Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

27 December 2020

Mohon Menjadi Keluarga Kudus


Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudariku yang baik, selamat siang. Masih dalam suasana Natal hari ini Gereja mengajak kita untuk merayakan Pesta Keluarga Kudus; sebuah keluarga tempat Yesus dibesarkan sehingga Ia “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk. 2:40). Dalam keluarga di Nazaret itulah Yesus diajari dan belajar menjadi seorang pemuda yang memiliki kedewasaan manusiawi sekaligus memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah, sehingga dalam masa hidup-Nya yang tidak panjang Ia mampu melaksanakan secara tuntas rencana Allah untuk menyelamatkan umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Hari ini saya tidak akan memberikan renungan. Sebagai gantinya, saya mengajak Anda semua untuk berdoa kepada Yesus, menyerahkan keluarga dan komunitas kita kepada-Nya, agar seluruh nilai yang dulu Ia perjuangkan juga memenuhi hidup kita, hidup keluarga dan komunitas kita. Berdoa merupakan bagian integral dari hidup kita; dan doa yang kita panjatkan dengan sungguh-sungguh akan menjadi pola hidup kita.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.


 Penyerahan Keluarga kepada Tuhan Yesus (diadaptasi dari MB 19A)


Tuhan Yesus, Egkau menguduskan hidup keluarga dengan hidup dalam keluarga Bersama Bunda Maria dan Santo Yosef di Nazaret.

Kami sekeluarga berkumpul di hadapan-Mu untuk memperbarui penyerahan seluruh keluarga kami kepada-Mu, raja dan pusat hidup kami.

Kami mohon, tinggallah di dalam keluarga dan rumah kami, dan penuhilah hidup kami dengan kehadiran-Mu.

Semoga keluarga dan rumah kami menjadi pusat kehidupan Kristiani, di mana kami mengasihi Allah Bapa dengan segenap hati dalam persatuan dengan Dikau, Putra Allah, dan Gembala kami.

Ya Yesus Kristus, semoga kami hidup menurut pedoman Injil-Mu: rukun, bijaksana, sederhana, sayang-menyayangi, hormat-menghormati, tolong-menolong dengan senang hati, bersedia berkomunikasi secara mendalam, saling mengampuni dengan tulus, rela berbagi, dan mendahulukan orang-orang kecil dan tersingkirkan.

Anugerahilah kami dengan rahmat-Mu agar keramahan dan cinta kasih, semangat pengorbanan, ketekunan, dan penghasilan yang cukup selalu berada dalam keluarga kami.

Semoga keluarga kami terlibat aktif dalam membangun masyarakat menjadi lebih manusiawi, dan menjadi teladan serta terang bagi keluarga-keluarga di sekitar kami.

Berkatilah kami agar tidak seorang pun di antara kami menjauh dari-Mu, satu-satunya sumber kebahagiaan kami. Dikau kami puji bersama Bapa dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.


Lihat selengkapnya

27 December 2020

Merayakan Natal: Melawan Virus Ketidakpedulian


Para Ibu dan Bapa serta saudari dan saudara sekalian yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluara, teman, dan sahabat dalam keadaan baik dan dalam suasana hati yang penuh harapan. Saya haturkan banyak terima kasih kepada Anda semua yang telah menyampaikan ucapan Selamat Natal kepada saya dan doa-doa untuk kesehatan dan pelayanan yang lebih baik bagi saya.

Tadi malam (24 Desember) saya merayakan malam Natal di sebuah desa yang terletak di pinggir sungai Praga, dalam dua kali Misa dalam Bahasa Jawa. Ada sekitar 200 orang yang hadir dalam setiap Misa. Semuanya dilakukan dengan mentaati protokol kesehatan secara ketat. Hiasan dalam gereja dan Misa dibuat secara sederhana, namun semua ini tidak menghilangkan rasa gembira karena kita dapat merayakan Natal secara langsung dalam kebersamaan dengan para anggota Gereja lainnya.

Hal ini mengingatkan saya pada apa yang sebenarnya terjadi sudah lebih dua ribu tahun yang lalu seperti dituturkan dalam Injil Lukas yang dibacakan dalama Misa malam Natal (Luk. 2:1-14) maupun Misa Fajar (Luk. 2:15-20). Allah Sang Pencipta yang Mahakuasa lahir dalam wujud bayi lemah di tempat yang sangat mudah ditemukan oleh banyak orang (ay.7). Dalam diri bayi kecil itu, Allah yang dulu sangat jauh sekarang menjadi sangat dekat. Dalam diri si bayi kecil, Sang Juruselamat, yang terurapi (Kristus), Tuhan sendiri hadir di tengah-tengah kita (ay. 11). Kehadiran-Nya dapat kita temukan di “Betlehem” (ay. 15), sebuah tempat yang mudah kita kenal dalam kehidupan kita: dalam diri orang-orang yang kita cintai dan yang mencintai kita, dalam diri orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita, dalam diri orang-orang yang sedang kebingungan mencari arah hidup, dalam diri orang-orang yang memperjuangkan peningkatan kualitas hidup orang-orang kecil, dalam diri orang-orang yang gigih merawat bumi sebagai rumah kita bersama, atau bahkan dalam diri kita sendiri yang diundang untuk menghadirkan-Nya bagi orang lain.

Bayi kecil itu adalah Yesus (Allah yang Jaya – Luk. 1:31), Imanuel (Allah yang menyertai pergulatan hidup kita; God with us – Mat. 1:23) dan Allah untuk kita (God for us; Luk. 2:7 – “dibaringkannya dalam palungan”). Ini semua dilakukan oleh Allah karena Allah sangat peduli terhadap kesejahteraan hidup kita (Yoh. 10:10b).

Dengan pemahaman seperti ini, merayakan Natal berarti sebuah undangan untuk menghidupi semangat kepedulian. Hal ini mengingatkan kita pada ajakan Paus Fransiskus untuk menyadari bahwa di tengah pandemi covid-19 ini ada jenis virus lain yang jauh lebih berbahaya daripada virus corona itu sendiri. Virus tersebut oleh Paus Frasiskus diberi nama virus ketidakpedulian; ketidakpedulian terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap alam semesta. Virus jenis ini, menurut Paus Fransiskus, hanya dapat dilawan dengan meningkatkan imunitas lewat tindakan keadilan, kasih, dan solidaritas.

Berindak adil dalam perspektif injili dan iman Katolik berarti mendahulukan dan memberikan perhatian yang lebih kepada anggota Gereja dan masyarakat yang paling lemah, sehingga kualitas hidup mereka dapat ditingkatkan, dan mereka dilibatkan sebagai anggota Gereja dan masyarakat yang penuh dengan segala hak dan kewajiban mereka.

Mengasihi berarti mengatakan dan melakukan hal-hal yang baik dengan cara yang baik. “Hal-hal yang baik” adalah hal-hal yang dapat membawa kelegaan, harapan, serta merawat dan menumbuhkan relasi yang memberikan kehidupan.

Solidaritas dapat diwujudkan dengan empat cara (Evangelii Gaudium 192). Pertama, memastikan bahwa semua orang di sekitar kita memperoleh makanan yang sehat dan bergizi secara teratur. Kedua, mengupayakan agar setiap orang muda di sekitar kita dapat memperoleh pendidikan yang memadai untuk menyiapkan masa depan hidup mereka yang bermartabat. Ketiga, mengupayakan agar semua orang di sekitar kita dapat memperoleh layanan kesehatan yang baik. Keempat, mengupayakan agar setiap orang di sekitar kita dapat memperoleh pekerjaan dengan upah yang adil (yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan masih ada sisa untuk disumbangkan bagi pembangunan masyarakatnya).

Berhadapan dengan bumi yang semakin rusak, kita juga dipanggil untuk merawatnya dengan memilih pola hidup yang tidak mempraktikkan kebiasaan membuang (barang, sampah, maupun orang-orang kecil dan orang-orang lanjut usia, yang kita anggap tidak produktif secara ekonomis) dengan sembarangan.

Dengan cara-cara seperti ini kita belajar menemukan kehadiran Allah di tempat-tempat yang serba biasa dan juga mewartakan-Nya dalam situasi kehidupan yang serba biasa pula. Dengan cara seperti itulah Natal kita rayakan secara bermakna. Selamat Natal.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

20 December 2020

Menjalani Hidup sebagai Adven


Para Ibu, Bapak, serta Saudari dan Saudaraku semua yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua berserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu Adven keempat untuk beristirahat sekaligus merasakan kembali semua nugerah Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu.

Bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Misa hari ini (Luk. 1:26-38) berkisah mengenai pemberitaan tentang kelahiran Yesus. Kita sudah hafal isi cerita dalam Injil ini, bahkan sudah tahu mengenai “ending”-nya tanpa menyimak dengan seksama suasana awal, dan tengah dari cerita ini. Karenanya, pada kesempatan ini marilah kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan oleh Lukas dalam ayat 27. Dalam ayat ini, Lukas memperkenalkan profil Maria sebagai “seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf dari keluarga Daud.” Dengan kata lain, Malaikat Gabriel (artinya Allah yang Perkasa) memang diutus oleh Allah untuk mendatangi orang yang memungkinkan Yesus lahir dalam keturunan Daud. Berkat kedua orang ini (Maria dan Yusuf) Yesus menjadi keturunan Daud dan dengan demikian berhak mendapatkan janji Tuhan bagi nenek moyang seluruh bangsa Israel (bdk. ay. 32b-33).

Malaikat Gabriel menyampaikan “salam” kepada Maria (ay. 28) . “Salam” dari Malaikat Gabriel ternyata merupakan sebuah anugerah yang ditawarkan oleh Alah kepada Maria, yakni “yang menjadi kesayangan-Nya sendiri.” Wujudnya adalah seorang anak laki-laki, yang Namanya sudah ditentukan oleh Allah sendiri, yakni Yesus (artinya: Tuhan itu jaya), sebagai pertanda bahwa anak ini akan menjadi penyelamat. Karena berada “di hadapan Allah” (ay. 30) maka sang anugerah (Yesus) itu akan akan menjadi besar dan dikenal sebagai Anak Allah yang Mahatinggi (ay. 32a), artinya, orang yang amat dekat dengan Allah.

Mendengar “salam” yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel (ay. 28) Maria “terkejut” (ay. 29a). Namun, ia tidak membiarkan rasa terkejut itu menjadi rasa takut yang melumpuhkan hidupnya. Sebaliknya, Maria mengolahnya menjadi pemikiran proaktif untuk mencari makna dari kata-kata sang malaikat (= “bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu”, ay. 29b). Ketakutan muncul ketika Maria masih berpikir dalam ukuran-ukurannya sendiri (“Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami”, ay. 34), dan belum berpikir dengan menggunakan ukuran-ukuran yang dipakai oleh Allah yang mengutus Malaikat Gabriel (ay. 35-36). Kekuatan Maria terletak pada keberaniannya untuk bertanya (ay. 34) dan mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Allah terhadap pertanyaannya (ay. 35-37), kemudian menerima penjelasan itu (ay. 38). Kehidupan Maria memang merupakan pergulatan untuk terus-menerus menemukan arti dari salam itu, meskipun tidak selalu mudah dan bahkan mengalami banyak penderitaan.

Jawaban Maria “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (ay. 38) adalah sebuah komitmen terhadap Allah dan ikut mengusahakan agar yang direncanakan dan dikerjakan oleh Allah dapat berhasil. Komitmen ini diwujudkan dengan menerima kehadiran Roh Kudus dan kuasa Allah dalam dirinya; dan kehadiran itu mengambil wujud sebagai anak laki-laki, Anak Allah (lihat ay. 35).  Sejak saat itu, Maria hidup untuk menyongsong kehadiran Dia (Allah) yang akan datang dalam wujud manusia. Maria adalah “adven” yang hidup.                                  

Yang terjadi di Nazaret lebih dari dua ribu tahun yang lalu bukanlah perkara biasa. Sejak saat itu kemanusiaan mengambil arah baru sampai saat ini. Demikian juga, Allah masuk ke dalam kehidupan manusia dan belajar merasakan apa yang dialami oleh manusia dan menjadi pergulatan hidupnya: bekerja keras, menderita, bergembira, bingung, putus asa, tersesat, bergaul dengan orang lain, hidup dalam masa lampau, masa kini, dan masa mendatang, dll. Dengan kata lain, Allah dapat menyelami bagaimana hidup sebagai manusia yang semula diciptakan-Nya sebagai gambar dan citra-Nya sendiri. Ketika “gambar” itu ternyata belum sepenuhnya cocok dengan yang dikehendaki-Nya, Ia dapat memperbaiki-Nya sendiri.

