20 September 2025
ALLAH BEGITU MENCINTAI DUNIA
ALLAH BEGITU MENCINTAI DUNIA
Para Ibu dan Bapak, serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat sambil merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci. Dalam Injil (Yoh 3:13-17) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi dibicarakan tentang bagaimana orang dapat sampai ke hidup kekal.
Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah
kira renungkan bersma dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [dengan
membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, konteks petikan Injil yang kita renungkan ini adalah percakapan Nikodemus dengan Yesus. Nikodemus, “seorang Farisi dan pemimpin Yahudi” (Yoh 3:1), adalah orang yang berpengalaman dan bijaksana. Dari pengajaran dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, ia sudah dapat menyimpulkan bahwa melalui Yesus, Allah Yang Maha Kuasa kini sedang mendatangi umat-Nya. Semua ini diutarakannya kepada Yesus sambil mengharapkan pencerahan lebih jauh (Yoh 3:2b).
Kedua, Nikodemus datang kepada Yesus pada waktu malam (Yoh 3:2a). “Malam” adalah saat hadirnya kegelapan dan kuasanya terasa mencengkam. Dengan menggunakan ungkapan ini, Yohanes ingin mengajak para pembaca untuk mengingat kembali bahwa Yesus yang didatangi oleh Nikodemus itu adalah Terang yang ia wartakan pada awal injilnya (Yoh 1:4-9).
Ketiga, maksud dari berbagai macam mukjizat yang dilakukan Yesus, yang tentunya disertai Allah itu, adalah untuk menghadirkan kenyataan apa itu Kerajaan Allah! Bagaimana orang dapat memasukinya? Jawabannya adalah “dilahirkan kembali” (Yoh 3:3).
Keempat, jawaban Yesus itu menimbulkan pertanyaan lebih lanjut: Bagaimana orang “setua” dia, setua kita, dapat lahir kembali (Yoh 3:4a)? “Tua” maksudnya, “orang yang sudah jauh melangkah di jalan lain.” Orang seperti ini dapatkah mendapatkan hidup baru? Sepadankah pengorbanan yang harus dibuat (=meninggalkan jalan lain yang telah ditempuhnya) dengan hidup baru yang akan diperoleh? Itulah maksud pertanyaan Nikodemus dalam Yoh 3:9.
Kelima, jawaban Yesus terhadap pertanyaan itu berupa kesaksian mengenai Diri-Nya (Yoh 3:13); yakni, Ia datang dari atas sana. Karena itulah Ia dapat membawakan Kerajaan Allah kepada orang banyak. Yesus adalah orang yang sudah mengalami apa itu lahir kembali dari atas sana, dan yang kini hidup dalam roh. Untuk mengalami bagaimana lahir dalam roh, jalannya adalah berbagi hidup dengan Yesus yang sungguh sudah ada dalam keadaan itu.
Keenam, Yoh 3:14 merujuk kepada sebuah pengalaman umat Perjanjian Lama di padang gurun. Dalam berjalan mendekat ke Tanah Terjanji dulu, umat Israel mengalami macam-macam bahaya. Salah satu yang paling mengerikan adalah “ular-ular tedung” yang mematikan itu (Bil 21:4-9). Orang yang dipagut oleh ular ini tidak ada kemungkinan selamat (ay. 6). Dalam kisah itu, malapetaka tersebut digambarkan sebagai akibat kurangnya kepercayaan mereka sendiri terhadap Allah (ay. 4b-5).
Ketujuh, mereka memang akhirnya meminta agar Musa memohonkan belas kasihan Yang Maha Kuasa (ay. 7a). Begitulah, Musa diperintahkan Allah membuat ular dari tembaga dan memancangnya pada sebuah tiang. Yang dipagut ular akan tetap hidup bila memandangi ular tembaga tadi (ay. 8-9).
Kedelapan, memandangi ular tembaga itu menjadi ungkapan kepercayaan pada Sabda Allah yang menjadi harapan satu-satunya untuk dapat terus hidup menempuh perjalanan di padang gurun sampai ke Tanah Terjanji.
Kesembilan, bagi pembaca Injil Yohanes, Tanah Terjanji kini adalah Kerajaan Allah yang dibawakan Yesus ke dunia kepada semua orang, bukan hanya kepada umat Perjanjian Lama. Untuk mencapainya, jalan satu-satunya adalah tetap mengarahkan pandangan kepada salib, menaruh kepercayaan dan harapan kepada Yesus yang disalib, yang diangkat seperti ular tembaga tadi. Mengapa?
Kesepuluh, jawabannya terdapat dalam Yoh 3:16: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Dalam ayat ini diwartakan begitu besar perhatian Allah, yang membuat jagat ini dapat terus berlangsung.
Kesebelas, Allah yang memiliki perhatian yang begitu besar terhadap dunia tersebut, diperkenalkan oleh orang yang paling dekat dengan-Nya; orang yang telah menyelami dan hidup dari Dia. Inilah arti kata “anak” yang diterapkan kepada Yesus oleh Injil Yohanes. Pemakaian kata “tunggal” di situ dimaksud untuk memperjelas bahwa tiada yang lebih dekat dengan Allah seperti itu (catatan kesepuluh) daripada Yesus sendiri.
Kedua belas, kasih Allah yang begitu besar kepada dunia (Yoh 3:16a) diwujudkan dengan “telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16b). Ayat ini mengacu pada peristiwa penyaliban Yesus di Golgota, yang merupakan penyerahan diri secara total kepada Allah dan ungkapan kepercayaan utuh kepada-Nya.
Ketiga belas, penyerahan Diri sepenuhnya kepada Allah itu membuka jalan kehidupan kekal. Itulah ungkapan lain dari peristiwa kebangkitan. Inilah yang dibagikan Yesus kepada orang-orang yang mau mempercayai arti penyerahan diri-Nya kepada Allah tadi. Dan baru dengan demikian orang dapat ikut mengalami apa itu dikasihi Allah sehingga memperoleh kehidupan kekal (Yoh 3:16c).
Keempat belas, yang diutarakan di atas adalah pengalaman iman dari para pengikut Yesus yang pertama, yang kemudian dituliskan dalam bentuk Injil oleh Yohanes. Kita boleh bertanya, bila benar Allah sungguh telah memberi perhatian khusus kepada dunia agar dunia selamat, bagaimana bisa dijelaskan masih adanya begitu banyak hal yang tidak beres, dan rasanya malah kekacauan semakin menjadi-jadi. Benarkah Kerajaan Allah sudah datang?
Menjawab pertanyaan itu, Injil Yohanes memberi sebuah kesaksian, yakni bahwa Allah tidak menghendaki kebinasaan. Yang dimaui-Nya adalah kehidupan kekal bagi semua orang, bagi dunia. Yang perlu dilakukan manusia adalah berani menerima kebaikan-Nya dan mempercayai-Nya. Hal ini dilakukan dengan upaya untuk tidak ikut menambah “kerusakan” yang terjadi, melainkan ikut mencegah perluasannya dengan melakukan langkah-langkah kebaikan sekecil apapun guna merawat kehidupan.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
6 September 2025
MEMASUKI KERAJAAN ALLAH DENGAN MENGIKUTI YESUS
MEMASUKI KERAJAAN ALLAH DENGAN MENGIKUTI YESUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Pada hari Minggu kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-23 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 14:25-33) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memuat ajaran Yesus tentang syarat-syarat menjadi murid-Nya agar orang dapat memasuki perayaan pesta dalam Kerajaan Allah.
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan
bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab
untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, pada awal kisah ini (ay. 25) disebutkan bahwa banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Yang dimaksudkan dengan “perjalanan-Nya” adalah perjalanan Yesus ke Yerusalem, ke tempat Ia akan ditolak dan dibunuh dengan disalibkan, tetapi dibangkitkan oleh Allah setelah wafat-Nya.
Kedua, dengan mengawali kisah seperti itu, Lukas ingin mengajak para pembaca bertanya: Apakah orang-orang itu—dan para para pembaca sendiri, kita semua—akan berani mengikuti-Nya terus sampai ke akhir perjalanan-Nya?
Ketiga, menurut para ahli tafsir, kata-kata Yesus dalam ayat 25-33 ini disampaikan oleh Lukas guna menjelaskan maksud perumpamaan tentang seorang tuan rumah yang mengadakan perjamuan dalam Luk 14:15-24.
Keempat, dalam perumpaan tersebut (Luk 14:15-24) dikatakan bahwa semua yang menyanggupkan diri untuk datang ikut perjamuan, kini berdalih dengan macam-macam alasan untuk tidak datang (ay. 18-20). Saking kesalnya, tuan rumah itu kemudian menyuruh hamba-hambanya mengumpulkan orang miskin, orang cacat, orang buta dan orang lumpuh agar datang memenuhi rumahnya (ay. 21c).
Kelima, dalam sejarah tafsir, acap kali “para undangan yang tidak jadi datang” tadi dikenakan kepada orang Yahudi, “umat terpilih zaman dulu”. Bagian mereka dalam perjamuan itu kini diberikan kepada “umat baru”. Namun hal yang sama bisa berlaku pula bagi siapa saja yang memperoleh ajakan menjadi “umat baru” tetapi kemudian mangkir.
Keenam, apakah status sebagai “orang miskin, penyandang cacat, buta, lumpuh”, status sebagai “umat baru” merupakan jaminan menikmati kelimpahan tuan rumah tadi? Dengan kata lain, mendapat tiket gratis masuk kedalam Kerajaan Allah?
Ketujuh, persoalan ini (catatan keenam) menjadi masalah hangat dalam kehidupan Gereja sejak awal. Luk 14:25-33 (yang sedang kita renungkan) memuat salah satu pemecahan. Ditegaskan bahwa agar benar-benar dapat memasuki Kerajaan Allah orang perlu menjadi murid Yesus. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi.
Kedelapan, syarat pertama (ay. 26) orang perlu “membenci” orangtua, keluarga, sanak, dan bahkan nyawa sendiri. Hal ini kedengarannya sangat keras. Dalam gaya bicara orang Semit, yang dipakai dalam kumpulan kata-kata Yesus, ungkapan “membenci” biasa didigunakan untuk menggambarkan “sikap tidak memihak”.
Kesembilan, yang dimaksudkan dalam syarat pertama adalah, dalam mengikuti jalan menuju Kerajaan Allah orang diingatkan agar tidak menjadikannya sebagai perkara “mengurus nyawa sendiri” (mengurus keselamatan sendiri), dan membawahkannya pada kelembagaan sosial yang tumbuh dari ikatan-ikatan keluarga.
Kesepuluh, syarat kedua adalah “mengangkat salib” dan “mengikuti Yesus” (ay. 27). Artinya, mengikuti jejak langkah Yesus meniti jalan yang sama; yakni, memahami nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Yesus (= mengutamakan kehendak Allah, kesetaraan, persaudaraan, kasih, keadilan, kepedulian terhadap sesama, khususnya yang sangat membutuhkan, rela berkurban) dan menjadikannya sebagai nilai-nilai hidup kita.
Kesebelas, “mengangkat salib” dan “mengikuti Yesus” tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Dengan cara ini, kita tidak hanya akan ikut mengalami penderitaan Yesus, tetapi juga mengalami kemuliaan-Nya.
Keduabelas, syarat ketiga adalah melepaskan harta milik (ay. 33). Syarat ini ada kaitannya dengan salah satu kekhususan Kerajaan Allah dalam perspektif Lukas; yakni, perhatian kepada orang yang miskin. Kerajaan Allah dapat diwujudkan ketika orang yang memiliki kelebihan rela menggunakan kekayaannya dengan membantu mereka yang kurang mempunyai. Untuk itu perlu ada sikap merdeka terhadap harta.
Ketigabelas, syarat ketiga disampaikan sesudah Yesus menyampaikan perumpaan tentang pentingnya membuat anggaran yang cukup sebelum mulai membangun (ay. 28-30) dan memperhitungkan kekuatan sendiri masak-masak sebelum mulai berperang (ay. 31-32). Kedua perumpamaan itu mengajarkan agar orang yang ingin menjadi murid Yesus perlu belajar mempertanggungjawabkan rencana yang penting dengan cara yang matang.
Merenungkan Injil ini mengajak kita untuk bertanya diri dengan sungguh-sungguh. Benarkah kita ingin mengikuti Yesus, menjadi murid-murid-Nya? Mengikuti Yesus tidak hanya berhenti pada memahami ajaran-ajaran Gereja dan rumus-rumus hukum Kanonik, serta kasalehan ibadat belaka.
Menjadi murid Yesus adalah sebuah gaya hidup
yang membentuk “umat”, membentuk masyarakat yang memberi ruang hidup bagi siapa
saja yang hidup di dalamnya.
Mengikuti Yesus berarti mau belajar untuk
semakin memperhatikan orang-orang yang tidak memiliki kesempatan cukup untuk
maju. Mereka itu juga berhak mendapat bagian dalam kelimpahan yang dipunyai
oleh para murid Yesus.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
25 August 2025
PERLU MELEWATI PINTU SEMPIT
PERLU MELEWATI PINTU YANG SEMPIT
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Selamat berjumpa kembali. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-21 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 13:22-30) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Yesus yang sedang meneruskan perjalanannya ke Yerusalem, mengajar dari kota ke kota dan wilayah di sekitarnya. Salah seorang pengikut-Nya menanyakan apakah hanya sedikit orang yang akan diselamatkan. Yesus menjawab pertanyaan itu dengan sebuah pengajaran. Ia menggunakan kiasan “pintu sempit” dan “pintu tertutup”.
Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka
Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, kota Yerusalem yang menjadi tujuan akhir perjalanan Yesus dalam perikopa yang kita renungkan ini, dieja sebagai “Hierosolyma” (bhs. Yunani – kota suci) seperti dalam Luk 19:28. Dengan ejaan ini, ingin ditekankan kota Yerusalem yang menerima kehadiran Yesus. Sebaliknya, bila dieja sebagai “Ierousaleem” seperti dalam Luk 9:51, ingin ditekankan Yerusalem sebagai kota yang menolak kedatangan Yesus.
Kedua, dalam konteks perjalanan Yesus ke arah Yerusalem-Hierosolyma (kota yang menerima kehadiran-Nya) itulah Lukas mengolah lebih lanjut ajaran Yesus mengenai bagaimana orang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (=memperoleh keselamatan).
Ketiga, kata-kata Yesus dalam perikopa ini, ditampilkan oleh penginjil Lukas kepada orang-orang yang sudah bersimpati terhadap ajaran-Nya. Bagi orang-orang yang sudah bersedia menerima Yesus, dapatlah diungkapkan beberapa ajaran yang bakal terasa agak keras.
Keempat, orang-orang tersebut sudah bersama Yesus, tetapi janganlah mereka kemudian merasa terlalu yakin bakal selamat dan menjadi alpa. Mereka diingatkan bahwa perjalanan (ke Yerusalem) ini belum selesai; dan agar orang dapat sampai ke sana, mereka perlu memperhatikan beberapa hal.
Kelima, bagian Injil (perikopa) yang kita renungkan kali ini sebetulnya mengolah pertanyaan kepada Yesus apakah sedikit saja yang bakal selamat (ay. 23). Yesus tidak memberi jawaban yang sudah jadi. Ia mengajarkan bagaimana mencapai keselamatan itu, dengan menggunakan kiasan “pintu sempit” (ay. 24) dan “pintu tertutup” (ay. 25).
Keenam, kiasan “pintu” digunakan untuk menggambarkan perihal memasuki Kerajaan Allah (=mencapai keselamatan). Kedua-duanya menggambarkan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah tidak mudah. Perlu ada upaya khusus. Orang harus dapat melewati pintu yang sempit dan jangan datang terlambat sehingga mendapati pintu sudah tertutup.
Ketujuh, kata-kata Yesus mengenai sulitnya memasuki pintu yang sempit, sebetulnya menyampaikan ajakan agar orang berani mengecilkan diri dalam upaya memasuki Kerajaan Allah. Orang yang membesar-besarkan diri akan sulit memasuki pintu Kerajaan Allah.
Kedelapan, Kerajaan Allah mengajarkan agar orang tahu diri di hadapan Allah yang Mahabesar. Orang yang mengecilkan diri akan mampu mengalami betapa besarnya Allah. Dengan demikian Yang Ilahi itu betul-betul menjadi bagian kehidupannya.
Kesembilan, upaya mengecilkan diri ini bukan barang asing dalam tradisi iman Katolik. Berbagai macam aliran ajaran spiritualitas melatihkannya. Namanya macam-macam: askese, laku tapa, latihan kerendahan hati, mengosongkan diri, melepaskan kekayaan (=segala sesuatu yang menjadi jaminan rasa aman), dan seterusnya. Tujuannya sama, yakni membuat diri kecil di hadapan Allah yang Mahabesar.
Kesepuluh, pintu yang sudah ditutup dalam ayat 25 disampaikan sebagai ajaran agar orang tetap berjaga-jaga. Jangan sampai orang terlalu merasa sudah aman (=yakin sudah diselamatkan) dan berlaku seenaknya atau malah bermain-main menikmati “kebebasan” di luar dengan melakukan kejahatan (ay. 27b). Orang yang demikian tidak akan dikenal oleh Allah dan tidak diperkenankan masuk ke dalam Kerajaaan-Nya (ay. 25b dan ay. 27).
Merenungkan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa dengan dibaptis tidak berarti kita telah menjadi Katolik. Dengan memeluk agama dan melakukan segala peraturannya, tidak memberi jaminan bahwa kita akan selamat. Keselamatan akan kita alami bila kita benar-benar memberi tempat kepada Allah dalam hidup kita. Kedekatan kita dengan Allah ini akan tercermin dalam upaya kita untuk membuat hidup kita sungguh bermakna dan berdampak bagi kesejahteraan sesama, keluarga, komunitas, tempat kerja, dan masyarakat di mana kita tinggal.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
10 August 2025
MENGHADIRKAN SURGA NYATA BAGI SEMUA
MENGHADIRKAN SURGA
NYATA BAGI SEMUA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan guna beristirahat sejenak dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga. Perayaan ini biasanya dirayakan pada 15 Agustus. Injil (Luk 1:39-56) yang akan kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi besok terdiri dari tiga bagian; yakni kisah Maria mengunjungi Elisabet (ay. 39-45), Kidung Pujian “Magnifikat” (ay. 46-55), dan ay. 56 sebagai penutup kisah.
Apa makna semuanya
ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa
catatan berikut [sambil memegang Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi
catatan].
Pertama, ada empat ajaran iman Gereja (dogma) tentang Maria: (1) Maria tetap Perawan (Konsili Konstantinopel II, pada tahun 553), (2) Maria Theotokos (Maria Bunda Allah -- Konsili Efesus, pada tahun 431), yakni Maria mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus, (3) Maria dikandung tanpa noda dosa asal (Paus Pius IX pada 1854), dan (4) Maria diangkat ke surga jiwa dan badan (Paus Pius XII pada tahun 1950). Dogma nomor 4 ini yang akan kita rayakan besok.
Kedua, injil Lukas 1:39-45 mengisahkan dua orang perempuan yang mendapati diri beruntung sekaligus merepotkan. Elisabet yang termasuk kaum yang kena aib karena tidak mengandung sampai usia senja kini akan melahirkan Yohanes Pembaptis (bdk. Luk 1:24-25). Maria sendiri harus melewati hari-hari tidak mudah memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan dirinya yang mengandung kepada Yusuf, tunangannya. Ia bertanya kepada malaikat yang datang kepadanya, bagaimana mungkin semuanya terjadi. Jawab malaikat menunjuk pada peran Roh Kudus (bdk. Luk 1:31-35).
Ketiga, baik Elisabeth maupun Maria membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri mereka. Roh Kuduslah yang memampukan Elisabeth melihat Maria sebagai ibu Tuhan yang mengunjungi dirinya (ay. Luk 1:41b-43). Roh Kudus itu pulalah yang memampukan Maria mengatakan “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” Luk 1:38), serta mengidungkan “Kidung Pujian” (Magnifikat” – Luk 1:46-55).
Keempat, kidung “Magnifikat” mulai dengan pujian bagi Tuhan yang turun ke bumi untuk menyelamatkan umat-Nya. Ia membuat hidup ini berarti. Ia membuat penderitaan bermakna (Luk 1:46-47).
Kelima, dalam ay. 48 diungkapkan pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil sehingga mereka menjadi besar di mata orang lain. Diwartakan kebesaran Tuhan yang tidak takut berdekatan dengan orang kecil, karena orang kecil dan sederhana biasanya ingat akan Tuhan; dan itu cukup membuat-Nya menemukan kembali secercah kegembiraan yang telah hilang dari surga dulu setelah manusia diusir dari sana (lih. Kej 3:23-24).
Keenam, Luk 1:49-55 merupakan pembacaan kembali riwayat terjadinya umat Israel. Ditekankan tindakan-tindakan besar Tuhan yang membela orang-orang yang dikasihi-Nya di hadapan pihak-pihak yang menindas mereka.
Ketujuh, sering ada anggapan bahwa penderitaan, kemelaratan, ketidakberuntungan, dan aib sebagai hukuman dari Allah bagi suatu kesalahan. Juga dianggap bahwa hukuman bisa juga diturunkan kepada keturunan orang yang bersalah. Dosa menurun, hukuman berkelanjutan.
Kedelapan, dalam Kidung Magnifikat pendapat seperti ini (catatan ketujuh) tidak diikuti. Malah ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya kepada-Nya, yang meminta pertolongan dari-Nya.
Kesembilan, bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa? Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang beruntung.
Kesepuluh, sebaliknya, bila orang yang beruntung membiarkan kekayaan, kedudukan, dan kepintarannya hanya dinikmati untuk dirinya sendiri dan membuat sesama yang kurang beruntung menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju, yang disampaikan dalam ay. 52-53 akan menimpa mereka; yakni, kaum congkak hati akan diceraiberaikan, orang berkedudukan akan direndahkan, orang kaya akan disuruh pergi dengan tangan hampa.
Kesebelas, kidung Magnifikat mengajak orang-orang yang merasa beruntung diberkati oleh Tuhan dengan kelebihan dan keberuntungan, bukan untuk menikmati keberuntungan itu bagi dirinya sendiri, melainkan untuk memungkinkan sesama ikut beruntung. Kepercayaan akan kebesaran Tuhan dapat membuat manusia semakin peka dan mencari jalan memperbaiki kemanusiaan sendiri. Yang dibuat oleh Maria dan Yesus dalam perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11) merupakan salah satu contohnya.
Merayakan Bunda Maria yang diangkat ke surga hanya seminggu sebelum kita merayakan Hari Kemerdekaan bangsa dan negara kita yang ke-80, mengundang kita untuk bertanya: Apa yang perlu dan bisa kita lakukan agar “perbuatan-perbuatan besar Allah” (Luk 1:49) dapat dialami juga oleh ratusan juta rakyat Indonesia yang hidupnya masih jauh dari beruntung, sehingga surga juga menjadi pengalaman nyata bagi mereka? Semoga Tuhan berkenan menunjukkan jalan-Nya dan kita bersedia merengkuhnya.
Catatan:
Berhubung
saya akan berada dalam perjalanan pada 14 s/d 20 Agustus 2025, maka saya tidak
akan dapat mengirimkan renungan pada 16 Agustus 2025.
Teriring
salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
2 August 2025
HARTA BAGI KEHIDUPAN
HARTA BAGI KEHIDUPAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Selamat berjumpa kembali setelah 3 minggu saya tidak bisa hadir melalui renungan-renungan yang saya kirim. Semoga Anda bersama keluarga, sanak-saudara, teman serta sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat dan menikmati kembali semua rahmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu ke-18 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 12:13-21) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang orang yang datang kepada Yesus memohon bantuan untuk menyelesaikan perkara warisan.
Apa makna kisa ini bagi kehidupan kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil menyimak
Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, pada zaman itu dalam menyelesaikan perkara serius (seperti sengketa warisan), orang lazim pergi menghadap tokoh yang dituakan, guru, pemuka adat, atau tokoh yang wibawanya diterima umum. Yesus diakui sebagai “Guru” (ay. 13b), yang memiliki wibawa yang diterima umum. Orang-orang menghormati wibawa-Nya.
Kedua, di bawah pemerintahan Romawi, pada prinsipnya semua perkara diatur oleh hukum Romawi. Bahkan digariskan pula sampai mana dan bagaimana hukum adat dan agama Yahudi bisa diberlakukan. Keputusan dalam hukum adat bertambah kuat bila diberi pengesahan menurut hukum Romawi. Sering perkara jual beli atau pembagian milik menurut adat dibawa ke lembaga resmi Romawi untuk dicatat dan diresmikan.
Ketiga, barangkali demi alasan di atas (catatan kedua) Yesus tidak bersedia menjadi hakim bagi perkara warisan tersebut (ay.14). Soal sengketa warisan itu dapat diurus dengan pihak yang lebih berwenang, khususnya dalam urusan hukum. Dengan demikian, penyelesaiannya akan lebih terjamin.
Keempat, sudah menjadi kebiasaan pada zaman itu bahwa orang yang datang ke pada orang yang dihormati, seorang guru, tidak akan pulang dengan tangan hampa meskipun permintaannya tidak dikabulkan atau permasalahannya tidak mendapat penyelesaian. Begitu pula Yesus, yang disapa sebagai “Guru” itu, tidak menyuruh orang yang minta bantuan-Nya tadi pergi tanpa bekal. Yesus memberikan ajaran tentang sikap hidup yang jauh lebih berharga daripada penyelesaian urusan warisan.
Kelima, orang tersebut diberi nasihat agar berhati-hati dalam berurusan dengan harta, agar jangan serakah dan rakus (ay. 15), melainkan menjadi “kaya di hadapan Allah” (ay. 21b). Nasihat ini kemudian dijelaskan dengan perumpamaan orang kaya yang bodoh (ay. 16-21).
Keenam, dalam perumpamaan ini nampak betapa kosongnya kehidupan orang kaya tersebut. Ia tidak mempunyai teman bicara. Ia hanya berbicara dengan diri sendiri (ay. 17-19). Ia bahkan tidak minta keringanan kepada Allah yang berfirman kepadanya bahwa malam itu jiwanya akan diambil (ay. 20).
Ketujuh, orang itu tidak tahu bagaimana mengisi kesepian hidupnya. Ia justru makin mengisolasi dirinya dengan membangun lumbung yang makin luas dan yang akhirnya malah menguburkan dirinya hidup-hidup (ay. 18). Suara hatinya sedemikian tertimbun oleh kekayaannya sendiri. Ia bahkan tidak sempat menjadi kawan bagi dirinya sendiri.
Kedelapan, orang kaya seperti itu kerapkali juga memperlalukan orang-orang yang mengitari dirinya sebagai milik belaka. Meskipun mereka menemani pesta dan mengawani bercanda, tetapi mereka jarang berperan sebagai pribadi-pribadi. Hanya sebagai milik yang bisa disimpan di lumbung. Sikap seperti itulah seringkali merupakan awal mula perpecahan persahabatan dan kerontokan hidup keluarga.
Kesembilan, dalam kesadaran religius umum pada waktu itu harta adalah berkat (dari) Allah, yang mesti dikembangkan seperti talenta dan tidak dipendam atau dijauhi. Yang mempunyai harta, dapat makin menikmati-nya dengan mengajak orang banyak ikut menikmatinya juga.
Kesepuluh, kebodohan mulai pada kemalasan untuk mengamalkan kekayaan itu. Di situlah mulai terjadi ketamakan (Yunani: “pleonexia” – ay. 15); yakni, sikap penuh dengan diri sendiri dan tidak butuh berbuat apa-apa lagi kecuali memiliki, memiliki, dan memiliki entah harta, entah pangkat, entah keahlian.... Tetapi gaya hidup seperti itu nanti akan membuat orang yang bersangkutan tidak berarti apa-apa.
Kesebelas, melalui perumpamaan ini Yesus mengajak orang yang datang kepada-Nya dan semua orang yang hadir di situ (= “mereka” dalam ay. 16a) untuk menjadi “kaya di hadapan Allah” (ay. 21b). Mereka diajak agar tidak mengubur diri mereka dengan harta milik atau apa saja yang diperlakukan sebagai harta milik.
Kedua belas, bagi penginjil Lukas orang yang sudah benar-benar tampil sebagai pribadi yang sungguh “kaya di hadapan Allah” adalah Yesus. Keilahian yang Ia miliki, Ia pasrahkan kepada kemanusiaan (bdk. Fil. 2:6-7) dengan konsekuensi Ia harus menderita, bahkan mati di kayu salib (ay. 8). Berkat tindakan-Nya ini kemanusiaan memperoleh kembali kehidupan mereka dengan ikut menikmati kebangkitan-Nya.
Merenungkan Injil hari ini kita diundang untuk menjadi “pribadi yang kaya di hadapan Allah” dengan pandai-pandai mengelola harta sebagai bagian kehidupan dengan mengamalkannya kepada banyak orang yang sangat membutuhkan. Sejalan dengan itu, kita juga diundang untuk memperlakukan saudara, anak, istri, suami, anggota komunitas, kolega, teman dan sahabat, serta orang lain bukan sebagai “barang milik”. Dengan cara ini kita akan memecahkan isolasi diri. Tentu dengan segala konsekuensinya, termasuk kesediaan untuk ikut berbagi penderitaan, ikut menanggung kesusahan, dan ikut merasakan keprihatinan yang mereka alami.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
5 July 2025
KITA PUN DIUTUS OLEH YESUS
KITA PUN DIUTUS OLEH YESUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat pagi. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak
beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah Ia limpahkan
kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-14 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk. 10:1-12; 17-20) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi bekisah tentang pengutusan 70 orang murid yang lain.
Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah
kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut (sambil
membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari).
Pertama, kisah pengutusan 70 murid hanya ditemukan dalam Injil Lukas. Kisah ini didasarkan pada pengutusan para murid “Yang Duabelas” (berkebangsaan Yahudi), yang berisi pesan-pesan yang mirip, seperti terlihat dalam Luk. 9:1-6 dan 22:35-38.
Kedua, angka “70” memiliki arti simbolik, yaitu kelipatan terbesar (“10”) dari kelompok yang utuh (“7”). Maksudnya, “semua orang, siapa saja yang menjadi murid Yesus”. Jadi bukan hanya para murid “Yang Duabelas”, yang berasal dari kalangan Yahudi, melainkan juga mencakup orang-orang bukan Yahudi, yang menjadi murid Yesus.
Ketiga, angka “70” juga mengingatkan para pembaca akan 70 tetua yang ditetapkan Musa untuk membantunya memimpin umat (Bil. 11:16.17.24.25). Ada gagasan bahwa 70 murid itu diikutsertakan dalam menjalankan tugas Yesus seperti para tetua yang membantu Musa tadi. Dalam Injil yang kita renungkan ini, 70 tetua yang membantu Musa itu oleh Lukas diterapkan kepada siapa saja yang merasa menjadi murid Yesus.
Keempat, juga terpikir tokoh Elia yang diutus Tuhan ke Samaria, tetapi ditolak dan malah akan ditangkap. Karenanya, ia mengutuk pasukan raja dengan api dari langit (2 Raj. 1:10.12). Namun penginjil Lukas menggunakan kisah tentang Elia ini untuk mengajarkan bahwa Yesus tidak mengancamkan kutukan kepada orang-orang Samaria yang menolak-Nya (Luk 9:51-56).
Kelima, kaitan antara Yesus dengan Elia dan Musa sudah ada dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Luk 9:28-36). Di situ Musa dan Elia berbicara mengenai tujuan perjalanan Yesus, “exodos”-Nya, ke Yerusalem (Luk 9:31). Dalam Injil Lukas kedua tokoh ini bahkan mengiringi perjalanan Yesus ke Yerusalem.
Keenam, para murid yang diutus mengabarkan Yesus boleh juga merasa disertai Elia dan Musa yang menyatu dengan Yesus. Lebih daripada itu, dalam menunaikan perutusan mereka, Yang Maha Kuasa sendiri akan memperdengarkan diri-Nya seperti terjadi dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” (Luk 9:35).
Ketujuh, para murid diibaratkan seperti anak domba yang datang ke tengah-tengah serigala (Luk. 10:3). Bayang-bayang tentang kota Yerusalem yang memusuhi Yesus memang mengancam. Namun domba juga tidak pernah ditinggalkan sendirian di tengah-tengah serigala. Ada gembala yang siap melindungi.
Kedepalan, itulah sebabnya, mereka dinasihati tidak perlu membawa kelengkapan pribadi, uang, bekal, alas kaki, jangan menyalami orang di jalan, maksudnya, tak usah mengharapkan diantar (Luk. 10:4). Itu semua tak perlu. Sudah ada yang menyertai, yakni Musa, Elia, dan Allah sendiri.
Kesembilan, dalam masyarakat Yahudi kesaksian yang diberikan dua orang lebih berbobot, maka para murid diutus berdua- dua (Luk. 10:1b). Begitulah pengutusan dalam Gereja Perdana, seperti terjadi pada Barnabas dan Saulus (Kis. 13:2); Judas dan Silas (Kis. 15:27); Barnabas dan Markus (Kis. 15:39); Paulus dan Silas (Kis. 15:40); Timoteus dan Silas (Kis. 17:14); Timoteus dan Erastus (Kis. 19:22).
Kesepuluh, murid-murid diminta menyampaikan “damai sejahtera” bagi rumah yang mereka datangi (Luk. 10:5). “Menyampaikan damai sejahtera” adalah ungkapan yang diangkat dari tatacara mengirim surat dan menyampaikan pesan lewat seorang utusan. Lazimnya surat mulai dengan rumusan “damai sejahtera” dari pengirim bagi penerima, demikian pula para murid perlu bertindak.
Kesebelas, warta datangnya Dia yang dinanti-nantikan itu baru menjadi resmi bila dilisankan, diperdengarkan, dipersaksikan oleh utusan di hadapan yang dituju. Oleh karena itu, peran utusan pembawa berita amat penting. Menurut tatacara, setelah berita diterima, utusan akan dijamu (Luk. 10:8).
Kedua belas, bagaimana bila pesan tidak digubris (Luk. 10:10) dan bahkan utusan dipermalukan? Murid disuruh mengebaskan debu yang menempel pada kaki mereka (Luk. 10:11a). Maksudnya, kota itu masih diberi kesempatan lain dan tidak langsung dicoret. Jadi salam yang kembali itu (Luk. 10:6b) nanti bisa disampaikan kembali. Sekarang orang-orang hanya diingatkan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan biar mereka berpikir (Luk. 10:11b).
Ketiga belas, orang zaman dulu memandang kehidupan ini pada dasarnya terancam kekuatan-kekuatan gelap yang siap menerkam. Menerima Kerajaan Allah membuat orang terlindung dari pengaruh jahat tadi. Menolaknya sama saja dengan tidak mencari perlindungan terhadap kekuatan-kekuatan jahat tersebut.
Keempat belas, Kerajaan Allah yang sudah dekat itu disampaikan oleh para murid dalam ujud penyembuhan, dalam rupa tindakan membebaskan orang dari pengaruh yang jahat (Luk. 10:9). Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa semua ini terjadi karena nama mereka terdaftar di surga (Luk. 10:20). Sebagai warga Kerajaan Allah mereka unggul terhadap kekuatan-kekuatan gelap.
Dengan merenungkan Injil ini kita diajak untuk menyadari bahwa sebagai murid-murid Yesus, sekarang kita juga diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Artinya, kita diminta untuk menjauhkan pengaruh-pengaruh jahat dalam pelbagai bentuknya yang terus mengancam kehidupan; antara lain, ketidak pedulian (terhadap orang-orang lemah dan rentan, khususnya terhadap masyarakat adat), budaya membuang (barang serta manusia cacat dan lemah), pengrusakan terhadap bumi dan segala isinya secara membabi buta, kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan, praktik korupsi skala sangat besar yang masih terus berlangsung, peredaran narkoba dan perdagangan manusia yang dilindungi oleh para penegak hukum, dsb.
Semoga kita dimampukan untuk melakukan
perutusan ini.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
Catatan: Berhubung mulai nanti sore (5 Juli) s/d 1 Agustus siang, saya akan berada di luar Seminari untuk memberi retret (dua gelombang), melakukan retret pribadi bersama komunitas Yesuit, serta menghadiri acara pertemuan Yesuit dan tahbisan imam, maka pada 12, 19, dan 26 Juli, saya tidak akan dapat menulis renungan mingguan.