9 April 2020
Menjadi Gereja yang sesungguhnya
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat pagi. Semoga Anda semua dalam keadaan baik. Untuk pertama kalinya dalam hidup kita, kita akan merayakan Tri Hari Suci secara online. Kita tidak akan hadir bersama secara fisik dalam sebuah gedung gereja. Namun ini semua tidak mengurangi arti menjagi Gereja yang sesungguhnya. Mengapa? Injil Yohanes (13:1-17) yang akan dibacakan dalam Perayaan Kamis Putih nanti petang, memberikan jawabannya.
Untuk memahami pesan Injil Yohanes yang akan kita dengarkan hari ini, beberapa catatan perlu kita perhatikan.
Pertama, dalam Injil Sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas) kedatangan Yesus ke Yerusalem (pada Minggu Palma) akan mengantar Yesus kepada penderitaan, kamatian, dan kebangkitan-Nya. Dalam Injil Yohanes, kesengsaraan, kematian, dan kebangkitan Yesus berawal pada Perjamuan Terakhir.
Kedua, dalam Injil Sinoptik Perjamuan Tarakhir yang diadakan oleh Yesus merupakan perjamuan utk merayakan Paskah (pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir) . Dalam Injil Yohanes, Perjamuan Terakhir diadakan sebelum perayaan Paskah, karena Paskah baru terjadi pada saat Yesus digantung pada kayu salib. Pada saat itulah, seluruh umat manusia dibebaskan dari perbudakan dosa.
Ketiga, peristiwa pembasuhan kaki HANYA terjadi dalam Injil Yohanes. Apa maknanya? Ada tiga hal penting yang dapat kita petik dari kisah Injil hari ini.
Pertama, dalam makan bersama itu Yesus ingin berbagi (siapa) diri-Nya kepada para murid yang begitu dicintainya. Yesus adalah "yang datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah" (ay. 3). Dengan "mebasuh kaki" para murid, Yesus memungkinkan mereka untuk "mendapat bagian dalam Aku" (ay. 9), artinya, para murid, dan kita semua, juga "datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah." Tugas Yesus adalah mengantar para murid utk mendapatkan pengalaman seperti itu (= mengasihi para murid, ay. 1). Dan tugas ini dilaksanakan sampai tuntas, tidak setengah-setengah (= sampai kesudahannya, ay. 1).
Kedua, dalam tradisi pesta Yahudi para tamu akan membasuh kaki mereka sebelum memasuki ruang pesta, untuk menyatakan bahwa mereka datang dalam keadaan bersih. Hanya tamu2 sangat penting dan sangat dihormati (guru, para penatua), kakinya dibasuh oleh para budak (hamba, pelayan).
Dalam perjamuan terakhir, semua dijungkirbalikkan oleh Yesus. Ia , sebagai Tuhan dan Guru, justru membasuh kaki para murid-Nya. Dan hal itu dilakukan ketika mereka sedang makan, dan bukan sebelumnya. Tindakan Yesus itu ingin mengatakan kpd para murid-Nya bahwa bagi Yesus mereka merupakan pribadi-pribadi yang sungguh sangat berharga, sangat dihormati, dan dicintai. Karenanya, Yesus rela melalukan pembasuhan kaki tersebut.
Ketiga, tindakan Yesus itu dilakukannya sebagai "teladan" (ay. 15). Karenanya, mereka "wajib saling membasuh kaki" mereka (ay. 15). Artinya, sejak malam itu para murid diminta utk memperlakukan satu sama lain sebagai pribadi-pribadi yang sangat berharga sehingga perlu dihormati dan dilayani. Dengan kata lain, sejak malam itu lahirlah sekumpulan orang yang hidup dengan berbekal sikap Yesus, yang menganggap sesama sebagai pribadi yang sangat berharga sehingga pantas utk dihormati dan dilayani. Cara hidup seperti inilah yang disebut sebagai Gereja dalam arti dan wujudnya yang sesungguhnya dan paling rohani.
Hidup menggereja yang berpusat pada Perayaan Ekaristi baru benar-benar utuh bila dijalani dengan semangat hidup seperti diteladankan oleh Yesus dalam perjamuan terakhir itu. Hanya dengan cara itu kita, sebagai Gereja, akan memiliki integritas dan tetap relevan bagi masyarakat kita.
Semoga Perayaan Kamis Putih yang akan kita rayakan membantu kita meneladani sikap dan tindakan Yesus.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
5 April 2020
Setia Menanggung Konsekuensi Perutusan
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda dan keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Untuk pertama kalinya dalam hidup kita di Indonesia, baru kali ini kita memulai Pekan Suci tidak bersama dengan orang-orang terdekat maupun anggota Gereja lainnya. Namun demikian, saya tetap berharap bahwa situasi ini tidak menjadi penghalang bagi Allah utk mendatangi kita dan menyertai pergulatan hidup kita.
Hari ini kita memulai Pekan Suci dengan merayakan Minggu Palem, untuk mengenang Yesus, yang dengan tegar memasuki Yerusalem guna menyongsong konsekuensi dari pilihan-pilihan dalam hidup-Nya utk mewujudkan tugas perutusan dari Allah, yakni mewujudkan datangnya Kerajaan Allah (= keselamatan manusia dalam seluruh aspek hidupnya). Setelah peristiwa pembangkitan Lazarus dari kematiannya, yang kita renungkan Minggu lalu (Yoh 11:1-44), Yesus semakin tahu bahwa pilihan-pilihan dalam hidup-Nya guna mewujudkan tugas perutusan yang Ia terima dari Allah, akan berujung pada kematian (Yoh 11: 49-50; 57). Di Yerusalem Ia akan ditolak, disiksa, dan dibunuh oleh para pemimpbin bangsa Yahudi serta rakyat banyak (dengan memperalat Yudas dan memanipulasi Pilatus).
Dalam Perayaan Liturgi hari ini ditampilkan dua bacaan Injil (Mat 21: 1-11 - ttg Yesus memasuki Yerusalem; dan Mat 26: 14-27:66 - ttg Kisah Sengsara Yesus).
Dituturkan bahwa Yesus yang memasuki Yerusalem itu adalah seorang raja yang lemah lembut (ay 5), artinya, Ia adalah orang yang memiliki kuasa dan wibawa, sekaligus memiliki kepekaan terhadap kerapuhan umat manusia. Kedua sikap itu menyatu dalam diri-Nya. Hal ini dilukiskan oleh Matius dengan gambaran Yesus mengendarai keledai betina DAN anaknya sekaligus; suatu hal yang sangat sulit dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kearifan: kemampuan mengintegrasikan kekuasaan dengan kelemahlembutan (ay 7).
Kisah Sengsara (Mat 26: 14-27:66) terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (Mat 26:14-27:10) berawal dan berakhir dengan tindakan Yudas; Yudas menjual Yesus seharga 30 perak kpd Imam-Imam kepala (26:14-16) dan Yudas mengembalikan uang 30 perak kepada imam-imam kepala lalu menggantung diri (27:3-10).
Apa kesalahan Yudas? Ia orang naif. Ia ingin mendapatkan relasi dengan kaum penguasa dengan memanfaatkan situasi. Sebenarnya ia tidak ingin mencelakakan Yesus. Ia punya persepsi keliru mengenai Yesus. Ia mengira bahwa Yesus akan membuat mukjijat ketika diserahkan kpd para pemimpin org Yahudi. Sebenarnya kematian Yesus tetap akan terjadi juga kalau Yudas tidak berkhianat. Dengan tindakannya itu ia mendahului rencana Tuhan. Dan ketika ia tahu bahwa Yesus tdk membuat mukjijat seperti yang ia harapkan, ia tidak menyesal (seperti Petrus dan para murid lain), tetapi malah semakin menutup diri. Ia membuat kesalahan kedua, mendahului rencana Tuhan, dengan bunuh diri. Yudas mengklaim bagi dirinya sendiri perkara yang sdg direncanakan dan dilaksanakan oleh Allah. Dengan cara itu ia menemui kematian.
Bagian kedua kisah sengsara berawal dengan tindakan Pilatus menahan Yesus dan melepaskan Barabas karena desakan imam-imam kepala (27:11-26), dan berakhir dengan tindakan Pilatus (atas permintaan imam-imam kepala juga) mengirim para penjaga ke kubur agar jenasah Yesus tidak dicuri oleh para murid muridnya (27:65-66). Pilatus begitu bodoh dan konyol. Ia membiarkan diri dimanipulasi oleh para penguasa Yahudi.
Pada hari-hari terakhir dalam hidup-Nya, di Yerusalem, kehidupan Yesus dijungkirbalikkan oleh Yudas dan Pilatus. Namun mereka itu sebenarnya hanya orang-orang yang diperalat menjadi "tangan kotor" oleh para imam kepala, orang Farisi, dan tetua-tetua Yahudi. Mereka inilah sebenarnya yang membiarkan dirinya sebagai perwujudan kekuatan-kekuatan kejahatan yang ingin membatasi dan menggagalkan gerak Yesus sebagai utusan ilahi yang memasuki Yerusalem utk menyelesaikan tugas perutusan-Nya.
Menghadapi itu semua Yesus tetap setia pada jalan yang telah dipilih-Nya sampai akhir (27:50). Kematian-Nya membuahkan kehidupan baru (27:51-53). Bahkan orang-orang yang sering dinamakan "kafir" pun mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah (27:54).
Kisah Yesus memasuki Yerusalem mengundang kita utk berjalan bersama Dia (dengan mengisi secara setia dan penuh tanggung jawab jalan hidup yang sudah kita pilih), agar impian Allah supaya semua orang mendapatkan hidup yang penuh kelimpahan (Yoh 10:10b) menjadi kenyataan.
Saling mendoakan.
Salam, Rm. Madya, S.J.
29 March 2020
Kasih memberikan kehidupan
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua dalam suasana hati yang tetap penuh harapan kendati situasi hidup yang kita hadapi serba tidak menentu akibat adanya pandemi virus corona, cavid-19.
Dalam situasi seperti itu Injil Yoh 11:1-44) yang kita dengarkan dalam Misa online pada hari Minggu Prapaskah ke-V hari ini, menyajikan pergulatan iman para tokoh yang terlibat dalam kisah pembangkitan Lazarus dari kematiannya. Pergulatan iman mereka kiranya dapat memberikan inspirasi bagi kita.
Pertama, kisah pembangkitan Lazarus dari kematiannya perlu ditempatkan dalam konteks keputusan Yesus utk "kembali lagi ke Yudea" (ay. 7). "Kembali ke Yudea" memiliki dua makna. Pertama, Yesus menyongsong peristwa yang akan menimpa diri-Nya di Yerusalem sebagai konsekuensi dari pelaksanaan tugas perutusan yang diterima dari Bapa-Nya; yakni ditolak, ditangkap, dibunuh dengan keji di kayu salib, DAN dibangkitkan oleh Allah. Kedua, utk menjadi terang agar orang tidak berjalan dalam kegelapan (ay 9).
Kedua, antara Yesus dan Lazarus serta kedua adiknya, Maria dan Marta, terdapat relasi kasih (ay. 3 dan 5). Yesus mengasihi mereka. Dari pihak yang dikasihi muncul sikap rela menerima janji Yesus (ay. 21 dan 27; ay. 32) sementara dari pihak Yesus, muncul tanggungjawab mengenai orang-orang yang Ia kasihi di hadapan yang Mahakuasa, Bapa-Nya (ay. 41-43).
Ketiga, oleh Marta (ay. 27)--yang ditegaskan oleh Maria dengan "tersungkur di depan kaki-Nya" (ay. 32), Yesus diberi tiga julukan: Mesias; Anak Allah; dan Dia yang akan datang ke dalam dunia. Artinya, Yesus adalah orang yang diberi kuasa ilahi, sangat dekat dengan Allah sendiri, dan akan selalu hadir di antara manusia dengan segala suka duka pergulatan hidupnya.
Keempat, bila kita mau percaya kita akan melihat kemuliaan Allah (ay. 40). Artinya, bila kita mau memasrahkan hal-hal yang tidak dapat kita tangani sendiri (setelah berbagai macam ikhtiar kita lakukan) kepada yang diberi kuasa ilahi, kebesaran ilahi--entah apapun bentuknya--akan kita alami.
Kelima, "Lazarus, marilah keluar!" (ay. 43). Lazarus artinya Allah menolong. Seruan Yesus tersebut mempunyai dua arah. Arah pertama ditujukan kepada orang yang sudah mati (Lazarus) agar ia keluar dari tempat orang mati. Arah kedua ditujukan kepada Allah yang dapat menolong agar Ia tidak tinggal diam. Relasi "kasih" antara Yesus dan Lazarus (lihat poin kedua di atas) membuat seruan Yesus itu menjadi kenyataan; Allah bertindak menghidupkan Lazarus sehingga ia dapat keluar dari dunia kematian (ay. 44).
Semoga kita dianugerahi keberanian utk meneladan Maria, Martha, Lazarus, dan Yesus sendiri dalam menghadapi masa-masa yang sulit dalam kehidupan kita.
Saling mendoakan.
Salam, Rm. Madya, S.J.
28 March 2020
Beriman dengan mata terbuka
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat pagi. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan tetap menjaga kesehatan di tengah-tengah wabah virus corona.
Wabah yang menimpa seluruh dunia ini mengundang kita utk menyadari bahwa beriman tidak hanya berurusan dengan soal-soal doa dan upacara keagamaan, melainkan juga, dan terutama, soal keselamatan seluruh umat manusia.
Untuk menunjukkan rasa solidaritas dengan keprihatinan dan keselamatan seluruh bangsa Indonesia, kita semua ikut ambil bagian dalam upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi penyebaran virus corona. Salah satunya adalah tidak melakukan perayaan Ekaristi bersama di gereja, melainkan merayakannya secara online dan menerima komuni (Tubuh Kristus) secara rohani pada hari ini (22 Maret 2020). Semoga pengalaman ini tidak membatasi kita utk mengalami kehadiran Allah yang selalu ingin menjumpai kita. Kehadiran Allah tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, dan oleh upacara keagamaan tertentu.
Namun ada dua pengalaman yang dapat menghalangi kita utk merasakan kehadiran Allah yang ingin menjumpai kita.
Pertama, pengalaman "pahit" yang bertubi-tubi menimpa diri kita sehingga kita merasa tidak kuat lagi utk menanggungnya. Hal ini diperburuk oleh sikap tetangga dan saudara seiman yang tidak mengulurkan tangan utk membantu kita, melainkan malah mencemooh dan menyalahkan kita. Pengalaman seperti ini dapat saja membuat kita beranggapan bahwa Tuhan itu tuli krn tidak mau mendengarkan doa-doa kita; dan Tuhan itu buta karena tidak mau melihat penderitaan kita dan meringankannya. Lebih, buruk lagi ada yang berkesimpulan bahwa penderitaan itu merupakan hukuman yang diberikan oleh Allah karena dosa yang telah kita buat maupun dosa yang dilakukan oleh keluarga kita (Yoh 9: 2).
Kedua, sikap soksuci karena merasa menguasai peraturan-peraturan keagamaan dan tekun melaksanakannya dengan sangat teliti. Orang-orang semacam ini cenderung mudah menilai orang lain sebagai orang yang tidak pantas dikasihi oleh Allah (ay. 16a; 34a). Orang-orang soksuci seperti itu bahkah tega mengucilkan mereka dan mengusir mereka dari rumah Allah. Itulah yang mereka lakukan terhadap Yesus (Yoh 8:59) dan orang buta yang telah disembuhkan oleh Yesus (Yoh 9:34b).
Tindakan Yesus yang dituturkan dalam Injil Yohanes, yang kita dengarkan dalam Misa Online hari ini (Yoh 9:1-41) ingin mengoreksi dua buah kesalahan mendasar dalam praktik hidup beriman.
Kesalahan pertama, anggapan bahwa segala bentuk penderitaan dan kesulitan dalam hidup kita adalah hukuman yang diberikan oleh Allah akibat dosa kita (ay. 2-3).
Kesalahan kedua, anggapan bahwa kasih dan penyelamatan Allah hanya bisa diperoleh dengan mentaati peraturan agama secara teliti (ay. 16a).
Selain mengoreksi dua macam kesalahan tersebut, tindakan Yesus menyembuhkan orang buta tadi juga ingin memberikan arti yang sebenarnya tentang hari sabat. Sabat bukan berarti "tidak boleh melakukan sesuatu di luar yang digariskan dalam peraturan" (ay. 7 dan 14). Sabat, menurut Yesus, berarti mengerjakan pekerjaan Allah yang mengutus diri-Nya (ay. 4) supaya semua yang telah diciptakan-Nya berada "dalam keadaan sangat baik" (Kej 1: 31). Orang buta tadi tidak dalam keadaan sangat baik. Karenanya, Yesus menyembuhkan dia supaya ia menjadi sempurna (= "menurut gambar Allah," Kej 1:27).
Injil hari ini mengajak kita utk melakukan tiga hal. Pertama, menemukan kehadiran Allah juga di luar rumah ibadat dan segala peraturan keagamaan.
Kedua, kita diundang utk menemukan kehadiran Allah dalam keremukan hidup manusia, termasuk keremukan hidup kita sendiri, dan membiarkan Allah menyembuhkannya.
Ketiga, kita juga diundang utk berbuat seperti Yesus; mau bekerjasama dengan Allah menyembuhkan hidup orang lain yang penuh luka dan keremukan, agar mereka dapat mengalami hari sabat yang sesungguhnya, keselamatan Allah yang membuat hidup mereka menjadi "sangat baik."
Dengan melakukan itu semua kita akan semakin memahami bahwa hidup beriman bukan sekedar menjalankan urusan doa, upacara keagamaan, dan mentaati perturan keagamaan, melaikan juga dan teruma mewujudkan kesejahteraan menyeluruh bagi seluruh umat manusia.
Saling mendoakan, Rm. Madya, S.J.
18 March 2020
Penyembah Allah yang benar
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat petang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan tidak dilumpuhkan oleh kepanikan dan ketakutan terhadap virus corona.
Sekali lagi, saya baru bisa menyapa Anda pada penghujung hari karena seharian saya menemani Hari Studi Komunitas Katekis dan Pelayan Pastoral di Pusat Pastoral Yogyakarta.
Di tengah-tengah merajalelanya penggunaan medsos (media sosial), sehingga banyak orang lebih nyaman melakukan LDC (Long Distance Communication) dan bahkan LDR (Long Distance Relationship) dari pada melakukan perjumpaan personal, bacaan Injil hari Minggu Ketiga Masa Prapaskah (Yoh 4:5-42) memberikan pencerahan mengenai makna perjumpaan personal.
Pertama, perjumpaan personal dengan Yesus dapat mengubah sikap hidup. Setelah berjumpa dengan Yesus, hilanglah rasa curiga perempuan Samaria terhadap Yesus sebagai orang Yahudi (ay. 9). Dengan hilangnya rasa curiga itu, ia mampu memperhatikan dan melihat Yesus sebagai nabi (ay. 19) bahkan Mesias (ay. 25-26) yang menjadi "air hidup" (ay. 10) dan "mata air di dalam dirinya" (ay. 14), yang akan membawanya kepada kehidupan kekal (ay. 14). Demikian pula orang-orang Samaria yang tinggal di kota Sikhar, setelah mereka bertemu dengan Yesus berubah sikap dari hanya sekedar ingin tahu (ay. 30) menjadi sangat ramah dan tulus serta meminta Yesus--dan para murid-Nya--utk tinggal di kota mereka (ay. 40). Padahal, orang Yahudi dan orang Samaria saling bermusuhan (ay. 9).
Kedua, Allah--melalui Yesus--selalu ingin menjumpai umat-Nya, khususnya ketika umat-Nya sedang mengalami keadaan hidup yang berantakan, tidak ideal (ay. 16-18). Keadaan hidup kita "yang tidak ideal" tidak perlu menjadi halangan utk menjumpai Tuhan dan menerima "air yang menghidupkan" dari-Nya.
Ketiga, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan, Sang Air Hidup, memampukan perempuan Samaria dan kita semua, utk menceritakan pengalaman itu kepada orang lain dan mengundamg mereka utk berjumpa sendiri dengan Tuhan agar mereka mengalami kebahagiaan seperti yang ia, kita, alami (ay. 28-29).
Keempat, perjumpaan dengan Yesus juga membantu perempuan Samaria (dan kita semua) utk memahami bagaimana menyembah Allah secara benar. Menyembah Allah yang benar, bukan pertama-tama ditentukan oleh tempat tertentu ("gunung ini" atau "Yerusalem") (ay. 20-21), melainkan "menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran" (ay. 23-24). Artinya, menghayati hidup kita dengan membiarkan diri dituntun oleh Roh-Nya, sehingga kita mampu memahami kehendak Allah dan melaksanakannya.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
8 March 2020
Beriman dengan sadar dan penuh perhitungan yang masak
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat malam. Ijinkan saya masih menyapa Anda semua sebelum hari berganti. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan segar setelah menikmati hari Tuhan bersama keluarga, teman, sahabat, dan bahkan sendirian.
Bacaan Injil yang digunakan dalam Misa pada Hari Minggu kedua Masa Prapaska hari ini (Mat 17:1-9) mengajak kita utk beriman sacara sadar dan penuh perhitungan yang masak.
Injil hari ini mulai dengan frasa "Enam hari kemudian" (ay. 1). Maksudnya, enam hari setelah Yesus mengatakan kpd para murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat 16:21). Itu semua terjadi sebagai konsekuensi dari pilihan hidup-Nya, yang selalu melaksanakan kehendak Allah agar keselamatan Allah dapat dialami oleh semua orang, khususnya oleh mereka yang selama ini disingkirkan oleh komunitas agama dan masyarakat (para pendosa, penderita berbagai macam penyakit, orang-orang miskin, dan kaum perempuan kelas bawah).
Setelah mengatakan itu semua, Ia juga mengatakan bahwa untuk menjadi murid-Nya, kita perlu menyangkal diri dan memanggul salib kita (Mat 6:24-26).
Pertanyaannya, tidak rugikah mengurbankan semua utk mengikuti Yesus, yang hidup-Nya akan berakhir dengan hina di palang kayu salib?
Beriman secara dewasa tidak seperti yang sering dikatakan oleh banyak orang, "pasrah bagaikan menerjunkan diri dalam kegelapan, apapun yang akan terjadi." Beriman secara dewasa perlu dilakukan dengan pilihan sadar setelah mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang. Oleh karenanya, kita mesti tahu siapa Yesus yang akan kita ikuti dengan "mengurbankan segala sesuatu" itu. Beriman seperti inilah yang ingin diperkenalkan oleh Matius melalui injilnya yang kita dengarkan pada hari ini.
Matius memperkenalkan Yesus sebagai pribadi yang sangat dekat dengan Allah ("Inilah Anak yang Kukasihi" - ay. 5). Yesus juga diberi kuasa utk bertindak atas Nama Allah ("kepada-Nya aku berkenan" - ay. 5). Karena kedekatannya dengan Allah itulah maka wajah-Nya berpendar, bercahaya (ay. 2), seperti halnya yang dulu terjadi pada Musa setelah ia bertemu dengan Allah di gunung Sinai dan turun membawa loh perintah Tuhan (Kel 34:29 dst.). Melalui cerita ini, Matius memperkenalkan Yesus sebagai Musa baru yang membawakan Sabda Allah di dalam diri-Nya, dalam kehidupan-Nya. Oleh karenanya, Ia pantas kita dengarkan ("dengarkanlah Dia" - ay. 5).
Cara Yesus membawakan Sabda Allah, membawakan "kehadiran yang Ilahi" adalah dengan cara yang bisa dimengerti oleh orang-orang sezaman-Nya, sehingga tidak menakutkan; yakni dengan melayani kebutuhan orang-orang yang datang kepada-Nya, mencerahkan budi mereka, menyembuhkan, merangkul yang dibuang dan disingkirkan oleh masyarakat dan komunitas agama, dan bersimpati pada orang yang lemah dan yang menanggung beban kehidupan yang begitu berat. Dengan cara seperti ini pulalah kita dipanggil utk menampakkan iman kita akan Yesus di tengah kehidupan dan masyarakat kita.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.