Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

18 July 2021

Mengendapkan Pengalaman

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga dan sanak-saudara berada dalam keadaan baik dan tetap memilih sehat serta bahagia di tengah situasi PPKM.
Hari ini kita merayakan hari Minggu Biasa ke-16 Tahun B dalam kalender liturgi. Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi hari ini (Mrk. 6:30-34) bercerita tentang situasi setelah para murid yang diutus untuk mempersiapkan kedatangan-Nya ke desa-desa (bacaan Minggu yang lalu, Mrk. 6:7-13) kembali berkumpul bersama Yesus dan melaporkan kepada-Nya semua yang telah mereka kerjakan dan ajarkan (ay. 30). Apa makna dari kisah ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan catatan-catatan berikut.

Pertama, kiranya para murid yang diutus oleh Yesus berhasil menunaikan tugas mereka dan diterima di mana-mana. Mereka bebas berbicara tentang Yesus yang akan mendatangi mereka. Yesus seperti apa yang mereka bicarakan? Dari Mrk. 8:27-30 (khususnya ay. 29), yang diberitakan oleh para utusan tadi adalah Yesus sebagai Mesias yang sejati, bukan Mesias politik. Penyampaian mengenai Yesus sebagai Mesias sejati, dilaksanakan dengan ajakan agar orang berpikiran luas (“bertobat”) dan menjadi manusia untuh (tidak dikuasai oleh “setan” dan “penyakit”) seperti dituturkan dalam Mrk. 6:12-13.

Kedua, akibat dari keberhasilan para murid Yesus, orang banyak berdatangan mengerumuni para murid (para rasul) yang sedang bekumpul kembali dengan Yesus. Mereka datang dan pergi menemui para rasul dan guru mereka (Yesus), sehingga “makan pun mereka tidak sempat” (ay. 31b); artinya, betapa besar antusiasme dan harapan mereka akan Yesus. Mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendekat pada-Nya.

Ketiga, dalam situasi seperti itu Yesus mengajak para murid pergi ke “tempat yang sunyi/terpencil” untuk beristirahat (ay. 31a). Dalam Kitab Suci, “tempat terpencil” (Yunani: erēmos) berarti padang gurun. Namun dalam peristiwa kali ini, “tempat terpencil” itu adalah perahu, tempat mereka berada hanya dengan guru mereka (ay. 32).

 Keempat, Yesus mengajak para murid untuk menyepi ke “tempat terpencil” guna mengendapkan pengalaman keberhasilan mereka dalam mengusir setan dan menyembuhkan orang-orang sakit dengan kuasa yang mereka terima dari Yesus (ay. 13). Hal ini penting agar mereka tidak jatuh ke dalam tindakan pengusiran setan dan penumpangan tangan serta berbagai macam talk show, sehingga tidak melihat inti pelayanan mereka yang sebenarnya. Di tangan orang yang kepercayaannya tidak lurus dan tidak mendalam, kuasa seperti itu malah dapat disalahgunakan untuk menunjukkan kebesaran diri sendiri dan mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, bukan untuk menyiapkan kedatangan Sang Guru. Lebih parah lagi, yang memakainya secara asal-asalan malah bisa celaka (lih. Kis. 19:13-20).

Kelima, dalam keheningan di atas perahu di tengah danau yang tenang bersama Sang Guru, para murid mengalami kembali semua keberhasilan mereka dalam perutusan. Mereka juga bisa mengenang kembali ketika Yesus menjinakkan badai dan gelombang yang hampir menenggelamkan perahu mereka (Mrk. 4:35-41; khususnya ay. 39). Dalam suasana seperti itu mereka menyadari bahwa kuasa yang hebat itu telah dianugerahkan kepada mereka, dan mereka telah dapat menggunakannya untuk menolong orang lain.

Keenam, tentu perahu berhenti lama di tengah danau sehingga orang-orang itu mendahului kedatangan Yesus dan para murid-Nya (ay. 33b). Melihat mereka, Yesus tergerak hati-Nya oleh belaskasihan karena mereka seperti domba yang tidak bergembala. Kepada mereka Yesus mengajarkan “banyak hal” (ay. 34b). “Banyak hal” yang diajarkan kepada orang banyak itu adalah “Kerajaan Allah” (lih. Luk. 9:11). Dalam diri Yesus, orang banyak itu menemukan gembala yang membawa mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Ketujuh, kumpulan orang banyak tidak bergerak bila tidak ada orang yang menggerakannya. Kendati tidak disebut dalam bacaan Injil kali ini, namun dapat dipastikan bahwa ada beberapa murid para rasul yang menggerakkan dan menyemangati orang banyak itu untuk berjalan ke tepi lain danau untuk mendahului Yesus dan para murid-Nya. Para penggerak inilah yang menghidupkan kelompok orang banyak itu. Mereka pula lah yang mendengarkan dan mencatat “banyak hal” yang diajarkan Yesus.

Dalam kisah Injil ini ada empat tokoh yang dapat kita teladani: Yesus, para rasul, orang banyak, dan para penggerak. Tampaknya tidak realistis bila kita ingin mengidentifikasikan diri kita dengan Yesus dan para rasul. Cukuplah kalau mereka itu kita amati, dengarkan, dan kenali agar kita dapat menimba banyak semangat dari mereka. Masih ada dua tokoh yang dapat kita teladani: orang banyak yang penuh antusiasme serta pengharapan terhadap Yesus, dan para penggerak yang memotivasi orang banyak untuk menemui Yesus dan para rasul, serta mendengarkan dan mencatat ajaran-Nya agar dapat diwartakan kepada orang lain. Dengan tokoh manakah kita akan mengidentifikasikan diri kita? Apa yang akan kita lakukan agar hal itu dapat terjadi?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

12 July 2021

Menyiapkan Kedatangan Yesus

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta sanak-saudara, serta teman dan sabahat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat dan mencecap kembali rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.

Hari ini kita merayakan hari Minggu Biasa ke-15 Tahun B dalam kalender Liturgi. Bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini (Mrk. 6:7-13) berkisah tentang pengutusan dua belas murid untuk mempersiapkan kedatangan Yesus dengan mewartakan pertobatan, mengusir setan, dan menyembuhkan orang-orang sakit (ay. 12-13). Mereka diminta untuk tidak membawa kelengkapan, selain yang sangat dibutuhkan (ay. 8-9). Mereka juga diminta untuk tidak takut bila tidak diterima dengan baik (ay. 11). Mereka melaksanakan perutusan itu dengan gairah (ay. 12-13). Apa makna semuanya ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, “dari desa ke desa” (ay. 6b). Yang dimaksud dengan “desa-desa” adalah pemukiman-pemukiman yang berada di luar tembok kota. Ke tempat itulah dua belas murid tersebut diutus berdua-dua (ay. 7) untuk mempersiapkan orang-orang di sana guna menerima kedatangan Yesus, agar peristiwa penolakan terhadap Yesus seperti yang terjadi di Nazaret tidak terulang lagi.

Kedua, “mengutus mereka berdua-dua” (ay. 7b). Ada kebiasaan di zaman Yesus bahwa berita bisa dipercaya bila dikuatkan oleh seorang saksi atau lebih.

Ketiga, siapa dua belas murid yang diutus oleh Yesus itu? Sejak tampil di muka umum Yesus memperoleh banyak pengikut (murid). Mereka berjalan bersama Yesus (Sang Guru) dari tempat yang satu ke tempat yang lain, mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan pelbagai macam penyembuhan dan perbuatan kuasa-Nya, serta melihat reaksi orang banyak (Mrk. 3:20-6:6). Dari antara mereka itu Yesus memilih dua belas orang (Mrk. 3:13-19), yang disebut “rasul,” yakni utusan dengan tiga tugas: menyertai Yesus, memberitakan Injil, dan mengusir setan dengan kuasa yang diberikan oleh Yesus (Mrk. 3:14). Mereka inilah yang diutus oleh Yesus menemui orang-orang di “desa-desa” itu.

Keempat, yang perlu dilakukan untuk mempersiapkan kedatangan Yesus ke “desa-desa” itu ada tiga hal (ay. 12-13): (1) Mengajak mereka untuk “bertobat”; artinya, mengajak mereka untuk berpandangan luas dan memerdekakan batin mereka dari kungkungan ketidak-percayaan; (2) Membersihkan orang-orang dari kekuatan-kekuatan (setan) yang kemungkinan akan menolak kedatangan-Nya; dan (3) Mengurangi penderitaan mereka (dengan menyembuhkan penyakit yang mereka derita).

Kelima, larangan untuk membawa bekal (ay. 8-9) menunjukkan bahwa tugas itu tidak berlangsung lama, bahkan mereka tidak perlu menginap. Bila kedatangan mereka diterima, mereka pasti akan mendapatkan suguhan. Selain itu, mereka diminta untuk mengingat bahwa yang perlu mereka berikan kepada orang-orang itu bukanlah diri mereka dan kelengkapan yang mereka bawa, melainkan kuasa yang telah mereka terima dari Yesus untuk menjauhkan roh-roh jahat (ay. 7), yakni kekuatan yang merendahkan manusia dengan segala aspek kehidupannya. Yang perlu menjadi pusat perhatian mereka adalah penderitaan orang-orang yang mereka temui dan upaya untuk meringankannya.

Keenam, mereka diminta oleh Yesus untuk tinggal di tempat yang menerima mereka “sampai kamu berangkat dari tempat itu” (ay. 10). Maksudnya, tinggal seperlunya dan menjelaskan apa yang akan mereka terima bila Yesus sendiri datang. Bila mereka sudah paham, para utusan itu perlu segera pergi menemui Yesus dan berkabar mengenai orang-orang yang telah mereka temui.

Ketujuh, bila mereka tidak diterima, mereka diminta untuk segera pergi meninggalkan tempat itu dan “kebaskanlah debu dari kakimu sebagai peringatan” (ay. 11). Maksudnya, para utusan yang ditolak, tidak perlu melapor kepada Yesus. Anggap saja penolakan itu tidak pernah terjadi karena tidak ada bukti bahwa mereka pernah ke sana (debu sudah dikebaskan dari kaki mereka). Dengan demikian, masih ada kesempatan lain bagi tempat itu untuk menerima kedatangan Yesus.

Kedelapan, para pembaca pertama tulisan Markus ini—seperti halnya kita—tidak pernah melihat lagi dua belas orang murid utusan Yesus itu. Para pembaca itu, dan kita, dengan membaca kisah ini diminta untuk membayangkan sebagai orang-orang yang didatangi oleh dua belas murid Yesus itu; bukan sebagai orang-orang yang diutus oleh Yesus sendiri.

Kita memang orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus, namun kita masih memerlukan bantuan agar kita semakin mempercayai-Nya, bila Ia mendatangi kita. Masihkah kita memerlukan “pertobatan” agar kita memiliki wawasan luas dan mampu memberikan ruang gerak yang leluasa kepada Allah dalam hidup kita? Apakah kita masih mengalami tekanan “roh-roh jahat” yang sering menjauhkan kita dari Allah? Apakah berbagai macam penyakit (sekarang malah ada pandemi berkepanjangan) mengancam hidup kita? Apakah kita merasa memerlukan “bantuan dari atas” untuk melepaskan diri dari kekuatan-kekuatan yang tidak dapat kita atasi dengan kekuatan kita sendiri?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

12 July 2021

Memahami Ke-Mesiasan Yesus

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, dan teman serta sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk mencecap kembali rahmat dan kasih Allah yang telah dianugerahkan kepada kita selama sepekan yang lalu. Di tengah semakin menggilanya gempuran virus corona, semoga kita tetap berani memilih sehat dan bahagia.

Bacaan Injil yang kita dengarkan pada Hari Minggu ke-14 Tahun B ini (Mrk 6:1-6) berkisah tentang Yesus yang “tidak dapat mengadakan satu mukjijat pun” di Nazaret tempat asalnya sendiri (ay. 5a). Memang pengajaran-Nya sangat dikagumi (ay. 2a) dan berita tentang mukjijat-mukjijat yang diadakan-Nya di tempat lain menjadi bahan pembicaraan (ay. 2b), namun orang-orang Nazaret tidak dapat menerima bahwa Dia itu hanya salah seorang dari antara mereka (ay. 3). Apa makna kisah ini bagi kita sekarang? Mari kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, Yesus adalah “tukang kayu” (ay. 3a). “Tukang kayu” (Bahasa Ibrani: tektōn) memiliki arti “ahli teknik perkayuan” atau “arsitek bangunan kayu.” Dengan menggunakan “sebutan” itu, orang-orang Nazaret ingin mengatakan kepada Yesus bahwa Ia sudah memiliki hidup yang enak dengan kedudukan mapan. Mengapa malah berganti haluan dengan menjadi “guru keliling.” Mereka menginginkan agar Yesus menuruti keinginan mereka menjadi seorang Mesias politik.

Kedua, Mesias yang diharapkan oleh orang Nazaret (dan orang Yahudi) adalah seorang tokoh yang akan memulihkan kejayaan Israel zaman dahulu, dengan memukul dan menghalau kekuatan militer Rowawi dan kelompok-kelompok lain dari tanah Israel.

Ketiga, namun Yesus tidak mau menuruti keinginan mereka, sebab kemesiasan-Nya datang dari Allah melalui pencurahan dan pengurapan Roh Kudus (Luk. 4:16-22; khususnya ay. 18-19). Kemesiasan yang Ia terima dari Allah untuk diwujudkan adalah menghadirkan Allah dalam diri orang-orang yang masih terbelenggu oleh kegelapan dan tidak dapat bergerak. Sebagai Mesias, Yesus bertugas untuk memulihkan manusia yang sakit, yang tidak lagi memiliki daya hidup, yang diombang-ambingkan oleh kekuatan-kekuatan kegelapan, dan kehilangan arah hidup, menjadi manusia yang utuh seperti yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Inilah mukjijat yang sesungguhnya.

Keempat, karena Yesus tidak mau menuruti kehendak mereka, orang-orang Nazaret itu menolak Dia (ay. 3b). Yesus menjadi “nabi [yang] dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya” (ay. 4). Mereka menolak ajakan Yesus untuk memahami bahwa kekuatan dan kuasa-Nya yang sangat besar itu terletak pada kabar baik yang diberitakan-Nya, yakni “Kerajaan Allah sudah datang” (Mrk. 4: 15).

Kelima, mukjijat muncul dari respon iman terhadap kehadiran Yesus (yang menghadirkan Allah sendiri). Mukjijat terjadi pada orang yang mempercayai-Nya secara tulus, percaya pada apa yang dikatakan dan dikerjakan-Nya. Bila kepercayaan seperti itu ada, akan terjadi mukjijat yang melampaui ukuran alam dan pikiran manusia. Justru kepercayaan seperti itulah yang tidak dimiliki oleh orang-orang Nazaret, maka Yesus tidak dapat mengadakan mukjijat di sana (ay. 5a).

Keenam, orang-orang Nazaret kehilangan kesempatan untuk mengenal siapa sebenarnya Yesus itu karena mereka telah memenjarakan diri dengan dua hal. Pertama, mereka merasa sudah tahu siapa Yesus itu. Kedua, mereka bersikeras pada keyakinan mereka (dan memaksakan keyakinan itu) bahwa Yesus adalah Mesias yang harus membangun kejayaan umat Israel di mata orang lain.

Ketujuh, bagaimanapun kehadiran Yesus tidak sia-sia. Ia tetap menyediakan Diri-Nya bagi bangsa-bangsa di luar Israel. Kita termasuk yang mendapat “keuntungan” dari penolakan orang Israel terhadap kehadiran Yesus.

Yesus mengundang kita untuk memiliki cakrawala dan pemahaman baru mengenai Allah, mengenai Yesus, dan mengenai mukjijat. [Penglaman atau keyakinan] Apa saja yang sering membuat kita gagal menanggapi undangan Yesus itu? Kita juga diundang oleh Yesus untuk “ikut serta dalam mengerjakan mukjijat-Nya” agar orang-orang di sekitar kita menjadi “manusia yang utuh” (lihat catatan no. 3). Siapa saja mereka itu? Tindakan konkret apa yang perlu kita lakukan?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

12 July 2021

Maria Mengunjungi Elisabeth

Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabeth (31 Mei)


Bacaan: Luk. 1:39-56


Para Ibu dan Bapak serta Saudara dan Saudari yang baik, selamat sore. Untuk “menutup” bulan Mei, ijinkan saya menghaturkan renungan sederhana berikut:

1.      Kalau kita pergi ke semua gereja, khususnya di Jawa, hampir semua gereja mentahtakan patung Bunda Maria Model Eropa Abad Pertengahan gaya aristocrat. Bunda Maria ibarat seorang Ratu berpakaian sutra megah dan bermahkota berlian. Patung seperti ini menggambarkan Bunda Maria dari kalangan ningrat yang jauh dari kehidupan nyata dan dari kehidupan rakyat. Maria seperti ini jelas tidak cocok dengan Maria yang digambarkan dalam Injil, khususnya injil yang baru saja kita dengarkan hari ini; Maria yang hidup di kota kecil Nazareth.

            2.      Sejauh saya tahu hanya gereja Pakem yang mentahtakan patung Bunda Maria yang berbeda. Patung itu berada             di atas sumur kitiran emas. Atas pesanan Rama Sidhunata, S.J., si pematung memahat patung Bunda Maria sebagai               seorang “simbok di lereng gunung Merapi.” Bunda Maria sangat dekat dengan kehidupan penduduk setempat. 

3.      Patung Bunda Maria di atas sumur kitiran emas ini mendekati Bunda Maria yang dilukiskan dalam Injil. Tokoh Maria dalam Injil ini oleh seorang perempuan ahli Teologi dari Filipina (Virginia Fabela), dilukiskan sebagai:

“sosok  wanita yang beriman dan cerdas, lembut dan penuh perhatian, tegas dan responsif, welas asih dan berani, mampu mengambil inisiatif, bersedia berkorban dan mengambil risiko untuk melaksanakan Sabda dan kehendak Allah.  Maria adalah rasul yang sejati….dan lebih dari itu semua, ia adalah seorang perempuan.”

4.       Sementara itu, seorang ahli Kitab Suci dari Amerika Serikat (Adeline Fehribach), melukiskan tokoh Maria sebagai:

“seorang perempuan yang memiliki kepekaan terhadap kebutuhan sesamanya dan bertindak atas dasar kepekaan tersebut. Ia tidak membiarkan Yesus, putranya, tidak peduli terhadap kebutuhan sesamanya hanya karena “saatnya belum tiba.” Dengan kata lain, Maria bunda Yesus adalah seorang perempuan yang memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang lain, asertif, serta memiliki kepedulian sosial. Ia tidak pernah mengatakan “tidak” terhadap sesama yang sungguh membutuhkan uluran tangannya.”

5.      Sejalan dengan dua gambaran inilah paus Fransiskus mengatakan bahwa Bunda Maria

“telah menghidupi Sabda bahagia Yesus lebih daripada yang lain. Ia adalah wanita yang bersukacita di hadapan Allah, yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya, dan membiarkan dirinya ditembusi oleh pedang. Maria adalah orang kudus di antara para kudus, yang paling terberkati. Ia mengajar kita jalan menuju kekudusan dan menyertai kita. Ia tidak mau bila kita jatuh lalu tetap tinggal di tanah, dan kadang-kadang ia menggendong kita tanpa menghakimi kita. Maria, bunda kita, tidak membutuhkan banyak kata. Ia tidak membutuhkan kita untuk berusaha menceriterakan apa yang terjadi. Cukuplah selalu dan senantiasa membisikkan: “Salam Maria… .”

6.      Bila bunda Maria kita lihat seperti tiga gambaran di atas, maka Bunda Maria merupakan sosok yang tidak sulit untuk kita teladani. Bunda Maria sangat dekat dengan kehidupan kita: sebagai seorang perempuan muda yang gelisah karena telah mengandung sebelum pernikahannya diresmikan dalam upacara publik, sebagai seorang janda yang harus bekerja keras untuk membesarkan Yesus setelah Yosef meninggal ketika Yesus masih remaja, melepaskan Yesus pergi untuk menjalani hidup-Nya sesuasi dengan panggilan hati-Nya, cemas karena Yesus semakin dimusuhi oleh para pemimpin Yahudi, hatinya remuk melihat penderitaan dan kematian Putranya, menemani para murid Yesus yang ketakutan karena dikejar-kejar oleh para pemimpin Yahudi dan Romawi karena dituduh menyebarkan kabar bohong tentang kebangkitan Yesus.

            7.      Bila Bunda Maria kita pahami seperti di atas, devosi kita kepadanya tidak hanya berupa novena dan ziarah untuk             minta ini dan itu, melainkan merupakan upaya menumbuhkan hasrat untuk meneladani hidupnya dalam hidup kita             sehari-hari.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

12 July 2021

Badai Ketidakpercayaan

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman, dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat merayakan hari Minggu. Selamat istirahat sambil menikmati kebaikan Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu.

Hari ini kita merayakan hari Minggu Biasa ke-12 tahun B dalam kalender liturgi. Injil yang kita dengarkan hari ini (Mrk 4: 35-41) berkisah tentang Yesus yang meredakan angin ribut, sebagai salah satu mukjizat yang dikerjakan-Nya. Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.

Pertama, penginjil Markus menyampaikan serangkaian kisah mukjizat— meredakan angin ribut (4:35-41), mengusir roh jahat (5;1-20), menghidupkan anak Yairus (5:21-24; 35-43), dan menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan (5:25-34)—setelah Ia menyampaikan pengajaran-pengajaran Yesus dalam bentuk perumpanaan—penabur (4:1-20), pelita (4:21-23), benih yang tumbuh (4:26-29), dan biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon besar(4:30-34). Maksudnya, agar para pendengar/pembaca semakin melihat siapa Yesus itu.

Kedua, kisah mukjizat disampaikan agar para pendengar memahami bahwa pribadi yang pengajaran-Nya telah mereka dengar adalah seorang tokoh yang memiliki kuasa besar atas alam, atas penyakit dan roh jahat, bahkan atas kematian. Dengan cara ini, Markus berharap agar para pendengar kisah-kisah tersebut menjadi lebih dekat dengan Yesus dan ajaran-Nya.

Ketiga, dalam petikan Injil hari ini diperlihatkan bagaimana Yesus memiliki kuasa atas kekuatan-kekuatan yang menakutkan dan mengancam kehidupan (ay. 37). Kisah ini dapat kita pahami dengan baik bila kita memperhatikan dunia keagamaan Perjanjian Lama. Badai dan laut selalu dihubungkan dengan kekuatan yang mengancam kehidupan. Dalam sastra Ibrani dan sekitarnya badai dan ombak digambarkan sebagai seekor ular naga raksasa yang menghujat wibawa ilahi yang telah mengatur jagat raya ini. Kekuatan seperti inilah yang diperintahkan oleh Yesus supaya diam dan terberangus (ay. 39: “Tenanglah” secara harfiah: terberanguslah).

Keempat, ketika badai terjadi Yesus tidur di buritan (bagian belakang perahu) di atas tilam (matras) (ay. 38). Dalam keadaan yang sangat membahayakan kehidupan itu Yesus dapat tidur dengan pulas (tenang). Bagi orang zaman dahulu dan sekarang, “dapat tidur dengan pulas” memiliki arti yang sama; orang tersebut memiliki hati nurani yang bersih dan percaya bahwa hidupnya dilindungi oleh Allah sendiri. Dengan cara bertutur seperti itu, penginjil Markus ingin mengatakan bahwa Yesus adalah orang yang sedemikian merasa aman karena mempercayakan diri-nya dilindungi oleh Allah. Sekaligus, Yesus juga berani mempercayakan orang-orang yang mengikuti-Nya untuk berada dalam lindungan Allah sendiri.

Kelima, dengan kisah ini Markus ingin memperkenalkan Yesus sebagai seorang sosok yang percaya teguh pada lindungan Allah, sekaligus sebagai sosok yang menjadi tempat Allah memperlihatkan kuasa-Nya atas daya-daya alam yang menakutkan dan mengancam kehidupan manusia.

Keenam, melalui kisah ini Markus menonjolkan kontras antara Yesus dan para murid-Nya dalam menghadapi badai yang mengancam kehidupan mereka. Dalam situasi itu Yesus sungguh mempercayakan segalanya pada perlindungan Allah (sehingga dapat tidur dengan nyenyak; ay. 38a), sementara para murid mudah panik dan guncang (ay. 38b). Markus mengundang para pendengarnya untuk meneladan Yesus dalam menghadapi marabahaya.

Kita semua mengalami banyak kesulitan dalam perjalanan hidup kita. Namun tidak semua kesulitan perlu diartikan sebagai badai kehidupan, yang hanya dapat diatasi oleh kuasa Allah. Injil hari ini mengajarkan kepada kita bahwa hanya “ketidakpercayaan”-lah yang merupakan badai kehidupan, yang hanya dapat ditasi oleh kuasa Allah.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

12 July 2021

Bertumbuhnya Kerajaan Allah


Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat merayakan hari Minggu untuk beristirahat dan mencecap kembali segala kebaikan Allah yang sudah dianugerahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.

Hari ini kita merayakan Hari Minggu ke-11 tahun B dalam kalender liturgi. Bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Perayaaan Ekaristi hari ini (Mrk 4:26-34) berbicara tentang perumpamaan mengenai orang yang menaburkan biji di tanah dan biji sesawi yang ditaburkan ke tanah untuk menjelaskan Kerajaan Allah. Apa maknanya bagi kita zaman sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.

Pertama, melalui pembaptisan di sungai Yordan Yesus memperoleh tugas perutusan dari Allah (1:11). Tugas perutusan Yesus adalah memberitakan Injil Allah atau Kerajaan Allah (1:14); yakni Allah yang hadir di tengah-tengah umat-Nya, merajai hidup mereka, guna mewujudkan keselamatan bagi mereka dalam kehidupan konkret mereka.

Kedua, Allah yang diwartakan oleh Yesus adalah Allah yang sangat dekat dengan manusia (sehingga disebut sebagai “Bapa”), sangat peduli terhadap penderitaan manusia, dan sangat peduli terhadap para pendosa. Pemahaman mengenai Allah seperti ini berkebalikan dan berlawanan dengan Allah yang diimani oleh Kaum Farisi, sebagai pemimpin masyarakat Yahudi, dan pelan-pelan juga diimani oleh umat Yahudi pada umumnya ketika Yesus berkarya. Mereka memahami Allah sebagai yang sangat jauh dari manusia, tidak peduli terhadap penderitaan manusia, dan tidak mau mendekati orang berdosa. Pandangan Allah seperti inilah yang menjadi sumber konflik antara Yesus dengan Kaum Farisi.

Ketiga, pandangan mengenai Allah memiliki implikasi terhadap masyarakat yang mesti dibangun. Bagi kaum Farisi masyarakat ditata berdasarkan status sosial dan ketaatan keagamaan para anggotanya, dengan akibat bahwa orang-orang miskin, orang-orang sakit, dan para pendosa menempati tempat paling bawah dalam struktur masyarakat dan bahkan kerap dibuang dari kehidupan masyarakat. Terjadi pengkotak-kotakan dalam masyarakat.

Keempat, bagi Yesus masyarakat mesti ditata berdasarkan kasih persaudaraan, solidaritas, keadilan, dan kesetaraan antaranggotanya, karena mereka lahir dari Rahim yang sama, yakni Allah yang maharahim, sehingga mereka menjadi anggota dari satu keluarga, yakni keluarga Allah. Dalam masyarakat seperti ini tidak terjadi pengkotak-kotakan. Masyarakat seperti ini merupakan perwujudkan dari Kerajaan Allah.

Kelima, upaya mewartakan Allah dan kerajaan-Nya seperti dijelaskan di atas ternyata mendapatkan banyak tantangan dan bahkan perlawanan. Tantangan yang segera muncul adalah roh-roh jahat yang menguasi kedupan orang (Mrk 1:23-26; 34b; 3:11), begitu banyaknya orang yang menderita berbagai macam penyakit (Mrk 1:34a; 3:10), praktik penyingkiran para penderita penyakit (khususnya penyakit kusta) serta orang-orang miskin dari kehidupan masyarakat (bdk. 1:40-45), dan peraturan kehidupan beragama yang mencekik (2:23-28; 3:1-5). Ketika Yesus melawan semuanya ini, agar Kerajaan Allah dapat hadir dan menjadi pengalaman semua orang, para pemimpin agama dan masyarakat Yahudi segera melawan-Nya dan bahkan berusaha membunuh-Nya (Mrk. 3:6).

Keenam, semua kenyataan ini membuat para murid dan pengikut Yesus mulai kuatir dan bahkan merasa takut, serta bertanya apakah mungkin Kerajaan Allah yang diwartakan-Nya dapat diwujudkan. Untuk menjawab ketakutan dan keraguan para murid dan pengikut-Nya inilah, Yesus menyampaikan dua perumpaan tadi.

Ketujuh, perumpaan adalah sebuah kisah yang digunakan (oleh Yesus) untuk membuka cara bepikir para pendengarnya. Melalui kedua perumpaan tadi Yesus ingin mengatakan bahwa Kerajaan Allah itu memang kelihatan sangat kecil dan lemah. Namun ia memiliki daya kekuatan yang luar biasa untuk bertumbuh, karena Allah sendiri yang membangunnya. Ketika Allah sudah mulai menaburkannya, pasti akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah dan dapat menjadi tempat untuk berlindung dari berbagai macam marabahaya.

Melalui sakramen permandian yang telah kita terima, kita diangkat oleh Allah menjadi anggota Kerajaan Allah. Kita diundang untuk mengalami perkembangan Kerajaan Allah itu dalam kehidupan kita. Sekaligus kita juga diundang untuk ikut serta dalam upaya Allah guna mewujudkannya di tengah-tengah masyarakat kita. Situasi apa saja yang kita temui di tengah masyarakat kita, yang dapat menghambat pertumbuhan Kerajaan Allah (lihat catatan kedua dan keempat di atas)? Tindakan konkret apa yang perlu kita lakukan untuk mengatasinya?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya