1 March 2020
Ketaatan menghasilkan kehidupan dan keselamatan
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan dapat menikmati kasih Allah bersama keluarga, teman, sahabat, bahkan dalam kesendirian.
Bacaan-bacaan yang kita dengarkan dalam Misa pada Hari Minggu Pekan Pertama Masa Prapaskah berbicara ttg Allah Sang Pemberi Kehidupan (Kej 2:7) dan kesetiaan yang dituntut dari manusia utk menaati perintah-Nya agar kehidupan yang telah diterima dari Allah itu dapat dirawat (Kej 2:16). Namun manusia (Adam n Hawa) gagal melaksanakan perintah Allah itu (Kej 3:6). Dosa mereka adalah ketidaktaatan terhadap perintah Allah, bukan kesombongan. Akibatnya, meraka mengalami bahwa diri mereka rapuh dan menjauh dari Allah (= "mereka tahu bahwa mereka telanjang", Kej 3:7). Namun mereka tidak mati, karena Allah tetap mengasihi mereka.
Injil (Mat 4:1-11) menampilkan Yesus sebagai "Anak Allah"; artinya pribadi yang sangat dekat dengan Allah dan membiarkan diri dituntun dan dilindungi oleh Roh-Nya (ay. 1: "dibawa oleh Roh). Akibatnya, Yesus mampu mentaati perintah Allah kendati godaan-godaan yang Ia hadapi memiliki kekuatan yang dahsyat.
Godaan pertama datang dari "si pencoba" (ay. 3). Godaan itu mengajak Yesus utk mengurus sendiri semua keperluan hidup-Nya dan tidak memberikan ruang kepada Allah (= mengubah batu menjadi roti). Yesus tetap memilih "penyertaan Roh" daripada menuruti kemauan-Nya sendiri utk mengatasi rasa lapar (ay. 4).
Godaan kedua semakin berat, yakni memaksa Allah utk membuat mukjijat (ay. 5-6). Tapi Yesus tidak meladeni godaan itu. Sebaliknya, Ia membiarkan Roh Allah membantu-Nya utk memahami isi Kitab Suci (Mzm 91:11-12) secara jernih, dan tidak mengikuti tafsir si Iblis.
Godaan ketiga, semakin dahsyat. Yesus akan memperoleh semua kekuasaan dan kemegahan seluruh dunia asalkan Yesus mau menyembah si Setan (ay. 8-9). Si Setan menggoda Yesus utk "memberikan sedikit tempat" baginya, di samping Allah yang selama ini memenuhi seluruh hidup Yesus. Sekali lagi, di bawah penyertaan Roh Allah, Yesus mampu menolak godaan itu dan menempatkan Allah sebagai pusat hidup-Nya yang patut Ia sembah (ay. 11). Karena daya Roh yang menyertai Yesus, Iblis kehabisan akal dan tersingkir dari kehidupan Yesus. Yesus dimampukan oleh Roh Allah utk mentaati kehendak dan perintah Allah, sehingga melalui ketaatan-Nya itu, Ia mendatangkan kesemalatan bagi seluruh umat manusia (Rom 5:19b).
Semoga kita mau meneladan Yesus, membiarkan diri dituntun oleh Roh Allah agar kita dapat mentaati kehendak dan pwrintah-Nya sehingga hidup kita dapat menjadi saluran kehidupan Allah bagi banyak orang.
Teriring salam,
Rm. Madya, S.J.
26 February 2020
Menghargai dan Melindungi Kehidupan
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat malam. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan disegarkan setelah menikmati kasih Allah sepanjang hari ini. Ijinkan saya menyapa Anda pada penghujung hari Minggu ini.
Bacaan Injil yang kita dengarkan pada hari Minggu Biasa ke-7 ini (Mat 5:38-48) merupakan kelanjutan dari bacaan Injil Minggu yang lalu. Karenanya, semua pesan dalam Injil hari ini juga perlu kita pahami dalam konteks Yesus yang ingin mengajak pendengar-Nya utk memahami "semangat" yang ada di balik semua ajaran-Nya (yang mengacu pada ajaran Taurat) itu. Ada lima hal yang dapat kita petik sebagai sumber perjalanan hidup kita selama sepekan mendatang.
Pertama, ayat 38 yang berbicara ttg "mata ganti mata, gigi ganti gigi." Sabda ini perlu dipahami dalam latar kitab Keluaran 21:22-25 (silakan membacanya). Perintah itu BUKAN ingin menekankan pentingnya melakukan balas dendam, malainkan pentingnya menghargai dan melindungi kehidupan.
Kedua, melalui ay. 29 Yesus ingin mengajarkan betapa jahatnya melakukan penghinaan dan kekerasan. Karenanya, para murid Yesus dilarang melakukan hal itu.
Ketiga, dalam ay. 40-42 diajarkan tentang pentingnya mengembangkan kepekaan terhadap kebutuhan sesama dan melakukan sesuatu utk membantu sesama yang membutuhkan.
Keempat, ay. 43-47 mengajarkan kepada kita bahwa kasih itu tidak boleh dibatasi dalam kelompok (seagama) sendiri. Kasih perlu menembus batas-batas sosial dalam masyarakat.
Kelima, "menjadi sempurna seperti Allah di surga" (ay. 48). Dengan perkataan ini Yesus mengundang para pendengar-Nya utk berani mendekatkan diri pada Allah Bapa, yang (ingin selalu) dekat dengan manusia, yang selalu mengusahakan yang terbaik bagi kehidupan manusia (yang mau menerimanya).
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
25 February 2020
Menggenapi Hukum Taurat
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan sedang menikmati hari Minggu utk mencecap kebaikan Tuhan.
Bacaan Injil (Mat 5:17-37) yang kita dengarkan dalam Missa Minggu Biasa ke-6 hari ini nadanya kedengaran keras. Namun kalau kita renungkan secara mendalam, tidaklah demikian. Pesan Injil hari ini dapat kita pahami dengan baik kalau kita memahami bagaimana Taurat dimaknai dan dihidupi oleh orang-orang Yahudi pada zaman Yesus.
Bagi orang Yahudi, Taurat adalah semua pengajaran, hukum, dan peraturan yang terdapat dalam lima kitab pertama dalam Alkitab. Taurat mengandung 613 hukum, yang terdiri dari 365 larangan dan 248 keharusan. Hal ini sebenarnya tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan Kitab Hukum Kanonik dalam Gereja Katolik yang terdiri dari 1752 kanon.
Bagi orang Yahudi, hidup saleh berarti melakukan semua keharusan, dan menjauhi semua larangan. Dengan cara itu mereka mendapatkan kesalehan (= menjadi orang saleh). Itulah yang dilakukan oleh para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Yesus mengajak para murid-Nya utk menghayati hidup keagamaan mereka melebihi cara kaum Farisi dan para ahli Taurat menghayatinya (ay. 20). Caranya, bukan dengan "meniadakan hukum Taurat" melainkan dengan "menggenapinya" (ay. 17b). Apa artinya?
"Meniadakan" bukan berarti membuang, tetapi menghayati hidup keagamaan semata-mata dengan mentaati peraturan yang tertulis. Sedangkan "menggenapi" berarti menghayati hidup keagamaan dengan menghayati semangat yang menjiwai peraturan yang tertulis, tanpa melanggar peraturan tertulis tersebut.
Contoh, Taurat mengajarkan bahwa orang yang membunuh (melanggar peraturan) harus dihukum (ay. 21). Yesus mengajarkan agar para murid-Nya hidup bersaudara dengan baik dan menghargai berbagai macam perbedaan; dan tidak berbuat sebaliknya dengan marah, mengkafirkan orang lain, serta menganggap orang lain bodoh/jahil (ay. 22).
Contoh lain, Taurat mengajarkan supaya orang tidak berzinah (secara fisik) (ay. 27). Sementara itu, Yesus mengajarkan agar para muridnya tidak "berzinah dalam hati"; artinya tidak mengembangkan pemikiran dan keinginan utk mempergunakan orang lain semata-mata utk memuaskan kebutuhan dirinya (ay. 28).
Dengan kata lain, kita semua, sebagai para murid Yesus zaman ini, diundang oleh Yesus utk menghayati hidup beragama lebih dari sekedar menjalankan kewajiban dan menghindari larangan. Yesus mengundang kita untuk menemukan kehadiran Yang Illahi bukan hanya dalam upacara-upacara keagamaan, melainkan juga dan terutama di tengah-tengah hidup bermasyarakat. Agar dengan cara ini kita bersama warga masyarakat yang lain dapat membangun hidup bersama yang dilandasi oleh rasa hormat, saling menghargai, dan saling membantu.
Salam, Rm. Madya, S.J.
25 February 2020
KIta ADALAH Garam dan Terang Dunia
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat malam. Sebelum hari berganti, ijinkan saya masih menyapa Anda semua. Semoga Anda dalam keadaan baik.
Dalam bacaan Injil yang dipakai dalam Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa Ke-V pada hari ini (Mat 5:13-16), Yesus mengingatkan kita semua bahwa kita ADALAH garam dunia (ay 13a) dan terang dunia (ay 14a). Panggilan kita adalah menjaga agar hidup kita sebagai garam dunia tidak tawar (ay. 13b) dan sebagai terang dunia tidak redup atau mati (ay. 15).
Bagaimana hal itu dapat kita lakukan? Yesus hanya mengatakan bahwa kita perlu melakukan perbuatan baik supaya orang yang menyaksikan perbuatan baik kita itu akan memuliakan Allah Bapa yang ada di Surga (ay. 16).
Tentang perbuatan baik ini bacaan pertama (Yes 58:7-10) merincinya dengan jelas. Berbuat baik berarti: berbagi makanan dengan mereka yang tidak memiliki sesuatu utk dimakan; memberi tumpangan kepada mereka yang tidak punya tempat utk berteduh; memberi pakaian kpd mereka yang tidak memiliki suatu pun utk melindungi tubuhnya; tidak membuat orang lain memikul beban kehidupan; tidak menilai orang lain secara sewenang-wenang; tidak memfitnah; dan meringankan beban hidup orang yang selama ini ditindas.
Akhirnya, ada sebuah catatan. Kapan Allah kita muliakan? Bagaimana kemuliaan Allah itu terwujud? Pada abad ke-2, Santo Irenaeus mengatakan bahwa kemuliaan Allah itu terwujud bila umat manusia hidup dalam kelimpahan dalam seluruh aspek kehidupannya (bdk. Yoh 10:10b). Pada abad ke-20 ucapan Santo Irenaeus ini dimaknai secara baru oleh almarhum Uskup Oscar Romero dari El Salvador, yang ditembak mati ketika sedang mengangkat sakramen mahakudus yang baru saja ia konsekrasikan. Almarhum mengatakan bahwa Allah sungguh dimuliakan ketika orang-orang miskin dapat hidup dalam kelimpahan dalam seluruh aspek kehidupan mereka.
Inilah panggilan kita sebagai garam dan terang dunia. Saling mendoakan agar kita dimampukan oleh Roh Kudus utk mewujudkan panggilan ini
Salam, Rm. Madya, S.J.
25 February 2020
Mengembangkan Iman Anak-Anak
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat malam. Pada penghujung hari Minggu ini, ijinkan saya masih menemui Anda semua. Saya harap Anda semua memperoleh kesegaran setelah menikmati hari Tuhan bersama keluarga, para sahabat, teman, rekan kerja, atau bahkan sendirian bersama dengan Tuhan.
Pada Pesta (bayi) Yesus dipersembahkan ke Bait Allah ini, kita semua sebagai orang Katolik yang sudah dewasa diingatkan akan tanggung jawab kita utk membantu para anggota Gereja yang masih anak-anak dan remaja agar mereka bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada mereka (bdk. Luk 2:40). Sudah barangtentu tanggung jawab utama berada di pundak orangtua mereka. Namun komunitas (Lingkungan, Wilayah, Kelompok kategorial) juga memiliki tanggung jawab utk membantu setiap keluarga agar mereka mampu melaksanakan tanggung jawab mereka.
Khusus utk mengembangkan iman anak-anak kita, ada beberapa tindakan yang perlu kita lakukan dengan penuh ketekunan.
Pertama, melaksanakan kebiasaan-kebiasaan yang secara turun-temurun sudah dilakukan dalam setiap keluarga Katolik seperti diteladankan oleh Santo Yosef dan Bunda Maria (bdk. Luk 2:22-24); jakni doa bersama dalam keluarga, pergi ke gereja bersama, menerima sakramen-sakramen bersama, dan berjiarah bersama.
Kedua, membaca Kitab Suci bersama dalam keluarga sebagai sarana utk melakukan sharing iman.
Ketiga, mengasah kepekaan hati dan kepedulian terhadap orang lain dengan melatih anak-anak utk mengunjungi tetangga yang berkesusahan, membantu teman sekolah yang kurang mampu, berbagi dengan anak tetangga yang memerlukan bantuan, merayakan ulang tahun di panti asuhan atau panti wredha.
Keempat, mengembangkan kesalehan sosial utk melengkapi kesalehan devosional dengan mempelajari bersama Ajaran-ajaran Sosial Gereja dan mencari langkah-langkah konkret utk mewujudkannya. Semua Ajaran Sosial Gereja yang dikeluarkan mulai tahun 1891 s/d 2015 sdh diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Kanisius pada 2016 dengan judul "Docat Indonesia."
Dengan menempuh cara-cara ini, iman kita sendiri dan iman anak-anak kita akan berkembang menjadi iman yang cerdas, tangguh, dan misioner, serta signifikan bagi perkembangan Gereja dan relevan bagi masyarakat di sekitar kita.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
25 February 2020
Penjala Manusia
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Selamat menikmati hari Minggu bersama keluarga, sahabat, teman, rekan kerja, atau pun sendirian bersama Tuhan.
Bacaan-bacaan Missa yang kita dengarkan pada Hari Minggu Biasa III (Yes 8: 23b-9:3 dan Mat 4:12-23) memberikan beberapa inspirasi utk menjalani hidup kita dalam sepekan ke depan.
Pertama, Yesus mengajarkan kpd kita bahwa kita perlu pandai membaca situasi, sehingga bila menghadapi situasi yang kiranya membahayakan hidup kita, kita dapat menjauhinya dengan perhitungan yang matang supaya kita tidak mati konyol (Mat 4:12-13 -- "menyingkir" dan "meninggalkan").
Kedua, Penginjil Matius memperkenalkan Yesus sebagai "Terang" yang menghalau kegelapan dan memberikan kehidupan (ay. 16; bdk.Yes. 9:1-2). Orang yang terkena (Kuasa) kegelapan pasti akan menemui maut. Ia hanya bisa lepas kalau mendapatkan pertolongan dari "Sang Terang" yakni Yesus sendiri.
Ketiga, Yesus mengundang para pendengarnya utk "bertobat" karena Kerajaan Sorga sdh dekat (ay. 17). Bertobat berarti membuka diri supaya kehadiran Sang Terang dapat memasuki hidup kita, sehingga kita mengalami kelegaan, pikiran yang sempit dibuka, beban kehidupan diringankan, dan cita-cita hidup diselaraskan dengan kehendak Tuhan. Akibatnya, keputusan-keputusan yang kita buat, dan langkah-langkah kehidupan yang kita ambil, kita arahkan pada terwujudnya kehidupan bersama yang lebih manusiawi (makmur, sejahtera, adil, dan bermartabat).
Keempat, seperti halnya Petrus dan Andreas, serta Yakobus dan Yohanes, kita pun juga dipanggil oleh Yesus utk menjadi "penjala manusia" (ay. 19). Menjala manusia tidak sama dengan merekrut orang utk memeluk agama yang kita peluk. Bukan. Menjala manusia berarti membantu mereka utk dapat bertemu dengan "Sang Terang" agar mereka memperoleh kehidupan dari Allah sendiri. Menjala manusia juga berarti membantu orang-orang yang pernah bertemu dengan Sang Terang agar mereka tetap tinggal bersama Dia. Caranya bisa bermacam-macam sesuai dengan situasi kehidupan mereka masing-masing.
Saling mendoakan agar hidup kita semakin dipenuhi oleh kehadiran Yesus, Sang Terang, agar kita dapat membantu banyak orang bertemu dengan Dia, supaya mereka pun mengalami keselamatan yang datang dari Allah.
Salam, Rm. Madya, S.J.