Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

17 July 2023

MENCARIKAN TANAH YANG SUBUR

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat setelah Anda bekerja keras selama sepekan. Saya harap Anda juga dapat menyisihkan sedikit waktu untuk merasakan kembali semua anugerah Allah yang telah dilimpahkannya selama sepekan.

Besok (16 Juli 2023) kita akan merayakan hari Minggu ke-XV tahun A dalam kalender liturgi. Dalam Injil yang akan kita dengarkan dalam Perayaaan Ekaristi, Yesus memberikan pengajaran kepada orang banyak dengan menggunakan perumpamaan tentang seorang penabur (Mat 13:1-9). Makna perumpamaan ini kemudian dijelaskan kepada para murid-Nya (Mat 13:18-23). Apa warta perumpamaan itu? Dan apa maksud penjelasan yang secara khusus ditujukan kepada para murid? Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, cara bercocok tanam pada zaman itu tidak selalu sama dengan yang dikenal sekarang. Pada zaman Yesus biasanya biji disemai sebelum tanah digarap; bukan sebaliknya. Jadi tanahnya memang belum dibajak atau dicangkul atau dialiri air. Baru kemudian tanah yang sudah ada bijinya itu akan digemburkan.

Kedua, biji yang disebut jatuh di pinggir jalanan itu (ay. 4) bukan karena penaburnya menyemai secara acak atau tanpa rencana. Rekannya atau dia sendiri nanti akan menggemburkan tanah di pinggir jalanan yang baru saja ditaburinya tadi. Tetapi apa lacur, sebelum tanah sempat digarap, benih yang ditabur di situ keburu dimakan burung.

Ketiga, tanah yang berbatu-batu (ay. 5) adalah tanah yang keras, berkapur dan kersang. Penabur tidaklah kebetulan menabur di tanah berbatu-batu. Di situ sengaja ditaburkan benih. Lahan itu nanti akan dibajak, dicangkul, digemburkan sebisanya. 

Keempat, semak duri (ay. 7) bisa tumbuh di tanah kersang dan berbatu-batu sekalipun. Meski tanah yang akan digarap itu dibersihkan dari onak duri, sebentar lagi tentu akan tumbuh kembali. Dan benih yang disemai di tanah yang beronak itu tidak bakal tumbuh baik. Akan terhimpit.

Kelima, apa arti tanah yang baik (ay. 8)? Dari semula tentu tanah ini sudah baik. Benih yang ditabur di situ nanti akan tumbuh baik, tentunya setelah tanah digemburkan. Bagaimanapun juga perlu penggarapan agar benih bertumbuh baik dan berbuah melimpah.

Keenam, yang hendak diajarkan Yesus adalah perihal tanah yang bakal digarap dan sudah ditaburi itu. Perumpamaan ini diceritakan untuk menggugah kebijaksanaan batin. Bila melihat benih yang jatuh di tanah yang begini atau yang begitu, bagaimana reaksi kita?

Ketujuh, pendengar diajak melihat bahwa pada dasarnya ada dua macam tanah. Ada tanah subur yang dapat memberi hasil dan ada tanah yang akan tetap mandul. Dalam konteks Injil Matius, tanah yang mandul adalah orang-orang yang tidak bersedia menerima Yesus dan pewartaan-Nya, yakni kaum Farisi. 

Kedelapan, mereka yang menjalankan kehendak Bapa-Nya (Mat 12:50) menjadi tanah subur yang memberi hasil. Arti “menjalankan kehendak” adalah menuruti, mendengarkan. Jelas, yang dimaksudkan dengan mendengarkan Bapa berarti menerima yang disampaikan oleh-Nya kepada manusia, yakni Yesus sendiri.

Kesembilan, perumpamaan itu diakhiri dengan seruan “Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (ay. 9). Dalam alam pikiran orang Semit (termasuk orang Yahudi), telinga adalah jalan untuk memperoleh pengertian dan kebijaksanaan. Karena itu, mendengar pertama-tama berarti mengerti dan bertindak sesuai dengan kesadaran ini.

Kesepuluh, ayat 9 tersebut (catatan kesembilan) mengajak orang menyadari bahwa memang ada tanah yang subur dan ada tanah yang tidak menghasilkan apapun. Apa yang bisa diperbuat? Tentunya tindakan yang paling cocok bila melihat ada benih jatuh ke tanah yang tidak bakal menghasilkan adalah memindah benih itu ke tanah yang subur supaya bisa tumbuh dan berbuah. Pembaca juga dihimbau agar mengenali tanah yang baik supaya bisa menolong dengan sungguh-sungguh. Ini makna perumpamaan (ay. 1-8) tersebut.

Kesebelas, dalam ay. 18-23 perumpamaan tadi diterapkan pada kehidupan iman para pengikut Yesus, baik dahulu maupun sekarang, dengan menekankan unsur-unsur berikut:

Pertama, orang dihimbau agar menjadi tanah yang subur yang memungkinkan benih tumbuh dan berbuah berlipat ganda. Juga diajarkan bagaimana menjaga agar sabda yang telah ditaburkan tidak hilang atau terhimpit.

