15 February 2025
MENJUMPAI TUHAN DI TEMPAT YANG DATAR
MENJUMPAI TUHAN DI TANAH YANG DATAR
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati kasih Tuhan yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan dan menikmati akhir pekan untuk beristirahat.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-6 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 6: 6:17;20-26) berisi Sabda Bahagia beserta beberapa peringatan yang menyertainya.
Apa wartanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, Sabda Bahagia juga terdapat dalam Injil Matius (Mat 5:1-12), yang dibacakan pada hari Minggu Biasa IV tahun A – dua tahun yang lalu. Ada beberapa kekhasan dalam teks Injil Lukas, yang tidak terdapat dalam Injil Matius: (1) “tempat yang datar” (ay. 17); (2) “kamu yang miskin” (ay. 20); dan (3) beberapa peringatan (“celakalah” – ay. 24-26).
Kedua, “tempat yang datar” (ay. 17). Sebutan “tempat yang datar” ini dicantumkan oleh penginjil Lukas untuk mengingatkan orang pada bagian Injil-nya (Luk 3:4-6) yang mengutip Yes 40:3-5 tentang “tanah tinggi rendah yang akan diratakan dan jalan berkelok-kelok yang akan diluruskan”, sehingga dari kejauhan orang dapat melihat Tuhan datang. “Tempat yang datar” adalah tempat Tuhan dapat ditemui dan dipandangi oleh orang.
Ketiga, ke “tempat datar” itulah orang banyak berdatangan dari dari “Yudea dan Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon” untuk menemui Yesus (ay. 17). “Tirus dan Sidon” adalah daerah yang tidak termasuk “tanah suci.” Hal ini menyatakan bahwa di “tempat yang datar” itu Tuhan dapat ditemui oleh semua orang, termasuk mereka yang bukan dari bangsa Yahudi.
Keempat, “orang miskin” dalam Injil Lukas adalah orang yang kekurangan secara material, orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup, paling-paling pas-pasan saja; dan karenanya, tidak jarang mereka juga mengalami kemiskinan rohani.
Kelima, seruan Yes 40:3-5 yang dikutip dalam Luk 3:4-6 menjelaskan pewartaan “tobat untuk pengampunan dosa” oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:3). Bertobat berarti upaya menanggalkan pikiran-pikiran yang mengekang batin (= “tanah tinggi rendah dan jalan berkelok-kelok”) dan membiarkan diri dipimpin menuju Tuhan sendiri di jalan batin yang lurus.
Keenam, dalam Luk 6:20-26 ditampilkan gambaran mengenai kenyataan hidup dalam umat yang baru (yang sudah bertobat) itu (catatan kelima) dengan memakai empat Sabda Bahagia (ay. 20-23) dan empat peringatan untuk mewaspadai diri (ay. 24-26).
Ketujuh, Sabda Bahagia adalah ungkapan yang bersifat deskriptif, artinya menggambarkan sesuatu “sebagaimana adanya”. Dengan kata lain, Sabda Bahagia menggambarkan apa yang terjadi dalam kehidupan orang-orang yang mengikuti Yesus. Sabda Bahagia bukan mengajarkan hal-hal yang “mesti” dilakukan.
Kedelapan, kepada yang miskin (lihat catatan keempat) dikatakan bahwa mereka tidak dilupakan oleh Kerajaan Allah; mereka itu malah boleh merasa empunya Kerajaan Allah (“Berbahagialah kamu yang miskin…” – ay. 20). Sedangkan kepada orang kaya, orang yang berkelebihan, yang tidak merasa kekurangan, dikatakan bahwa kehidupan mereka itu tidak akan ada artinya (= “celakalah....” – ay. 24) bila mereka sudah puas dan merasa aman dengan kelimpahan mereka. Dengan kata lain, Yesus tidak menjajakan kemiskinan sebagai keutamaan dan tidak mencerca kekayaan sebagai sumber laknat.
Kesembilan, ayat 21 perlu perlu dibaca bersama dengan ayat 25. Melalui kedua ayat ini Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk melihat bahwa kehidupan itu tidak hanya mempunyai satu sisi: lapar dan menangis terus, atau kenyang dan tertawa terus, melainkan silih berganti. Situasi kehidupan yang silih berganti inilah “tanah darat” di mana Allah menemui kita dan dapat kita temui.
Kesepuluh, ay. 22-23 bila dibaca bersama dengan ay. 26 akan menyadarkan orang untuk tidak perlu mudah berbangga bila mengalami kesulitan akibat kesetiaan terhadap imannya, atau merasa benar dalam hidup beragama bila mendapatkan pujian.
Warta Sabda Bahagia dan “pengingat”-nya dalam Injil yang kita renungkan ini, membuat orang bisa berharap akan dapat hidup merdeka sekalipun masih terbelit kemiskinan atau terjerat ikatan-ikatan kekayaan. Kemiskinan yang membuat orang makin melarat atau kekayaan yang membuat orang lupa daratan menjadi gambaran martabat manusia yang merosot. Tuhan yang Maha Rahim tidak tahan melihat manusia ciptaan-Nya merosot. Maka Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus, utusan-Nya, dimaksudkan untuk membangun wahana di mana manusia bisa menata kembali martabatnya menjadi utuh, sehingga tidak lusuh karena kemelaratan atau busuk tertimbun kekayaan.
