Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

21 September 2020

Kemurahan hati Allah

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga  Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat, dlm keadaan baik. Selamat menikmati hari  Minggu sambil mencecap kembali kebaikan Allah yang dikaruniakan kepada kita selama sepekan yang lalu. Sekaligus kita tetap perlu  mentaati protokol covid-19 dengan cermat, karena virus ini semakin agresif menyerang siapa saja yang terlena.

Perumpamaan dalam Injil yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi pada hari Minggu Biasa ke-25 Tahun A hari ini (Mat. 20:1-16) sering menjadi  sandungan bagi rasa keadilan, baik pada zaman dahulu maupun sekarang. Agar  kita dapat menangkap pesan Yesus bagi kehidupan kita,  beberapa catatan berikut perlu diperhatikan.

Pertama, perumpamaan ini dipakai oleh Yesus utk menjelaskan tentang Kerajaan Surga  dan cara hidup  di dalamnya. Istilah Kerajaan Surga dipakai oleh Matius untuk menyatakan bahwa kehidupan kita di bumi ini dapat menjadi ruang yang luas bagi kehadiran Allah. Markus dan Lukas menggunakan istilah Kerajaan Allah utk menggarisbawahi siapa yang hadir dalam kehidupan kita,  yakni Allah sendiri. Dengan kata lain, Injil hari ini ingin menyoroti diri kita, kehidupan kita, sebagai ruang kehadiran Allah.

Kedua, pamahaman Kerajaan Surga  sabagai "ruang" dapat dimengerti dengan baik bila kita menengok kisah penciptaan pada hari kedua (Kej. 1:6-8). Dalam kisah tersebut, dikatakan bahwa Allah menciptakan "langit." Tugas langit adalah memisahkan air yang di atas dan air yang di bawah, sehingga tercipta ruang bagi ciptaan berikutnya  yakni daratan, laut, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Kata "langit" memiliki padanan dengan kata  dalam bahasa Ibrani (syamaim) dan  Yunani (ouranos), yang berarti "surga." Berkat "surga" yang diciptakan oleh Allah, bumi beserta isinya,  khususnya manusia, terlindung dari kekuatan-keliatan kegelapan dan kejahatan, yang dilambangkan dengan air yang mengelilingi ciptaan.

Ketiga, Yesus datang ke dunia utk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Ia juga menyerukan agar orang bertobat. Bertobat bukan hanya kapok dan berhenti melakukan perbuatan jahat, tetapi juga mengembangkan wawasan yang luas, tidak mengurung diri dalam pandangan sendiri yang sempit. Bertobat berarti membuka diri bagi kehadiran Allah dan kebutuhan serta kondisi hidup orang lain.

Keempat, dalam masyakat ketika Yesus hidup terdapat pandangan dan keyakinan bahwa semua tindakan yang dilakukan manusia di bumi ini cepat atau lambat akan mendapatkan balasan yang sepadan baik di bumi ataupun di akhirat nanti. Balasan tersebut akan menggunakan ukuran-ukuran yang dipakai di bumi ini. (Apakah pandangan seperti ini masih hidup dalam masyarakat kita,  bahkan dlm hati kita?). Bila anggapan di atas benar, bagaimana nasib orang yang tidak dapat berbuat banyak? Apakah di surga nanti akan ada ruangan yang berbeda-beda yang diperuntukkan bagi manusia sesuai dengan jumlah perbuat an baik yang mereka lakukan di dunia?
Dengan perumpamaan dlm Injil hari ini, Yesus mengundang kita semua dan semua orang lain yang membaca perumpamaan ini utk menyadari bahwa Kerajaan Surga itu dibangun dan berkembang melalui kemurahan hati Allah, dan bukan berdasarkan prinsip ganjaran atau pahala bagi perbuatan yang dilakukan di bumi.

Kelima, orang-orang yang bekerja hanya satu jam itu mendapatkan upah karena mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, selama "waktu yang penuh", tidak separo-separo. Bagi orang yang mulai bekerja pagi, "waktu yang penuh" adalah 1 hari; sementara orang yang mulai bekerja pada pukul 5 sore, "waktu yang penuh" hanya 1 jam,   tidak bisa lebih.
Bila dilihat  dengan cara ini, keadilan tidak boleh hanya kita pahami dari sudut pandang kita sendiri. Keadilan juga perlu mempertimbangkan kondisi orang lain (mereka yang datang pada pukul 5 sore).

Perumpamaan ini ingin mengatakan bahwa Kerajaan Surga ditawarkan oleh Allah kepada semua orang dalam kondisi kehidupan yang berbeda-beda. Semua orang diberi kesempatan yang sama baiknya.  
Ada yang langsung menemukan tawaran itu. Ada pula yang harus menunggu sangat lama dan baru melihat tawaran itu. Bahkan ada yang baru menemukan tawaran itu pada "detik-detik terakhir." Mereka ini tidak ditinggalkan. Inilah keadilan yang diberlakukan dalam Kerajaan Surga.
Bila dipahami dengan cara ini, kita akan lebih mudah memahami  "sikap murah hati" pemilik kebun anggur tadi. Kita juga tidak perlu merasa iri dan merasa berhak utk menuntut lebih. Bahkan kita malah perlu bertanya:   bagaimana kalau justru kita sendiri yang datang paling akhir?

Tugas kita adalah membantu orang-orang agar mereka tidak harus menunggu terlalu lama utk menemukan kemurahan hati Allah dalam situasi hidup mereka yang konkret. Siapa mereka itu? Apa yang perlu kita lakukan?

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

13 September 2020

Mengampuni dengan tulus

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang dan selamat menikmati hari Minggu utk beristirahat sambil merasakan kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita alami selama sepekan yang lalu. Semoga Anda sekeluarga berserta teman dan sahabat dalam  keadaan baik, dan tetap memilih sehat dan bahagia di tengah-tengah pandemi  covid-19 yang belum kunjung reda.

Injil yang kita dengarkan dalam Misa Minggu Biasa ke-24 Tahun A (Mat. 18:21-35) berbicara tentang sikap mengampuni secara ikhlas sebagai sikap hidup para murid dan para pengikut Kristus. Untuk memahaminya  perlu kita lihat latar belakangnya.

Dalam masyarakat Yahudi ketika Yesus hidup, sikap balas dendam masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaan Petrus (ay. 21) mencerminkan  upaya utk membatasi kebiasaan balas dendam tadi. Orang diberi kelonggaran utk berbuat kesalahan sampai "tujuh kali" (sampai penuh), setelah bersalah tujuh kali dianggap kelewat batas dan tidak perlu diampuni.
Namun Yesus mengatakan bahwa itu semua tidak cukup. Kita harus bersedia mengampuni  "tujuh puluh kali tujuh kali," (ay. 22).  artinya, tanpa batas, selalu mengampuni. Yesus ingin mengatakan bahwa sikap mengampuni harus menjadi sikap hidup.

Namun pusat perhatian Injil bukan hanya sikap mengampuni dengan tulus, melainkan terutama menekankan bahwa  pelaksanaan sikap  mengampuni dan sikap belas kasih memungkinkan Kerajaan Allah dapat menjadi pengalaman nyata di muka bumi ini. Untuk menjelaskan hal ini Yesus memberikan sebuah perumpamaan (ay. 23-35).

Bagian pertama dari perumpamaan (ay. 23-27) memperlihatkan  "kebesaran" seorang raja dengan menunjukkan pengampunan dan belas kasih kepada hambanya yang berhutang 10.000 talenta.    1 talenta = 10.000 dinar; 1 dinar adalah upah satu hari dari seorang buruh harian. Jadi 10.000 talenta adalah upah selama 100.000.000 hari kerja. Sangat besar!
Sikap raja pengampun ini ingin mengajarkan bahwa semakin seseorang memiliki kedudukan semakin tinggi dan semakin beruntung, ia diharapkan semakin dapat memahami keadaan orang lain yang sedang bernasib malang, dan rela  mengulurkan tangan untuk meringankan beban hidup mereka. Di kalangan komunitas para murid Yesus perlu terdapat kesadaran bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang, dan sekaya apa pun orang itu, ia tetap perlu menjadi sesama bagi orang lain. Sebaliknya, semalang apa pun dan seterpuruk apa pun keadaan seseorang, ia tetap dapat mengharapkan  bantuan dari saudaranya yang lebih beruntung. Semangat dan sikap seperti inilah yang akan membuat  Kerajaan Allah menjadi kenyataan di dunia kita sekarang ini juga. Secara singkat, bagian pertama perumpamaan menunjukkan bahwa Kerajaan Surga dapat dibangun atas dasar kesediaan mereka yang berkelebihan utk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung.

Bagian kedua (ay. 28-30) memunculkan gambaran yang kontras. Hamba yang sudah dibebaskan hutangnya tadi tidak mau menghapuskan hutang rekan sekerjanya, yang hanya sebesar 100 dinar (ay. 28); hanya seperseratus ribu dari hutangnya sendiri. Ia yang telah mengalami pengampunan dan belas kasih dari tuannya, ternyata tidak mau menunjukkan sikap yang sama terhadap rekan sekerjanya. Bahkan ia malah berlaku kejam (ay. 30). Kesalahan dari hamba ini adalah ia menolak menjadi saudara bagi rekan sekerjanya. Dan lebih dari itu, ia juga menolak menjadi saudara bagi tuannya sendiri.

Ay. 31 menunjukkan peran dari rekan-rekan sekerja lain sebagai suara hati yang masih peka terhadap rasa keadilan, peka terhadap kewajiban moral. Kepekaan tersebut melahirkan keberanian untuk bersuara mengungkapkan ketidakberesan.

Sekedar catatan. Mengampuni tidak hanya bersedia menerima kesalahan orang lain dan "melupakannya." Lebih dari itu, mengampuni juga mengandung kesediaan utk memberikan peluang baru kpd orang yang bersalah dan bersedia membantunya agar ia dapat memperbaiki hidupnya.

Secara singkat, pengampunan dan belas kasih Allah baru menjadi efektif bila kita juga bersedia membangun sikap mengampuni dan berbelas kasih sebagai sikap hidup kita sehari-hari. Dalam pelaksanaan kedua sikap itu Kerajaan Allah menjadi semakin hadir di tengah masyarakat kita mulai sekarang ini juga.

Dalam masa pademi covid-19 ini, siapa yang perlu mendapatkan pengampunan dan belas kasih kita? Tindakan konkret apa yang akan kita lakukan utk mewujudkan kedua sikap itu?

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

6 September 2020

Membangun Jemaat yang Dewasa

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda juga dapat menikmati hari ini untuk beristirahat dan mensyukuri kebaikan Allah yang Ia limpahkan kepada kita selama pekan yang lalu. Mohon maaf saya baru dapat menemui Anda semua di penghujung hari ini, karena dari pagi sampai sore saya bertemu beberapa pemuka umat di sebuah Stasi untuk membicarakan masa depan sebuah  lembaga pendidikan Katolik yang memberikan pendidikan dini.

Hari ini kita merayakan Hari Kitab Suci Nasional dan Hari Minggu biasa XXIII Tahun A.

Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini (Mat. 18:15-20)  merupakan bagian dari kumpulan nasihat Yesus utk membangun jemaat (Mat. 18:1-35) sehingga menjadi semakin dewasa karena para anggotanya saling menopang dan saling memperhatikan.

Pertama-tama ditonjolkan pentingnya sikap tidak mementingkan diri sendiri seperti yang dimiliki oleh seorang anak kecil (ay. 1-5). Kedua, para anggota yang tidak peduli terhadap sikap ini akan mendapatkan hukuman besar (ay. 6-11). Ketiga, para anggota yang kehilangan arah seperti domba yang hilang hendaknya ditolong agar dapat bersatu kembali dengan umat (ay. 12-14). Keempat, bila ada yang bersalah perlu ditegur dengan penuh perhatian (ay. 15-20). Kelima,   perlu dipupuk sikap mau mengampuni yang ikhlas (ay. 21-35).

Kelima sikap di atas lahir dari sikap peduli terhadap saudara dalam satu kumpulan umat pengikut Yesus. Salah satu wujud dari kepedulian ini adalah kesediaan utk menyadarkan saudara seumat yang melakukan kesalahan. Cara menegur saudara yang melakukan kesalahan menunjukkan adanya sikap keterbukaan terhadap satu sama lain.

Cara menegur saudara seumat ada tiga langkah. Langkah pertama, mengajak bicara di bawah empat mata (ay. 15). Bila urusan selesai di situ,  sudah cukup  dan rasa saling percaya sudah terbangun.
Tetapi bila saudara yang bersalah tidak menggubris, perlu ditempuh  langkah kedua, yakni mendatangkan saksi (ay. 16). Dengan cara ini, orang yang bersalah tadi diharapkan dapat menyadari bahwa kesalahannya tidak dapat dibenarkan bukan hanya berdasarkan pendapat satu orang saja.
Bila ia tetap tidak bersedia mendengarkanperlu ditempuh langkah ketiga, yakni  persoalannya  dibawa kepada jemaat, yang dapat memutuskan apakah cara hidupnya sebenarnya sudah tidak cocok dengan cara hidup jemaat. Bila ia tidak mendengarkan jemaat dan tidak mau memperbaiki diri, ia perlu diperlakukan sebagai "orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai"; artinya, tidak lagi menjadi anggota jemaat.

Dengan menempuh tiga langkah ini orang yang bersalah tetap diperlakukan sebagai orang dewasa, sekaligus ia perlu berani bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Dengan cara ini, sikap saling percaya dan saling menopang dalam jemaat  dapat dikembangkan.
 
Yang dimaksud dengan kata  "kamu" dalam ay. 18 adalah anggota jemaat yang hidupnya senantiasa mengikuti (teladan) Yesus Kristus. Karenanya, mereka ini dapat memberi tuntunan kepada orang lain.

Petikan Injil ini ditutup dengan pernyataan bahwa bila dua orang atau lebih memohon kepada Bapa, permohonan mereka pasti dikabulkan (ay.  19-20). Untuk memahami hal ini dengan baik, perlu diingat gagasan yang melatarinya; yakni, bila pendapat satu orang mengenai apa yang baik bagi kehidupan umat diterima oleh orang lain sebagai pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan, niscaya pendapat tetsebut akan sejalan dengan kehendak Yesus. Karenanya, permohonan yang didasarkan pada keyakinan ini pasti dikabulkan oleh Bapa. Dengan cara ini ingin digarisbawahi dimensi horizontal (dimensi "umat dengan aku") dari iman kita. Iman Kristiani seutuhnya  memang merupakan anugerah Allah  namun pertumbuhannya sangat bergantung pada kesediaan kita utk mengembangkannya bersama-sama dalam komunitas, dalam jemaat.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

30 August 2020

Mendengarkan Dia

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu dengan beristirahat dan merasakan kembali kebaikan Allah yang boleh kita  alami selama sepekan yang lalu.

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Biasa ke-22 Tahun A. Injil yang kita dengarkan hari ini (Mat. 16:21-27) merupakan kelanjutan dari Injil yang kita dengarkan minggu yang lalu (Mat. 16:13-20).

Dalam Mat. 16:17 dikatakan bahwa yang menyatakan kepada Petrus  bahwa Yesus adalah "Mesias, Anak Allah yang hidup" bukanlah manusia, melainkan Allah Bapa yang ada di surga. Dengan cara ini Matius ingin  mengatakan kepada para pembaca Injilnya bahwa Kemesiasan Yesus tidak berasal dari kesan hebat yang dimiliki oleh orang banyak  terhadap diri-Nya, tetapi dari Allah sendiri yang berkenan kepada-Nya. Perkenan Allah terhadap Yesus ini terungkap dalam peristiwa pembabtisan Yesus (Mat. 3:17; Mrk. 1:11; dan Luk. 3:22), dan ditegaskan kembali dalam penampakan kemuliaan Yesus di gunung Tabor (Mat. 17:5; Mrk. 9:7; dan Luk 9:35). Dalam kedua peristiwa itu juga terdengar suara dari langit (suara Allah) yang mengundang orang utk "mendengarkan  Dia"  (Yesus).

 Dengan "mendengarkan Dia" kita akan tahu siapa yang mengutus Yesus menjadi Mesias; yakni Allah yang oleh Yesus disebut Bapa. Orang yang mau "mendengarkan Dia" dengan sungguh-sunguh juga akan dapat memahami peristiwa yang akan terjadi pada diri Yesus di Yerusalem, yakni ditolak oleh para pemimpin agama, menanggung banyak penderitaan,  dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga (ay. 21). Semuanya ini akan terjadi sebagai akibat dari keteguhan dan kesetiaan-Nya dalam mewujudkan tugas perutusan-Nya,  yakni mewujudkan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Kerajaan Allah mulai terwujud ketika dalam masyakarat orang tidak lagi mengkotak-mengkotakkan diri berdasarkan status sosial, malainkan hidup dengan saling menghargai, saling menumbuhkan, saling mencintai dan solider  sebagai saudara kandung (yang dilahirkan dari rahim Allah).

Kemesiasan Yesus tidak menyangkal penderitaan dan kematian yang keji. Yesus justru menerima dan menghayatinya sebagai jalan menuju kebesaran dan kemuliaan-Nya. Inilah pokok (iman) yang paling dalam dan sekaligus yang paling sulit utk diterima oleh para murid Yesus dan oleh banyak orang. Satu-satunya cara utk dapat  memahami dan menerimanya adalah "mendengarkan Dia." Inilah bentuk nyata dari beriman kepada-Nya.

Tindakan Petrus yang spontan bermaksud mencegah agar Yesus tidak melaksanakan kemesiasan-Nya tadi, melainkan melaksanakan kemesiasan yang ia pikirkan dan dimaui oleh orang banyak, yaitu membebaskan Israel dari penindasan kekaisaran Romawi dengan kekuatan militer.

Tindakan Petrus itu oleh Yesus dirasakan seperti godaan Iblis ketika Ia berada di padang gurun (Mat. 4:10). Karenanya, Ia menghadik Petrus (ay. 23) seperti halnya dulu Ia menghadik Iblis di padang gurun. Teks aslinya bukan "Enyahlah Iblis" melainkan "Pergi ke belakang-Ku, Iblis." Ungkapan "pergi ke belakang-Ku" merupakan perintah agar Petrus "tahu tempat yang sebenarnya"; yakni, di belakang Yesus sebagai pengikut-Nya, dan bukan di depan utk mengarahkan Yesus guna  melaksanakan kemesiasan seperti yang dikehendakinya. Teguran Yesus kpd Petrus tadi juga menyiratkan peringatan agar semua pemimpin umat tidak berusaha merebut kedudukan-Nya sebagai satu-satunya pemimpin umat yang sesungguhnya.

Teguran kepada Petrus diikuti dengan serangkaian tuntutan keras bagi semua orang yang ingin mengikuti Yesus (ay. 24-25). "Menyangkal diri" berarti meninggalkan semua praanggapan atau pemikiran dan keyakinan  kita sendiri mengenai Yesus, dan menerima Yesus seperti yang Ia sendiri katakan tentang diri-Nya. "Penyangkalan diri" seperti ini merupakan bentuk "memikul salibnya" yaitu berbagi salib dengan Yesus dan mengikuti-Nya.

Ayat 26, "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?" merupakan sebuah pernyataan retorik. Dengan pernyataan itu Yesus ingin mengatakan bahwa seluruh dunia tidak sepadan bila dibandingkan dengan kehidupan sejati yang akan diperoleh oleh seseorang yang memilih utk mengikuti Yesus dan berjalan bersama Dia utk mewujudkan kemesiasan-Nya.

Pertanyaan utk kita refleksikan. Di tengah masyarakat di mana banyak orang "menggunakan agama dan Allahnya" utk meraih apa yang mereka inginkan, beranikah kita utk tetap menjadikan Yesus sebagai  model hidup dan nilai-nilai yang kita pilih?

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

23 August 2020

Beriman kepada Yesus sebagai Mesias dan Konsekuensinya

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat,  dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari  Minggu utk beristirahat sekaligus untuk mencecap-cecap kembali kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan ini.

Injil (Mat. 16:13-20) yang kita dengarkan dalam Misa online pada hari Minggu Biasa ke XXI Tahun A ini, menyampaikan dua pokok pewartaan iman.

Pokok pewartaan iman yang pertama adalah Yesus sebagai Mesias. Setelah mendengarkan  pengajaran-Nya, melihat apa yang dikerjakan-Nya, serta menyaksikan kekuasaan-Nya, para murid dituntun oleh Yesus utk memahamai siapa diri-Nya yang sesungguhnya.

Hal ini dilakukan dengan menempuh dua cara. Cara yang pertama dengan menanyakan kpd para murid-Nya bagaimana orang banyak menerapkan pemahaman tentang "Anak Manusia" pada diri-Nya (ay. 13-14).
Cara kedua dengan menanyakan pendapat mereka sendiri tentang diri-Nya (ay. 15). Pertanyaan Yesus ini dijawab oleh Petrus--mewakili para murid--dengan mengatakan bahwa Yesus adalah "Mesias, Anak Allah yang hidup" (ay. 16).  Dengan sebutan ini ingin digarisbawahi bahwa Yesus adalah orang yang dipilih oleh Allah sendiri utk menyatakan kehadiran-Nya di dunia ini agar Ia dapat menemani pergulatan hidup umat-Nya guna mencapai tujuan hidupnya. Sekaligus ingin ditandaskan bahwa sebagai   Mesias, Yesus, bukanlah seorang pemimpin politik atau penguasa yang akan membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang Yahudi zaman itu.

Pokok pewartaan iman yang kedua adalah pengangkatan Simon menjadi  "batu karang" (ay. 18a) dan "pemegang kunci Kerajaan Surga" (ay. 19).

Batu karang adalah tempat berlindung dari  hempasan ombak dan tempat berpegang agar kita tidak hanyut oleh arus air yang ganas. Dengan ungkapan ini, Petrus diberi tugas oleh Yesus utk melindungi umat dari marabahaya yang selalu mengancam. Tanggung jawab yang diberikan kepada Petrus ini diperkuat dengan ungkapan "dan alam maut tidak akan menguasainya" (ay. 18b). Orang yang hidup pada zaman Yesus memahami jalan ke alam maut sebagai sebuah lubang menganga besar yang dapat menyedot siapapun ke dalamnya. Orang yang telah tersedot pasti akan mati dan tidak dapat hidup lagi. Satu-satunya cara agar orang tidak tersedot adalah dengan menutup lubang itu dengan batu karang yang besar dan kokoh. Batu karang itu adalah Petrus.

Petrus juga diberi "kunci Kerajaan Surga." Maksudnya,  bukanlah sebagai orang yang memiliki kekuasaan utk menentukan siapa yang boleh masuk ke dalam surga, dan siapa yang tidak boleh masuk; melainkan,  Petrus diberi tugas untuk mengunci pintu agar kekuasaan-kekuasaan maut tidak memasuki Kerjaan Surga. Pernyataan Yesus itu mengandung tanggung jawab utk melindungi umat, bukan pemberian kuasa utk menghakimi.

Jawaban Petrus terhadap pertanyaan yang diajukan oleh Yesus mengandung sebuah tanggung jawab utk melindungi umat Allah terhadap ancaman kekuatan-kekuatan kejahatan.
Apakah jawaban yang akan aku berikan terhadap pertanyaan Yesus: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Tanggung jawab apa yang perlu aku pikul dengan memberikan jawaban itu, khususnya dalam situasi "new normal" ini?

Teriring salam dari Yogya, Rm. Madya Utama, S.J.

Lihat selengkapnya

15 August 2020

Menghadapi Kesulitan Hidup dengan Bijak

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga semua dalam keadaan baik, dan dapat menikmati kebersamaan dengan keluarga, teman, dan sahabat utk menikmati kasih Allah yang tidak pernah berkesudahan.

Setiap orang yang normal menginginkan keberhasilan dalam hidupnya, dan (syukur-syukur) juga menjadi pribadi yang terkenal. Keinginan seperti ini wajar dan baik. Namun tidak sedikit orang yang setelah berhasil dan terkenal justru terjerembab, dan mengalami malapetaka dalam hidup mereka. Hal itu terjadi karena JALAN yang mereka tempuh tidak benar. Agar hal itu tidak menimpa diri kita, marilah kita belajar dari Yesus, seperti dituturkan oleh Matius dalam injilnya, yang dibacakan dalam Misa Hari Minggu Biasa ke-19 Tahun A (Mat. 14:22-33).

Dalam injil ini Matius mengisahkan bahwa Yesus semakin dikenal karena telah melakukan berbagai macam  mukjizat, dan kemudian  memberikan makan kepada 5000 orang laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak (ay. 21). Akibatnya, orang banyak itu ingin memaksakan kehendak mereka kpd Yesus dengan menjadikan-Nya raja bagi mereka (lih. Yoh. 6:15). Yesus tidak mau kalau hal itu terjadi,  maka Ia melakukan tiga hal. Pertama,  menyuruh semua orang itu pulang (ay. 22b). Kedua, Ia "naik ke atas bukit utk berdoa seorang diri;" artinya, Ia minta arahan dari Allah yang mengutus-Nya (ay. 23b). Ketiga, Ia "memisahkan para murid dari orang banyak" supaya para murid tidak ketularan cara berpikir orang banyak itu; maka Ia  memerintah para murid utk menyeberang danau (ay. 22a).

Itu semua dilakukan oleh Yesus karena orang banyak dan para murid tidak memahami kemesiasan yang diemban oleh Yesus dari Bapa-Nya. Mereka mengira bahwa Yesus harus menjadi Mesias dengan menjadi raja yang penuh kuasa. Sementara kemesiasan Yesus justru terwujud dengan kesetiaan-Nya menjalankan kehendak Allah. Hal itu dilakukannya dengan meningkatkan kualitas kehidupan mayoritas orang Israel yang serba miskin dan kekurangan  melalui pola hidup dan nilai-nilai yang Ia perjuangkan (keadilan sosial, kasih, perdamaian, kesetaraan, persaudaraan sejati, dan solidaritas) meskipun hidup-Nya harus berakhir di kayu salib.

Dalam melaksanakan tanggungjawab-Nya itu Yesus berhadapan dengan kuasa-kuasa kejahatan dan kegelapan yang dapat menghancurkan, yang dilambangkan dengan "gelombang" (ay. 24). Kuasa-kuasa tersebut tidak dimusnahkan oleh Yesus melainkan dihadapi dengan budi yang jernih dan kebijaksanaan yang datangnya dari Allah sendiri,  yang telah Ia peroleh ketika menyendiri di atas bukit utk berdoa. Inilah makna "berjalan di atas air" (ay. 26a).

Apa yang bisa kita petik dari kisah ini?

Pertama, dalam mengarungi perjalanan hidup, kita perlu senantiasa "mohon arahan" kepada Allah agar kita tidak menjadi korban keinginan orang banyak dan keinginan diri sendiri.

Kedua, dalam menghadapi berbagai macam bahaya yang mengancam, tidak bijaksana bila kita hanya mengandalkan diri pada spontanitas dan niat baik, seperti dilakukan oleh Petrus (ay. 28), melainkan perlu menggunakan budi yang jernih dan kebijaksanaan seperti dilakukan oleh Yesus sendiri.

Ketiga, kita diundang oleh Yesus utk tidak bimbang dan membesarkan iman kita (ay. 31), karena di dalam Dialah Allah, sebagai  penguasa segala kuasa dan kekuatan,  hadir (ay. 33b),  dan dapat meredakan badai dalam kehidupan kita (ay. 32).

Teriring salam dari RR Bintang Kejora, Pacet, Mojokerto, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya