Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

28 March 2021

Menemukan Terang dalam Kegelapan Hidup

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Dalam segala keterbatasan yang ada, semoga Anda masih terus memilih sehat dan bahagia. Selamat memasuki hari pertama Minggu Suci. Semoga kita berani menyisihkan waktu untuk merenungkan puncak dan akhir perjalanan hidup dan pelayanan Tuhan Yesus yang mencapai kepenuhannya dalam peristiwa kesengsaran, wafat, dan kebangkitan-Nya, agar kita semakin menjadi murid-murid-Nya yang mampu mewartakan karya keselamatan Allah lewat cara hidup kita.

Hari ini kita merayakan hari Minggu Palma untuk memperingati perjalanan Yesus memasuki Yesusalem (Mrk. 11:1-10). Kedatangan-Nya disambut meriah oleh orang banyak karena mereka telah mendengar berbagai mukjizat yang telah diakukan oleh Yesus dan juga pengajaran-Nya tentang Kerajaaan Allah. Kini mereka berharap bahwa, sebagai Mesias, Yesus akan menunjukkan kebesaran-Nya di kota suci Yerusalem. Memang itulah yang akan terjadi. Namun kebesaran Mesias yang dihidupi oleh Yesus berbeda dengan yang diharapkan oleh rakyat banyak. Untuk memahami hal ini, marilah kita renungkan bersama Kisah Sengsara yang dibacakan pada hari Minggu Palma tahun B ini (Mrk. 14:1-15:47) dan memetik hikmatnya dengan memperhatikan beberapa catatan berikut. 

Pertama, kedatangan Yesus di Yerusalem menjelang perayaan Paskah Yahudi merupakan ancaman bagi para imam kepala dan ahli Taurat. Hal itu terjadi karena dua hal. Pertama, Yesus ingin mengubah Bait Allah sebagai pusat ke-Yahudi-an, sebagai lambang indentitas orang Yahudi, menjadi rumah doa bagi semua orang (Mrk. 11:17a = Yes. 56:7). Kedua, Yesus mengajarkan bahwa Allah adalah “Bapa”; yakni Allah yang sangat dekat dengan manusia, peduli terhadap semua penderitaan manusia, dan sangat memperhatikan kaum pendosa. Ajaran seperti ini persis berkebalikan dengan ajaran para imam kepala dan ahli Taurat. Ajaran Yesus dianggap sebagai hujatan kepada Allah. Karenanya, Ia harus disingkirkan dan dibunuh (Mrk. 14:1b). Lewat penguasa Romawi mereka berhasil membutuh Yesus di kayu salib (Mrk. 15:15b).

Kedua, mengapa Yesus disalibkan? Dari sudut pandang Mahkamah Agama Yahudi, karena Yesus dianggap menghujat Allah (Mrk. 14:61b-62). Dari sudut pandang penjajah Romawi, Yesus dianggap sebagai ancaman politik (Mrk. 15:1-3). Dari pihak Yesus, kematian-Nya di salib merupakan konsekuensi dari seluruh pilihan hidup-Nya, yang dimulainya sejak pertama kalinya Ia tampil di muka umum, yakni untuk mewartakan datangnya Kerajaan Allah (lih. Mrk. 1:14-15).

Ketiga, proses penyaliban Yesus merupakan saat yang paling gelap dalam hidup-Nya. Demi ambisi para pemimpin Umat Yahudi dan Kekaisaran Romawi akan kekuasaan, Ia dijatuhi hukuman mati, kendati selama proses pengadilan tidak ditemukan satu kesalahan pun yang dapat dijadikan alasan untuk menjatuhkan hukuman mati terhadap-Nya (Mrk. 15:14). Ada beberapa peristiwa yang sungguh menginjak-injak rasa keadilan dan kemanusiaan. Pertama, orang-orang Yahudi atas hasutan para imam kepala dan ahli Taurat justru meminta Pilatus membebaskan Barabas (seorang pemberontak dan pembunuh) daripada Yesus (Mr. 15:6-11). Kedua, Pilatus menuruti permintaan mereka, memutuskan Yesus untuk disalib, dan membiarkan para serdadu menderanya terlebih dahulu. Para serdadu juga memasangkan mahkota duri di kepala-Nya dan mempermainkan Yesus sebagai raja (Mrk. 15:12-15).

Keempat, dalam perjalanan-Nya memanggul salib ke bukit Golgota, di tengah jalan Yesus kehabisan tenaga. Simon dari Kirene, yang kebetulan lewat di situ, dipaksa untuk memikul salib Yesus sampai di puncak Golgota. Seandainya tidak ada Simon dari Kirene, kemungkinan Yesus tidak akan sampai di puncak Golgota, dan sejarah umat manusia akan amat berbeda. Kejadian ini mengingatkan kita bahwa perjumpaan dengan orang yang tidak dikenal juga dapat menjadi jalan penebusan umat manusia. Hal yang serupa juga terjadi ketika kepala pasukan, orang kafir, yang menyaksikan kematian Yesus menyerukan bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mrk. 15:37-39).

Kelima, bersamaan dengan kematian Yesus dan penguburan jenasah-Nya, ikut terkubur pula berbagai macam harapan, idaman, dan impian yang dikenakan pada Yesus oleh banyak orang. Lalu apa yang tersisa? Dari orang-orang yang paling dekat dengan Dia, ada kesaksian bahwa pada hari ketiga sejak kematian-Nya mereka mendapati makam Yesus kosong tanpa ada orang yang memindahkan jenazahnya. Yesus sudah bangkit dari kematian-Nya! (Mrk. 16:4-6). Allah tidak membiarkan Yesus tetap berada di antara orang-orang mati. Allah memberikan hidup baru kepada Yesus. Hidup baru ini dapat dibagikannya kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Inilah kenyataan Kerajaan Allah yang diajarkan oleh Yesus dan dipersaksikannya dengan kesengsaraan, kematian-Nya di salib, dan kebangkitan-Nya.

Secara singkat, kisah sengsara Yesus memperlihatkan betapa merosotnya kemanusiaan yang menolak kehadiran Allah dalam hidup mereka. Kisah tragis yang dialami oleh Yesus, manusia yang tidak berdosa ini, diperlihatkan kepada kita bukan untuk memicu rasa terharu, melainkan untuk membuat kita semakin menyadari sampai sejauh mana kekuatan-kekuatan kejahatan dapat memerosotkan kemanusiaan kita. Sekaligus ingin diperlihatkan bahwa Allah tidak pernah dapat dikalahkan oleh kekuatan kejahatan. Allah juga tidak pernah meninggalkan manusia sendirian. Inilah kabar baik bagi kita pada hari pertama Minggu Suci ini.

Semoga pengalaman orang-orang yang paling dekat dengan Yesus, yang dengan setia menemani perjalanan hidup Yesus yang mencapai puncak dan kepenuhannya di Yesuralem, juga menjadi pengalaman kita.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

28 March 2021

Ingin Menemui Yesus

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara sekalian yang baik, selemat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat sambil mencecap kembali semua anugerah Allah yang telah kita terima selama sepekan yang lalu.

Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi Hari Minggu Masa Prapaskan ke-5 tahun B (Yoh. 12:20-33), berkisah tentang orang-orang Yunani yang datang ke Yerusalem untuk mengikuti ibadat Paskah Yahudi di Bait Allah. Dari antara mereka ada yang ingin bertemu dengan Yesus. Apa makna dari peristiwa ini bagi kita sekarang? Mari kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.

Pertama, yang dimaksud dengan orang-orang Yunani adalah orang-orang yang datang dari berbagai bangsa bukan-Yahudi. Mereka memiliki latar Pendidikan Yunani, yakni kebudayaan transnasional zaman itu. Dari antara mereka ada yang mengikuti kepercayaan dalam agama Yahudi, dan ada juga yang menjadi pengikut Yesus.

Kedua, orang-orang Yunani yang tertarik ikut hidup dalam komunitas Kristiani awal memiliki persoalan mengenai siapa sebenarnya Yesus itu, mengapa Ia harus disalib, dan bagimana peristiwa penyaliban itu menjadi penyelamatan bagi semua orang. Inilah yang melatari peristiwa yang disampaikan dalam Injil hari ini.

Ketiga, peristiwa penyaliban Yesus memang merupakan “batu sandungan” bagi orang-orang Yahudi, dan “kebodohan” bagi orang-orang bukan Yahudi (Yunani) (1Kor. 1:23-24). Dalam Injil Yohanes, persoalan yang dihadapi oleh orang Yahudi tercermin dalam percakapan Yesus dengan Nicodemus (Yoh. 3:1-21) yang sebagiannya kita dengarkan hari Minggu yang lalu, sedangkan yang dihadapi oleh orang-orang Yunani muncul dalam bacaan hari ini.

Keempat, persoalan yang dimiliki oleh orang-orang Yunani mendapatkan jawaban panjang dari Yesus sendiri (ay. 23-33). Dari pernyataan Yesus itu tampak bahwa sudah tiba saatnya bagi Yesus untuk mengalami penderitaan dan mati disalib (ay. 23). Penyerahan diri Yesus dalam peristiwa penyaliban itu memungkinkan terjadinya kehidupan baru, kehidupan kekal bagi banyak orang. Inilah yang dijelaskan dengan biji gandum yang harus jatuh ke dalam tanah dan mati supaya menghasilkan banyak buah (ay. 24).

Kelima, apakah kita harus meniru Yesus, mati seperti Dia (ay. 25-26)? Yesus tidak mengajarkan agar orang meniru Yesus. Tidak diajarkan bahwa orang harus menjalani penderitaan seperti Dia. Yang diminta oleh Yesus adalah mengikuti-Nya. Artinya, ikut mengusahakan agar Dia dapat menjalankan perutusan-Nya sampai tuntas, mengawani-Nya, juga dalam sat-saat yang begitu gelap, dan tidak membiarkan-Nya sendirian, sampai saat ini.

Keenam, setelah Yesus memohon: “Bapa muliakanlah nama-Mu” (ay. 28a), maka terdengarlah (oleh Yesus) “suara dari sorga” (ay. 28b). Artinya, Yesus (yang sangat dekat dengan Bapa-Nya) langsung menangkap apa yang dimaksudkan oleh Bapa-Nya dan dapat menjelaskannya kepada siapa saja.

Sementara itu, orang banyak mendengarnya sebagai “suara guntur” (ay. 29a), dan yang lain mendengarnya sebagai “suara malaikat” (ay. 29b). Maksudnya, mereka memang mengalami sesuatu yang hebat, yang mencengkam, yang “berasal dari atas” namun isinya tidak langsung mereka pahami. Masih dibutuhkan penjelasan yang datang dari “yang di atas” yaitu “malaikat” untuk dapat memahaminya.

Yang dimaksudkan dengan “suara dari sorga”: “Aku telah memuliakannya, dan akan memuliakannya lagi!” (ay. 28b), dijelaskan oleh Yesus dalam ay. 31-32; yakni “penguasa dunia” (= kuasa kegelapan dan kematian yang sangat menakutkan) akan dicampakkan keluar ketika Yesus “ditinggikan dari bumi (= disalibkan, wafat, dan dibangkitkan oleh Allah). Kuasa kegelapan (dan kematian) dikalahkan oleh “terang” (=Sang Sabda yang diperdengarkan kepada orang banyak dalam diri Yesus – Yoh. 1:1-5). Ini semua disampaikan “demi kamu” (ay. 30), demi semua orang yang mau mendengarnya.

Ketujuh, orang Yunani dalam Injil hari ini mewakili umat manusia yang bukan-Yahudi, semua bangsa yang tidak menerima wahyu Allah secara turun-temurun. Keingin tahuan mereka tentang Yesus, membawa mereka mendekat kepada Dia, dan memungkinkan mereka mendengar tentang Yesus jauh lebih banyak daripada yang mereka pikirkan. Itu semua juga dapat terjadi pada kita. Syaratnya hanya satu, yakni memiliki keinginan untuk menemui Yesus (ay. 21).

Sebagai orang yang telah memutuskan untuk mengikuti Yesus, kita juga memiliki tugas dan tanggungjawab seperti yang dimiliki oleh Filipus dan Andreas. Sebelum “mengantar” orang-orang Yunani bertemu dengan Yesus, mereka telah diminta oleh Yesus untuk membagikan makanan kepada orang-orang yang berbondong-bondong mengikuti-Nya (Yoh. 6:1-15). Pengenalan diri akan Yesus juga akan semakin berlimpah buahnya bila semakin dibagikan kepada orang banyak (bdk. Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium 8 dan 10).

Bila ada orang-orang yang datang kepada kita dan ingin bertemu dengan Yesus, apa yang akan kita lakukan?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

14 March 2021

Memasuki Kerajaan Allah

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia justru dalam situasi yang penuh keterbatasan. Selamat menikmati hari Minggu Prapaskah ke-4 dengan keluarga, teman dan sahabat, dan bahkan dalam kesendirian, untuk merasakan kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu.

Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi pada hari ini (Yoh. 3:14-21) berbicara tentang bagaimana orang dapat memasuki Kerajaan Allah, dapat sampai pada hidup yang kekal. Untuk dapat memahaminya marilah kita perhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, ay. 14 merujuk pada pengalaman umat Israel di padang gurun mendekati Tanah Terjanji. Mereka mengalami berbagai macam bahaya. Salah satu bahaya yang paling mengerikan adalah ular tedung yang mematikan (Bil. 21:4-9). Malapetaka tersebut digambarkan sebagai akibat dari kekurangpercayaan mereka kepada Allah. Diceritakan bahwa orang-orang yang telah dipagut oleh ular tedung dan memandangi ular tembaga yang dipancangkan pada sebuah tiang oleh Musa, menjadi selamat. “Memandangi ular tembaga” merupakan ungkapan iman kepercayaan kepada Sabda Allah yang menjadi harapan satu-satunya untuk dapat terus hidup dan melanjutkan perjalanan di padang gurun sampai ke Tanah Terjanji.

Kedua, bagi pembaca Injil Yohanes, Tanah Terjanji adalah Kerajaan Allah (Yoh.3: 3 dan 5), atau hidup kekal (ay. 15), yang dibawakan oleh Yesus kepada semua orang. Jalan satu-satunya untuk sampai ke sana adalah mengarahkan pandangan kepada “Anak Manusia yang ditinggikan” (= Yesus yang disalibkan – ay. 14b-15). Mengapa demikian? Jawabannya terdapat dalam ay. 16.

Ketiga, ay. 16 berbunyi: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kalimat ini merupakan ringkasan dari seluruh Injil, Kabar Gembira mengenai keselamatan Allah.

Keempat, ay. 16-21 berisi kesaksian Yohanes Penginjil akan siapa Allah dan siapa Yesus. Allah begitu mengasihi dunia sehingga Ia menyelamatkannya. Istilah “mengasihi” dan “menyelamatkan” menunjuk pada peristiwa yang SUDAH terjadi. Tindakan Allah mengasihi dan menyelamatkan dunia sudah terlaksana dalam peristiwa penyaliban Yesus di Golgotha. Penyaliban Yesus yang merupakan penyerahan diri secara total kepada Allah membuka jalan kehidupan kekal bagi semua orang yang percaya.

Kelima, melihat kenyataan dalam dunia yang tidak semakin membaik (pendemi covid-19 yang berkepanjangan, peperangan, pembunuhan, kekerasan, perdagangan manusia, ketidakadilan, pengrusakan lingkungan, dst.), bagaimana menjelaskan bahwa Allah begitu mencintai dunia? Bagaimana menjelaskan bahwa Kerajaan Allah sudah datang? Injil Yohanes yang kita dengarkan hari ini menjawabnya dengan memberikan kesaksian bahwa Allah tidak menghendaki kebinasaan melainkan kehidupan kekal bagi semua orang (ay. 16b). Yang perlu kita lakukan adalah berani menerima kebaikan-Nya, berani percaya kepada-Nya (ay. 18a). Dengan kata lain, kita diundang untuk berani menerima Yesus, Sang Terang (ay. 21), sehingga kita tidak lagi hidup dalam kegelapan, tidak lagi melakukan kejahatan (ay. 19-20).

Dalam istilah Paus Fransiskus kita diundang untuk meninggalkan dan melenyapkan sikap ketidakpedulian (indifferences), sikap yang hanya perpusat pada dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri (self-centeredness), serta sikap abai terhadap penderitaan orang lain (forgetfulness). Kita dipanggil untuk mengembangkan hospitalitas (hospitality) yakni kesediaan membuka ruang dalam hati kita agar semakin banyak orang—khususnya yang lemah—mendapatkan perhatian; persaudaraan (fraternity) yakni sikap memperlakukan orang lain seperti saudara kandung sendiri karena sebagai orang beriman kita semua dilahirkan dari “Rahim” yang sama, yakni Allah yang penuh dengan kerahiman; dan solidaritas, yakni sikap mau ikut meringankan beban hidup sesama.

Semoga seruan Bapa Suci mendapatkan gemanya dalam hidup kita sebagai jalan memasuki Kerajaan Allah.

Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

10 March 2021

Membangun Kenisah Baru

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan tetap memilih sehat dan bahagia agar dapat melalui masa pandemi ini dengan selamat. Selamat menikmati hari Minggu bersama keluarga, sanak saudara, dan teman serta sahabat untuk mencecap kembali semua kebaikan Allah yang dilimpahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.

Hari ini kita merayakan hari Minggu Prapaskah yang ke-3. Bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi hari ini diambil dari Injil Yohanes (2:13-22), yang berkisah tentang tindakan Yesus membersihkan Bait Allah dari kegiatan penukaran uang dan perdagangan hewan kurban. Apa makna dari kisah ini bagi kehidupan kita sekarang? Mari kita renungkan bersama dengan melihat beberapa catatan berikut ini.

Pertama, peristiwa di Bait Allah tersebut terjadi menjelang hari raya terbesar orang Yahudi, yakni Paskah. Menjelang hari raya tersebut orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru tanah Israel berdatangan ke Yerusalem untuk melakukan kewajiban mempersembahkan korban di Bait Allah. Demi alasan praktis, banyak orang tidak membawa hewan korban sendiri, karena syarat bagi hewan yang pantas untuk dipersembahkan memang sangat rumit. Karenanya, ada layanan penjualan hewan yang layak untuk dipersembahkan. Uang yang sah untuk berjual beli adalah uang Romawi. Namun karena mata uang itu memuat gambar Kaisar, maka mata uang itu dinyatakan haram untuk membeli hewan yang akan dipersembahkan. Oleh sebab itu, ada layanan penukaran mata uang Romawi dengan mata uang Yahudi. Semuanya itu dilakukan di serambi Bait Allah, yang juga boleh dikunjungi oleh orang bukan Yahudi.

Kedua, apa yang sebenarnya dibuat oleh Yesus? Apakah Dia kalap? Menurut seorang ahli tafsir, Prof. Dr. A. Gianto, S.J., yang dilakukan oleh Yesus kala itu adalah sebuah “tindakan simbolik” seperti pernah dilakukan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama (mis. Yer.13:1-11; Yeh. 4:1-5:17, dst.), untuk membuka mata orang-orang yang melihatnya. Dengan disaksikan oleh banyak orang, Yesus bersama murid-murid-Nya datang ke Bait Allah dengan membawa hewan persembahan dan meja penukar uang. Menyaksikan itu semua, tentu semua orang yang melihatnya merasa ingin tahu. Tiba-tiba Yesus mencambuki hewan yang dibawanya sendiri dan menghardik para murid yang berperan sebagai para pedagang hewan persembahan dan penukar uang dengan berteriak: “Enyahlah, jangan membuat rumah Bapa-Ku menjadi pasar!” (ay. 16). Dan para murid pun berteriak: “Kalap sungguh aku oleh kobaran cintaku pada Bait-Mu!” (ay. 17). Drama selesai, tetapi serambi yang berantakan masih terlihat oleh orang banyak.

Ketiga, melihat tindakan simbolik Yesus itu, orang-orang Yahudi menantang Yesus untuk menunjukkan apa yang menjadi hak-Nya untuk melakukan tindakan (seperti yang dilakukan oleh para nabi Perjanjian Lama) itu (ay. 18).

Keempat, dengan tindakan-Nya itu Yesus mengajak semua orang untuk menyadari betapa fungsi Bait Allah sudah terjungkir balik. Bait Allah bukan lagi merupakan tempat untuk berjumpa dengan Allah dan beribadat kepada-Nya. Orang lebih disibukkan dengan “hal-hal lahiriah”: mana hewan yang pantas sebagi korban, mana mata uang yang cocok untuk membeli hewan korban.

Kelima, penginjil Yohanes menempatkan peristiwa ini pada awal karya Yesus, sementara Injil sinotik (Markus, Matius, dan Lukas) menempatkannya pada hari-hari terakhir kehidupan Yesus. Yang ingin disampaikan oleh Yohanes dengan pilihannya itu adalah menekankan bahwa sejak awal Yesus mengajak semua orang untuk mengarahkan diri ke Bait yang didirikan oleh Allah sendiri, yakni dirinya yang dibangkitkan-Nya dari kematian.

Apa makna itu semua bagi kita? Dengan itikad baik kita semua telah mendirikan “bangunan hidup rohani,” ruang suci dalam hidup kita bagi Tuhan. Dengan susah payah kita berusaha tekun melakukan berbagai macam olah rohani (bedoa, berziarah, melakuakan adorasi, melakukan berbagai macam perayan liturgi, melakukan pantang dan puasa) dan melakukan berbagai tindakan amal kasih, serta keterlibatan sosial untuk membangun masyarakat menjadi lebih manusiawi. Ini semua baik. Namun “tindakan simbolik” yang dilakukan oleh Yesus, yang dikisahkan dalam Injil hari ini, mengundang kita agar itu semua tidak menggeser dan menggantikan Yesus sendiri bagi kehidupan kita.

Refleksi kita bersamaan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Irak, yang dimulai sejak Jumat dan akan berakhir besok. Kunjungan Bapa Suci ini merupakan tindakan untuk mewujudkan ajarannya sendiri, yakni melawan virus yang lebih berbahaya daripada virus corona, yakni virus ketidakpedulian. Paus Fransiskus juga ingin keluar dari bahaya yang mengancam seluruh umat manusia saat ini, yakni “terpenjara dalam realitas virtual.” Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak ingin menunjukkan bahwa persaudaraan dan perdamaian sejati hanya dapat diwujudkan bila kita bersedia keluar dari “penjara realitas virtual” dan menjumpai “realitas [kehidupan yang] real,” meskipun harus menghadapi berbagai macam bahaya yang mengancam.
Tindakan konkret apa yang akan kita lakukan untuk mengembangkan kepedulian kita terhadap sesama yang membutuhkan uluran tangan kita, serta mewujudkan hidup bersama yang dilandasi oleh persaudaraan sejati?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

28 February 2021

Beriman kepada Yesus: Apa Buahnya?

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda juga tetap memilih sehat dan bahagia, agar virus corona tidak mencelakai diri Anda sendiri serta orang-orang yang Anda cintai, dan mereka yang berada dalam tanggungjawab Anda.

Hari ini kita merayakan hari Minggu Prapaskah II Tahun B dalam kalender liturgi. Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi hari ini (Mrk. 9:2-10) berkisah tentang Yesus yang “berubah muka” dan “disaksikan” oleh tiga murid terdekatnya, Petrus, Yakobus dan Yohanes. Apa makna dari kisah ini bagi kehidupan kita sekarang? Mari kita renungkan bersama dengan memperhatikan catatan-catatan berikut ini.

Pertama, ungkapan “enam hari kemudian” (ay. 2) bukanlah hitungan hari melainkan waktu yang cukup untuk mengendapkan dan memahami apa yang telah mereka dengar tentang siapa Yesus dan apa yang akan terjadi dengan diri-Nya (Mrk. 8:31-32).

Kedua, “gunung yang tinggi” (ay. 2). Dalam Alkitab “gunung yang tinggi” adalah tempat orang dapat bertemu dengan Allah dalam kebesaran-Nya. Dalam tradisi Ibrani, ada dua tokoh penting yang bertemu dengan Allah di tempat yang tinggi, kemudian diberti tugas sangat penting oleh Allah. Mereka adalah Musa dan Elia. Musa menerima loh batu, yaitu Taurat, dari Allah dan dia diutus untuk memberikannya kepada umat Israel sebagai pegangan hidup mereka (Kel. 24:12-18). Elia mendapatkan tugas untuk menunjukkan kewibawaan Allah kepada Raja Israel (1Raj. 19:8-18). Dengan latar ini, pembaca kisah dalam Injil ini diajak untuk menyadari bahwa Yesus juga bertemu dengan Allah dan akan mendapatkan tugas khusus (bdk. Mrk. 8:31-32).

Ketiga, “Yesus berubah rupa” (ay. 2). Dengan latar bekat yang didiberikan oleh Imam Harun kapada Umat Israel (Bil. 6:24-26) dan Kitab Pengkhotbah yang menyatakan bahwa hikmat kebijaksanaan membuat wajah seseorang bisa bersinar, peristiwa yang dialami oleh Yesus itu ingin mengungkapkan bahwa Yesus adalah sosok yang dipenuhi kasih karunia Allah dan penuh dengan hikmat kebijaksanaan. Dalam budaya Ibrani, wajah yang bersinar merupakan lawan dari wajah yang penuh dengan ungkapan kemarahan, kekerasan, kelaliman, dan menakutkan. Dengan kata lain, Yesus adalah pribadi yang penuh keramahan, kelembutan, kebaikan, dan belas kasih.

Keempat, kehadiran Elia dan Musa yang berbicara dengan Yesus (ay. 4). Pengkisahan ini ingin mengatakan bahwa Yesus itu adalah seorang tokoh besar yang akrab dengan Allah, seperti Elia dan Musa. Yesus sedang menuju ke Yerusalem untuk menggenapi tujuan perjalanan-Nya (bdk. Luk. 9:31), yakni membawa keluar umat manusia dari kungkungan keberdosaan mereka menuju ke kehidupan yang baru. Kedua tokoh itu sekarang menyertai perjalanan Yesus tersebut.

Kelima, para murid dilarang menceritakan pengalaman tersebut sampai Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (ay. 9). Artinya, mereka diminta mengendapkan, mengintegrasikan pengalaman tersebut dengan kehidupan mereka yang nyata. Dengan cara itu, diharapkan mereka akan semakin mengenal siapa Yesus itu sebanarnya. Ia adalah pribadi yang mendapatkan kasih karunia begitu penuh dari Allah sehingga kematian tidak dapat menguasai diri-Nya. Sebaliknya, melalui kematian-Nya Ia justru mendapatkan kehidupan bagi seluruh umat manusia; Ia bangkit dari antar orang mati.

Kita tidak diikutsertakan oleh Yesus dalam peristiwa yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Kita mengerti apa yang terjadi dengan Yesus berkat kesaksian tiga orang murid yang mengalaminya. Melalui kisah ini kita diundang untuk bertanya diri. Sebagai orang-orang yang mengklaim diri sebagai pengikut Yesus, sejauh mana kita mengenal Dia? Sejauh mana pengenalan kita akan Yesus itu kita integrasikan dalam seluruh pergulatan hidup kita? Buah-buah konkret apa yang mengalir darinya untuk diri kita sendiri, untuk keluarga kita, dan orang-orang di sekitar kita serta masyarakat kita?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

22 February 2021

Menerjemahkan Kerajaan Allah dalam Hidup Bermasyarakat

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua dalam keadaan baik, juga Anda yang kebetulan berada di tempat yang terkena bencana alam (banjir dan tanah longsor). Saya mohon maaf baru dapat menemui Anda sekarang, karena tadi pagi s/d siang saya menemani para peserta Hari Studi Komunitas Katekis (yang sudah berlangsung selama 5 tahun).

Pada Hari Minggu Prapaskah I Tahun B dalam kalender liturgi hari ini, kita diajak untuk merenungkan kisah yang dituturkan oleh Markus dalam Injilnya (Mrk. 1:12-15). Secara sangat singkat dan padat diceritakan mengenai dua hal. Pertama, Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun. Kedua, Yesus mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kedua peristiwa ini akan mendasari semua kegiatan Yesus di tengah masyarakat. Apa yang dapat kita petik bagi kehidupan kita pada zaman ini? Marilah bersama-sama mencoba menemukannya dengan memperhatikan beberapa catatan di bawah ini.

Pertama, Markus dengan sengaja memadatkan kisah-kisah mengenai Yesus yang waktu itu masih dikenal oleh para pendengarnya. Dengan cara itu, membuat peristiwa yang bersangkutan menjadi semakin menonjol. Selain itu, para pembaca dan pendengar (juga sekarang ini) diajak untuk mengembangkan sendiri unsur-unsur yang melatarbelakangi peristiwa tersebut sesuai dengan pengetahuan dan perkembangan iman masing-masing.

Kedua, pusat dari cerita dalam Injil ini bukan percobaan yang dialami oleh Yesus, melainkan penyertaan Roh, terbangunnya kembali manusia secara utuh dalam Kerajaan Allah, dan sikap yang perlu dibangun untuk menerimanya.

Ketiga, Yesus dipimpin oleh Roh (ay. 12). Artinya, Ia membiarkan kehadiran Allah bekerja dalam diri-Nya seluas-luasnya.

Keempat, Yesus berada di antara binatang-binatang liar (ay. 13b). Ungkapan ini menyatakan bahwa di dalam diri Yesus terwujudlah manusia yang utuh seperti di Firdaus dulu (sehingga manusia dan binatang buas dapat hidup berdampingan lagi, bdk. Yes. 11:6-9).

Kelima, Kerajaan Allah (ay. 15b). Orang-orang yang hidup pada zaman Yesus percaya bahwa mereka dipilih menjadi Umat Alah berkat kebaikan-Nya, yang membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir dan membawanya ke tanah yang dijanjikan-Nya kepada leluhur mereka. Allah juga menjadikan mereka sebagai jalan bagi bangsa-bangsa lain untuk mengenal kebesaran Allah mereka. Mereka merasa aman karena dipimpin oleh kuasa Allah sendiri. Mereka merasa bangga karena dirajai oleh Allah sendiri. Itulah gagasan awal mengenai “Kerajaan Allah.”

Namun dalam perjalanan sejarah umat Israel ternyata terjadi pengalaman-pengalaman yang membuat kebesaran mereka runtuh dan tidak mendapati diri dirajai oleh Allah, melainkan justru diperintah oleh bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah mereka.

Keenam, seruan Yesus bahwa “Waktunya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat” (ay. 15a) langsung sambung dengan pengalaman para pendengarnya. Kehadiran Allah yang diwartakan oleh Yesus akan segera datang. Allah akan segera datang untuk merajai hidup mereka kembali.

Ketujuh, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (ay. 15b). Yesus mengajak para pendengarnya untuk memiliki keterbukaan guna melihat hal yang lebih luas daripada yang terjadi sekarang. Mereka diundang untuk bersedia memikirkan adanya hal-hal yang lebih besar dan lebih jauh daripada apa yang sedang terjadi sekarang. Inilah arti “bertobat.” Dengan kesediaan untuk memiliki wawasan yang luas seperti itu, mereka sungguh “percya kepada Injil;” artinya, mempercayai bahwa ada sesuatu yang membuat hidup mereka menjadi lega, bisa terbebas dari kegelisahan akan masa depan yang tidak menentu.

Apa yang dapat kita petik dari kisah dalam Injil hari ini?

Pertama, dalam hidup kita juga akan kita alami berbagai macam godaan yang dapat membuat kita menjauh dari Allah. Semakin besar godaan, juga semakin besar daya perlawanan yang tersedia bagi kita. Kita diberi pilihan: (1) mengandalkan diri pada kekuatan kita sendiri dan pasti kalah, atau (2) mengandalkan diri pada kekuatan Illahi (Roh) yang akan memungkinkan kita menang.

Kedua, menerima pewartaan tentang datangnya Kerajaan Allah berarti membiarkan diri dipenuhi oleh kehadiran Allah sekaligus membangun  kesediaan untuk memberikan wujud nyata dari kehadiran Allah tersebut dalam masyarakat tempat kita tinggal. Dengan kata lain, “menerjemahkan” Kerajaan Allah dalam tindakan-tindakan konkret untuk mengembangkan wahana-wahana kehidupan dalam masyarakat menjadi semakin layak bagi setiap anggota masyarakat; yakni, keamanan dan kenyamanan di lingkungan kerja; infrastruktur yang menopang kebutuhan dasar anggota masyarakat; layanan pendidikan yang membantu peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk dapat ambil bagian dalam mewujudkan kesejahteraan umum; layanan kesehatan yang menghargai martabat hidup pasien; sistem penggajian yang adil; perundang-undangan yang menghargai semua orang, khususnya para single mothers; relasi antara pemilik kerja dan karyawan yang dilandasi oleh rasa hormat; dst. Apa yang perlu dan dapat kita lakukan untuk mewujudkannya?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.  


Lihat selengkapnya