Kedua, siapa saja yang mau menjadi murid Yesus perlu berani mengusahakan agar semakin banyak benih menemukan tanah yang baik dan tidak membiarkannya tinggal di tanah kersang atau lahan yang beronak duri dan berkeras kepala mengharapkan tanah seperti itu akan bisa membaik.

Ketiga, tanah kersang dijelaskan sebagai penganiayaan dan intimidasi yang sering dialami kaum beriman (ay. 21). Sebagai murid-murid Yesus, kita perlu secara proaktif mencegah terjadinya keadaan seperti itu. Bila toh terjadi, keadaan sulit tidak selalu perlu dihadapi secara frontal. Ada kalanya lebih baik menghindarinya. 

Beriman tidak identik dengan menjadi pahlawan atau martir. Kita dihimbau agar menemukan kebijaksanaan dalam beriman. Dengan demikian kita akan pandai-pandai menghadapi “kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan” yang menghimpit benih sabda (ay. 22).

Penjelasan Yesus atas perumpamaan tersebut berakhir dengan pernyataan bahwa tanah yang baik adalah orang yang “mendengar sabda dan mengerti” dan karena itu dapat berbuah berlipat ganda (ay. 23). 

Bagi mereka yang mengusahakan diri menjadi murid dan pengikut Yesus, ikhtiar yang sesuai kiranya terletak dalam usaha membuat tanah (hidup mereka) yang telah ditaburi benih betul-betul menjadi lahan subur. Bila perlu mencari tanah yang lebih baik. 

“Mengerti” juga berarti mengusahakan agar tokoh yang mereka ikuti, yakni Yesus sebagai benih yang tersemai dalam diri mereka, semakin menjadi bagian dalam kehidupan mereka.


Teriring salam dan doa dari Rumah Retret Panti Semedi, Klaten, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

9 July 2023

YESUS DIHADAPAN ALLAH DAN YESUS BAGI KITA

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda bersama keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati malam Minggu. Semoga Anda sempat beristirahat setelah bekerja keras selama sepekan. Saya harap Anda juga masih bisa menyisihkan waktu sejenak untuk merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya selama sepekan yang lalu. 

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa XIV tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 11:25-30) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok memuat pernyataan Yesus mengenai siapa diri-Nya di hadapan Allah (ay. 25-27), dan siapa Dia bagi orang-orang yang bersedia menerima-Nya (27-30). Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, banyak orang ingin tahu mengenai siapa tokoh Yesus yang katanya mengerjakan hal-hal yang hebat. Apakah Dia itu benar-benar tokoh yang dinantikan orang banyak (Mat 11:2-6)? Bila Dia memang tokoh yang diharapkan, mengapa ada yang berani menganggap sepi warta-Nya mengenai kedatangan Kerajaan Surga dan malah mengira bahwa Ia berbicara yang bukan-bukan (Mat 11:7-19)? Bahkan di beberapa tempat, seperti Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, orang-orang tidak percaya kepada-Nya meskipun Ia telah mengerjakan hal-hal yang ajaib (Mat 11:20-23). Apa yang dipikirkan Yesus sendiri tentang semua ini?

Kedua, dari pernyataan Yesus dalam Mat 11:25 dapat disimpulkan betapa Ia sungguh mengenal Dia yang diwartakan-Nya kepada orang banyak dengan pelbagai tindakan-Nya, yakni menyembuhkan orang sakit, mengeluarkan roh jahat, mengajar, dan mengutus para murid. Semua kegiatan itu dilakukan-Nya agar orang semakin mengenal kehadiran Allah di dunia, khususnya agar orang dapat melihat bahwa Allah yang diwartakan-Nya adalah Allah yang peduli, bahkan Allah tersebut bisa dipanggil dan diseru sebagai Bapa.

Ketiga, semua yang dikerjakan Yesus itu demi Allah yang mengutus-Nya. Yesus tidak ragu-ragu mengakui hal ini. Dalam saat-saat yang kurang menyenangkan, seperti ketika dimusuhi, dan ditolak, Yesus justru menimba kekuatan dari kesadaran batin-Nya itu.

Keempat, dalam Luk 10:21 Yesus penuh kegembiraan dalam Roh ketika mendengar hasil kerja ke-70 murid-Nya. Mereka berhasil membuat kekuatan-kekuatan jahat takluk ketika mendengar mereka mewartakan nama Yesus. Bagi Yesus, jelas Bapa-Nya sendiri bertindak. Ia merasakan kesatuan diri-Nya dengan Dia yang mengutus-Nya. Karena itulah upaya-Nya berhasil, dan mereka yang ikut serta memperoleh keberhasilan pula.

Kelima, keberhasilan tidak boleh diukur semata-mata dari besarnya penerimaan orang. Yesus menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan-Nya itu bergantung pada kesanggupan-Nya serta kesanggupan para murid mewartakan kebaikan Allah. Perkara diterima atau malah dicurigai, hal itu bukan hal yang pokok. Para pendengar masih tetap memiliki kemerdekaan untuk menerima atau menolak-Nya.

