21 June 2025
TIDAK BOLEH ADA ORANG YANG DISINGKIRKAN
TIDAK BOLEH ADA ORANG YANG
DISINGKIRKAN
Para Ibu dan Bapak
serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga,
sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati
akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan menikmati kembali rahmat Allah yang
telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Injil (Luk 9:11b-17) berkisah tentang Yesus memberi makan kepada 5 ribu orang laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.
Apa makna kisah ini bagi
kita sekarang? Marilah kira renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa
catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat dalam Alkitab
yang diberi catatan].
Pertama, peristiwa ini juga dikisahkan dalam kedua Injil Sinoptik lainnya (Mat 14.13-21; Mrk 6.30-44). Injil Yohanes juga merekamnya (Yoh 6:1-14) dan meletakkannya dalam hubungan dengan pewartaan Yesus sebagai sumber kehidupan sejati.
Kedua, ada beberapa kekhususan dalam Injil Lukas tentang kisah ini, yang patut didalami. Pertama, penginjil Lukas menghubungkan peristiwa Yesus memberi makan kepada lima ribu orang itu dengan pengutusan kedua belas murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit (Luk 9:2) dengan berbekal “tenaga/daya” dan “kuasa” yang diberikan Yesus untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit (Luk 9:1).
Ketiga, hanya bekal “tenaga/daya” dan “kuasa” yang diberikan Yesus untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit (ay. 1) inilah yang membuat pemberitaan dan tindakan mereka berhasil. Jadi bukan ketrampilan dan penampilan mereka sendiri.
Keempat, kaitan erat antara “memberi makan” dan “memberitakan Kerajaan Allah” terlihat dalam Luk 9:11b. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Yesus membicarakan Kerajaan Allah bagi orang banyak sambil menyembuhkan mereka yang butuh disembuhkan. Itu pulalah dua tugas bagi dua belas orang murid-Nya dalam Luk 9:2.
Kelima, disebutkan bahwa murid-murid tadi baru kembali keliling dan menceritakan kepada Yesus bagaimana mereka telah menjalankan pengutusan tadi (Luk 9:10). Para murid tentunya menginginkan sedikit istirahat, menikmati keberhasilan itu bersama Guru mereka, dan mengadakan pesta ala kadarnya.
Keenam, Yesus tanggap terhadap keinginan para murid-Nya. Yesus membawa mereka ke Betsaida untuk menyendiri (Luk 9:10b), bukan hanya untuk beristirahat dan berpesta, tetapi juga untuk bersama-sama mendalami pengalaman pengutusan tadi.
Ketujuh, tetapi orang banyak yang sudah mendengar, melihat, dan mengalami yang dilakukan para murid Yesus tadi tetap mengikuti mereka (Luk 9:11a). Mereka mau mendekat ke sumber “tenaga” dan “kuasa” yang telah menyingkirkan kekuatan-kekuatan jahat dan penyakit, yang telah mereka alami (Luk 9:6), yakni Yesus, Guru para murid tadi.
Kedelapan, orang banyak yang telah mendengarkan pewartaan tentang Kerajaan Allah dan mengalami disembuhkan oleh para murid Yesus, mengalami dan memahami Kerajaan Allah bukan sebagai “serangkaian ajaran” melainkan sebagai kehadiran Yang Mahakuasa yang memberi harapan, ketenangan, keberanian, keuletan, kesembuhan, dan apa saja yang membuat mereka hidup terus. Itulah sebabnya mereka terus mengikuti para murid dan Yesus sendiri.
Kesembilan, para murid merasakan kehadiran orang banyak itu sebagai hal yang mengganggu mereka. Maka mereka minta kepada Yesus agar orang banyak itu disuruh pergi untuk mencari penginapan dan makanan (Luk 9:12b).
Kesepuluh, namun Yesus justru mengatakan kepada para murid: “Kalian harus memberi mereka makan!” (Luk 9:13). Maksud Yesus adalah untuk mengikutsertakan orang-orang itu dalam “pesta” para murid guna merayakan keberhasilan perutusan mereka agar pestanya semakin meriah. Tentu saja Yesus juga tahu bahwa tidak begitu sukar bagi murid-murid yang punya relasi di Betsaida itu untuk mengadakan perhelatan bersama orang banyak.
Kesebelas, kota Betsaida adalah kota di pinggir danau di Galilea yang menjadi pusat bisnis perikanan. Sebagian besar para murid Yesus berasal dari kota ini. Di kota itu mereka masih memiliki relasi yang akan senang ikut merayakan sukses mereka dalam cara hidup mereka yang baru ini. Perhelatan mudah diatur.
Kedua belas, secara teoretis memang mudah, namun di situ ada 5000 orang laki-laki! Sementara mereka hanya memiliki lima roti dan dua ikan (Luk 9:13b). Memang kalau mau, bisa juga diusahakan belanja makanan tambahan (Luk 9:13c), dan kalau perlu dapat menghubungi kenalan namun waktunyan sangat mepet. Ini segi-segi manusiawi yang disampaikan dalam Injil.
Ketiga belas, jelas ukuran-ukuran praktis tidak memungkinkan mengajak pesta orang banyak. Namun justru saat itu terjadi hal yang menakjubkan yang melampaui ukuran-ukuran praktis, yang melebihi kemampuan biasa. Semua orang akhirnya ikut kebagian makan, semua orang dapat ikut berpesta, bahkan tersisa dua belas bakul (Luk 9:17). Lima ribu lelaki, tak terhitung perempuan dan anak-anak, yang ikut meramaikan. Mereka ikut bergembira merayakan suksesnya misi Kerajaan Allah dan penyembuhan!
Keempat belas, apa yang terjadi? Diceritakan bahwa Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti, memberikan kepada murid-murid supaya dibagikan kepada orang banyak (Luk 9:16).
Kelima belas, penginjil Lukas menampilkan kembali kejadian ini pada saat kedua murid yang letih lesu di Emaus itu menjamu Yesus (yang telah bangkit dari kematian-Nya) di pondok mereka. Saat itu juga terbuka mata mereka (Luk 24:30-31). Ini kekhasan kedua dalam Injil Lukas berkaitan dengan peristiwa memberi makan kepada orang orang banyak.
Keenam belas, penginjil Lukas menunjukkan hubungan peristiwa Yesus memberi makan kepada lima ribu orang itu dengan kenyataan Kerajaan Allah dan kesembuhan utuh dalam diri Yesus yang bangkit yang kini dikabarkan kepada orang banyak.
Ketujuh belas, orang banyak makan sampai kenyang (Luk 9:17). Dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan yang belum termakan itu menandakan kegembiraan dan kepuasan masih cukup ada bagi siapa saja yang akan dijumpai keduabelas murid nanti, termasuk kita.
Injil yang kita renungkan dalam Perayaan Tubuh dan Darah Kristus ini mengajak kita untuk memaknai perayaan Ekaristi sebagai kenyataan yang diwartakan Injil hari ini. Dengan merayakan Ekaristi kita ikut serta merayakan keberhasilan Yesus Kristus dalam membawakan Kerajaan Allah kepada orang banyak. Dalam perayaan Ekaristi, mestinya, tidak boleh ada orang yang disingkirkan. Semuanya perlu mendapatkan kepenuhan hidup. Perayaan Ekaristi seperti ini perlu mewarnai seluruh langkah hidup keseharian kita.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
14 June 2025
ALLAH YANG KITA IMANI ADALAH ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS
ALLAH YANG KITA IMANI ADALAH ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Para Ibu dan Bapak, serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat
sejenak dan menikmati kembali rahmat Allah yang boleh kita alami selama
sepekan.
Besok kita akan merayakan pusat dan inti iman kita, Allah Tritunggal yang Mahakudus. Injil (Yoh 16:12-15) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berasal dari bagian Injil Yohanes yang menyampaikan perkataan dan doa Yesus bagi para murid seusai perjamuan malam terakhir sebelum Ia pergi bersama mereka ke taman Getsemani.
Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil
memperhatikan teks dalam Alkitab yang diberi catatan].
Pertama, setelah Yesus berangkat ke taman Getsemani bersama para murid-Nya (Yoh 14: 31b), penginjil Yohanes masih menambahkan bab 15-17, yang memuat pokok-pokok yang terpenting dalam Injil Yohanes.
Kedua, meskipun para murid belum dapat menanggung semua yang hendak disampaikan Yesus (Yoh 16:12), seperti dikatakan dalam ayat-ayat selanjutnya, Roh Kebenaran akan datang membimbing para murid ke dalam kebenaran (Yoh 16:13a).
Ketiga, Roh Kebenaran adalah daya ilahi – juga sering disebut Roh Kudus (Yoh 14:26; 20:22)– yang akan membuat para murid mengerti siapakah Yesus yang telah mereka ikuti itu. Roh ini membuat orang menemukan Yesus sebagai Tuhan Yang Mahakuasa yang hadir di tengah-tengah manusia. Yesus adalah ujud nyata bagaimana Yang Mahakuasa memperhatikan manusia.
Keempat, Roh Kebenaran bersama Yesus dan Bapa-Nya adalah daya-daya ilahi yang berpadu membawa manusia agar mengalami Tuhan Yang Mahakuasa dengan cara yang pribadi (dapat kita alami secara pribadi).
Kelima, misteri Allah Tritunggal Mahakudus dapat dipahami sebagai kesatuan antara “Pengasal” daya-daya ilahi, “Penyampai”-nya, serta “Penerus”-nya.
Keenam, “Pengasal” daya-daya itu dapat muncul dalam tiap “pengalaman religius” pada umumnya. Yang dimaksud dengan “pengalaman religius” adalah kepekaan yang ada dalam diri manusia untuk mencerap kehadiran Yang Ilahi. Namun Yang Ilahi di sini akan tetap sulit dipahami walaupun orang tidak akan meragukannya. Istilah Teologi menyebut-Nya sebagai “deus absconditus”, Tuhan yang tersembunyi.
Ketujuh, “Tuhan yang tersembunyi” ini dialami oleh Yesus sebagai Bapa. Hanya dialami “oleh Yesus”, dan bukan “oleh orang banyak”, bukan “oleh kita” atau pun “oleh para murid” sekalipun. Inilah kekhasan Injil Yohanes.
Kedelapan, Yesus menegaskan bahwa tidak ada orang yang pernah melihat Bapa. Hanya sang Putra sajalah yang melihat-Nya (Yoh 6:46). Maka siapa saja yang melihat Putra akan melihat Bapa sendiri (Yoh 14:9b). Dan dalam pewartaan Injili, yang dimaksud dengan Putra adalah Yesus yang lahir di Nazaret, menyembuhkan banyak orang, mengajar mereka mengenai Bapa-Nya, menderita, wafat dan bangkit dari kematian.
Kesembilan, melalui dan dalam diri Yesus (lihat catatan kedelapan), Yang Ilahi (=Bapa) tidak lagi melulu dialami sebagai yang tersembunyi (“Deus absconditus”) melainkan tampil sebagai “Deus revelatus”, Allah yang
yang telah terwahyukan dalam seluruh kehidupan Yesus tadi.
Kesepuluh, dalam pengertian di atas, Yesus menyampaikan kehadiran daya-daya ilahi kepada manusia. Ia membuat orang dapat mengalami daya-daya ilahi itu secara nyata ketika orang disembuhkan, pengaruh roh jahat disingkirkan, kuasa dosa dilepaskan, orang diampuni dosanya, dan penderitaan yang merendahkan kemanusiaan membuat orang sadar akan martabat manusia yang sesungguhnya. Injil menggambarkan-Nya sebagai Sabda Tuhan sendiri (Yoh 1:1).
Kesebelas, setelah Yesus tidak lagi berada di tengah-tengah manusia, datanglah penerus daya-daya ilahi, yakni Roh Kebenaran (=Roh Kudus). Roh inilah yang terus mempersaksikan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kemanusiaan. Roh inilah yang membuat kehadiran Yang Ilahi dapat dialami dalam macam-macam ujudnya di dunia kehidupan manusia: dalam perbuatan adil, dalam rekonsiliasi, dalam perbuatan baik, dalam kepedulian terhadap sesama, dll.
Merenungkan Injil ini dalam Perayaan Allah Tritunggal yang Mahakudus mengundang kita untuk semakin setia mengikuti Yesus, agar dengan terang dan bimbingan Roh Kudus, kita semakin mengenal Allah sebagai Bapa yang begitu dekat dengan manusia serta sangat peduli terhadap dan memperhatikan hidup manusia.
Selain itu, kita juga diundang untuk membuat
iman semacam ini tetap relevan bagi dan menyapa orang-orang zaman ini. Hal itu
dapat kita lakukan dengan mengembangkan secara bersamaan baik kesucian
devosional (doa, perayaan liturgi dan sakramen, ziarah, dan berbagai macam
devosi) maupun kesucian sosial (advokasi terhadap orang-orang yang
terpinggirkan: kaum perempuan, anak-anak miskin, masyarakat adat, kaum
pengungsi, kaum difabel, mereka yang kehilangan pekerjaan dan masih menganggur,
lansia yang tidak dirawat oleh anak-anaknya, dll.).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
14 June 2025
MEMBANGUN GEREJA UNTUK SEMUA ORANG
MEMBANGUN GEREJA UNTUK SEMUA ORANG
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk
beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan yang telah kita terima dari
Allah selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Pentakosta. Renungan kita kali ini akan dipusatkan pada bacaan pertama (Kis 2:1-11), yang berbicara tentang suara seperti angin taufan dari langit memasuki ruangan tempat para murid berkumpul, muncul lidah-lidah api menghinggapi mereka, dan mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa.
Apa makna ini semua bagi kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil melihat
teks dalam Alkitab yang dikomentari].
Pertama, di kalangan umat Yahudi Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50”) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Perayaan ini juga disebut dalam hubungan dengan perayaan-perayaan lain (Kel 23:14-17; 34:22; Bil 28:26-31 dan 2Taw 8:13).
Kedua, dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50” ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu kemudian juga dipakai untuk memperingati turunnya Taurat kepada Musa.
Ketiga, di kalangan umat Kristen, peringatan “hari ke-50” ini terjadi 7 minggu setelah kebangkitan Yesus dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid seperti digambarkan dalam Kis 2:1-11. Dengan kata lain, perayaan 7 minggu setelah panen gandum dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan dalam Perjanjian Baru pada panenan rohani yang kini mulai melimpah.
Keempat, ungkapan “terdengar suara seperti angin taufan dari langit” (ay. 2) dan “muncul lidah-lidah api menghinggapi mereka” (ay. 3) digunakan oleh Lukas untuk melukiskan pengalamn batin para murid Yesus; yakni saat itu murid-murid Yesus mengalami adanya kekuatan yang membuat hati mereka berkobar-kobar.
Kelima, pengalaman seperti itu sudah disinggung dalam cerita mengenai dua murid ke Emaus. Suatu ketika mereka saling berkata, “hati kita berkobar-kobar” (Luk 24:32), artinya pikiran (diungkapkan dengan “hati”) mereka tidak lagi ciut memudar, melainkan hidup menyala-nyala. Dan sekarang (dalam peristiwa Pentakosta) pengalaman dua murid itu dialami oleh semua murid yang lain.
Keenam, dikatakan bahwa para murid “mulai berbicara dalam pelbagai bahasa” (ay. 4). Maksudnya, para murid memakai bahasa biasa yang mengungkapkan pemahaman batin mereka, yang terolah matang sehingga dapat disampaikan kepada banyak orang dan dapat mereka pahami dengan mudah.
Ketujuh, dengan kata lain, Lukas tidak berpikir tentang para murid yang tiba-tiba menjadi kaum “poliglot” yang lancar berbicara sekian bahasa sampai tak terhitung jari. Lukas juga tidak bermaksud untuk membicarakan tentang “berbicara dalam bahasa-bahasa baru” (Mrk 16:17) atau “berbicara dalam bahasa lidah” (1Kor 14).
Kedelapan, di kalangan kaum intelektual waktu itu terdapat keyakinan bahwa kehidupan ini terus-menerus terancam kekuatan jahat yang siap menerkam. Maka banyak yang berusaha menjinakkannya dengan pelbagai cara. Ilmu mengenali kekuatan-kekuatan tak terlihat itu berkembang di kalangan kaum terpelajar. Umat Kristen pertama kebanyakan berasal dari kalangan agak atas dengan warisan rohani seperti itu.
Kesembilan, yang mereka lakukan sangat berbeda dengan dunia “perdukunan” yang berkembang dalam masyarakat kita. Bagi umat Kristen perdana, dunia dhemit, jimat, aji-aji, susuk, tenung, dan ilmu “namèngi” santet tidak amat diminati.
Kesepuluh, yang mereka cari adalah kepandaian untuk dapat hidup terus dalam keadaan itu. Kekuatan-kekuatan jahat itu datang dan pergi. Yang penting adalah mengenali kehadirannya dan bagaimana menghadapinya.
Kesebelas, peristiwa Pentakosta menegaskan bahwa orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam nama-Nya kini hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Kekuatan itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang memberi kebijaksanaan, membuat budi menjadi jernih, dan menuntun orang di jalan yang benar; juga memberi kepekaan untuk mengenal dunia yang tidak terlihat.
Kedua belas, Roh yang sama kini ada di tengah-tengah orang-orang yang percaya, di tengah-tengah kita. Dengan kehadiran-Nya kita tidak perlu merasa tak berdaya atau merasa takut di hadapan kekuatan-kekuatan gelap yang datang dan pergi begitu saja.
Ketiga belas, kehadiran Roh Kudus di tengah kita juga membuka dunia baru, yang akan terus berkembang sampai Yesus datang kembali. Inilah gagasan pokok yang disampaikan Lukas dalam kisah mengenai peristiwa Pentekosta ini.
Keempat belas, orang-orang yang mengalami kehadiran Roh Kudus ini juga diajak untuk peduli kepada orang-orang di sekitar, dibuatnya mengerti penderitaan orang, juga orang-orang dari kalangan lain, kalangan sederhana. Dan mereka mau melakukannya karena sudah merasa bebas dan dapat berbuat banyak berkat daya Roh Kudus. Dengan kata lain, Gereja Perdana adalah Gereja kaum yang peduli akan keadaan di masyarakat luas. Mereka tidak melulu sibuk dengan urusan-urusan mereka sendiri (Kis 2:41-47). Inilah dunia baru itu.
Merayakan Hari Raya Pentakosta mengingatkan kita agar kita tidak terbelenggu oleh slogan yang sudah sangat lama digaungkan dan dihidupi di Indonesia; yakni “Gereja adalah kita”: dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Menjadi Gereja berarti dari Roh Kudus, oleh kita dan Roh Kudus, dan untuk kesejahteraan banyak orang, khususnya mereka yang selama ini hidupnya jauh dari sejahtera (bdk. Gaudium et Spes 45; Evangelii Gaudium 182 dan 192).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
1 June 2025
HIDUP DALAM KESATUAN
HIDUP DALAM KESATUAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda bersama keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat, dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan menikmati kembali semua rahmat-Nya yang telah dianugerahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Paskah ke-7 tahun C dalam kalender liturgi, sekaligus merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-59. Injil (Yoh 17:20-26) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berisi doa Yesus agar para murid-Nya hidup dalam kesatuan.
Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil melihat dalam Alkitab ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, doa ini diucapkan oleh Yesus dalam perjamuan terakhir bersama para murid-Nya, ketika Yudas Iskariot yang dirasuki oleh Iblis sudah meninggalkan mereka. Dengan demikian, Yesus dan para murid-Nya berada dalam situasi yang bebas dari kuasa kejahatan.
Kedua, Yesus yang memikirkan para pengikut-Nya sampai saat-saat terakhir itu kini mendoakan murid-murid dan orang-orang yang bakal mempercayai pewartaab para murid mengenai diri-Nya (ay. 20). Dengan demikian, Yesus juga berdoa bagi kita di hadapan Yang Mahakuasa yang disapanya sebagai Bapa. Yesus yakin bahwa permohonan-Nya terkabul karena Ia amat dekat dengan Bapa-Nya.
Ketiga, dengan doa-Nya itu Yesus tidak ingin kalau para murid serta semua pengikut-Nya nanti mengalami perpecahan. Ia ingin menunjukkan mengapa bersatu (hidup dalam kesatuan) itu ada nilainya sendiri. Maksudnya, supaya dengan hidup dalam kesatuan itu para murid dan kita semua dapat ikut menyadari dan mengalami kesatuan antara Yesus dengan Bapa-Nya.
Keempat, Yesus berdoa agar para murid dan kita bersatu seperti Ia bersatu dengan Bapa-Nya (ay. 21a). Kesatuan Yesus dengan Bapa-Nya menjadi “paradigma”, menjadi contoh atau model bagi kesatuan dalam umat manusia. Kesatuan antara Yesus dengan Bapa-Nya adalah pola hidup yang dibangun dengan relasi kasih (Yoh 15:9-10) yang saling memberi(kan diri) [Yoh 17:10].
Kelima, kesatuan yang begitu dekat antara Yesus dengan Bapa-Nya (ay. 21a) hanya dapat kita pahami bila kita bisa mengalami kesatuan di antara kita (ay. 21a); yakni membangun pola relasi yang dilandasi oleh semangat saling mengenal (termasuk pergulatan hidupnya), saling meringankan beban kehidupan, dengan saling berbagi apa yang kita miliki.
Keenam, maksud dari doa Yesus dalam ay. 24 adalah menyatakan kepada para pembaca Injil ini untuk menyadari bahwa sejak awal Allah (Bapa) itu ada bagi siapa saja. Tidak ada yang bisa berada dan hidup tanpa kehadiran-Nya. Betapa besarnya perhatian-Nya kepada kita, kepada alam ciptaan. Ia memandangi semuanya. Kita ini menjadi bagian dari Dia (Yesus) yang dikasihi-Nya, bagian dari Yesus yang sekarang mendoakan kita.
Ketujuh, apa kaitan antara “hidup dalam kesatuan” seperti diwartakan dalam Injil yang kita renungkan ini dengan Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia? Hidup dalam kesatuan yang dimaksudkan oleh Yesus hanya mungkin dibangun bila ada komunikasi yang membuat orang mau saling mengenal, saling meringankan beban kehidupan, dan saling berbagi apa yang mereka miliki. Karenanya, medsos dan segala pirantinya mesti dijadikan sarana untuk membangun sikap hidup seperti ini.
Merenungkan Injil ini dalam Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia mengundang kita untuk bersedia menjadi teman seperjalanan bagi satu sama lain, sehingga memunculkan harapan khususnya bila kita sedang mengalami begitu banyak kesulitan.
Kita juga diundang untuk belajar berkomunikasi dengan hati yang mampu melahirkan komitmen, empati, dan kepedulian terhadap satu sama lain; sebuah komunikasi yang membantu kita untuk mengenal dan menghormati martabat satu sama lain sebagai manusia; sebuah komunikasi yang memampukan kita untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama dan tempat tinggal Allah untuk menjumpai dan mencintai umat-Nya.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
25 May 2025
BERJALAN DENGAN PANDUAN FIRMANNYA
BERJALAN DENGAN PANDUAN FIRMANNYA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk
beristirahat sejanak serta merasakan kembali semua rahmat Allah yang telah kita
terima selama sepekan.
Besok Minggu kita akan merayakan hari Minggu Paskah ke-6 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Yoh 14:23-29) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang akhir dari pesan-pesan Yesus kepada para murid pada penutupan perjamuan malam terakhir.
Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa cataran berikut [sambil
menyimak ayat-ayat dalam Alkitab yang dikomentari].
Pertama, kata-kata Yesus yang mengawali petikan Injil ini (ay. 23) menjawab pertanyaan seorang murid yang hadir dalam perjamuan terakhir, yaitu Yudas yang lain (bukan Yudas Iskariot yang baru saja meninggalkan kelompok itu). Ia bertanya mengapa Yesus akan menyatakan diri kepada mereka, yakni murid-murid itu, dan bukan kepada “dunia” (ayat 22). Maksudnya, mengapa ada perbedaan antara murid-murid dan “dunia”.
Kedua, dalam Injil Yohanes kata “dunia” menunjuk pada “tempat” kekuatan-kekuatan yang mau melawan Yang Ilahi dan tidak mau menerima kehadiran Yesus sebagai utusan dari Yang Ilahi (Allah). “Tempat” bisa berupa orang/manusia.
Ketiga, Yudas dan teman-temannya akan menjadi “murid-murid” Yesus bila mereka “mengasihi Yesus” dengan “menuruti firman-Nya” (ay. 23a dan 24a). Yang dimaksudkan dengan “firman-Ku” adalah “perintah baru untuk saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). “Perintah baru” ini tidak berasal dari Yesus, melainkan dari Allah Bapa yang mengutus Yesus (ay. 24b).
Keempat, bila mereka “saling mangasihi” (memupuk semangat sepenanggungan dan solidaritas – lihat ulasan minggu yang lalu) mereka akan dikasihi oleh Allah Bapa, dan Yesus serta Allah Bapa akan mendatangi mereka serta tinggal bersama mereka (ay. 23b). Dengan kata lain, dengan “saling mengasihi” mereka akan menghadirkan Yesus dan Allah Bapa di tengah-tengah kehidupan mereka.
Kelima, karenanya (dengan alasan catatan keempat), perpisahan antara Yesus dengan murid-murid-Nya tidak perlu menjadi hal yang menggelisahkan; bahkan seharusnyalah menjadi alasan untuk bersuka cita (ay. 28b). Sebab Yesus akan pergi kepada Bapa-Nya dan berada dengan Bapa-Nya yang Ia katakan “lebih besar daripada-Nya” (ayat 28b). Setelah itu Yesus dan Bapa-Nya akan kembali untuk berada bersama manusia.
Keenam, bagaimana “gagasan-gagasan suci” seperti itu (catatan ketiga s/d kelima) dapat diwujudkan? Jawabannya adalah Roh Kudus, Sang Penolong, yang akan diutus oleh Allah Bapa atas nama Yesus. Roh Kudus akan “mengajarkan” dan “mengingatkan” segala sesuatu yang telah dikatakan oleh Yesus kepada para murid-Nya dan kepada kita semua (ay. 26).
Ketujuh, Penolong (bahasa Yunani: Parakleetos – “para”, artinya dekat; “kleetos”, artinya yang dimintai bantuan dalam keadaan mendesak). Penolong yaitu Roh Kudus, akan menolong kita. Ia selalu bisa dimintai tolong dalam keadaan kepepet. Yang meminta Dia untuk menolong kita adalah Yesus sendiri.
Kedelapan, Roh Kudus, Sang Penolong itu selalu memperhatikan gerak gerik kita tanpa selalu kita sadari. Bila Ia mendapati kita sedang butuh bantuan, Ia akan datang sebelum kita sempat memanggil-Nya, sebab Ia sudah “diminta” oleh Yesus yang firman-Nya kita turuti.
Kesembilan, kehadiran Roh Kudus, Sang Penolong, itu ada bersama dengan murid-murid Yesus, di tengah-tengah kita. Kehadiran-Nya terjadi di tengah umat beriman, bukan dalam diri kita masing-masing. Dengan ini ingin dikatakan bahwa kehadiran Roh Kudus bukan monopoli dari orang yang hidupnya sudah beres, yang lebih berbuat banyak kebaikan, atau yang lebih saleh. Roh Kudus hadir untuk semua orang apapun keadaan mereka.
Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk menyadari bahwa untuk menjadi murid Yesus, kita perlu “saling mengasihi”, menumbuhkan dan menghidupi semangat sepenanggungan dan solidaritas. Kendati hal ini tidak mudah, namun dapat dilaksanakan karena Roh Kudus, yang telah diminta oleh Yesus, akan membantu kita.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
17 May 2025
WARISAN TERINDAH
WARISAN TERINDAH
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk menyegarkan diri, sekaligus mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah kelima tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Yoh 13:31-33a.34-35) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memuat pesan-pesan terpenting Yesus kepada murid-murid-Nya.
Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah
kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil
melihat dalam Alkitab ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, pesan-pesan Yesus yang termuat dalam Injil yang kita renungkan ini diucapkan pada waktu Ia sedang makan malam yang terakhir kalinya bersama murid-murid-Nya. Perjamuan terakhir adalah semacam perpisahan sebelum Yesus pergi kepada Bapa-Nya untuk menyiapkan tempat di atas sana (Yoh 14:2). Apa yang bakal diperbuat seorang guru dalam saat-saat terakhir? Ia akan memberikan “warisan terindah” kepada para murid-Nya.
Kedua, pada kesempatan itu Yesus mengatakan bahwa salah seorang dari mereka akan menyerahkan-Nya (Yoh 13:21). Hubungan guru-murid yang hingga saat itu baik kini mulai diganggu oleh kekuatan gelap.
Ketiga, ketika Yohanes (“murid yang dikasihi" – Yoh 13:23) bertanya kepada Yesus, siapa yang dimaksud (Yoh 13:25), Yesus menjawab bahwa dia yang akan diberinya roti sesudah dicelupkannya, itulah orangnya (Yoh 13:26a). Kemudian Ia memberikan roti itu kepada Yudas Iskariot (Yoh 13:26b). Dikatakan dalam Injil Yohanes bahwa sesudah itu Yudas Iskariot kerasukan Iblis (Yoh 13:27).
Keempat, Yudas kerasukan Iblis justru pada saat Yesus memberinya roti yang sudah dicelup; artinya makanan yang siap untuk disantap yang diberikan oleh tuan rumah kepada orang yang diundangnya. Sampai saat itu Yesus masih menganggap Yudas sebagai orangnya sendiri, termasuk keluarga, yang diajak makan bersama.
Kelima, namun justru pada saat itulah kekuatan gelap yang melawan Yesus membadan dalam diri seorang manusia. Dan bukan sembarang orang, melainkan orang yang amat dekat dengan-Nya. Yudas adalah salah seorang murid yang diberi kepercayaan besar oleh Yesus untuk “memegang kas” komunitas para murid-Nya (Yoh 13:29a).
Keenam, Yohanes menyampaikan peristiwa ini untuk menyadarkan kita bahwa kekuatan-kekuatan gelap itu bisa juga memakai cara-cara yang dipakai Allah sendiri. Allah memakai ujud manusia (Yesus) untuk menjalankan karya penebusan. Sementara itu, kekuatan-kekuatan yang melawan karya ilahi (Iblis) itu kini juga memakai ujud manusia juga (Yudas). Ironisnya, keduanya saling mengenal dan amat dekat satu sama lain.
Ketujuh, Injil yang kita renungkan ini mulai dengan menyebut “setelah Yudas pergi” (Yoh 13:31). Dengan perginya Yudas dari kumpulan itu hendak dikatakan bahwa dalam saat-saat itu Iblis tidak hadir mengancam kelompok para murid. Kata-kata Yesus mulai saat itu boleh diterima para murid tanpa khawatir dikelirukan oleh kekuatan-kekuatan yang bisa mengalihkan maksudnya. Mereka kini mengalami suasana yang bersih dari kekuatan jahat.
Kedelapan, dalam saat-saat yang khusus inilah Yesus menyampaikan “wasiat terindah-Nya” kepada para murid-Nya; yakni mengenai Anak Manusia yang dimuliakan dan mengenai Allah yang dimuliakan di dalam Dia (Yoh 13:31b-32). Juga tentang perintah baru yang diberikan Yesus kepada murid-murid untuk saling mengasihi “sama seperti” Dia sendiri mengasihi mereka (Yoh 13:34).
Kesembilan, perintah baru untuk saling mengasihi, yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya, berisi kekuatan yang maha hebat yang dapat menyingkirkan daya-daya gelap yang mengurung kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesepuluh, daya-daya gelap yang paling hebat dan yang paling menakutkan serta paling sulit ditangkal adalah kekuatan-kekuatan yang sudah lama merasuk di dalam diri manusia dalam ujud kecenderungan yang mau meniadakan kemanusiaan itu sendiri; yakni yang mau menjauhkan manusia dari Allah yang diperkenalkan oleh Yesus sebagai Bapa.
Kesebelas, Allah sebagai Bapa adalah Allah yang sangat dekat dengan manusia, yang mau berjalan bersama manusia untuk meringankan beban hidupnya serta memberikan yang terbaik bagi dirinya; Allah yang sangat peduli terhadap penderitaan manusia; Allah yang dapat dipercaya dan diandalkan; Allah yang maharahim, yang selalu memberi peluang baru kepada manusia; Allah yang memberikan hidup secara berkelimpahan.
Kedua belas, Yesus sang Guru itu mengantar manusia untuk mengenal Allah yang disebut-Nya sebagai Bapa, dan mengajarkan bagaimana hidup terus di tengah-tengah daya-daya gelap itu, yakni dengan saling mengasihi (Yoh 13:34a; 35b; lihat juga Yoh 15:17).
Ketiga belas, para murid diminta untuk saling mengasihi “sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 13:34). Kata “seperti” (Yunani: “kathoos”—harfiahnya “seperti halnya”) maknanya lebih dekat dengan “karena. Dengan kata lain, para murid diminta oleh Yesus untuk saling mengasihi, “karena” Yesus telah mengasihi mereka. Perintah saling mengasihi diberikan justru karena Yesus telah mengasihi mereka. Para murid TIDAk diminta untuk saling mengasihi dengan “cara yang persis sama” seperti yang dilakukan Yesus.
Keempat belas, barangkali “saling mengasihi” dapat dibahasakan bagi orang sekarang dengan kata “sepenanggungan”, “solidaritas”. Maksudnya, orang mau saling menanggung kesulitan, mau saling menanggung beban kehidupan. Bila ada solidaritas, orang mulai mudah saling percaya. Dan bila orang mulai makin saling percaya, hubungan-hubungan selanjutnya dapat terbangun. Kesulitan pun tidak lagi membuat orang menjadi putus asa.
Perintah Yesus untuk “saling mengasihi” mengundang kita untuk menemukan jalan-jalan baru yang belum terpikirkan sebelumnya guna mewujudkannya. Setiap dari kita dapat menghidupkan secara kreatif dan orisinil apa itu kasih kepada sesama dengan pelbagai cara. Bila hal ini kita lakukan, kreativitas “saling mengasihi” akan membuka wilayah-wilayah kehidupan baru.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.