Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

12 July 2021

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua bersama keluarga serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Apa makna perayaan ini bagi kita sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita simak sejarah munculnya perayaan ini serta bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi hari ini.

Perayaan Tubuh dan Darah Kristus (juga sering dikenal dengan “Corpus Christi” = Tubuh Kristus) pertama kali dirayakan di keuskupan Liege, Belgia, pada 1240 atas perintah Uskup Robert de Torote. Pada 1264 Paus Urbanus (berasal dari Liege) memerintahkan agar perayaan ini dilakukan di seluruh Gereja. Titah Paus Urbanus dikukuhkan oleh Paus Clemens V melalui Konsili Viena (1311-1312). Pada pertengahan abad ke-14 perayaan ini sudah diterima di seluruh Gereja. Pada abad ke-15 perayaan ini menjadi salah satu perayaan utama dalam Gereja, yang dirayakan dalam Perayaan Ekaristi disambung dengan festival dalam masyarakat.

Hari  Raya Tubuh dan Darah Kristus merayakan Perjamuan Terakhir yang diadakan oleh Yesus bersama para murid-Nya, sekaligus ingin mengungkapkan iman Kristiani bahwa Yesus sungguh hadir dalam sakraman mahakudus.

Dari Injil yang kita dengarkan hari ini (Mrk 14: 12-16; 22-26 – paralelnya Mat 26: 2, 17-19 dan Luk 22:7-14) beberapa hal pantas kita perhatikan agar kita dapat memetik maknanya.

Pertama, Injil Sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas) maupun Yohanes sama-sama menampilkan Yesus sebagai kurban Paskah. Namun Injil Sinoptik memahami perjamuan terakhir sebagai perjamuan Paskah Yahudi yang mengantisipasi kematian Yesus di kayu salib. Dengan latar pemahaman seperti ini, ingin ditekankan bahwa pemberian diri Yesus secara penuh, yang Ia lakukan dalam perjamuan terakhir, memuncak dalam kematian-Nya di kayu salib.

Kedua, perjamuan Paskah Yahudi (untuk memperingati pembebasan umat Israel dari perbudakan di Mesir) dipakai untuk mengartikan kurban diri Yesus di salib. Dengan cara ini, Injil Sinoptik memahami perjamuan terakhir yang diadakan oleh Yesus bersama para murid-Nya sebagai perayaan penebusan (atau keselamatan) bagi semua orang.

Ketiga, rupanya pemahaman kita tentang perjamuan terakhir sangat dipengaruhi oleh lukisan yang dibuat oleh Leonardo da Vinci. Dalam lukisan itu digambarkan Yesus mengadakan perjamuan terakhir hanya dengan para murid yang paling dekat dengan diri-Nya, yakni 12 orang. Rm. Prof. Dr. Gianto, S.J., mengatakan bahwa “gambaran itu tidak amat cocok dengan yang kiranya terjadi dulu.” Ia menambahkan: “Ruang tempat Yesus makan dan murid-muridnya makan pasti dipenuhi orang-orang lain juga” (Gianto, 2007: 28). Alasannya, waktu itu Yesus sudah menjadi tokoh yang sangat terkenal, sehingga ke mana pun Ia pergi pasti diikuti oleh banyak orang. Lagipula, tempat untuk mengadakan perjamuan terakhir itu juga sangat mudah dikenali oleh banyak orang (lih. Ay. 12-16, khususnya ungkapan “seorang yang membawa kendi berisi air”).

Keempat, perjamuan terakhir mirip dengan peristiwa Yesus memberi makan kepada ribuan orang yang diceritakan dalam Injil sampai 6 kali. Dalam semua peristiwa itu Yesus berbagi rejeki yang telah Ia terima dari Bapa-Nya dengan orang banyak yang mengikuti-Nya, serta menaruh kepercayaan dan harapan kepada-Nya.

Kelima, sebagai Mesias, Yesus datang bukan untuk memulihkan kejayaan Israel dulu dan menumbangkan kuasa serta lembaga penindas. Ia datang untuk memperkenalkan Allah sebagai pribadi yang dapat didekati, dapat dijangkau oleh banyak orang. Caranya bukan melalui kurban dan upacara keagamaan, melainkan melalui diri Yesus sendiri. Tempat untuk menemui Allah bukan di Bait Allah, melainkan di “ruangan atas yang besar” (ay. 15), tempat Ia mengadakan perjamuan terakhir bersama para murid-Nya dan orang banyak.

Keenam, dalam perjamuan terakhir itu Yesus membuat roti dan anggur yang digunakan dalam perjamuan tersebut menjadi tanda pemberian diri-Nya secara utuh kepada mereka yang ikut makan dan minum bersama-Nya (ay. 22-24).

Ketujuh, Injil menyebut darah Yesus sebagai “darah perjanjian” (ay. 24). Maksudnya, mengacu pada darah yang dulu digunakan secara ritual dalam kurban sembelihan untuk meresmikan Perjanjian (antara Allah dengan umat-Nya). Dengan cara itu, penginjil ingin menandaskan bahwa darah Yesus yang tertumpah di salib merupakan darah untuk meresmikan Perjanjian Baru antara Alah dengan manusia.

Kedelapan, Perayaan Ekaristi yang kita rayakan berpola pada perjamuan “berakah” (syukur) umat Yahudi untuk memperingati dan menghadirkan kembali peristiwa pembebasan mereka dari penindasan di Mesir. Dengan demikian, Perayaan Ekaristi kita adakan untuk memperingati dan mengenang kembali kebersamaan (kita) dengan Yesus, yang telah mengurbankan diri-Nya untuk menyelematkan semua orang.

Dengan Merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, kita mengenang dan menghadirkan kembali dua kenyataan. Pertama, Yesus yang mengurbankan diri untuk menyelamatkan semua orang. Kedua, kemungkinan untuk berbagi kehidupan dengan-Nya.

Santo Yohanes Paulus II pada 2004 mengajarkan kepada kita bahwa bahwa Perayaan Ekaristi tidak berhenti ketika kita menerima berkat pada akhir perayaan itu. Perayaan Ekaristi juga berlanjut dengan pengutusan. Menurut Santo Yohanes Paulus II, pengutusan itu berarti “menjadi pribadi dan komunitas Ekaristis.” Salah satu cara yang perlu ditempuh adalah di mana pun kita berada, kita perlu berusaha mencari jalan untuk mengatasi salah satu bentuk kemiskinan yang kita temukan di sekitar kita. Bentuk kemiskinan apa yang sekarang kita jumpai? Langkah konkret apa yang perlu kita lakukan untuk mengatasinya?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

12 July 2021

Allah Tritunggal Mahakudus

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Mohon maaf saya baru dapat menjumpai Anda semua pada sore ini karena tadi pagi s/d siang ada acara komunitas. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman, dan sahabat dalam keadaan baik. Hari ini kita merayakan Hari Raya Allah Tritunggal Mahakudus. Injil yang dibacakan untuk Perayaan Ekaristi pada hari ini diambil dari akhir Injil Matius (Mat 28:16-20).

Dikisahkan bahwa para murid Yesus berkumpul di sebuah bukit di Galiea seperti diperintahkan oleh Yesus (ay. 16). Mereka melihat Yesus dan mengenali kebesaran-Nya serta sujud menyembah-Nya (ay. 17). Yesus menegaskan bahwa semua kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya (ay. 18) sehingga mereka tidak perlu ragu-ragu lagi (akhir ay. 17) bahwa yang mereka lihat memang Yesus yang selama ini mereka ikuti. Kemudian Yesus mengutus para murid untuk menemui semua bangsa, memperlakukan mereka sebagai murid-murid-Nya, dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus (ay. 19). Yesus juga berjanji bahwa Ia akan menyertai mereka semua sampai akhir zaman (ay. 20). Apa arti semua ini bagi kita zaman sekarang? Marilah kita renungkan bersama-sama dengan memperhatikan catatan-catatan berikut.

Pertama, Matius dalam Injilnya menampilkan Yesus sebagai Musa baru yang membawakan hukum-hukum dari Allah kepada umat-Nya. Berbeda dengan Musa dan para penerusnya, tempat pemberian hukum bukan lagi di padang gurun, bukan di puncak gunung Sinai, atau di Bait Allah yang terpusat di Yerusalem—wilayah yang terpisah dari masyarakat dan kehidupan sehari-hari—melainkan di “Galilea” (ay. 16) yakni tempat berbagai macam orang dapat bertemu; tempat kehidupan sehari-hari. Hukum yang diberikan oleh Yesus juga bukan seperangkat peraturan dan hukum, melainkan ajaran kehidupan, kesahajaan, dan keluguan batin yang memuncak pada kasih kepada Allah dan sesama.