Hal ini bisa terjadi bila, seperti dikatakan dalam bacaan I (Yer 17:5-8), orang tidak mengandalkan pada kekuatannya sendiri melainkan menyandarkan diri pada kerahiman serta kemurahan hati Allah Allah, serta mau belajar dari para anggota Gereja Perdana yang mau saling berbagi sehingga tidak ada seorang pun yang berkekurangan (Kis 2:42-47).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
8 February 2025
MENJALA MANUSIA
MENJALA MANUSIA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah kita alami selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-V tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 5:1-11) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang penangkapan ikan yang luar biasa banyaknya dan panggilan Yesus kepada Simon serta para murid-Nya untuk menjala manusia.
Apa arti kisah ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, pengalaman merasakan kehadiran Yang Ilahi selalu mempesona tetapi sekaligus dirasa menggentarkan. Hal itu dirasakan baik oleh Yesaya dalam bacaan pertama (Yes 6:1-2a.3-8), maupun Simon dalam bacaan Injil. Yesaya terpukau oleh para Serafim yang khidmat memuji kebesaran Tuhan yang Maha Kudus (ay. Yes 6:1-4). Simon kagum menyaksikan keajaiban yang terjadi serta-merta kata-kata Yesus diturutinya (Luk 5:9-10a).
Kedua, saat itu juga Yesaya dan Simon sama-sama mengalami daya sabda ilahi dan merasa tidak pantas. Yesaya merasa segera akan luluh binasa karena mendapati diri “kotor” (Yes 6:5). Simon merasa diri pendosa dan mohon agar Yesus – yang disapanya sebagai Tuhan – menjauhinya (Luk 5:8b).
Ketiga, namun pada saat itu juga mereka dikuatkan. Bibir Yesaya dibersihkan. Yang kotor di-“bakar” habis, kesalahannya dihapus (Yes 6:6-7). Kepada Simon berkatalah Yesus, “Jangan takut!” (Luk 5:10b). Sapaan ini menghibur dan memberi kekuatan. Mereka boleh merasa lega di hadapan Yang Ilahi tanpa dirundung rasa gentar.
Keempat, akibat dari tindakan Tuhan itu membuat baik Yesaya maupun Simon mampu berbuat sesuatu. Yesaya bersedia diutus untuk menghadirkan Tuhan (Yes 6:8b). Simon meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus sepenuhnya (Luk 5:11).
Kelima, secara singkat ada tiga tahap pokok dalam mengalami kehadiran Ilahi. Pertama, orang mendapati diri dipenuhi kehadiran itu dan merasa kagum. Kedua, orang akan langsung merasa tidak pantas. Ketiga, orang tertolong sehingga dapat menerima kehadiran itu dengan ikhlas, tanpa takut-takut, dan terdorong berbuat sesuatu yang cocok.
Kenam, ungkapan “engkau akan menjala manusia” (ay. 10b) memiliki arti “engkau akan bekerja menangkap manusia-manusia untuk membawa mereka ke kehidupan.” Kata-kata Yesus itu berisi suruhan kepada Simon agar merenggut umat manusia dari kuasa maut. Penugasan ini berarti pula ajakan ikut serta menjalankan karya Sang Juru Selamat sendiri.
Ketujuh, ada beberapa hal yang dapat dicatat bersangkutan dengan panggilan ini dalam Injil-Injil (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes):
(1) Dalam Injil Markus dan Matius, panggilan Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes (Mrk 1:16-20; Mat 4:18-22) dikisahkan setelah Yesus mengumumkan kedatangan Kerajaan Allah (Mrk 1:15; Mat 4:17; Matius memakai istilah Kerajaan Surga bagi Kerajaan Allah). Dengan cara seperti ini, Markus dan Matius hendak menunjukkan bahwa murid-murid dipanggil agar ikut mewartakan Kerajaan Allah kepada orang banyak.
(2) Dalam Injil Lukas, panggilan para murid diceritakan terjadi baru setelah Yesus mengajar orang banyak, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit (Luk 4:14-44). Lukas ingin menunjukkan bahwa murid-murid pertama itu sebetulnya sudah mendengar tentang Yesus sebelum terpanggil mengikuti-Nya secara penuh. Kemudian Lukas menggarisbawahi arti “menjala manusia” yakni, agar manusia menemukan sumber kehidupan yaitu Tuhan sendiri.
(3) Lukas menyoroti tokoh Simon Petrus secara khusus dengan memakai kisah penangkapan ikan secara menakjubkan (Luk 5:4-7), yang tidak ada dalam Injil Markus dan Matius, tetapi muncul dalam bagian belakang Injil Yohanes (Yoh 21:4-14).
(4) Dalam Injil Yohanes kisah penangkapan ikan yang berlimpah-limpah itu terjadi setelah kebangkitan-Nya (Yoh 21:1-6), dan dikaitkan langsung dengan penugasan Simon Petrus untuk memelihara domba-domba Yesus serta mengusahakan tempat hidup bagi mereka (Yoh 21:15-17). Simon tidak diangkat menjadi gembala domba-domba Yesus; Yesus sendirilah gembala mereka dari awal sampai akhir!
Kedelapan, yang ditugasi untuk “menjala manusia” (=merenggut umat manusia dari “maut”) bukan orang perorangan melainkan kelompok orang yang mempercayai Yesus dan bersedia mengikuti-Nya. Tugas ini diberikan oleh Yesus kepada kelompok murid-murid yang pertama-tama dipanggil, dan kemudian komunitas kaum beriman sampai zaman kita.
Kesembilan, realitas dan wujud “maut” itu daftarnya panjang: kemelaratan dan pemiskinan, kebodohan dan pembodohan, ketakadilan, penindasan, perpecahan, kehancuran dan penghancuran lingkungan hidup, korupsi berjamaah, penghacuran sistem demokrasi demi melindungi kepentingan pribadi dan kelompoknya, dan banyak lagi.
Kesepuluh, berkaitan dengan catatan kesembilan, “menjala manusia” bukan hanya dilakukan dengan membaptis orang secara ritual, melainkan “mengubah wajah kemanusiaan dari yang dikungkung kuasa-kuasa jahat menjadi yang merdeka untuk mengenal Yang Baik dan mengikuti Dia.”
Kesebelas, ada berbagai macam cara untuk “merenggut umat manusia dari kuasa maut.” Antara lain, mengajari anak-anak jalanan untuk dapat membaca dan berhitung, merawat anak-anak yang terlantar dan ditelantarkan, mengajari anak-anak (kita) menjadi pribadi yang santun dan beradab, pelbagai inisiatif di beberapa paroki dalam kepedulian sosial yang terarah kepada dan yang melibatkan pelbagai lapisan orang, mengelola Credit Union secara bertanggungjawab, menggaji karyawan dengan pantas, dsb.
Merenungkan Injil ini menyadarkan kita bahwa pengalaman batin berjumpa dengan Tuhan dapat betul-betul menggerakkan orang untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan. Orang tidak berhenti pada rasa terpukau atau gentar yang pasif melulu, melainkan juga bersedia berbuat sesuatu untuk “merenggut orang yang dikuasai oleh maut” dengan cara yang sesuai dengan kemampuan kita. Dengan cara itu, orang-orang yang kita layani akan menjadi pribadi yang merasa tidak dilupakan Tuhan. Bila hal ini tidak kita lakukan sehingga keselamatan tidak dapat dialami secara nyata, maka seperti dikatakan oleh Paulus dalam bacaan kedua, kita ini “sia-sia saja menjadi percaya” (1Kor 15: 2).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
1 February 2025
MENGENALI YESUS SEPERTI DILAKUKAN OLEH MARIA
MENGENALI YESUS SEPERTI DILAKUKAN OLEH MARIA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua anugerah Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama satu pekan.
Besok kita akan merayakan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Bacaan Injil (Luk 2:22-40) berkisah tentang Yesus yang masih bayi dibawa kedua orang tuanya ke Yerusalem untuk dipersembahkan di tempat ibadat menurut hukum Musa. Pada kesempatan itu datanglah Simeon yang dikenal sebagai orang saleh, dan seorang nabi perempuan bernama Hanna. Mereka berdua menyadari bahwa bayi yang kini dipersembahkan di tempat ibadat ini adalah Dia yang bakal menghibur umat Tuhan, yang menghidupkan harapan bagi umat-Nya.
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, kanak-kanak Yesus dibawa ke tempat ibadat di Yerusalem untuk disucikan dan dipersembahkan kepada Tuhan menurut “hukum Musa” (ay. 22) yang juga disebut sebagai “hukum Tuhan” (ay. 23, 24 dan 39) atau “hukum Taurat” (ay. 27). Dengan cara bercerita seperti ini, penginjil Lukas ingin mengatakan bahwa Yesus datang dari keluarga kaum saleh, yang mentaati kepercayaan yang turun temurun diwarisi dari nenek moyang mereka.
Kedua, praktik seperti di atas (catatan pertama) dilatari oleh tiga macam ajaran kepercayaan leluhur, yakni:
(1) Pada akhir hari kedelapan setelah lahir, seorang bayi laki-laki wajib disunat dan diberi nama (Im 12:3). Hal ini terungkap dalam Luk 2:21;
(2) Seorang ibu yang baru bersalin dan melahirkan anak laki-laki wajib tinggal di rumah selama delapan hari dan tidak boleh ikut dalam upacara apa pun. Setelah lewat tenggang waktu ini, sang ibu perlu menjalani masa “penyucian” selama tiga puluh tiga hari (Im 12:1 dan 4); dan
(3) Bila anak yang lahir itu anak pertama, maka wajib dipersembahkan kepada Tuhan di tempat ibadat (Kel 13:12), dan dapat ditebus kembali oleh orang tuanya dengan “sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati” (Im 12:8) seperti disebut dalam Luk 2:24.
Ketiga, kisah dalam Injil yang sedang kita renungkan ini menyatukan pokok ke-2 dan ke-3 (catatan kedua) di atas. Dengan cara ini, kesalehan ibu dan anak dipaparkan secara bersamaan.
Keempat, kisah ini juga menampilkan dua orang tokoh saleh, yaitu Simeon dan Hana. Simeon hidup dalam kepercayaan orang Yahudi yang menantikan penghiburan bagi umat (ay. 25) dan Hana menantikan ditebusnya Yerusalem dari keadaan terpuruk (ay. 38).
Kelima, untuk memahami kedua tokoh ini perlu kita ingat bahwa dengan direbutnya kota Yerusalem oleh Nebukadnezar raja Babilonia pada tahun 587 sebelum Masehi, kebanyakan umat Israel hidup dalam pembuangan. Mereka tidak lagi merdeka, tidak lagi memiliki raja dan tempat ibadat. Mereka menantikan penghiburan dari Tuhan.
Keenam, setelah mereka kembali dari pembuangan dan kembali ke tanah leluhur mereka, mereka boleh membangun kembali negeri dan rumah ibadat mereka. Namun kenyataan tidak seperti yang diidam-idamkan. Malahan ada percekcokan di antara mereka mengenai siapa yang paling berhak membangun kembali kehidupan mereka dan seperti apa bentuknya. Semua ini terungkap dalam Yes 56-66 dan kitab nabi-nabi setelah pembuangan.
Ketujuh, di tengah-tengah kekacauan ini (catatan keenam) muncullah harapan akan datangnya seorang yang resmi ditugasi (kiasannya “diurapi”) membangun kembali negeri mereka. Tokoh ini disebut Mesias, artinya “yang diurapi”. Tokoh seperti ini akan menjadi penghiburan bagi umat. Dia inilah yang dinanti-nantikan oleh Simeon, yang mewakili orang-orang Israel yang mengharapkan datangnya sang Mesias.
Kedelapan, Kota Yerusalem tadinya merupakan kota suci bagi umat Tuhan dan dilindungi oleh-Nya. Tetapi kenyataan bahwa ditaklukkan oleh Nebukadnezar menunjukkan bahwa kota ini tidak lagi dilindungi Tuhan karena para penduduknya tidak lagi taat kepada Tuhan dan menyalahi perintah-perintah-Nya. Orang-orang saleh setelah pembuangan hingga zaman Yesus menantikan penebusan kota itu. Dalam kisah Injil yang kita renungkan ini tokoh Hana mewakili orang-orang saleh seperti itu.
Kesembilan, Simeon dan Hana adalah dua tokoh dari dunia Perjanjian Lama yang hidup dalam pengharapan akan perbaikan. Harapan mereka mulai terjawab dalam ujud datangnya seorang kanak-kanak Yesus yang diantar orang tuanya ke tempat ibadat (ay. 29-32, dan ay. 38).
Kesepuluh, disebutkan dalam ayat 33 bahwa orang tua Yesus heran mendengar kidung Simeon yang terdapat dalam ay. 29-32. Mereka kiranya belum begitu menyadari bahwa Yesus ini adalah yang dinanti-nantikan umat Israel. Dan inilah saatnya mereka – dan tentunya para pembaca Injil Lukas, kita semua – mulai menyadari siapa Yesus itu.
Kesebelas, bagaimana hidup dalam kesadaran ini? Nubuat Simeon yang diutarakan kepada Maria dalam ayat 34-35 dapat menjadi pegangan. Simeon menegaskan dalam nubuatnya bahwa anak yang dibawa orang tuanya ini ditentukan untuk “menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang di Israel” (ay. 34a). Artinya, kehadiran Yesus akan membuat orang makin merasa terpuruk (“menjatuhkan”) bila mereka mengharapkan-Nya sebagai Mesias politik, tetapi bakal betul-betul menghibur (“membangkitkan”) bila Ia diterima sebagai yang membawakan kehadiran Allah yang sesungguhnya.
Keduabelas, Simeon juga mengatakan bahwa anak itu akan “menimbulkan “perbantahan (ay. 34b) agar “menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (ay. 35). Artinya, perbantahan tentang Yesus sebagai “mesias politik” atau “yang menghadirkan Allah” akan membuat pemahaman orang tentang Mesias semakin dimurnikan.
Ketigabelas, Simeon menambahkan nubuat bagi Maria, yakni bahwa kelak “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (ay. 35b). Dengan cara ini, penginjil Lukas hendak mengatakan bahwa Maria akan menyadari apa yang terjadi pada Yesus juga dengan kepedihan besar, bagaikan hati yang ditembus pedang. Dengan ini penginjil Lukas juga hendak menyarankan kepada para pembacanya agar bersedia mengikuti cara Maria memahami Yesus tanpa mengesampingkan kesukaran-kesukaran yang dialami.
Keempat belas, Hana mewakili orang-orang yang mengharapkan kota mereka – Yerusalem – ditebus menjadi kota suci kembali (“dibebaskan”). “Pembebasan” (penebusan) Yerusalem bukan dalam arti terbangunnya kembali kota Yerusalem seperti sebelum direbut dan diperintah kekuasaan asing. Penebusan Yerusalem akan terjadi ketika kota itu menerima kedatangan Yesus sebagai pribadi yang menghadirkan Allah.
Salah satu buah rohani yang dapat kita petik dengan merenungkan Injil hari ini adalah undangan untuk bersedia mengikuti cara Maria memahami Yesus tanpa mengesampingkan kesukaran-kesukaran yang ada. Kita diajak melepaskan gagasan-gagasan sendiri mengenai Yesus dan membiarkan-Nya menunjukkan Diri setapak demi setapak. Dengan cara itulah kita akan menyadari siapa Yesus itu sesungguhnya. Kita kerap tidak menyadari bahwa Yesus sesungguhnya ada di dekat kita karena kita memandangi-Nya dengan pikiran-pikiran kita sendiri.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
27 January 2025
MENGALAMI KEHADIRAN ALLAH DALAM DIRI YESUS
MENGALAMI KEHADIRAN ALLAH DALAM DIRI YESUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ketiga tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 1:1-4; 4:14-2) merupakan gabungan dari pengantar Injil Lukas (Luk 1:1-4) dengan peristiwa Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret (Luk 4:14-21).
Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah
kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, masa pembuangan di Babylon (586-538 Seb.M.) membuat umat Israel menyadari bahwa tidak mungkin lagi melakukan ibadat kurban karena Bait Allah—yang terletak di Yerusalem dan merupakan tempat ibadat kurban dipersembahkan—sudah dihancurkan dan dijarah. Selama masa itu lambat laun berkembanglah ibadat sabda. Unsur utamanya adalah pembacaan Taurat beserta penjelasannya.
Kedua, Taurat terdiri dari lima Kitab pertama dalam Perjanjian Lama; yakni Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat, Kitab Bilangan, dan Kitab Ulangan. Kitab-kitab ini mengandung “hukum yang diberikan oleh Allah kepada nabi Musa.” Taurat (dari Torah, bahasa Ibrani), artinya petunjuk atau ajaran yang mengatur seluruh kehidupan bangsa Israel: keluarga, ekonomi, hukum, dan peribadatan.
Ketiga, bagi orang Yahudi Taurat bukanlah sekumpulan hukum dan aturan semata-mata, melainkan ajaran kehidupan. Memang ada kelompok-kelompok yang cenderung menafsirkannya secara ketat sebagai aturan-aturan belaka. Tafsiran seperti itu membuat Taurat menjadi layu dan tidak membuahkan kehidupan batin.
Keempat, dalam Perjanjian Baru, kaum Farisi digambarkan sebagai satu kelompok (yang menafsirkan Taurat secara ketat sebagai kumpulan aturan belaka) seperti itu. Acap kali mereka berhadapan dengan Yesus dan murid-murid-Nya yang mau menghayati Taurat sebagai ajaran kehidupan.
Kelima, ketika bangsa Israel dipulangkan dari pembuangan, dan Bait Allah dibangun kembali serta ibadat kurban dapat dilakukan lagi, ibadat sabda tetap diteruskan dan bahkan menjadi ibadat yang makin penting dalam masyarakat Yahudi. Petikan-petikan dari Taurat dibacakan dan dijelaskan di dalam ibadat.
Keenam, Ibadat seperti ini kemudian dilakukan tiap hari Sabat di sinagoga atau rumah ibadat di mana saja. Setelah bacaan dan penjelasan Taurat menyusul uraian berdasarkan tulisan-tulisan lain, seperti halnya Kitab para Nabi, yang lambat laun juga diterima sebagai bacaan keramat.
Ketujuh, kisah dalam Luk 4:14-21 (yang kita renungkan ini) mencerminkan ibadat Sabat seperti dijelaskan di atas. Lukas menceritakan bagian ibadat sehabis petikan dari Taurat dibacakan dan dijelaskan. Dalam kesempatan itu salah seorang dari umat, yakni Yesus, maju untuk membacakan Kitab Nabi Yesaya (Yes 61:1-2).
Kedelapan, setelah selesai membaca dan ketika perhatian orang-orang terpaku (ay. 20b), mulailah Yesus memberikan pengajaran (ay. 21a). Ia berkata: “Pada hari ini, sewaktu kalian dengarkan, ayat-ayat Kitab Suci ini tergenapi!” (ay. 21b). Dengan perkataan-Nya ini, Yesus memperkenalkan diri sebagai Mesias (yang terurapi – ay. 18a) yang dinubuatkan dalam Kitab Nabi Yesaya, yang baru saja selesai Ia bacakan.
Kesembilan, tugas Mesias adalah “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (ay. 18b). Menurut pandangan Lukas, “orang-orang miskin” adalah mereka yang menderita kekurangan dalam hidup ini, terutama kekurangan material yang juga mengakibatkan kemelaratan batin. Dan seringkali mereka tidak menyadarinya.
Kesepuluh, “menyampaikan kabar baik” (ay. 18b) [catatan ketujuh] diwujudkan dalam tiga tindakan: (1) membebaskan para “tawanan” (ay. 18c) sehingga menjadi orang bebas, artinya membuat orang dapat kembali kepada Tuhan; (2) memberikan “penglihatan kepada orang buta” (ay. 18d), artinya, dengan kembali kepada Tuhan, mereka dapat memandangi kehadiran-Nya; dan (3) “membebaskan orang-orang yang tertindas” (ay. 18e), artinya, membuat hati dan pikiran orang menjadi lega.
Kesebelas, Yesus adalah Mesias sebagai pembawa berita gembira bahwa “tahun rahmat Tuhan sudah datang” (ay. 19). Dalam “tahun rahmat Tuhan” inilah Yesus hidup di tengah-tengah orang banyak, memberitakan Kerajaan Allah, menghidupkan harapan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir setan, dan memilih murid-murid agar makin banyak orang dapat dilayani.
Kedua belas, kehadiran Yesus di antara orang-orang sezaman-Nya membuat orang melihat bahwa Tuhan bersedia berada di tengah-tengah manusia. Inilah kabar gembira yang disampaikan kepada orang banyak. Hal ini dimungkinkan karena Yesus telah berhasil mengalahkan pengaruh yang jahat (Luk 4:1-12). Kehadiran Yesus adalah kehadiran orang yang direstui Roh Tuhan sendiri (Luk 4:14), sehingga dapat “mengangkat” dan memperkaya hidup setiap orang yang berjumpa dengan-Nya.
Ketiga belas, dari bagian pengantar (Luk 1:1-4) nampak jelas bahwa Lukas menulis injilnya bagi orang yang sudah pernah mendengar mengenai Yesus dan berminat mengenal-Nya lebih jauh walaupun belum amat yakin akan keistimewaan tokoh ini. Orang tersebut adalah “Teofilus”, artinya “yang penuh minat akan hal-hal yang Ilahi”; maksudnya, orang yang ingin mengenali kehadiran Tuhan. “Teofilus” itu adalah kita-kita ini juga.
Merenungkan Injil hari ini membantu kita untuk menyadari kembali bahwa mengikuti Yesus berarti ikut serta di dalam kehidupan-Nya. Melalui perjumpaan dengan Yesus dan mengikuti-Nya, kita dapat mengalami kehadiran Allah sendiri. Dengan mengikuti Yesus kita juga memperoleh karunia Roh, yang beragam wujudnya seperti diungkapkan dalam bacaan kedua (1Kor 12:12-30); namun semuanya dimaksudkan untuk saling membantu dan melengkapi demi diwujudkannya kesejahteraan bersama.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
27 January 2025
MEMBIARKAN TUHAN BERTINDAK SESUAI RECANA-NYA
MEMBIARKAN TUHAN BERTINDAK SESUAI DENGAN RENCANA-NYA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama satu pekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu II tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Yoh 2:1-11) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang pesta perkawinan di Kana. Ketika anggur habis, atas permintaan Maria (ay. 3), Yesus membantunya (ay. 7-8) sehingga kegembiraan pesta dapat terus berlangsung.
Apa makna peristiwa ini bagi kehidupan kita
sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut.
Pertama, pada awal kisah dikatakan bahwa ada perkawinan di Kana dan ibu Yesus ada di situ (ay. 1). Baru setelah itu dikatakan bahwa Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga (ay. 2). Dapat diduga bahwa Maria mengajak Yesus dan Yesus mengajak murid-murid-Nya. Hal seperti ini dilakukan orang di mana-mana.
Kedua, suasana gembira menandai pesta pernikahan di Kana. Banyak tamu datang dan ikut merasakan suasana itu. Tak heran jika persediaan anggur cepat menipis bahkan habis (ay. 3). Dalam tradisi Yahudi, dalam pesta selalu dihidangkan anggur. Habisnya anggur bisa merusak suasana kebahagiaan pesta.
Ketiga, mengatahui hal ini, Maria tidak tinggal diam. Ia segera menghu-bungi Yesus dan menceritakan keadaan tersebut (ay. 3). Tentu ia dapat minta bantuan di tempat lain, namun ia percaya bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu.
Keempat, selain meminta bantuan kepada Yesus Maria juga meminta kepada para pelayan untuk melakukan apa saja yang dikatakan oleh Yesus (ay. 5). Dengan tindakannya ini, Maria mengantar Yesus, Sang Penghadir kedatangan Allah, kepada orang banyak, serta mempertemukan orang banyak dengan Allah sendiri.
Kelima, menanggapi permintaan ibu-Nya Yesus mengatakan bahwa “saat”-Nya belum tiba (ay. 4). Artinya, Yesus mempunyai perhitungan sendiri tentang apa yang perlu dibuat-Nya. Ia tidak perlu didesak-desak untuk melakukannya.
Keenam, Maria menangkap pernyataan Yesus itu. Maria tidak mendesak Yesus untuk melakukannya, namun ia juga tidak tinggal diam. Ia mempersiapkan jalan Tuhan dengan menyuruh orang (para pelayan) melakukan apa yang nanti dikatakan Yesus (ay. 5). Inilah cara menantikan “saat” Tuhan bertindak dalam perhitungan-Nya sendiri.
Ketujuh, dalam akhir kisah dikatakan bahwa yang dilakukan oleh Yesus adalah “tanda” pertama yang dilakukan-Nya (ay. 11a). Yang dimaksud oleh penginjil Yohanes dengan “tanda” bukanlah mukjizat pengubahan air menjadi anggur, melainkan kemeriahan pesta yang berlangsung terus dan kehadiran Yesus di situ yang memungkinkan kegembiraan pesta itu tidak terhenti. Kehadiran-Nya yang membuat orang merasa tak kurang satu apa itulah yang menjadi “tanda yang pertama” yang dilakukan Yesus bagi orang banyak.
Kedelapan, menyaksikan hal itu (=kehadiran Yesus yang membuat kegembiraan pesta dapat berlangsung terus) para murid-Nya “percaya kepada-Nya” (ay. 11b). Murid-murid-Nya percaya bukan karena peristiwa menakjubkan, yakni air menjadi anggur. Para murid percaya bahwa Yesus itu patut diikuti, bahwa Yesus itu memperhatikan orang yang sedang dalam kesulitan, dan bahwa Yesus itu membuat orang makin mengenali kebaikan Tuhan.
Kesembilan, (semua) kisah mukjizat yang dilakukan Yesus sebenarnya dimaksudkan sebagai “tanda” agar kehadiran Yang Allah di tengah-tengah manusia terlihat dan dapat dirasakan oleh orang banyak. Kehadiran Allah inilah yang membuka mata orang buta, yang membuat orang tuli mendengar, yang membuat orang gagu bicara, yang membuat orang lumpuh bisa berjalan kembali, dan yang membuat orang berdosa merasakan pengampunan.
Merenungkan Injil ini ada dua hal yang dapat kita petik sebagai pembelajaran. Pertama, kita diundang untuk percaya bahwa kehadiran Yesus itu pasti memberi sesuatu, yang dapat memberikan kegembiraan dan kebahagiaan. Yang penting, kita tidak memaksakan kemauan dan keinginan kita kepada-Nya, melainkan membiarkan Dia bertindak menurut perhitungan-Nya sendiri. Tugas kita adalah berikhtiar agar Tuhan dapat melakukan rencana-Nya dalam hidup kita sesuai dengan perhitungan-Nya.
Kedua, ketika pemimpin formal (=pemimpin
pesta) tidak melakukan yang menjadi tanggungjawabnya (agar kegembiraan pesta
dapat terus berlangsung), pemimpin non-formal (Maria) mengambil oper
tanggungjawab tersebut (agar kegembiraan pesta dapat berlanjut tanpa henti).
Hal seperti ini perlu kita lakukan dalam kehidupan bersama.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
27 January 2025
PEMBAPTISAN YESUS - PEMBAPTISAN KITA
PEMBAPTISAN
YESUS – PEMBAPTISAN KITA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sabahat dan teman dalam keadaan baik. Selamat berjumpa kembali dalam tahun yang baru ini. Semoga semua harapan dan rencana kita pada 2025 ini sesuai dengan rencana Allah.
Besok kita akan merayakan Pembaptisan Tuhan. Bacaan Injil (Luk 3:15-16; 21-22) berkisah tentang Yesus yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.
Apa makna peristiwa ini bagi kehidupan kita,
orang-orang yang sudah menerima pembaptisan? Marilah kita renungkan bersama
dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, makna peristiwa pembaptisan Yesus akan semakin nampak jelas bila dibaca dengan latar kehidupan umat Perjanjian Lama, khususnya yang tercermin dalam bacaan pertama (Yes 40:1-5; 9-11) dan kehidupan komunitas Kristiani awal, yang tercermin dalam bacaan kedua (Tit 2:11-14; 3:4-7).
Kedua, umat Israel (dalam Perjanjian Lama) yang mengalami pembuangan di negeri Babilonia tidak dapat membanggakan diri sebagai umat pilihan Allah. Mereka tidak bisa merasakan sebagai bangsa yang jaya. Sebaliknya, pengalaman sebagai bangsa yang dibuang, membuat mereka menyadari betapa terpuruknya negeri mereka. Sekaligus pengalaman itu juga memurnikan iman kepecayaan mereka. Perlahan-lahan muncul kesadaran bahwa Tuhan yang dulu memerdekakan mereka dari perbudakan di Mesir, kini juga akan memimpin mereka keluar dari kesesakan batin di Babilonia.
Ketiga, dengan latar pengalaman pembuangan itu (catatan kedua) Nabi Yesaya, dalam bacaan pertama (Yes 40:1-5; 9-11), mengajak orang agar mengambil haluan baru (terjemahan dalam ay.1: “hiburkanalah umat-Ku”, dalam bahasa Ibrani berbunyi: “Ubahlah cara berpikir umat-Ku”.) Orang pasti mampu melakukannya (melakukan perubahan) karena kekuatan-kekuatan ilahi sendiri menyertai mereka.
Keempat, kisah tentang pembaptisan Yesus
petama kali disampaikan dalam Injil Markus (Mrk 1:9-11) yang memuat tiga hal
berikut: (1) Yesus dibaptis oleh Yohanes di Yordan (ay. 9), (2) sewaktu keluar
dari air Ia melihat langit terbelah dan Roh turun kepada-Nya seperti burung
merpati (ay. 10), maksudnya kekuatan surga yang dahsyat tampil dalam ujud yang
lembut, dan (3) saat itu juga ada suara dari langit mengatakan: “Engkau anak-Ku yang terkasih, kepadamulah
Aku berkenan.” (ay. 11). Dalam peristiwa ini diperkenalkan siapa Yesus itu
kepada umat manusia. Dalam diri Yesus hadir kekuatan-kekuatan surgawi.
Kelima, penginjil Lukas (Luk 3:21-22) ikut menceritakan kembali ketiga hal yang disampaikan penginjil Markus, sekaligus juga menambahkan bahwa Yesus dibaptis setelah semua orang lain menerima baptisan (ay. 21). Dengan cara ini, Lukas ingin menanggapi persoalan di kalangan umatnya yang bertanya-tanya apakah Yesus sama seperti orang-orang yang datang minta dibaptis. Sekaligus Lukas menyampaikan bahwa baptisan yang diterima oleh Yesus itu berbeda dengan baptisan yang diterima oleh orang-orang yang mendahului-Nya. Kedatangan Roh dan terdengarnya sabda ilahi (ay. 22) membuat peristiwa ini berbeda.
Keenam, faktor pembeda lainnya adalah Yesus “sedang berdoa” ketika langit terbuka (Luk 3:21); artinya, ketika Ia membiarkan kekuatan-kekuatan ilahi datang merasuki kehidupan-Nya. Penginjil Lukas mengartikan kata “melihat” dalam Injil Matius (Mat 3:16) dengan kata “berdoa.” Terbukanya langit, turunnya Roh, dan terdengarnya suara dari langit semuanya ditaruh dalam rangka “berdoa” tadi. Bagi Lukas “berdoa” menjadi indra rohani yang memungkinkan orang mencerap atau “melihat” hal-hal yang tidak kasat mata yang datang dari dunia ilahi.
Ketujuh, bagi generasi umat Kristiani berikutnya, pertanyaan apakah baptisan Yesus sama dengan baptisan orang lain, sudah tidak relevan lagi. Bagi mereka, baptisan Yesus dipahami sebagai ungkapan rasa sepenanggungan dengan orang-orang yang hati nuraninya tersentuh oleh ajakan Yohanes Pembaptis. Lebih tajam lagi, melalui pembaptisan Yesus orang mulai paham bahwa kini Tuhan sendiri datang menyertai umat-Nya dengan kekuatan-kekuatan-Nya, seperti diserukan dalam Yes 40:1-5.
Kedelapan, bila dibaca dalam konteks peristiwa pembaptisan orang banyak, peristiwa pembaptisan Yesus ini memperlihatkan datangnya kekuatan-kekuatan ilahi bersama Sang Putra terkasih untuk menyertai perjalanan umat yang telah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan tadi. Inilah yang dimaksud oleh penginjil Matius dengan “agar kehendak Allah digenapkan” (Mat 3:15). Yesus ini adalah orang yang sedemikian dekat dengan kehadiran ilahi sendiri sehingga menurut kata-kata Markus, Ia [mampu] “melihat” langit terbuka dan Roh Allah turun.
Kesembilan, Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa ia membaptis dengan air (Luk 3:16a), sedangkan yang akan datang nanti (Yesus) akan membaptis dengan Roh dan api (Luk 3:16b). Air membersihkan, tetapi air hanya membersihkan bagian luar; bukan mengubah seluruhnya. Api memurnikan baik luar maupun dalam. Api dapat mengubah secara utuh. Ini bahasa kiasan untuk menolong kita mengerti dan membicarakan hal-hal yang dengan cara lain sulit dipahami, apalagi dikomunikasikan. Baptisan dengan Roh artinya baptisan yang memberi kekuatan untuk menempuh hidup baru yang diniatkan oleh orang yang dibaptis.
Kesepuluh, pada zaman Yesus baptisan yang dikenal adalah baptisan Yohanes Pembaptis. Baptisan yang diumumkan Yohanes ini sebetulnya bukan barang baru lagi pada waktu itu. Para petapa di Qumran sudah menjalankannya. Juga kelompok-kelompok orang saleh waktu itu menyatakan niat pembaruan hidup mereka dengan baptisan. Nanti bila Yesus membaptis, Ia tentunya juga membaptis orang seperti Yohanes (lihat Yoh 3:22-23). Dan sewaktu masih ada bersama Yesus, murid-murid-Nya pun membaptis (lihat Yoh 4:2), tentunya menurut baptisan Yohanes juga.
Kesebelas, baru setelah peristiwa kebangkitan, baptisan di kalangan pengikut Yesus menjadi lebih khas. Ini tercermin dalam ajakan agar murid-murid membaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19). Dalam tradisi Kisah Para Rasul, baptisan dijalankan dalam nama Yesus (Kis 8:16; 10:48; 19:5), dalam arti orang menggabungkan diri dengan pengikut-pengikut Yesus. Karena Yesus tidak lagi ada bersama mereka secara fisik, maka baptisan ini disebut baptisan dalam Roh-Nya, yakni Roh Kudus (Kis 1:5; 11:16) yang membawakan hidup baru.
Kedua belas, Paulus menjelaskan bahwa orang menjadi pengikut Kristus dengan dibaptis, karena tindakan ini melambangkan keikutsertaan di dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Dalam surat kepada Titus (bacaan kedua: Tit 2:11-14; 3:4-7, khususnya 3:5) Paulus menegaskan bahwa dibaptis berarti lahir kembali, mendapat pembaharuan hidup dalam Kristus, yang dikerjakan oleh Roh Kudus.
Merenungkan bacaan-bacaan dalam Perayaan Ekaristi hari ini, kita diundang untuk mengingat kembali pembaptisan kita. Melalui pembatisan yang kita terima, kita dijadikan murid-murid Yesus dan anggota penuh Gereja-Nya. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa melalui sakramen baptis dan sakramen penguatan “oleh Tuhan sendiri [kita] ditetapkan untuk merasul” (LG 33 dan AA 3). Menurut Konsili Vatikan II, tujuan dari kerasulan kita adalah supaya Kerajaan Allah hadir di tengah-tengah masyarakat, dan keselamatan bagi segenap bangsa manusia diwujudkan (GS 45).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.