17 February 2021
Jangan Sampai Ada yang Terasingkan
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat tetap dalam keadaan baik dan terus memilih sehat dan bahagia di tengah pandemi virus corona, yang masih terus merajalela. Selamat merayakan hari Minggu sekaligus Hari Kasih Sayang. Semoga hidup kita senantiasa dipenuhi dan digerakkan oleh kasih Allah yang tanpa syarat.
Injil yang kita dengarkan dalam Misa hari Minggu ke-6 Masa Biasa Tahun B ini (Mrk. 1:40-45) berkisah tentang seorang kusta yang minta disembuhkan oleh Yesus (ay. 40) dan bagaimana peristiwa itu diwartakan ke mana-mana (ay. 45a). Apa makna peristiwa ini bagi kita zaman ini? Marilah kita renungkan bersama-sama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, penyakit kusta yang diderita oleh orang itu bukanlah penyakit kusta yang dikenal oleh dunia kedokteran sekarang; yakni penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae, melainkan semacam penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur yang membuat kulit melepuh merah. Penyakit kulit semacam ini sangat menyeramkan. Orang yang memiliki penyakit seperti ini dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus dijauhi oleh banyak orang, dan bahkan tidak diperbolehkan ikut dalam ibadat karena dinilai tidak cukup bersih untuk memasuki tempat suci. Dengan kata lain, orang-orang seperti itu dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat dan dari kehidupan agama.
Kedua, menurut hukum adat dan agama Yahudi zaman dahulu, orang yang sudah sembuh dari penyakit tersebut baru akan diterima kembali ke dalam kehidupan masyarakat dan boleh mengikuti perayaan suci keagamaan bila ia sudah dinyakan sembuh oleh seorang imam. Hanya imamlah yang berhak menyatakan bahwa seseorang itu “najis” (kotor karena kusta) atau “tahir” (bersih, sembuh dari kusta) (Im. 14:2-32).
Ketiga, tujuan dari hukum tersebut adalah untuk melindungi kebersihan korban; namun praktiknya ternyata justru memperberat si penderita penyakit. Menjelang zaman Perjanjian Baru semua upacara keagamaan yang penting (termasuk menyatakan bahwa seseorang sudah sembuh dari kusta) hanya dilakukan di Bait Allah di Yerusalem pada saat-saat tertentu. Akibatnya, orang yang menderita kusta meskipun sudah sembuh akan sangat sulit mendapatkan “pernyataan sudah bersih kembali” sehingga ia akan semakin terkucil dari kehidupan masyarakat dan agama.
Keempat, dalam latar seperti itu satu-satunya harapan bagi orang yang menderita kusta tersebut adalah Yesus. Maka ia datang kepada Yesus, berlutut di hadapan-Nya, dan mengatakan bahwa “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku” (ay. 40). Yang diminta oleh orang tersebut mencakup dua hal. Pertama, kesembuhan dari kusta. Kedua, dinyatakan bahwa ia sudah tahir agar dapat kembali menjadi bagian dari masyarakat dan kehidupan beragama.
Kelima, dikatakan bahwa Yesus “tergerak hati-Nya” (ay. 41). Yang dimaksud adalah “ikut merasakan” (Yunani: splagkhnistheis). Namun dalam ayat yang sama dalam naskah kuno juga digunakan kata lain, yaitu “orgistheis”, artinya marah, kesal, berang.
Keenam, mengapa Yesus marah, kesal, dan berang? Ada dua alasan. Pertama, dalam Mrk. 1:39 dikatakan bahwa Yesus telah pergi ke seluruh Galilea untuk mewartakan Injil dan mengusir setan-setan (tentu saja termasuk menyembuhkan berbagai macam penyakit – ay. 34). Sudah barangtentu Ia berharap bahwa kekuasaan setan dan penyakit akan semakin hilang. Tapi nyatanya masih ada orang kusta yang datang kepadanya dan meminta agar ditahirkan. Kedua, dan ini lebih penting, para imam (yang mewakili lembaga agama) yang berhak untuk menyatakan bahwa orang kusta sudah sembuh dan dapat diterima kembali dalam masyarakat, justru enggan melakukannya. Akibatnya, banyak penderita kusta yang tetap tersingkir dari kehidupan bermasyarakat dan beragama meskipun mereka itu sudah sembuh dari penyakit yang dideritanya.
