15 August 2020
Memaknai Perayaan Ekaristi
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore. Salam dari RR Bintang Kejora, Pacet, Mojokerto. Semoga Anda semua beserta keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik, dan dapat menikmati hari Minggu ini utk beristirahat dan mensyukuri semua anugerah Tuhan.
Melalui Injil yang dibacakan dalam Missa online pada Minggu Biasa ke-18 Tahun A ini (Mat. 14:13-21) kita diundang utk memaknai perayaan Ekaristi yang sudah sering kita lakukan. Untuk memahami pesan Injil hari ini, beberapa catatan perlu kita perhatikan.
Pertama, dalam berada di tempat yang sunyi (ay. 13) Yesus menyadari bahwa begitu banyak orang yang semakin mempercayakan hidup mereka dan berharap kepada-Nya. Selain itu, Yesus juga menyadari bahwa Ia bertanggungjawab atas kesejahteraan mereka. Karenanya, Ia menyembuhkan yang sakit (ay. 14) dan memberi makan kepada mereka karena mereka sudah tidak punya apa-apa lagi utk dimakan (ay. 18-20a).
Kedua, kisah mengenai Yesus memberikan makanan kepada lima ribu orang (belum termasuk para perempuan dan anak-anak) ini sudah berkembang di kalangan Jemaat Gereja Perdana sebelum keempat Injil itu ditulis.
Ketiga, cerita ini digunakan oleh Gereja Perdana sebagai bahan katekese utk membantu para anggotanya memahami makna Ekaristi yang mereka rayakan secara teratur.
Keempat, melalui tindakan Yesus (menyembuhkan orang sakit dan memberi makan) Kerajaan Allah yang jauh menjadi pengalaman hidup sehari-hari.
Apa makna itu semua bagi kita sekarang, yang masih merayakan Ekaristi utk mengenang karya penyelamatan Allah yang dilaksanakan oleh Yesus?
Pertama, para pemimpin Gereja, khususnya yang juga memimpin perayaan Ekaristi dan mereka yang ikut membagi komuni, mempunyai tanggung jawab utk memastikan bahwa umat yang mereka layani tidak akan terlantar hidupnya.
Kedua, bagi seluruh umat yang merayakan Ekaristi ada dua makna yang bisa dipetik:
1) melalui Perayaan Ekaristi kita berjumpa dengan Yesus yang menjadi roti kehidupan bagi kita sehingga kita dapat melanjutkan peziarahan hidup kita tanpa perlu merasa kuatir kalau akan mengalami kekurangan.
2) kita memiliki tanggungjawab utk berbagi "roti kehidupan" yang masih melimpah itu (ada 12 bakul penuh, ay. 20) kepada mereka yang belum dapat menikmatinya, entah itu dari kalangan kita sendiri maupun mereka yang belum mengenal Kristus. Wujud "roti kehidupan" itu bisa berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan nyata dari orang-orang yang kita jumpai dalam perjalanan hidup kita.
Semoga kita dimampukan oleh Allah sendiri utk melakukannya.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
26 July 2020
Berusaha Dikenali oleh Para Maiaikat
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore menjelang petang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda juga dapat beristirahat dan menikmati kasih Allah yang tanpa henti dicurahkan kepada kita.
Injil yang dibacakan dalam Missa pada hari Minggu Biasa ke-17 tahun A ini, merupakan penutup ajaran Yesus mengenai Kerajaan Allah yang disampaikan oleh penginjil Matius dalam bab 13 injilnya.
Dalam perumpaan tentang biji sesawi (ay. 31-32) dan ragi (ay. 33) Matius ingin menonjolkan kekuatan dari Kerajaan Allah itu sendiri dan dayanya yang dapat mengubah kehidupan orang yang menerimanya.
Dalam perumpaan tentang "harta yang terpendam" (ay. 44) dan "mutiara yang indah" (ay. 45), ingin disampaikan bahwa "kehadiran Allah dalam diri Yesus" (Kerajaan Sorga) memiliki daya tarik yang luar biasa sehingga membangkitkan niat utk mencari, menemukan, dan memilikinya. Bagi pengolah ladang itu, kebahagiaan diperoleh krn dengan membeli ladang itu ia tidak lagi hanya menjadi "pengolah" (buruh tani), melainkan menjadi "pemilik." Status dan martabat hidupnya berubah menjadi lebih baik. Dengan memiliki "harta yang terpendam" dan ladangnya (Kerajaan Sorga) itu, ia dapat "menentukan sendiri hidupnya." Ia tidak lagi bertindak karena perintah orang lain (pemilik ladang).
Bagi seorang pedagang, kepuasannya terletak pada "mencari dan menemukan mutiara yang terindah," "barang langka" yang tidak dimiliki oleh banyak orang lain.
Pengajaran tentang Kerajaan Sorga ditutup dengan perumpamaan ttg begitu banyaknya ikan yang terjaring oleh jala, yang kemudian ikan yang baik dipisahkan dari yang buruk (ay. 48). Bagian perumpamaan ini ada kemiripannya dengan perumpamaan tentang gandum dan ilalang (ay. 24-30). Yang ingin ditekankan di sini adalah semua manusia diundang utk berusaha agar hidupnya "dirasuki oleh kehadiran Allah dalam diri Yesus" (bukan dirasuki oleh roh jahat) agar selama hidup mereka dan khususnya pada akhir zaman nanti mereka akan "dikenali" oleh para malaikat sebagai "gandum" (ay. 43) dan sebagai "ikan yang baik" (ay. 49-50) sehingga pantas menerima kebahagiaan kekal.
Apa yang bisa kita lakukan agar hidup kita dapat dikenali oleh para malaikat sebagai "tempat kehadiran Allah" dalam masa pandemi covid-19 ini? Paus Fransiskus mengatakan bahwa ada virus yang lebih berbahaya daripada covid-19. Nama virus itu adalah ketidakpedulian. Virus ini nampak ketika orang hanya memikikirkan kepentingan dirinya sendiri dan tidak peduli terhadap penderitaan orang lain; misalnya, orang tidak mau memakai masker, orang menyembunyikan stok dagangan dan menjualnya dengan harga sangat mahal, guru atau dosen memberi tugas berlebihan kpd para murid/mhsw karena malas menyiapkan bahan ajar dan menyampaikannya secara bermutu, dosen tidak membaca skripsi mahaiswa selama beberapa bulan, dst.
Untuk memberantas virus ketidakpedulian itu, Paus Fransiskus mengajak kita utk menumbuhkan imunitas tubuh kita yang berupa: keadilan, kasih, dan solidaritas. Dengan menumbuhkan tiga sikap ini, kita membangun hidup kita sebagai "tempat kehadiran kerajaan Sorga" yang membuat para malaikat mengenali kita sebagai "ikan yang baik" (ay. 48), sebagai "orang yang benar" (ay. 49).
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
26 July 2020
Menjadi Benih yang Baik dan Menghasilkan Banyak Buah Kebaikan
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda semua juga sdh dapat menikmati hari ini utk beristirahat dan mensyukuri semua kebaikan Allah. Saya baru saja pulang dari retret, sehingga baru dapat menyapa Anda semua di penghujung hari ini.
Injil yang dibacakan dalam Misa online pada hari Minggu Biasa ke-16 tahun A (Mat. 13:24-43) memuat tiga perumpamaan tentang Kerajaan Allah: (1) lalang dan gandum (ay. 24-30), (2) biji sesawi (ay. 31-32), dan (3) ragi (ay. 33-35), diakhiri dengan penjelasan Yesus ttg perumpamaan yang pertama, yang diberikan secara khusus kepada para murid-Nya.
Dari Injil ini kita dapat belajar enam hal.
Pertama, kekuatan kegelapan tidak serta merta tersingkir dari kehidupan orang beriman, seperti lalang yang hidup di antara gandum.
Kedua, kekuatan kegelapan dan kejahatan itu memang mengancam kehidupan kita. Namun kita tidak perlu kuatir krn kita dilindungi oleh Anak Manusia, yakni Yesus sendiri.
Ketiga, di hadapan Anak Manusia, kekuatan kegelapan dan kejahatan tidak akan dapat menghancurkan kita yang berlindung kepada-Nya.
Keempat, tugas kita sebagai "anak-anak Kerajaan"--sebagai orang-orang yang dilindungi oleh Yesus (ay. 38)--bukanlah menyingkirkan kekuatan kegelapan dan kejahatan, bukanlah utk menghancurkan kejahatan yang ada di depan mata kita, melainkan menyadari diri sebagai benih yang baik dan berusaha menghasilkan buah-buah kebaikan sebanyak mungkin. Tugas kita bukan mencabuti ilalang, malainkan ikut mewujudkan karya Anak Manusia sendiri, sehingga semakin banyak orang dapat hidup dengan layak dan bermartabat.
Kelima, yang bertugas menyingkirkan kekuatan kegelapan dan kejahatan adalah Anak manusia dengan para malaikat Allah (ay. 41).
Keenam, kekuatan Kerajaan Allah sangatlah besar. Kekuatan Kerajaan Allah (kehadiran Allah utk menyempurnakan karya ciptaan-Nya) akan mampu mengembangkan siapa saja yang menerimanya (ay. 31-33), meskipun cara kerjanya tidak selalu kelihatan.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
14 July 2020
Menjadi Tanah Subur dan Menyuburkan Tanah Sesama
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore. Salam dari Kampoeng Media Studio Audio Visual (SAV) Puskat, Sinduharjo, Sleman. Sejak kemarin petang saya melakukan retret delapan hari bersama 70 orang Yesuit Provinsi Indonesia.
Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik.
Bacaan Injil yang dibacakan dalam Misa online pada hari Minggu Biasa ke-15 tahun A (Mat. 13:1-23) mengundang kita utk mencari jalan agar hidup kita dan hidup sesama kita dapat menjadi tanah yang subur bagi Sabda Allah yang ditaburkan di atasnya.
Untuk memahami pesan Injil hari ini perlu kita mengerti cara bercocok tanam pada zaman (Yesus) itu. Cara mereka berkebalikan dengan cara yang kita kenal sekarang. Para petani di Israel pada zaman Yesus menaburkan benih sebelum tanah diolah dan diairi. Maka tugas petani (penabur) atau orang lain setelah benih ditaburkan adalah memastikan bahwa tanah diolah dengan baik dan biji yang telah ditabur berada dalam tanah yang subur agar biji itu dapat bertumbuh subur dan menghasilkan banyak buah.
Pada dasarnya memang ada dua jenis tanah; tanah yang mandul dan tanah yang subur. Ada beberapa penyebab sehingga tanah menjadi mandul: kehilangan benih karena dimakan burung (ay. 4), tanah kersang berbatu-batu (ay. 5), dan tanah yang ditumbuhi semak duri (ay. 7). Dalam Injil Matius "tanah yang mandul" adalah orang-orang yang tidak mau menerima Yesus dan pewartaan-Nya.
Yang dimaksud dengan "tanah yang subur" adalah setiap orang yang "melakukan kehendak Bapa" (Mat. 12:50); artinya, mendengarkan, menuruti, dan melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah.
Perumpamaan ttg penabur ditutup dengan seruan Yesus, "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar(kan)" (ay. 9). Dalam alam pikiran orang-orang Yahudi pada zaman itu, "telinga" adalah jalan utk memperoleh pengertian dan kebijaksanaan. Karenanya, "mendengar(kan)" berarti mengerti dan bertindak sesuai dengan pemahaman tersebut. Ayat ini mengundang para pendengar utk menyadari bahwa memang ada tanah yang mandul (tidak menghasilkan apa-apa) dan ada tanah yang subur. Berdasarkan kesadaran ini, kalau kita melihat benih yang jatuh di tanah yang mandul, kita perlu memindahkannya ke tanah yang subur.
Dalam ayat 18-23 perumpamaan tadi diterapkan pada kehidupan iman para murid Yesus. Ada tiga hal yang diajarkan oleh Yesus melalui perumpamaan ini.
Pertama, kita diimbau utk menjadi tanah yang subur agar benih Sabda Allah yang ditaburkan dalam hidup kita dapat menghasilkan buah yang berlipat ganda. Juga diajarkan agar benih Sabda yang telah ditaburkan tidak hilang atau terhimpit dan mati.
Kedua, dengan menyadari bahwa benih Sabda dapat terancam oleh si jahat (ay. 19), menjadi murid Yesus berarti mengupayakan agar semakin banyak benih menemukan tanah baik, dan tidak tinggal dalam tanah yang mandul. Artinya, berusaha agar Sang Sabda yang telah ditaburkan dalam hidupnya sungguh-sungguh menjadi bagian dari hidupnya.
Ketiga, tanah kersang dipahami sebagai "penindasan dan penganiayaan" (ay. 20-21), serta "kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan" (ay. 22). Menghadapi situsi seperti ini kita tidak perlu melawannya secara frontal. Kita perlu menemukan jalan terbaik utk menghadapinya. Kita perlu bijaksana dalam beriman.
Secara singkat, perumpamaan ini mengajak kita semua sebagai murid Yesus utk bertanggungjawab agar Sabda Allah dapat bertumbuh subur dan menghasilkan banyak buah kebaikan dalam kehidupan kita. Selain itu, kita juga memiliki tanggungjawab utk membantu orang banyak agar meraka juga menjadi "tanah yang subur" bagi benih Sabda Allah yang ditaburkan dalam hidup mereka (ay. 11).
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
6 July 2020
Beriman dengan Menghormati Hak Asasi dan Penuh Rasa Syukur
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat petang. Semoga Anda semua bersama keluarga, teman dan sahabat, dalam keadaan baik. Saya baru dapat menyapa Anda semua di penghujung hari ini karena ada beberapa hal yang perlu didahulukan pada pagi dan siang tadi.
Injil yang dibacakan dalam Misa online pada Hari Minggu Biasa ke-14 (Mat. 11:25-30) ditampilkan oleh Matius utk menjawab pertanyaan para pendengar ttg Yesus setelah mereka menyaksikan semua yang dilakukan-Nya.
Dalam Mat. 11:2-6 disampaikan pertanyaan banyak orang, bahkan Yohanes Pemandi sendiri: apakah Yesus itu benar-benar yang dinanti-nantikan oleh banyak orang (ay. 3). Dalam Mat. 11:7-19 disampaikan sikap sepi (tidak peduli) yang dimiliki olh banyak orang terhadap Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus, bahkan mereka menganggap bahwa yang disampaikan oleh Yesus itu hal yang bukan-bukan. Kemudian Matius menceritakan sikap banyak orang di banyak tempat (Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum) yang tidak mau percaya kepada-Nya walaupun sudah menyaksikan semua mukjizat yang Ia lakukan (Mat. 11:20-23).
Menanggapi semuanya itu, apa kata Yesus tentang diri-Nya di hadapan Allah dan bagi orang-orang yang menerima-Nya? Inilah yang disampaikan dalam Injil yang kita dengarkan hari ini.
Dalam ay. 25 dapat kita simpulkan bahwa Yesus benar-benar mengenal Allah yang mengutus diri-Nya, dan yang Ia wartakan melalui perkataan dan semua perbuatan-Nya. Melalui semua yang Ia lakukan--mengusir setan dan roh jahat, menyembuhkan orang sakit, mengajar, mengutus para murid utk melakukan hal2 yang Ia lakukan--adalah utk membantu para pendengar-Nya memahami bahwa Allah yang mengutus-Nya dan yang Ia wartakan adalah Allah yang peduli terhadap berbagai macam persoalan hidup dan penderitaan yang dialami oleh manusia. Allah seperti itu adalah Allah yang begitu dekat dengan manusia, sehingga Ia sebut sebagai Bapa.
Utk dapat mengenal dan menerima Allah seperti itu tidak cukup hanya mengandalkan pada kebijaksanaan dan kepandaian (ay. 25). Yang dimaksud oleh Yesus mengenai orang-orang bijak dan pandai adalah orang-orang yang dengan cermat dan saleh mentaati perintah-perintah Taurat yang berjumlah 613. Tapi yang sering terjadi adalah mentaati peraturan-peraturan itu sering dimutlakkan sehingga menjadi beban, dan tidak menjadi ungkapan iman yang hidup dan mendatangkan kebahagiaan sejati. Dengan cara seperti itu agama justru menjadi beban (ay. 28) dan bukan jalan mengenal dan menerima kehadiran Allah serta menerima sesama seperti adanya.
Berkebalikan dengan sikap sekedar taat pada peraturan, Yesus mengundang para pendengar-Nya utk memiliki dua sikap. Pertama, "menjadi orang kecil" (ay. 25) artinya menjadi orang yang bersedia melangkah melampaui "ambang batas" pelaksanaan peraturan-paraturan. Mereka perlu memiliki sikap mau hidup dengan menangkap semangat di balik peraturan-peraturan, yakni merawat dan melindungi kehidupan serta hak asasi setiap orang.
Kedua, bersedia memikul beban kehidupan (kuk) (ay. 29) sebagai ucapan syukur dan tanda terima kasih kepada Yesus, yang telah bersedia menjalankan tugas perutusan yang diberikan oleh Bapa-Nya, sehingga Ia rela memikul semua beban kehidupan kita sampai di kayu salib. Sikap syukur dan terima kasih seperti inilah yang akan membawa keselamatan.
Semoga kita dimampukan utk menanggapi undangan Yesus itu.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
30 June 2020
Hidup penuh Kedalaman
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Selamat menikmati kasih Allah yang tidak berkesudahan bersama keluarga, teman dan sahabat, atau seorang diri dalam keheningan.
Bertambahnya usia, tidak dengan sendirinya membuat seseorang menjadi lebih dewasa dan lebih bijaksana.
Kedewasaan dan kebijaksanaan dalam hidup hanya akan diperoleh bila kita berjuang terus-menerus utk memiliki kedalaman rohani dan intelektual.
Kedalaman rohani diperoleh bila kita berani membiarkan diri utk terus-menerus dibentuk dan dicintai oleh Allah, sehingga pola berpikir dan berindak kita sungguh mengalir dari pengalaman cinta dan kerahiman Allah. Akibatnya, seperti dikatakan dalam Injil yang dibacakan dalam Misa online hari ini (Mat. 10:37-42), hidup kita dapat menampakkan kehadiran Yesus dan Allah yang Ia perkenalkan, yakni Allah yang peduli terhadap kehidupan manusia (Mat. 10:40).
Kedalaman intelektual adalah kemampuan yang kita miliki utk memahami realitas kehidupan dalam segala kompleksitasnya, dan mampu mengambil sikap yang tepat untuk menanggapinya, sehingga apapun yang kita lakukan akan menjadi berkat bagi orang yang terkena oleh tindakan kita (Mat. 10:42). Kedalaman itelektual akan kita peroleh bila kita bersedia utk bersahabat dengan keheningan guna merefleksikan pengalaman hidup kita dan hidup orang lain guna belajar dari pengalaman itu. Kedalaman intelektual juga akan kita peroleh bila kita mau keluar dari zona nyaman hidup kita utk menjumpai dan memeluk realitas kehidupan yang tidak jarang diwarnai oleh berbagai macam bentuk kemiskinan, keremukan, dan ketidakadilan.
Ini semua akan terjadi bila kita mau dengan rendah hati meminta bantuan banyak orang dan Allah sendiri. Semoga kita dianugerahi rahmat utk melakukannya.
Teriring salam,
Rm. Madya, S.J.