Keenam, siapa yang dimaksud dengan “orang bijak dan orang pandai” serta “orang kecil” dalam Mat 11:25? Pada zaman Yesus “orang bijak dan orang pandai” adalah orang-orang yang memahami Kitab Suci dan Tradisi keagamaan dengan baik. Tetapi mereka lama kelamaan membatasi ruang gerak Allah sendiri; Allah harus berbuat begini atau begitu menurut kemauan mereka. Mereka sulit menerima bahwa Yang Mahakuasa dapat memakai cara-cara yang tidak biasa.

Ketujuh, dengan mengutus Yesus Allah memakai cara yang tidak lumrah. Yang Mahakuasa memusatkan diri pada manusia Yesus itu. Yesus adalah  satu-satunya yang mendapat perkenan untuk menampilkan wajah-Nya kepada umat manusia. Karena itu, Yesus dapat memanggil-Nya Bapa dan dapat mengajak kita berani ikut memanggil-Nya demikian. Jelas hanya Putra sajalah yang mengenal Bapa. Dan hanya orang-orang yang diajak dan mau menerima Putra dapat mengenali Bapa seperti Yesus sendiri. Itulah yang diungkapkan dalam Mat 11:26-27.

Kedelapan, untuk menerima kenyataan iman ini (catatan 7), jalan orang bijak dan jalan orang pandai saja tidak dapat menjamin. Untuk dapat menerima kenyataan iman tersebut, mereka perlu menjadi “orang kecil,” menjadi orang yang mau menerima tanpa pamrih; yang mau menerima bahwa yang menjadi jaminan dari keyakinannya adalah Allah sendiri. Jadi, orang kecil tidak identik dengan orang miskin.

Kesembilan, yang dimaksud dengan “yang letih lesu dan berbeban berat” adalah kaum “cerdik dan pandai” yang dengan cermat dan saleh mengikuti perintah-perintah Taurat yang jumlahnya sampai 613. Perintah dan larangan ini bisa menjadi beban yang memberatkan dan tidak menjamin kebahagiaan yang sejati dan belum tentu bisa menjadi ungkapan iman yang hidup. Mereka menjadikan agama sebagai beban (berat), bukan jalan yang memerdekakan batin agar dapat menerima kehadiran ilahi dan menerima sesama seperti apa adanya.

Kesepuluh, mereka itu, dan kita semua, diundang untuk ikut mengangkat beban yang dipanggul Yesus, ikut memikul yang dipikulnya (Mat 11:29-30). Menerima ajakan seperti ini akan “memberi kelegaan” (Mat 11:28b). Mengapa? Kita akan ikut memanggul beban bukan pertama-tama untuk ikut berkorban, ikut menderita, dst., melainkan sebagai tanda terima kasih bahwa Dia sudah mau menjalankan tugas yang diberikan Bapa-Nya. Kita sudah menikmati hasil jerih payah-Nya. Dan ungkapan terima kasih inilah yang mendasari keselamatan kita; itulah yang “memberikan kelegaan.”

Kita hidup di tengah masyarakat yang menganut berbagai macam agama dan kepercayaan. Masing-masing menawarkan keselamatan. Bagaimana kita tetap bisa menerima Yesus sebagai satu-satunya utusan Allah untuk memperkenalkan Dia dan mewujudkan karya keselamatan-Nya di dunia ini? Semoga Injil yang kita renungkan ini dapat membantu kita untuk menerima Yesus tanpa ragu.


Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

3 July 2023

MENGIKUTI YESUS


Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk mengakhiri liburan panjang. Semoga Anda masih bisa menyisihkan sedikit waktu untuk mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah Ia limpahkan selama sepekan ini.

Minggu, 2 Juli 2023 kita akan merayakan hari Minggu ke-13 tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 10:37-42) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (ay. 37-39) bernada keras. Selanjutnya, dalam ay. 40-42 berbicara mengenai imbalan bagi mereka yang mau mengikuti Yesus dan melakukan kebaikan sekecil apa pun (kepada para murid-Nya).

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, beberapa ayat sebelum petikan Injil yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi besok, menyatakan bahwa Yesus datang membawa pedang (Mat 10:34). Apa yang dikatakan Yesus dapat dimengerti bila kita  melihat apa yang terjadi dalam masyarakat Yahudi kala itu. Dalam masyarakat Yahudi waktu itu ada harapan akan datangnya seorang Mesias yang membawa damai, kemakmuran, kejayaan dan kebesaran bagi umat Israel. Dengan pernyataan-Nya itu, Yesus ingin mengoreksi pandangan mereka.

Kedua, selain itu, menjelang keruntuhan Yerusalem ada nabi-nabi palsu yang menentramkan hati rakyat dengan mengatakan bahwa akan datang damai yang akan membuat situasi politik yang kalang kabut waktu itu akan berubah dan menjadi baik-baik saja. Nabi Yeremia menelanjangi mereka, dan mengajak rakyat untuk melihat kenyataan bobrok yang terjadi dalam masyarakat mereka (Yer 23:9-40, khususnya ay. 17). Akibatnya, ia dimusuhi oleh para nabi palsu itu dan oleh rakyat sendiri. 

Ketiga, melalui pernyataan-Nya (Mat 10:34), Yesus ingin mengajak orang-orang Yahudi kala itu, dan para murid-Nya, untuk melihat kenyataan yang ada dalam masyarakat dan agama mereka yang sudah membusuk. Ibarat pedang yang bisa memilah-milah, demikian pula kehadiran Yesus. Kehadiran Yesus memang memotong yang busuk dari yang masih dapat diselamatkan. Kehadiran Yesus juga bisa memisahkan orang dari sanak keluarga yang terdekat (Mat 10:35-35). Tindakan Yesus ini seperti tindakan nabi Yeremia, maka Yesus pun dibenci oleh banyak orang.

Catatan pertama s/d ketiga inilah yang menjadi konteks petikan Injil ini (Mat 10:37-42). 

Keempat, ketiga ayat pertama (Mat 10:37-39) yang memuat tuntutan yang sangat tinggi, ditujukan kepada para rasul, yakni mereka yang dipilih oleh Yesus untuk menjalankan perutusan-Nya. Namun, semangat dan isinya diperuntukkan bagi semua orang yang akan menjadi murid-Nya. Hal ini terungkap dengan sangat jelas dalam Mat 16:24-26, yang berbicara tentang memikul salib dan membiarkan diri kehilangan nyawa demi Yesus.

Kelima, apa yang disampaikan Yesus dalam Mat 16:24-26 baru diberikan setelah Yesus menyatakan untuk pertama kalinya tentang penderitaan-Nya (Mat 16:21). Hal itu terjadi setelah Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Mesias (Mat 16:16). Dengan cara ini, Matius ingin menyampaikan kepada para pembacanya bahwa semakin orang mengenal Yesus, diharapkan mereka juga semakin bersedia untuk mengutamakan Yesus dalam hidup mereka.

Keenam, seluruh hidup Yesus dibaktikan kepada kehendak Allah yang mengutus-Nya. Seluruh hidup Yesus dapat menghadirkan Yang Illahi, karena Ia menyediakan diri untuk itu dengan melakukan “pengosongan diri” (Yunani: kenosis) – Fil 2:5-11. “Mengosongkan diri” berarti meluangkan diri atau menyediakan diri agar dapat dipenuhi oleh keilahian. Karenanya, Yesus dapat menunjukkan/memperlihatkan (gambar) Allah yang tidak kelihatan.

Ketujuh, tindakan “pengosongan diri” hanya dapat dilakukan oleh Yesus, karena hanya Dialah yang dipilih oleh Allah untuk melakukan hal itu. Yang diminta dari kita bukannya meniru Dia, melainkan menyadari mengenai apa yang terjadi pada Yesus dan apa yang dilakukan-Nya.

Kedelapan, bila kita ingin meniru Yesus, jelas tidak akan berhasil. Bila kita memaksa untuk melakukannya, paling-paling kita hanya akan sampai pada salib yang menyakitkan. Lebih buruk lagi, kita malah akan memaksakan salib tiruan, dan bukan salibnya Yesus. Karenanya, cara yang terbaik adalah mengikuti Yesus sendiri. Kita tidak perlu mencari-cari salib. Salib sudah ditemukan oleh Yesus, kita tinggal ikut memanggulnya; ikut meringankan salib Yesus. Itulah yang menjadi bagian kita, para murid-Nya.

Kesembilan, memikul salib Yesus berarti menjadi teman seperjalanan Yesus. Itulah maksudnya ketika Yesus berkata: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38). “Memikul salib” tidak dapat dipisahkan dari “mengikuti Aku.” Bila dipisahkan, beban yang kita pikul tidak akan membawa kita kepada keselamatan, melainkan sebuah penderitaan yang tanpa ujung pangkal.

Kesepuluh, dalam Mat 10:39 ditandaskan bahwa mereka yang berusaha menyelamatkan dirinya (“nyawanya”) akan kehilangan dirinya (“nyawanya”); sebaliknya, mereka yang menemukan dirinya dalam Yesus (=“kehilangan nyawanya karena Aku”) akan mendapatkan keselamatan (=“menyelamatkan nyawanya”). Inilah salah satu pokok spiritualitas Kristiani. Hidup kita sebagai orang Kristiani, baru ada artinya bila hidup kita dapat menampakkan Yesus yang dengan salib-Nya telah menampakkan kehadiran Allah yang mengutus-Nya. 

Panggilan menjadi murid Yesus adalah sebuah upaya untuk memerdekakan batin, membebaskan berbagai macam ikatan yang menyulitkan kita untuk memperkenalkan Yesus sebagai utusan Allah. Injil hari ini mengajak kita untuk mendekatkan diri pada Yang Ilahi, dan membiarkan diri kita menjadi tempat kehadiran-Nya. Bila hal ini kita lakukan, kita akan mendapatkan ganjaran seperti terungkap dalam Mat 10:40-42. 


Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

25 June 2023

MENJADI MURID YESUS YANG BIJAK DAN TAKWA


Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat setelah Anda bekerja keras selama sepekan. Semoga Anda juga dapat menyisihkan sedikit waktu untuk mencecap kembali semua kebaikan Allah yang dilimpahkannya selama sepekan yang lalu.

Besok kita akan merayakan hari Minggu ke-12 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 10:26-33) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memuat nasihat Yesus kepada para murid-Nya agar mereka tidak takut melainkan teguh dalam memberikan kesaksian tentang Diri-Nya di hadapan umum. 

Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, para rasul dipilih Yesus untuk ikut serta dalam karya-Nya dan, dalam pandangan generasi selanjutnya, mereka menjadi para pemimpin dalam komunitas para pengikut Yesus. Apa konsekuensi penugasan ini bagi kehidupan mereka?

Kedua, dengan menerima perutusan tersebut, para rasul menjadi senasib dengan guru mereka, yakni ditolak, dimusuhi, diadili dan menghadapi risiko dibunuh pula (Mat 10:24-25). Senasib dengan guru mereka itu merupakan pahala dan konsekuensi menjadi utusan-Nya. Tetapi mereka tidak ditinggalkan sendirian; mereka akan dilindungi oleh Bapa (Mat 10:29-31).

Ketiga, dengan mengatakan bahwa mereka tidak ditinggalkan sendirian, Yesus tidak mengajarkan bahwa akan ada kekuatan ilahi, roh dari langit yang menjadi bodyguard, pengawal pribadi yang siap menolong bila mereka terancam. Yesus juga tidak mengajarkan agar para murid melihat diri menjadi orang yang bisa membuat para pengejek kualat dan kena hukuman dari atas. Pemahaman seperti itu adalah cara-cara kaum preman rohani, dan bukan yang diharapkan dari rasul-rasul Yesus. 

Para rasul justru diminta berani memakai sumber kemanusiaan mereka dalam menjalankan tugas luhur mereka; yakni cerdik/bijaksana (=dapat menilai keadaan) dan tetap tulus (=menjaga integritas diri mereka)  [lihat Mat 10:16]. Bila mereka dianiaya di satu kota, mereka perlu lari ke kota lain (Mat 10:23), dan jangan mati-matian bertahan di situ agar tidak  mati konyol.

Keempat, bagian Injil yang sedang kita renungkan terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (Mat 10:26-31) memuat ungkapan “Jangan takut!” sampai empat kali (ay. 26, 28a, 28b, dan 31). Bagian kedua (Mat 10:32-33) berbicara mengenai keberanian bersaksi dan baru dapat didalami atas dasar bagian yang pertama. 

Kelima, tugas yang dimaksud ialah menjelaskan kepada orang banyak siapa Yesus itu. Tugas ini bisa menakutkan orang yang ditugasi. Juga bisa bikin waswas dalam diri sendiri, sebab mereka perlu mempertanggungjawabkan kepercayaan akan Yesus kepada orang-orang sebangsanya yang tidak mempercayai Yesus. 

Keenam, “waswas” adalah rasa takut yang disebabkan oleh mereka yang tidak bermaksud baik. “Waswas” adalah kekhawatiran yang menggoda terus-menerus dan bisa melemahkan. “Waswas” asalnya dari kata Arab, yang berarti bisikan setan yang bikin bingung, membuat hilang kepercayaan. Kata “takut” dalam ay. 28a menyangkut rasa waswas seperti ini.

Ketujuh, sebaliknya para rasul diminta untuk “takut” kepada Allah yang “berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh” (ay. 28b). Kata “takut” di sini berarti “takwa” (Bahasa Arab: taqwa), artinya takut kepada kekuatan ilahi dengan sikap menghormat, dan mengharapkan kekuatan darinya.

Kedelapan, para rasul juga diminta agar tidak lagi “waswas” karena mereka itu jauh lebih bernilai daripada burung pipit yang walaupun harganya cuma sepeser toh tidak dibiarkan jatuh ke bumi tanpa kemauan Bapa di surga (ay. 29). Kalau makhluk yang seremeh itu saja diperhatikan oleh Allah, apalagi para rasul; mereka pasti dilindungi oleh Allah (ay. 31).

Kesembilan, dalam ay. 32 ditegaskan bahwa barangsiapa “mengakui Yesus” di depan manusia, maka Yesus pun akan mengakuinya di depan Bapanya. Mengakui Yesus berarti menerima warta Yesus tanpa membiarkan diri diusik rasa “waswas” dan terpengaruh bisikan-bisikan jahat mengenai dirinya, melainkan menjalankan perutusan dengan sikap takwa kepada Dia yang mengutus Yesus sendiri, yakni Bapa-Nya

Kesepuluh, sebaliknya barangsiapa “menyangkal Yesus” di depan manusia, Yesus juga akan menyangkal dia di depan Bapa-Nya (ay. 33). “Menyangkal” berarti membiarkan diri terus menerus hidup dalam perasaan tidak menentu, “waswas” akan kebenaran warta Yesus, dan dengan demikian menyangkal juga yang mengutus-Nya. Orang seperti ini sudah berpihak pada pembisik rasa “waswas” tadi dan tidak “takwa” kepada Bapa.

Dalam nasihat-nasihat agar para rasul “jangan takut”, para rasul diajar oleh Yesus untuk mengamati rasa takut mana yang melemahkan (“waswas”), dan rasa takut mana yang menguatkan ("takwa"). Yesus juga mengajarkan bahwa dalam mengahadapi berbagai macam kesulitan, Bapa tidak pernah melupakan mereka. Dan bila kesulitan itu sampai mengancam kehidupan mereka, mereka perlu bertindak dengan cerdik (bijaksana). Pewartaan tentang Yesus hanya akan efektif bila dilakukan dengan tulus (penuh integritas). 

Tidak semua dari kita diberi tanggung jawab seperti para rasul dulu. Namun sebagai murid-murid Yesus kita diberi bekal yang sama, yakni kecerdikan (kebijaksanaan) dan ketulusan (integritas) agar kita dapat bersaksi tentang iman kita kepada-Nya. Bekal tersebut baru berguna bila kita gunakan secara tepat.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

18 June 2023

KUASA UNTUK MELAYANI

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat setelah bekerja keras selama sepekan. Semoga Anda juga masih dapat menyisihkan sedikit waktu untuk mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya selama sepekan ini.

Hari ini kita akan merayakan hari Minggu XI tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 9:36-10:8) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memiliki tiga unsur pewartaan. Pertama, dalam Mat 9:36-38 disebutkan bagaimana Yesus tergerak hatinya melihat orang banyak mengharapkan pertolongan dan dampingan. Ia menganjurkan para murid-Nya memohon kepada Yang Mahakuasa agar mengirim pekerja-pekerja untuk menuai hasil yang sudah tersedia. Kedua, dalam Mat 10:1-4 diberitakan peresmian keduabelas rasul, lengkap dengan daftar nama serta pemberian kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang dari segala penyakit dan kelemahan. Ketiga, dalam Mat 10:5-8 diceritakan bagaimana para rasul diutus untuk melayani mereka yang membutuhkan pertolongan.

Apa makna ini semua bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.

Pertama, dalam Injil Matius, sejak awal Yesus ditampilkan sebagai raja yang mendatangi umat-Nya, yakni Israel. Dia itu adalah Imanuel (= Tuhan menyertai umat-Nya) yang jauh-jauh hari sebelumnya telah dinubuatkan nabi Yesaya (Yes 7:14). Dia diperkenalkan sebagai raja baru di Yudea, ditakuti Herodes, tetapi didatangi dengan penuh hormat oleh orang-orang bijak dari Timur. Itulah inti kisah kelahiran Yesus menurut Matius (Mat 2:1-18).

Kedua, Yesus diutus kepada orang-orang yang tidak tahu lagi kepada siapa harus mencari pegangan. Dia mendatangi umat yang mengharapkan pemimpin yang tepercaya. Mereka seperti domba yang kehilangan arah, panik, tubruk sana tabrak sini (Mat 9:36).

Ketiga, para rasul diberi kuasa oleh Yesus sang Gembala untuk ikut melayani domba-domba tadi. Para rasul dipercaya untuk ikut mengusahakan agar umat tidak gampang terseret arus atau diombang-ambingkan keadaan yang tidak menentu (Mat 10:1).

Keempat, ketika Yesus masih hidup di dunia, seperti disebutkan dalam petikan Injil hari ini, Ia mengutus para rasul hanya kepada domba yang hilang dari umat Israel (Mat 10:5-6). Baru setelah kebangkitan-Nya pengajaran Yesus terbuka bagi semua orang; dan murid-murid akan ditugasi membawakannya ke semua penjuru dunia (Mat 28:19).

Kelima, menurut Matius para rasul diikutsertakan dalam tugas Yesus memberitakan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat” dan membawakan kesembuhan (Mat 10:7-8a). Masih ada satu kegiatan lain yang dilakukan oleh Yesus, yakni mengajar tentang siapa itu diri-Nya dan siapa Allah yang diperkenalkan-Nya itu. Tetapi baru setelah Yesus bangkit, murid-murid akan betul-betul diikutsertakan di dalam kegiatan mengajar ini (Mat 28: 19).

Keenam, dalam Mat 10:8b para rasul diminta memberikan dengan cuma-cuma apa saja yang telah mereka terima dengan cuma-cuma pula. Artinya, mereka dihimbau agar berani berbagi keteguhan iman yang telah ditumbuhkan Allah dalam diri mereka sendiri. Hanya mereka yang berjiwa merdeka seperti ini dapat mewartakan dan menyembuhkan orang lain dalam macam-macam arti dan wujud; tidak terbatas pada hal-hal yang lazim dikenal. Iman yang hidup mengambil wujud yang tak terduga-duga. Inilah kekuatan iman dan inti kegiatan rasuli.

Ketujuh, daftar keduabelas rasul dalam Mat 10:2-4 mengikuti Mrk 3:16-19, namun Matius melakukan beberapa perubahan. Satu perubahan yang sangat penting adalah ditambahkannya kata “Pertama” di depan nama Simon (ay. 2), sehingga Simon adalah rasul yang pertama. Dalam Injil Matius Simon memang lebih ditonjolkan sebagai yang pertama dari antara para rasul. Simon itu juga yang nanti digambarkan

mendapat kedudukan khusus sebagai dasar umat dan juru kunci Kerajaan Surga (Mat 16:17-19).

Kedelapan, dalam Injil Matius kata “rasul” hanya muncul satu kali, yakni dalam Mat 10:2. Istilah “rasul” artinya utusan. Mereka diberi kuasa menyampaikan berita dan mengerjakan urusan atas nama yang mengutus. Utusan hanya dapat mengerjakan tugasnya bila memang tepercaya, baik di mata yang mengutus maupun di hadapan mereka yang didatangi.

Kesembilan, keduabelas rasul itu melambangkan gagasan duabelas suku Israel. Gagasan duabelas suku ini berkembang sejak lama dan menjadi cara umat Perjanjian Lama memahami diri sendiri. Oleh karena itu, hal itu juga dapat menjadi lambang yang menyatukan umat yang mau membangun diri sebagai umat baru (= para pengikut Kristus; Gereja) yang dihidupi oleh kekuatan Tuhan sendiri.

Kesepuluh, dalam Injil, musim menuai kerap dipakai sebagai ibarat sudah tibanya saat memetik hasil usaha yang telah lama dijalankan dan dinanti-nantikan buahnya (Mat 9:37). Orang-orang pada zaman itu hidup dalam harapan akan datangnya seorang pemimpin yang akan membawa mereka ke jalan yang aman. Kegiatan Yesus di tengah-tengah banyak orang pada zaman-Nya menjadi tanda bahwa kini Allah mendatangi umat-Nya dalam diri tokoh ini. Banyak orang berhasrat mendekat dan memperoleh sesuatu dari-Nya. Musim menuai sudah tiba.

Kesebelas, ajakan meminta agar yang empunya tuaian, yakni Allah sendiri, mengirim lebih banyak pekerja-pekerja (Mat 9:38) dimaksud agar tuaian makin utuh dan melimpah. Bila tidak ada cukup penuai, batang gandum dan bijinya akan kering membusuk dan tidak berguna lagi. Begitulah jalan pikirannya. Penuai jelas menentukan berhasil tidaknya musim tuaian. Minat dan harapan yang besar di kalangan umat akan sia-sia bila tidak ada cukup orang yang melayaninya.

Keduabelas, mengapa yang empunya tuaian-lah yang diminta mengirim pekerja-pekerja (Mat 9:38)? Diajarkan sikap melepaskan klaim bahwa kerasulan yang begini atau yang begitu adalah urusan si rasul sendiri. Kerajaan Surga memakai ukuran-ukuran lain. Berhasil tidaknya penuai boleh jadi hanya Dia (yang empunya tuaian) saja yang tahu. Karena itu, kegiatan rasuli yang sejati adalah kegiatan yang membawa orang makin mendekat kepada Dia yang mau menolong orang-orang yang butuh bimbingan dari-Nya sendiri.

Injil hari ini mengajarkan kepada kita bahwa “kuasa rasuli” adalah kuasa melayani yang  asalnya memang dari Yesus sang utusan Allah sendiri. Kuasa itu merupakan kuasa yang diabdikan pada umat-Nya, demi kesejahteraan umat-Nya (apa pun agama mereka). Kuasa ini sakral, baik bagi pengemban maupun bagi umat; tidak bisa diklaim oleh perorangan. Yang mendapatkannya akan merasakan tanggung jawab yang besar dalam pelaksanaannya. Sebagai murid Yesus, kita pun menerima kuasa tersebut. Bagaimana kita memanfaatkannya?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

11 June 2023

HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati malam Minggu untuk sejenak beristirahat setelah Anda bekerja keras selama sepekan. Semoga Anda juga masih dapat menyisihkan sedikit waktu untuk merasakan kembali semua anugerah yang telah dilimpahkan oleh Allah selama sepekan.

Minggu, 11 Juni 2023, kita akan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Injil (Yoh 6:51-58) yang akan dibacakan dalam perayaan Ekaristi berbicara tentang Yesus sebagai roti kehidupan, yakni makanan yang memberi hidup. Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, konteks dari Injil yang dibacakan hari ini adalah Yoh 6:25-58. Dalam bagian pertama pengajaran-Nya (Yoh 6:25-50) Yesus membuat para pendengar-Nya  menengok kepada pengalaman mereka sendiri sambil mendorong mereka agar maju lebih jauh dan mengerti siapa Dia yang sudah datang di tengah-tengah mereka. Tetapi mereka tidak memahami ajakan Yesus itu dan malah berputar-putar pada gagasan mereka sendiri mengenai siapa Yesus itu. Dalam bagian kedua pengajaran-Nya (Yoh 6:51-58), Yesus mengajarkan bukan saja bagaimana mengenali Dia, melainkan bagaimana menerima Dia.

Kedua, dalam Injil Yohanes, kata “daging” dipakai untuk membicarakan manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, tetapi tanpa mengikutsertakan sisi-sisi jahat. Matius, Markus, Lukas dan Paulus memakai kata “tubuh” dengan arti yang sama.

Ketiga, berkaitan dengan catatan kedua di atas, dalam pembukaan Injil Yohanes (Yoh 1:14), dikatakan bahwa Sang Sabda menjadi “daging”; artinya, Yang Ilahi itu mendatangi dunia dalam ujud manusia biasa, bahkan rapuh. Hanya dengan demikian Ia dapat sungguh merasakan kuatnya kuasa yang jahat walaupun Ia sendiri tidak kalah dan tidak menjadi bagian dari kuasa itu. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak seluruhnya dapat dikuasai oleh yang jahat.

Keempat, kata “darah” biasa dipakai untuk menyebut tempat tinggalnya nyawa. Di situlah letak kehidupan. Dengan menyerahkan nyawa-Nya – darah-Nya – bagi orang banyak, Yesus berbagi kehidupan dengan orang banyak pula. Hidup Yesus berakhir pada kayu salib. Wafat-Nya menjadi kurban bagi penebusan orang banyak. “Daging” (=kerapuhan manusia) dan “darah” (=kehidupan) yang menjadi kenampakan Sabda Ilahi itu menjadi jalan penyelamatan. Bergabung dengan-Nya berarti menempuh jalan itu. Inilah yang kemudian dibahasakan oleh penginjil Yohanes dengan ungkapan “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal” (ay. 54; bdk. ay. 51).

Kelima, tetapi orang-orang tidak menangkap maksudnya dan saling mempertengkarkan bagaimana Dia bisa memberikan daging-Nya untuk dimakan (ay. 52). Orang-orang itu sulit menerima pemberian Yesus yang sesungguhnya. Mereka ingin pemberian yang mereka maui, seperti roti atau makanan biasa yang diberikan Yesus kepada orang banyak (Yoh 6:1-14).

Keenam, Yesus sendiri berkata bahwa mereka mencari Dia karena telah makan roti dan kenyang, dan bukan karena mereka melihat dan mengerti tanda-tanda, termasuk tanda roti tadi (Yoh 6:26). Orang-orang itu tidak memahami bahwa pemberian roti kepada orang banyak itu adalah tanda bagi pemberian yang datang dari dalam diri Yesus sendiri, yakni pengorbanan Diri bagi mereka.

Ketujuh, yang ingin disampaikan oleh Yesus bukan hanya roti yang mengenyangkan secara badaniah dan membuat orang melihat Diri-Nya sebagai “nabi” (Yoh 6:14) yang patut diangkat menjadi pemimpin, bahkan menjadi raja (Yoh 6:15). Yesus malah menghindari harapan seperti itu. Yesus mengajak orang agar mereka melihat bahwa yang memberi makanan dari langit itu ialah Bapa-Nya. Lebih lanjut Yesus ingin mengatakan bahwa sekarang ini Dirinyalah roti yang turun dari surga itu. Menerima Dia, mempercayai-Nya, akan membuat mereka mendapatkan roti yang memberi hidup (Yoh 6:32-40).

Kedelapan, penginjil Yohanes memakai istilah “daging” (dan bukan “tubuh” seperti Injil Sinoptik dan Paulus) untuk lebih membuat kita mengerti kesamaan antara Yesus yang sedang berbicara itu dengan yang diwartakan pada awal Injil: “Dan Sang Sabda itu telah menjadi manusia, [harfiahnya: menjadi “daging”], dan tinggal di antara kita...” (Yoh 1:14). Gereja sebagai komunitas orang beriman percaya bahwa Yesus itu masih ada di tengah-tengah mereka dan menghayatinya dalam bentuk Ekaristi. Dengan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus kita diundang oleh Yesus untuk bersedia “makan daging” Yesus dan “minum darah”-Nya. Artinya, mempercayai bahwa Yesus adalah pemberian dari surga yang membawakan hidup ke dunia. Pemberian ini lebih luas dari pada kehidupan biasa yang beriramakan lapar, kenyang, dan lapar lagi. Pemberian ini membawa ke kehidupan yang tidak lagi dibawahkan pada perputaran itu. Bagaimana konkretnya? Hal ini merupakan tanggungjawab dari orang-orang yang mengikuti Yesus. Orang-orang yang mengikuti Yesus, kita semua, dihimbau agar terus berusaha memberi isi nyata pada apa itu berbagi kehidupan surgawi, apa itu mengarah ke hidup kekal, dan menemukan roti kehidupan yang sesungguhnya di dalam hidup sehari-hari. Ini adalah iman yang mengangkat realitas keseharian menjadi yang makin mendekat ke kehadiran ilahi. Ada ajakan untuk mengusahakan agar kenyataan rohani juga berdampak pada kenyataan sehari-hari.

 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya