaatan menjalankan hukum. Arah kedua, menerima Taurat dan mempercayainya sebagai cara mendengarkan Allah yang bersabda kepada manusia dan mendalami jiwa Taurat. Kedua arah ini tidak saling bertentangan, melainkan dua kutub menjalani Taurat.
Ketiga, Yesus mengatakan bahwa diri-Nya datang bukan untuk meniadakan Taurat (ay. 17a), melainkan untuk menggenapinya (ay. 17b). Ia menerima kedua kutub itu. “Bukan meniadakan” (ay. 17a) berarti bukan mengurungkan cara menghayati Taurat dalam pengertian “arah pertama” di atas. Yesus samasekali tidak menyangkal kesahihan sikap orang yang menerima dan menghayati Taurat dalam cara itu.
Keempat, sekaligus ditegaskan-Nya bahwa Ia datang untuk memenuhi/menggenapi Taurat (ay. 17b). Inilah arah kedua tadi. Taurat dihayati sebagai yang membuat diri-Nya menjadi dekat pada Allah yang bersabda dengan Taurat. Orang seperti ini menggenapkan Taurat, membuat Taurat tampil utuh, bukan hanya sebagai himpunan aturan, perintah, dan larangan belaka.
Kelima, “kedua arah” menghayati Taurat sama-sama membawa orang masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 19). Namun arah yang kedualah yang membuat orang menjadi besar (=”diberi tempat yang tinggi” – ay. 19b) di dalam Kerajaan Allah. “Besar” berarti leluasa, tidak ada kesesakan. “Kecil” (=”diberi tempat yang paling rendah – ay. 19b)” berarti mudah merasa sesak, kurang merdeka, tidak leluasa.
Keenam, “meniadakan salah satu perintah hukum Taurat” (ay. 19a) berarti menjalankan Taurat sebagai rangkaian hukum, aturan, dan pengajaran yang dicoba diikuti satu persatu, seperti memenuhi daftar agenda.
Ketujuh, yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya adalah menempuh “arah kedua”, tanpa mengecam “arah pertama” walaupun mengenali keterbatasan “arah pertama” tadi. Untuk tujuan itu Yesus memberi enam contoh mengenai bagaimana memandang Taurat dalam “arah kedua.”
Kedelapan, empat contoh terdapat dalam Injil yang kita renungkan ini; sementara contoh kelima (5:38-39) berkisar pada pembalasan (Kel 21:24, Im 24:20, dan Ul 19:21) dan contoh keenam (5:43-44) membicarakan perintah mengasihi sesama dan membenci musuh (Im 19:18). Contoh kelima dan keenam tidak akan dibahas.
Kesembilan, contoh pertama (ay. 21-26) menyangkut larangan membunuh yang tertera dalam Kel 20:13 dan Ul 5:17. Larangan ini memang penting dan dimaksudkan untuk melindungi kehidupan. Namun Yesus mengatakan bahwa siapa yang marah, mesti dihukum, yang mencaci-maki mesti diadili, dan siapa yang mengumpat “Bodoh/Jahil!” harus diserahkan ke dalam api neraka (ay. 22). Yang dimaksudkan oleh Yesus adalah kita perlu berusaha untuk hidup baik dengan sesama, dan menghormati perbedaan yang sering tidak menyenangkan.
Kesepuluh, dalam contoh kedua (ay. 27-30), Yesus hendak menekankan bahwa inti larangan berzinah dalam Kel 20:14 dan Ul 5:18 bukanlah semata-mata agar orang menghindari tindakan fisik, melainkan terutama menghindari hasrat yang membuat orang lain menjadi tujuan pemuasan nafsu. Yang dikemukakan oleh Yesus bukan hanya larangannya (untuk berzinah – ay. 27) melainkan terutama apa yang mendasari larangan berzinah tadi (menjadikan orang sebagai pemuas nafsu – “memandang perempuan dan menginginkannya” = “berzinah dalam hati” – ay. 28). Hal ini dipertajam dengan contoh ketiga.