Berdasarkan catatan-catatan di atas kita dapat melakukan refleksi pada dua tataran: level pribadi dan level kelembagaan.
Pada level pribadi, siapa orang-orang yang dengan sengaja saya singkirkan dari kehidupan saya, dari kehidupan bermasyarakat, dan dari kehidupan beragama? Apa alasannya? Apakah alasan itu masuk akal? Apakah alasan itu sesuai dengan ajaran Yesus? Apa yang kiranya masih dapat saya lakukan agar orang-orang itu dapat saya bantu untuk kembali dan dilibatkan dalam hidup bersama dalam keluarga, dalam masyarakat, dan dalam komunitas beragama?
Pada level kelembagaan, adakah keyakinan, peraturan, dan praktik tertentu yang membuat orang tertentu (penderita HIV/AIDS, orang yang terpapar covid-19, single mothers, anak-anak yang lahir di luar perkawinan, orang yang ditinggalkan oleh pasangan hidupnya, LGBT, pecandu narkoba, dll.) kita singkirkan dari kehidupan masyarakat dan komunitas agama? [Contoh praktik yang menyingkirkan orang-orang tertentu dari komunitas beragama adalah pengumuman sebelum menyambut Komuni: “Yang boleh menerima komuni hanyalah ….. dan tidak dalam keadaan dosa berat.” Padahal dalam perjamuan Tuhan tidak ada orang yang boleh dikucilkan. Lagipula, bagaimana kita tahu bahwa seseorang masih berada dalam dosa berat?]. Apa yang perlu kita buat agar lembaga agama dan masyarakat tempat kita hidup dapat melibatkan semua anggotanya, sehinga mereka mengalami diri dihargai dan dimanusiakan sehingga merasakan kehadiran Allah yang menyelamatkan?
Semoga cara perpikir dan bertindak kita (baik dalam level personal maupun kelembagaan) semakin dapat menjadi saluran berkat keselamatan Allah, dan bukan sebaliknya.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
7 February 2021
Mewartakan Kerajaan Allah dengan Hidup seperti Kristus
Para Ibu dan Bapak serta Saudara dan Saudari yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam kedaan baik serta tetap memilih sehat dan bahagia dalam menghadapi pandemi covid-19 yang tidak kunjung pergi.
Hari ini kita merayakan hari Minggu ke-5 Tahun B dalam kalender Liturgi. Injil yang dibacakan dalam Misa (Mrk. 1:29-39) menempatkan kegiatan Yesus dalam irama kehidupan yang mengikuti irama alam, khususnya matahari. Dalam masyarakat zaman Yesus kegiatan mencari nafkah (siang) selesai pada saat matahari terbenam (sore). Di kalangan orang Yahudi yang saleh, waktu petang dan malam digunakan untuk mendalami Taurat, membaca pengalaman kehidupan melalui teks-teks sakral. Pada hari Sabat kegiatan mendalami Taurat dilakukan sepanjang hari. Marilah kita mencoba memetik pelajaran bagi kehidupan kita dari peristiwa ini dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, Markus menempatkan kegiatan Yesus pada hari Sabat. Pagi hari Ia mulai mengajar di sinagoga untuk menerangkan (isi) Taurat; dan terang Taurat yang Ia sampaikan itu menyingkirkan roh jahat yang merasuki orang yang waktu itu berada di sinagoga (Mrk. 1:21-28). Kekuatan terang Taurat itu juga dapat menyembuhkan ibu mertua Petrus (ay. 31) dan menyembuhkan banyak orang dengan berbagai macam penyakit serta mengusir banyak setan (ay. 34). Dengan cara ini, Markus ingin mengatakan bahwa penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus bukanlah pelanggaran terhadap hari Sabat melainkan justru untuk membuat hari Sabat menjadi semakin luhur.
Kedua, dikatakan bahwa ketika menyembuhkan Ibu
mertua Petrus, Yesus memegang tangannya dan membangunkan dia (ay. 31a). Istilah
“membangunkan” bukan berarti mengangkat tubuh perempuan itu. Istilah ini
dipakai dalam arti menyembuhkan. Yang menarik adalah setelah sembuh, perempuan
itu lalu “melayani mereka” (= menyiapkan makan malam bagi Yesus dan para murid-Nya,
karena memang sudah waktunya makan malam). Dalam Kitab Suci, otentisitas kesembuhan
ditunjukkan dengan kesediaan untuk “melayani” orang lain. Hal ini perlu
diperhatikan, sebab zaman ini banyak orang tergila-gila dengan mukjizat
penyembuhan. Namun, setelah disembuhkan apakah mereka juga bersedia “melayani” orang
lain?
Ketiga, Markus juga menceritakan bahwa Yesus “tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia” (ay. 34b). Hal itu dilakukan oleh Yesus karena setan-setan tersebut tidak menggunakan pengetahuan mereka tentang Yesus untuk meluruskan hidup orang, melainkan untuk mengacaukan dan bahkan menyesatkan mereka. Akibatnya, Yesus hanya akan dipandang sebagai tukang penyembuh dari penyakit dan kerasukan, sebagai guru bijaksana, dan sebagai orang yang mempesona. Ia menjadi pusat perhatian dan Injil yang dibawakannya akan dikaburkan oleh ketenaran diri-Nya. Setan-setan ingin memisahkan Yesus dari warta yang dibawakan-Nya. Bila ini terjadi, Yesus akan takabur dan membiarkan diri dipandang sebagai orang besar dan lupa bahwa tugas-Nya adalah mewartakan Kerajaan Allah apa pun konsekuensinya.
Keempat, Yesus juga tahu betul betapa besar godaan yang menyertai semua tindakan baik-Nya. Ia sadar bahwa Ia tidak akan dapat melanjutkan perutusan yang diterima oleh Bapa-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah tanpa penyertaan-Nya. Itulah sebabnya Ia menjauh dari orang banyak, mencari tempat yang sunyi dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Allah (ay. 35), yang sejak pembaptisan-Nya selalu menyertai-Nya. Yesus mencari keheningan agar semakin mampu melihat kehadiran Allah dalam hidup-Nya, dalam setiap tindakan yang Ia lakukan. Kehadiran Allah inilah yang membuat-Nya tahan dalam melakukan tugas perutusan-Nya. Kehadiran Allah ini pulalah yang membuat Dia ditakuti oleh roh-roh jahat, dan bahkan dapat mengusir mereka. Kehadiran Allah inilah yang Ia teruskan kepada orang banyak yang mendengarkan pengajaran-Nya.
Kelima, pencarian keheningan dilakukan oleh Yesus dengan menyendiri untuk berdoa pada “pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap” (ay. 35). Selama berdoa Yesus melihat matahari mulai menyingsing, pelan-pelan mengusir kegelapan. Dengan cara bertutur seperti ini, Markus ingin mengajak para pembacanya untuk memahami bagaimana Yesus melihat gerak-gerik alam dan menyadari bagaimana Allah, seperti matahari yang mulai bersinar mengusir kegelapan, memberikan kekuatan kepada-Nya secara pelan-pelan namun pasti.
Akhirnya, Markus juga menuturkan bahwa ketika orang banyak mencari Dia, Ia justru mengajak para murid untuk pergi ke tempat-tempat lain untuk mewartakan Injil (ay. 38-39). Seperti matahari yang memancarkan sinarnya ke mana-mana, demikian pula Yesus merasa perlu untuk pergi ke tempat-tempat lain membawakan Kabar Gembira Penyelamatan Allah, dan mengusir setan serta menyembuhkan banyak penyakit sebagai wujud kehadiran Kerajaan Allah yang diwartakan-Nya.
Salah satu kelemahan yang kita hadapi sekarang sebagai para pengikut Kristus adalah mengajarkan tentang Yesus tanpa menerima-Nya dengan tulus hati dan sepenuh hati ke dalam hidup kita. Ada bahaya bahwa saya, dan mungkin Anda, bertindak seperti setan-setan itu, yakni mengajarkan pelbagai kebenaran tentang Yesus namun tidak berusaha hidup seperti Dia; padahal pewartaan mengenai Yesus dan Kerajaan Allah hanya akan efektif bila kita sendiri berusaha hidup seperti Yesus, seperti ditandaskan oleh Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC) ketika mereka bersidang di Lembang, Bandung, pada 1990.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
31 January 2021
Agar Kerajaan Allah sungguh Datang
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Maaf saya baru dapat menjumpai Anda sekarang. Tadi pagi acara saya penuh. Semoga Anda semua beserta keluarga dan teman serta sahabat dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat dan bahagia, khususnya karena covid-19 belum jelas kapan perginya.
Hari ini kita merayakan hari Minggu biasa ke-4 tahun
B dalam kalender liturgi. Bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini (Mrk.
1:21-28) berkisah tentang bagaimana Yesus memulai kegiataan-Nya di Kapernaum
setelah Ia memilih para murid pertamanya. Ia mengajar di sebuah tempat ibadat.
Orang-orang yang mendengarkannya merasa takjub. Yesus juga mengusir roh jahat
dari orang yang kerasukan. Apa makna semuanya ini? Mari kita lihat bersama
beberapa catatan berikut ini.
Pertama, latar peristiwa dalam kisah Injil hari ini.
Orang-orang datang ke rumah ibadat untuk menjalankan ibadat Sabat dan
mendengarkan bacaan dari Kitab Taurat dan Para Nabi serta penjelasannya.
Setelah itu, mereka juga masih membicarakan mengenai banyak hal yang menyangkut
kehidupan sehari-hari mereka. Dalam situasi seperti inilah Yesus datang dan
mengajar.
Kedua, dikatakan bahwa Yesus mengajar (ay. 21),
bahkan ajaran-Nya dialami oleh para pendengarnya sebagai “Ajaran baru!” (ay.
27). Apa isi ajaran Yesus? Yang diajarkan oleh Yesus adalah bahwa “Kerajaan
Allah sudah dekat” (ay. 15); dan salah satu wujud nyata dari datangnya Kerajaan
Allah adalah mulai tersingkirnya kekuasaan jahat. Kerajaan Allah datang ketika
orang mengalami bahwa segala aspek hidupnya (fisik, psikologis, sosial,
spiritual, kultural, dan politik) pelan-pelan mengalami keutuhan atau kepenuhan
(Yoh. 1:10b). Kerajaan Allah sudah datang ketika kehidupan dalam masyarakat
tidak terkotak-kotak berdasarkan status sosial dan kesalehan keagamaan,
melainkan ketika hidup bersama sungguh dilandasi oleh solidaritas, rasa hormat
terhadap keragaman, dan kesetaraan yang dilandasi oleh kasih.
Ketiga, dalam kisah ini Markus ingin menunjukkan hubungan antara “kegiatan mengajar Yesus” (ay. 21) dengan “pengusiran roh jahat” (ay. 25). Markus ingin menekankan bahwa kehadiran Yesus di tengah masyarakat adalah untuk mewartakan hadirnya Kerajaan Allah. Pengusiran roh jahat dan penyembuhan secara ajaib adalah perwujudan dari kehadiran Kerajaan Allah tersebut, dan bukan sebaliknya. Banyak orang zaman Yesus dan zaman sekarang lebih tertarik pada pengusiran roh jahat dan penyembuahan secara ajaib, sehingga luput menangkap kehadiran Kerajaan Allah itu sendiri.
Keempat, roh jahat adalah roh yang memisahkan diri dari Allah dan melawan-Nya. Roh jahat adalah kekuatan-kekuatan yang mengacaukan tatatan, membuat orang menjadi bingung dan kehilangan pegangan sehingga hidupnya tanpa arah.
Kelima, tidak mengherankan kalau roh jahat tidak tahan berada di dekat kehadiran Yesus yang membawakan kehadiran (Kerajaan) Allah sendiri. Reaksinya terhadap Yesus ada tiga macam. Pertama, mengumpat karena Yesus dirasa sebagai mencampuri urusannya: “Apa urusanmu dengan kami, hai Yesus orang Nasaret? (ay. 24a). Kedua, ia merasa terancam oleh kehadiran Yesus, sehingga berteriak: “Engkau datang untuk membinasakan kami?” (ay. 24b). Ketiga, ia bahkan menggertak Yesus supaya Yesus merasa “groggy,” dengan mengatakan bahwa ia mengenal Dia: “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah” (ay. 24c).
Keenam, gelar “Yang Kudus” (ay. 24c) dalam kesadaran orang-orang zaman Yesus hanya dikenakan pada Allah sendiri (lihat Yes. 40:25 dan 57:15). Dengan mengatakan bahwa Yesus adalah “Yang Kudus dari Allah” setan ingin membuat Yesus menjadi takabur, merasa sebagai Allah sendiri. Karenanya, Yesus menyuruh roh jahat tersebut diam dan keluar dari orang yang kerasukan tadi (ay. 25). Yesus tidak membinasakan roh jahat tadi, sebab yang dapat menghancurkan roh jahat hanyalah Allah sendiri. Yesus hanya mengusir roh jahat tersebut, sekaligus memberi kesempatan kepadanya untuk kembali kepada Allah, menjadi roh baik.
Pertanyaan untuk kita refleksikan. Apa yang sudah kita lakukan dan perlu kita lakukan agar Kerajaan Allah sungguh semakin hadir (lihat catatan nomor dua di atas) dalam hidup kita, dalam hidup orang-orang yang menjadi tanggungjawab kita, dan dalam masyarakat di sekitar kita?
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
24 January 2021
Menjadi Penjala Manusia
Para Ibu dan Bapak serta saudari dan saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik serta tetap memilih sehat dan bahagia di tengah pandemi virus corona yang semakin dekat dengan kita semua. Selamat menikmati hari Minggu guna mengenang dan mencecap kembali semua berkat Allah yang kita terima selama pekan ini.
Pada hari Minggu Biasa ke-3 Tahun B dalam kalender liturgi ini kita diajak untuk memaknai awal karya Yesus mewartakan Injil, menyerukan pertobatan, dan memanggil sebagian dari para murid-Nya (Mrk. 1:14-20). Untuk dapat memetik buah rohani dari kisah ini, marilah kita lihat beberapa catatan berikut.
Pertama, injil Markus memperkenalkan Yesus sebagai seorang pribadi yang memiliki integritas yang sudah teruji. Yesus adalah seorang manusia yang betul-betul dekat dengan Allah sehingga kekuatan kejahatan tidak dapat mengalahkan-Nya (ay. 12-13). Pribadi seperti inilah yang tampil dalam masyarakat dan memberitakan Injil (Kabar Gembira) (ay. 14).
Kedua, “Kerajaan Allah sudah dekat.” Istilah “Kerajaan Allah” adalah zaman baru ketika Allah hadir di dalam kehidupan umat-Nya. Yesus adalah orang yang membiarkan seluruh hidup-Nya sepenuhnya dijadikan tempat kehadiran Allah. Dalam diri Yesus “Allah meraja.” Yesus adalah wujud nyata dari Kerajaan Allah yang sudah dekat (ay. 15a).
Ketiga, Galilea (bagian utara tanah Israel) memiliki tanah yang lebih subur dan perekonomian yang lebih baik daripada Yudea (tanah Israel bagian selatan). Penduduk Galilea terbiasa bergaul dengan berbagai macam bangsa yang memiliki budaya berbeda; karenanya, mereka memiliki pemikiran yang lebih terbuka dan independen.
Keempat, di Galilea juga sudah berkembang sektor perekonomian berbasis ikan dari danau. Pasar-pasar ikan di tepi danau bertumbuh dan akhirnya menjadi tempat hunian dan kota-kota yang ramai seperti Kapernaum, Magdala, Betsaida, dan Genesaret. Nantinya Yesus akan mondar-mandir di antara kota-kota tersebut dengan ikut perahu para nelayan untuk mewartakan Kabar Gembira. Di tempat seperti inilah Yesus memulai karya-Nya (ay. 14 dan 16).
Kelima, nelayan dalam injil adalah istilah yang dipakai untuk orang-orang yang maju dalam bisnis ikan. Salah satu usahawan yang maju adalah Zebedeus, ayah Yakobus dan Yohanes. Simon dan Andreas juga merupakan pebisnis ikan yang sukses. Mereka bukan orang-orang miskin seperti sering kita pikirkan sampai sekarang. Yesus memilih para nelayan ini sebagai “murid pertamanya” karena mereka memiliki jaringan yang luas sehingga pewartaan Kabar Gembira juga dapat menjalar dengan cepat.
Keenam, dikatakan dalam Injil ini bahwa Yesus memilih para murid untuk dijadikan rekan kerja (ay. 16-20). Mereka ini melihat kehadiran dan kenyataan “Kerajaan Allah” dalam diri Yesus yang memanggil mereka. Mereka tidak ingin kehilangan Dia. Karenanya, mereka segera mengikuti Dia dan berpindah haluan hidup serta gaya hidup. Mereka “bertobat dan percaya kepada Injil” (ay. 15b).
Ketujuh, oleh Yesus mereka akan dijadikan “penjala manusia” (ay. 17b = Mat. 4:19). “Menjala manusia” tidak sama dengan mencari pengikut sebanyak-banyaknya, melainkan “membawa orang kepada kehidupan.” Tanggung jawab para murid Yesus bukanlah “menangkapi” orang untuk menganut agama kita, melainkan mendukung, menuntun, merawat, dan menguatkan orang agar mereka dapat hidup terus secara pantas dan berkualitas dalam segala aspek kehidupan mereka (fisik, psikologis, sosial, ekonomi, spiritual, kutural, dan politik).
Sebagai
orang Katolik yang mengklaim diri sebagai pengikut Kristus, apa yang sudah dan
akan kita lakukan agar orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita
benar-benar memiliki hidup yang pantas dan berkualitas? Apa yang sudah dan
perlu kita lakukan agar masyarakat tempat kita berada dan merupakan bagiannya
sungguh memiliki hidup yang sejahtera, bermartabat, beradab, dan beriman? Jejaring apa yang kita gunakan untuk melakukannya?
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
10 January 2021
Diutus oleh Tuhan Sendiri
Para Ibu dan Bapak serta saudari dan saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua beserta keluarga dan sanak saudara dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk merasakan kembali semua rahmat yang telah kita terima selama sepekan yang lalu dan beristirahat setelah selama sepekan bekerja untuk melayani orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita. Hari ini kita merayakan Hari Raya Pembaptisan Tuhan Yesus, sekaligus menutup masa Natal.
Bacaan pertama (Yes. 55:1-11) perlu kita perhatikan. Perikopa ini mengisahkan bagaimana Allah memperhatikan umat-Nya yang kehausan di tengah jalan. Air, sebagai penyangga kehidupan, diberikan kepada mereka secara cuma-cuma agar umat-Nya dapat pulang dari pembuangan. Anugerah sederhana ini baru permulaan. Anugerah-anugerah lain masih dijanjikan: makanan, tempat tinggal, kebutuhan hidup; dan sesudah itu baru diberikaan hal-hal yang menyangkut hidup rohani: kehidupan agama (“perjanjian”), pertobatan, dan kemampuan mendengarkan sabda ilahi. Allah seperti inilah yang dalam Injil Markus (1:7-11) akan turun dari langit menyertai perjalanan Yesus dan seluruh umat-Nya.
Air sungai Yordan yang dipakai untuk membaptis,
mengingatkan kita akan Allah yang dikisahkan dalam bacaan pertama (Yes.
55:1-11). Allah begitu dekat dengan umat yang mau datang kepada-Nya. Pembaptisan
yang dilakukan oleh Yohanes menjadi ungkapan manusia yang mau datang mendekat
kepada Allah. Sekaligus juga disadari bahwa kehidupan umat mudah mengering seperti
halnya air. Hukum-hukum agama dan beban kehidupan dapat membuat kehidupan umat
menjadi layu. Air tidak mencukupi untuk menghidupkan kembali kehidupan dan
sudah layu mengering. Dibutuhkan kekuatan Roh Allah untuk menghidupkannya. Dan
inilah yang akan dilakukan oleh Yesus: membaptis dengan Roh Kudus (ay. 8b).
Seperti banyak orang yang datang kepada Yohanes Pembaptis, Yesus juga datang mengikuti Seruan Yohanes Pembaptis untuk dibaptis sebagai tanda bertobat: menyatakan diri mau menjauhi hal-hal yang dapat menghalangi kehadiran Allah dalam hidup-Nya. Ada sesuatu yang khas setelah Yesus dibaptis. Dikatakan bahwa Ia mlihat langit terkoyak, dan Roh Kudus turun seperti burung merpati (ay. 10). Kemudian terdengar suara yang mengatakan bahwa Ia adalah Putra terkasih yang mendapat perkenan dari atas (ay. 11). Artinya, kekuatan surga yang dahsyat itu kini tampil dalam wujud yang lembut. Peristiwa pembaptisan Yesus memperlihatkan datangnya kekuatan-kekuatan ilahi bersama Sang Putra terkasih untuk menyertai perjalanan umat Allah yang sudah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan hidup mendekatkan diri kepada-Nya.
Kehadiran yang ilahi ini dimugkinkan karena Yesus mau mendatangi orang banyak untuk berbagi kehidupan dengan mereka, untuk ikut mengalami dan merasakan carut-marutnya kehidupan mereka serta kegelisahan mereka dalam menantikan kedatangan keselamatan yang dijanjikan oleh Allah. Keterbukaan Yesus untuk berbagi keprihatinan dengan orang banyak menjadi jalan bagi Yang Ilahi untuk hadir di tengah-tengah umat manusia, menyertai perjalanan hidup mereka, dan ikut menyembuhkan keremukan hidup mereka.
Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa dengan menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Penguatan kita diutus oleh Tuhan sendiri untuk merasul di tengah masyarakat (LG 33; AA 3). Artinya, kita diundang untuk mengikuti jejak Yesus. Kita diundang untuk memberi ruang gerak kepada Allah sehingga Ia dapat hadir dan bertindak di tengah-tengah kehidupan kita dan masyarakat kita. Kita diundang untuk mengisi hidup kita sehingga langit (surga) tidak tertutup dan jagat tidak menjadi kering. Kita diundang untuk menghayati hidup kita dan melaksanakan tanggung jawab kita sehingga masyarakat tempat kita hidup dapat menyaksikan dan mengalami terbukanya surga mencurahkan kekuatan yang menghidupkan, kekuatan Allah yang lembut tetapi memiliki daya yang begitu besar untuk mewujudkan janji-Nya seperti diungkapkan dalam Yes. 55:1-11. Inilah panggilan kita bersama Yesus yang kita ikuti.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
3 January 2021
Mengenali Penampakan Tuhan
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua beserta keluarga dan teman serta sahabat dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia. Selamat merayakan hari Minggu pertama dalam tahun 2021 sekaligus merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Sebelum saya menyampaikan renungan kepada Anda semua, ijinkan saya minta maaf karena baru hampir di penghujung hari, saya dapat menjumpai Anda semua. Tadi pagi saya memberkati penerimaan Sakramen Perkawinan yang dilakukan oleh anak perempuan teman dekat saya.
Dalam Misa hari ini, kita mendengarkan Injil Mat. 2:1-12. Untuk memahami pesan dari kisah ini, ada baiknya kita mengenal siapa “orang-orang majus dari Timur” ini (ay. 1). Di wilayah Babilonia dan Persia dulu, sekarang Irak dan Iran utara, terdapat orang-orang bijak yang mahir dalam ilmu perbintangan. Mereka biasanya juga berperan sebagai ulama agama setempat. Mereka ini mewakili orang-orang non-Yahudi yang datang dari jauh untuk menemukan dia yang baru saja lahir di Betlehem, yang akan menjadi pemimpin umat manusia (ay. 1b-6).
Apa kaitan mereka dengan “tiga Raja”? Matius menyebut adanya tiga macam persembahan yang dibawa oleh orang-orang majus itu: emas, dupa, dan mur (ay. 11b). Dari situ ditarik kesimpulan bahwa ada tiga orang majus. Bahwasanya mereka dianggap sebagai raja, nampaknya didasarkan pada tradisi umat Yahudi sendiri yang tertera dalam Mazmur 72:10. Nama Gaspar, Baltasar, dan Melkior dikenal di wilayah Kekaisaran Romawi sebelah Barat. Persembahan yang mereka berikan kepada kanak-kanak yang baru lahir itu menandai terjalinnya hubungan antara orang-orang dari kalangan non-Yahudi dengan pemimpin umat Tuhan yang baru lahir ini. Iman yang mereka miliki mengatasi/melampaui ikatan-ikatan bangsa dan kedaerahan.
Dengan kisah ini, Matius ingin mengatakan tiga hal kepada para pembacanya, khususnya kaumnya sendiri (orang-orang Yahudi). Pertama, Tuhan berbicara kepada umat manusia tidak hanya melalui wahyu Alkitab. Kebijaksanaan juga dapat menuntun orang untuk mengenali Tuhan. Kedua, Matius mengatakan bahwa Tuhan justru berbicara kepada umat pilihan-Nya lewat orang-orang lain yang bukan dari kalangan mereka sendiri. Hal ini terjadi karena umat pilihan Allah tidak mendalami tradisi Kitab Suci mereka. Ketiga, Matius juga bermaksud menyadarkan orang-orang Yahudi bahwa mereka bukan satu-satu umat yang diperhatikan Tuhan. Melalui kisah ini Matius ingin mengatakan bahwa orang-orang bukan Yahudi (yang diwakili oleh “orang-orang majus dari Timur”) juga dapat ikut menikmat janji keselamatan Tuhan, yang kini diberikan dalam wujud manusia, yaitu Yesus.
Dengan merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan ini, kita diundang untuk mensyukuri saat-saat ketika Allah membiarkan diri ditemukan dan dilihat oleh orang-orang yang belum pernah melihat-Nya. Dalam diri bayi yang baru saja dilahirkan itu, Allah berada bersama dengan manusia lain, yang baru saja melahirkan-Nya; dan para majus bersukacita karena dapat menemukan dan melihat Tuhan sungguh hadir dalam kehidupan manusia.
Kita
diundang untuk memiliki sikap seperti yang dimiliki olah orang-orang majus ini.
Jangan sampai kita menjadi seperti Herodes dan orang-orang lain yang berada di
Yerusalem. Mereka hanya “terkejut” (ay. 3), namun tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi. Mereka kehilangan kepekaaan untuk mengenali cara-cara Tuhan berbicara
kepada manusia, karena hidup mereka dipenuhi oleh kegilaan akan kekuasaan. Akibatnya,
kehadiran Allah justru dirasakan sebagai ancaman dan bukan sebagai keselamatan.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.