Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

12 May 2020

Melakukan Hal-Hal yang Lebih Besar

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia. Karena ada beberapa hal penting dan  mendesak yang perlu saya lakukan tadi pagi, saya baru dapat menyapa Anda sekarang.

Kisah dalam Injil yang dibacakan dalam Misa Minggu Paskah V secara online hari ini (Yoh. 14:1-14) merupakan bagian dari serangkaian peristiwa yang terjadi pada malam terakhir hidup-Nya,  sebelum  Yesus ditangkap, disiksa, dan dibunuh dengan sangat kejam.

Para murid merasa sangat cemas dan takut setelah mendengar bahwa Yesus akan segera meninggalkan mereka dan para murid  tidak mungkin mendatangi tempat ke mana Yesus pergi (Yoh. 13:33).

Pengalaman ditinggalkan di luar dan tidak ada yang mengurusi, merupakan pengalaman yang paling mengerikan utk orang zaman itu.  Dalam keadaan seperti itu, orang merasa seperti berada "di luar pintu gerbang kota" sehingga mudah dimangsa oleh penyamun atau binatang liar (ingat Injil Minggu yang lalu). Dengan latar inilah  Injil Yohanes berbicara tentang tempat yang paling aman, yakni kediaman (rumah) Bapa sendiri. Di tempat itu Allah berkuasa, dan tidak ada lagi kekuatan yang dapat mengganggu siapa pun yang dekat dengan-Nya. Di tempat itu semua akan mengalami ketentraman, mendapat perlindungan, dan tidak merasa ditinggalkan. Ke  tempat itulah Yesus akan pergi utk menyiapkan tempat bagi para murid-Nya serta  bagi siapa saja yang mau, dan Ia akan menjemput mereka kelak. (Yoh. 14:2).

Untuk sampai ke "tempat (Rumah Bapa) itu" kita semua perlu melewati sebuah jalan. Injil hari ini  menunjukkan bahwa "jalan" itu adalah Yesus sendiri, yang sekaligus juga merupakan "kebenaran", dan "hidup" (ay. 6). Yesus adalah "jalan" (menuju Bapa) karena melalui cara hidup-Nya Ia memperkenalkan (mewahyukan)  Allah sebagai Bapa; yakni Allah yang peduli terhadap pergulatan hidup manusia dan sangat dekat dengan para pendosa agar dapat memberikan hidup-Nya sendiri kepada mereka. Yesus adalah "kebenaran", artinya, melalui sikap dan cara hidup-Nya, kehadiran Allah sebagai Bapa dapat dialami oleh semua orang yang berjumpa dengan-Nya serta mempercayai-Nya. Yesus juga diperkenalkan sebagai "hidup," maksudnya,  melalui cara hidup-Nya Yesus berbagi kehidupan Allah yang mahakuasa sendiri kepada semua orang yang menjumpai-Nya dan mempercayai-Nya.

Dalam ayat 12 dikatakan bahwa siapa pun yang percaya kepada Yesus akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Ia lalukan, bahkan "pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar." Yang dimaksud BUKAN membuat mukjijat-mukjijat,   melakukan penyembuhan berbagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh dokter, atau membuat tanda-tanda yang mengakibatkan orang kagum dan takluk kepadanya. Yang dimaksud dengan "pekerjaan lebih besar" adalah cara hidup pribadi maupun hidup bersama sebagai komunitas beriman, yang dapat mempersaksikan iman kepercayaannya kepada Bapa yang hadir dalam diri Yesus (ay. 9-11).

Secara konkret "melakukan pekerjaan lebih besar" itu dicontohkan oleh Jemaat Kristiani Perdana seperti dikisahkan dalam Bacaan Pertama (Kis. 6:1-7). Dalam kisah itu ada dua  macam pelayanan yang sejak awal dilakukan oleh Gereja; yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Kedua pelayanan tersebut adalah "pelayanan sosial" untuk menghadirkan kemurahan hati Allah yang mahakuasa dan sangat peduli terhadap manusia (ay. 1b dan 2b), dan sekaligus "doa dan pelayanan Firman" (ay. 4b)  guna membantu orang agar dapat mempercayai Allah yang sangat dekat dan peduli kepada manusia, yang diperkenalkan oleh Yesus sebagai Bapa.

Sekedar catatan. Paus Fransiskus menandaskan bahwa "pelayanan sosial" tidak cukup hanya  dilakukan dengan tindakan-tindakan amal-karitatif (Laudato Si' 128), melainkan dengan mewujudkan solidaritas. Yang dimaksudkan dengan solidaritas adalah: memfasilitasi dan memastikan bahwa setiap orang/anggota masyarakat  dapat  memperoleh (1) makanan yang bermartabat (sehat dan bergizi), (2) layanan pendidikan yang baik, (3) layanan kesehatan yang memadai, dan (4) pekerjaan dengan upah yang adil (Evangelii Gaudium 192).

Merefleksikan ini semua, menjadi pengikut dan murid Yesus, sungguh sangat menarik dan menggairahkan bukan hanya selama pandemi covid-19 ini melainkan juga  sepanjang masa.

Salam, Rm. Madya.

Lihat selengkapnya

3 May 2020

Memilih Sehat dan Bahagia

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta  keluarga, sahabat, dan teman dalam keadaan baik. Meskipun kita belum bisa melakukan aktivitas di luar rumah secara leluasa, semoga kita tetap berani  memilih hidup sehat dan bahagia.

Pilihan ini bukannya tanpa alasan. Pilihan tersebut dilandasi oleh iman kita akan Yesus Kristus yang telah dibangkitkan oleh Allah dari kematian-Nya. Injil yang dibacakan dalam Misa Hari Minggu IV Paskah (Yoh. 10: 1-10) memperkenalkan Yesus yang kita imani sebagai pintu dan sekaligus gembala.

Untuk memahami makna perumpaan ini, kita perlu mengerti arti pintu pada zaman itu. Pintu mengacu pada dua arti. Pertama, pintu sebagai jalan keluar masuk yang resmi. Kedua, pintu mengacu pada pintu gerbang kota tempat orang berkumpul membicarakan persoalan-persoalan penting karena di situ para tetua kota berkumpul (Ul. 21:19; 25:7; Am. 31:23); semacam tempat digelarnya pengadilan (Mzm. 69:13; 127:5; Ayb. 31:21; Am. 5:10); atau tempat orang mengadakan kontrak dan perjanjian dengan saksi yang sah (Kej. 23:10; Rut 4:1). Di pintu gerbang kota itulah orang berharap memperoleh perlindungan dan keadilan.

Dengan menggambarkan   Yesus sebagai pintu, ingin dikatakan dua hal. Pertama, sebelum Yesus datang ke dunia, umat manusia ibarat kawanan domba yang berada di padang terbuka tanpa pelindung apa-apa, sehingga mudah menjadi mangsa para pencuri dan pembunuh. Kedua, dengan kedatangan Yesus, sebagai pintu, ancaman para pencuri dan pembunuh itu sdh berakhir, karena umat manusia sdh memiliki pelindung, yakni Yesus sendiri.

Yesus juga digambarkan sebagai gembala. Pada zaman itu, pemimpin, raja, dan bahkan Allah sering digambarkan sebagai gembala  (bdk. Yes 34) yang melindungi dan menjamin kesejahteraan hidup orang-orang yang dipimpinnya.

Dengan memakai gambaran gembala dan sekaligus pintu, ingin dikatakan bahwa Yesus adalah pemimpin baik yang datang membawa keadilan, perlindungan,  dan kesejahteraan bahi umat yang menantikan-Nya (ay. 10b).

Pada masa yang sulit akibat pandemi covid-19 ini, kita diharapkan tetap optimis karena tahu bahwa Yesus yang kita imani selalu melindungi kita dan akan membawa kita ke dalam kehidupan yang lebih baik. Ia memperhatikan kita secara personal. Optimisme iman ini, kita tunjukkan dengan melakukan berbagai macam tindakan yang bermakna bagi diri sendiri dan sesama; misalnya,  membangun relasi dengan anggota keluarga menjadi lebih dalam dan personal; lebih memperhatikan kebutuhan karyawan;  menyiapkan dan menyampaikan bahan kuliah online secara bermutu, kreatif, dan inovatif;  berbagi dari kekurangan kita dengan tetangga yang kehilangan pekerjaan agar mereka dapat sekedar makan; menggerakkan anggota masyarakat utk membantu menyediakan  peralatan medis yang dibutuhkan oleh para dokter, perawat, dan tenaga medis yang merawat para pasien yang terpapar virus corona; membuat atau mencarikan masker bagi mereka yang membutuhkannya, namun tidak dapat membelinya,  dst;...dan jangan lupa: merawat kesehatan diri sendiri dan orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita. Saya yakin Anda telah melakukan ini semua. Mari kita lanjutkan hal itu sampai pamdemi covid-19 ini berakhir, agar kehadiran Kristus, sang gembala dan pintu, dapat semakin kita rasakan dan juga semakin dirasakan oleh semakin banyak orang.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

26 April 2020

Mengoreksi Pemahaman dan Gambaran yang Keliru tentang Yesus dan Allah

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda berserta keluarga, para sahabat, dan para teman dalam keadaan baik. Semoga Anda semua tetap merasakan kehadiran Allah dalam hidup Anda meskipun sudah hampir sebulan mengikuti Perayaan Ekaristi online.

Barangkali kita, saya dan Anda, pernah memiliki  pengalaman yang sangat mengecewakan dan bahkan menyakitkan. Hal itu disebabkan oleh gambaran dan pemikiran kita tentang Allah dan Yesus Kristus yang tidak sesuai dengan apa yang kita alami. Kita mengira bahwa Allah yang mahakuasa itu akan mencegah hal-hal yang buruk terjadi pada diri kita. E, tahunya orang yang paling dekat dengan kita malah kena CA (kangker). Dan masih banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa pemikiran dan gambaran kita tentang Allah dan Yesus Kristus ternyata tidak selalu cocok dengan pengalaman yang terjadi dalam hidup kita. Kalau hal seperti itu terjadi, tidak jarang iman kita kepada Allah mulai goyah.

Kita tidak sendirian. Para murid Yesus juga pernah mengalami hal yang serupa seperti dituturkan dalam Injil yang dibacakan dalam Hari Minggu Paska Ketiga hari ini (Luk 24: 13-35). Mari kita ikuti perjalanan kedua murid itu, agar iman kita dimurnikan dan diteguhkan. Ada enam hal perlu kita perhatikan, agar kita dapat memetik manfaat dari kisah Injil ini.

Pertama, kampung Emaus (ay. 13). Kerapkali kampung ini disamakan dengan Emaus dalam 1Mak 3:40-57; 4:3; 9:50, sebuah tempat di mana Yudas Makabe berhasil mengalahkan kekuasaan asing pada tahun 166 sebelum Masehi.  Kejadian ini semakin menyuburkan harapan akan Mesias yang akan membangun kembali kejayaan Israel di masa lampau melalui kekuatan politik. Harapan seperti ini juga kuat pada masa Yesus hidup dan melakukan pelayanan-Nya. Bahkan semakin banyak orang Israel termasuk para murid-Nya yang menganggap bahwa Yesus adalah Mesias politik semacam itu. Namun Emaus tempat Yudas Makabe letaknya sekitar 30 km sebelah barat laut Yerusalem, sementara Emaus dalam kisah injil hari ini hanya 7 km dari Yerusalem. Dengan cara bertutur seperti ini, Lukas tidak ingin berbicara mengenai tempat geografis. Dengan menggunakan nama Emaus, Lukas ingin memunculkan asosiasi antara tempat mulai bertumbuh  suburnya gagasan tentang Mesias Politik dan kenyataan bahwa tumpuan harapan (akan Mesias Politik) itu sudah musnah karena orang itu (Yesus yang dianggap sebagai Mesias Politik) sdh dihukum mati di kayu salib (ay. 19-21). Dengan cara berkisah seperti ini, diharapkan para pembaca kisah ini (kita semua) memahami bahwa "perjalanan ke Emaus" adalah sebuah perjalanan batin utk menyadari pelbagai distorsi/kekeliruan dalam benak kita masing-masing tentang Yesus Kristus dan tentang Allah. Sebuah distorsi/kekeliruan yang sering membuat kita menjadi kecewa dan putus asa.

Kedua, hanya satu dari kedua murid yang disebutkan namanya: Kleopas (ay. 18). Ini cara Lukas utk mengikutsertakan kita (sebagai murid yang tidak disebut namanya) utk terlibat dalam kisah ini. Lukas mempertemukan kita dengan sang musafir. Kita diajak utk menceritakan pemikiran,  gambaran,  dan   pengalaman kita tentang Yesus Kristus dan tentang Allah kepada Yesus sendiri. Ia mendengarkan dan menemani perjalanan hidup kita, termasuk berbagai macam kekecewaan batin yang berasal dari gambaran kita yang keliru ttg Yesus dan Allah.

Ketiga, ungkapan "Hai kamu orang yang bodoh...dst." (ay. 25) merupakan cara berdiskusi di kalangan para cendikia zaman itu. Ungkapan seperti itu merupakan undangan utk memikirkan kembali pokok pembicaraan yang diyakini, guna menemukan penjelasan yang lebih lengkap dan memuaskan sehingga diperoleh pemahaman baru. Dalam kisah ini, para murid diajak utk mengkaji ulang pemahaman mereka ttg Mesias Politik, sehingga mereka sampai pada kesadaran bahwa pemahaman seperti itu keliru, krn Mesias yang sesungguhnya memang harus menderita dan mati seperti telah dikatakan-Nya sendiri sampai tiga kali (bdk. Luk. 9:22; 9:43b-45; dan 18:31-34); dan hal ini sesuai dengan yang telah dinubuatkan dalam "kitab-kitab Musa sampai segala kitab nabi-nabi" (ay. 27).

Keempat, "hati kita berkobar-kobar" (ay. 32). Yang biasa "berkobar-kobar" adalah api utk menerangi kegelapan dan memiliki daya utk memurnikan logam campuran. Dengan ungkapan itu ingin dikatakan bahwa "hati" (artinya: pikiran) para murid, dan kita semua, yang tadinya gelap menjadi terang menyala-nyala, yang tadinya bercammpur baur kini dimurnikan. Hal itu terjadi setelah mereka, kita semua,  melakukan perjalanan batin ditemani oleh Yesus yang telah bangkit.

Kelima, para murid mengenali Yesus "ketika Ia memecah-mecah roti" (ay. 30-31). Pada saat itu mereka menyadari sepenuhnya bahwa "orang itu" sama dengan "dia" (Yesus) yang dalam Perjamuan Malam Terakhir mengatakan bahwa tidak akan makan dan minum lagi sampai Kerajaan Allah datang dengan sepenuhnya (Luk  22:16, 18). Mereka berdua mengalami bahwa Yang Ilahi  bisa benar-benar hadir di tengah-tengah manusia. Artinya, mereka yang percaya bahwa Yesus telah bangkit juga akan mempercayai kehadiran-Nya di tengah-tengah kehidupan mereka. Kehadiran-Nya di tengah-tengah kehidupan itulah yang memberikan harapan baru dan wajah baru bagi kemanusiaan.

Keenam, ketika kedua murid menyadari siapa orang yang mereka undang memasuki rumah mereka di Emaus (baca: kehidupan mereka), Yesus lenyap dari tengah-tengah mereka (ay. 31). Kehadiran-Nya tidak dapat mereka kukuhi bagi kepentingan  mereka sendiri. Pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit, bukanlah pengalaman yang menggumpal ke dalam sehingga bisa kita nikmati bagi diri sendiri. Pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang bangkit merupakan sumber kekuatan yang mendorong kita utk menceritakannya kepada banyak orang melalui tindakan konkret, sehingga kehadiran Allah semakin nampak dan dapat dirasakan orang banyak serta semakin memberikan harapan kepada mereka.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

19 April 2020

Memaknai Kebangkitan Yesus

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Selamat merayakan hari Minggu Kerahiman Ilahi. Semoga Anda beserta keluarga, teman, dan sahabat dalam keadaan baik.

Pada hari Minggu Paskah II, yang pada 30 April 2000 oleh Paus Yohanes Paulus II dinyatakan sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi, kita diajak utk merenungkan arti kebangkitan melalui Injil Yohanes 20: 19-31.

Dalam Injil Yohanes, kebangkitan diwartakan utk menjelaskan mengapa Yesus yang mati di kayu salib dan baru saja dimakamkan itu, ternyata tidak lagi ditemukan di makam, bagaimana para murid tidak lagi merasa kehilangan Dia, bahkan merasakan kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka.

Ada enam hal yang bisa kita petik dari kisah dalam Injil hari ini utk kehidupan kita.

Pertama, pembicaraan tentang luka (ay. 20, 25, dan 27) dimaksudkan utk menegaskan bahwa Yesus yang menampakkan diri itu sama dengan Yesus yang dibunuh di kayu salib. Yang datang di tengah-tengah mereka bukan bayang-bayang atau sekedar ingatan mereka.

Kedua, Yesus memberi salam damai dan menghembusi mereka dengan  Roh (ay. 21-22; 26). Dengan tindakan-Nya itu, Yesus berbagi kedidupan baru-Nya kepada para murid dan  mengubah ketakutan menjadi kedamaian, dan keterkungkungan menjadi penuh daya hidup dalam diri mereka.

Ketiga, seruan Tomas: "Ya Tuhanku dan Allahku!" (ay. 28), menyatakan saat ketika mata batin Tomas terbuka, sehingga ketika ia melihat Yesus yang telah bangkit, ia mengenali kehadiran Allah yang Mahakuasa dan Mahatinggi, yang mengutus  Yesus ke dunia ini (bdk. Yoh 8:19; 14:7, 9-11).

Keempat, undangan Yesus kepada Tomas utk mencucukkan jarinya ke dalam luka di tangan-Nya dan tangan ke dalam lambung-Nya (ay 27), menyatakan bahwa Yesus yang telah bangkit itu begitu menghormati kemerdekaan Tomas, dan kita semua. Yesus yang telah bangkit mempercayakan diri kepada Tomas dan kita semua agar kehadiran-Nya dikenali dalam hidup Tomas dan dalam hidup kita. Kita yang harus memutuskan utk mengenali atau tidak mengenali kehadiran-Nya dalam hidup kita.

Kelima, kata "melihat" memiliki arti khusus dalam Injil Yohanes (ay. 25, 27; bdk. Kisah orang buta sejak lahir yang disembuhkan olh Yesus - Yoh 9: 1-41). Melihat dapat berkembang menjadi pengenalan batin dan membuat orang menerima kebenaran serts menjadi percaya. Utk sampai pada proses dan tahapan ini, orang memang perlu bantuan dari "yang dipercaya" (Yesus sendiri) atau kesaksian dari orang lain yang sudah memiliki kepercayaan kepada Yesus.

Keenam, setelah menerima kekuatan Roh-Nya para murid diutus utk mewujudkan iman kepercayaan mereka, yakni membantu orang lain utk menerima kehadiran Yesus, Sang Pembawa kehidupan Allah di tengah-tengah mereka. Hal ini diungkapkan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami pada zaman itu, yakni "mengampuni dosa" atau "menyatakan dosa tetap ada"  (ay. 23). Yang dimaksud dengan DOSA alah tindakan menolak Dia (Yesus) yang hadir di tengah-tengah manusia dan membawakan kehadiran Allah di tengah-tengah manusia.