Kesebelas, contoh ketiga (ay. 31-32) mengulas bagaimana memahami dengan benar prosedur menceraikan istri yang terdapat dalam Ul 24:1-4. Dari sisi hukum Taurat, seorang istri dapat diceraikan dengan dibuatkan surat cerai (ay. 31). Surat itu mesti diterima secara resmi oleh pihak istri. Dengan demikian maka ada perlindungan hukum bagi bekas istri. Namun tidak jarang prosedur semacam ini disalahgunakan; misalnya, tanpa alasan yang kuat untuk menalak istri, atau alasan sebenarnya yang tidak lurus, misalnya menginginkan menikahi perempuan lain.
Kedua belas, dalam Taurat, ikatan nikah hanya bisa diputus bila istri berbuat zinah (ay. 32a). Dalam hal ini, ikatan dengan suami sudah lepas, dan suami pun wajib menalak dengan prosedur surat talak tadi. Bila penalakan dibuat dengan cara/alasan lain, sang istri memang bebas dan bisa menikah lagi, tetapi tindakan penalakan ini menyatakan bahwa istrinya pernah berzinah (ay. 32b). Penalakan seperti itu sangat merendahkan martabat sang istri. Lebih lagi, orang yang menikahinya kemudian akan ikut berzinah karena mengambil perempuan yang sebetulnya tidak dilepas dari ikatan nikah dengan alasan yang benar (ay. 32c).
Ketiga belas, contoh keempat (ay. 33-36) mengenai larangan bersumpah (ay. 34-36), terlebih bersumpah palsu (Im 19.12 dan Ul 23:21) [ay. 33], hendak menekankan agar orang tidak gampang mengucapkan sumpah karena berat bebannya. Lebih sederhana dan lebih baik bila orang memegang perkataannya dan tampil berintegritas (ay. 37a). Hal ini sangat penting karena dalam praktik, sumpah kerap dijalankan untuk menipu tetapi membuat pihak lain mau tak mau menerimanya karena sumpah itu mengatasnamakan perkara-perkara keramat [Allah].
Merenungkan Injil yang memuat kata-kata keras dari Yesus ini mengajak kita untuk berpikir mengenai inti pengajaran agama yang kita miliki. [Bagi orang Yahudi waktu itu pengajaran agama adalah kewajiban menjalankan hukum Taurat]. Kita diajak untuk melihat lebih dalam yang dimaksudkan oleh pengajaran agama itu sendiri, dan tidak hanya tinggal pada permukaan.
Kita diajak untuk
menemukan Allah yang bersabda di dalam pengajaran agama yang kita miliki.
Jangan sampai kita menjalankan semua pengajaran dan peraturan agama, namun
tidak menemukan Allah di dalamnya.
Bila kita mampu
menemukan Allah dalam melakukan ajaran dan peraturan agama, kita akan mampu
tampil sebagai pribadi yang penuh integritas, sehingga kata dan tindakan kita
dapat memancarkan kehadiran Allah.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
8 February 2026
MENGGARAMI DAN MENERANGI DUNIA
MENGGARAMI DAN MENERANGI DUNIA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara,
serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk
sejenak beristirahat dan mencecap kembali semua rahmat yang telah dianugerahkan
kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-5 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 5:13-16) berbicara tentang para murid sebagai garam dan terang dunia.
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan
bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab
untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, Injil yang kita renungkan ini merupakan bagian dari kumpulan ajaran Yesus yang pertama dalam Injil Matius, yaitu Matius bab 5-7 (lihat catatan kedua renungan pekan yang lalu).
Kedua, dalam Mat 5:1-12 (bacaan pekan yang lalu), Yesus mengucapkan Sabda Bahagia; ay. 3-10 berkaitan dengan kehidupan orang pada umumnya (ay. 1a). Dalam ay. 10 dikatakan bahwa orang yang mengalami perlakuan buruk dan dianiaya karena melakukan kehendak Allah, perlu merasa bahagia.
Ketiga, ayat 11 isinya sama dengan ay. 10, tetapi ditujukan kepada para murid Yesus yang mengikuti Yesus ke bukit, tempat Sabda Bahagia diucapkan (ay. 1b). Sejak saat itu, Yesus berbicara mengenai kehidupan pada murid-Nya.
Keempat, pembicaran tentang garam dan terang dunia menyangkut diri para para murid Yesus sendiri. Konteksnya adalah pengalaman orang yang dimusuhi karena melakukan kehendak Allah (ay. 10), serta dicela dan diperlakukan buruk karena Yesus (ay. 11). Walaupun mengalami perlakuan seperti itu, mereka tetap diharapkan untuk bersukacita dan bergembira (ay. 12); dalam bahasa sekarang: tidak kehilangan harga diri.
Kelima, dalam konteks inilah (catatan keempat), pengajaran tentang garam dan terang dunia tampil sebagai pengajaran mengenai hidup para murid Yesus. Mereka diminta oleh Yesus untuk berlaku sebagai garam dan terang, meskipun dimusuhi. Mereka diminta untuk tetap berteguh dalam kesulitan. Sikap seperti itulah yang akan membuat mereka ikut disebut “berbahagia.”
Keenam, peran utama garam adalah membuat dunia (=masyarakat manusia) tidak mudah membusuk. Peran terang adalah membuat dunia menjadi semarak dan indah dipandang; juga agar tidak tersesat dalam kegelapan.
Ketujuh, Yesus menyebut para murid “Kamu adalah garam dunia” (ay. 13a). Mereka tidak diminta untuk “menjadi” garam, tetapi “tetap [berfungsi] sebagai” garam. Persoalannya adalah bila garam itu kehilangan dayanya dan menjadi tawar atau hambar (ay. 13b). Garam seperti ini tidak ada gunanya lagi; hanya akan dibuang dan diinjak-injak (ay. 13c). Hal ini terjadi bila para murid kehilangan identitasnya sebagai murid Yesus. Dengan kata lain, bila para murid Yesus tidak ikut membuat dunia tidak membusuk dan enak untuk ditinggali, mereka tidak memberi sumbangan apa-apa (=tawar).
Kedelapan, para murid Yesus juga diibaratkan sebagai terang dunia. Seperti halnya kota yang terletak di atas gunung (ay. 14b), para murid Yesus tidak dapat menyembunyikan diri; cara hidup mereka akan dilihat oleh semua orang dan tidak akan didiamkannya.
Kesembilan, seperti halnya pelita (lampu) yang menerangi seluruh ruangan (ay. 15), hidup para murid Yesus bukan hanya untuk diri sendiri melainkan untuk menerangi lingkungan di se kitarnya. Lebih jauh, hendaknya cara hidup mereka “bersinar” di hadapan semua orang, sehingga perbuatan baik mereka dilihat oleh banyak orang dan orang-orang itu akan “memuliakan Bapamu yang ada di surga” (ay. 16). Maksudnya, agar perbuatan dan tingkah laku kehidupan para murid Yesus menjadi bentuk kehadiran Allah Bapa di dunia ini.
Kesepuluh, bagaimana hal itu (catatan ketujuh s/d kesembilan) dapat diwujudkan? Para murid Yesus tidak boleh mengurung diri dalam persoalan-persoalan peribadatan dan rumus-rumus iman kepercayaan sendiri, melainkan perlu melibatkan diri dalam persoalan-persoalan sosial kemanusiaan, yang merupakan medan pelaksanaan karya keselamatan Allah.
Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa sebagai murid-murid Yesus kita adalah garam dan terang dunia. Tanggungjawab dan panggilan ini dapat kita wujudkan bila kita, seperti dikatakan oleh Konsili Vatikan II pada 7 Desember 1965, berani melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat dan menatanya dengan nilai-nilai Kristiani (Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, Presbyterorum Ordinis, art. 6 alinea 2). Kalau menggunakan seruan mendiang Paus Fransiskus, kita mesti “keluar dari sakristi dan pergi ke jalan-jalan” (“get out of the sacristies and into the streets”).
Semoga Roh Allah memampukan kita untuk melakukannya.
Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.