Kisah yang disampaikan oleh Lukas dalam injilnya pada hari ini dapat kita pakai untuk membaca kembali pengalaman hidup kita masing-masing. Pengalaman-pengalaman hidup kita yang merupakan tempat kehadiran Allah, dapat mengejutkan dan bahkan menakutkan. Namun tidak perlu melumpuhkan, asalkan kita mau belajar dari Maria yakni mencari tahu dan menyelami artinya. Dengan demikian, pengalaman-pengalaman itu justru dapat mengantar kita semakin dekat dengan Allah sendiri, yang selalu menawarkan anugerah kehidupan-Nya. Semoga empat hari yang masih tersisa dalam masa Adven ini, sungguh kita gunakan untuk membuka diri guna menyambut kehadiran-Nya yang akan memberikan kehidupan baru kepada kita.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

13 December 2020

Menjadi Saksi Terang

Para Ibu, Bapak, dan Saudari serta Saudara sekalian yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, teman dan sahabat, dalam keadaan baik. Selamat menikmati Hari Minggu Adven ketiga Tahun B dalam Kalender Liturgi, untuk beristirahat dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan yang lalu.

Bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Misa hari ini (Yoh. 1:6-8. 19-28) seluruhnya berbicara mengenai Yohanes Pembaptis sebagai saksi akan orang yang akan datang sesudah dirinya (ay. 27), Mesias yang diharapkan oleh begitu banyak orang yang datang kepadanya.  

Di kalangan orang-orang Yahudi ketika Yohanes hidup, muncul keyakinan bahwa nabi Elia akan datang kembali. Kedatangannya kembali diyakini sebagai tanda bahwa akhir zaman yang diawali oleh Mesias akan segera tiba. Keyakinan seperti ini juga tumbuh di kalangan umat Kristiani yang dilukiskan dalam Injil sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas), yang menyamakan Yohanes Pembaptis sebagai Elia. Namun umat Kristiani dalam Injil Yohanes berpadangan lain. Hal ini nampak dalam penyangkalan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis terhadap pandangan banyak orang bahwa dirinya adalah Elia (ay. 21a).

Pergeseran pandangan mengenai Yohanes Pembaptis ini juga mencerminkan dinamika perkembangan pemahaman mengenai “akhir zaman.” Pada awal kehidupan umat Kristiani, dipercayai bahwa akhir zaman akan segera datang. Perkembangan selanjutnya, tidak lagi menghitung-hitung kapan akhir zaman itu akan tiba; yang penting adalah menghidupi masa kini. Dalam Injil Yohanes, era baru dengan kehadiran terang ilahi di dunia ini adalah akhir zaman itu sendiri. Terang ilahi (Mesias) itu sudah datang dan sedang mengusir kegelapan (ay. 5). Kita tidak lagi perlu memikirkan kapan, di mana, dan bagaimana hal itu terjadi. Yang penting bagi kita adalah menerimanya.

Dengan latar belakang pandangan di atas perlulah bagi kita untuk memperhatikan pernyataan bahwa “terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:5). Yohanes diutus untuk memberikan kesaksian bagi terang tersebut agar orang-orang yang datang kepadanya mulai percaya kepada “terang” itu sendiri. Kesaksian Yohanes kita termukan dalam ay. 19-28. Ada tiga cara yang digunakan oleh Yohanes untuk memberikan kesaksian mengenai “terang” itu.

Pertama, dengan serangkaian penyangkalan terhadap dirinya. Yohanes menyatakan bahwa (1) ia bukan Mesias (ay. 20), yaitu orang yang secara resmi diutus oleh Tuhan kepada Umat-Nya untuk menuntun mereka kembali kepada-Nya. Ia juga mengatakan bahwa (2) ia bukan Elia (ay. 21a); artinya ia bukan pertanda bahwa akhir zaman sudah di ambang pintu. Akhirnya, ia juga mengatakan bahwa dirinya (3) bukan nabi (ay. 21b) yang bertugas menyadarkan orang banyak bahwa akhir zaman akan segera terjadi. Dengan penyangkalannya ini Yohanes mengundang semua orang yang datang kepadanya untuk bersikap kritis terhadap harapan-harapan saleh mereka tentang Mesias, yang seringkali menjauhkan mereka dari realitas kehidupan tempat Mesias itu hadir dan berkarya.

Kedua, Yohanes bersaksi bahwa dia adalah “suara orang yang berseru-seru di padang gurun” (ay. 23). “Padang gurun” dulu merupakan tempat Tuhan membimbing umat-Nya. Namun relasi umat dengan Tuhan, ketika Yohanes muncul, sudah sangat renggang sehingga kata itu tidak banyak artinya lagi. Akan tetapi justru dalam keadaan seperti itu, terdengar suara Yohanes yang meminta kekuatan-kekuatan surgawi untuk bertindak menyiapkan kedatangan Tuhan (ay. 23). Yang diharapkan dari manusia adalah membiarkan diri dibimbing oleh kuasa Allah guna menyambut kedatangan-Nya; dan bukan membuai diri dengan harapan-harapan saleh akan kedatangan seorang Mesias menurut gambaran mereka sendiri.

Ketiga, Yohanes juga mengatakan bahwa yang mereka harapkan itu sebenarnya sudah datang, namun kehadiran-Nya tidak mereka kenali (ay. 26b). Mereka diundang untuk mengenali-Nya.

Lilin corona Adven yang dinyalakan pada hari ini berwarna merah jambu (rose, pink). Mulai hari ini kita diajak untuk bersukacita karena Sang Penyelamat sudah berada di tengah-tengah kita untuk menciptakan hal-hal yang baik dalam kehidupan kita secara pribadi maupun bersama-sama (bacaan pertama, Yes. 61:1-2. 10-11). Sekaligus kita juga diajak untuk bersaksi akan iman kita melalui segala upaya untuk memilihi hidup bahagia, terus-menerus membangun relasi yang mendalam dengan Allah, bersyukur atas semua anugerah-Nya, dan melakukan hal-hal yang baik yang mampu merawat dan mengembangkan hidup kita sendiri, hidup orang-orang yang berelasi dengan kita, dan hidup bersama dalam masyarakat (bacaan kedua, 1Tes. 5:16-22, khususnya ay. 16-18 dan 21).  Semoga Roh Allah memampukan kita untuk memilih tindakan-tindakan konkret untuk mewujudkannya sesuai dengan situasi hidup kita masing-masing.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

6 December 2020

Menyiapkan Kedatangan Mesias

Para Ibu, Bapak, Saudari dan Saudaraku semua yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat serta merasakan kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu, agar kita memperoleh kesegaran untuk melanjutkan peziarahan hidup kita selama sepekan mendatang.

Hari ini kita merayakan hari Minggu kedua Masa Adven kalender liturgi tahun B. Injil yang kita dengarkan dalam Misa hari ini diambil dari Injil Markus 1:1-8, yang begitu kaya dengan makna.

Dalam ayat 1 ada tiga istilah yang perlu dijelaskan untuk menangkap kekayaan pesan Injil hari ini.  Pertama, kata “Injil” memiliki makna ganda. Makna biasa dari kata “Injil” adalah berita yang melegakan atau berita yang menggembirakan. Dengan memberikan arti ini, Markus ingin mengatakan bagaimana Yesus membuat pikiran dan hati orang serasa terlepas dari bergai macam beban kehidupan yang berat. Hal itu dilakukan oleh Yesus dengan menyembuhkan orang sakit, mengusir kekuatan kejahatan, memperkenalkan siapa Allah itu (sebagai Allah yang peduli terhadap pergulatan hidup manusia dan sangat dekat dengan orang-orang miskin dan berdoa), dan memilih para murid sehingga begitu banyak orang mengikuti-Nya.  Kata “Injil” juga dimengerti sebagai kabar baik tentang Yesus. Bagi para pengikut Yesus waktu itu, Yesus yang tadinya disalibkan, wafat, dan dimakamkan, kini sudah bangkit dari kematian-Nya dan akan datang lagi dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman. Kabar baik inilah yang membuat mereka dapat menghidupi kepercayaan mereka dan mewartakannya kepada orang lain yang ingin bergabung dengan mereka. Kedua, Yesus ditampilkan dengan gelar Kristus, artinya Yang Diurapi, Mesias. Dengan gelar ini Yesus ditampilkan sebagai tokoh yang resmi diangkat oleh Allah sendiri untuk mengerjakan urusan-Nya di dunia ini. Ketiga, Yesus juga ditampilkan dengan gelar “Anak Allah,” artinya orang yang sangat dekat dengan Allah sendiri sehingga mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah dan patuh melaksanakannya.  Dengan kata lain, yang ingin disampaikan dalam kalimat pertama Injil hari ini adalah Berita Baik mengenai Yesus (Injil dalam dua makna), sebagai orang yang sangat dekat dengan Allah (Anak Allah), yang secara resmi ditunjukkan oleh Allah untuk membawa seluruh umat manusia kembali kepada-Nya (Kristus).

Bagaimana Yesus dari Nasaret, anak Yusuf dan Maria, bisa sehebat itu? Markus menjelaskannya dengan menampilkan seorang tokoh yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat pada zamannya, yakni Yohanes Pembabtis (ay. 2-8). Pertama-tama Yohanes dikenal sebagai seorang suci sehingga begitu banyak orang datang kepadanya untuk minta nasihat dan minta dibaptis sebagai ungkapan pertobatan dan siap menerima pengampunan dosa (ay. 4-5). Kedua, ia juga tampil sebagai seorang nabi (ay. 6). Ketiga, ia diutus oleh Allah sendiri untuk “mendahului” dan “mempersiapkan jalan” bagi Yesus (ay 2b, yang merupakan perpaduan Kel. 23:20 dan Mal. 3:1). Keempat, sebagai utusan Allah Yohanes berseru-seru di padang gurun agar semua yang mendengar suaranya menyiapkan jalan bagi Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya (ay. 3, dengan mengutip Yes. 40:3). Tokoh yang sangat terkenal ini ternyata malah memberitakan kedatangan orang yang lebih berkuasa daripada dirinya (ay. 7).

Ungkapan “membungkuk dan melepas tali sepatu” (ay. 7b) tidak hanya menunjukkan rasa hormat kepada orang yang sepatunya dilepaskan, tetapi juga memiliki arti yuridis seperti dilukiskan dalam kitab Rut (4:1-17), khususnya ay. 7. Dalam tradisi Yahudi saat itu, tanah milik seseorang hanya boleh dibeli oleh kerabat terdekatnya. Namun dalam kisah ini dikatakan bahwa kerabat terdekat Naomi dan menantunya, Rut, ternyata melepaskan hak tersebut sehingga tanah itu dapat dibeli oleh orang lain, yakni Boas. Orang itu melepaskan haknya dengan “menanggalkan kasutnya” (ay. 8).

Dengan latar belakang di atas, dengan perkataannya tadi (ay. 7b) Yohanes Pembabtis mengakui bahwa ia tidak layak melakukan tindakan sehingga Yesus melepaskan hak-Nya untuk memberikan baptisan dalam Roh Kudus dan mendekatkan kembali seluruh umat manusia kepada Allah.  Yang dapat dilakukan oleh Yohanes Pembatis hanyalah membaptis dengan air (ay. 8a), yakni menyadarkan banyak orang akan kedatangan Yang Ilahi dan pentingnya mendekatkan diri kepada-Nya.  Namun untuk mendatangkan Allah kepada manusia dan membawa manusia mendekat kepada Allah merupakan tugas Dia yang akan membaptis dengan dengan Roh Kudus (ay. 8b). Dengan ucapannya itu, Yohanes Pembaptis membantu para pendengarnya untuk mengalihkan perhatian mereka pada dirinya kepada Dia yang ia wartakan, yakni Yesus, Mesias, Anak Allah.

Ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Kutipan dari Yes. 40:3 dalam Mrk. 1:3 akan menjadi semakin jelas artinya bila disimak dalam konteksnya dalam tulisan Yesaya sendiri (Yes. 40:1-2) yang kita temukan dalam bacaan pertama: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu…..dst.” Dengan seruan itu, ingin dikatakan kepada umat Israel (yang berada dalam pembuangan di Babilonia) untuk tidak berkecil hati, untuk meninggalkan semua pengalaman terburuk mereka di masa lampau, dan melihat ke masa depan dengan meninggalkan perbudakan di Babilonia serta kembali ke negeri sendiri, melewati padang gurun dengan tuntunan Allah sendiri, seperti dahulu dialami oleh nenek moyang mereka ketika mereka meninggalkan perbudakan di tanah Mesir, melewati padang gurun, dan memasuki tanah terjanji dengan bimbingan Allah sendiri.

Seruan Yesaya yang diperdengarkan kembali oleh Yohanes Pembaptis kepada umat Israel, juga disampaikan kepada kita sekarang. Kita diundang untuk melepaskan segala beban kehidupan yang menimpa hidup kita di masa lalu dan yang selama ini kita pikul dan gendhong, dan ditemani oleh Yesus mendekatkan diri kepada Allah yang akan meringankan dan memperbarui hidup kita. Semoga undangan ini mendapatkan gemanya dalam hati kita dan kita tanggapi dengan ketulusan hati.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

29 November 2020

Menjadi Teman dalam "Empat Waktu" Kehidupan

Para Ibu, Bapak, dan Saudari serta Saudaraku yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga dan teman serta sahabat berada dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia. Hari ini kita memasuki Tahun Kalender Liturgi Baru, Tahun B, dengan merayakan Hari Minggu Adven I.

Masa Adven merupakan kesempatan bagi kita untuk memahami arti perayaan kelahiran Yesus Sang Penyelamat pada hari Natal, yang kita rayakan setiap tahun.  Bacaan-bacaan dari Kitab Suci selama Masa Adven memberikan kesaksian bahwa Ia yang lahir dalam kesederhaan sama dengan Dia yang akan datang dalam kemuliaan pada akhir zaman untuk mengadili semua bangsa.

Bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Misa Hari Minggu Adven I Tahun B hari ini (Mrk. 13:33-37) mengajarkan kepada kita untuk memiliki kewaspadaan agar kita tidak kehilangan arah menuju masa depan (= akhir zaman) itu. Dalam Injil ini sebenarnya termuat dua buah perumpamaan tentang kewaspadaan, yang disampaikan oleh Yesus. Yang pertama terdapat dalam ay. 34, yang memberikan perhatian pada kesetiaan. Yang kedua terdapat dalam ay. 35, yang menonjolkan kewaspadaan.

Untuk memahami pesan Injil hari ini, kita perlu memperhatikan dua catatan berikut. Pertama, para pembaca Injil Markus zaman dahulu memahami bahwa tuan rumah yang pulang pada malam hari (ay. 35) tidak sama dengan orang yang pergi jauh dan mempercayakan harta miliknya kepada para hambanya (ay. 34). Tuan rumah yang disebut dalam ay. 35 hanya pergi ke sebuah perjamuan nikah, yang biasanya memang diadakan pada malam hari, seperti diceritakan dalam Luk. 12:36. Ia akan pulang malam itu juga, meskipun tidak diketahui jam berapa persisnya. Sebaliknya, orang yang bepergian jauh seperti dikisahkan dalam ay. 34, tidak biasa kembali dengan tiba-tiba pada malam hari.

Kedua, perumpamaan yang terkandung dalam Injil hari ini dikembangkan oleh Matius dan Lukas. Perumpaan pertama (ay. 34) dikembangkan oleh Matius dalam perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30) dan oleh Lukas dalam perumpamaan tentang mina (Luk. 19:11-27). Perumpamaan yang kedua (ay. 25) diolah oleh Lukas 12:36-38. Lukas menempatkannya dalam rangkaian pengajaran khusus yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Sementara itu, yang dilakukan oleh Matius 24:43b hanya merupakan saduran ringkas dari perumpaan kedua tadi (ay. 25) dengan mengalihkan peran para hamba yang mesti berjaga-jaga kepada sikap seorang tuan rumah yang menjaga rumahnya terhadap pencuri yang tidak diketahui kapan datangnya.

Perumpamaan pertama (Mrk. 13:34) seperti dikembangkan oleh Matius (Mat. 25:14-30) menekankan bahwa tanggungjawab yang dimiliki oleh para hamba sebanding dengan kepercayaan (tugas) yang diberikan oleh tuan mereka. Tanggungjawab mereka diwujudkan dalam kesetiaan untuk mengelola harta yang dipercayakan kepada mereka. Kesetiaan diwujudkan bukan dengan niat atau perasaan belaka, melainkan dengan usaha dan perbuatan nyata. Mereka yang setia, adalah para hamba yang berhasil mengembangkan harta kekayaan yang dipercayakan kepada mereka “dua kali lihat”; artinya, sebanding dengan kepercayan yang mereka terima dari tuan mereka. Akibatnya, mereka tidak lagi diperlakukan sebagai  budak, melainkan sebagai orang merdeka yang boleh tinggal dalam keluarga tuannya dan ikut menikmati kekayaan keluarga. Tenggang waktu menunggu pulangnya sang majikan merupakan peluang untuk membangun masa depan. Masa depan dibangun dengan keberanian mengambil risiko untuk mengembangkan semua hal yang telah dipercayakan (oleh Tuhan) kepada kita; sekaligus, membantu orang-orang lain yang tidak memiliki kepercayaan diri, agar mereka pun dimampukan untuk melakukan hal yang sama.

Perumpamaan kedua (Mrk. 13:35) dikembangkan oleh Lukas (12:36-38). Dalam tafsiran Lukas, nasihat untuk berjaga-jaga dalam Mrk. 13:35 ditampilkan sebagai “warta gembira.” Dalam Luk. 12:37 dikatakan bahwa para hamba yang didapati berjaga ketika tuannya pulang, mereka disebut “bahagia.” Mengapa? Karena tuan itu akan mempersilakan para hamba itu duduk, dan ia sendiri akan melayani mereka: membagi oleh-oleh dan “berkah” yang ia bawa dari pesta perkawinan tadi. Tuan ini tidak hanya memberi perhatian kepada para hambanya (dengan membawakan oleh-oleh), melainkan juga melayani mereka. Mana ada majikan yang melayani! Dengan cara bertutur seperti itu, Lukas ingin mengatakan bahwa para hamba itu sekarang dijadikan anggota keluarga sendiri. Inilah “warta gembira!” “Warta gembira” ini tidak hanya ditujukan kepada para murid Yesus kala itu, melainkan juga dialamatkan kepada kita semua sekarang, bahkan kepada semua orang (Mrk. 13:37).

Sangat menarik untuk kita amati bahwa Markus menyebutkan empat “waktu ronda”: menjelang malam, tengah malam, larut malam, dan pagi-pagi buta (ay. 35b). Hal ini ada kaitan yang sangat erat dengan saat-saat terakhir kehidupan Yesus yang oleh Markus dikenang dengan “empat waktu”: (1) setelah hari malam Ia mengadakan perjamuan terakhir (Mrk. 14:17); (2) menjelang tengah malam Ia ditangkap di taman Getsemani dan langsung disidangkan di Mahkamah Agama (Mrk. 14:53); (3) sebelum ayam berkokok kedua kalinya, Petrus sebagai orang kepercayaan Yesus justru menyangkal-Nya sampai tiga kali (Mrk. 14:72); dan (4) pagi-pagi benar Yesus dibawa ke hadapan Pilatus untuk diadili dan akhirnya dihukum mati di kayu salib (Mrk. 15:1).

Dalam konteks “empat waktu” ini, “berjaga-jaga dengan waspada” berarti “menemani” Yesus pada saat-saat hidup-Nya yang paling sulit: ketika ia berpisah dengan para murid-Nya (orang-orang yang paling dekat dengan diri-Nya), ditolak oleh para tua-tua (pemimpin agama dan masyarakat), disangkal dan dikhianati oleh orang yang paling dekat, dan dihukum mati kendati Ia tidak melakukan sebuah kesalahan pun.

Injil Matius, dalam kisah tentang pengadilan pada akhir zaman ketika Yesus datang dalam kemuliaan-Nya untuk mengadili semua  bangsa (Mat. 25:31-46), mengidentikkan Yesus dengan saudara-Nya yang paling hina (ay. 35-36; 40). Karenanya, kita perlu bertanya: siapakah orang yang berada di sekitar kita, yang sekarang ini sedang mengalami “empat waktu” dalam hidup mereka dan perlu kita “temani”? Tindakan konkret apa yang perlu kita lakukan untuk “menemani” mereka?

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.


 


 


Lihat selengkapnya