Secara singkat, merayakan kebangkitan Yesus pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, berarti menjadi makhluk yang mau mengalami dan mengenali kehadiran Allah Yang Mahakuasa sebagai Allah yang penuh kerahiman dan berbagi kerahiman ini kepada sesama, khususnya mereka yang hidupnya tertindih oleh beban berat.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

11 April 2020

Kembali ke "Galilea Kehidupan"

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik. Dalam suasana hening pada Sabtu sepi ini, marilah kita mempersiapkan diri utk merayakan kebangkitan Tuhan dengan merasa-rasakan apa yang dituturkan oleh keempat Injil (Mat. 28:1-10; Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12; dan Yoh 20:1-10).

Meskipun cara bertutur mereka berbeda-beda, namun semuanya menyampaikan pesan yang sama. Pesan mereka memuat dua hal pokok, yang melandasi munculnya kepercayaan bahwa Yesus telah (di)bangkit(kan) dari kematian, yaitu (1) makam yang kosong, dan (2) keyakinan para murid (perempuan dan laki-laki) yang sangat dekat dengan Yesus bahwa Ia  sudah tidak berada di antara orang-orang mati.

Dengan latar dua pokok tersebut, Injil yang akan kita dengarkan dalam Misa nanti malam (Mat 28:10) menekankan tiga hal.

Pertama, Yesus kini sungguh hidup (ay. 6).

Kedua, para murid yang kini tercerai-berai dan bersembunyi dalam suasana ketakutan diundang utk berkumpul kembali di Galilea utk mengawali hidup secara baru (ay. 7 dan 10).

Ketiga, melalui para murid perempuan, para murid laki-laki yang terpisah-pisah dapat dikumpulkan kembali. Para murid perempuan menjadi penghubung dan menunjukkan jalan kepada para murid laki-laki utk bertemu dengan Yesus yang telah bangkit (ay. 8 dan 10).

Mengapa para murid perlu  "berkumpul kembali di Galilea?" Galilea adalah tempat para murid dikumpulkan oleh Yesus utk meninggalkan "cara hidup lama" dan memulai "cara hidup baru."

"Cara hidup lama" ditandai dengan keyakinan bahwa Allah adalah Allah yang jauh, tidak peduli terhadap pergulatan hidup manusia, dan suka menghukum orang-orang berdosa. Keyakinan akan Allah seperti itu juga mendorong orang utk hanya memperhatikan kepentingan dan  keselamatannya sendiri dan membangun hidup bermasyarakat dengan sekat-sekat berdasarkan status sosial. Akibatnya,  orang jelata ditempatkan pada tataran paling bawah dan diyakini tidak mendapatkan keselamatan dari Allah.

"Cara hidup baru" yang dibangun oleh Yesus dimulai dengan mengumpulkan para murid-Nya adalah cara hidup yang berkebalikan dengan "cara hidup lama" yang sudah dipaparkan di atas. Para murid diundang utk mengalami bahwa Allah begitu dekat dengan manusia, peduli terhadap penderitaan dan pergumulan hidup manusia, dan sangat mencintai orang-orang berdosa agar mereka memperbaiki diri dan selamat. Iman kepada Allah semacam ini memiliki konsekuensi dalam hidup bersama. Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya utk membangun hidup bersama yang dilandasi oleh kepedulian  dan solidaritas, rasa hormat terhadap martabat sesama, melibatkan semua dalam menentukan hidup bersama (kesetaraan), dan tidak membuat sekat-sekat berdasarkan status sosial. Cara hidup baru yang belum benar-benar kokoh ini, menjadi berantakan dengan peristiwa penangkapan Yesus, penyiksaan dan  pembunuhan yang dilakukan terhadap-Nya.

Peristiwa kebangkitan Yesus ingin mengatakan bahwa Allah yang Ia imani adalah Allah yang memiliki daya utk menghancurkan kekuatan-kekuatan yang merusak dan bahkan menghancurkan (mematikan) kehidudupan.  Dan Allah yang sama, melalui Yesus yang sudah dibangkitkannya dari kematian, juga  membebaskan kita dari ketakutan-ketakutan yang dikarenakan oleh  kegagalan-kegagalan di masa lampau maupun beratnya tantangan kehidupan yang kita hadapi. Seperti halnya para murid duhulu, sekarang kita juga diundang utk kembali ke "Galilea batin" atau "Yerusalem rohani" kita, yakni "tempat berkumpul" dengan diri sendiri dan orang dengan orang lain agar kita dapat ditemui oleh Yesus guna membangun hidup yang baru.

Semoga pengalaman berkumpul bersama keluarga, dengan teman, dengan sahabat, dan bahkan dengan diri sendiri secara intensif, antara lain karena wabah virus corona, akan merupakan "Galilea" bagi kita semua, agar kita dapat mulai lagi membangun "cara hidup baru" seperti telah diajarkan oleh Yesus sendiri.

Selamat Paskah, dan saling mendoakan. Salam, Rm. Madya, S.J

Lihat selengkapnya

11 April 2020

Melaksanakan Tugas (Perutusan) sampai tuntas

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat pagi. Semoga Anda semua dalam keadaan baik.

Hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan dan ikut merasakan kesengsaraan yang diderita oleh Yesus yang berakhir pada kematian-Nya di kayu salib. Malalui permenungan ini diharapkan kita akan dimampukan utk berjalan bersama-Nya agar mimpi Allah agar semua orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup berkelimpahan (Yoh 10:10b) akan menjadi kenyataan.

Injil yang akan dibacakan hari ini sangat panjang (Yoh 18:1-19:42). Anda dapat membaca dan merenungkannya, mengidentifikasikan diri dengan tokoh2 yang terlibat di dalamnya, serta memetik pelajaran darinya. Saya hanya akan mengajak Anda utk merenungkan tiga hal.

Pertama, kaitan antara Yoh 13:1: "Ia (Yesus) senantiasa mencintai murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mencintai mereka sampai pada kesudahannya", dengan yang dikatakan oleh Yesus kepada Allah, Bapa-Nya, sebelum Ia menghembuskan nafas-Nya yang terakhir di kayu salib (Yoh 19: 30: "Sudah selesai"). Ungkapan "sudah selesai" dalam bahasa Indonesia tidak mencerminkan apa yang dimaksudkan oleh Yesus. Dalam bahasa Latin: Consummatum est (doble "m"). Artinya, "Bapa, semua sdh saya selesaikan. Semua sdh saya laksanakan secara tuntas. Sekarang semua saya serahkan kepada-Mu." Ungkapan ini menjelaskan arti "mencintai sampai pada kesudannya, mencintai sampai tuntas."  Dengan latar inilah kematian Yesus di kayu salib merupakan perwujudan dari "mencintai para murid-Nya, yang masih ada di dunia,  sampai tuntas."  Dengan kematian Yesus di kayu salib, Ia selalu menemani para murid, dan kita semua, khususnya ketika kita mengalami kegelapan yang paling kelam dalam hidup kita. Kita tidak pernah ditinggalkan oleh Dia yang diutus oleh Allah utk membawa kita kembali kepada-Nya.

Kedua, perjamuan Paskah yang sesungguhnya tidak terjadi pada saat Perjamuan terakhir, tetapi pada saat Yesus menyerahkan hidup-Nya di kayu salib kepada Allah (Yoh 19:30). Pada saat itu, kita juga diterima oleh Allah menjadi anak-anak-Nya.

Ketiga, ketika lambung Yesus ditikam dengan tombak keluarlah darah dan air (Yoh 19:34). Dalam tradisi kepercayaan Yahudi, darah adalah tempat bersemayamnya kehidupan, dan air adalah kekuatan yang menopang kehidupan. Dengan kisah itu ingin dikatakan bahwa dengan mengisi hidup-Nya sampai tuntas di kayu salib, Yesus menjadi sumber dan penopang  kehidupan kita.

Marilah kita mengucap syukur kepada Yesus yang telah mencintai kita sampai tuntas, dengan rela mati di kayu salib. Kita juga memohon rahmat-Nya agar kita dimampukan utk mengikuti jejak-Nya agar mimpi Allah menjadi nyata.

Teriring salam Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya