Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

22 November 2020

Menjadi Jalan Keselamatan

Para Ibu, Bapak dan Saudari serta Saudara sekalian yang baik, selamat petang. Semoga Anda semua berserta keluarga, teman, dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda juga tetap memilih sehat dan bahagia. Saya juga berharap Anda semua sudah sempat beristirahat dengan cukup sekaligus mensyukuri semua berkat Allah yang telah Ia limpahkan kepada kita semua selama pekan yang lalu. Mohon maaf saya baru dapat menemui Anda di penghujung hari ini. Sejak kemarin sore sampai pukul 14:00 tadi, saya bersama dengan tiga orang Yesuit yang hidup sekomunitas dengan saya, mendampingi para perserta “Trilogi Rekoleksi” gelombang kedua, dengan menggeluti pengalaman kehilangan, khususnya yang terjadi selama pandemi covid-19 ini. Rekoleksi diadakan di Kampoeng Media, Studi Audio Visual Puskat, Sinduharjo, Sleman, Yogyakarta.

Hari ini Gereja mengajak kita semua untuk merayakan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Bacaan Injil yang dibacakan dalam Missa hari ini diambil dari Matius 25:31-46. Kisah dalam Injil ini tidak terdapat dalam Injil Markus, Lukas, maupun Yohanes. Untuk memahami pesan Injil hari ini tiga catatan perlu kita perhatikan.

Pertama, istilah “semua bangsa” perlu dipahami dengan latar belakang Perjanjian Lama. Bangsa Yahudi disebut sebagai “bangsa terpilih,” “umat Allah.” “Semua bangsa” lain, bukan “bangsa terpilih;” mereka tidak termasuk “Umat Allah.” Setelah Yesus dibunuh dan dibangkitkan dari kematian, para pengikut Yesus disebut sebagai “Umat Allah yang baru.” Dalam konteks ini, “semua bangsa” berarti semua orang yang tidak menjadi pengikut Yesus Kristus.

Kedua, pesan Ijil ini tidak diperuntukkan bagi “semua bangsa” melainkan bagi semua orang Yahudi yang mengikuti Yesus dan bagi kita semua sebagai “Umat Allah yang baru.”

Ketiga, yang dimaksudkan dengan “Anak Manusia” adalah Yesus sendiri sebagai manusia yang mampu menempatkan diri di hadapan Allah sebagai Pencipta yang Ia sebut sebagai Bapa. Ia juga disebut sebagai “Raja” (ay. 34; 40). Yesus—sebagai Anak Manusia sekaligus Raja—inilah yang pada akhir zaman akan mengumpulkan “semua bangsa” untuk diadili.

Ada dua buah pertanyaan mendasar dari Injil hari ini: (1) apakah “semua bangsa” yang tidak termasuk anggota “Umat Allah” ini dapat memperoleh keselamatan?; dan (2) bila dapat, bagaimana cararanya?  Yesus mengajarkan bahwa mereka itu dapat memperoleh keselamatan. Keselamatan mereka bergantung pada perlakuan mereka terhadap “sang raja” ketika ia lapar, haus, tidak ada tumpangan, telanjang, sakit, dan dipenjara (ay. 35-36). Perlakuan terahadap Raja yang dalam keadaan seperti itu, terjadi ketika mereka (semua bangsa) “mengulurkan tangan” kepada “salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina” (ay. 40; 45). Yang dimaksudkan dengan “salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina” adalah anggota Umat Allah. Semua bangsa yang berada di luar bangsa tepilih (Umat Allah) dapat ikut menikmati keselamataan Allah, bila mereka menghargai anggota yang “paling kecil” dari Umat Allah.

Di lain pihak, semua pengikut Yesus Kristus sebagai Umat Allah mempunyai tanggung jawab untuk “menjadi jalan” bagi “semua bangsa” agar mereka dapat ikut memperoleh keselamatan Allah. Caranya, sebagai Umat Allah kita diminta oleh Yesus untuk hidup menurut kehendak Bapa, sehingga “orang-orang luar” dapat melihat adanya integritas dalam hidup kita. Akibatnya, mereka “menghargai” kita, memperlakukan kita dengan baik. “Hidup menurut kehendak Bapa,” dalam Injil Matius, berarti hidup menurut sabda bahagia (Mat. 5:3-12). Itu berarti bahwa kita perlu hidup dengan mengembangkan semangat miskin di hadapan Allah (tidak diperbudak oleh semua bentuk “kekayaan” – ay. 3); menanggapi segala sesuatu dengan kelembutan dan kerendahan hati (ay. 4-5); mendambakan kebenaran (ay. 6); melihat dan bertindak dengan kasih (ay. 7); menjaga agar hati bersih dari segala sesuatu yang dapat mencemari cinta (ay. 8); menabur perdamaian di sekitar diri kita (ay. 9); dan melaksanakan jalan Injil setiap hari kendati hal itu akan membawa kesulitan dalam hidup kita (ay. 10-11).

Ajaran Yesus ini begitu manusiawi. Sekaligus betapa luhurnya Yesus Kristus sebagai Anak Manusia yang mengajarkan itu semua. Ajaran-Nya ini bercorak universal. Karenanya, pantaslah bila Yesus Kristus disebut sebagai Raja Semesta Alam.

Semoga semangat Sabda Bahagia tercermin dalam hidup kita, agar semua orang yang tidak menjadi murid Yesus akan ikut menikmati keselamatan Allah dengan menghargai dan memperlakukan kita dengan baik, karena mereka melihat integritas dalam hidup kita.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

15 November 2020

Allah Mempercayai Umat-Nya


Para Ibu dan Bapak serta saudari dan saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan semua anggota keluarga dan teman serta sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda semua juga tetap memilih sehat serta  bahagia, karena hidup adalah sebuah pilihan.  Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat serta mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dianugerahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.

Pada Hari Minggu Biasa ke-33 Tahun A dalam kalender Liturgi ini, Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini berbicara tentang kepercayan Allah yang begitu besar kepada umat-Nya (Mat. 25:14-30). Oleh Yesus Allah digambarkan sebagai seorang tuan yang pergi ke luar negri dan mempercayakan hartanya kepada para hambanya untuk dikelola (ay. 14). Satu telenta nilainya sama dengan 10.000 dinar. Satu dinar adalah upah sehari kerja pekerja harian. Satu talenta sama dengan upah 10.000 hari (27,29 tahun) kerja seorang pekerja harian. Jumlah harta yang sangat besar.

Juga dikatakan bahwa masing-masing diberi kepercayaan “menurut kesanggup-annya” (ay. 15). Tuan itu mengenal para hambanya satu per satu dengan sangat baik. Karenanya, ia merasa aman menitipkan hari kekayaannya kepada orang-orang dekat yang ia kenal dengan baik. Ia percaya bahwa mereka akan menjaga dan menjalankan uangnya dengan baik. Ia berharap akan memetik keuntungan baik di luar negri maupun di negrinya sendiri.

Dua hamba yang pertama (yang menerima 5 dan 2 talenta) sejak awal menyadari dan tahu bahwa tuannya sungguh mempercayai mereka. Kesadaran inilah yang membuat mereka berdua berani mengambil risiko mengembangkan harta yang dipercayakan kepada mereka: “…..tuan percayakan kepadaku” (ay. 20; 22). Usaha mereka membuat hati tuan mereka sangat berkenan, sehingga mereka akan mendapat tanggung jawab atas perkara-perkara yang besar karena telah bertanggung jawab dalam perkara-perkara yang kecil (ay. 21a; 23a). Selain itu, mereka juga diajak untuk masuk ke dalam kebahagiaan tuan mereka (ay. 21b; 23b). Maksudnya, mereka akan menjadi anggota rumah tangga tuannya yang merdeka, bukan budak lagi, dan berbagi kekayaan dengan tuannya. Usaha mereka telah membuat mereka menjadi orang merdeka, yang tetap boleh tinggal di rumah tuan mereka dan berbagi kekayaan tuan mereka. Inilah pahala terbesar yang dapat diharapkan oleh seorang hamba (budak).

Sebaliknya, hamba yang menerima 1 talenta menjadi ketakutan (ay. 25) karena mengetahui bahwa tuannya memiliki tuntutan yang sangat tinggi (ay. 24 dan 26). Rasa takut ini membuat dia tidak dapat menerima bahwa tuannya mengetahui  kemampuannya dan memberi kepercayaan kepadanya. Akibatnya, ia kurang punya inisiatip, malas, ragu-ragu, dan tidak berbuat apa-apa. Ia tidak menghasil-kan apa-apa. Ada ironi yang sangat tajam. Di satu pihak, tuan itu sangat mengenal para hambanya dan memberi kepercayaan kepada mereka; di lain pihak, tidak semua hambanya mengenal sang majikan sebaik majikan itu mengenal mereka.

Karena sikap dan perbuatannya, hamba yang menerima 1 talenta itu disebut sebagai hamba yang malas dan jahat (ay. 26). Ia disebut “malas” karena tidak punya inisiatip, malas, ragu-ragu, dan tidak berbuat apa-apa. Ia disebut “jahat” karena dengan keputusannya untuk tidak melakukan apa-apa, ia tidak memberi kemungkinan kepada tuannya untuk berubah. Dengan tindakannya itu, ia menutup pintu bagi tuannya sehingga tuannya tidak dapat menjadi orang lain sebagaimana ia kenal selama ini. Hal ini sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh dua hamba lainnya. Berkat keberanian dan kesetiaan mereka mengembangkan harta tuannya, tuannya bisa berubah menjadi orang yang murah hati dan bahkan mau membebaskan status bawahannya sebagai budak menjadi anggota keluarga, dan mengajak mereka ikut menikmati kekayaannya yang berlimpah.

Penjelasan di atas dapat dimengerti dengan baik, bila kita memahami pandangan para pemimpin Yahudi (dan yang kemudian juga menjadi keyakinan rakyat) mengenai Allah, yang menjadi pendengar perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus saat itu. Pada waktu itu Tuhan Allah diyakini dan dialami sebagai yang menuntut dan akan murka serta menghukum bila umat-Nya tidak mentaati hukum-hukum-Nya. Dengan pandangan seperti itu, Tuhan Allah tidak diberi ruang untuk tampil dengan wajah kebapaan dan keibuan-Nya yang penuh dengan kebaikan dan kemurahan hati. Menghadapi sikap umat seperti ini, Tuhan tetap berani mengambil risiko dengan memberi kesempatan kepada umat-Nya yang dikenal sebagai orang yang tidak dapat diharapkan berbuat banyak, agar mereka berkembang dan berubah.

Kita tahu akhir cerita dari hamba yang menerima 1 talenta tadi. Ia tidak lagi mendapat kepercayaan dari tuannya, tidak menerima apa-apa, dan bahkan tidak lagi diakui sebagai hambanya dan dikeluarkan dari rumahnya. Ia sekarang menjadi mangsa kegelapan dan apa saja yang menakutkan serta membahayakan hidupnya.

Namun ceritanya tidak berhenti di sini. Apa yang dituturkan dalam Injil baru merupakan separo cerita. Yang separo lagi masih harus ditulis dalam kehidupan kita. Kita yang menjadi pendengar dari Injil ini, ditantang untuk menyelesaikan separo jalan cerita tadi. Bayangkan bahwa kita merupakan orang yang menerima kepercayaan untuk mengembangkan 5 atau 2 talenta tadi. Namun kita juga mengenal banyak orang, entah dalam Gereja maupun masyarakat, yang hanya menerima 1 talenta. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan diri, kurang berani untuk berinisiatip, takut gagal, lelah untuk bangkit dari kejatuhan mereka, takut menyalahi gagasan mereka sendiri, dan terkurung dalam pagar keputusasaan. Mereka ini perlu dibesarkan hatinya, dibimbing, didukung, dan diberanikan untuk mengambil risiko sekali lagi. Apakah kita juga merasa tertantang untuk berani mengambil risiko seperti tuan hamba-bamba tadi, sehingga ketika Yesus datang pada akhir zaman, Ia tidak akan menemukan orang yang seperti hamba yang mendapat satu talenta?

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

8 November 2020

Hidup secara Bijaksana


Para Ibu, Bapak, dan Saudara-Saudari yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, teman, serta sahabat dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat dan bahagia. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat sekaligus mencecap kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu.

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Biasa ke-32 Tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil yang digunakan dalam Misa hari ini diambil dari Mat. 25-1-11, yang berbicara tentang “Hal Kerajaan Surga” (ay. 1a), yaitu keadaan pada akhir zaman. Keadaan pada akhir zaman ini pasti akan datang, namun kapan persisnya tidak ada seorang pun, termasuk Anak Manusia (Yesus), yang mengetahuinya. Karenanya, diajarkan kepada kita semua untuk tetap waspada, senantiasa “berjaga-jaga” (ay. 13) seperti dituturkan dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis yang “pergi menyongsong mempelai laki-laki” (ay. 1b).

Sebelum zaman Yesus, dalam masyarakat Yahudi ada kebiasaan bagi seorang gadis yang memasuki usia dewasa ikut merayakan pesta perkawinan salah satu dari antara para teman laki-laki mereka dengan menjadi pengiring. Dengan cara itu, mereka akan menemukan laki-laki yang akan menjadi suami mereka. Merupakan sebuah musibah besar bila seorang gadis yang telah memasuki usia dewasa tidak dapat ikut atau tidak boleh ikut meramaikan pesta perkawinan seperti itu, entah karena tidak punya pakaian, atau berparas buruk, atau tidak dimaui oleh si pengantin. Bila hal itu terjadi, akan sulit baginya untuk menemukan calon suami. Bahkan ada kemungkinan ia tidak pernah akan menemukan calon suami, sehingga hidup akan sendirian untuk seluruh sisa hidupnya. Bila hal itu terjadi, ia akan dimasukkan dalam kelompok “janda” yang hidupnya dirawat dan dikasihani oleh jemaat. Namun demikian, kerap kali mereka juga dijadikan bahan pembicaraan, dicibir, dan dijauhi. Sebuah kehidupan yang sama sekali tidak menyenangkan.

Dalam latar seperti inilah perumpaan tentang sepuluh gadis tadi disampaikan oleh Yesus. Ada lima orang gadis yang mengalami nasib yang mengenaskan—tidak dapat ikut dalam pesta—karena kebodohan mereka sendiri. Mereka teledor tidak membawa cukup bekal sehingga kehilangan kesempatan berharga; bukan hanya tidak dapat mengiringi pengantin laki-laki menjemput pengantin perempuannya, melainkan juga dianggap sebagai orang yang tidak dikenal oleh si pengantin laki-laki.

Sikap lima gadis bijaksana (ay. 4) yang tidak mau memberikan minyaknya kepada lima gadis yang bodoh (ay. 9) tidak perlu ditafsirkan sebagai sikap egois dan pelit. Minyak yang dimaksud adalah “minyak yang menjadi bagian hidup dari orang yang membawanya; minyak yang menghidupkan orang dari dalam dan tidak dapat dibagi dengan orang lain.” Sikap bijaksana atau bodoh akan dinilai dengan “mendengarkan perkataan-Ku dan melaksanakannya” (Mat. 7:24). Orang yang tidak mau mendengarkan dan melaksanakan Sabda Tuhan, namun selalu berseru “Tuhan, Tuhan” akan mendapatkan jawaban “Aku tidak mengenalmu” (Mat. 7:21-23). Seruan yang sia-sia dan jawaban yang sama diperdengarkan kepada lima gadis “bodoh” dan lamban, yang datang menyusul ketika pintu sudah ditutup (Mat. 25:11-12).

Kebodohan kelima gadis tadi adalah sikap kurang mau memberi ruang kepada Sabda Ilahi dalam kehidupan mereka. Sabda Allah belum menjadi bagian dari hidup mereka. Inilah kecerobohan bertindak yang membuat mereka tidak dapat ikut dalam kegembiraan yang mereka harapkan. Sebaliknya, lima gadis yang bijaksana adalah orang yang membiasakan diri untuk mendengarkan Sabda Ilahi dan membiarkan Sabda itu menjadi penuntun hidupnya. Orang seperti ini memiliki ketenangan dan keyakinan bahwa keselamatan yang ditunggu pasti datang. Kapan waktunya, terserah kepada Yang Kuasa. Yang ia lakukan hanyalah mencoba memahami kehendak-Nya dan melaksanakan dalam hidupnya.

Kita hidup di tengah membanjirnya informasi melalui berbagai macam media massa, khususnya media sosial. Akankah semua informasi itu menenggelamkan diri kita, sehingga kita tidak mampu lagi mendengarkan Sabda Ilahi? Ataukah kita masih berani menyisihkan waktu untuk hening sehingga di tengah hiruk-pikuk membanjirnya informasi, kita masih dapat mendengar dan mendengarkan Sabda Allah untuk menjadi pemandu bagi langkah-langkah hidup kita? Kita juga sadar bahwa di tengah Gereja dan masyarakat tidak sedikit anggota yang besikap “bodoh dan lamban.” Menjadi tanggung jawab kita semua untuk membantu mereka agar mereka “menjadi bijaksana” sehingga Sabda Allah menjadi bagian hidup mereka dan pemandu setiap langkah kehidupan mereka. Bila hal itu kita lakukan, kita akan bersama-sama mengalami “akhir zaman” sebagai peristiwa dan pengalaman yang sungguh membahagiakan.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

1 November 2020

Menghayati Kesucian dengan Cara Baru

Para Ibu dan Bapak serta saudara dan saudariku yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua bersama dengan keluarga, teman dan sahabat, dalam keadaan baik serta tetap memilih sehat dan  bahagia. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat dan menikmat kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu.


Pada perayaan Semua Orang Kudus ini, kalender liturgi menyajikan Injil Mat. 5:1-12a, yang juga sering disebut Sabda Bahagia, sebagai bacaan dalam perayaan Ekaristi. Petikan ini menjadi pembuka dari kumpulan pengajaran Yesus yang terdapat dalam Mat. 5-7. Dalam Injil Matius, terdapat lima rangkaian pengajaran Yesus: (1) Khotbah di Bukit (Mat. 5-7); (2) pedoman hidup bagi para pewarta Kerajaan Surga (Mat. 10); (3) penjelasan mengenai Kerajaan Surga (Mat. 13); (4) pengajaran bagi para murid dalam hidup bersama (Mar. 18); dan (5) uraian di bukit Zaitun tentang kedatangan Kerajaan Surga pada akhir zaman (Mat. 23-25). Lima kelompok pengajaran Yesus ini terkait satu sama lain. Secara singkat, kumpulan yang pertama (Mat 5-7) sebaiknya dilihat dalam hubungannya dengan warta pokok, yakni Kerajaan Surga (Mat 13) dan kenyataannya yang penuh nanti pada akhir zaman (Mat 23-25). Dengan demikian para murid akan siap menghayati pedoman hidup secara orang-perorangan (Mat 10) maupun dalam kebersamaan (Mat 18).


Dalam Mat 5:1-12a didapati delapan Sabda Bahagia yang ditujukan kepada semua orang (ay. 3-10), serta satu Sabda Bahagia yang khusus diucapkan bagi para murid (ay. 11), dan dilanjutkan dengan seruan agar mereka tetap bersuka cita dalam harapan (ay. 12a).
Tiga Sabda Bahagia yang pertama (Mat 5:3-5) menegaskan bahwa orang dapat disebut bahagia karena tumpuan harapan dalam hidupnya ialah Tuhan sendiri. Mereka ini adalah orang yang hidup dalam kebersahajaan (“miskin di hadapan Allah”, ay. 3); orang yang hanya akan dapat terhibur oleh kesadaran bahwa Tuhan tetap berada di dekatnya kendati ia mengalami kesulitan (“berduka cita,” ay. 4); dan tidak berpihak pada kekerasan (“lembah lembut,” ay. 5).
Dua Sabda Bahagia berikutnya (Mat. 5: 6 dan 8) menyebut keinginan untuk menjalankan kehendak Tuhan sebagai hal yang membahagiakan; yakni “lapar dan haus akan kebenaran” (ay. 6) dan mampu berpikir secara jernih, berbudi wening (“suci hatinya,” ay. 8). Orang yang memiliki dua sikap ini tidak akan mudah dipengaruhi dan dibelokkan oleh keinginan-keinginan yang dapat menjauhkan dirinya dari Tuhan.
Dua Sabda Bahagia yang lain (Mat 5: 7 dan 9) menegaskan bahwa upaya menghadirkan Tuhan kepada sesama menjadi kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan. Kedua upaya tersebut adalah berbelas kasih (“murah hati,” ay. 7) dan membawa damai (ay. 9). Usaha menghadirkan kebaikan Tuhan bagi sesama muncul dari kesadaran akan perlunya saling mendukung dan sikap pendamai dalam hidup bersama.


Semua orang yang menghayati semua sikap yang telah diuraikan di atas, hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan mengalami banyak kesulitan: dimusuhi (“dianiaya karena kebenaran,” ay. 10), dimusuhi dan dianiaya karena menjadi murid Yesus (ay. 11). Bila semua ini terjadi, orang tidak boleh putus asa, namun tetap perlu berharap akan uluran tangan yang datang dari Tuhan sendiri (“bergembiralah karena upahmu besar di surga,” ay. 12a).


Sabda Bahagia dalam Injil ini menggambarkan apa yang nyata-nyata dialami dan terjadi di antara orang-orang yang hidup mengikuti Yesus. Paus Fransiskus, dalam Surat Imbauan Apostolis, Gaudete et Exultate (GeE) yang diterbitkan dua tahun yang lalu, menyebut Sabda Bahagia sebagai “kartu identitas umat Kristiani” dan menghayati Sabda bahagia merupakan wujud tataran kedua kesucian (GeE. 70). Tataran pertama kesucian dicapai ketika kita melaksanakan tanggung jawab hidup kita sehari-hari dengan penuh tanggung jawab dan semangat cinta (GeE 14).


Sabda Bahagia juga perlu dibaca dan dipahami dengan menengok ke depan, yakni ke pengajaran Yesus mengenai Penghakiman Terakhir dalam Mat 25:31-46. Dalam ayat 35-36 ditegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama, khususnya mereka yang miskin dan menderita, berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri.  Yesus mengajarkan supaya orang bisa mengerti bahwa yang dikerjakannya bagi sesama akan dijadikan batu uji masuk surga. Paus Fransiskus melihat kemampuan kita melihat kehadiran Allah dalam diri orang-orang miskin dan menderita, dan bertindak untuk meringankan beban hidup mereka serta meningkatkan kualitas hidup mereka, seperti dilukiskan dalam Mat. 25:31-46, sebagi puncak kesucian (GeE 96).


Semoga perayaan Semua Orang Kudus ini mengingatkan kita bahwa kesucian/kekudusan tidak cukup hanya kita nyatakan dalam kesalehan-kesalehn devosional, melainkan perlu kita wujudkan dalam penghayatan Sabda Bahagia dengan cakrawala pandang Pengadilan Terakhir.


Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

26 October 2020

Kasih kepada Allah dan kepada Sesama sebagai Dasar dan Inti Hidup Beragama

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudaraku  yang baik, selamat siang.g Semoga Anda semua berserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah Ia anugerahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.

Hari ini kita merayakan Hari Minggu ke-30 Tahun A dalam kalender liturgi. Injil yang dibacakan pada hari ini mengisahkan tentang Yesus yang menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang ingin mengetahui kedalaman dan keluasan pengetahuan agama Yesus. Ahli Taurat tadi ingin tahu apakah Yesus memiliki kemampuan menimbang-nimbang bobot aturan Taurat (yang berjumlah 613; jumlah ini sebenarnya tidak terlalu banyak, sebab Kitab Hukum Kanonik yang dimiliki Gereja Katolik jumlahnya ada 1752), dan bukan sekedar kutip sana-sini.

Kaum terpelajar Yahudi menyadari bahwa tidak semua aturan tadi sama bobotnya. Di lain kesempatan Yesus sendiri juga mengungkapkan kesadaran ini ketika “kewajiban menguduskan hari Sabat” Ia “bawahkan” kepada kewajiban kerkurban dan melaksanakan belaskasihan (Mat. 12:1-14). Inti dari pertanyaan ahli Taurat tadi adalah: mana prinsip yang dipakai untuk memahami bahwa perintah yang satu lebih penting daripada perintah yang lain.

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Yesus dengan mengutarakan dua perintah yang disebutnya sebagai “tempat bergantung semua hukum Taurat dan kitab para Nabi” (ay. 40). [Kitab para Nabi menurut orang Yahudi mencakup kitab-kitab sejarah dari Kitab Hakim-Hakim s/d Kitab Raja-Raja, dan nabi-nabi Yesaya, Yeremia, Yeheskiel, serta 12 nabi lainnya].

Perintah pertama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (ay. 37, diambil dari Ul. 6:5), termasuk ayat-ayat suci yang harus didoakan dua kali sehari (pagi dan petang) oleh orang Yahudi yang saleh. Perintah ini oleh Yesus disebut sebagai perintah atau hukum yang terutama dan yang pertama (ay. 38). Mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh (= segenap “hati”/”akal budi”) yang keluar dari keyakinan (= segenap “jiwa”) dan tekad utuh (= segenap “kekuatan”). Jadi bukan hanya setengah-setengah, mendua, atau ikut-ikutan, tetapi dengan pengertian.

Perintah kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti [mengasihi] dirimu sendiri” (ay. 39 diambil dari Im. 19:18) oleh Yesus disertakan sebagai perintah utama yang kedua. “Sesama manusia” adalah orang lain yang memiliki pengalaman mirip dengan pengalaman kita. Pada dasarnya, kita ini mengalami pahit getirnya kehidupan seperti yang dialami oleh orang lain. Karenya, ketika kita sedang beruntung jangan sampai melupakan sesama yang sedang mengalami kesulitan.

Yesus mampu memberi jawaban seperti itu karena seluruh hidup-Nya dihayati untuk mengasihi Allah dengan kesadaran penuh dan dengan keyakinan serta tekad yang matang. Semuanya itu terungkap dalam kesediaan-Nya ikut merasakan yang dialami oleh orang lain, dan mengulurkan tangan untuk meringankan beban hidup mereka. Yesus percaya bahwa orang lain itu sama dengan diri-Nya sendiri; yakni, dikasihi oleh Allah, dan karenanya dapat mengasihi Allah dan sesamanya.

Pengalaman seperti inilah—menurut Yesus—merupakan dasar dan inti hidup beragama. Dengan kata lain, inti hidup beragama adalah menomorsatukan Allah dan sesama, bukan peraturan-peraturan agama itu sendiri, yang seringkali justru dapat menjauhkan kita dari sesama dan Allah sendiri.


Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

9 October 2020

Merawat Hidup seturut Kehendak-Nya

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat berada dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari  Minggu sambil mencecap kembali kasih Allah yang telah dicurahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.

Hari ini, melalui  bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Misa pada Hari Minggu ke-27 Tahun A (Mat. 21:33-43) kita diundang utk memurnikan hidup kita dari unsur-unsur yang menjauhkannya dari kehadiran Allah sendiri.

Bagian pertama dari kisah yang disampaikan oleh Yesus (ay.  33-39) menggemakan kisah nabi Yesaya (5:1-7) dari bacaan pertama. Pemilik kebun anggur merasa  sangat kecewa karena tidak memperoleh hasil yang diharapkan. Kebun anggur adalah umat (milik) Allah sendiri. Dalam kisah Yesaya, Allah mengharapkan agar kehidupan umat-Nya menghasilkan buah-buah keadilan dan kebenaran, namun yang dihasilkan justru kelaliman dan keonaran (ay. 7). Dalam kisah Yesus, pemilik kebun anggur dikecewakan bukan oleh kebun anggur (= Umat-Nya) melainkan oleh para penggarap (= pemimpin umat). Mereka bukan hanya tidak menyerahkan hasil yang menjadi hak si empunya kebun anggur, melainkan justru ingin merebut kebun anggur itu sendiri untuk dijadikan milik mereka (ay. 38b-39). Perkaranya berkembang dari "tidak ada hasil yang memuaskan" (Yes. 5: 2b; 7b) menjadi "hak milik yang direbut dengan kekerasan" (Mat. 21: 38b; 39).

Dalam pemikiran (KS)  Perjanjian Lama hak milik atas tanah yang sah tidak boleh diganggu gugat. Tanah tersebut tidak boleh diperjualbelikan dengan imbalan apapun, apalagi direbut. Kekerasan terhadap hak milik dipahami sebagai kejahatan yang  melebihi batas apapun. Dengan latar balakang pemikiran inilah, kisah yang disampaikan oleh Yesus perlu kita pahami dengan dua cara.

Pertama, sebagai sebuah alegori, yakni kisah yang diterapkan pada orang atau keadaan tertentu. Dalam tafsiran aligori, kebun anggur mewakili umat; para penggarap mewakili para pemimpin umat (Perjanjian Lama); para hamba adalah para nabi; dan anak pemilik kebun adalah Yesus sendiri. Melalui kisah ini Yesus ingin menyampaikan kpd para pemimpin umat (imam-imam kepala dan tua-tua bangsa  Yahudi -- ay. 23) bahwa tanggungjawab mereka adalah memimpin umat agar dapat menghasilkan buah-buah kebaikan, dan bukan utk merampas mereka dari Allah sebagai pemilik umat. Mereka diingatkan oleh Yesus utk berubah, agar hukuman Allah tidak menimpa mereka. Namun mereka tidak menangkap pesan Yesus, karena pikiran mereka telah dibelenggu oleh konsekuensi politik di tanah Yudea, khususnya kelestarian Bait Allah. Mereka tidak dapat melihat apa yang dilihat oleh umat, yakni,   di dalam diri Yesus Allah hadir dan bekerja. Mereka merasa semakin terancam, sehingga mereka berusaha utk menangkap Dia (ay. 46).

Kedua, kisah dalam injil hari ini juga dapat dimengerti sebagai sebuah perumpamaan,  sebuah kisah yang merupakan sebuah undangan  untuk meninjau kembali pola berpikir dan bertindak para pendengarnya.  Bila dipahami demikian, kita diundang untuk menyadari kembali bahwa hidup kita ini dianugerahkan kepada kita oleh Allah sebagai sebuah peluang; sebuah peluang agar kita membiarkan Allah dapat memasuki kehidupan kita utk berkarya di dalam dan melalui hidup kita. Kita boleh dan bahkan perlu membuat berbagai macam rencana bagi kehidupan kita, namun kita  tidak boleh menutup diri terhadap kemungkinan lain yang bisa lebih baik daripada yang sdh kita rencanakan. Hidup kita perlu kita rawat dan kembangkan, namun tidak boleh kita atur secara ketat menurut agenda kita sendiri. Hidup kita dianugerahkan oleh Allah untuk kita "garap" agar menghasilkan buah-buah kebaikan, bukan untuk kita klaim sebagai milik kita sendiri.

Kecenderungan utk merebut kehidupan dari Tuhan guna kita jadikan milik kita  sendiri memang kerap terjadi. Kita mendengar adanya banyak upaya untuk melakukan "ulah kebatinan" yang bertujuan  menghimpun kekuatan-kekuatan luar biasa utk kemudian dimanipulasi demi kepentingan diri sendiri. Semoga hal ini tidak kita lakukan, sebab tindakan seper itu merupakan kejahatan yang luar biasa di hadapan Tuhan.  

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya