22 March 2025
BERTOBAT SECARA BENAR
BERTOBAT SECARA BENAR
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan yang telah dilimpahkan oleh Allah selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Prapaskah ke-3 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 13:1-9) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama mengisahkan dua kejadian yang dapat menjadi bahan pelajaran untuk “bertobat” (ay. 1-3 dan 4-5). Bagian kedua (ay. 6-9) berupa sebuah perumpamaan yang melengkapi ajakan tadi.
Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [dengan membaca
teks yang terdapat dalam Alkitab].
Pertama, kejadian yang dilaporkan kepada Yesus dalam (ay. 1) tentang orang-orang Galilea yang tersangkut dalam gerakan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Roma. Mereka ditangkap oleh Pilatus ketika berziarah ke Yerusalem lalu dibunuh seperti korban sembelihan yang mau mereka bawa ke Bait Allah. Gubernur Romawi itu memang terkenal kejam menumpas beberapa upaya pemberontakan.
Kedua, mengapa peristiwa itu diceritakan kepada Yesus? Bila dimaksudkan untuk mengetahui pandangan politik Yesus, yang juga berasal dari Galilea, kiranya tidaklah tepat. Hal ini tercermin dari penuturan penginjil Lukas tentang Yesus yang juga membicarakan nasib delapan belas orang Yerusalem yang mati tertimpa menara di Siloam (ay. 4).
Ketiga, karenanya lebih bermanfaat bila perhatian dipusatkan pada reaksi Yesus terhadap dua peristiwa itu (ay. 2-3 dan ay. 4b-5). Dengan tanggapan-Nya itu, Yesus menolak gagasan dan keyakinan bahwa pengalaman buruk, malapetaka, atau kematian yang tidak wajar adalah hukuman akibat dosa atau kesalahan.
Keempat, Yesus menandaskan bahwa baik orang-orang Galilea yang
dibunuh oleh Pilatus maupun orang-orang Yerusalem yang tertimpa menara dekat
Siloam itu tidak lebih berdosa daripada orang-orang lain (ay. 2-3a dan ay.
4-5a). Selanjutnya Yesus mengajak semua orang untuk mulai memperbaiki diri
sendiri dahulu dan bertobat (ay. 3b dan 5b).
Kelima, bertobat dalam bahasa Kitab Suci berarti semakin mengalihkan kehidupan dan perhatian kepada Tuhan sambil menyadari pelbagai kekeliruan yang telah terjadi. Artinya, orang yang merasa terhukum diajak agar tidak lagi memandang diri selalu berada dalam keadaan seperti itu. Orang yang merasa beres di hadapan Tuhan masih perlu belajar agar tidak dibuai keyakinan bahwa semuanya sungguh beres. Orang yang merasa sudah menjalankan agama dengan baik juga diajak agar berhati-hati supaya tidak memperalat agama demi gengsi atau kepentingan dirinya sendiri.
Keenam, penginjil Lukas menggunakan dua nama tempat (Galilea dan kota Yerusalem) untuk merajut injilnya. Di Israel ada tiga wilayah: paling utara disebut Galilea, paling selatan dikenal dengan nama Yudea (di wilayah ini terletak Yerusalem), antara kedua wilayah tersebut terdapat Samaria. Orang Yudea, terutama yang dari Yerusalem, tidak begitu menyukai orang Samaria maupun orang Galilea. Memang ada persaingan bebuyutan antara orang Galilea dengan orang dari Yerusalem dan sekitarnya.
Ketujuh, daerah Galilea umumnya lebih makmur karena lahan pertanian di sana subur dan penduduknya menikmati perekonomian yang lebih maju. Beberapa waktu sebelum zaman Yesus juga mulai berkembang pesat bisnis perikanan danau. Secara politik, Galilea juga lebih sering bergolak daripada Yerusalem. Orang-orang Galilea lebih berani menghadapi kekuasaan asing, baik itu Yunani maupun Romawi.
Kedelapan, tetapi di Galilea terdapat masalah yang sangat serius, yakni adanya ketimpangan sosial kendati secara umum wilayah itu cukup berkembang. Orang yang memiliki kemungkinan untuk maju sering kurang peduli terhadap kaum yang berkekurangan. Maka seruan Yesus agar mereka menarik pelajaran dari kejadian orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus itu juga merupakan seruan agar orang menumbuhkan kepedulian terhadap orang-orang miskin.
Kesembilan, orang Yerusalem merasa lebih memiliki prestise di bidang agama, karena pusat ibadat berada di kota itu dan para pemimpin agama juga tinggal di sana. Oleh karena itu, orang Yerusalem acapkali agak memandang rendah orang Galilea. Gema sikap ini terdengar dalam Yoh 1:46 ketika Natanael berkomentar mengenai Yesus, orang Galilea itu, dengan mengatakan: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret (sebuah kota di Galilea)?”
Kesepuluh, dalam ayat 4 ada sindiran bahwa orang-orang Yerusalem bukanlah orang suci. Menarik diperhatikan bahwa dalam ayat itu nama kota itu ditulis sebagai “Ierousaleem”; artinya, kota kezaliman: kota sejauh dihuni oleh orang-orang yang menolak kehadiran Yesus (utusan Allah).
Kesebelas, ajakan untuk bertobat (ay. 5b) berarti berusaha menjadi orang-orang yang menerima Yesus. Bertobat dari “Ierousaleem” (kota kezaliman yang menolak Yesus) menjadi “Hierosolyma” (kota kedamaian, kota yang menerima kedatangan Yesus).
Kedua belas, singkatnya, masalah di Galilea ialah perbedaan antara orang kaya dan orang miskin, adanya ketidak-adilan sosial yang makin memojokkan orang miskin. Masalah orang Yerusalem adalah sikap saleh tetapi sombong, merasa aman, “self-righteous”, mau mengatur Tuhan demi kepentingan diri sendiri.
Ketiga belas, memang tobat lebih gampang digambarkan dengan menampilkan hal-hal yang mengerikan yang bakal terjadi bila orang tidak melakukannya. Namun pembicaraan seperti itu tidak banyak faedahnya bila tidak disertai kepercayaan akan kemurahan Tuhan serta usaha untuk membuat orang sungguh merasakan kemurahan hati-Nya.
Keempat belas, penginjil Lukas menyatukan seruan bertobat yang nadanya keras itu dengan kemurahan hati Tuhan, dengan perumpamaan (ay. 6-9) yang menjelaskan bagaimana kerahiman Tuhan tersebut bisa menjadi kenyataan. Pohon ara yang tidak berbuah selama tiga tahun itu masih mendapat kesempatan setahun lagi untuk berbuah dan menjadi pohon yang baik!
Kelima belas, hal itu terjadi karena peran pengurus kebun. Ia tidak hanya memintakan kelonggaran (ay. 8a) tetapi juga bersedia mengusahakan agar pohon ara yang mandul itu bisa menjadi baik; ia menggemburkan tanah sekeliling, ia memberi pupuk (ay. 8b).
Keenam belas, pengurus kebun itu bukan administrator yang bekerja atas dasar kalkulasi untung rugi melulu. Ia adalah orang yang mencari mereka-mereka yang sulit, yang sudah tanpa harapan lagi. Ia adalah orang yang masih berani mendekati mereka-mereka yang menjengkelkan Tuhan sendiri, sehingga mau berubah.
Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa dua wilayah (Galilea dan Yerusalem) itu melambangkan dua tipe kedosaan yang perlu kita jauhi: (1) kelekatan pada kekayaan sehingga melupakan sesama (“dosa orang Galilea”), dan (3) sikap merasa diri sudah menjadi orang lurus sehingga berlaku munafik dan bahkan memusuhi Yesus, orang suruhan Tuhan sendiri (“dosa orang Yerusalem”). Injil ini juga mengundang kita untuk menjadi “pengurus kebun”, yang berani dan bersedia mengingatkan serta membantu orang-orang yang hidupnya “mandul” agar mendekat kepada Tuhan sehingga hidupnya menghasilkan banyak buah kebaikan.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
16 March 2025
MENGENALI SIAPA YESUS ITU SEBENARNYA
MENGENALI SIAPA YESUS ITU SEBENARNYA
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Prapaskah kedua tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 9:28b-36) menceritakan bagaimana Petrus, Yakobus dan Yohanes mengalami penampakan kemuliaan Yesus di atas gunung.
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut. [Saya sarankan
ketika Anda membaca catatan-catatan ini, Anda juga membaca teksnya dalam
Alkitab].
Pertama, dengan penekanan yang di sana sini agak berbeda, peristiwa ini juga diceritakan dalam Mrk 9:2-10 dan Mat 17:1-9, namun Injil Lukas menampilkan beberapa hal khusus (Luk 9:31-33a).
Kedua, penampakan kemuliaan Yesus ini diceritakan untuk menjawab pertanyaan siapa Dia itu sebenarnya: (1) pertanyaan Yohanes Pembaptis (Luk 7:18-23), (2) pertanyaan Herodes (Luk 9:7-9), (3) pertanyaan Yesus kepada para murid-Nya (Luk 9:18-20). Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu menampakkan bahwa Dia itulah Mesias yang dinanti-nantikan banyak orang. Kehadiran-Nya tidak mungkin didiamkan saja, karena memang Dia itu Mesias dari Tuhan, tetapi yang betul-betul manusia.
Ketiga, tetapi Yesus lebih suka menjelaskan diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang harus mengalami penderitaan, wafat dan kebangkitan (Luk 9:22). Inilah sebetulnya ke-Mesias-an yang dijalankan-Nya.
Keempat, dalam peristiwa penampakan kemuliaan, Yesus dinyatakan oleh Allah sebagai “anak-Ku yang Kupilih” (Luk 9:35); suatu ungkapan yang menggarisbawahi penugasan yang khusus. Penugasan apa? Bagaimana penugasan itu dimengerti oleh Yesus? Pembicaraan antara Yesus dengan Musa dan Elia dapat menjelaskannya.
Kelima, gunung serta awan melambangkan tempat
hadirnya Yang Ilahi. Dalam Kel 24:12-18 dikisahkan bagaimana Musa disuruh Tuhan
naik ke atas gunung itu. Dan ketika Musa sudah di atas, ada awan menutupinya.
Musa berada di atas gunung menerima Taurat dari Tuhan sedangkan orang-orang
lain berada di bawah. Begitu pula menurut 1Raj 19:8-18 Tuhan menyatakan diri kepada
Elia di gunung Horeb.
Keenam, kedua tokoh (Musa dan Elia) yang muncul dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus itu adalah tokoh-tokoh yang pernah menjumpai Tuhan dalam kemuliaan-Nya di gunung-Nya yang keramat. Kedua orang yang akrab dengan Tuhan itu kini datang bercakap-cakap dengan Yesus, juga di atas gunung.
Ketujuh, diutarakan dalam Luk 9:31 bahwa Musa dan Elia berbicara dengan Yesus mengenai “tujuan perjalanan”-Nya yang akan dipenuhinya nanti di Yerusalem. Yang dimaksud adalah penderitaan-Nya: ditolak oleh para pemimpin dan bahkan dibunuh, tetapi Ia akan dibangkitkan pada hari ketiga. Hal ini sudah disebutkan-Nya sendiri dalam Luk 9:22, beberapa ayat sebelum kisah penampakan kemuliaan di gunung.
Kedelapan, kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “tujuan perjalanan” Yesus adalah “exodos” (keluaran). Kata itu sama dengan nama kitab kedua dalam Taurat (Kitab Keluaran), yang mengisahkan keluaran umat Tuhan dari perbudakan di Mesir untuk menjadi umat Tuhan yang merdeka.
Kesembilan, penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus di Yerusalem juga merupakan sebuah “keluaran.” Artinya, keluaran bagi umat manusia dari perbudakan kekuatan dosa, dari kekuatan-kekuatan yang memisahkan manusia dari Tuhan.
Kesepuluh, yang dilakukan Yesus di Yerusalem dengan penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya adalah membawa manusia kembali kepada Tuhan. Inilah (“keluaran”) yang dimaksud dengan penugasan kepada Yesus sebagai anak yang dipilih Tuhan sendiri.
Kesebelas, terdengar suara dari dalam awan: “Dengarkanlah Dia!” (Luk 9:35). Kata-kata ini bukan hanya ditujukan kepada ketiga murid yang diajak ke gunung, tetapi juga kepada setiap orang yang mendengarkan Injil. Diajarkan agar ada perubahan dari sikap bertanya-tanya siapa Yesus itu dan usaha mencari jawabannya, menjadi sikap mendengarkan-Nya dengan khidmat.
Keduabelas, hanya dengan “mendengarkan” dalam arti di atas (catatan kesebelas) orang akan sampai pada pengertian yang mendalam mengenai siapa Yesus itu sebenarnya. Sikap mendengarkan seperti ini juga akan membantu orang mampu menerima hal-hal yang terasa sulit diterima: penderitaan dan wafat-Nya nanti.
Ketiga belas, dalam Injil Lukas disebutkan tujuan Yesus naik ke gunung adalah “untuk berdoa” (Luk 9:28b). Injil-Injil lain tidak menyebutkannya. Hal ini dilakukan oleh penginjil Lukas untuk menjelaskan bahwa Yesus naik ke gunung bukan untuk menampakkan kemuliaan-Nya, melainkan untuk berdoa; artinya, membuka diri terhadap kehadiran Allah. Justru ketika Ia sedang berdoa di tempat itu, murid-murid-Nya menyaksikan kemuliaan-Nya. Kemuliaan Yesus adalah kemuliaan orang yang terbuka bagi kehadiran Allah.
Keempat belas, dikatakan bahwa “Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun, mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu” (Luk 9:32). Sebenarnya mereka itu dibangunkan oleh penampakan kemuliaan Yesus. Jadi bukan terbangun dan kemudian menyaksikannya.
Kelima belas, reaksi Petrus yang menawarkan tiga tenda itu (Luk 9:33) penuh arti. Dulu (sebelum Raja Salomo membangun Rumah [bagi] Tuhan], Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya di dalam tenda. Petrus kiranya berpikir, kini Tuhan sebaiknya dihadirkan dalam tenda juga.
Keenam belas, namun sesaat kemudian dikatakan bahwa ketika terdengar suara yang mengatakan Yesus itu anak terpilih yang patut didengarkan, “tampaklah Yesus seorang diri” (Luk 9:36. Ia kembali seperti biasa. Dan Dia itulah yang kini patut didengarkan. Bukan usaha untuk mendengar atau mencari kehadiran yang ada di “tenda”. Dengan kata lain, “tenda” kehadiran ilahi yang sesungguhnya kini ada dalam ujud Yesus yang berada di tengah-tengah orang banyak itu.
Ketujuh belas, pada akhir kisah dikatakan bahwa ketiga murid itu “diam dan tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu” (Luk 9:36b). Terjemahan ini kurang tepat. Mestinya, mereka “diam seribu bahasa.” Artinya, mereka memang belum memahaminya. Mereka masih perlu waktu untuk mengolahnya dengan “mendengarkannya” (lihat catatan kesebelas dan kedua belas) agar dapat memahami apa yang baru saja mereka alami.
Masa Prapaskah merupakan masa untuk memahami Yesus lewat jalan yang dilalui-Nya sendiri: jalan yang membangun kembali kemanusiaan di hadapan Tuhan. Dalam perjalanan ini secercah tanda kemuliaan-Nya tampak. Seperti ketiga murid itu, kita perlu “diam dan mendengarkan”: mengendapkan pengalaman sebelum berbicara mengenai siapa Yesus kepada banyak orang. Masa Prapaskah juga merupakan masa yang dikhususkan agar kita makin akrab dengan Yesus yang kita dengarkan itu.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
8 March 2025
PILIH! DITUNTUN OLEH ROH ALLAH ATAU DIGENDONG OLEH SETAN
PILIH! DITUNTUN OLEH ROH ALLAH ATAU DIGENDONG OLEH
SETAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat sejenak di tengah kekalutan situasi politik dan ekonomi di negeri kita. Selamat merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya selama sepekan, sehingga kita tetap mampu berharap. Semoga tidak ada di antara Anda yang terkena banjir.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Prapaskah pertama tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 4:1-13) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok berbicara tentang Yesus yang digodai oleh Setan namun tetap memilih dibimbing oleh Roh Allah.
Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita? Marilah
kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, Yesus “dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun” (ay. 1). Artinya, Roh Kudus yang menggerakkan Yesus ke padang gurun, juga tetap menemani-Nya selama Ia berada di sana selama 40 hari. Roh Kudus tidak pernah meninggalkan Yesus sendirian.
Kedua, Yesus berada di “padang gurun” (ay. 1), artinya Ia berada di tempat yang sepi dari keramaian dunia agar menjadi makin peka terhadap kehadiran Roh Allah. Namun di padang gurun Yesus juga makin melihat Iblis dalam ujud yang paling kuat. “Padang gurun” adalah tempat senyap dan saat hening untuk mendalami pengalaman batin berjumpa dengan dua kekuatan tersebut.
Ketiga, selama 40 hari Yesus dicobai oleh Iblis (ay. 2). Empat puluh hari adalah masa yang cukup lama yang mematangkan suatu pengalaman batin.
Keempat, hanya penginjil Lukas (4:3-12) dan Matius (4:3-10) yang menyebutkan isi godaan; Injil Markus (1:13) tidak melakukannya. Ada tiga macam godaan, yakni (1) mengenyangkan diri dengan menyuruh batu menjadi makanan (Luk 4:3-4; bdk. Mat 4:3-4), (2) mendapat kuasa duniawi asal mau menyembah Iblis (Luk 4:5-8 4 bdk. Mat 4:8-10), dan (3) menuntut agar Allah melakukan mukjizat untuk menolong-Nya bila Ia menerjunkan diri dari bubungan atap Bait Allah (Luk 4:9-12; bdk. Mat 4:5-7).
Kelima, ketika jelas bahwa Yesus tetap memilih berada dengan Roh Kudus, maka mundurlah Iblis menantikan saat yang tepat (ay. 13). “Saat yang tepat/baik” terjadi ketika Iblis merasuki Yudas (Luk 22:3). Yesus yang sebentar lagi akan sendirian mengalami pergumulan batin di taman Getsemani (Luk 22:39-46) diberatkan dengan pengkhianatan salah satu dari murid-murid yang paling dekat dengan-Nya (Luk 22:4-6; 47). Ini ujian terbesar bagi-Nya. Di situ Yesus mengalami godaan untuk meninggalkan semua yang telah dibuat-Nya hingga saat itu (Luk 22:42a). Tetapi kita tahu bahwa Ia tetap memilih untuk terus melaksanakan kehendak Allah (Luk 22:42b).
Keenam, dalam alam pikiran Kitab Suci, Roh (Kudus) adalah kekuatan yang tidak kelihatan, yang menggerakkan dan mengikutsertakan siapa dan apa saja yang ditemuinya. Dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, kerap dijumpai ungkapan Roh Tuhan turun ke seorang tokoh; artinya, tokoh itu mulai digerakkan oleh kekuatan-kekuatan ilahi dan oleh karenanya akan mengerjakan hal-hal luar biasa. Hal ini juga terjadi pada Yesus sendiri (Luk 4:18-19).
Ketujuh, disebutkan dalam godaan kedua (Luk 4:5-6) bahwa semua kekuasaan dan kemuliaan kerajaan dunia telah diserahkan kepada Iblis dan ia dapat memberikannya kepada siapa saja (ay. 6). Dalam kesadaran orang zaman itu, dunia manusia memang ada dalam kuasa yang jahat. “Yang jahat” betul-betul berpengaruh besar di dalam dunia kehidupan manusia. Ia menggoda siapa saja untuk menerima semua “kemuliaan dan kekuasaan tersebut” asalkan mengikuti dia dan menyembahnya.
Kedelapan, godaan Iblis itu begitu besar dan kuat. Oleh karenanya, kebutuhan akan datangnya Penyelamat makin terasa pula. Orang bisa terluput dari godaan itu bila diselamatkan oleh kurban diri Yesus, Sang Penyelamat. Itulah sebabnya, Yesus, Sang Penyelamat, juga digoda oleh Iblis agar tidak jalan terus bersama Roh Allah, melainkan mau mengikuti kehendaknya, sehingga orang tidak dapat diselamatkan.
Kesembilan, Yesus pun diiming-imingi dengan godaan tersebut (ay. 6-7). Godaan menerima kekuasaan dan kemuliaan merupakan godaan yang teramat besar. Kejadian di taman Getsemani menggemakan kembali godaan itu. Yesus memang ingin lepas dari kesengsaraan yang bakal dialami asalkan memang demikian kehendak Bapa-Nya (Luk 22:42). Ia tetap berpegang pada kehendak Allah dan tidak menyerah kepada kekuatan yang jahat.
Pengalaman Yesus di padang gurun (dan di taman Getsemani) dapat juga terjadi pada banyak orang lain, juga pada diri kita. Makin dalam orang menghayati pengalaman batinnya, makin jelas gerakan-gerakan yang ada di situ. Kita semua digoda untuk memilih dituntun oleh Roh Allah atau digendong Iblis. Dalam pilihan pertama, dituntun oleh Roh Allah, kita perlu berusaha berjalan terus kendati menghadapi berbagai macam kesulitan dengan harapan akan berakhir dengan kemenangan. Pilihan yang lain, digendong oleh Setan, bisa membuat orang enak-enak, tetapi tidak lagi bersama Roh Allah dan akan berakhir dengan kehancuran dan kematian. Semoga kita dimampukan untuk membuat pilihan yang tepat.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
8 March 2025
PESAN PRAPASKAH 2025 PAUS FRANSISKUS
Pesan Prapaskah 2025 Paus Fransiskus
Saudara dan saudari yang terkasih,
Kita memulai masa Prapaskah dalam iman dan harapan dengan ritus penitensi pengurapan abu. Gereja, sebagai ibu dan guru, mengundang kita agar membuka hati kepada rahmat Allah sehingga kita dapat merayakan dengan penuh sukacita kemenangan Paskah Kristus Tuhan atas dosa dan maut, yang membuat Santo Paulus berseru, “Maut telah disingkirkan. Di manakah kemenangan dan sengatmu, hai maut?” (1 Kor 15:54-55). Sesungguhnya, Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit, adalah inti iman dan janji pengharapan akan janji agung Tuhan sebagaimana telah digenapi dalam diri Putra-Nya yang terkasih: hidup yang kekal (bdk. Yoh 10:28; 17:3).1
Pada masa Prapaskah ini, dalam rahmat Tahun Yubileum, saya ingin berefleksi tentang apa artinya berjalan bersama dalam pengharapan dan tentang panggilan pertobatan yang Allah sampaikan kepada kita, baik sebagai individu maupun komunitas.
Pertama adalah perjalanan. Semboyan Yubileum, “Peziarah Pengharapan,” menggambarkan perjalanan panjang bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian seperti dikisahkan dalam Kitab Keluaran. Jalan yang sulit dari perbudakan menuju kebebasan ini dikehendaki dan dibimbing oleh Tuhan yang mengasihi umat-Nya dan tetap setia kepada mereka. Sulit memikirkan tentang eksodus dalam Alkitab tanpa memikirkan saudara-saudari kita yang pada zaman ini sedang melarikan diri dari situasi kesengsaraan dan kekerasan untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai. Panggilan pertama untuk bertobat datang dari kesadaran bahwa kita semua adalah peziarah dalam hidup ini; masing-masing dari kita diundang untuk sejenak berhenti dan bertanya bagaimana hidup kita mencerminkan kenyataan ini. Apakah kita benar-benar sedang dalam perjalanan ataukah sedang berdiam diri, tidak bergerak, baik karena ketakutan dan keputusasaan maupun keengganan keluar dari zona nyaman kita? Apakah kita mencari cara untuk meninggalkan kesempatan-kesempatan berbuat dosa dan situasi yang merendahkan martabat manusia? Ini akan menjadi laku Prapaskah yang baik untuk membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan kehidupan para migran atau orang asing, untuk belajar bagaimana bersimpati dengan pengalaman mereka sehingga dengan cara ini kita menemukan apa yang dikehendaki Tuhan sehingga kita dapat maju lebih baik dalam perjalanan ke rumah Bapa. Ini akan menjadi “ujian hati nurani” yang baik bagi kita para peziarah.
Kedua, berjalan bersama. Gereja dipanggil untuk berjalan bersama dan menjadi sinodal.2 Umat kristiani dipanggil untuk berjalan bersama orang lain, bukan sendirian. Roh Kudus mendorong kita agar tidak mementingkan diri sendiri melainkan menyangkal diri dan terus berjalan bersama Allah dan semua saudara kita.3 Berjalan bersama berarti mengkonsolidasikan kesatuan yang didasarkan pada martabat sebagai anak-anak Allah (bdk. Gal 3:26-28). Ini berarti berjalan beriringan, tanpa mendorong atau menginjak orang lain, tanpa iri hati atau kemunafikan, tanpa membiarkan siapapun tertinggal atau tersisih. Marilah kita semua berjalan ke arah yang sama, menuju tujuan yang sama, saling memperhatikan satu sama lain dalam kasih dan kesabaran.
Pada masa Prapaskah ini, Tuhan meminta kita untuk memeriksa apakah dalam hidup, keluarga, dan tempat kerja, kita mampu berjalan bersama dengan orang lain, mendengarkan mereka, dan melawan godaan untuk menjadi egoistis. Marilah kita merenung di hadapan Tuhan, entah sebagai uskup, imam, biarawan/biarawati, ataupun awam yang melayani Kerajaan Allah, sudah bekerja sama dengan orang lain. Apakah kita sudah bisa menunjukkan keramahtamahan secara konkret kepada mereka yang dekat maupun jauh? Apakah kita membuat orang lain merasa menjadi bagian dari komunitas atau malahan kita menjaga jarak dengan mereka?4 Oleh karenanya, inilah ajakan pertobatan kedua, yaitu panggilan untuk sinodalitas.
Ketiga, marilah kita berjalan bersama dalam pengharapan sebab kita telah diberi janji. Semoga pengharapan yang tidak mengecewakan (bdk. Rom 5:5), sebagai pesan utama Yubileum5 menjadi fokus peziarahan Prapaskah kita menuju kemenangan Paskah. Seperti yang diajarkan oleh Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Spe Salvi, “Manusia membutuhkan cinta tanpa syarat. Ia membutuhkan kepastian yang memampukannya berkata, ‘Baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu yang lain dari segala yang ada, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita’ (Rom 8:38-39).”6 Kristus, pengharapan kita, telah bangkit!7 Dia hidup dan meraja dalam kemuliaan. Kematian telah diubah menjadi kemenangan, dan iman serta pengharapan besar umat Kristiani terletak pada hal ini, yaitu kebangkitan Kristus!
Maka, inilah panggilan ketiga untuk bertobat, yaitu panggilan untuk berharap dan percaya kepada Allah dan janji agung-Nya atas kehidupan kekal. Marilah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita yakin bahwa Tuhan mengampuni dosa-dosa kita? Atau apakah kita bertindak seolah-olah dapat menyelamatkan diri sendiri? Apakah kita merindukan keselamatan dan meminta pertolongan Tuhan untuk mendapatkannya? Apakah secara konkret kita mengalami pengharapan yang memampukan kita menafsirkan peristiwa-peristiwa sejarah dan mengilhami komitmen dalam diri terhadap keadilan dan persaudaraan, untuk merawat rumah kita bersama sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun merasa dikecualikan?
Saudara-saudara yang terkasih, berkat kasih Allah di dalam Yesus Kristus, kita ditopang dalam pengharapan yang tidak mengecewakan (bdk. Rom 5:5). Pengharapan adalah “jangkar jiwa yang teguh dan pasti.”8 Pengharapan ini menggerakkan Gereja untuk mendaras doa agar “semua orang diselamatkan” (1 Tim 2:4) dan menantikan persatuannya dengan Kristus, sang mempelai laki-laki di dalam kemuliaan surga. Inilah doa Santa Teresa dari Avila, “Berharaplah, hai jiwaku, berharaplah. Engkau tidak tahu hari maupun saatnya. Berjaga-jagalah karena segala sesuatu berlalu dengan cepat meskipun ketidaksabaranmu telah membuat apa yang sudah pasti menjadi keraguan dan mengubah waktu yang sangat singkat menjadi waktu yang sangat panjang” (Seruan Jiwa kepada Tuhan, 15:3).9
Semoga Perawan Maria, Bunda Pengharapan, menjadi perantara bagi kita dan menemani kita dalam perjalanan Prapaskah kita.
Roma, pada pesta Santo Yohanes Lateran, 6 Februari 2025 dan peringatan Santo Paulus Miki dan para sahabat, martir.
Paus Fransiskus
Catatan-catatan:
1 Bdk. Ensiklik Dilexit Nos (24 Oktober 2024), 220 .
2 Bdk. Homili Misa Kanonisasi Giovanni Battista Scalabrini dan Artemide Zatti, 9 Oktober 2022.
3 sda.
4 sda.
5 Bdk. Bulla Spes Non Confundit , 1.
6 Ensiklik Spe Salvi (30 November 2007), 26.
7 Bdk. Urutan Paskah (Easter Sequence/Victimae paschali laudes).
8 Bdk. Katekismus Gereja Katolik , 1820.
9 sda, 1821.
Artikel ini merupakan terjemahan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo pada tanggal 26 Februari 2025 dari artikel “Message of His Holiness Pope Francis for Lent 2025.” link https://www.vatican.va/content/francesco/en/messages/lent/documents/20250206-messaggio-quaresima2025.html.
1 March 2025
ARAHAN DALAM BERELASI DENGAN ORANG BANYAK
ARAHAN DALAM BERELASI DENGAN ORANG BANYAK
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-8
tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 6:39-45) berisi perumpamaan
yang memuat “arahan” bagi para murid Yesus dalam berelasi dengan orang banyak.
Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut. [Ketika Anda membaca catatan-catatan ini, Anda perlu membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, dalam komunitas mana saja—apalagi komunitas agama—biasanya ada orang atau tokoh yang memiliki kewibawaan dan menjadi panutan, tempat bertanya, serta pemimpin. Mereka ini bertugas membimbing dan menunjukkan jalan hidup yang melegakan, yang memberi kekuatan, dan membahagiakan. Inilah latar pepatah-pepatah yang teredapat dalam Injil yang kita renungkan kali ini.
Kedua, serangkaian pepatah yang terdapat dalam Injil ini merupakan rekaman warisan batin orang-orang yang masih mengenal Yesus, yang disampaikan kepada para pengikut mereka. Waktu Injil ini ditulis, kelompok komunitas pengikut Yesus sudah meluas dan banyak yang tidak pernah bertemu dengan Yesus sendiri. Ajaran serta kebajikan Yesus dituruntemurunkan ke generasi-generasi berikutnya oleh mereka yang masih mengenal-Nya secara langsung.
Ketiga, pepatah dalam ay. 39 merupakan ajakan agar orang berpikir dan mawas diri: Apakah “aku” betul-betul jeli melihat arah yang benar dan mewaspadai bahaya? Pepatah ini juga mengandung ajaran untuk tidak merasa tahu segala. Bahkan tersirat sindiran, jangan-jangan “aku” ini buta, tidak melihat dengan jelas. Maka, orang diundang untuk berupaya agar memiliki wawasan yang sehat terlebih dahulu sebelum mulai menuntun dan menasihati orang lain.
Keempat, pepatah dalam ay. 39 terkait erat dengan ay. 40, yang mengatakan bahwa mereka yang merasa bertugas mengajarkan jalan yang benar kepada orang banyak mesti pernah belajar dari awal sampai akhir, sampai tuntas, sehingga memiliki kebajikan seperti gurunya. Ada ajakan untuk bekerja keras untuk dapat maju dan mendapatkan pengetahuan serta kemahiran yang bisa benar-benar memberi tuntunan bagi orang lain.
Kelima, ay. 41 dan 42 mengajak para pembaca bersikap toleran dalam hidup di tengah masyarakat. Biasanya orang lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada kelemahan sendiri. Kedua pepatah ini mengajak orang berkaca: Apakah penglihatanku terhalangi oleh “balok” pikiran serta keyakinanku sendiri, sehingga membuat aku tidak mampu melihat yang baik dalam diri orang lain?
Keenam, dua pepatah dalam ay. 43 dan ay. 44 memberi hiburan dan kekuatan. Kedua pepatah tersebut mengundang orang agar pandai-pandai memeriksa diri apa betul-betul mampu menghasilkan buah yang baik, menghasilkan hal-hal yang dapat dinikmati orang lain dan membantu hidup orang lain menjadi lebih bermartabat. Bila orang memang menghidupi kebaikan, maka perbuatannya akan membuahkan hal yang baik.
Ketujuh, ungkapan dalam ay. 45 menjelaskan semua yang telah disampaikan di atas. Orang baik bukannya orang yang berusaha mati-matian berbuat kebaikan. Perbuatan baik dimungkinkan oleh adanya kekayaan batin yang melimpah keluar; bukan kebaikan yang disodor-sodorkan apalagi dipaksa-paksakan.
Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk
menyadari kembali bahwa “arahan” yang diberikan kepada para
murid Yesus dalam berelasi dengan orang banyak, juga ditujukan kepada kita
sebagai murid-murid-Nya zaman ini. Semoga kita dimampukan untuk memahami dan
menghidupinya, agar kehadiran kita di tengah masyarakat dapat menyumbangkan
pembaruan demi kemajuan hidup bersama.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
22 February 2025
MENGAPA PERLU MENGASIHI MUSUH?
MENGAPA PERLU MENGASIHI MUSUH?
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Salamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-7 tahun C dalam kalender liturgi. Inti pesan Injil (Luk 6:27-38) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok adalah “mengasihi musuh.”
Bagaimana pesan Injil ini dapat kita pahami dan kita hidupi pada zaman ini? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.
Pertama, pembicaraan dalam ketiga ayat pertama Injil hari ini (ay. 27-30), yakni mengasihi dan berbuat baik kepada musuh (ay. 27), memberkati yang mengutuk dan mendoakan yang menjahati kita (ay. 28), memberikan pipi lain agar juga ditampar, dan memberikan juga baju kepada yang meminta mantol (ay. 29), dan tidak mengharapkan kembali apa yang diambil oleh orang lain (ay. 30), ditampilkan sebagai kasus-kasus contoh agar orang berpikir mengenai apa itu mengasihi. Dengan cara ini orang akan memperoleh ketajaman batin dan hati.
Kedua, berbagai perilaku yang disebutkan dalam ayat 27-30 tersebut (catatan pertama) dimaksudkan oleh Yesus dan penginjil untuk memperlihatkan bahwa pola tingkah laku yang ditentukan oleh ukuran-ukuran “kawan-lawan”, “balas-membalas”, “memberi dengan perhitungan mendapat kembali” bukanlah pilihan satu-satunya dalam menjalani hidup kita.
Ketiga, dalam ayat 31-35a dijelaskan bahwa sikap mengasihi (ay. 32), menginginkan kebaikan orang lain tanpa terpengaruh oleh kebusukannya (ay.33), dan kesediaan memberi lebih sekalipun sulit dan menyakitkan (ay. 35) disodorkan sebagai alternatif bagi pola berpikir dan bertindak yang biasanya dilakukan oleh orang yang tidak merdeka, pola berpikir dan bertindak orang berdosa. Dalam hubungan dengan inilah petunjuk “yang kauinginkan agar terjadi padamu, perbuatlah itu kepada orang lain” (ay. 31) bisa menjadi dasar tingkah laku yang keluar dari akal sehat.
Keempat, alasan terdalam untuk memilih sikap mengasihi dan seterusnya itu terungkap dalam ayat 35b-36, yakni agar orang makin dapat memahami apa itu “menjadi anak-anak yang Allah yang Maha Tinggi” (ay. 35b); dan lebih lagi, siapa sebenarnya Allah yang dipercaya semua orang, yaitu Allah yang “baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan yang berbuat jahat” (ay. 35b) dan Allah yang “murah hati” (ay. 36). Dengan kata lain, para pengikut Yesus diminta untuk memiliki sikap dan bertindak seperti Allah yang diperkenalkan oleh Yesus sendiri.
Kelima, lebih lanjut, sikap hidup yang bisa menghadirkan Bapa yang murah hati itu dirumuskan oleh penginjil dalam bentuk petuah dalam ayat 37-38: jangan menghakimi, jangan menghukum, ampuni, berilah lebih, dan ukuran yang kamu pakai (untuk orang lain) akan diukurkan kepadamu juga.
Keenam, orang yang menjalankan kekerasan seringkali bukan orang yang merdeka. Mereka melakukannya untuk mempertahankan kekuasaan, kedudukan, perasaan lebih atas, ideologi, atau juga kebalikannya, perasaan ditindas. Orang-orang yang menjalankan kekerasan umumnya terbelit kekerasan yang melembaga. Inilah kenyataan dosa yang mengurung manusia.
Ketujuh, sebaliknya orang dapat memilih untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Dengan demikian, ia belajar untuk tidak melanggengkan kekerasan tersebut atau membiarkan diri terlilit oleh kekerasan.
Barangkali pesan Yesus untuk “mengasihi dan berbuat baik kepada musuh” dalam Injil yang kita renungkan ini dapat dibahasakan dengan istilah “solidaritas dalam menghadapi kesusahan.” Kita diundang untuk berbuat baik kepada orang lain, juga kalau mereka itu memusuhi kita, ketika mereka sedang mengalami kesulitan dalam hidup mereka. Tindakan seperti ini akan membuahkan rekonsiliasi dan menghilangkan permusuhan.
Lebih daripada itu, dengan berbuat seperti itu kita akan semakin mengenal Allah yang kita imani (=Allah yang berbuat baik kepada semua orang—entah yang baik maupun yang jahat) dan belajar menjadi “anak-anak Allah.” [Kita sendiri juga tidak lepas dari kesalahan dan dosa; demikian pula “musuh” juga tidak seutuhnya jahat].
Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.