Kedua, melalui kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya, Yesus menerima “segala kuasa di surga dan di bumi” (ay. 18). Artinya, Ia menerima kemanusiaan baru yang selalu mengarah kepada Allah. Di dalam diri Yesus, Allah dapat tampil dengan leluasa, baik di surga maupun di bumi. Tidak ada lagi tempat di surga maupun di bumi yang terlarang bagi manusia, karena semuanya diciptakan bagi kemanusiaan yang baru itu.

Ketiga, kata-kata Yesus dalam ay. 19 tidak perlu ditafsirkan sebagai perintah Yesus untuk “mempertobatkan” semua bangsa menjadi murid-Nya. Para murid diminta oleh Yesus untuk memperlakukan semua orang yang akan mereka jumpai sebagai sesama murid Yesus. Mengapa demikian? Wafat dan kebangkitan Yesus telah mengubah bumi dengan segala isinya secara menyeluruh sehingga pada dasarnya telah menjadi ciptaan baru. Akibatnya, siapa saja pada dasarnya sudah menjadi manusia baru; manusia yang hidup berdasarkan semangat relasi yang saling memberikan kehidupan, solidaritas, kesetaraan, menghargai keberagaman, dan kasih.  Dalam bahasa Injil disebut sebagai “menjadi murid-Ku” (ay. 19a).

Keempat, apakah pemahaman di atas tidak bertentangan dengan ciri misioner Gereja? Sama sekali tidak. Memperlakukan semua orang (semua bangsa) sebagai “sesama murid Yesus” berarti mau saling belajar tentang kekhasan masing-masing, yang memiliki pelbagai pengalaman mengenai Allah.

Kelima, “baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus” (ay. 19b); artinya, mengajak semua orang untuk mengenal Allah sebagai asal-usul kehidupan (Bapa), sebagai yang menjalankan kehidupan itu dengan sebaik-baiknya (Putra), dan melangsungkan serta menjaga kehidupan tersebut agar tetap utuh dan menjadi sempurna (Roh Kudus).

Keenam, apa artinya bila Gereja mengimani Allah sebagai Tritunggal? Beberapa catatan mengenai tiga pendapat yang TIDAK COCOK dengan pemahaman dan pengahayatan iman Gereja akan Allah Tritunggal perlu diberikan. Pertama, paham “tri-teisme” yakni paham mengenai adanya tiga sesembahan. Kedua, paham “subordinasionisme” yakni paham yang mengatakan bahwa Putra dan Roh Kudus diciptakan oleh Bapa sehingga hanya menjadi perpanjangan tangan Bapa. Ketiga, paham “modalisme” yakni paham yang mengatakan bahwa Bapa, Putra, Roh Kudus hanyalah cara Allah tampil bagi manusia dan bukan pribadi Allahi.

Iman akan Allah Tritunggal menerima Allah sebagai yang esa dan mengalami Allah sebagai yang menciptakan dan merahimi kehidupan (Bapa), menyelenggarakan kehidupan (Putra), dan menjaganya dengan sebaik-baiknya (Roh Kudus). Inilah iman akan Allah Tritunggal yang menghidupi dan dihidupi Gereja sepanjang zaman.

Menjadi murid Yesus berarti ambil bagian dalam kemanusian baru yang sudah ditebus berkat wafat dan kebangkitan Kristus. Sekaligus bertanggungjawab agar kemanusiaan yang baru ini semakin menjadi kenyataan yang utuh baik di surga maupun di bumi. Itu berarti percaya bahwa segala macam bentuk kehidupan berasal dari Allah, diselenggarakan oleh Allah, dan dijaga oleh Allah agar menjadi semakin sempurna.

Kenyataan apa saja yang kita temukan dalam kehidupan kita serta manyarakat kita yang menghalangi diwujudkannya kemanusiaan baru? Tindakan apa saja yang perlu kita lakukan untuk mengatasi hal-hal itu, agar kemanusiaan baru semakin menjadi kenyatakan yang utuh dalam kehidupan dan masyarakat kita?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

12 July 2021

Para Murid sebagai Karya Terbesar Yesus

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat merayarakan Hari Minggu Paskah ke-7 Tahun B dalam kalender liturgi, sekaligus merayakan Hari Komunikasi Sedunia yang ke-55. Selain “Pesan” dari Paus Fransiskus yang sudah saya kirimkan kepada Anda, pesan Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini (Yoh 17:11b-19) patut kita renungkan bersama agar kita dapat memetik maknanya bagi kehidupan kita sekarang. Untuk tujuan itu, beberapa catatan berikut saya haturkan kepada Anda semua.

Pertama, petikan Injil ini merupakan bagian dari doa Yesus dalam perjamuan terakhir bagi para murid-Nya. Sekaligus doa ini juga merupakan sebuah pertanggungjawaban Yesus terhadap Bapa-Nya. Semua telah Ia upayakan agar tidak ada seorang pun dari antara para murid-Nya yang binasa, namun tokh tidak semuanya berhasil diselamatkan (ay. 12). Sekarang Ia menyerahkan yang tersesat itu kepada kerahiman Bapa sendiri.

Kedua, Yesus berusaha menjaga para murid agar mereka “tidak binasa” (ay. 12); artinya, tidak kehilangan arah, tetap tahu ke mana harus berjalan, dan tidak menjadi mangsa dari berbagai macam kekuatan kejahatan. Namun ada tambahan, “kecuali yang telah ditentukan untuk binasa.” Ungkapan aslinya adalah “kecuali anak kebinasaan,” artinya, orang yang sudah memilih sendiri untuk masuk ke dalam kuasa kejahatan sehingga tidak tertolong lagi. Bukan Allah yang menentukan orang itu (Yudas) untuk binasa, melainkan dia sendiri yang memilihnya.

Ketiga, Yesus menyerahkan para murid kepada Bapa dan meminta kepada Allah untuk “memelihara” para murid-Nya (ay. 11b); maksudnya, Allah diminta oleh Yesus untuk mengurus, menjaga agar mereka terus bertumbuh, dan dijauhkan dari marabahaya (ay. 15). Para murid adalah karya terbesar Yesus. Melalui para murid itulah Yesus akan dapat hadir bagi orang-orang yang membutuhkan-Nya. Melalui para murid itulah Allah dapat dikenal sebagai Bapa (lihat catatan kelima di bawah).

Keempat, “dunia” (ay. 11). Dalam Injil Yohanes, terdapat pandangan bahwa kehidupan manusia terancam oleh kekuatan-kekuatan “dunia” yang berusaha menjauhkan manusia dari Allah, Sang Sumber Kehidupan. “Dunia” dipahami sebagai tempat berkuasanya kekuatan kejahatan; namun Yesus tidak mengajarkan para murid-Nya untuk meninggalkan dunia seburuk apa pun kenyataannya. Karya penebusan justru mendatangi dunia sebagai tempat kegelapan sehingga berangsur-angsur dapat diubah menjadi tempat “terang” (=Yesus). Injil Yohanes menekankan tekad dan keberanian Yesus untuk memasuki tempat “gelap” dan mengubahnya menjadi tempat “terang” karena Ia sendiri adalan Sang Terang itu. Tekad dan keberanian seperti ini pulalah yang perlu dimiliki oleh para murid-Nya.

Kelima, ungkapan “dalam Nama-Mu” (“nama Bapa”) (ay. 11b), menunjukkan siapa Allah dan bagaimana Dia dapat dikenal. Ungkapan “Bapa” menegaskan bahwa Allah yang mahakuasa itu kini dapat dikenal sebagai Allah yang sangat dekat dengan manusia dan sangat peduli pada kehidupan manusia. Ia adalah tumpuan harapan yang paling dapat dipercaya. Sekaligus mengungkapkan kepatuhan penuh dari yang menyebut Allah sebagai Bapa.

Keenam, Yesus juga mendoakan agar para “murid bersatu” sama seperti Yesus bersatu dengan Bapa-Nya (ay. 11). Para murid Yesus tidak berasal dari kalangan yang seragam, setingkat, atau seasal. Justru keragaman inilah yang dipandang oleh Yesus sebagai sumber kekuatan untuk bersatu. Kesatuan para murid perlu berpola pada kesatuan Yesus dengan Bapa-Nya, yakni sebuah relasi personal yang mendalam berdasarkan kepatuhan (dari pihak Yesus) dan kepedulian dari pihak Allah; sebuah kesatuan yang lahir dari sikap saling menunjang.

Ketujuh, para murid juga “dikuduskan dalam kebenaran” (ay. 17), artinya dipisahkan dari kekuasaan kegelapan dengan sungguh-sungguh, agar mereka dapat diutus ke dalam dunia (ay. 18). Para murid diminta oleh Yesus supaya tidak hanya berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri, tetapi juga menyertakan orang-orang lain yang masih berada dalam kekuasaan kegelapan tadi.

Doa Yesus bagi para murid-Nya 2000 tahun yang lalu juga menjadi doa-Nya bagi kita, para murid-Nya, zaman sekarang. Sebagai murid-murid Yesus kita perlu bertanya, wilayah “dunia” (kegelapan) macam apa yang ada di sekitar kita, yang perlu kita “datangi dan lihat” (pesan Paus Fransiskus)? Siapa saja yang sekarang kita temukan masih berada dalam kekuasaan kegelapan itu? Langkah-langkah konkret apa yang perlu kita lakukan untuk mengubah “kegelapan” itu menjadi “terang”? Langkah-langkah konkret apa yang perlu kita lakukan untuk membantu mereka keluar dari kuasa kegelapan itu agar mereka dapat  mengalami kuasa terang (Yesus yang menyelamatkan)?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

12 July 2021

Saling Mengasihi

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Saya harap Anda semua beserta dengan keluarga, sanak saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Tuhan juga memampukan kita semua untuk tetap memilih sehat dan bahagia, di tengah suasana begitu banyaknya penduduk negeri kita yang tidak peduli terhadap keselamatan mereka sendiri serta kesalaman orang lain.

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Paskah ke-6 dalam kalender liturgi tahun B. Injil yang kita dengarkan pada hari ini (Yoh 15:9-17) sarat dengan gagasan mengenai kasih. Dalam Injil hari ini, yang merupakan bagian dari pengajaran kepada para murid-Nya selama perjamuan malam terakhir (Yoh 13:31-17:26), para murid diajari oleh Yesus untuk hidup terus dalam komunitas tanpa kehadiran-Nya yang menyertai mereka. Demi tujuan inilah ajaran tentang saling mengasihi disampaikan kepada mereka. Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, pada awal perjamuan Yesus mengatakan bahwa salah seorang dari para murid-Nya akan menyerahkan diri-Nya (Yoh 13:21). Pengkhianatan terhadap Yesus diawali ketika Yudas dirasuki setan justru ketika ia menerima roti yang sudah dicelupkan (artinya: siap dimakan) dari Yesus, ketika ia masih merupakan bagian dari keluarga/komunitas para murid. Kekuatan kegelapan mewujud dalam diri seorang manusia, Yudas, yang sangat dekat dengan Yesus.

Kedua, pergulatan kekuatan terang (Allah) melawan kekuatan kegelapan (Iblis). Allah menggunakan wujud manusia untuk mewujudkan karya penyelamatan-Nya, yakni Yesus, Sang Sabda yang lahir menjadi manusia dan berada di tengah-tengah manusia. Iblis juga menggunakan manusia, Yudas, untuk menggagalkan karya Allah itu. Kedua manusia itu saling mengenal dan sangat dekat satu sama lain.

Ketiga, pengajaran Yesus kepada para murid-Nya diberikan setelah Yudas pergi meninggalkan mereka (Yoh 13:31). Dengan tidak hadirnya Yudas di antara para murid, kekuatan kegelapan tidak lagi hadir mengancam kelompok para murid, sehingga mereka dapat menerima dan memahami pengajaran Yesus tanpa ada yang membelokkan maksudnya.

Keempat, kekuatan kejahatan ternyata dapat juga menggunakan cara-cara yang dipakai oleh Allah sendiri. Satu-satunya cara untuk dapat bertahan menghadapi kekutan-kekuatan kejahatan itu adalah dengan saling menopang, dengan saling mengasihi. Caranya, dengan saling berbagi “ingatan” (pengalaman) akan Kabar Gembira yang dibawakan oleh Yesus, Sang Guru.

Kelima, tindakan “saling mengasihi” antarpara murid Yesus lahir dari (=bersumber pada) “kasih Yesus dengan Bapa-Nya” dan “kasih Yesus kepada para murid-Nya” (Yoh 15:9). Tujuan dari tindakan “saling mengasihi” adalah membangun komunitas para murid sehingga setiap anggota mendapat ruang hidup yang layak.

Keenam, petikan Injil yang kita dengarkan hari ini merupakan “pembacaan kembali” kata-kata Yesus yang sudah disampaikan dalam Yoh 13:34-35. Yesus memberikan perintah baru kepada para murid-Nya, yakni saling mengasihi (ay. 34). Alasannya, karena Yesus telah mengasihi mereka (ay. 35). Perintah tersebut disebut “baru” karena perlu dihidupi dengan cara yang segar, tidak kaku, bukan sekedar sebagai kewajiban dan tindakan rutin belaka.

Ketujuh, bila tindakan saling mengasihi tersebut sungguh-sungguh dilakukan (ay. 34), orang banyak akan dapat melihat bahwa mereka benar-benar murid Yesus; orang banyak akan dapat melihat dan mengalami bahwa tindakan para murid itu sejatinya menghadirkan kembali Yesus sendiri (ay. 35).

Kedelapan, dalam bahasa sekarang tindakan saling mengasihi itu dapat disebut dengan solidaritas, sepenanggungan. Bila solidaritas sungguh diwujudkan, orang menjadi saling percaya. Jika sikap saling percaya sudah lahir, berbagai macam bentuk hubungan dan relasi lainnya dapat dibangun. Selnjutnya, kesulitan apa pun—karena ditanggung bersama—tidak akan membuat kita mudah putus asa.

Yesus mengajarkan kepada kita untuk memperbaiki kemanusiaan, mulai dengan hal-hal yang kecil dengan maling memberikan perhatian. Kita semua diundang untuk menemukan jalan-jalan baru yang belum pernah terpikirkan. Jalan baru apakah yang perlu kita tempuh agar pandemi virus corona tidak memporak-porandakan kehidupan kita, keluarga kita, sesama kita, dan masyarakat kita? Sebaliknya, dengan jalan-jalan baru itu akan lahirlah pola hidup baru yang pada gilirannya akan melahirkan masyarakat baru.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

12 July 2021

Mewujudkan Dimensi Sosial Iman Kita

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Dalam situasi yang serba terbatas, semoga kita masih berani memilih sehat dan bahagia serta mampu bersyukur atas semua kebaikan yang telah kita terima dari Allah selama sepekan yang lalu (termasuk menerima vaksinasi virus corona bagi sebagian dari kita).

Hari ini kita merayakan hari Minggu Paskah III Tahun B. Injil yang kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi diambil dari bagian terakhir Injil Lukas (Luk 24:35-48). Yang diwartakan lewat bacaan ini adalah Yesus yang telah bangkit dari kematian masih terus menemani para murid-Nya sehingga mereka tidak lagi merasa bingung dan ketakutan, melainkan justru menemukan kehidupan baru. Selanjutnya, Yesus memberi tugas kepada mereka untuk “mempersaksikan” pengalaman itu kepada semua orang, kepada semua bangsa. Apa maknanya bagi kita di zaman ini? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, murid-murid Yesus mengalami kebangkitan Yesus secara berbeda-beda namun intinya sama; yakni, Yesus telah bangkit dan tetap berada bersama mereka. Mereka saling berbagi pengalaman itu (ay. 34-35). Pada awalnya mereka sempat saling meragukan (ay. 11 dan 24).

Kedua, para murid Yesus membutuhkan waktu untuk mengolah dan memahami pengalaman mereka mengenai Yesus yang wafat di salib dan telah bangkit dari kematian. Akhirnya mereka dapat saling menerima karena mau saling menghargai pengalaman mereka yang beragam dan jalan yang dipakai oleh Tuhan untuk menjumpai mereka (bdk. ay. 36). Dengan cara inilah iman akan kebangkitan Yesus dapat bertumbuh.

Ketiga, kedatangan Yesus secara tiba-tiba di tengah mereka membuat mereka terkejut, bahkan mengira bahwa Yesus adalah hantu (ay. 36b-37). Yesus memahami kesulitan para murid-Nya dan menyelami kesulitan tersebut. Ia membantu mereka guna mengatasi kesulitan tersebut dengan menggunakan “hasil kerja para murid” (ikan) sebagai batu uji untuk mengetahui apakah Dia itu benar-benar nyata atau sekedar bayang-bayang belaka (ay. 31b-33). Iman selalu berpijak pada kenyataan hidup: situasi hidup para murid, jerih payah mereka, suka duka mereka, dan kesederhanaan mereka.

Keempat, Yesus yang sudah bangkit tidak hanya meyertai para murid-Nya tetapi juga masih mengajar mereka agar mereka dapat menyadari dan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri-Nya; yakni “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga” (ay. 46).

Kelima, Yesus yang telah bangkit juga membaca kembali hidup-Nya sebagai penggenapan Kitab Suci (Kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi, dan Mazmur—ay. 44). Selain itu, Sabda Ilahi yang terdapat dalam Kitab Suci juga digunakan untuk menerangi makna penderitaan dan kebangkitan-Nya (ay. 46).

Keenam, dalam terang kitab Mazmur (18:5-6) ketika Yesus wafat Ia turun ke dunia orang mati, terlilit oleh hutang kemanusiaan pada kekuatan-kekuatan kejahatan, Ia terseret sampai ke jurang yang paling dalam dan tidak berdaya. Dalam situasi seperti itu, yang dapat dilakukan-Nya adalah berteriak minta tolong kepada Allah (Mzm 18:7a; Mzm. 130:1-2; bdk. Mat 27:46); dan Allah mendengarkan teriakan-Nya (Mzm 18:7b). Mendengar teriakan Yesus, hamba utusan-Nya, Allah tidak tinggal diam. Allah turun dari sorga dan membebaskan-Nya. Inilah yang terjadi dalam kebangkitan.

Ketujuh, para murid diminta oleh Yesus untuk memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa atas nama-Nya (Luk 24:47-48). “Dosa” adalah keadaan ketika orang diikat oleh kekuatan-kekuatan kejahatan sehingga mejadi tidak berdaya, merasa sesak, dan hidupnya menjadi gelap (lih. Mzm 18:5-6). “Pertobatan” adalah kepercayaan bahwa masih ada yang dapat menolong meskipun lilitan maut makin menyesakkan dan jurang makin dalam, dan keberanian berteriak minta tolong (lih. Mzm 130). “Pengampunan” adalah pelepasan dari lilitan kematian. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri.

Bagaimana iman akan kebangkitan ini dapat menjadi kenyataan dalam hidup kita di tengah masyarakat kita? Kiranya kita dapat mulai berpikir untuk melakukan tindakan-tindakan pelepasan dari “jerat-jerat sosial” yang membuat kemanusiaan dan keadaban masyarakat kita menjadi kerdil. Apa yang akan kita lakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusiawi di negeri kita, yang 44% hanya lulusan SD dan SMP? Apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi jumlah perdagangan manusia yang justru terjadi di kantong-kantong masyarakat yang sangat agamis? Apa yang perlu kita lakukan agar para single mothers, yang merupakan pelindung dan pejuang kehidupan, tidak kita buang dari keluarga dan komunitas agama kita? Apa yang perlu kita lakukan agar kaum perempuan tidak lagi diperlakukan sebagai warga kelas dua baik dalam keluarga, dalam masyarakat maupun dalam Gereja? Apa yang perlu kita lakukan untuk membendung menjamurnya “budaya membuang” (membuang sampah secara sembarangan, membuang orang-orang yang tidak produktif, membuang tenaga kerja rendahan, membuang orang-orang miskin) dalam masyarakat kita? Apa yang perlu kita lakukan agar orang-orang muda mau tinggal di desa mereka dan mengolah tanah yang mereka miliki, dan tidak berbondong-bondong ke kota menjadi buruh rendahan? Dengan kata lain, kita diundang untuk mewujudkan dimensi sosial dari iman kita akan kebangkitan Yesus.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

11 April 2021

Kebangkitan-Nya Melahirkan Kemanusiaan Baru

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua berserta dengan keluarga, sanak saudara, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikamati hari Minggu Kerahiman Ilahi untuk beristirahat dan mencecap kembali kerahiman Allah yang boleh kita terima selama pekan yang lalu. Semoga dalam keadaan yang penuh dengan keterbatasan Anda juga masih berani memilih untuk sehat dan bahagia.

Injil yang kita dengarkan pada hari Minggu Paskah II Tahun B (Yoh 20:19-31), yang juga disebut sebagai hari Minggu Kerahiman Ilahi, berkisah tentang pengalaman para murid ditemui oleh Yesus yang telah bangkit. Pengalaman perjumpaan ini mengubah kehidupan mereka dari yang dirundung ketakutan menjadi penuh kedamaian dan sukacita. Apa makna semuanya ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.

Pertama, cerita tentang bekas luka di tangan dan lambung-Nya (ay. 20 dan 27) ingin menegaskan bahwa Yesus yang kini hadir di tengah-tengah mereka sama dengan Yesus yang telah meninggal di salib. Ia bukan sekedar ingatan belaka. Orang-orang yang tidak hadir dalam peristiwa itu hanya dapat mendengar kesaksian dari mereka yang hadir dalam peristiwa terebut (ay. 25a). Untuk mempercayai kesaksian mereka memang tidak mudah. Kesulitan ini juga dialami oleh Tomas (ay. 25b). Kesulitan ini diolah dalam cerita mengenai penampakan Yesus kepada Tomas (ay. 24-29).

Kedua, Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan memintanya untuk meraba bekas luka di tangan dan di lambung-Nya (ay.26-27). Dengan tindakan-Nya itu, Yesus meminta Tomas untuk memutuskan sendiri apakah Dia yang sekarang berbicara dengannya itu sama dengan Dia yang dulu diikutinya.

Ketiga, kepercayaan yang begitu besar dari Yesus yang telah bangkit kepada Tomas, membuat Tomas segera mengenali-Nya. Mata batin Tomas terbuka. Dengan melihat Yesus, Tomas melihat Allah yang maha tinggi, yang mengutus Yesus ke dunia ini. Itulah makna seruan yang diucapkan Tomas: “Ya Tuhanku dan Allahku” (ay. 28).

Keempat, seperti halnya yang dilakukan oleh Yesus yang telah bangkit kepada Tomas, Ia juga mempercayakan diri-Nya kepada semua manusia agar dikenali dalam hidup mereka (ay. Ay. 29).

Kelima, ada hubungan antara kata “melihat” dan “percaya.” Hal ini diolah secara panjang lebar dalam Injil Yohanes bab 9, yang berkisah tentang penyembuhan orang buta sejak lahir. Semula ia hanya mengenal Yesus sebagai orang yang telah menyembuhkannya (ay. 11), kemudian ia menegaskan-Nya sebagai nabi (ay. 17), dan akhirnya bersujud dan percaya kepada-Nya (ay. 38); artinya mengakui bahwa Allah hadir dalam diri Yesus.

Keenam, melihat dapat membantu orang untuk berkembang menjadi percaya. Namun dalam pertumbuhan iman hal itu masih perlu bantuan dari orang yang dipercaya (Yoh 9: 35 dan 37) atau dari orang yang dapat membantu mempersaksikan kebenaran iman (Yoh 20:30-31). Hal ini nampak sangat jelas dalam kisah penampakan Yesus kepada Maria Magdalena (Yoh. 20:11-18). Dikatakan bahwa perempuan itu melihat Yesus namun tidak segera mengenalinya (ay. 14-15). Baru setelah mendengar sapaan “Maria!”, ia segera mengenali bahwa orang yang dilihatnya itu adalah Yesus yang telah bangkit (ay. 16).

Ketujuh, seperti dalam kisah penciptaan manusia menerima nafas kehidupan dari Allah (Kej. 2:7), kini para murid juga menerima nafas kehidupan itu melalui Yesus yang telah bangkit (Yoh 20:22). Dalam pembukaan Injil Yohanes dikatakan bahwa Sang Sabda datang kepada milik kepunyaan-Nya (Yoh 1:11) supaya semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12), yakni orang-orang yang diperanakkan dari Allah (Yoh 1:13). Kuasa itu adalah nafas kehidupan yang diberikan oleh Yesus yang bangkit kepada para murid-Nya (Yoh 20:22). Dalam peristiwa penampakan, lahirlah kemanusiaan baru.

Kedelapan, setelah menerima nafas kehidupan, kekuatan Roh-Nya, para murid diajak ikut serta menjalankan perutusan dari Bapa-Nya. Dalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang zaman itu “perutusan dari Bapa” adalah “mengampuni dosa orang” (Yoh 20:23). Yang dimaksud dengan dosa adalah sikap menjauhi atau menolak kehadiran Yesus yang membawakan kehidupan dari Allah, Sang Sumber kehidupan.

Para murid Yesus, dulu dan sekarang, diberi tugas untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Iman akan kebangkitan membuka ruang seluas-luasnya bagi manusia (kita semua) agar semakin menjadi makhluk yang mengalami kehadiran Allah Mahakuasa sebagai Allah yang penuh kerahiman, dan berbagi pengalaman ini dengan sesama. “Bahasa” apa yang perlu kita gunakan agar kesaksian kita ini efektif untuk zaman sekarang? Menunjukkan kepedulian terhadap mereka yang hidupnya masih jauh dari sejahtera? Membangun solidaritas dengan mereka yang berjuang untuk meningkatkan kualitas hidup mereka? Menemani kaum muda agar mereka dapat membangun masa depan yang penuh harapan? Memberikan penyadaran dan pelatihan kepada calon pekerja migran, agar mereka tidak pulang dalam peti mayat? Membantu diciptakannya UU agar para petani dapat hidup layak, sehingga sektor pertanian di negeri kita tidak mengalami kebangkrutan? Bergabung dengan mereka yang berupaya merawat bumi sebagai tempat tinggal Allah dan rumah kita bersama? Dan lain sebagainya.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya